Langkah Mingyu terhenti ketika melihat Wonwoo dengan baju rumahannya keluar dari arah pantry sambil memeluk beberapa botol air mineral. Sepertinya stok air di kamarnya sudah habis, pikir Mingyu.
Waktu menunjukkan pukul dua pagi dan Wonwoo masih belum tidur sejak ia pulang dari shooting sekitar pukul sepuluh malam tadi—berdasarkan informasi yang ia terima dari Lee Chan.
Dan Mingyu, dia baru saja pulang dari pertemuannya dengan teman-temannya yang berkumpul di kediaman Minghao.
“Hey,” sapa Mingyu terlebih dahulu saat Wonwoo sadar jika dia tidak lagi sendiri.
“Hey,”
Mingyu bergeming mendengar suaranya. Sudah cukup lama rasanya dia dan Wonwoo tidak menyapa seperti ini. Sejak kejadian di rumah sakit, entah Wonwoo sedang menghindarinya atau tidak, tetapi keduanya menjadi sangat jarang bertemu dan berinteraksi. Waktu Wonwoo di rumah sangat jarang dan sering kali ia pulang saat Mingyu sudah tertidur atau Mingyu sudah berangkat bekerja.
Wonwoo tetap membalas pesannya seperti biasa. Dan jika ia sempat, Wonwoo tetap memasak sarapan atau makan malam untuknya. Namun, hanya sebatas itu. Tidak ada percakapan seperti sebelumnya terjadi di antara mereka.
“Kenapa belum tidur?” tanya Mingyu akhirnya.
“Gue lagi baca script buat besok. Ga sadar kalau udah lewat tengah malam.” balas Wonwoo seadanya.
Mingyu menganggukkan kepalanya, “gimana kabar lo hari ini?”
Mingyu bisa melihat kerjapan mata Wonwoo sedikit lebih cepat dari biasanya, seakan ia terkejut dengan pertanyaan Mingyu.
“Baik. Semuanya baik-baik aja.” jawab Wonwoo tersenyum tipis.
Suasana kembali hening. Situasi mereka saat ini terasa sedikit canggung.
“Kenapa lo ga nginep aja di tempat Minghao?” tanya Wonwoo berusaha memecahkan kecanggungan keduanya.
“Lagi ga pingin. Gue pingin pulang.”
‘Gue pingin pulang dan ketemu sama lo,’ bisik Mingyu dalam hatinya yang tidak mampu ia ungkapkan.
Awalnya, Mingyu sengaja untuk pulang selarut ini untuk menginap di kamar Wonwoo saat pria itu tertidur—seperti yang biasa ia lakukan. Tapi, sekarang ia malah bertemu Wonwoo yang sepertinya membuat semua rencananya gagal.
“Lo sama Hoshi gimana?” tanya Mingyu hati-hati.
Wonwoo terdiam sesaat sebelum membuka suaranya, “Hoshi masih marah sama gue. Dia masih belum mau balas chat sama angkat panggilan gue. Lusa gue libur. Gue mau coba cari dia ke apartemennya.”
“Okay.” Jawab Mingyu singkat. Ia sengaja tidak menawarkan diri untuk menemaninya. Kalimat Wonwoo di rumah sakit itu masih terngiang jelas di telinganya. Ia tidak ingin sikap keras kepalanya malah membuat Wonwoo semakin menjauh darinya.
Seperti ini cukup.
“Lo tidur sana, udah jam segini.”
Wonwoo terdiam sesaat sebelum menganggukkan kepalanya, “okay, gue duluan ya. Good night, Min.”
“Good night.”
Mingyu masih terdiam di tempatnya sambil menatap Wonwoo yang masuk ke dalam kamarnya. Ia benar-benar merindukan pria itu.
・・・・・
Saat merasakan ada pergerakan di sisi kiri ranjangnya, Wonwoo tahu jika Mingyu memutuskan untuk menginap di kamarnya.
Tangannya yang hangat sekarang sudah merengkuh pinggangnya, dengan kepalanya yang terbenam di punggungnya.
“Maaf…”
Wonwoo tidak bersuara dan Mingyu tahu jika ia belum tertidur.
“Maaf karena gue buat lo dan sahabat lo berantem. Maaf kalau gue tanpa sadar buat ke pressure.”
Suara Mingyu terdengar menggema, nafasnya membuat punggung Wonwoo terasa hangat.
“Mungkin emang udah waktunya buat Hoshi tau. Bukan salah lo, Mingyu.”
Mingyu semakin menenggelamkan kepalanya dan memeluk Wonwoo lebih erat.
