Narasi 10
Wonwoo yang berencana untuk memasak ramyeon di kejutkan dengan suara bel apartemennya berbunyi. Keningnya sedikit mengernyit, memikirkan siapa orang yang bertamu di tengah malam sepert ini. Hoshi tidak mungkin, karena dia masih berada di Jeju sekarang.
Dengan ragu, Wonwoo berjalan menuju pintu apartemen namun langkahnya terhenti saat mendengar orang itu menekan kode apartemennya. Dia tidak akan berbohong, saat ini degupan jantungnya berubah ketakutan. Tanpa ia sadari, tangannya meraih payung yang ada di dekat pintu masuk—siap menyerang.
“Lo sia—Mingyu?”
Mingyu terdiam di tempatnya, alis kanannya terangkat sambil melihat payung yang siap mengayun ke arahnya di tangan Wonwoo.
“Lo ngapain disini?” tanyanya bingung.
“Lo mau mukul gue?”
“Oh.” Wonwoo dengan cepat meletakkan kembali payung itu, “gue kira lo maling.”
Mingyu tidak memberikan komentar, ia melepas sepatunya dan melangkah masuk ke apartemen kecil milik Wonwoo yang entah mengapa terlihat semakin kecil sekarang.
Saat Mingyu berjalan melewatinya, Wonwoo bisa mencium aroma asing dari Mingyu. Pria itu menggunakan pafrume yang berbeda, pikirnya.
Setelan bajunya pun masih rapi seperti ia baru pulang kantor biasanya.
“Lo baru pulang kerja? Bukannya tadi lo sempet pulang?” tanya Wonwoo berdiri sedikit kikuk melihat Mingyu meletakkan plastik berwarna hitam di atas mejanya.
“Tadi gue lembur. Sebelum balik, gue mampir sebentar beli chicken buat lo. Cuma, sampe di rumah lo ga ada. Lo udah makan?”
Wonwoo menggeleng, “gue baru aja mau buat ramyeon. Lo mau?”
“Boleh. Gue mau mandi, lo ada baju yang bisa gue pake kah?”
Wonwoo mengangguk, “ada, tunggu sebentar. Gue cariin dulu.”
Saat Wonwoo sibuk mencari pakaian untuknya, Mingyu mengalihkan tatapannya untuk memperhatikan setiap detail apartemen Wonwoo. Tidak ada banyak barang di tempat ini.
Ruangan itu terlihat penuh oleh ranjang dengan ukuran queen size dan satu buah sofa yang cukup untuk dua orang. Hanya ada sebuah meja di sana, yang diletakkan di depan sofa—tempat Mingyu meletakkan makanan yang ia beli. Space dapurnya pun tidak terlalu besar yang mana sudah terlihat penuh dengan kulkas mini berwarna hijau mint itu.
Tempat ini kecil baginya, tapi cukup untuk orang yang tinggal sendiri. Mingyu memilih duduk di sofat berwarna coklat tua itu sambil melihat Wonwoo yang masih mencari baju di lemarinya.
“Bajunya ternyata hampir semua gue bawa ke tempat lo. Tapi untungnya masih ada satu lagi.” ujar Wonwoo memberikan satu setel pakaian dan sebuah handuk baru kepada Mingyu, “toiletnya ada disana,” lanjutnya sambil menujuk ke arah toilet dengan pintu berwarna putih.
“Thanks, gue mandi bentar. Agak gerah.” balas Mingyu sambil melepaskan dasi yang tengah ia kenakan. Meletakknya sembarang di sofa itu.
“Okay, gue mau buat ramyeon-nya dulu.”
・・・・・
Aroma khas dari mie istan itu menyambut Mingyu yang baru saja keluar dari kamar mandi. Makanan yang ia beli dan juga semangkuk ramyeon sudah tersaji di satu-satunya meja di tempat itu.
“Pas banget lo selesainya. Gue baru aja naruh mie-nya di meja.” ujar Wonowo yang masih berjongkok, menatap alat makan mereka.
Mingyu berjalan ke arahnya dan duduk di depan Wonwoo sambil meyandarkan tubuhyna di kaki sofa.
“Lo dapet kimchi dimana?”
“Sisa punya gue. Kebetulan ada lagi dikit. Di kasih sama mamanya Hoshi waktu ini.”
Mingyu mengangguk mengerti, tangannya terlurur mengambil sumpit dan mulai menyantap mie instan itu, “udah lama banget gue ga makan ini. Ternyata rasanya emang candu banget ya.” komentarnya setelah suapan ketiganya.
