Narasi 8
“Capek?”
Wonwoo baru saja duduk di sebuah bangku ketika Mingyu datang sambil menyodorkan sebotol peach tea dingin. Melihat itu ia segera mengambil dan menegaknya cepat hingga setengah botol habis.
“Pelan-pelan, kalo kurang di sana masih banyak.” sahut Mingyu sambil menunjuk vending machine yang berdiri sekitar lima puluh meter dari tempatnya duduk.
“Gue ga nyangka kalo Kak Han energinya gede banget.” keluhnya sambil menggelengkan kepala tidak percaya. Ia menyapu seluruh taman dan tidak melihat tanda-tanda keberadaan pasangan itu, “mereka kemana? Kayaknya tadi di belakang kita.”
“Tadi dia denger orang bilang ada Obake, dia lagi cari itu sama Seungcheol. Kalo malem katanya ga berani, jadi kebetulan siang mau di coba.”
Wonwoo menganggukkan kepalanya, “seru banget ya pasti.”
“Lo mau?”
Wonwoo menggeleng, “ga, kan lo ga berani.”
“Kalo lo mau, gue anterin. Tapi gue ga ikut masuk.”
“Ga usah. Gue ga terlalu pingin. Disini aja enak. Pemandangannya juga bagus.” sahut Wonwoo sambil melihat pohon-pohon dengan bunga yang siap bermekaran.
Mingyu pun mengikuti pandangan Wonwoo. Cuaca hari ini sangat mendukung, langit biru terang itu membuat pohon-pohon bunga sakura di sana terlihat seperti lukisan.
Suasana saat ini membuatnya merasa rileks. Melihat pemandangan seperti ini setelah dirinya berkutat hampir setiap hari dengan perusahaan miliknya, rasanya membuat bebannya terangkat sedikit.
Mungkin ia harus meluangkan waktu untuk berlibur seperti ini kedepannya.
“Kita jadinya pindah hotel ya, Min?”
Pertanyaan Wonwoo membangunkan Mingyu dari lamunannya, “iya, semalem aja. Kak Han udah pesenin kita. Dia ngajak ita nonton Tsunan Snow Festival, katanya wishlist dia dari lama.”
“Gue baru aja cari infonya. Kayaknya seru banget ya? Lo udah pernah belum?”
Mingyu menyilangkan kakinya, sambil menyandarkan tubuhnya.
“Pernah,”
“Karena wishlist Kak Han ya? Makanya lo udah coba duluan. Lo pasti rencananya mau ngajak dia tapi keadaan ga memungkinkan. Bener ga, kayak gitu?”
Mingyu terkekeh, “ketara banget ya?”
“Banget. Kalo dari rumah aja lo beli karena preference dia. Apalagi hal sekecil nonton festival. Gue yakin lo bahkan ga sekali sih kesana.”
“Yang itu salah, sih. Gue baru sekali. Ini yang kedua kalinya. Agak kesepian gue kesana waktu itu, soalnya sendiri.” jawab Mingyu.
“Kenapa ga ngajak temen-temen lo?”
“Mereka sibuk. Dan gue juga ga mau keliatan terlalu pathetic. Gue orangnya ga terlalu sama hal-hal kayak nonton festival gini. Makanya ngajak mereka bakal buat curiga aja.”
Wonwoo memiringkan kepalanya, “Oh ya? Gue malah nebak lo tipe yang suka ke tempat yang modelan festival ato yang tenang-tenang gitu. Buktinya lo pernah ilang di gunung?” Goda Wonwoo yang mendapatkan tatapan tajam dari Mingyu.
Ia mendecak, “itu kan impulsive act. Gue sejujurnya lebih demen ke club ato ke bar gitu sih. Karena gue suka minum.”
Mulut Wonwoo berseru ‘o’ cukup panjang, sedikit terkejut dengan fakta yang baru ia ketahui, “muka lo ga keliatan demen ke tempat kayak gitu. Tidak menyangka gue, dikit.”
“Emang lo ga suka?”
“Gue pernah coba beberapa kali. Cuma gue ga bisa nikmatin. Ujung-ujungnya gue duduk aja liat orang-orang joget.”
Mingyu terkekeh, “kapan-kapan gue ajak lo. Sekalian bareng yang lain. Gue jamin lo ga bakal ada kesempatan buat duduk. Oh by the way, Minghao. Xu Minghao, lo tau dia kan? Dia juga sahabat deket gue. Dia pernah bilang ketemu sama lo beberapa kali di lokasi dia pemotretan.”
“Oh! Yang model terkenal itu kan? Iya, gue pernah beberapa kali liat. Cuma ga pernah interaksi. Sahabat-sahabat lo terkenal semua ya.”
