Narasi 9
“Mingyu udah sampe di kantor ya?”
Seungkwan yang tengah memeriksa ponselnya, meliriknya sekilas lalu mengangguk, “Iya. Lagi workaholic mode. Ga bisa diganggu.”
Wonwoo menganggukkan kepalanya, “semalem dia ga pulang. Kita pisahnya di airport. Gue balik sama supir kakeknya aja. Alasannya dia bilang ada hal urgent sama supir kakeknya, jadi minta dia anter gue aja dan dia cabut pake taxi.”
Seungkwan menaikkan alisnya mendengarkan kalimat Wonwoo, “gue harus laporin kayak gini kan ke lo? Mingyu pernah bilang kalo lagi ga sama lo, dia harus kasi info kemana dan apa aja yang dia lakuin in case nanti ada yang mau nyerang dia.”
“Iya kayak gitu. Gue hari ini sama sekali belum ada ngobrol apapun sama Mingyu. Dari dia sampe kantor dia belum ada nyapa gue.”
“Oh. Ini tas lo. Dia ga balik, jadinya ga dibawa ke kantor.” ujar Wonwoo yang memberikan paper bag besar berisIkan tas yang Seungkwan minta.
Wajah pria itu berubah seketika, senyumannya mengambang menerima tas itu dari tangan Wonwoo.
“Thank you. Akhirnya dibeliin juga sama Mingyu.” gumamnya sembari bersenandung sambil meletakkan tas itu dengan hati-hati di kursi belakang.
“Biasanya kalau patah hati gini, Mingyu itu gimana?”
Seungkwan menggumam panjang sambil menghidupkan mesin mobilnya, “Mingyu dulu punya anger issue. Kalau dia marah atau kesel dia punya tendensi buat ngancurin barang-barang di sekitarnya. Itu dulu, setelah orang tuanya ga ada. Mingyu orang yang pasti akan dapetin dapetin apapun yang dia mau. Tapi, keinginannya ga terwujud waktu mohon-mohon buat kedua orang tuanya selamat dari kecelakaan dulu. Itu jadi pemicu semua pressure dan stress yang dia alamin keluar jadi anger issue. Jadi Kim Mingyu itu ga terus-terusan happy. Walaupun dia bisa beli apapun yang di mau, tapi ada hal yang ga akan bisa dia milikin. Contohnya, waktu dia kehilangan orang tuanya dan juga ga bisa sama Kak Han.”
Cerita Seungkwan yang mendapatkan perhatian dari Wonwoo yang menatapnya dalam diam.
“Dia udah terapi buat kondisi dia yang itu. Jeleknya, di malah switch ke minum alkohol yang kadang sampe buat dia ga sadarin diri. Pelampiasannya yang awal hancurin barang berubah ke hancurin dirinya sendiri. Sampe sekarang ga ada yang bisa stop dia buat minum kalo lagi tertekan. Kakeknya ga tau soal ini. Biasanya kalau dia udah kayak gini, gue sama yang lain bakal nawarin diri untuk nemenin dia minum di salah satu rumah kita atau ga di club langganan dia—supaya ga lepas kontrol. Mingyu itu jarang banget invite kita ke rumahnya, jadi mostly kalo dia lagi mabuk itu ga di rumah. Tapi kemarin kita kecolongan ya? Untungnya anaknya dateng ke kantor. Nanti gue coba contact orang club. Harusnya di disana kemarin.”
“Suka ngilang juga kah?”
Seungkwan menggeleng, “dia untungnya sadar diri kalau mau sendiri, dia pergi ketempat yang bakalan gamang gue lacak. Biasanya lebih sering diem di rumahnya sih kalo ga mau minum di luar. Gue udah nebak sih dia bakal kayak gini kalo Kak Han dilamar. Tapi, untungnya dia masih under control. Sejauh ini ga ada panggilan apapun tentang Mingyu dari orang luar. Artinya, dia ga ngelakuin hal bego. Lo ga perlu khawatir ya tentang anger issue dia, Mingyu ga pernah ngehajar orang kalo lagi kumat. Yang dia rusak biasanya barang-barang yang end up buat dia luka-luka juga. Sekarang udah ga pernah dia kayak gitu lagi .”
Wonwoo menganggukkan kepalanya, “sayang banget ya Mingyu sama Kak Han.”
