Setelah percakapannya dengan Chan, hari Wonwoo terasa blur. Ia bahkan melakukan cukup banyak kesalahan yang membuat kru disana sedikit kesal. Berkali-kali ia membungkukkan badannya untuk meminta maaf sebelum akhirnya ia berhasil menyelesaikan adegannya sesuai permintaan sutradara di pukul delapan malam.
Rasa lelah yang ia rasakan bahkan tiba bisa membuatnya tidur, malah terjaga sambil melihat hamparan laut dari jendela kamar tidurnya di villa milik keluarga Mingyu.
Jika Chan tidak memaksanya makan tadi, mungkin saat ini Wonwoo tidak akan sadar jika perutnya perlu di isi.
Tanpa sadar, ia kembali memotek buku jarinya. Dadanya sedari tadi terus bergemuruh. Reaksi yang sama setiap kali ia mendengar nama Baek Rion. Hanya kali ini, debaran gelisah di dadanya sedikit membuatnya tidak nyaman.
Wonwoo sangat memahami Baek Rion, ancaman-nya akan terjadi, entah cepat atau lambat. Satu-satunya orang yang tidak akan membiarkan Wonwoo hidup dengan tenang.
Dendam yang dimiliki pria itu terhadapnya sangat besar sampai dia tidak memberikan kesempatan untuk Wonwoo merasa bahagia.
Rasa penyesalan dan perasaan bersalah dari Wonwoo seakan kurang untuk menebus keputusan yang dianggap kesalahan oleh Rion dan Eunrim.
Kata mereka—berkali-kali—, kehidupannya adalah kesalahan.
Jika bisa ia mengulang waktu, Wonwoo ingin kembali ke masa ia belum mengetahui siapa ibu kandungnya. Jika ia tahu jika hal ini hanya akan menjadi mimpi buruk yang terus mengejarnya, Wonwoo akan memilih untuk tidak tahu asal usulnya yang ujungnya hanya berubah menjadi penyesalan terbesarnya.
Sampai saat ini, tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana Wonwoo terus dihantui oleh perasaan itu. Rasa takut dan bersalah yang seakan mengejarnya di setiap langkahnya.
Wonwoo sudah berusaha mengikuti kemauan Jung Eunrim untuk tidak lagi muncul di hadapan mereka, namun bagi Baek Rion itu tidak cukup.
Saat mereka kembali ke Korea setelah menetap di Amerika, Baek Rion tidak lagi menahan dirinya. Dari membuatnya berhenti sekolah sampai ikut terjun ke dunia entertainment ia lakukan hanya untuk membuatnya tidak bisa bergerak.
Beberapa kali ia memohon untuk Rion mengatakan apa yang harus Wonwoo lakukan untuk membuatnya berhenti, namun dia hanya memberikan jawaban yang membuat Wonwoo semakin merasa tersiksa.
Rion yang terus mengejarnya, membuat Jung Eunrim merasa Wonwoo masih terus menjadi parasit di sekeliling keluarga kecilnya. Wonwoo sudah berusaha menjelaskan jika Rion yang mengejarnya, wanita itu tidak pernah mempercayainya.
Jika boleh jujur, Wonwoo sudah merasa muak dan lelah. Namun, tidak ada yang lakukan. Ketika ia mencoba untuk membela dirinya, tidak ada satupun yang percaya.
Sia-sia.
Apapun yang keluar dari mulut Wonwoo akan di tapis cuma-cuma oleh mereka.
Sekarang, mendengar jika Baek Rion akan masuk ke agensi yang sama lagi dengannya, ketenangan yang Wonwoo rasakan baru sekejap, mulai terasa runtuh. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan pria itu lakukan jika mereka berada di dalam agensi yang sama.
Wonwoo tidak lagi memikirkan apa yang akan Rion lakukan saat mereka syuting bersama nanti. Saat ini, yang ada di kepalanya hanya bagaimana cara agar Rion tidak mengetahui siapa orang yang membantu Wonwoo untuk bisa seperti saat ini.
Wonwoo tidak ingin Baek Rion ataupun Jung Eunrim tahu tentang Mingyu dan keluarganya.
Membayangkan skenario dengan Rion menyebut nama Mingyu saja, sudah membuat Wonwoo merasa panik.