Mingyu mengangguk, “kecuali Seungkwan. Dia anaknya kayak gue. Maenannya lebih di akademis, makanya dia jadi PA gue.”
Wonwoo membenarkan posisi duduknya, “gue agak penasaran. Kok Seungkwan bisa jadi PA lo ketimbang posisi yang mungkin bisa jadi decision maker atau minimal di bawah lo setingkat?”
“Kakek yang minta. Katanya ga ada orang yang bisa dia percaya buat pegangin gue. Lo udah bisa nebak juga kan, anaknya galak. Gue aja kadang di marah, padahal gue bossnya.”
Wonwoo terkikik dibuatnya, ia ingat beberapa kali Mingyu pulang dari kantor wajahnya kusut karena di marahi Seungkwan. Hubungan Mingyu dengan teman-temannya sangat unik di mata Wonwoo.
“Kak Han nyuruh kita tunggu di hotel aja.” ujar Mingyu setelah memeriksa ponselnya, “lo mau langsung ke hotel ato mau jalan-jalan?”
“Boleh ke hotelnya sambil jalan-jalan bentar. Jauh ga dari sini?”
“Sekitar tiga puluh menitan kalo jalan kaki.”
“Ok. Lo gimna?”
Mingyu mengangguk, “boleh. Pemandanganya terlalu cantik kalo kita lewatin.” sahutnya berdiri dengan tangan terulur. “Let’s go on a date. Just the two of us, fiance.”
Wonwoo dengan senyuman di wajahnya menerima uluran tangan Mingyu, “ayo.”
“Tangan lo dingin banget? Kenapa ga bilang? Gue kan bisa bawa hotpack.”
“Hehe, coat yang lo beliin udah anget kok. Sekarang juga lo udah masukin ke coat lo. Tar lagi udah balik normal suhunya.”
Mingyu mendecak, “waktu lo bilang ga kuat dingin. Gue ga nyangka kalo tangan lo bakal sedingin ini. Nanti hotpack-nya di bawa ya. Gue juga udah beliin Ear Muff buat lo.”
“Iya iya. Cerewet juga ya lo.”
“Harus dong. Kan lo sekarang tunangan gue. Jadi lo tanggung jawab gue.”
Wonwoo tertawa, “lucky banget ya gue ada di bawah pengawasan Kim Mingyu.” ujarnya membuat tawa kembali menghiasi perjalanan mereka.
. ݁₊ ⊹ . ݁ ⟡ ݁ . ⊹ ₊ ݁.
Wonwoo tahu, sejak mereka sampai di tempat festival, suasana hati Mingyu berubah drastis. Senyuman yang ia keluarkan terlihat terpaksa setiap kali Jeonghan atau Seungcheol mengajaknya berbicara.
Siang hari tadi, ia terselamatkan untuk tidak melihat dua orang itu bermesraan karena menggunakan Wonwoo yang kelelahan sebagai alasan. Di tambah keinginan Jeonghan yang ingin melihat Obake. Tapi sekarang, Mingyu tidak lagi memiliki alasan untuk menghindar.
Bagaimana Jeonghan menautkan jemarinya dengan Seungcheol dengan tubuh yang bersandar di bahunya, membuatnya merasa tidak nyaman.
Seharusnya itu dia. Dialah orang yang harusnya berdiri bersebelahan dengan Jeonghan.
Sudah berulah ia mengulang kalimat itu di kepalanya. Tapi, hanya kenyataan pahit yang ia dapat. Yang berdiri di sebelahnya bukan Jeonghan. Tapi orang lain.
“Min?”
Wonwoo…
Mingyu menghela nafas cukup berat, “lo mau lantern? Gue beliin dulu.”
Wonwoo belum sempat membalas, pria itu sudah melepaskan tautan tangan mereka dan melenggang pergi. Melihat itu Wonwoo terdiam, tangannya yang semula terasa hangat perlahan tertusuk oleh suhu dingin.
“Igyu kemana, sayang?” tanya Jeonghan.
“Lagi beli lantern. Kita mau buat wish.” jawab Wonwoo berbohong.
Mendengar itu, pria cantik itu segera menoleh ke arah kekasihnya, “aku mau juga.”
Seungcheol mengangguk dan segera pergi ke lokasi Mingyu, meninggalkan dua orang yang kini melihatnya berjalan menjauh.
“Lo kedinginan ya?”
Wonwoo menoleh ke arah Jeonghan yang mengenakan syal sampai menutupi setengah wajahnya. Matanya pun terlihat sangat indah.
“Iya, gue ga terlalu bisa sama dingin. Tapi segini masih bearable.”
“Nanti pas mereka balik, kita cari api unggun ya, buat angetin badan. Hidung lo udah merah banget. Mau pake syal gue?”