Seungkwan menghela nafas dalam, “banget. Lo ga akan bisa bayangin apa aja yang udah dilakuin dia buat Kak Han tapi pake label adek. Walau orang-orang yang liat bakal mikir hal itu ga wajar.”
“Kak Seungheol ga tau ya kalo Mingyu suka sama Kak Han?”
Seungkwan mengedikan bahunya, “mungkin. Gue ga terlalu deket sama dia dan Kak Han sebenernya. Walaupun kita sering main bareng di tempat Mingyu dulu, dua orang itu kayak out of reach. Temenan sama Mingyu aja kayaknya miracle buat gue. Kalo Kak Han sama Pak Seungcheol itu kayak gimana ya… ada layernya kalo mau deketin. Walo kadang urusan kerjaan gue sering ketemu ya sama Pak Seungcheol. Tapi, in term of temenan gitu, susah. Takut gue. Apa lagi mamanya dia. Duh, ngeri banget.”
“Mamanya kenapa?”
“Serem pake banget. Orang tuanya Seungcheol itu tinggal di UK, sambil urus perusahan mereka disana. Balik ke Korea itu setahun kadang cuma sekali. Paling banyak tiga kali. Mamanya Pak Seungcheol somehow harus lo ambil hatinya juga.”
Wonwoo mengerutkan keningnya saat mendengar kalimat itu, ia menatap lekat wajah Seungkwan—menunggunya untuk melanjutkan kalimatnya.
“Selama ini yang arrange blind date Mingyu itu mamanya Pak Seungcheol. Selain kakeknya Mingyu, orang yang ngontrol siapa yang layak buat jadi blind date Mingyu itu dia. Mingyu belum cerita tanggepan tante Hong denger berita Mingyu sama lo, jadi gue ga tau gimana reaksi dia. Tapi feeling gue sih dia pasti kaget dan mungkin sulit buat nerima.”
“Kenapa gitu? Karena status gue ya?”
Seungkwan mengangguk, “iya. Tipikal orang tua yang anaknya harus sama orang setara. Contohnya ya kayak Pak Seungcheol dan Kak Han. Mereka ada di league yang sama dan menurut gue tante Hong juga mau Mingyu dapetin orang yang satu kelas sama dia. Kalo kakeknya Mingyu sih gue rasa ga terlalu mikirin hal itu. Dia lebih ngebebasin Mingyu untuk pacaran sama siapapun asalkan orang itu ga aneh-aneh.”
Wonwoo terlihat berpikir setelah mendengar kalimat Seungkwan, “raja terakhirnya mamanya Seungcheol ya? Bukan kakeknya?”
Seungkwan terkikik mendengar kalimat Wonwoo, “bisa di bilang kayak gitu. Tapi Mingyu anaknya jarang banget nurut urusan ginian. Lo tau sendiri juga kan, gimana cinta matinya dia sama Kak Han sampe buat dia end up maen nikah-nikahan gini. Anaknya cuma susah nolak aja kalau yang minta mamanya Pak Seungcheol. Kalo sama kakeknya sih masih di lawan sama dia.”
Tawa kecil terdengar muncul dari bibir Wonwoo ketika mendengar kalimat terakhir Seungkwan, “padahal kalo gue baca dan liat komentar orang-orang Kim Jaemin itu orangnya serem, tapi Mingyu bisa ngelawan dia. Agak salut sih gue.”
“Sama kayak Pak Seungcheol, gue ngerasa out of reach sama kakeknya. Gue sendiri cuma pernah ketemu beberapa kali tiap maen ke tempat Mingyu waktu dia masih tinggal sama kekeknya.”
Wonwoo membasahi bibirnya, “gue jadi deg-degan mau ketemu kakeknya nanti.”
Tidak ada balasan lagi saat perjalanan mereka diliputi oleh keheningan. Kadang hanya terdengar suara sign mobil atau notifikasi dari ponsel milik Seungkwan yang terdengar sangat sibuk.
“Gue mau minta maaf.”
Wonwoo yang menyibukkan dirinya melihat ke arah luar jendela mengangkat kedua alisnya sambil menoleh lagi ke arah Seungkwan.
“Kenapa lo minta maaf?”
