🚨NSFW ahead — you’ve been warned. | 18+ readers only. Minors Are Strictly Prohibited. 🔞
𓂃˖˳·˖ ִֶָ ⋆。 ‧˚ʚ🍋ɞ˚‧。 ⋆ ִֶָ˖·˳˖𓂃 ִֶָ
Wonwoo tidak memungkiri jika ada perasaan takut tengah menyergapinya saat ini. Ketika ia terbangun, waktu sudah hampir menunjukkan tengah malam. Awalnya, supir bus itu memberinya tawaran untuk mengantarnya ke jalan utama, tapi ia keukeuh mengatakan jika ia akan menghubungi keluarganya, tanpa menyadari jika batre ponsel miliknya sudah hampir habis.
Jika ia memaksakan menghubungi adiknya dan menjelaskan dimana dia berada, Wonwoo tidak yakin jika pembicaraan mereka bertahan satu menit.
Mengirim photo dari halte bus pertama yang ia temui dari pangkalan bus itu adalah satu-satunya hal yang terpikir olehnya.
Chan pintar, dan Wonwoo tahu jika adiknya akan melakukan penelusuran untuk mencari dimana halte bus tersebut.
Sembari menunggu, Wonwoo berjalan perlahan, mencoba peruntungannya untuk mendapatkan taxi di jam seperti ini.
Hanya saja, belum ada tiga puluh meter ia berjalan, ia bisa merasakan jika ada mobil yang mengikutinya.
Jalanan ini tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa mobil yang melintas selama ia berjalan.
Tapi, mobil di belakangnya melaju begitu pelan, mengikutinya dari belakang. Terbukti dari lampu mobil yang menerangi langkahnya.
Wonwoo mencoba untuk berhenti, dan mobil itu pun ikut berhenti. Ia sengaja tidak menoleh, untuk mengelabui jika ia sadar akan keberadaan mobil yang sepertinya benar-benar tengah mengikutinya.
Memilih untuk diam sejenak, Wonwoo benar-benar memutar otaknya, sambil mengirimkan beberapa pesan yang terlintas di kepalanya kepada adiknya.
Ketika mendengar suara pintu mobil terbuka, kemudian tertutup. Disaat itulah, Wonwoo menggerakkan kakinya untuk berlari sekuat yang ia bisa.
Mengabaikan detak jantung ketakutan, Wonwoo berlari sambil menggenggam ponselnya yang sudah mati itu kuat-kuat. Tanpa pikir panjang, tanpa memperhatikan jalan, Wonwoo dengan terburu-buru menyebrang jalanan. Membuat suara klakson mobil berbunyi nyaring diikuti oleh decitan ban mobil.
“Jeon Wonwoo!”
“ANJING! KALO LO MAU MATI JANGAN BUAT GUE JADI TERSANGKA! BOCAH BANGSAT!”
Wonwoo memejamkan matanya kuat, ia merasakan jika seseorang menarik tangannya, menyeretnya entah kemana.
“Lo cari mati!?”
Wonwoo mengernyitkan keningnya. Ia mengenal suara itu. Belum sempat ia membuka matanya, ia bisa merasakan jika tangannya kembali ditarik dan diseret.
Dengan perlahan ia membuka kedua matanya yang bertemu dengan cengkraman kuat di pergelangan tangannya.
Napas miliknya masih memburu—karena berlari. Saat pandangannya perlahan terangkat, ia bisa melihat punggung orang yang sangat ia kenal itu juga tengah terengah-engah.
Entah karena ia marah atau karena ia juga berlari.
Dengan kasar Mingyu menarik pintu mobilnya, dan mendorong Wonwoo yang masih menutup mulutnya ke dalam kursi penumpang. Ia menutup pintu dengan cukup keras, membuat Wonwoo sedikit terkejut, namun ia tidak mengatakan apapun.
Mingyu tengah marah.
Kejadian tadi, cukup membuatnya sedikit terguncang. Jika Mingyu tidak muncul, mungkin ia benar-benar akan menjadi korban tabrak lari.
Tanpa mengatakan apapun, Mingyu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedikit tinggi.
Tidak ada satupun dari mereka yang membuka mulutnya, hanya ada deru napas di dalam mobil yang terasa mencekam itu.
Lima belas menit dalam diam, Mingyu menghentikan kemudi dan berhenti di depan sebuah convenience store yang buka 24 jam.
Ia keluar tanpa berucap, meninggalkan Wonwoo yang masih menunduk entah memikirkan apa.
“Yang kamu suka lagi abis. Adanya ini aja, dimakan dulu.” sahut Mingyu memberikan dua buah onigiri dan sebotol air mineral dingin.
Dengan membisu Wonwoo meraih makanan itu dan membukanya perlahan.
Ia tidak bisa memungkiri jika, ia benar-benar kelaparan.