Kata ‘bagaimana’ terus berputar di kepalanya dan membuatnya berdenyut sakit.
Drrt drrt
Mendengar getaran dari ponselnya, Wonwoo terperangah panik. Jemarinya yang gemetar pelan meraih ponsel itu cepat lalu matanya mengerjap melihat nama Mingyu muncul di layar itu.
“Hey, lo udah mau tidur?”
Gemuruh debaran jantung Wonwoo bertambah cepat mendengar suara familiar itu.
“Hey, belum… gue baru abis mandi. Kenapa tumben nelpon? Biasanya texting.”
“Gue lagi packing, jadi ga sempet ngetik.”
Wonwoo menggumam pelan, sebelum menghidupkan speaker dan meletakkan ponselnya di kepala sofa tempatnya duduk.
“Packing? Lo mau kemana?” tanyanya lembut.
“Gue akan keliling dalam dua minggu ini. Hongkong, Japan then Singapore. Tujuan gue nelpon lo, selain karena Oreo kangen sama lo, gue mau info kalau dia akan nginep di tempat kakek selama gue pergi. Lo nanti pas balik ke Seoul buat agenda kerja lo, ga usah di jemput dulu sampai lo selesai shooting, ya? Nanti Oreonya biar gue aja yang jemput. Seharusnya gue balik lebih awal dari lo selesai shooting di Jeju.” jelas Mingyu.
Wonwoo bisa mendengar suara dari kegiatan yang dilakukan Mingyu. Ia bisa membayangkan jika pria itu membuka kopernya, mengumpat kecil karena ada barang yang lupa ia siapkan, diikuti derap langkah yang mungkin tengah berjalan ke kamar Wonwoo untuk mengambil barangnya yang ia sudah ia pindahkan kesana sebelum kembali membuka zipper lock dan memasukkannya ke dalam koper.
Wonwoo tersenyum sambil menatap laut di depannya.
“Harusnya barang-barang lo jangan semuanya di pindahin ke kamar gue. Jadi dua kali kerja kan sekarang, kalo lo kelupaan naruhnya.”
Mingyu terkekeh, “kok lo tau?”
“Gue udah sering liat lo packing. Udah kebayang. Repot kan mindahin koper dari kamar lo ke kamar gue.”
Tawa Mingyu terdengar nyaring, “gue dibantu Oreo bawa barangnya buat gue packing. Dia asisten baru gue.”
“Dasar. Jangan lupa di kasi gaji ya, anak gue.” Canda Wonwoo sambil menyandarkan kepalanya di lipatan tangannya.
Suara koper terkunci terdengar diikuti dengan suara roda yang bergesekan dengan lantai bisa Wonwoo dengar jelas.
“Okay. Udah selesai. Oreo pinter banget, dia udah jalan balik ke kamarnya. Nanti gue beliin dia oleh-oleh pulang dari business trip. Lo mau gue beliin apa?”
“Ga ada yang gue mau. Apa aja boleh.” balas Wonwoo melihat nama Mingyu masih menyala di layar ponselnya.
Mingyu menghela nafas berat sambil merebahkan dirinya di kasur. Wonwoo tidak tahu di kamar mana pria itu akan tidur malam ini, dan ia sengaja untuk tidak menanyakannya.
“You okay?”
“Hm?” balas Wonwoo dengan gumaman kecil.
“Your voice sounds off. Did something happen?”
Wonwoo terdiam mendengar pertanyaan dari Mingyu, cukup lama dan pria itu sama sekali tidak mengucapkan apapun, seakan ia memberikan waktu untuk Wonwoo menata perasaannya.
“Capek.”
Mingyu masih belum menjawab, deru nafasnya terdengar tenang dari speaker itu.
“Tadi gue buat salah banyak banget. Gue buat team production kesel. Untungnya sutradaranya sabar banget. Gue ngerasa bersalah.” cerita Wonwoo.
“Buat kesalahan wajar. Lo jangan mikirin itu. Ada yang lagi ganggu pikiran lo?”
Wonwoo menggeleng kecil walau ia tahu Mingyu tidak akan melihatnya, “gue capek aja. Mungkin karena itu gue jadi hilang fokus.”