“Hoshi kalau marah emang kayak gini. Biasanya perlu waktu buat dia cooling down. Cuma gue kadang ga sabaran. Gue takut dia keterusan ngediemin gue.” lanjut Wonwoo.
“Lo boleh kok marah sama gue. Gimana pun juga gue yang buat lo kayak gini.”
Wonwoo terdiam, “semuanya udah kejadian, ga ada gunanya juga kalau marah. Toh gue bersedia tanda tangan kontrak dengan semua konsekuensinya. Cuma gue ga nyangka aja kalau akan ketahuan secepat ini sama Hoshi.”
“Maaf…”
Wonwoo meraih tangan Mingyu, mengangkatnya pelan, sebelum membalik badannya. Melihat itu, Mingyu langsung kembali membenamkan kepalanya di rengkuhan dada Wonwoo.
“Capek gue dengar lo minta maaf terus. Belum lagi setiap nge-chat lo juga ngetik itu terus-terusan.” komentar Wonwoo.
“Gue ngerasa lo ga mau ketemu gue. Gue ngerasa lo marah dan menghindar dari gue. Makanya gue minta maaf terus.”
Wonwoo tersenyum tipis, “gue ga akan bohong kalau beberapa hari ini mood gue kacau. Ini pertama kalinya Hoshi semarah itu. Biasanya kalau dia marah sama gue, dia masih balas chat gue, tapi sekarang dia beneran ignore gue yang jujur buat gue ketakutan. Gue ga mau Hoshi sampe benci juga sama gue.”
“Dia ga mungkin benci sama lo. Lo di sayang banget sama Hoshi. Hoshi—sama lo ga pernah pacarankah?”
Wonwoo menaikkan salah satu alisnya, “kenapa lo nanya gitu?”
Mingyu menggelengkan kepalanya, “penasaran.”
Sebuah kekehan kecil terdengar dari Wonwoo, “waktu itu kita pernah nyoba pacaran, cuma bertahan dua hari aja. Ternyata kita cocoknya emang temenan. Lucu sih kalau di inget-inget, waktu itu kita berdua emang desperate banget pingin pacaran dan akhirnya muncullah ide gila itu. Tapi kita sepakat untuk ga hitung itu hubungan ga jelas ke daftar past relationship kita.” cerita Wonwoo.
“Okay.”
“Respon lo kenapa gitu? Ga percaya sama cerita gue?”
Mingyu menggeleng, “percaya. Iri aja.”
Wonwoo menggumam, “iri gimana? Lo mau pacaran sama Hoshi juga?”
Mingyu mendecak kesal, “gue iri karena Hoshi kenal lo lama banget. Di masa-masa lo desperate mau punya pacar. Kalau gue udah jadi temen lo waktu itu, lo mau pacaran sama gue ga?”
Kali ini, tawa ringan keluar dari bibir Wonwoo, “terus end up sakit hati karena lo jadiin gue pelariannya Kak Han? Ga dulu, makasi. Gue ga akan lanjut suka ke orang yang gue pikir kita ga akan ada kesempatan.”
Mendengar itu Mingyu membenarkan posisi tidurnya, yang sekarang tengah menatap Wonwoo.
“Kenapa? Kan lo ga tau kedepannya nanti gimana? Bisa aja orang itu beneran jodoh lo?”
Bibir bagian atas sengaja ia gigit lalu Wonwoo menggeleng kecil, “kasian, gue cuma buang-buang waktunya aja.”
Kening Mingyu mengernyit kuat, “kenapa lo bisa mikir gitu? Gimana kalau orang itu ga pernah ngerasa apa yang lo pikirin itu?”
“Hm… gimana ya, Min cara jelasinnya. Kayak, gue tau aja gitu kalau kita not meant to be each other. Ada hunch aneh yang bangunin gue kalau gue sama orang itu ga akan punya kesempatan.”
“Lo menerima gitu aja? Lo ga mau memperjuangkan orang itu?”
“Iya—kalau pada akhirnya gue juga akan nyakitin orang itu.”
“Maksud lo?”
“Gue yang bermasalah, Mingyu. Di semua hubungan yang pernah gue jalanin. Masalahnya itu gue.”
Mingyu mengerutkan keningnya, ia menatap Wonwoo dalam diam, berusaha mencerna arti kalimat yang baru saja ia utarakan.
Melihat raut wajah serius Mingyu, Wonwoo tersenyum, “lo kenapa ngeliatin gue kayak gitu?”
“Gue ga suka sama cara berpikir lo.”
