Tanpa peduli dengan beberapa orang yang memanggilnya, Wonwoo secepat yang ia bisa melangkah untuk menuju pintu gerbang.
Mengetahui fakta mengenai Mingyu membuat keinginannya untuk tidak bertemu dengannya semakin kuat. Setidaknya, sampai ia bisa menerima kenyataan pahit yang selama ini tidak pernah terbesit di dalam pikirannya.
Wonwoo sudah terbiasa dengan kehadiran Mingyu di sekelilingnya. Masa-masa putus beberapa hari terkahir tentu membuatnya kesulitan. Kebiasaan yang ia lakukan bersama Mingyu harus terhenti, bagaimana mungkin ia bisa menyesuaikan dirinya begitu cepat?
Wonwoo sudah terbiasa dengan Mingyu yang menjemputnya, memesankan makanan, menemaninya bermain game, membaca novel sembari dirinya sibuk mengerjakan hal yang tidak Wonwoo pahami.
Hari pertama mereka berpisah bahkan Wonwoo hampir menelponnya untuk menemaninya sampai ia tertidur.
Awalnya Wonwoo merasa konyol, dan ingin mengungkapkan jika dirinya tidak benar-benar serius dengan permintaannya untuk berpisah, namun apa yang ia dengar dari mulut Mingyu beberapa waktu lalu benar-benar menampar dirinya.
Mendengar jika Mingyu dengan mulutnya sendiri mengatakan jika ia masih mengunggu untuk kembali bersama orang itu benar-benar membuat sesuatu di hati Wonwoo merasa terkoyak.
Bagaimana mungkin dia bisa berpura-pura seperti itu selama empat bulan?
Bagaimana mungkin Wonwoo sama sekali tidak merasa jika apa yang Mingyu lakukan terhadapnya adalah kepalsuan?
Semuanya benar-benar membingungkan dan membuat kepalanya sakit.
Dan hari ini, ketika ia mengetahui seseorang yang mengisi hati Mingyu benar-benar berbeda 360 derajat darinya, membuat rasa terkoyak itu terasa dua kali lipat.
Jeonghan—orang yang baru saja ia ketahui namanya itu memang terlihat lebih pantas bersanding dengan Mingyu ketimbang dirinya.
Benar kata orang-orang, tidak ada alasan untuk Mingyu untuk memilih dirinya untuk menjadi kekasihnya, bukan?
Sampai saat ini Wonwoo masih bertanya-tanya, mengapa Mingyu mengungkapkan perasaannya empat bulan lalu?
Apakah dia merasa tertantang dengan cassanova behavior yang Wonwoo tebar dengan berhubungan tidak lebih dari dua bulan?
Mungkin ia belum pernah menceritakan hal ini terhadap Mingyu, tapi setiap ia memiliki hubungan baru, Wonwoo tidak kuasa untuk membandingkan mereka dengan Mingyu—yang mana juga menjadi salah satu penyebab kandasnya hubungan-hubungan Wonwoo sebelumnya, selain orang yang ia kencani memang brengsek.
Wonwoo tidak sadar, mungkin. Tapi, selama empat bulan ia benar-benar jatuh cinta pada pria yang memiliki perawakan lebih tinggi darinya itu.
Wonwoo suka ketika melihat Mingyu tertawa setiap kali ia menceritakan novel maupun film yang baru ia selesaikan. Wonwoo suka melihat gigi taringnya yang muncul ketika ia tersenyum, dan Wonwoo sangat suka melihat Mingyu sibuk mengerjakan soal-soal yang ia tidak mengerti.
Dan lagi, ia sangat menyukai saat ia menginap di apartemen Mingyu, pria itu akan memeluknya sampai benar-benar tertidur—ketika Mingyu memeluknya, ia bisa mendengarkan detak jantung pria itu di telinganya seperti lullaby yang membawanya ke alam mimpi.
Sial.
Wonwoo benar-benar merindukan Mingyu. Haruskah ia merebut Mingyu dari mantan terindahnya?
Wonwoo menggigit bibir bawahnya, pikirannya membuatnya tanpa sadar menghentikan langkahnya.
“Jeon Wonwoo?”
Mendengar suara asing yang memanggil namanya, membuat Wonwoo secara refleks menoleh ke sumber suara.
Keningnya mengernyit mendapati seseorang yang tidak ia harapkan menyapanya.
Jeonghan.
“Lo siapa?” tanya Wonwoo—berpura-pura.
‘Cantik banget, anjing.’ batin Wonwoo.
“Gue Jeonghan.” ujar pria cantik itu sabil menjulurkan tangannya yang di balas Wonwoo dengar ragu.
“Mingyu banyak banget cerita tentang lo.”
Mendengar lanjutan kalimat itu, Wonwoo cepat-cepat melepaskan jabatan tangannya yang langsung mendapatkan kerjapan bingung dari Jeonghan.
“Oh, okay. Mingyu ga pernah cerita tentang lo.” balas Wonwoo, dingin.
