Setiap ada kesempatan, Wonwoo terus melihat ponselnya untuk mengecek jam. Ia baru menyelesaikan urusannya dengan LumiDAL hampir jam satu siang. Saat Lee Chan menawarkannya untuk pulang bersama, Wonwoo dengan halus menolaknya dan berjalan cepat menuju lobi.
Ia sudah cukup terlambat dengan janji yang ia miliki dengan Kim Jaemin.
“Bisa lebih cepet lagi ga pak? Saya harus sampe sesegera mungkin.” ujar Wonwoo kepada supir taxi yang berhasil ia dapatkan tepat saat keluar dari agensinya.
Sambil menatap pemandangan luar, Wonwoo memaikan jemarinya tanpa sadar. Ia tidak menyangka jika akan ketahuan secepat ini. Seberapa keraspun ia berpkir, ia tidak mendpatkan jawaban bagaimana salinan kontrak miliknya bisa berakhir di tangan pria itu.
Wonwoo sama sekali belum menceritakan hal ini kepada Mingyu karena mengikuti permintaan dari Kim Jaemin. Dan sekarang ia tidak bisa membayangkan apa yang akan dibicarakan oleh Kim Jaemin.
Mengapa di saat semuanya sudah berjalan baik-baik, tiba-tiba berubah seperti ini? Sepertinya hukum timbal balik akan selalu berlaku untuknya. Ia bahkan hanya merasakan kebahagiaan sesaat ketika berhasil bergabung bersama LumiDAL dan sekarang, hal itu harus ia bayar dengan Kim Jaemin mengetahui kebohongannya.
Wonwoo menghela nafas kecil sambil mengigit bibir bagian bawahnya. Kepalanya sudah mulai terdenyut, memikirkan bagaimana ia akan bersikap di hadapan Kim Jaemin.
・・・
Sesampainya di alamat yang dikirimkan oleh Jihoon, Wonwoo menelan ludahnya, menatap pintu masuk sebuah restoran Korea dengan desain bangunan tradisional dan hanya memiliki private room.
Seorang pelayan yang juga mengenakan hanbok menuntunnya menuju tempat yang sudah di pesan oleh Lee Jihoon. Mereka berjalan cukup jauh sampai akhirnya ia melihat PA dari Kim Jaemin itu berdiri di depan sebuah pintu kayu khas Korea.
Selama ini Wonwoo memang belum pernah bertemu dengannya secara langsung, dan ia tidak menyangka jika Lee Jihoon terlihat sangat muda. Mungkin ia dibawah dirinya beberapa tahun. Tapi dia bisa menjadi PA dari Kim Jaemin?!
Membayangkan bagaimana isi otaknya saja, Wonwoo tidak berani. Mungkin tingkat kepintarannya bisa bersanding dengan Mingyu.
“Saya Lee Jihoon. Akhirnya kita bertemu ya.” sahutnya sambil menjulurkan tangan kanannya yang disambut oleh Wonwoo.
“Salam kenal.”
“Bapak sudah menunggu di dalam, ayo masuk.”
Wonwoo menganggukkan kepalanya ragu dan berjalan di belakang Jihoon. Kemarin ia sudah berhasil menunjukkan bagaimana aktingnya. Dan sekarang, sepertinya ia harus mendengar feedback dari kakek Mingyu.
Sesuai permintaannya, Wonwoo sama sekali tidak menunjukkan kegugupan saat berpura-pura ketika mereka makan malam kemarin. Sedikit lebihnya, ia bisa membayangkan kalimat-kalimat menyakitkan yang akan di lempar oleh Kim Jaemin hari ini.
Ia merasa sudah siap mendengar hinaan yang mungkin memang pantas untuknya?
Ia mencium Mingyu secara terang-terangan di depannya, dan bahkan mereka berdua berhubungan badan di rumah itu. Jadi, apa bedanya dia dengan para selebriti yang mencari sponsor itu?
Orang semacam Wonwoo sudah pasti dinilai rendah oleh pria berstatus tinggi seperti Kim Jaemin.
Dan Wonwoo sudah mempesiapkan dirinya untuk bisa menebalkan telinganya ketika kata-kata rendah itu ditujukan kepadanya.
Mendengar dehemen dari pria tua itu, Wonwoo masih belum mengangkat kepalanya. Biar bagaimanapun juga yang ia hadapi adalah Kim Jaemin—orang yang memiliki kemampuan untuk menghapuskan jejak kehidupannya di negara itu. Perasaan takut dan gugup itu pasti ada.