“Omongan gue ke lo waktu ini kasar banget. Gue seharusnya ga ngetik kayak gitu ke lo. Lo bener, yang ga punya pilihan itu lo dan gue ngetik seolah-olah lo sumber masalahnya. Gue ga seharusnya ngelampiasin kekesalan gue ke lo. Gue minta maaf ya, Wonwoo.”
Wonwoo tersenyum kecil, “maaf diterima. Mingyu sering banget ya kayak gini?”
Seungkwan kembali menghela nafas lelah, “lumayan, tapi ini yang paling extreme. Dia maen-maennya sampe ke hukum. Gue ga paham kenapa ga cukup sampe pura-pura pacaran aja? Kenapa harus nikah segala? Gue udah sering tanya ke dia, tapi jawabannya tetep sama. Biar ga di suru blind date lagi.”
“Gue juga sempet tanya ke dia. Dia bilang kalo cuma sampe pacaran, keluarganya bakal tetep minta dia blind date. Selama dia punya pasangan dulu, keluarganya masih tetep arrange blind date buat dia. Dia katanya pernah putus karena ketahuan lagi ketemuan sama blind date yang di arrange keluarganya. Padahal dia mau coba serius ama orang itu, buat pelan-pelan lepasin perasaannya dia ke Jeonghan.”
Seungkwan menggumam sambil mengernyitkan keningnya, “mantannya dia yang mana ya itu? Kok gue ga bisa nebak.”
“Ethan Lee.”
“Ah! Oh! Dia…” Ada rona keterkejutan di wajah Seungkwan, seperti ia menemukan sesuatu yang hilang cukup lama.
“Lo kenal?”
“Pernah ketemu beberapa kali aja. Dia temen kuliah Mingyu dulu. Mereka jadian pas awal-awal Mingyu kerja di perusahaan kakeknya. Si Ethan ini masih lanjutin sekolahnya di UK. Mereka sempet LDR sebentar, sebelum Ethan balik for good ke Korea. Gue kenapa bisa lupa ya. Padahal potensi dia gantiin Jeonghan di otaknya Mingyu itu gede. Tapi tiba-tiba aja mereka putus. Mingyu ga pernah cerita alasan putusnya, tapi waktu itu dia juga kumatnya lumayan parah. Ternyata putusnya karena ini ya… Tapi setelah itu mereka temenan baik kok. Dia sempet beberapa kali ikut kumpul bareng kita juga.”
Wonwoo menganggukkan kepalanya, “kenapa mereka ga balikan aja? Gue rasa sekarang Mingyu bisa mempertahanin hubungan mereka.”
“Ga bisa. Soalnya Ethan udah ga ada.”
Kali ini rona keterkejutan muncul di wajah Wonwoo, “Gimana?”
“Ethan udah lama pergi. Dia kecelakaan.”
Wonwoo terdiam. Kali ini ia menemukan jawaban dari tatapan jauh Mingyu saat ia menceritakan tentang Ethan Lee. Hari itu ketika ia bertanya pertanyaan yang sama seperti tadi, Mingyu hanya diam, sambil menyunggingkan sebuah senyuman lemah dengan tatapan lurus kedepan, sebelum ia mengalihkan pembicaraan.
Ternyata jawabannya ini. Ethan Lee, salah satu orang selain Jeonghan yang sempat mengisi hati Mingyu. Walau perasaannya tidak sedalam dengan Jeonghan, namun pria itu cukup untuk membuatnya sempat jatuh cinta walau sesaat.
. ݁₊ ⊹ . ݁ ⟡ ݁ . ⊹ ₊ ݁.
“Gue Jun.”
“Wonwoo.” balasnya sambil menerima jabatan tangan itu.
“Ini Kimmy Park sama Park Taeho. Team legal Lumi.”
Wonwoo membungkukkan badannya sambil memperkenalkan dirinya dengan sopan.
“Karena kalian udah ketemu, gue balik ke office. Wonwoo, nanti lo baliknya bisa telpon gue lagi.”
“Ga perlu. Gue bisa naik taxi. Makasi ya, Seungkwan.” tolak Wonwoo secara halus.
“Kalo lo berubah pikiran, lo chat gue aja ya.”
Wonwoo menganggukkan kepalanya sambil menunjukkan kedua jempolnya.
