Narasi 26
“Lo kenapa?”
Suara lembut Wonwoo membuat Mingyu bergeming. Matanya masih menatap lekat ke arah tab yang ia pangku sambil bersandar di kepala ranjangnya.
Mingyu sangat jarang membawa tab bekerjanya itu ke atas kasur. Biasanya, ia akan lebih memilih mengurung diri di ruang kerjanya ketimbang membawa benda itu masuk ke dalam kamar. Tapi, melihat ada benda itu di pangkuannya membuat Wonwoo penasaran dengan hal yang sepertinya tengah mengganggunya.
“As usual. Ada yang mau harm gue. Cuma kali ini mereka langsung bawa ke media. Sebelum ini artikelnya masih pake inisial, tapi baru aja gue diinfo sama Boo, kalau mereka udah nyebut nama gue.”
Wonwoo baru mau merebahkan dirinya ikut mengambil posisi duduk di sebelah Mingyu. Pantulan cahaya layar dari tab Mingyu kini bergerak ke arahnya seiring ia ikut membaca artikel di layar itu.
“Siapa?” tanyanya setelah selesai membacanya sambil menatap Mingyu yang belum mengalihkan tatapannya dari layar tab.
Pria di sebelahnya menggeleng, “belum tau. Tujuannya juga ga jelas.”
“Maksudnya?”
“Biasanya ada dua tujuan orang untuk harm gue. Pertama, karena mereka butuh uang dan kedua karena mereka ga mau gue gantiin, Pops. Menurut gue, yang ini bukan termasuk dari dua itu.” balas Mingyu yang sekarang sudah beralih menatap Wonwoo yang terlihat kebingungan.
Mingyu tersenyum, kerjapan mata penasaran Wonwoo membuatnya dadanya berdebar aneh.
“Kalau mereka butuh uang, mereka ga akan main ke media kayak gini, terlalu beresiko karena gue udah pasti akan sue mereka atas pencemaran nama baik. Dan untuk opsi dua, orang-orang yang ngincer posisi yang akan gue dapetin itu ga akan maen terang-terangan. Mereka ga akan gerak kalo ga punya cukup bukti untuk buat semua yang berkepentingan ragu atas keputusan Pops yang nunjuk gue sebagai penggantinya, nanti.”
“Tapi orang ini malah milih nyerang project baru gue dan di kaitin sama issue offshore.” lanjut Mingyu.
Wonwoo mengernyitkan keningnya, “gue ga ngerti.”
Mingyu kembali tersenyum, “Offshore itu bukan hal yang ilegal. Perusahaan besar sering punya anak perusahaan atau entitas di luar negeri buat kepentingan ekspansi, investasi, atau masuk ke pasar negara lain. Spekulasi orang dengan liat Haon Atelier dan Offshore dalam satu kalimat udah bisa gue pastiin akan mengarah ke asset concealment or tax evasion.”
“Huh?”
Mingyu memiringkan kepalanya melihat reaksi Wonwoo, “kenapa lo kaget gitu?”
Wonwoo menggelengkan kepalanya, “terus lo gimana? Sekarang lo gimana?” tanyanya dengan nada panik yang ia coba tahan.
“Nunggu? Sampai orang itu rilis bukti yang dia punya.”
Wonwoo menggigit pipi bagian dalamnya berusaha untuk menahan rasa panik yang tengah menyerangnya.
Baek Rion.
Tanpa perlu ia selidiki, ia sudah tahu siapa yang menyebabkan kekacauan ini.
Wonwoo mengenal pria itu sudah lama dan cukup untuknya paham jika dia tidak akan pernah main-main dengan ancamannya. Di setiap ada kesempatan, dia akan melakukan apapun untuk membuatnya tidak tenang.
Seperti bagaimana ia membuat Wonwoo kehilangan kesempatannya untuk kuliah, semua itu karena Baek Rion menginginkan hal itu. Termasuk apa yang ia alami selama bernaung di Storm Entertainment, bagaimana ia sulit untuk mendapatkan project, memang semua karena Baek Rion.