Mingyu menggumam kecil sebelum berujar, “pelan-pelan. Kalau lo ngerasa ga cope, jangan terima semua offer yang di kasi sam Jun. Lo ga ada kewajiban untuk fulfill all of them. You’ve got plenty of time. Jangan push diri lo sampe over limit. Lo nanti burn out sendiri. Okay, sekarang lo ngerasa yakin dan bisa. Cuma, pikiran dan badan lo kan harus istirahat juga. Jangan sampai sakit.”
Wonwoo melipat bibirnya, tidak membalas perkataan Mingyu.
“Udah makan?”
“Udah, tadi sebelum mandi gue sempet makan.”
“Ok. Vitamin yang dikasi sama dokter waktu check up jangan lupa di minum. Gue udah liat lo push diri lo banget tapi ga mikirin badan lo.”
Kali ini gantian Wonwoo yang menggeram kecil. Mingyu dengan ceramah vitamin itu lagi. Ia meraih ponselnya, dan bangun, berjalan menuju ranjang untuk merebahkan diri.
“Mau lo protes, gue ga akan stop buat minta lo minum vitamin. Jangan males. Ga mau gue minta pops buat neror lo tiap hari kan? Hobi dia kalau di minta jadi reminder kayak gitu.”
“Ugh. Jangan. Kebayang gue bubble chat-nya penuh dengan tanda seru.” balas Wonwoo sambil menyunggingkan senyuman kecil. Mingyu ikut tertawa di seberang sana.
“Makanya lo jangan bandel. Hari ini udah di minum vitaminnya?”
“Udah, tadi di siapin sama Chan. Lo yang minta ya?”
Jawaban yang Wonwoo dapatkan hanya kekehan dari Mingyu yang membuatnya ikut tersenyum.
“Ga ngantuk? Udah hampir jam satu…”
Wonwoo melirik ke arah jam diponselnya sekilas, “lagi ga bisa tidur, tapi gue udah di kasur.” jawabnya pelan, dengan jemarinya yang mengelus pelan ponsel miliknya.
“Besok shooting-nya jam berapa?”
“Siang, sekitar jam sebelas. Lokasinya juga ga terlalu jauh dari sini.”
Mingyu terdengar menggumam, “betah ga di sana? Gue baru sekali pernah nginep di sana. Jarang ada urusan kerja ke Jeju yang harusin gue nginep.”
“Betah. Gue di kasi kamar lo katanya view-nya paling bagus. Dan ternyata bener. Gue kemarin ketiduran di sofa sambil liatin laut. Selera lo sama kakek lo mirip ya ternyata, pinter banget cari tempat yang punya pemandangan secantik ini.” ujar Wonwoo melihat ke arah jendela yang kini hanya membuatnya bisa melihat langit malam.
Kekehan bangga keluar dari mulut Mingyu, “nanti setelah lo balik ke Seoul, gue mau ngajak lo ke suatu tempat.”
“Hm? Kemana?”
“Rahasia. Nanti aja biar jadi surprise.”
“Gaya banget pake surprise segala. Emangnya kita mau kemana?”
“Kan rahasia. Kalau gue kasi tau sekarang kan ga seru…” keukeuh Mingyu dengan nada khasnya.
Percakapan mereka pun berlangsung cukup lama. Mingyu sibuk menceritakan harinya dan Oreo dan juga bagaimana ia bertengkar dengan Seungkwan hari ini di perjalanan mereka pulang dari kantor. Mendengar cerita yang Mingyu katanyakan dengan suara lelahnya membuat Wonwoo sedikit merasa tenang.
Kantuk yang tadinya tidak ia rasakan perlahan mulai menyerangnya dan membuatnya menguap beberapa kali. Namun ia tetap setia mendengar apa yang tengah Mingyu ceritakan. Terkadang ia merespon dengan gumamanan, tawa atau pertanyaan-pertanyaan kecil yang membuat Mingyu semakin bersemangat menceritakan kisahnya.
“Hey? Udah tidur ya…”
Merasa balasan yang Mingyu terima hanya deru nafas Wonwoo, sebuah kekehan kecil muncul di bibirnya, “good night, sayang.” ucapnya terakhir sebelum memutuskan sambungan teleponnya.