Wonwoo tentu saja mengangguk setuju. Sebagai pecinta mie instan, makanan ini adalah penyelamat hidupnya di waktu kantongnya menipis.
“Tumben lo beli ayamnya sesuai porsi.” Celetuk Wonwoo yang membuat pria itu tersenyum tipis.
Akhirnya… senyuman itu kembali muncul hari ini, bathin Wonwoo.
“Ini stok terakhinya. Awalnya gue mau pesen tiga box. Soalnya ada tiga rasa yang best seller.”
Wonwoo memutar bola matanya dan selannjutnya, percakapan mereka kembali teralih ke hal-hal random. Tidak ada satupun dari mereka yang mengungkit kejadian di Jepang. Pembicaraan mereka larut membiacarakan hal-hal yang tidak penting, walau Wonwoo masih sering mendominasinya dan Mingyu yang terkadang lebih diam dan enggan merespon.
“Sikat gigi. Buat lo.” Kata Wonwoo memberikan sebuah sikat gigi baru kepada Mingyu yang tengah memeriksa ponselnya, “thanks.” jawabnya singkat, mengambil barang itu tanpa mengalihkan tatapannya yang masih sibuk menatap ponselnya.
Wonwoo tidak lagi membalas, ia berjalan menuju kasurnya untuk merebahkan diri. Setelah membereskan makan malamnya dan mencuci semua alat makan mereka, ia bergegas mandi. Perutnya sekarang sudah terasa sangat kenyang, tapi, anehnya dia belum merasa mengantuk.
Sambil menghadap ke tembok, Wonwoo memilih untuk memainkan ponselnya untuk melihat reels yang biasanya ampuh membuatnya mengantuk. Suasanya apartemennya itu pun kembali hening, dengan suara video reels dari ponselnya diikuti oleh langkah kaki yang berjalan menuju kamar mandi.
Wonwoo cukup terlarut menonton video demi video yang muncul sampai ia tidak sadar jika Mingyu sudah merebahkan diri disebelahnya.
Ia tidak bertanya apakah Mingyu akan pulang setelah makan atau tidak, ia hanya membiarkan pria itu melakukan sesukanya. Ranjangnya cukup untuk menampung satu orang lagi, jadi jika Mingyu ingin menginap tidak ada alasan untuknya menolak. Walau saat ini sebenarnya ia sedang ingin sendiri.
“Kabar lo gimana? Tadi lancar kan sama Jun?” tanya Mingyu memecah keheningan mereka.
Wonwoo memilih untuk mengunci ponselnya dan merubah poisisnya menjadi terlentang.
“Lancar. Semuanya karena lo. Makasi ya, lo mau bantu gue keluar dari sana.”
Mingyu kembali tersenyum, “sama-sama. Gue yang harusnya bilang makasi, karena lo udah mau bantu gue boong.”
“Boleh ga gue minta satu hal?”
Mingyu mengernyitkan keningnya, ia menoleh ke arah Wonwoo dan mendapati pria itu tengah menatapnya, “ya?”
“Uang penaltinya, kasi gue balikin ke lo ya?”
“Kenapa gitu? Anggep aja bonus dari gue.”
Wonwoo menggeleng, “ga bisa. Sisain pride buat gue sedikit. Gue masih pingin ada andil kalo gue keluar dari perusahan itu bukan karena lo aja. Walau gue ga bisa bayar lo full langsung, tapi kasi gue waktu buat balikin ke lo. Ato lo juga bisa potong dari gaji gue. Terserah lo mau motong berapa, yang penting sisain gue biar bisa makan sama bayar sewa apart aja.”
Mingyu mengerti, “selain Jun, orang Lumi ga tau kalau yang bayar penalti itu gue. Mereka taunya bayaran penalti itu part of kontrak lo nanti. Kalau lo mau balikin, nanti aja. Setelah bayaran lo cair dari project-project lo di Lumi.”
Wonwoo tidak membalas, ia masih menatap mata Mingyu lekat-lekat, membuat pria itu menggumam pelan mendapatkan reaksi seperti itu, “kenapa liatin gue kayak gitu?”
“Makasi ya? Lo kenapa baik sama gue, Mingyu?”
“Hm?” Mingyu menggumam pelan sambil mengeryitkan keninngya mendengar pertanyaan cukup aneh yang dilontarkan oleh Wonwoo. Apakah ia harus memiliki alasan untuk berbuat baik?
Dan lagi, dirinya tidak merasa menjadi orang yang bisa di katakan baik.
“Kalau gue orangnya jahat gimana?” lanjut Wonwoo.