Sampai saat ini Baek Rion masih menjeratnya dengan rantai di kedua kakinya. Dia diam untuk melihatnya berusaha untuk melarikan diri lalu menarik rantai itu untuk membuat Wonwoo jatuh dan menyeretnya kembali ke titik dimana Wonwoo tidak akan bisa bergerak.
Dan sekarang, untuk pertama kalinya, Rion melibatkan orang lain dalam balas dendamnya yang sudah jelas membuat Wonwoo semakin kesulitan untuk berkutik. Ketakutan dan tertekan.
“—Nu? Wonwoo? Hey, Wonwoo!”
Wonwoo mengerjapkan matanya saat terbangun dari pikirannya. Nafasnya memburu seakan ia baru saja habis berlari di jarak yang jauh. Matanya yang masih mencari fokus perlahan menangkap raut kebingungan di wajah tampan Mingyu yang tengah mengunci kedua tangannya.
“Lo kenapa?”
“Gue…” Wonwoo menggelengkan kepalanya, “capek, Mingyu.”
Kernyitan di wajah Mingyu terlihat semakin jelas. Ia tidak membalas, tapi menyeka keringat dingin di wajah Wonwoo dengan lengan baju panjang yang ia kenakan.
“Is there something bothering you again? Insomnia lo sampe buat lo kena panic attack kayak gini.”
Wonwoo kembali menggeleng, “gue cuma capek, Min. Tapi gue ga bisa tidur. Capek banget rasanya pingin merem terus, tapi ga bisa.”
Mingyu menghela nafas kecil, “kita ke dokternya besok ya? Lo ada schedule besok?”
“Cuma meeting ke Lumi sekitar jam tiga.”
“Gue bisa buat appointment malem. Nanti masuk pake akses VIP, jadi ga akan ada notice kalo lo ke rumah sakit. Gue yang temenin.”
Wonwoo mengangguk ragu. Ia tidak ingin pergi ke tempat seperti itu. Ia sedikit lebihnya tahu jika mereka akan menanyakan apa yang terjadi dengan dirinya.
Mata lelahnya melihat pergerakan Mingyu yang sekarang sedang memeriksa jari-jarinya. Wonwoo tahu jika dirinya tidak baik-baik saja. Ketakutan yang sudah mereda kembali sejak pertemuannya dengan Rion dan Ibunya malam itu.
Semua rencana yang sudah ia atur seketika menjadi berantakan. Saat pertama kali ia mendapatkan bayaran dari Mingyu dan juga kakeknya, rencana rapi yang ia susun membuatnya yakin untuk bisa pergi dari tempat ini lebih cepat.
Jung Eunrim ingin dia menghilang.
Dan rencana Wonwoo adalah pergi sejauh-jauhnya dimana tidak ada orang yang mengenalnya. Tidak siapapun, termasuk Mingyu.
Sejak awal, Wonwoo tidak pernah mencatat nama Mingyu dalam rencana.
Mingyu bukanlah bagian dari hidupnya. Sekali pun ia tahu jika perasaan Mingyu sudah berbalas bahkan sebelum Mingyu menyatakannya, Wonwoo memilih untuk berbohong dan mengabaikannya.
Selama dia hidup—ketika bersama dengan Mingyu membuatnya merasakan jika dunia tidak seberat biasanya. Hanya saja perlahan, seiring dengan waktu yang berjalan, perasaan tenang itu berubah menjadi rasa takut.
Wonwoo tidak tahu apa yang akan Mingyu minta sebagai timbal balik dari setiap perlakuan yang ia berikan. Ia takut tidak sanggup untuk memberikan apa yang Mingyu minta untuk bayarannya.
Wonwoo sulit untuk bisa percaya dengan seseorang lagi. Lebih tepatnya, Wonwoo tidak mempercayai Mingyu. Wonwoo tidak bisa percaya dengan siapapun termasuk dirinya sendiri.
