Warning: includes sensitive mental health themes.
﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏
Narasi 16
“Biar gue yang bawa.” seru Mingyu mengambil belanjaan di tangan Wonwoo, menyisakan strawberry bouquet yang masih terbungkus rapi.
“Lo udah selesai meeting?”
“Udah dari tadi. Bosen banget gue. Yang ini gue aja yang prepare. Lo ganti baju aja dulu.”
Wonwoo mengangguk lalu meletakkan hadiah dari Mingyu di meja dapur sebelum melenggang pergi menuju kamarnya.
Tidak sampai sepuluh menit, pria itu sudah berjalan ke dapur dengan baju rumahnya. Melangkah menuju kulkas untuk memeriksa bahan-bahan masakan yang ternyata masih lumayan banyak. Karena Mingyu ke Hongkong, Wonwoo tidak memasak terlalu banyak, hanya secukup untuk diri dan membuat isi kulkasnya masih penuh.
“Lo ga usah nunggu disini. Makan mandunya di ruang tamu aja. Nanti kalau udah selesai masak, gue panggil.”
“Gue bisa bantu.”
Mingyu bisa melihat senyuman tipis Wonwoo sebelum menggeleng kecil, “next time. Biar cepet selesai, gue juga laper.”
“Makan mandunya bareng gue dulu?”
“Ga pingin. Gue mau mochinya aja nanti.”
“Ok, gue udah taruh di kulkas.”
Wonwoo mengangguk pelan lalu kembali sibuk dengan bahan-bahan masakan di depannya.
Mingyu mengernyitkan keningnya sambil memegang mangkuk berisi mandu pesanannya. Ia berdiri dalam diam sambil memperhatikan Wonwoo cukup lama sebelum memutuskan pergi agar tidak mengganggu pria itu.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara TV yang dinyalakan bercampur dengan dentingan sendok yang beradu dengan mangkuk.
Samar-samar Mingyu bisa mendengar kesibukan di dapurnya. Gerakan pisau yang memotong lalu suara keran air yang dinyalakan. Sesekali Mingyu juga menolehkan kepalanya, melihat Wonwoo yang kerap kali ia liat membersihkan kacamatanya yang terkena uap panas.
Bibirnya tersenyum, saat melihat pria itu mendecak sebal yang akhirnya memilih untuk menggantungkan kacamata itu di leher bajunya.
・・・
“Keasinan ga?”
Mingyu hanya menggeleng, sambil memasukan satu suapan penuh ke dalam mulutnya, “masakan lo ga pernah gagal.” jawabnya di sela-sela kunyanhannya.
Wonwoo tersenyum, ia mengangguk kecil sambil memfokuskan dirinya pada makanyanna.
“Kenapa makan lo dikit?”
“Kasi space buat mochi nanti hehe. Mau gue makan sama stroberi yang lo kasi.”
“Okay! Anyway, lo ke Busan kapan?”
“Tanggal 6.”
Mingyu menaikkan alisnya, “tanggal 6 April?”
“Iya, pas ultah lo ya?”
“Iya. Ga bisa diundur?”
“Ga bisa. Kan project pertama gue.”
Mingyu mendecak, ia meletakkan alat makannya lalu mengecek ponsel miliknya.
“Gue baru mau ngajak dinner bareng sekalian gue ngenalin lo ke temen-temen gue di tempat pops. Maunya pas tanggal 6 biar sekalian,” kata Mingyu dengan mata yang masih sibuk menatap ponselnya.
“Kalo hari Minggu ini gimana?” lanjutnya masih menatap Wonwoo.
“Lo rayain aja ulang tahun lo bareng yang lain. Ga usah nunggu gue. Mereka pasti bakal ngerti.”
“Ga mau. Gue maunya ada lo. Tujuan dinnernya tentang kita. Ulang tahun gue itu opsi. Maunya biar ga dua kali dinner. Gue juga udah gede, ga perlu di rayain pake cake.”
Wonwoo mendengus dengan senyuman tipis, jika Mingyu sudah memutuskan sesuatu, tidak ada yang akan bisa menentangnya—kecuali Jeonghan.
“Gue bisa kapan aja sebelum berangkat ke Busan.”
“Wait, lo bukannya ada audisi Senin?”
“Oh.... Kemarin di info Chan kalau audisinya diundur Rabu. Lumayan buat gue prepare lebih matang.” Jawab Wonwoo.
“Nice. Nanti gue info anak-anak.”
“Jadi ini ulang tahun lo dirayain early?”
