Narasi 28
Wonwoo mendudukkan kepalanya dalam-dalam mendengar setiap cercaan dari Hong Mira. Sedari tadi ia lebih banyak diam, enggan menjawab lagi pertanyaan sama yang keluar dari wanita itu. Sejak ia sampai di rumah itu Wonwoo bisa melihat keterkejutan Kim Jaemin dan Jihoon saat Hong Mira melemparkan kontrak itu diatas meja living room.
“Ini apa!? Kenapa ada nama kamu dan Mingyu di sini!?”
Wonwoo menghela nafas, "seperti yang sudah tante lihat. Itu surat kontrak pernikahan saya dan Mingyu." balasnya.
Keadaan berubah menjadi hening. Tidak ada yang mengungkapkan apapun, selain deru nafas wanita itu menatap nyalang ke arah Wonwoo yang menunduk.
"Papi, lihat?" tanya Hong Mira menoleh ke arah pria tua yang sedari juga tidak mengeluarkan sepatah katapun. Di sampingnya, Jihoon yang menatap Wonwoo dengan mengernyitkan keningnya bingung.
Tidak mendapat balasan dari Kim Jaemin, Hong Mira kembali menoleh ke arah Wonwoo, "kamu sengaja mendekat Mingyu? Apa tujuan kamu sebenarnya?"
"Pertemuan saya sama Mingyu emang ga di sengaja. Dari awal saya tidak punya tujuan apapun untuk mendekati Mingyu. Semua yang ada di dalam kontrak itu penawarm ian Mingyu untuk saya."
"Kamu jangan coba bohongi saya!"
"Saya ga bohong.”
“Kamu jangan terus mengelak! Kamu itu penipu!”
“Mira!”
"Pantes aja selera Mingyu jadi berubah. Ternyata dia berhubungan sama con artist. Kamu sadar kalau kamu bisa menghancurkan karir yang di bangun Mingyu? Orang kayak kamu seharusnya tahu tempat dan tahu diri untuk tidak memakai Mingyu menjadi sumber sponsor karir kamu. Kamu merasa hebat ya bisa jual diri supaya dapet project besar?"
"Tante Hong!" Pekikan Mingyu memenuhi ruang tamu itu. Dengan nafas memburu ia berjalan ke arah Wonwoo yang masih diam.
"Pulang," ujarnya meraih tangan pria berkacamata itu.
"Mingyu duduk. Kamu harus menjelaskan semuanya." hardik Hong Mira.
"Ga ada yang perlu aku jelasin. Semua yang tante baca kontraknya dan itu bener semuanya."
Rasa ketidakpercayaan meliputi wajah wanita cantik itu, “kenapa Igyu? Kenapa harus seperti ini?”
“Dari awal aku sudah bilang ga mau di jodohin. Tapi, kalian tetep maksa.” jawab Mingyu, masih menggenggam tangan Wonwoo.
“Tapi kan tidak harus menikah…”
“Will you stop? Apa tante akan berhenti untuk ganggu hubungan aku kalau aku dan Wonwoo ga nikah? Tante akan tetep ketemu diem-diem sama dia? Berusaha buat dia ninggalin aku kayak yang sebelum-sebelumnya.”
Kalimat itu membuat semuanya membungkam, membuat Mingyu mendengus masam, “pulang sama gue,” ulang Mingyu masih mencoba menarik Wonwoo yang masih menempel di sofa itu.
“Cerai. Urus perceraian kalian.” Celetuk Hong Mira, membuat Mingyu menatapnya tidak percaya. Ia tersenyum masam sambil menggelengkan kepalanya, “No.”
“Kim Mingyu! Bisa tidak kamu mendengarkan mama sekali saja!? Cerai sama dia! Kamu berhak mendapatkan orang yang jauh lebih baik! Mama minta maaf kalau selama ini mama selalu menjodohkan kamu. Tapi, kamu harusnya sudah tahu, kalau mama seperti itu karena mama ingin yang terbaik untuk kamu. Dan mama yakin bukan dengan dia. Dia ga pantas sama kamu, Igyu.” ucap wanita itu panjang lembar, tanpa melihat Wonwoo yang hanya bisa menghela nafasnya.
Mendengar hal itu wajah Mingyu semakin menunjukkan rasa tidak sukanya, “tau apa tante tentang yang terbaik buat aku?”