Dulu, ketika ia mempercayai seseorang, ia yakin jika harapan akan terwujud. Ia percaya jika pria itu akan mempertemukannya dengan Ibunya. Ia percaya dengan orang itu yang akan membuatnya bertemu dengan keluarganya. Namun, pria itu menghancurkan harapan itu. Kala itu Wonwoo terbang terlalu tinggi dan kepercayaannya pada pria itu membuatnya terjun bebas yang menghancurkannya berkeping. Pada akhirnya yang ia terima hanya fakta dirinya dimanfaatkan untuk balas dendam dan membuatnya terbelenggu dalam kebencian dari Ibu kandungnya sendiri.
Wonwoo hanya tidak ingin mengulang kesalahan yang sama jika ia menaruh kepercayaannya kepada seseorang lagi.
Hubungan keduanya sudah cukup jelas, sejak awal pertemuannya dengan Mingyu. Hanya sebatas hubungan transaksional. Wonwoo melakukan service yang sudah ia sepakati untuk mendapatkan bayaran dari Mingyu. Dan ia sudah paham dengan semua resiko ketika ia sadar jika perlahan perasaannya mulai berubah.
Baginya, Kim Mingyu menakutkan. Ia nyaris membuat Wonwoo lupa pada tempatnya dan membuatnya kembali memiliki keinginan untuk berharap.
Lalu, ketika Mingyu menyatakan perasaannya—secara tidak langsung—keraguannya tentang Mingyu muncul.
Kenapa? Apa—yang akan Mingyu minta darinya—terus mengusik pikirannya. Perlakuan yang Mingyu berikan sebelumnya tidak pernah ia terima dan membuatnya bingung harus bersikap—membalas—seperti apa kepada Mingyu.
Yang Wonwoo hanya tahu satu hal. Dunianya penuh dengan hubungan timbal balik.
Jika sekarang ia membiarkan dirinya terlena dengan perasaan yang diberikan Mingyu, Wonwoo tidak bisa membayangkan apa yang harus ia bayarkan lagi.
Wonwoo sejak awal tidak memiliki apapun yang bisa ia tawarkan.
Ditambah orang seperti Mingyu bukanlah orang yang akan berakhir bersamanya. Dunia mereka terlalu bertolak belakang. Mingyu yang penuh dengan cahaya, sedangkan dunia milik Wonwoo masih berusaha mencari cahaya itu.
Mingyu tidak akan pernah tahu jika dunia milik Wonwoo itu bagaikan sebuah tunnel yang tidak memiliki jalan keluar. Gelap dan menyesakkan.
Wonwoo tidak akan membiarkan pria itu ikut masuk dan terbelenggu dalam dunia yang tidak memiliki kehidupan miliknya. Tidak Mingyu atau siapapun.
“Kenapa ngeliatin gue kayak gitu?” Mingyu bertanya dengan senyum. Jemarinya sekarang menyibak rambutnya yang sedikit basah di dahinya.
Wonwoo tidak membalas, ia masih menatap wajah Mingyu dan memperhatikan lekat-lekat.
Mungkin, jika Wonwoo tidak berusaha mencari orang tuanya, pertemuannya dengan Mingyu tidak akan seperti ini. Mungkin, ia tidak akan memiliki rasa takut untuk membalas perasaan Mingyu. Mungkin, Wonwoo bisa memberikan Mingyu kesempatan untuk mengenal dunia kecilnya. Mungkin, Wonwoo akan benar-benar bahagia.
Mungkin.
“Bantuin gue tidur malem ini, ya?”
“Hm?” Mingyu menggumam kecil sambil mengerjapkan matanya membalas tatapan pria bermata menyerupai rubah itu.
Jemari Wonwoo bergerak meraih wajah Mingyu lalu menariknya dan mendaratkan sebuah kecupan di bibir pria itu. Mata Wonwoo menatap bibir Mingyu sesaat sebelum kembali mendaratkan kecupan yang perlahan berubah menjadi lumatan yang di sambut dengan senang hati oleh Mingyu.