“Sampai kapan kamu mau berdiri? Saya sudah lapar.” celetuk Kim Jaemin membuat Wonwoo cepat-cepat mengambil posisinya.
“Mingyu bilang kamu tidak picky eater. Saya tidak tahu itu benar atau tidak, saya sudah pesan best seller menu disini. Kalau kamu tidak suka, minta PA Lee untuk ganti menunya.” lanjut pria setelah Wonwoo duduk di seberangnya.
Wonwoo menganggukan kepalanya, “saya ga picky.” balas Wonwoo.
Kim Jaemin mendecak dan suasana tempat itu menjadi hening sampai dengan makanan-makanan yang di pesan mulai berdatangan.
Tidak ada satupun dari mereka yang memulai makan siang itu, walau Jihoon sudah merasa sangat lapar, ia tidak juga memilih diam, menunggu apa yang akan di sampaikan oleh Kim Jaemin.
“Tidak ada yang mau kamu tanyakan?”
Akhirnya, wonwoo mengangkat kepalanya, “copy contract saya kenapa bisa ada di Kakek?” tanya Wonwoo ragu. Ia sebenarnya bingung menyebut pria itu dengan Bapak atau Kakek, dan memilih membiarkan mulutnya berujar mengikuti otaknya.
Kim Jaemin menaikkan satu alisnya, “kamu penasaran dengan itu?”
Wonwoo mengangguk, “seberapa keraspun saya mikir, saya tidak merasa mnerima kontrak itu.”
“PA-nya Mingyu, si Seungkwan, ga sadar waktu kasi proposal buat Bapak—ada copy contract kamu di bawahnya. Untungnya yang nerima saya langsung. Jadi ga ketauan sama orang yang akan memanfaatkan itu.”
“Oh.” Wonwoo mengangguk. Pantas saja, ia memang belum menerima itu dari Seungkwan dan berniat untuk menanyakannya, tapi ia lupa.
“Mingyu kalo boong itu bodoh.”
Kalimat itu kembali menarik perhatian Wonwoo dan menatap pria paruh baya itu dalam diam. Jika di perhatikan, Kim Jaemin dan Kim Mingyu terlihat cukup mirip. Mata dan hidung itu benar-benar copy-paste.
“Waktu dia bilang kalian sudah tinggal selama tiga bulan, saya sudah curiga. Trace kamu sama sekali tidak pernah ada di rumahnya. Dia lupa kalau chef dia itu suka masak disana. Dan dia sama sekali tidak pernah minta dibuat porsi lebih dari satu.” Ujar Kim Jaemin yang masih membungkam Wonowo, “sekarang juga, kamar kalian misah, kan?”
Wonwoo menyipitkan matanya mendengar pertanyaan yang tidak terlalu ia duga. Namun, beberapa detik kemudian, ia menganggukkan kepalanya, “iya, kakek.”
Kim Jaemin mendengus, “hmp. Saya cuma penasaran awalnya dia mau main-mainnya sampai kapan. Makanya kali ini saya biarin. Tapi semakin dibiarkan kalian malah menjadi? Mendaftarkan pernikahan? Kamu gila?”
Wonwoo tidak memberikan respon lagi, ia menggigit bibirnya bagian dalam, dengan tangan yang sudah mengeluarkan keringat dingin, mencekram mulutnya.
“Saya akui, kalau LumiDAL tidak akan rugi untuk hire kamu. Acting kamu bagus sekali. Asking permission to marry my grandson? I’ve never seen a liar as brave as you before.”
Wonwoo sudah mempersiapkan dirinya, tapi mendengar kalimat itu dengan tawa meremehkan masih membuat telinganya terasa panas. Dia tidak menginginkan ini. Dari awal, ia hanya melakukan apa yang ia pikir seharusnya ia lakukan.
Dan sepertinya kali ini berakhir mempermalukan dirinya lagi.
“Mingyu sudah bilang sama saya kalau sepulang saya dari UK akan mendaftarkan pernikahan kalian. Saya sudah angkat tangan. Kali ini saya akan membiarkan anak itu melakukan apapun yang dia inginkan. Cuma sekarang kamu…”
Wonwoo mengernyitkan keningnya, wajahnya terlihat mengeras, menerka kalimat apa yang akan diucapkan pria paruh baya itu, “apa yang kamu cari dari cucu saya?”