“Yang jelas bukan sama dia. Kamu seharusnya menikah dengan orang yang sebanding dengan kamu. Bukan orang yang hanya bergantung sama kamu buat dapetin project. Apa dia bisa seperti Jeonghan kalau tidak ada kamu? Dia pasti sengaja mendekati kamu kan? Kenapa kamu ceroboh sekali Mingyu! Apa kamu tidak memeriksa backgroundnya? Kenapa kamu bisa terjebak—”
“Shut up!”
“Kim Mingyu!” kali ini Kim Jaemin membuka suaranya melihat sikap cucu semata wayangnya.
“Can you stop? Stop talking as if you know me. You're not my mom. Stop involving yourself in my life. Stop your obsession with me just because you couldn't be with my father, because I look so much like him."
Hong Mira tercekat mendengar kalimat Mingyu, sementara Wonwoo yang sedari tadi enggan menatap pria itu tanpa sadar menolehkan kepalanya, yang kali ini melihat dengan jelas bagaimana ekspresi murka di wajah tampan itu.
“Igyu, apa yang kamu bicarakan?” tanya wanita itu pelan.
“Tante ga perlu pura-pura innocent. Tante marah karena aku milih orang yang mirip mama. Mama tinggal di panti asuhan, dia ga punya apapun—ga punya background kayak tante dan itu yang buat tante ngerasa kalau pilihan papa salah kan? Papa harus end up sama orang yang sebanding, orang seperti tante. Karena tante gagal buat itu terjadi di kehidupan tante, sekarang tante maksa aku untuk jalanin obsesi itu,” sahutnya panjang lebar yang semakin membuat wanita itu terdiam, menahan nafasnya yang tertahan.
“Pops, I'm sorry that I lied to you. I will explain everything later.” ujr Mingyu, sambil menarik pergelangan tangan Wonwoo pelan, “ayo, kita pulang.”
“Kakek lo udah tau lama, Mingyu.” celetuk Wonwoo, membuat perhatian orang-orang kini tertuju kepadanya.
“Gimana?”
Keterkejutan terlihat jelas di wajah Mingyu, begitu juga dengan yang lainnya.
“Menurut lo, kenapa kakek lo ga bereaksi apa-apa sama hal sebesar ini? Ditambah dapet konfrontasi dari tante lo?” tanya Wonwoo memiringkan kepalanya. Senyuman tipis muncul di wajah Wonwoo membuat Mingyu semakin kebingungan. Keningnya berkerut mencoba menafsir sikap yang Wonwoo tunjukan sekarang.
Kenapa dia tersenyum?
“Lo di ancem sama kakek gue?” tanyanya sambil menolehkan kepalanya ke arah Kim Jaemin, “Pops? Did you threaten him?”
Kim Jaemin tidak mengatakan apapun. Ia hanya terdiam sambil berdeham kecil.
Wonwoo mendecak sebelum menghela nafas berat, menatap malas ke arah Mingyu. Ia melepaskan genggaman tangan Mingyu yang sudah melonggar, sebelum kembali menatap wajah pria kebingungan itu.
“Gue minta tawaran lebih ke kakek lo. Gue minta double, buat gue ga bawa issue ini ke media.”
“Apa?”
Wonwoo menganggukkan kepalanya sambil menyunggingkan senyumannya, "jadi secara ga langsung apa yang di bilang Tante Hong itu bener. Gue nipu lo. Sorry ya, Mingyu?"
Lee Jihoon yang sedari tadi tidak mengeluarkan suara apapun menatap ke arah Wonwoo tidak percaya. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya, namun tatapan yang diberikan Wonwoo menunjukkan jika dia melakukannya dengan sungguh-sungguh.
Senyuman tanpa beban itu terukir membalas tatapan tidak percaya dari Mingyu yang bungkam.
“Maksud kamu apa!?”
Suara Hong Mira kembali memecah keheningan.
Wonwoo menatap malas ke arah wanita itu, “kayak yang udah tante denger. Aku mainin Mingyu untuk dapetin uang lebih banyak.”
Wonwoo secara refleks menutup matanya saat wanita itu melemparkan kertas kontrak itu ke arahnya.
“Pulang.”
Hanya satu kata yang Mingyu ucapkan sebelum menarik tangan Wonwoo, membuatnya berdiri seketika dan sedikit terhuyung karena keseimbangannya yang belum stabil.