Wonwoo mengalungkan kedua tangannya sembari meremas rambut Mingyu dengan salah satu tangannya, berlomba dengan jemari Mingyu yang sudah menyusup mengelus dan mencubit pelan pinggang rampingnya.
Saat Wonwoo melepaskan ciuman mereka untuk menarik oksigen lebih banyak, kecupan Mingyu berpindah ke leher jenjang Wonwoo yang sudah terekspos. Menghisapnya pelan bersamaan dengan erangan kecil muncul dari Wonwoo kemudian berpindah lagi untuk menggigit tulang selangka Wonwoo.
“Min…” bisik Wonwoo merasakan jemari pria itu sudah bermain dengan puting kanannya. Cengkraman Wonwoo di rambutnya terlepas saat kepala Mingyu bergerak masuk ke dalam baju oversize yang dikenakannya malam itu.
Tubuhnya mulai menghangat ketika merasakan jilatan dan hisapan di putingnya yang sudah menegang.
“Ugh… jangan gigit.” bisik Wonwoo, di sela-sela kenikmatan yang diberikan oleh Mingyu. Posisi mereka saat ini sungguh tidak menguntungkan Wonwoo.
Ia hanya bisa menggeliat menerima setiap kecupan dan hisapan yang Mingyu lakukan di jenjang tubuhnya. Jemarinya sedari tadi berusaha mencari arah celana Mingyu, tapi selalu gagal dengan setiap sentuhan mengejutkan yang Mingyu berikan.
“Min… lo ga engap?”
“Engap, buka bajunya, sayang.”
Tanpa menunggu apapun, Wonwoo segera membuka bajunya, menampilkan rambut Mingyu yang ikut berantakan, masih menghisap puting miliknya.
Melihat Mingyu masih belum bosan bermain disana, Wonwoo tidak mempunyai pilihan lain selain meraih penisnya yang sudah berkedut. Celananya sudah turun setengah dengan cairan precum yang bisa ia rasakan keluar dari ujung milikinya.
“Aahh.”
Wonwoo memekik saat jari Mingyu mengambil alih satu-satunya hal yang bisa ia lakukan saat ini. Sengaja, Mingyu mengetuk-ngetuk ujung penisnya dengan ibu jari miliknya, membuat tubuh Wonwoo semakin menggeliat tidak nyaman.
“Min…” erang pria itu, memejamkan matanya kuat.
Wonwoo tidak lagi bisa menghitung berapa banyak gigitan yang Mingyu berikan di tubuhnya saat tangannya mulai memijat miliknya yang sudah tegak dengan pelan.
Mingyu selalu seperti ini. Cara bermain Mingyu membuatnya merasa jika pria itu suka sekali merundungnya.
“Tahan dulu, sayang. Belum gue emut.” bisik Mingyu mendongak, melihat Wonwoo masih memejamkan matanya. Bibirnya terbuka kecil mengeluarkan erangan-erangan yang dinikmati Mingyu,
“Cepetin Min… gue mau lo.”
Mingyu terkekeh, ia melirik ke arah jam sekilas sebelum mencium paha Wonwoo, “the night is still young. Baru jam sebelas. Masih pagi.”
Decakan Wonwoo membuat Mingyu semakin terkekeh.
Lagi-lagi, sengaja.
Mingyu mengecup ujung penis Wonwoo. Memperlakukannya seperti ia tengah menghisap ujung popsicle dingin kemudian menjilatnya dengan ujung lidahnya. Berhasil membuat tubuh Wonwoo semakin menggeliat-liat.
Suara kecupan-kecupan yang sengaja dibuat Mingyu membuat telinga dan tubuh Wonwoo terasa panas. Ketika lidah Mingyu menjilat dari pangkal penis menuju atas, pria itu melakukannya dengan pelan, berulang kali yang membuat Wonwoo merasakan miliknya berkedut tidak nyaman dengan bulu kuduknya yang ikut berdiri beradu dengan hawa panas dari tubuhnya.
“Min, please… put it in.” mohon Wonwoo sambil menutup matanya dengan tangannya.