Mingyu menggeleng, “ga ada perayaan, nanti gue minta hadiah aja sama yang lain.” balasnya sambil terkekeh.
Wonwoo ikut tersenyum, “lo mau apa dari gue?”
Mingyu kembali mengambil alat makannya dan terlihat berpikir, “I don’t know. Lo mau kasi gue apa?”
Kali ini giliran Wonwoo yang mengerucutkan bibirnya, “lo bisa beli apapun yang lo pingin sih. Jujur gue ga kepikiran mau ngasi lo apa. Kalau gue nanya lagi apa yang lo mau, takutnya gue ga bisa beliin, hehe.” balas Wonwoo membuat tawa Mingyu lepas mendengar jawabannya.
“A kiss would be fine tho.”
Wonwoo mencibir, “biar kayak lagi ke club ya? Ciuman sama stranger pas birthday?”
Mingyu menaikkan salah satu alisnya, “lo pernah gitu?”
Wonwoo mengangguk, “pernah.”
“Seriously?”
Mendengar pertanyaan itu, Wonwoo mengangkat kepalanya dan menatap Mingyu sambil mengangguk lagi, “emang lo ga pernah?”
“Kalo sama stranger, pernah, sama lo. Itu pertama kali gue cium orang yang completely ga gue kenal dan itu ga pas gue birthday. I’m not into doing that kind of thing with strangers, to be honest. ONS gue rata-rata kenalan gue.”
Wonwoo mengerjapkan matanya, “termasuk temen-temen lo?”
Mingyu menggeleng, “for sleeping together, ga pernah. Cuma gue pernah kissing sama Boo—Dokyeom juga, karena dare.”
“Lucu banget sih kalian. Ga awkward abis itu.”
“Dokyeom ngakak doang, tapi Boo langsung muntah sih.”
Wonwoo tertawa mendengar jawaban Mingyu. Tawanya cukup lepas sampai membuatnya memegang perutnya dan sesekali menyeka air di matanya saat Mingyu menceritakan kejadian detailnya.
“Hey. Dia kebetulan kebanyakan minum ya! Lo kan tau skill gue ga jelek. Coba kasi gue rating?”
“7/10?”
Mingyu menyipitkan matanya, “jangan mancing gue, sayang.”
Wonwoo kembali terkekeh, “gue ga bisa kasi rating, Min. Yang gue bisa rasain enak apa ga, itu aja.”
“Terus?”
“Not bad.”
“Hey!”
“Hahaha. Lanjut makan dulu. Nanti dingin.”
・・・
Mingyu memaksa untuk mencuci piring setelah mereka selesai makan malam. Wonwoo yang tidak bisa menolak, memilih untuk buka strawberry bouquet yang diberikan Mingyu.
Ia sengaja memisahkan bunga-bunga itu dan menaruhnya di vas kecil milik lalu meletakkan buah itu di sebuah mangkok untuk ia cuci.
“Mau makan dessert-nya dimana? Balkon?”
Wonwoo sebenarnya ingin mengatakan jika ia akan memakannya di kamar, tapi melihat Mingyu sepertinya masih ingin berbicara dengannya, ia mengurungkan niatnya.
“Di ruang tamu aja ya? Lo baru sembuh.”
“Okay. Lo duluan aja, gue mau beresin ini lagi dikit.”
“Ok.” balas Wonwoo sambil membawa buah kesukaannya itu dan juga mochi yang sudah ia beli tadi.
Televisi di ruang tamu itu tidak dimatikan oleh Mingyu, drama yang ditonton Mingyu tadi terus berputar. Sambil menunggunya, Wonwoo menatap lurus ke arah layar yang menampilkan sepasang kekasih yang sedang berkencan. Dia belum menonton drama ini, jadi dia tidak terlalu paham dengan alur ceritanya, dan juga yang sekarang ada di hadapannya adalah episode delapan—pertengahan cerita.
“Lo mau nonton apa?” tanya Mingyu yang sekarang sudah mengambil tempat duduk di sampingnya sambil membawa remote tv.
“Apa aja, terserah lo.”
Mendengar jawaban itu Mingyu dengan cepat mengganti beberapa channel sampai akhirnya ia meletakkan remotenya saat televisi di depannya sedang memutar film animasi 101 Dalmatians.
“Gue ga pernah bosen nonton ini setiap ini film lewat,”
Wonwoo tersenyum, ia juga menyukai film ini.