Mingyu mendenguskan tawa, “Gue ga tau jahat yang lo maksud itu kayak gimana. Seandainya lo punya rencanya buat harm gue, lo nanti juga tau apa yang akan gue lakuin. Gue orangnya dendaman kalau urusan kebaikan gue dibalas sebaliknya.” Jawabnya dengan percaya diri, “yang megang kontrol di sini gue, Wonwoo. Seberapapun lo coba buat harm gue, boomerang-nya nanti bakal ke lo. Gue punya banyak cara buat cari jalan keluar, tapi buat lo itu deadend. Semisal lo ada rencana mau berbuat sesuatu yang jahat ke gue, pikir dua kali ya.”
“Emang lo mau buat rencana jahat apa?” sambungnya.
Wonwoo menggumam, ia memutar tubuhnya meringkuk ke arah Mingyu dan menggunakan lengannya sebagai bantal, “belum tau, mungkin ngancem lo buat dapet uang lebih banyak? Bisa aja gue berubah greedy kan setelah nyicipin jadi thropy husband itu seenak itu?”
Mingyu terkekeh kecil, “kalau lo greedy-nya masalah uang, gue ga masalah. Asalkan lo ga suka gue. Semuanya bakal complicated kalau salah satu diantara kita ngelanggar rule utama itu.”
“Kalau yang itu, lo ga usah khawatir. Walaupun lo ganteng, lo bukan tipe gue, Min.”
Mingyu mengeryitkan keninngya dengann mata menyipit, “lo ngebales ucapan gue waktu pertama kali kita ketemu ya?”
Wonwoo terkekeh, “iya. Sebel banget gue waktu itu. Gue ngerasa ga ganteng. Tapi kalo di compare Kak Han sih emang jauh ya. Haha.”
“Ga kok. Kayak yang gue bilang. Lo okay. Lo ganteng, walau kadang keliatan agak judes kalo lagi diem. Masih bisa bersaing bareng Kak Han.” balas Mingyu.
Wonwoo tersenyum, melihat jika raut menyakitkan saat menyebut Jeonghan sudah terlihat samar, “kabar lo gimana Mingyu? Rasanya baru beberapa hari, cuma kayaknya lama banget kita ga ngobrol."
Mingyu kembali terdiam, matanya menatap langit-langit di kamar Wonwoo, “sebenernya kepala gue masih kusut. Cuma, idup gue masih harus lanjut. Gimana pun juga, Kak Han ga bakal bisa sama gue, kan? Gue butuh waktu bentar aja buat ngeyakinin diri gue lagi dan lagi untuk hal itu. Tapi, kadang bener-bener susah. Gue selalu bertanya, kenapa bukan gue yang ada di samping dia. Kenapa harus Seungcheol. Gue pingin banget benci sama dia, tapi gue ga bisa. Kenapa ini kenapa itu, semuanya itu muter di kepala gue.”
Raut wajah Mingyu yang semula datar, kembali memancarkan raut menyakitkan itu lagi, “kadang gue itu suka mikir kalo dia ga ada, Kak Han pasti sama gue. Gue ga sebaik yang lo pikir. Pikiran gue jahat, ngarepin Seungcheol ga muncul di kehidupan gue.”
“Iya, lo jahat kalau gitu. Seandainya Seungcheol tau, dia pasti bakal ngerasa sakit hati banget. Dia itu kakak yang sesayang itu sama adiknya, bahkan semua pilihan pas kita double date kemarin itu harus ikutin preferensi lo.”
Mingyu mengigit bibir bawahnya, “dia selalu ngalah sama gue, kecuali urusan Kak Han.”
Wonwoo masih memperhatikan ekspresi yang Mingyu keluarkan, matanya terlihat seperti berembun sekarang.
“Gue rasa, semua orang punya satu hal yang pingin mereka pertahanin. Dan bagi Kak Seungcheol itu Kak Han. Pernah ga lo mikir, seandainya pun Seungcheol bukan anak om lo, belum tentu Kak Han berakhir sama lo. Bisa aja Kak Han ketemu Seungcheol di kesempatan yang lain. Gue yakin lo paham itu, sekarang cuma lo butuh pelampiasan aja buat nyalurin rasa sakit lo, makanya skenario jahat itu muncul. Min, Kak Han belum tentu bahagia kalau end up sama lo. Dan begitu juga sebaliknya.”
Mingyu menutup kedua matanya dengan lengannya. Wonwoo bisa melihat jika pria itu tengah menahan getaran di bibirnya.
Tentu, Mingyu sangat paham dengan apa yang baru saja di utarakan oleh Wonwoo. Jeonghan belum tentu akan sebahagia ini jika mereka bersama.