Mingyu menyeringai sebelum memasukkan penis Wonwoo yang sudah tegak itu kedalam mulutnya. Kepalanya bergerak naik dan turun, memberikan kenikmatan untuk pria yang tengah menahan desahannya.
Erangan nikmat tidak bisa Wonwoo tahan. Sesekali mengintip kepala Mingyu yang naik turun memanjakan penis tegaknya, membuatnya merasakan rasa hangat dan basah dari rongga mulut pria itu.
“Ughh… Min…” erangnya sambil menekan kepala Mingyu dan menjepitnya dengan kedua paha miliknya.
Tepukan lengan Mingyu tidak membuat Wonwoo melonggarkan jepitannya, ia semakin mendorong pinggulnya membuat penisnya masuk lebih dalam ke rongga mulut Mingyu. Ikut bergerak seirama dengan kepala Mingyu.
Desahan nikmatnya beradu dengan suara batuk tertahan Mingyu membuat mata sayu Wonwoo perlahan terbuka seiring menarik penisnya keluar dari mulut pria di bawahnya.
“Sorry…” bisiknya meraih meraih tiga helai tisu dari nightstand di kamarnya dan membersihkan sisa-sisa spermanya di bibir Mingyu.
Mingyu menyeringai, “udah puas?” tanyanya meraih tisu itu dan membersihkan bibirnya dengan kasar sebelum membuang benda itu sembarang.
“Udah…” balas Wonwoo, jemarinya kembali memijat penisnya sambil melirik ke arah celana yang masih dikenakan oleh Mingyu—memperlihatkan adiknya yang bangun dan sedikit bahas.
“Sekarang giliran gue ya?” ujar Mingyu menyunggingkan senyuman sambil mengeluarkan miliknya yang sudah berdiri tegak.
Melihatnya Wonwoo menganggukkan kepalanya.
・・・・・
Tiga kali. Wonwoo mengumpat sudah tiga kali sejak Mingyu memainkan analnya. Ia berusaha memanjakan milik Mingyu tapi lagi-lagi kegiatan Mingyu memainkannya membuat Wonwoo hilang fokus.
“Bangun sayang, pindah ke sini.”
Wonwoo bangun dari posisinya yang menungging, ia berjalan dengan lututnya mendekati Mingyu yang duduk sambil menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Senyuman puas terpampang nyata di wajah Mingyu yang memperhatikan pergerakan Wonwoo.
“Spread your legs,” ujarnya dengan suaranya yang terdengar pelan, sensual.
Wonwoo menuruti Mingyu, ia masih bersimpuh sambil bergerak melebarkan kakinya. Kedua tangannya bertumpu di punggung pria itu sembari membiarkan Mingyu memasukan dua jarinya ke dalam lubang analnya.
Nafas Wonwoo tercekat merasakan pergerakan jari-jari Mingyu di dalamnya. Sementara Mingyu tidak kuasa mencium lengan Wonwoo yang bertumpu di bahunya.
“Why are you so tight, tonight?”
Wonwoo menggelengkan kepalanya, “ga tau… masukin sekarang Mingyu.”
“Sakit nanti. Belum longgar-longgar banget ini. Liat, ini lo jepit lagi.” balas Mingyu mengernyitkan keningnya.
“It’s okay. Just put it in. I can handle it. Please…Min… I want you.” bisik Wonwoo di telinga Mingyu yang memanas. Ia mengecupnya pelan sebelum menggigitnya kecil.
Tentu saja Mingyu tidak mendengarkannya. Ia masih memijat dan mencoba melonggarkan lubang itu.
Wonwoo mendecak, ia menarik tangan Mingyu keluar dari lubangnya lalu meraih penis pria yang sudah tegak dan mengarahkannya ke permukaan analnya.
“Hey…lo,” Mingyu menyipitkan matanya, merasakan otot-otot anal Wonwoo menjepit miliknya.