Wonwoo mengedikkan bahunya, “okay. Lo ga harus setuju, sama pemikiran gue.”
“You don’t trust people enough. Tapi lo juga ga coba untuk kasi kesempatan untuk orang itu buktiin kalau pikiran lo salah.”
Wonwoo kembali tersenyum, “gua takut percaya lagi sama orang. Sekalinya gue percaya, bayaran yang harus gue tanggung itu setara sama hidup gue.”
Mingyu baru saja ingin membuka suaranya untuk bertanya, namun Wonwoo membungkam pria itu dengan sebuah kecupan singkat.
Kerjapan di mata Mingyu membuat keterkejutannya jelas terlihat, “tiba-tiba?”
“Pingin.”
Mingyu terdiam, sesaat. Ia sadar jika Wonwoo tidak ingin melanjutkan percakapannya.
Kecupan kedua kembali mendarat di bibir Mingyu. Kali ini Wonwoo berusaha untuk membuat Mingyu membuka mulutnya. Sengaja ia bergerak untuk mensejajarkan tubuhnya dengan posisi tidur Mingyu dengan tangan kanannya menarik pelan rahang tegas Mingyu—berusaha memperdalam ciuman mereka.
Kedua matanya terpejam dengan enguhan kecil dari Wonwoo terdengar di sela-sela lumatan yang di dominasi oleh Wonwoo. Mingyu tidak bereaksi lebih, ia hanya membalas pergerakan lawannya sampai Wonwoo merasa puas.
Kalimat yang Hoshi sampaikan terus menerus berputar di kepalanya. Memikirkan hal yang tidak bisa dia berikan kepada Wonwoo.
Mingyu ingin bertanya, namun sesuatu menahan dirinya. Jika ia membuka suara untuk membahasnya malam ini, ia merasa Wonwoo akan semakin memasang tembok di depannya.
Mungkin ini yang Wonwoo maksud dengan hunch yang ia bicarakan tadi.
“Min…” suara parau Wonwoo membuat Mingyu kembali mengerjapkan matanya—terbangun dari lamunannya. Ketika fokus matanya kembali, tatapannya bertemu dengan mata rubah milik Wonwoo yang menatapnya sayu.
Bibirnya yang basah terbuka dengan deru nafas yang sedikit berat karena ciuman mereka. Ibu jari Mingyu bergerak, menghapus sisa saliva di bibirnya.
Mingyu mungkin tidak sadar dengan ekspresi yang ia keluarkan, namun cukup membuat Wonwoo terperangah.
“Lo ga akan pernah kasi gue kesempatan buat kenal sama lo, ya Wonwoo?”
Ketika tatapan mata Mingyu membalas Wonwoo, ada degupan aneh yang Wonwoo rasakan di dadanya. Nyeri.
“Udah, Min. Kita udah kenal.”
“The real you. Gue pingin kenal sama lo yang sebenarnya, Wonwoo. Bukan lo yang sekarang pura-pura jadi suami gue.”
“Okay.”
Tidak ada senyuman dari Mingyu. Raut wajahnya masih belum berubah. Matanya masih beradu dengan pupil mata Wonwoo seakan ia ingin menyakinkan Mingyu dengan kebohongannya.
Mingyu tidak bisa menerima jika ia harus menyerah sebelum ia mencoba untuk mengungkapkan perasaanya. Namun, kalimat Hoshi dan sikap yang Wonwoo tunjukan sekarang, membuatnya merasa ragu.
Ada beribu pertanyaan yang ingin ia ungkapkan dan ia tuntut dari Wonwoo, tapi pria itu tidak memberikan pilihan apapun.
Mingyu tidak mengerti apa yang membuat Wonwoo seperti ini. Apa yang menahannya untuk memasang dinding kuat yang tidak bisa ia tembus.
‘I don’t think you can give him what he wants.’
Kembali, Mingyu memejamkan matanya kuat, mengabaikan kernyitan di wajah bingung Wonwoo. Sedetik berikutnya, ia merasakan jika Mingyu menariknya dan membawanya ke dalam dekapannya.
“Udah malem. Tidur, ya?”
Wonwoo menggigit bibir bawahnya sambil membenamkan kepalanya di dekapan hangat milik Mingyu. Tangannya yang mengalung membalas pelukan Mingyu terasa lebih erat seiring dengan jemari Mingyu yang mengelus-elus kepala bagian belakangnya.
Mereka tidak tidur. Mereka masih terjaga satu sama lain. Hanya saja, tidak ada kalimat apapun yang terujar di malam itu. Hanya deru nafas dan degupan jantung yang seakan membalas satu sama lain.