"Come with me."
Suara Mingyu terdengar datar dan lebih berat dari biasanya. Ia sama sekali tidak berpamitan atau pun sekedar melirik ke arah Kim Jaemin yang tidak memiliki kesemaptan untuk mengucapkan apapun. Juga mengabaikan Hong Mira yang berusaha memanggilnya untuk tetap tinggal.
Mingyu tidak peduli. Ia merasa jika suhu tubuhnya sekarang tiba-tiba saja memanas. Kalimat yang diucapkan Wonwoo tadi terus berputar di kedua telingannya. Tatapan matanya pun sudah mulai memerah, berjalan menuju pintu sambil menyeret Wonwoo yang berusaha melepaskan diri dari cengkramannya yang cukup menyakitkan.
・・・・・
Wonwoo mengira jika ia akan berakhir di tangan Mingyu saat pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi. Hampir tiga kali ia menghitung pria itu hampir menabrak mobil di depannya.
Tapi Wonwoo diam, tidak meminta pria itu memperlambat kecepatannya ataupun memintanya untuk menurunkannya di jalan.
Tida ada satupun dari mereka yang berbicara di tengah suasana dingin itu sampai mereka tiba apartemen mereka. Ia bisa melihat jika kedua tangan Mingyu mengepal sangat kuat, membuatnya bergetar, menahan amarah. Sampai beberapa saat kemudian, Wonwoo bisa melihat bagaimana barang-barang di tempat itu mulai berceceran di ruang tamu.
Piring hias, guci bahkan meja kaca di ruang tamu itu hancur berkeping. Wonwoo masih diam, berdiri menatap Mingyu dengan nafas memburu, mencoba untuk menenangkan dirinya yang masih belum menatapnya. Dari tempatnya berdiri Wonwoo bisa melihat bagaimana punggung Mingyu naik turun dengan deru nafas yang cukup berat. Setelen baju yang ia kenakan pun terlihat berantakan sekarang.
Di depannya, Mingyu terlihat sangat berantakan.
“So, you're telling me everything you did was just because I paid you? None of it was genuine?”
Kali ini suara Mingyu terdengar pelan dan asing di telinga Wonwoo. Sangat pelan, nyaris menyerupai bisikan. Namun bisa di dengar jelas oleh Wonwoo.
Ia mengangkat kepalanya perlahan, mendapati ke kedua tangan Mingyu mengepal kuat dengan bercak darah yang menetes. Lalu, saat tatapan mereka bertemu, Wonwoo bisa melihat pria itu tengah menatapnya nanar dengan matanya yang semakin terlihat memerah. Entah menahan tangis atau amarah. Berbanding terbalik dengan tatapan Wonwoo yang terlihat santai.
"Iya, semuanya itu karena lo bayar gue. Apa yang gue lakuin ke lo, itu part of contract dan begitu juga sama kakek lo. Gimana gue mau nolak kalau kakek lo beneran mau nerima tawaran gue dengan nilai double? Kalau gue tau segampang ini, mungkin gue akan minta tri —"
Wonwoo tidak melanjutkan kalimatnya ketika Mingyu meraih sebuah vas di dekat ia berdiri dan melemparkannya ke arah tembok. Dari ekor matanya, Wonwoo bisa melihat Oreo tengah berlari menuju dapur, ketakutan.
“Shut your fucking mouth.”
Wonwoo menghela nafas kecil dan tidak melanjutkan kalimatnya.
“Kenapa lo ngelakuin kayak ini, ketimbang minta sama gue?”
“Gue butuh shortcut. Kalo sama lo bakalan ribet. Apa lagi gue udah tau lo mulai ke bawa perasaan. Gue ga mau ambil pusing.”
Mingyu mengeryitkan keningnya sambil menatap Wonwoo masih dengan tatapan tidak percaya. Nafasnya memburu menahan perasaan menyakitkan yang tidak bisa ia ungkapkan.
Apa orang ini benar-benar Wonwoo yang ia ajak tinggal bersama selama ini? Mengapa Mingyu merasa tidak mengenal orang yang ada di hadapannya sekarang?
“Lo mainin gue?”
Wonwoo membasahi bibirnya, “gue ga minta lo maafin gue. Karena gue ngelakuin ini dengan kesadaran penuh. Terserah lo mau bales gue kayak apa, cuma jangan sakitin Oreo aja. Dia ga tau apa-apa.”