“Dulu gue kepikiran pingin punya anjing dalmatian. Terus waktu gue nonton Buddy, gue pingin punya golden. Gue pingin setiap anjing yang ada di film yang gue tonton. Tapi belum kesampaian. Papa waktu itu strict banget, padahal mama udah kasi ijin buat kita pelihara anjing.” cerita Mingyu.
“Lo sama sekali ga pernah punya anjing ya?”
“Dulu pops punya, cocker spaniel. Warna coklat lucu banget. Dia mati tua, dan sejak itu keluarga kita belum ada rencana pelihara anjing lagi. Pops emang sempet bilang mau cari buat temen dia karena gue pindah rumah. Cuma sampe sekarang belum dateng-dateng itu anjing yang dia mau pelihara.”
Wonwoo menyunggingkan senyumannya, “mungkin kakek lo belum ketemu aja. Kayak gue sama Oreo.”
“Bener. Gue ga sabar deh mau jemput Oreo. Mau jemput bareng atau gimana?”
“Kalo lo mau, lo yang jemput sendiri juga boleh, kalau kandangnya udah jadi. Kalo ga, nanti gue aja yang jemput pas balik dari Busan.” jawab Wonwoo sembari menggigit stroberi yang berukuran cukup besar itu.
“Biar gue aja yang jemput. Gue udah cari orang buat jagain Oreo. Gue rasa lo juga bakal jarang di rumah, supaya dia ga kesepian.”
“Ga perlu, Min. Gue udah info Heeju buat nitipin Oreo kalo lo lagi trip ato gue juga lagi di luar.”
“It’s okay. Orangnya udah mau, dia ga keberatan. Namanya Junho, gue dapet rekomendasi buat hire dia.”
“Rekomendasi dari siapa?”
“Jihoon, PAnya pops.”
Sedetik kemudian, Wonwoo langsung menembakkan tatapannya ke arah Mingyu, “lo yakin ngebiarin orang PA kakek lo di sini? Gimana kalo nanti kita ketahuan?”
“Lo ga perlu khawatir, tempat ini juga ada CCTV-nya. Lo cukup masuk ke kamar gue aja pas ada di nanti, jaga-jaga dia mata-matanya pops.”
“Kok lo sante banget nanggepinnya?”
“Karena dia ga mungkin laporan langsung ke pops. Dan Jihoon ga terlalu ngikutin kemauan pops juga. Dia mirip gue sebenernya, suka ngelawan.”
Wonwoo kini menaikkan salah satu alisnya bingung.
“Kaget ya?”
Wonwoo hanya mengangguk sambil menunggu kalimat lanjutan Mingyu, “Jihoon itu anak panti dari tempatnya mama sama papanya Seungcheol. Anak asuh pops yang terakhir. Dia sekolahnya di Jepang, jadi ga terlalu deket sama gue. Anaknya pinter dan sesuai sama kriterianya pops dan akhirnya dia di didik dia buat jadi PA-nya. Kelakuannya ke pops mirip kayak Seungkwan ke gue. Cuma dia ga nyolot. Halus banget, sampe kadang malah bikin kesel karena anaknya cuma senyum aja… kayak nantangin.” cerita Mingyu sambil mendecak, mengingat beberapa kali Jihoon pernah membuat kesabarannya habis.
“Kalo disuruh milih Jihoon atau Boo, gue mendingan sama Boo yang cerewet ketimbang Jihoon yang ga bisa gue tebak isi pikirannya. Kadang dia bisa nge-joke, di tengah-tengah lagi pembahasan serius. Shock banget gue, dan pops cuma liatin dia doang.”
Wonwoo menganggukkan kepalanya, sekarang ia mengerti vibe yang dipancarkan Jihoon saat mereka bertemu ataupun mengirimkan pesan.
Ternyata orangnya, unik.
“Seungkwan pasti seneng kalo denger lo ngomong gini.” celetuk Wonwoo membuat Mingyu terkekeh.
“Minta tas lagi nanti dia. Jangan lo bilangin ke dia ya. Lo mau mochi yang rasa apa? Gue ambil yang peach ya?”
“Iya, itu gue beli dua emang buat lo. Abis ini gue coba yang mangga dulu.”
“So considerate. I’m touched.”
Wonwoo menggelengkan kepalanya dan kembali mengalihkan tatapannya ke arah televisi.
Kali ini Mingyu juga ikut menonton. Tidak ada dari keduanya yang mengujar apapun selain membiarkan suara televisi itu memenuhi ruang tamu luas itu.