Lenguhan dari pria yang mendudukinya membuat Mingyu mengerutkan keningnya. Wonwoo merengkuh tubuhnya cukup erat, bisa membuat Mingyu tahu jika gearakannya terlalu tiba-tiba dan membuat tubuhnya terkejut. Nafas tercekat Wonwoo pun bisa ia rasakan, terasa lebih berat dari biasanya.
“See? I can handle it.” ujar Wonwoo akhinrya, ia menarik tubuhnya sambil membalas tatapan terkejut Mingyu dengan pergerakan yang baru saja ia lakukan.
Mingyu membalas pria itu dengan mendaratkan lumatan di bibir tersenyum Wonwoo.
Wonwoo pun sudah mulai menggerakkan tubuhnya tanpa menunggu Mingyu yang sedikit kebingungan dengan sikapnya malam ini.
Wonwoo memang beberapa kali sering mendominasi permainan mereka. Hanya saja malam ini pria itu terasa sedikit tidak biasa.
“Deeper, Min. Make it deeper, please…” bisik Wonwoo di sela-sela ciuman mereka.
Mendapat sinyal itu, Mingyu membalik posisi mereka. Membuat Wonwoo terbaring di bawahnya. Ia bersimpuh sambil menarik pinggang pria itu membuat sodokannya semakin dalam. Hentakan demi hentakan membuat suara kulit mereka beradu dengan desahan dari Wonwoo yang terus memintanya bergerak lebih cepat dan dalam.
“Ahhh… Min… more. Please.” erang Wonwoo menggigit bibir bawahnya cukup kuat.
Distraksi. Wonwoo membutuhkan distraksi dari pikiran dan perasaan sesak yang tengah ia rasakan saat ini. Ia ingin Mingyu membuatnya lupa atas semua rasa sakit dan tekanan yang ia rasakan untuk malam ini. Malam ini, entah mengapa Wonwoo merasa lebih berat dari malam-malam sebelumnya.
Perasaannya yang ia tahan rasanya ingin menyeruak keluar. Ia ingin berteriak, tapi tidak tahu harus menyalahkan siapa selain dirinya.
Jantungnya sekarang berdebar lebit cepat, mengalahkan irama gerakan Mingyu yang menghujam analnya dengan cepat —seperti permintaannya. Dengan lengannya ia kembali menutupi kedua matanya yang sudah memanas. Malam ini benar-benar terasa lebih menysakkan dan rasanya Wonwoo ingin sekali mengakhiri semuanya.
“Hey… sakit ya? Kenapa sampe nangis?” tanya Mingyu menghentikan gerakannya. Ia menarik lengan Wonwoo yang menutupi matanya yang basah.
Wonwoo memilih mendorong tubuhnya, menjulurkan tangannya dan memeluknya Mingyu. “don’s stop, please.” bisiknya dengan suara paraunya.
Berbeda. Bagi Mingyu tangisannya saat mereka bersetubuh malam ini berbeda dari yang biasanya. Dengan mengernyitkan keningnya, Mingyu berusaha mengabaikan rasa penasarannya.
・・・・・
Mingyu mengambil botol air setelah Wonwoo menegak setengahnya. Mata lelahnya terlihat memerah sekarang.
“Tidur ya?”
Wonwoo menganggukkan kepalanya. Mereka baru saja selesai membersihkan diri bersama dengan paksaan Mingyu. Seperti biasanya, saat ini mereka tidur di kamar Mingyu, karena kamar miliknya cukup berantakan setelah kegiatan itu.
Mingyu menarik pria itu ke dalam pelukannya, ia mengelus-elus pelan kepala bagian belakang Wonwoo.
“Gue ga tau apa yang ngebuat lo sedih. Gue harap hal itu cepet pergi dan lo ga ngerasa kayak sekarang. Gue tau untuk sekarang lo ga akan mau cerita. Gue ga akan maksa. Tapi, lo harus inget, ada gue ya, Wonu?”
Wonwoo mengigit bibir bawahnya, matanya kembali terasa memanas sekarang.
Sayang sekali. Semuanya akan segera berakhir.