Mendengar kalimat itu, Mingyu menggigit bibirnya yang bergetar, tanpa melepaskan tatapan nanarnya ke arah Wonwoo yang masih terlihat sangat tenang. Seakan ia tidak takut dengan apa yang akan Mingyu lakukan kepadanya setelah melihat tempat itu berantakan karena amarah Mingyu yang menghancurkan benda-benda itu.
“Lo akan ngelakuin apapun untuk uang? Is that what you want me to think of you?”
“Itu kenyataannya, Mingyu. Alasan gue pingin jadi actor juga karena gue pingin dapet uang banyak dalam waktu yang singkat. Ya emang ga akan segampang itu, cuma gue udah siap banget nawarin diri gue hari itu. Cuma kebetulan aja lo hari itu lagi sial, then kita ketemu dan lo nawarin gue buat hubungan palsu ini.”
Dengusan masam keluar dari bibir Mingyu, matanya sudah mulai berair masih menatap pria itu dengan tidak percaya.
“You’re telling me that you’re ready to spread your legs to get the deal? Bukannya lo sempet bilang kalo ga mau kayak gitu ke gue? Lo yang sebenernya yang mana?”
Wonwoo menghela nafas singkat lalu memjamkan matanya sebentar, sebelum kembali membalas tatapan kekecewaan Mingyu, “lo paham ga sih, kalau gue itu cari simpati ke lo? Karena gue udah terlanjur setuju sama permainan lo, mau ga mau gue harus maenin peran gue sambil cari kesempatan untuk dapet yang lebih besar, which datengin kakek lo. Gue juga ga nyangka kalo dia setuju.” ujar Wonwoo menyipitkan matanya sambil tersenyum kecil, seolah ia membayangkan bagaimana pertemuannya yang mengancam Kim Jaemin itu.
Sebuah kekehan kecil muncul dari bibir Wonwoo, membuat sesuatu di dalam tubuh Mingyu merasa hancur. Dadanya sedari tadi berdetak sakit, berharap jika apa yang Wonwoo sampaikan ini hanyalah sebuah kebohongan. Namun, semakin lama Wonwoo membuka mulutnya, semakin menyakitkan rasa degupan jantung dan tarikan nafasnya.
“Mingyu,” panggil Wonwoo membuat pria itu bergeming.
“Lo suka sama gue itu bukan dari rencana gue. Maaf, ya?”
Mingyu membasahi bibirnya yang bergetar, matanya tidak sanggup lagi menatap Wonwoo.
“Jadi lo mau bilang kalau lo ga ada bedanya sama orang yang sengaja deketin gue? So you're only after my money? You're just using me?”
Wonwoo menggumam sebentar sambil mengerucutkan bibirnya kecil, “sadly yes dan bonus buat gue karena koneksi lo di LumiDAL. Uang penalti dari agensi gue sebelumnya, juga udah gue lunasin kan? Gue udah ga punya utang lagi ke lo, kecuali mungkin kalau lo mau nuntut gue. Tapi gue juga bisa ngelakuin hal yang sama,” ujar Wonwoo.
“Kalau sekarang lo berubah pikiran untuk minta ganti rugi karena gue mau batalin kontrak kita dan narik balik semua yang udah lo kasi, gue juga udah ada backup. Kakek lo janji mau nanggung itu based on our contact. Dia yang akan bayar itu semua. Kalau lo mau ngusir gue dari LumiDAL dengan minta mereka mutusin kontrak sama gue… Gue ga keberatan. Biar gimanpun gue udah bohong ke lo dan gue akan terima semua konsekuensinya. Gue cuma ga punya niat untuk lanjutin nikah palsu ini lama-lama.”
Kalimat-kalimat itu keluar dari mulut Wonwoo tanpa beban. Dari nada bicaranya, ia terlihat sudah muak dengan hubungannya dengan Mingyu.
“Bego ya gue?” lirih Mingyu, tatapan matanya yang menghindari Wonwoo, seakan masih berusaha mencari kebohongan di dalam pria bermata rubah itu.
“Yang gue rasain sekarang cuma one sided? Semua perlakuan lo selama ini cuma karena gue bayar lo? Lo anggep gue apa, Wonwoo?” tanya Mingyu lagi.