Wonwoo mungkin tidak sadar sudah berapa lama waktu yang lewat, namun Mingyu sudah memperhatikannya saat ia merasa tidak ada pergerakan dari Wonwoo untuk menyantap mochi yang ia inginkan. Bahkan buat stroberi yang tersisa setengah masih ia pegang di tangannya yang beristirahat di atas pahanya.
Tangan kanannya terlihat menggaruk-garuk jemari kelingkingnya dengan tatapan mata lurus ke arah televisi.
Mingyu tahu, jika Wonwoo sama sekali tidak memperhatikan tontonan di depannya. Ia tahu jika ada hal yang tengah mengganggu pikiran Wonwoo. Mingyu sengaja tidak menanyakan apa yang sedang terjadi dan berharap Wonwoo mau sedikit menceritakan tentang dirinya.
Ia juga sudah bertanya dengan manajernya, dan dia mengatakan jika semua berjalan lancar di agensinya. Asumsinya Wonwoo mengalami masalah di agensi barunya pun ia buang jauh-jauh dari pikirannya.
Yang membuatnya sedikit merasa tidak nyaman adalah, dirinya tidak mengetahui apapun tentang Wonwoo. Ia merasa pria berkacamata itu membatasi jarak di antara mereka. Mingyu sadar, jika keduanya tidak akan memiliki hubungan seperti apa yang Seungkwan ataupun Minghao harapkan, namun permintaannya untuk menjadi teman Wonwoo itu benar-benar tulus.
Mingyu sudah merasa dekat dengannya, namun bagi Wonwoo dirinya masih menjadi orang asing.
Mingyu bergeming. Sekarang ia bisa melihat jika pria itu menggigit bibir bawahnya cukup kuat. Gerakan jemari kanannya menekan kelingkingnya terlihat semakin kuat dan membuat Mingyu secara refleks menarik tangannya,
“Hey, you will hurt yourself.”
Mendengar kalimat itu Wonwoo tersentak, ia menolehkan kepalanya ke arah Mingyu sambil mencari fokus matanya yang perlahan kembali normal seiring air matanya jatuh di pipi kirinya.
Mingyu tertegun.
Ada sesuatu di dalam dirinya yang merasakan perasaan aneh ketika melihat air mata itu.
Mingyu tidak menyukai perasaan ini.
“Sorry, lo ada ngajak gue ngobrol ya?”
Mingyu mengerutkan keningnya, bibirnya tertutup rapat menatap Wonwoo lekat-lekat.
“Ga mau cerita sama gue ya, Wonwoo?”
“Hm?”
Mingyu menghela nafas sambil menghapus air mata di pipi Wonwoo yang membuat pria itu akhirnya terbangun dari lamunannya.
“Oh,” balas Wonwoo singkat sebelum ia menggelengkan kepalanya.
Mingyu bisa melihat jika tangan Wonwoo mulai bergerak lagi untuk menggaruk jemarinya, yang dengan cepat di hentikan oleh Mingyu.
“Stop. Nanti lo luka.” kata Mingyu yang kemudian menautkan jemarinya, membuatnya tidak bisa bergerak.
“Lo nangis karena gue? Karena hubungan kita? Gue yang buat lo sedih ya, Wonwoo?”
Wonwoo kembali menggeleng, “bukan. Lo buat gue happy, Min.”
“Tapi apa yang gue liat sekarang lo ga happy.”
Wonwoo terdiam sambil menggigit bibir atasnya, “jangan tanya gue dulu ya, Min? Gue lagi capek banget sampe gue ga tau rasa sakitnya dimana.”
“Gimana?”
Wonwoo tidak menjawab, namun derai air mata yang kembali turun di matanya membuat Mingyu kembali terdiam. Detik berikutnya, suara mangkuk terjatuh di atas karpet bisa terdengar karena Mingyu menarik tubuh Wonwoo ke dalam pelukannya.
“Gue disini. Ga apa kalau lo masih belum mau cerita. Tapi, gue disini sama lo, Wonwoo.”
Mendengar itu, Wonwoo bisa merasakan matanya memburam karena air mata yang berkumpul di pelupuk matanya. Rasanya hari ini semua yang ia pendam mau meledak. Namun, sampai di menit berikutnya, tidak ada isakan yang terdengar.
Wonwoo tidak lagi bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Mingyu seiring kepala dan telinganya penuh dengan kalimat-kalimat yang pernah ia dengar dari Jung Eunrim dan keluarganya. Berputar terus-menerus seperti kaset rusak yang membuatnya berdenyut sakit.