“Lo udah siap buat keluar dari tempat jelek ini?” tanya Jun sambil menyeringai.
Wonwoo hanya tersenyum sambil mengangguk.
“Nanti gue ga akan larang lo buat ngomong semua isi hati lo. Tapi, gue saranin lo diem aja. Urusan kontrak biar mereka berdua yang handle. Dari semua project lo yang bisa gue dapetin waktu lo under ini agensi, harusnya mereka ga bisa minta penalti sebesar itu. Malah sebaliknya, lo bisa nuntut mereka dengan semua kewajiban yang ga pernah mereka kasi.”
“Gue cuma mau keluar aja dari sini. Ga usah dituntut. Tapi gue juga ga mau bayar sebanyak itu.”
Jun menganggukkan kepalanya, “oke, gue ngerti. Sekarang lo harus tunjukin kepercayaan diri lo. LumiDAL scout lo.”
Wonwoo menganggukkan kepalanya dengan jantung yang berdebar dua kali lipat. Tidak menyangka jika sebentar lagi dia akan terbebas dari perusahaan yang membelenggunya.
・・・・・
Sedari ia sampai di ruangan Presdir Lim, Wonwoo sama sekali belum ada mengeluarkan kalimat apapun. Ia hanya melihat bagaimana tim LumiDAL yang langsung to do point tanpa berbasa-basi mengenai permintaan mereka untuk menarik Wonwoo ke LumiDAL.
Tentu, dari awal semua kata-kata manis di lontarkan oleh wanita itu. Mencoba menolak secara halus dengan semua janji palsu yang membuat Wonwoo tidak kuasa mengerutkan keningnya.
Percakapan yang awalnya santai, berubah menjadi menegangkan ketika tim legal LumiDAL mengangkat issue porsi project yang didapatkan oleh Wonwoo sejak ia menjadi artis di bawah naungan Storm Entertainment. Wajah wanita itu beserta dengan agent Park perlahan mengeras.
“Penalti sebanyak ini tidak pantas kalian minta dengan project yang kalian berikan kepada Wonwoo selama ini. Bahkan seharusnya Wonwoo lah yang menuntut kalian dengan semua bukti yang ada. Kami berharap pihak Storm Entertainment bisa bijak untuk menentukan nominal penalti yang sepantasnya. Dari Wonwoo sendiri juga sudah secara tegas menjelaskan kepada kami jika dia ingin mengakhiri kontraknya bersama dengan Storm Entertainment.” seru Kimmy Park.
“Jika ada sekiranya alasan kenapa kalian meminta penalti sebesar itu, tolong bantu dijelaskan. Apakah Wonwoo ada melakukan pelanggaran? Dengan brand mungkin ? Tapi sejauh ini, dia sama sekali tidak memiliki kontrak apapun dengan brand manapun yang juga kalian gagal memenuhi kewajiban itu berdasarkan kontraknya dengan Storm Entertainment.”
“Bukan seperti itu. Kami hanya bercanda, karena mengira Wonwoo tidak serius saat mengatakan dia akan mengakhiri kontraknya. Kami sudah berusaha semaksimal kali untuk mendapatkan project yang sesuai dengan image dia. Tapi kembali lagi, mengenai keputusan akhir itu bukan ada ditangan kami. Entah dia gagal dalam audisi atau pihak produksi sudah menemukan cast yang tepat untuk project film atau drama yang pernah diikuti audisinya oleh Wonwoo.” sahut Agent Park, masih tetap berusaha untuk membela dirinya.
“Wonwoo, gue tau lo sekarang lagi kesel karena project-project yang belum bisa lo tembus. Gue janji, bakal kerja lebih keras buat dapetin lo deal yang sesuai. Gue sejujurnya masih pingin terus kerja bareng lo. Mungkin bisa dipikirin lagi untuk keputusan lo buat mutusin kontrak?” tanya Agent Park yang menatap Wonwoo yang sedari tadi hanya terdiam.
Wonwoo bisa melihatnya. Tatapan itu, senyuman itu dan kalimatnya yang terdengar sangat tulus itu… Semuanya palsu.