Pertanyaan itu membuat telinga Wonwoo berdegung. Bukan dia. Bukan dia yang mencari Mingyu.
“Tidak bisa jawab? Tch. Saya akan kasi double dari yang Mingyu kasi ke kamu setiap bulannya. Buat hubungan kalian tidak lebih dari satu tahun. Kalau dia minta ganti rugi karena kamu mutusin sepihak, saya yang akan bayar. Uang yang saya kasi sudah setara dengan tiga tahun kontrak kamu dengan cucu saya. Urusan cerai itu gampang.”
Lee Jihoon melempar tatapannya ke arah boss-nya. Ia sama sekali tidak diberitahu mengenai hal ini sebelumnya. Ia kira Kim Jaemin akan menakut-nakuti Wonwoo seperti yang ia lakukan kepada orang-orang bayaran Mingyu. Tapi sekarang, dia membiarkan Mingyu melanjutkan permainan ini!?
“Ga perlu bayar saya lagi. Di kontrak sudah di jelasin kalau saya bisa mutusin kerjasama kita kapan saja. Nanti saya atur sapaya tidak lebih dari satu tahun.”
“Tidak. Ini kontrak saya dan kamu. Nanti saya akan minta Jihoon untuk urus. Kamu tetep saja pura-pura seperti biasanya. Saya juga akan pura-pura tidak tahu. Jangan sampai ketuan sama Mingyu saja. Kamu bisa?
Wonwoo memejamkan matanya sambil mengigit pipi bagian dalamnya. Ketika ia membukanya perlahan, pupil mata kecoklatan miliknya yang bersembunyi di balik kaca mata itu, bertemu dengan tatapan tegas dari Kim Jaemin. Mengapa, ia selalu dihadapkan dengan pilihan yang tidak memiliki opsi untuknya menolak?
"Kenapa menatap saya seperti itu? Kamu ragu? Kamu sudah suka sama cucu saya?"
Wonwoo berniat untuk membuka suara, namun di dahului oleh pria paruh baya itu.
"Waktu Mingyu yang minta perjanjian konyol ini, kamu bahkan langsung pindah ke rumahnya. Sekarang apa yang membuat kamu ragu? Uangnya kurang untuk kamu?"
"Saya ga ragu, saya kehabisan kata-kata karena apa yang Mingyu tawarkan juga sama seperti ini. Membuat saya ga punya pilihan untuk bilang tidak.” Jawab Wonwoo menatap datar pria itu.
“Kalau boleh jujur. Saya ga mau melakukan semua ini. Tapi kalian membuat saya tidak punya pilihan. Sekarang, saya merasa di sudutkan dengan hal yang mana cuma kasi saya satu pilihan. Untuk pertanyaan kakek, saya ga punya keberanian untuk sekedar suka sama orang seperti Mingyu. Bahkan ketemu sama Mingyu pun tidak pernah terbesit dipikiran saya. Entah kakek mau percaya atau tidak, pertemuan saya dengan Mingyu itu beneran kebetulan.”
Kim Jaemin tidak merespon, tatapannya sama sekali tidak lepas dari Wonwoo yang memang terlihat kesal sekarang.
“Tadi kakek bertanya apa yang saya cari dari Mingyu? Ga ada. Cucu kakek ga punya apa yang saya cari. Saya paham, sekarang dipikiran kakek itu saya setuju sama tawaran Mingyu karena uang. Itu ga sepenuhnya salah, karena jujur—saya ga bisa nolak saat mingyu menawarkan bayaran sebanyak itu. Tapi, saya benar-benar tidak memiliki niat untuk mempermainkan kakek. Saya minta maaf karena itu dan maaf kalau kemunculan saya buat kakek tambah repot. Saya cuma minta kalau kakek ga menyalahkan saya sepenuhnya. Karena ide gila ini emang dateng dari cucu kakek—satu tahun. Saya janji hubungan kita akan selesai dalam waktu itu.” Kata Wonwoo panjang lebar dengan tatapan menggebu. Nafasnya memburu melontarkan isi kepalanya yang tidak berhasil ia tahan lagi.