Ia tidak yakin. Iya ingin Wonwoo mengatakan jika semua yang ia ungkapan itu bohong.
“Atasan gue?”
Mingyu memejamkan matanya yang bergetar sambil menggigit bibir bawahnya. Kedua jemarinya mengepal semakin kuat, bahkan urat di leher dan pelipisnya terlihat karena menahan amarah.
“Strip, spread your legs. Show me who you really are.”
Mendengar kalimat Mingyu, Wonwoo tidak bergeming. Ia menatap Mingyu dalam diam untuk beberapa saat.
“Why? Scared?” tantang Mingyu.
Wonwoo mengedikkan bahunya. Jemarinya mulai membuka satu per satu kancing baju yang ia kenakan sambil berjalan ke arah Mingyu. Hanya saja, kali itu ia tidak langsung mengalungkan tangannya di leher Mingyu untuk mencium pria itu, namun ia bersimpuh di hadapan Mingyu, mengabaikan pecahan kaca di atas permadani yang ia tekan dan mengabaikan nafas memburu dari Mingyu yang semakin menatap tidak percaya ke arah Wonwoo di bawahnya.
Ketika jemari Wonwoo terulur untuk membuka sabuk di celana Mingyu, pria itu mundur dua langkah yang membuat Wonwoo secara reflek mengangkat kepalanya dan mendapati air mata menetes di pipi kiri Mingyu. Menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa Wonwoo artikan, namun cukup membuat rasa sesak teramat di dadanya.
“Kenapa lo ngelakuin sejauh ini, Wonwoo?”
Wonwoo terdiam.
“Salah gue sama lo apa? Kenapa lo jahatin gue?” suara itu bergetar menahan isakan.
“Lo ga punya salah sama gue. Lo sial aja ketemu orang jahat kayak gue. Benci sama gue ya, Mingyu? Lo harus inget apa yang gue lakuin ke lo dan gue harap lo ga akan pernah ketipu sama orang macem gue,” balas Wonwoo dengan kedua ujungnya yang ditarik sempurna. Memamerkan senyuman tanpa rasa malu kepada Mingyu yang sudah jelas-jelas terlihat marah, kecewa dan putus asa.
Mingyu masih berusaha mencari kebohongan di tatapan itu, ia masih sangat berharap jika selanjutnya Wonwoo akan tertawa dan mengatakan jika semua ini adalah acting yang akan ia lakukan untuk project selanjutnya. Namun, entah berapa lama Mingyu menunggu, hal itu tidak terjadi. Wonwoo masih bersimpuh mengadah menatapnya dalam diam, menunggu apa yang akan Mingyu balas.
“Pergi, sekarang. Bawa anjing lo. Ga usah pikirin barang-barang lo. Gue yang akan buang semuanya. Jangan pernah muncul lagi di depan gue. Kontrak lo sama gue udah selesai.” sahut Mingyu.
Wonwoo hanya menganggukkan kepalanya tanpa beban, "okay."
“It's strange. Instead of being angry, I feel like I'm dying. It hurts so much that all I want to do is disappear and erase every memory I have of you.”
Kalimat terakhir yang Wonwoo dengar sebelum Mingyu melenggang pergi dari tempat itu. Meninggalkannya dalam diam, masih bersimpuh menatap lurus ke udara kosong tanpa Mingyu.
Melihat orang yang menyebabkan ruangan itu berantakan sudah pergi, Oreo yang sedari tadi bersembunyi, berjalan pelan-pelan mendekat Wonwoo. Dengan ekornya yang turun, ia melangkah hati-hati di atas pecahan-pecahan kaca itu.
Matanya menatap tidak mengerti ke arah Wonwoo yang masih berdiam di posisinya. Namun beberapa detik kemudian, Oreo memiringkan kepalanya melihat Wonwoo bergeming. Punggungnya mulai bergetar kecil dengan isakan yang ia tahan, jemarinya meraih bajunya dan meremas bagian dadanya yang terasa menyesakkan. Sesuatu di dalam dirinya terasa hilang dan membuatnya sulit untuk bernafas.
Oreo tidak mengerti dengan pertengkaran keduanya. Ia hanya bisa merasakan jika pemiliknya saat ini sedang ada dalam suasana hati buruk. Wajah polosnya menatap diam ke arah Wonwoo yang tengah menangis mengabaikan lututnya yang terasa perih karena pecahan kaca itu.