Accidental Breakup
Narasi 1
Wonwoo menghembuskan nafas kesal sembari melihat ke arah jam yang melilit pergelangan tangan kanannya. Sudah tidak terhitung berapa kali ia memeriksa jam pada ponselnya, namun orang yang ia tunggu tidak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Tiga puluh menit berlalu, sejak ia mengiyakan ajakan Mingyu untuk bertemu, tapi sampai ia memesan minuman kedua, masih belum ada tanda-tanda kedatangan orang itu.
Wonwoo mendecak kesal sembari melambaikan tangannya untuk memanggil pelayan cafe bernama Chandelier untuk memesan minuman ketiga-nya.
“Satu mango smoothie dan pie apel,” katanya yang mendapatkan anggukan dari pelayan itu.
“Sayang maaf. Tadi dipanggil guru sebentar bahas festival musim panas nanti.” kata Mingyu dengan senyuman khasnya, “udah pesen makan?”
Wonwoo menggangguk, dengan tatapan malas ia melihat ke arah Mingyu yang sekarang sudah duduk di hadapannya. Terdapat sisa keringat yang membasahi wajahnya—membuat poni basahnya menempel di keningnya.
Sepertinya ia berlari menuju cafe ini.
“Mingyu.” panggil Wonwoo plean.
“Hm.”
Mingyu bergumam sambil melihat-lihat menu yang baru saja ia minta dari pelayan disana.
“Gue mau putus.”
Mingyu mengerutkan keningnya, tatapannya yang semula tertuju pada buku menu, kini berubah menatap lurus dengan garis kebingungan ke arah Wonwoo—yang saat ini dengan santainya memainkan pie apel di depannya.
“Maksudmu apa, sayang?” tanya Mingyu, masih berusaha untuk mengerti apa yang baru saja diutarakan oleh kekasihnya.
“Kayak yang udah gue bilang. Gue mau putus, Mingyu.” ulang Wonwoo, ia melirik ke arah Mingyu sekilas sebelum kembali mengalihkan tatapan matanya.
Mingyu terdiam. Ia menatap lekat wajah Wonwoo, berusaha untuk mencari keraguan di wajah Wonwoo yang dengan mudahnya mengatakan kalimat itu tanpa beban.
“Aku ada salah apa?”
Wonwoo menggeleng.
“Ada sesuatu yang udah aku lakuin dan buat kamu marah?”
Wonwoo kembali menggeleng.
“Terus kenapa?”
Mingyu bisa melihat Wonwoo tengah menghela napas berat, “Gue bosen.”
“Apa?”
“Gue bosen Mingyu! Lo buat gue jenuh!” balas Wonwoo dengan nada sedikit tinggi, berhasil membuat beberapa orang yang duduk di dekat mereka menoleh.
Mata milik Mingyu berkedip tidak percaya di balik kacamata dengan bingkai hitam yang bertengger di hidungnya.
Apakah ia tidak salah dengar, jika Wonwoo ingin mengakhiri hubungan mereka hanya karena dia bosan?
“Aku sayang kamu, Wonwoo. No, I fell for you, sayang.” ujar Mingyu tanpa melepaskan tatapannya dari Wonwoo yang terlihat enggang untuk membalasnya.
“Gue ga bisa. Hubungan kita ga berhasil, Mingyu.”
“Kita baru mulai, Wonwoo. Kita baru jalan empat bulan, sayang. Kamu ga ada rasa sama aku selama ini?”
Wonwoo kembali menghela nafasnya, kali ini ia membalas tatapan kebingungan di wajah Mingyu, “gue juga suka sama lo, Mingyu. Semua orang juga suka sama lo. Lo pinter, populer dan juga orang tua lo itu terpandang. Tapi itu ga bisa buat gue ngelanjutin hubungan ini. Lo ngebosenin.” jawab Wonwoo yang cukup membuat goresan luka di hati Mingyu.
Ia mengepalkan jemari tangannya cukup kuat yang luput dari penglihatan Wonwoo.
“Dan kamu mau mutusin hubungan kita gitu aja?”
Wonwoo mengangguk, “hm.”
Wonwoo bisa melihat dari ekor matanya, jika Mingyu menutup buku menu dengan cukup kasar diikuti dengan helaan nafas berat sebelum suara kekehan kecil keluar dari bibirnya.
“Seharusnya gue dengerin peringatan orang-orang kalo matahin hati orang itu bagian dari lo, ya Wonwoo?”
Tidak ada balasan dari Wonwoo yang masih menatap Mingyu.
“Kenapa lo terima gue dulu?”
Wonwoo tidak menjawab dan memilih hanya mengedikkan bahunya.
“Kenapa kayak gini, Wonwoo? Lo cuma maen-maen sama gue? Kalau gue ada salah bilang.” lanjut Mingyu, ia masih berharap jika Wonwoo menjawab pertanyaannya.
Namun melihat orang di depannya masih lebih memilih memainkan kue itu membuat Mingyu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Lo emang suka maenin perasaan orang ya? Hebat banget cara maen lo.”
Wonwoo menggigit bibir bagaian dalamnya. Apa yang dikatakan Mingyu benar. Wonwoo sama sekali tidak mengelak. Selama ini tidak ada yang berhubungan dengannya lebih dari dua bulan. Tapi Mingyu adalah pemecah rekor pertama. Ia berhasil membuat Wonwoo menjadi kekasihnya selama empat bulan.
“Gue cuma ngomong ini sekali. Lo better dengerin, Jeon.”
Wonwoo mengerutkan keningnya, merasakan perubahan dari nada bicara Mingyu yang terdengar sedikit lebih dingin dengan aura yang membuatnya tertekan. Dengan ragu, ia menggigit bibir bagian bawahnya, ketika tatapan Mingyu berubah tajam.
“Gue akan buat lo nyesel.”
Wonwoo mengerjapkan matanya, tidak sadar jika ia tengah menahan napasnya.
Mingyu baru saja mengancamnya.
Sebuah kotak berwarna merah yang diletakkan kasar, membuat Wonwoo terperanjat. Keningnya mengernyit menatap benda berwarna biru tosca itu.
“Lo bisa simpen itu ato jual. Terserah lo mau nganggep itu apa. Gue pesen itu udah lama cuma baru dateng tadi pagi.” ujarnya sebelum pergi meninggalkan cafe itu dengan langkah cepat.
Wonwoo menjulurkan tangannya untuk meraih benda itu. Ketika ia membukanya, ia bisa melihat sebuah custom made gelang dengan charm berinisial nama mereka terukir disana.
Tunggu, ini bukan ending yang ia inginkan?
Mengapa Mingyu tidak menahannya!?