Kim Jaemin mendelik, “kenapa nada bicara kamu seperti itu!? Kamu marah karena saya mengetahui permainan kalian!? Yang harusnya marah saya, karena kamu juga ikut berbohong,”
Wonwoo masih mentapnya tajam, “emang saya boleh marah? Saya ga punya pilihan itu. Saya cuma mengutarakan apa yang pingin saya sampaikan. Tawaran kakek ga perlu pake kontrak-kontrak segala. Saya nanti buat reminder di kalender. Nanti saya akan minta email kakek sama PA Lee. Kakek sama cucu sama saja. Sukanya semena-mena sama orang kecil. Saya bisa ngelawan apa sekarang?”
“Saya ga semena-mena!”
“Kakek bicara seolah-olah saya yang mencari Mingyu dengan sengaja! Kakek juga nuduh saya suka sama dia. Saya ga suka sama cucu kakek!”
“Kamu ga usah bentak saya! Saya kan bertanya! Mana saya tau kalau kalian tidak saling suka! Kalian ciuman di depan saya!”
Wonwoo mendecak kecil dan Jihoon hanya bisa berdehem sambil menahan rasa laparnya.
“Kan acting! Kakek juga bentak saya duluan! Saya reflek ngebentak juga! Satu lagi yang mau saya tegaskan2, saya ga mungkin suka sama Mingyu. Sekarang mending kakek cari aja orang yang tepat buat dia, atau nikahin dia bareng Kak Han dan Kak Cheol, biar sekalian bertiga! Jadi saya ga perlu lagi lanjutin hubungan kita.”
Kim Jaemin mendelik, namun sedetik kemudian ia terlihat tenang, “sudah. Dia sudah punya calon.” jawabnya membuat Wonwoo terdiam seketika.
Pria paruh baya itu memicingkan matanya melihat reaksi pasif dari Wonwoo.
“Oh bagus dong. Kenapa ga dari awal saja? Kan saya ga perlu jadi bounce bag kayak gini.” balas Wonwoo akhirnya.
“Karena Mingyu masih belum bener. Makanya saya belum bisa ngenalin mereka.”
Wonwoo menganggukkan kepalanya. Ia tidak merasa harus mendengar curahan hati Kim Jaemin mengenai Mingyu.
“Saya minta maaf lagi kalo hubungan ini cuma buat Mingyu sama calonnya ketemunya jadi semakin lama. Saya janji cuma sebentar aja sama cucu kakek. Setelah semuanya selesai, saya ga akan muncul lagi di depan kakek ataupun Mingyu.”
Kim Jaemin terdiam mendengar kalimat yang diucapkan Wonwoo.
“Saya rasa pembiacaraan kita sudah selesai. Kalendarnya nanti akan saya invite lewat PA Lee. Saya mau balik dulu.” lanjut Wonwoo yang sudah berdiri bersiap-siap untuk pergi.
“Sekarang kamu tidak mau makan sama saya? Saya sudah pesankan banyak.”
Wonwoo menghembuskan nafas malas, “dibungkus bisa?”
Kim Jaemin memutar bola matanya lalu melemparkan tatapan tajam ke arah Jihoon yang menahan tawanya. Sedari tadi hanya diam dan sekarang ia menutup mulutnya menahan tawa. Asistennya hari ini membuatnya bekerja sendiri!
“Tidak bisa. Makan disini. Duduk.”
Wonwoo mendecak, namun tetap mengikuti keingan pria itu dan kembali duduk.
Sementara Lee Jihoon yang sedari tadi menjadi penonton hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat percakapan yang lebih seru dari drama yang pernah ia tonton. Bekerja cukup lama dengan Kim Jaemin membuatnya sudah terbiasa menghadapi sikap pria paruh baya itu, tapi kali ini ia sama sekali tidak bisa menebak isi pikiran bosnya.
Argumen yang ia saksikan barusan juga mengingatkannya dengan bagaimana Kim Jaemin bersikap dengan Mingyu. Mungkin karena Wonwoo orang pertama yang tidak ragu mengungkapkan isi hatinya, Kim Jaemin menikmati adu mulutnya. Biasanya mantan dan orang-orang bayaran Mingyu akan menciut saat pria itu baru membuka kalimat pertama.
Tapi Wonwoo… walau dia terlihat takut, dia masih berani menunjukkan taringnya. Bahkan ia sampai membentak seorang Kim Jaemin.
Jika saja Jihoon bisa merekamnya, ia pasti akan memutar adu mulut keduanya setiap hari di depan Kim Jaemin.