Jeonghan mengedikkan bahunya, “ga ada yang menarik buat Mingyu nyeritain gue. Buat apa juga?” balasnya sambil terkekeh kecil.
Wonwoo membuang wajahnya, jemarinya meremas ujung seragam yang ia kenakan. Ia membenci ini.
“Gue mau pergi.” ujarnya lirih.
“Kemana? Gue ada bawain oleh-oleh buat lo. Tapi, gue titip di Mingyu. Dia janji buat ngenalin lo ke gue awalnya, cuma anaknya malah ngilang.”
Wonwoo ingin bertanya, apa maksud Mingyu mengatakan itu kepada Jeonghan. Apakah Mingyu ingin membandingkan dirinya dengan Jeonghan!?
Wonwoo mendecak, “ga perlu. Gue buru-buru. Udah ya, lo lanjut aja sama Mingyu.”
“Hah?”
Seruan bingung dari Jeonghan bahkan membuat beberapa orang yang sedang melintas mengalihkan perhatian mereka ke dua orang yang tengah bercakap.
“Gue ngapain sama—”
“Wonwoo!”
Wajah Wonwoo semakin tertekuk mendengar suara itu memanggilnya.
Melihat Mingyu dengan napas terengah-engah berdiri disamping Jeonghan membuat tatapannya berubah tajam.
Tanpa sadar ia menggigit pipi bagian dalamnya sambil menatap lekat ke arah Mingyu.
“Dengerin aku,”
“Ga ada yang perlu gue dengerin lagi.” jawab Wonwoo.
Ketika tatapannya jatuh ke arah Jeonghan dan Mingyu secara bergantian, disana Wonwoo sadar jika dua orang di depannya ini memang menciptakan sebuah aura yang tidak bisa ditembus. Mereka benar-benar terlihat serasi. Wonwoo tidak ingin mengakui itu, tapi realita di depan matanya sungguh mengatakan itu.
“Dengerin aku dulu, sayang.” ujar Mingyu berusaha untuk meraih pergelangan tangan Wonwoo yang ditepis begitu saja olehnya.
“Harusnya lo itu ngomong dari awal. Kalo cuma lo penasaran sama gimana rasanya pacaran sama orang macem gue, lo harusnya bilang. Gue tu pasti ga akan nolak ajakan ngedate lo buat beberapa kali. Kenapa lo harus jadiin gue pelarian?!”
“Wonu, kamu salah paham, sayang.”
“Lo mau bohong sampe kapan!? Mantan lo itu sekarang ada di depan lo dan lo mau tetep boong? Lo sengaja mau nunjukin gue kalo dia sama gue ga sebanding!? Tujuan lo deketin gue selama ini apa sih? Lo punya dendam sama gue sampe lo mau humiliate gue di depan mantan lo?”
“Hah? Siapa yang lo maksud?” Jeonghan yang sedari tadi terdiam memperhatikan kedua orang itu tidak kuasa untuk bertanya, ketika mendengar kalimat aneh yang diucapkan oleh Wonwoo baru saja.
“Lo! Lo mau boong juga sama gue?! Kalian tu emang punya niat buat malu-maluin gue ya?! Salah gue tu apa, Mingyu?”
“HAH?!” Jeonghan tidak kuasa untuk meninggikan nada suaranya mendengar kalimat-kalimat yang baru saja Wonwoo katakan.
Kini giliran Mingyu yang memejamkan matanya. Niat awalnya untuk menggoda Wonwoo sepertinya berubah menjadi masalah yang cukup rumit.
“Wonu, sayang denger—”
“Mingyu! Lo dicariin sama principal, urusan festival katanya.”
“Fuck.” umpat Mingyu menanggapi panggilan dari teman kelasnya.
“Gue ga mau denger penjelasan apapun dari lo. Sekarang mending lo confess aja ke mantan lo ini. Urusan kita udah kelar. Gue ga mau lagi berurusan sama lo. Hari ini yang terakhir.” ucap Wonwoo, pelupuk matanya sudah di terbendung oleh air mata yang sudah ingin menyeruak keluar.
“Tunggu gue, oke? Please kamu harus denger penjelasan aku dulu. Diem disini sama Jeonghan, aku balik secepetnya, ya?”
“Enak aja. Lo anjing ya, nyuruh gue diem sama mantan lo.”
“HAH!?”
Wonwoo menatap Jeonghan tajam, “dih. Gantengan juga gue.” imbuhnya.
“Sorry?”
“Gantengan gue. Lo cuma memang pinter. Dan lo, Mingyu. Lo emang anjing, pantes adek lo kimchi.” balas Wonwoo sebelum melenggang pergi.
“Fuck. Kenapa gue harus dipanggil. Jeonghan tolong kejar dan tahan dia, ok? Gue bakal balik secepatnya.”
Jeonghan masih terdiam hanya bisa menatap kepergian Wonwoo dalam kebingungan.
“What the…”