Dunia hiburan itu sempit bagi orang yang berkecimpung di dalamnya. Keluarnya Wonwoo dari agensi ini sudah pasti akan membuat orang-orang bertanya, ditambah lagi jika dia di scout oleh salah satu dari tiga agensi besar di negara itu. Hal itu sama saja dengan Storm Entertainment gagal untuk mengurus artisnya. Jika Wonwoo berhasil besar di LumiDAL, pukulan terbesar akan didapatkan Storm Entertainment dan berbagai narasi akan muncul yang sudah pasti akan merugikan agensi itu.
Satu alasan yang cukup membuat mereka mengambil keputusan untuk meminta nilai penalti tinggi. Dengan asumsi Wonwoo tidak akan mampu membayarnya.
Tapi, siapa sangka jika pria itu benar-benar datang dengan talent agent terkenal milik LumiDAL dan juga dua orang tim legal melakukan counter attack.
“Keputusan gue udah bulat. Sebelum gue perpanjang kontrak tahun lalu, gue juga udah tegasin kalau ga mau lanjut. Tapi lo bilang gue masih ada utang, dan gue harus tetap ada disini sampe hutang itu lunas. Gue udah coba tanya lo jumlah utang gue tapi lo tetep bisa gue ga akan bisa bayar.”
Agent Park berdehem sambil mengalihkan tatapannya ke arah Presdir Lim yang menatap Wonwoo tajam.
“Bisa kalian ninggalin kita buat bicara dulu?” celetuk wanita itu ke arah Jun.
Pria itu menaikkan salah satu alisnya dan menganggukkan kepalanya, “ok.” balasnya sambil bergegas keluar bersama dengan dua tim legal itu. Meninggalkan Wonwoo berdua dengan orang yang sudah memojokkannya beberapa hari lalu.
“Seriously, this is how you repay me after what I did for you?”
Wonwoo mengernyitkan keningnya, “kalian ngapain? Apa yang udah kalian lakukan untuk saya?”
“Scouting you also cost me a lot. Your classes, audition, and even I got some brand deals for you. Apa kamu pikir kami tidak mengorbankan waktu dan tenaga untuk mendapatkan semua itu. Masalahnya disini bukan agensi saya. Tapi kamu! Potensi kamu yang kurang untuk berhasil mendapatkan deals dari project-project yang sudah kami cari buat kamu!”
Wonwoo mendengus, “kenapa kamu suka sekali memutar balikkan fakta. Kenapa kamu berbicara seolah-olah yang rugi itu kamu? Brand deals yang mana? Bukannya semuanya tinba-tiba batal? Sekrang saya mau membayar uang penalti pemutusan kontrak, tapi kenapa sekarang kalian terkesan menahan saya untuk tidak keluar? Kenapa? Karena LumiDAL yang scout saya? Takut kalau saya menyebarkan berita kalau kalian memberikan mistreatment selama saya di sini? Tapi, semuanya kan memang benar?”
“Gini Wonwoo, kita bukannya ga mau kamu untuk pindah agensi, tapi kita ingin kamu tidak salah langkah. Artis yang ada di bawah LumiDAL itu tidak sedikit. Apa kamu yakin kalau mereka akan mikirin kamu saja? Gue ga ngeraguin kemampuan lo, cuma nyatanya emang casting team selalu yang nolak lo.”
“Yang itu biar jadi urusan gue sama LumiDAL. Yang jelas, gue yakin gue akan diperlakukan lebih baik sama mereka ketimbang disini yang lebih suka mojokin gue, ignore gue dan batalin semua project yang seharusnya gue dapetin.”
“Maksudmu apa?” wanita itu langsung memberikan tatapan tajamnya.
“Saya ga tau apa mereka janjikan sama kamu. Tapi saya tau, alasan kamu menahan saya dari dulu disini dan kenapa saya susah mendapatkan project disini. Saya diam karena saya memang ga punya power untuk bela diri saya di sini. Dan sekarang saya cuma ingin lepas dari tempat ini. Saya ga akan memperpanjang bagaimana mistreatment kalian terhadap saya. Tolong, kasi saya keluar dari tempat ini.”
Wanita itu merasakan wajahnya memanas mendengar kalimat yang baru saja diungkapkan oleh Wonwoo.
“Saya bertanya, apa maksud kamu!?” serunya dengan nada cukup tinggi.
Wonwoo tersenyum, “Baek Rion. Di bayar berapa sama dia untuk boikot karir saya?”