“Lo maunya Kak Han bahagia kan? Gue rasa sekarang waktunya biarin dia bahagia sama pilihannya. Dan lo… coba pelan-pelan cari kebahagian lo sendiri.”
“Ga bisa… gue sayang banget sama Kak Han. Tapi…”
Kalimatnya terputus, “tapi kenapa dia ga bisa sama gue—gitu yang lo mau bilang kan? Sampe lo muntah darahpun jawabannya sama. He is not belong to you. Kenyataan pait yang harus lo terima.” kata Wonwoo melanjutnya.
Hening. Ruangan itu kembali hening. Hanya deru nafas dari keduanya yang beradu. Wonwoo masih memperhatikan Mingyu dalam diam. Ia tahu di balik tangan itu, kedua matanya sudah basah sekarang.
Ia menghela nafas kecil, sebelum menarik pelan lengan yang menutupi wajah Mingyu itu.
Memberikannya pemandangan mata merah berair milik Mingyu.
“Jelek banget lo nangis.” komentar Wonwoo, membuat pria itu mendengus kecil dengan tawa palsu dari bibirnya.
“Mau di peluk ga?” tawar Wonwoo.
Mingyu mengangguk tanpa mengatakan apapun, secepatnya ia menurunkan posisi tidurnya dan membenamkan wajahnya di reungkuhan Wonwoo.
Ia bisa merasakan gerakan halus dari tangan Wonwoo yang mengelus punggungnya dan menepuknya perlahan secara bergantian.
Wonwoo pun tidak mengatakan apapun lagi setelah itu, dan membiarkan pria itu menangis.
Tidak ada salahnya bagi pria menagis seperti ini. Wonwoo tidak pertama kali melihat hal seperti ini. Hoshi juga pernah seperti ini, ketika dia putus dengan pacar pertamanya.
“Lo mau gue nyanyiin juga ga?”
Terdengar suara decakan Mingyu sekilas, sebelum ia semakin membenamkan kepalanya di tubuh Wonwoo. Aroma sabun Wonwoo dan deterjen baju yang menyatu menjadi satu bisa Mingyu cium.
“Lo kebiasan banget ngerusak suasana…” keluh Mingyu dengan suaranya yang terdengar kedap.
“Gimana? Gue ga denger jelas.”
Mingyu kembali mendecak yang membuat kekehan Wonwoo terdengar memenuhi telinganya,
“Pinggang lo kenapa kecil banget.” tanya Mingyu tiba-tiba.
“Maksud?”
“Patah ga kalo gue peluk erat?”
“Gue ga seringkih itu? Paling sesek dikit?” jawab Wonwoo melirik kebawah tepat ke puncak kepala Mingyu.
“Hehe,” kekeh Mingyu. “Makasi, sayang…”
“Hm… udah?”
Mingyu menganggukkan kepalanya sembari melepaskan pelukannya, lalu membenarkan posisinya menjadi duduk dan bersandar di kepala ranjang. Ia menghapus bekas air mata dengan baju tidurnya sembari menghela nafas cukup berat.
Menangis membuatnya sedikit lega.
“Seungkwan cerita, tentang Ethan Lee.”
Mata lelah Mingyu terlihat semakin merah menatap Wonwoo yang mendongak ke arahnya.
“Dia bilang apa aja?”
“Katanya Ethan punya potensi buat gantiin Kak Han di kepala lo.”
Mingyu kembali tersenyum, “iya.”
“Bener?” tanya Wonwoo sedikit meninggikan nada suaranya.
“Kenapa kaget?”
“Ga nyangka aja, ngeliat gimana lo sekarang.” jawab Wonwoo jujur.
Mingyu merenggangkan tubuhnya, kemudian menarik selimut menutupi Wonwoo dan juga dirinya.
“Ethan itu liar. Dia punya jiwa yang bebas banget. Dia buat gue ga bisa mikirin hal lain termasuk Kak Han.”
Wonwoo mengerjapkan matanyan tidak mengerti, menunggu Mingyu untuk melanjutkan ceritanya.
“Salah satu alasan kenapa keluarga gue ga terlalu setuju gue pacaran sama dia. Walaupun kakek itu ngebebasin gue, tapi bagi dia Ethan itu masih belum bener. Kayak yang gue bilang, Ethan itu suka hidup tanpa diiket. Dia broken home, kedua orang tuanya cerai dan dia tinggalnya bareng mami dan papinya itu gantian setiap tiga bulan sekali. Then, kedua orang tuannya akhirnya punya keluarga baru. Dia ngerasa ga ada tempat buat dia either di rumah mami or papinya. Makanya dia minta untuk pindah ke UK. Pergaulan disana lo sedikit lebihnya tau, kan? Lebih bebas dari disini. Yang itulah buat keluarga gue ga setuju sama hubungan kita. Takut kalo pergaulan bebas dia bakal nular ke gue.”