Wonwoo menggelengkan kepalanya, “ga usah Kak. Bahaya kalo orang-orang ngenalin lo. Lo belum publikasi hubungan lo ama Kak Seungcheol kan?”
Jeonghan tersenyum, dengan tatapan tertuju kepada kekasihnya yang sekarang sudah berjalan balik bersama Mingyu. “Iya. Nanti kejutannya sekalian. Orang-orang juga kayanya udah pada nebak. Lo gimana? Nanit bakal publikasi hubungan lo?”
“Ga, Kak. Gue yang ga mau. Gue kayaknya ga bakal tahan dengar omongan orang kalo gue publikasiin hubungan kita. Gua takut nanti itu buat kita renggang.”
Jeonghan menatap Wonwoo lekat, “kenapa ga mau terima bantuan Mingyu masuk ke Lumi dari dulu?”
Wajah pria berkacamata itu masih menunduk sambil melihat kakinya yang menendang-nendang tumpukan salju di bawah, “pride gue sih kak. Gue masih ngerasa mampu kalo bisa bersaing tanpa dukungan dari orang macem Mingyu. Tapi ternyata dunia tempat gue kerja ga seadil itu.” lirih Wonwoo.
“Dunia kita itu kejam sama orang yang powerless. Awal-awal gue berkarir juga gue nolak bantuan keluarga gue. Tapi, ketika orang-orang tau gue siapa, mereka coba buat ambil hati gue. Dan akhirnya gue sadar, kalau gue bukan siapa-siapa gue ga akan bisa bertahan. Worst scenario gue bakal jadi maenan orang. Tapi, ga semua kayak gitu, banyak kok yang bisa sukses dari strach.”
Wonwoo terdiam, apa yang Jeonghan katakan memang benar. Di industrinya bekerja, saat seseorang mempunyai nama besar di belakang mereka, semua akan berjalan jauh lebih mulus dari orang seperti Wonwoo yang bukan siapa-siapa.
Dirinya adalah bukti nyata dari tidak adilnya perlakuan di industri mereka bekerja. Wajah tampan dan talenta tidak menjadi penentu seseorang akan sukses.
“Kalau Mingyu ga maksa gue kali ini. Kayaknya gue bakal kehilangan chance buat mulai karir gue.”
Jeonghan tersenyum, “gue penasaran sebenernya kenapa agensi lo itu kayak boikot lo. Gue udah nonton project-project lo yang dulu dan yang lo suguhin itu inceran banyak sutradara.”
“Semuanya kayak yang lo bilang tadi, Kak. Karena gue bukan siapa-siapa. Jadi gue selalu jadi pilihan terakhir dan lebih sering ga punya pilihan.” balas Wonwoo tersenyum masam.
“Masih bisa, sayang. Ga ada kata terlambat. Lo bakalan under Jun. Lo bisa ngandelin dia.”
Wonwoo menganggukan kepalanya mantap, “Mingyu sempet cerita tentang Jun. Dia hebat banget ya kak?”
Anggukan Jeonghan sangat antusias, “banget. Pinter banget dia dealing dan dapetin project yang sesuai sama preferences yang cocok buat gue.”
Pria cantik itu bisa melihat kebahagiaan di mata Wonwoo di balik kacamatanya, “ga sabar banget gue. Semoga semuanya lancar.”
“Lo ga usah khawatir. Lo itu punya Mingyu sekarang.”
Wonwoo terkekeh, “lo bener, Kak. Beruntung banget ya gue?”
. ݁₊ ⊹ . ݁ ⟡ ݁ . ⊹ ₊ ݁.
“Lo udah selesai nulis?”
Wonwoo yang berjongkok mendongakkan kepalanya dan mendapati Mingyu dengan wajah datarnya menatap nanar ke arah Jeonghan dan Seungcheol yang berdiri sekitar dua puluh meter di depan mereka.
“Ga perlu.”
Wonwoo hanya mengangguk sebagai jawaban sambil kembali melihat keinginan yang ia tulis di lentera kain itu. Ia berharap jika ia bisa kembali ke tempat ini setiap tahunnya.
Sejujur karena ia tidak terlalu kuat dingin, ia mengira tidak akan menikmati tempat ini. Tapi, ternyata bayangan terburuknya berubah menjadi sebaliknya. Ia benar-benar menikmati hari ini dan tidak sabar untuk menerbangkan lentera ini.
Langit sudah berubah menjadi gelap, orang-orang sudah bersiap-siap dengan lentera mereka masing-masing.
“Min, bisa bantu pegangin? Aku mau nyalain.” tanya Wonwoo membuat perhatian Mingyu teralih.