Bahkan ketika ia memejamkan matanya, suara itu terdengar semakin keras dan jelas. Menutupi setiap kalimat Mingyu yang mencoba menenangkannya.
“Gue disini… maaf… maaf gue juga buat lo di posisi sulit… can you say something? Please, Wonwoo.” tanya Mingyu dengan nada panik dan khawatir.
Wonwoo sama sekali tidak memberikan respon apapun, ia hanya membiarkan Mingyu memeluknya tanpa memberikan balasan yang semakin membuat Mingyu bingung.
“Min…”
“Hmm.”
“Why so serious? Akting gue—bagus ga menurut lo?”
Mendengar kalimat itu gerakan Mingyu menepuk punggung Wonwoo terhenti, matanya mengerjap bingung sebelum melepas pelukannya dan mendorong tubuh Wonwoo.
Dengan tatapan nanar, ia menatap Wonwoo yang tengah menyeka air matanya dengan baju yang ia kenakan, kemudian tersenyum ke arahnya.
“Are you being serious right now?”
Wonwoo mengendikan bahunya, “menurut lo?”
Mingyu tidak membalas, ia membasahi bibirnya sebelum membuang wajahnya, jemarinya mengepal kuat merasakan luapan kesal yang ia sendiri tidak mengerti.
“Hey, lo marah ya?”
Bahkan suaranya pun terdengar seperti habis menangis, dan Wonwoo dengan santainya mengatakan ia hanya bercanda?
Mingyu merasa dipermainkan dan ia tidak menyukai ini.
“Next time don’t pull something like this.” sahutnya sebelum beranjak pergi. Ia melangkahi buah stroberi yang berjatuhan.
“Lo mau kemana? Mochi punya lo masih belum habis… Min! Mingyu!” Wonwoo setengah berteriak namun pria itu sama sekali tidak merespon. Langkah kakinya terlihat tergesa-gesa menuju pintu kamarnya dan selanjutnya suara pintu yang tertutup kasar terdengar memenuhi tempat itu.
Senyuman di wajah Wonwoo pudar, matanya masih menatap ke arah kamar Mingyu untuk beberapa saat sebelum ia memilih untuk mengambil buah-buah yang berserakan dilantai.
Jika saja lantai ruang tamu tidak dibaluti permadani, mangkuk milih Mingyu pasti sudah hancur berkeping. Dengan pelan, Wonwoo berjongkok untuk mengambil satu per satu buah itu. Dalam diam ia kembali ke arah dapur, mencucinya bersih dan menyimpannya di dalam kulkas bersama dengan mochi yang belum ada ia sentuh sedikit pun.
Wonwoo berjalan ke kamar Mingyu, mengetuknya pelan sambil memanggil namanya. Namun sepertinya Mingyu benar-benar marah, dia sama sekali tidak memberikan respon apapun.
“Min gue ga bermaksud buat lo kesel. Maafin gue, ya?”
Wonwoo tidak tahu apakah Mingyu bisa mendengarnya atau tidak, namun ia masih berusaha dengan mengetuk lagi pintu kamarnya.
“Mochi lo gue taruh di kulkas lagi, good night Min.” kata Wonwoo yang memilih untuk beranjak menuju kamarnya.
Wonwoo menghela nafas cukup berat setelah ia mengunci pintu kamarnya. Tubuhnya sengaja ia sandarkan di pintu itu dengan kedua mata terpejam.
Nyaris.
Mingyu baik—terlampau baik sampai membuatnya juga merasa ketakutan. Buktinya, hampir saja melemahkan pertahanan yang ia buat di depan pria itu.
Wonwoo takut jika terbiasa dengan kebaikannya, nanti ketika semuanya sudah selesai, akan membuatnya sulit untuk menerima jika pertemuan mereka hanya sementara. Dirinya tidak akan berbohong, jika ia menikmati kebersamaanya dengan Mingyu.
Perlakuan Mingyu kepadanya sangat tulus. Bagaimana pun juga, tanpanya Wonwoo tidak akan bisa pergi dari agensi itu dan berakhir di tempat yang mana orang-orang impikan—Lumidal.
Untuknya yang sudah mendapatkan bayaran sebesar itu, ditambah dengan afeksi yang tanpa sadar Mingyu berikan kepadanya dan bagaimana ia bercengkrama dengan keluarganya, cukup membuat Wonwoo sadar jika dia tidak akan bisa masuk ke dalam dunia Mingyu.
Dia bisa menjadi temannya… hanya saja, nama Mingyu tidak akan pernah ada di rencana yang Wonwoo sudah susun.