Wonwoo menganggukkan kepalanya mengerti, “tapi lo…”
“Gue bersih, Wonwoo. Gue ga terlalu tertarik sama hal macem gitu. Selama sama gue, Ethan sama sekali ga pernah nakal. Palingan dia cuma ikutan balap liar aja dan minum. Kita happy, tapi cuma sebentar. Waktu itu gue terlalu muda dan ga punya power buat nolak permintaan keluarga gue. Gue ga bisa nolak saat mereka minta gue balik ke Korea pas liburan, mereka arrange blind date buat gue. Hal itu sampe ke telinga Ethan, dan lo tau akhirnya. Kita sering berantem dan akhirnya putus. Gue tau, Mama pasti datengin dia dan ngancem ini itu, makanya dia milih buat mutusin gue. Gue lagi sayang-sayangnya sama dia, cuma dia udah nyerah. Gue waktu itu mikir dia setuju buat balik ke Korea lagi akan buat kita baik-baik saja. Tapi ternyata ga bisa. Gue juga salah yang ga bisa mempertahanin dia.”
“Lo ga pernah coba ngajak dia balikan lagi?”
Mingyu tersenyum, sorot matanya menyiratkan nostalgia.
“Sering. Tapi dia ga mau. Selalu bilang kalau gue bakal dapet yang terbaik, jauh lebih baik dan lebih pantes dari dia. Gue akhirnya ga mau maksa dia dan kita perlahan berhubungan kayak temen biasa. Dia ngenalin pacar barunya dan gue juga sama. Bedanya, dia bertahan sama pacarnya dan gue seringan putus.” Cerita Mingyu dengan senyuman tulusnya.
“Ethan sama pacar barunya keliatan lebih bahagia. Gue seneng bisa liat dia akhirnya happy. Dia kecelakaan bareng pacarnya. Bukan karena balapan, tapi dia di tabrak sama truk yang remnya blong. Ethan meninggal di tempat dan pacarnya meninggal setelah dua hari di rawat.” cerita Mingyu yang jemarinya menjulur meraih ponselnya. Tangannya menggulir lincah di layar itu.
“Ini Ethan,” ujarnya menujukkan photo terakhir yang mereka ambil bersama dengan teman-teman Mingyu.
“Cantik. Selera lo kayak gini ya?” tanya Wonwoo tersenyum melirik ke arah Mingyu, “ketebak kah?”
Wonwoo mengangguk, “banget. Dia ga mirip Kak Han, tapi bikin bisa nebak tipe lo modelanya cowok cantik gini.” balas Wonwoo.
Mingyu tidak membalas, apa yang dikatakan Wonwoo memang benar.
“Besok temenin gue jenguk Ethan mau?” tanya Mingyu.
“Lo ga kerja?”
Mingyu menggeleng, “ga. Males.”
“Tch. Enak banget! Ok, gue mau nemenin lo. Jun bilang gue harus nikmatin hari kebebasan gue kayak liburan.” seru Wonwoo.
Mingyu terkekeh dan kembali meletakkan ponselnya di bawah bantal. Ia kemdian merabahkan dirinya, meringkung menghadap ke arah Wonwoo.
“Lo udah tau hampir separuh cerita hidup gue. Sekarang giliran lo yang ceritain diri lo.”
Wonwoo menggaruk kepalanya dengan tatapan mata menghindar, “apa ya. Gue beneran ga apapun untuk di ceritain selain putus sekolah, gagal audisi sama kerja part time.”
“Masa satupun ga ada yang berkesan?”
Wonwoo terlihat berpikir, “ga ada… Oh! Waktu itu pernah gue liburan sama keluarga Hoshi ke farm gitu. Kita kasi makan hewan-hewan disana, cuma tragisnya kita berdua end up babak belur jatuh gegara di kejar sama burung unta. Hoshi emang aneh, semua hewan di raungin kayak macan. Sumpah kesel banget… sakitnya ga seberapa, malunya itu. Mana banyak yang video pula—gue masih simpen, wait…”
Suara gelak tawa kini memenuhi ruangan itu, Mingyu tidak kuasa melepaskan tawanya di setiap cerita Wonwoo dan begitu juga sebaliknya. Keduanya seperti saling beradu memamerkan kisah lucu dan menggelikan yang pernah mereka alami. Menemani malam mereka yang awalnya terasa dingin perlahan mulai menghangat.