“Gue aja yang nyalain, lo pegangin ya.” balas Mingyu yang juga ikut berjongkok sambil menggunakan pemantik untuk menyalakan sumbu.
Sekilas Mingyu melihat kilauan di kedua mata Wonwoo melihat api yang mulai menyala.
Ia menyunggingkan senyuman lemah dengan sedikit perasaan bersalah kepada Wonwoo karena suasana hatinya yang tiba-tiba memburuk dan membuatnya enggan untuk menikmati suasana ini.
Suara antusias dari orang sekelilingnya terdengar samar saat menyaksikan Jeonghan dengan semangat menerbakan lentera milikinya, diikuti dengan gerakan Seungcheol yang mengambil sesuatu dari saku coat yang ia kenakan.
Jemari dingin Mingyu mengepal kuat, melihatnya dan Wonwoo sepertinya masih tidak sadar karena disibukkan dengan merekam lentera-lentera yang sudah berterbangan.
“Hari ini gue mau lamar Jeonghan.”
Kalimat yang diucapkan Seunghceol terulang terus menerus di kepalanya.
“Seharusnya gue ga disini.”
“Hmm?” Wonwoo yang masih merekam langit malah penuh dengan lentera beterbangan mengumam, ia menolehkan kepalanya perlahan dan mendapati ekspresi yang tidak bisa ia ungkapkan dari wajah tampan Mingyu.
Sadness, anger, dejected, agony…
Kata-kata itu yang muncul di kepala Wonwoo saat melihat bagaimana ekspresi wajah Mingyu saat ini. Ia pun mengikuti arah pandang Mingyu, dan membulatkan matanya ketika melihat Seungcheol menyematkan sebuah cincin di jari Jeonghan diikuti oleh pria cantik itu menakup wajah kekasihnya dan menciumnya.
“Wah," gumam Wonwoo kecil.
Mingyu kalah telak, pikirnya.
Melihat Jeoghan melepaskan ciumannya, dan bergerak untuk menoleh ke arahnya, Wonwoo dengan perlahan menarik tangan dingin Mingyu, berjinjit dan mendaratkan sebuah kecupan di bibir Mingyu yang juga terasa kering dan dingin.
“Jangan liatin kayak gitu, nanti lo tambah sedih.” sahut Wonwoo menatap bibir Mingyu sekilas sebelum mengalihkan tatapannya ke pupil mata Mingyu yang anehnya terlihat tenang. Tidak terkejut dengan serangan dari Wonwoo.
Jemari Mingyu bergerak mengelus pipi Wonwoo yang terlihat sedikit pucar karena udara dingin, “maaf ya, gue ngerusak suasana bahagia lo.”
Wonwoo menggelengkan kepalanya, “gue happy, Mingyu. Tahun depan kita kesini lagi ya?”
Mingyu menyunggingkan senyuman lemah dan mengangguk, “iya… gue boleh cium lo ga?”
Wonwoo menelan ludahnya, sedikit terperanjat mendengar pria itu meminta ijin untuk menciumnya. Padahal baru saja, ia menciumnya tiba-tiba.
“Waktu pertama kali kita ketemu, gue cium lo tanpa persetujuan lo. Dan tadi lo udah ngebales itu. Jadi kita impas. Sekarang, gue minta ijin, boleh ga gue cium lo? As part of our contract?”
Wonwoo menjawab dengan anggukan kepalanya, yang sedetik kemudian diikuti Mingyu yang menarik dagunya dan mendaratkan ciuman di bibir Wonwoo.
Pria berkacamata itu mengalungkan kedua tangannya di leher Mingyu saat ciuman mereka yang semula pelan, berubah menjadi cepat.
Wonwoo memejamkan matanya, merasakan dominasi dari emosi yang Mingyu rasakan. Ia bahkan sudah mengeluarkan lenguhan beberapa kali tapi Mingyu masih tetap melumat bibirnya seakan-akan tidak ada lagi hari esok.
Wonwoo tahu jika saat ini dirinya hanyalah seorang yang digunakan Mingyu untuk mengalihkan rasa sakit hatinya. Wonwoo tahu jika di setiap lumatan yang diberikan Mingyu, di setiap nafas yang mereka hirup bersama penuh dengan emosi kesedihan, penyesalan dan kemarahan dari Mingyu.
Tidak ada kupu-kupu di perut ataupun getaran-getaran kecil. Ciuman yang mereka lakukan bersama hanya membuat keduanya tidak lagi merasa dingin di cuaca bersalju itu.
Seperti api unggun yang menghangatkannya sesaat bagi Wonwoo dan hanya sebuah selingan kecil bagi Mingyu yang masih terbayang-bayang oleh cinta bertepuk sebelah tangannya.