“Handphone-nya mana? Biar aku charge dulu.” sahut Mingyu sambil menerima ponsel milik Wonwoo yang diletakkan diatas telapak tangannya.
Setelah mengisi daya ponsel yang mati total itu, ia menoleh untuk melihat orang di sampingnya kini mengunyah makannya dengan lahap, Mingyu menghela napas lega sebelum kembali mengemudikan mobilnya.
Membiarkan suasa hening kembali memenuhi mobil itu.
Drrt drrt
Mingyu menekan tombol kontrol di setir mobilnya untuk mengangkat telepon dan suara panik Seungkwan muncul.
“GIMANA?! Lo udah ketemu belom sama Wonu? Dia kirim pesan aneh banget sama Chan, geu takut. Sekarang teleponnya ga bisa dihubungi. Gimana ini Mingyu? Kalo dia kenapa-napa gimana!? Gue ga berani bilang sama om ama tante…”
Mingyu melirik ke sebelah dan melihat Wonwoo menghentikan kunyahannya.
“Dia udah sama gue. Lo suru Chan ga usah khawatir.”
“Sumpah?! Astaga… Wonwoooo… gue—”
Belum sempat Seungkwan menyelesaikan kalimatnya, Mingyu segera memutuskan sambungan teleponnya. Melihat jika Seungkwan masih berusaha untuk menelponnya kembali, kali ini Mingyu menolak panggilannya.
Wonwoo pun kembali melanjutkan makan malamnya dalam diam. Durasinya makan memang terbilang cukup lama, sampai di menit ke sepuluh, ia mulai merasakan hembusan angin malam dari arah Mingyu.
Ini adalah salah satu kebiasaan Mingyu, jika ia sedang banyak pikiran. Sejak ia mendapatkan mobil dari orang tuanya, Mingyu sering mengajaknya jalan-jalan malam ketika suntuk. Dirinya lah yang memberikan saran untuk membuka jendela ketika ia merasa sedih, marah atau tengah dilanda suasana hati buruk.
“Gue iu penasaran banget kenapa anjing demen banget biarin mukanya anginan pas lagi naik mobil, Pas gue coba ternyata emang bisa buat lo tenang. Apa lagi kalo lo mejemin mata.” Ujar Wonwoo.
“Gue nyetir,”
“Buka aja jendelanya, nanti pas gue udah bisa nyetir, kita gantian. Lo jadi anjingnya.” balas Wonwoo yang membuat Mingyu terkekeh dan menekan tombol untuk membuka jendela mobilya.
Sampai saat ini hal tersebut masih dia lakukan dan menjadi kebiasaan keduanya. Saling menemani, memberikan waktu sampai salah satu dari mereka siap untuk bercerita atau mengeluarkan keluh kesahnya.
Wonwoo tidak berani bertanya. Entah mengapa ia tahu jika alasan Mingyu mungkin terlihat kesal karena dirinya yang bisa dibilang menghilang hari ini.
Namun, tidak bisa dipungkiri jika Wonwoo juga merasa ia pantas untuk marah dengan semua fakta menyakitkan yang ia ketahui.
“Udah tenang?”
Wonwoo mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan pelan dari Mingyu. Ia masih tidak membalas, tatapannya masih menempel keluar jendela, melihat jalanan sepi dimana toko-toko sudah mulai tutup. Jemarinya meremas botol air mineral yang sudah habis setengah itu.
Sejujurnya ia ingin mengkonfrontasi Mingyu, namun ia mendapati bibirnya terdiam kelu. Ia takut mendengar kenyataan pahit dari mulut Mingyu sendiri.
Selama ini, sedetikpun tidak pernah terbesit di pikirannya, bagaimana jika hubungannya dan Minggu renggang, bagaimana jika dirinya dan Mingyu benar-benar berpisah.
Mereka masih muda tentu, Wonwoo tahu jika kedepannya kehidupan mereka tidak akan bisa sesantai sekarang. Hanya saja, ketika bersama Mingyu ia benar-benar merasa jika semuanya lebih mudah dan ia ingin terus merasakan hal itu.
“Aku kenal Jeonghan di Jepang, pas olimpiade tiga tahun lalu.”
Wonwoo menggigit bibir bawahnya, “gue ga mau denger.” balasnya kecil, jemarinya semakin meremas botol air mineral itu.
“Mama ama Papa juga kenal sama Kak Jeonghan.” lanjut Mingyu.
“Anjing lo demen yang lebih tua.”
“Soalnya dia mau tunangan ama sepupu aku Seungcheol.”
“Kalo lo mau tunangan harusnya lo bilang dari awal! Kenapa lo mesti nembak gue kalo lo itu udah punya calon!?”
“Soalnya, Kak Jeonghan mau tunangan sama sepupu aku Seungcheol.” ulang Mingyu yang kali ini sedikit dengan penekanan.
“Iya gue denger?!” pekik Wonwoo menoleh ke arah Mingyu yang tetap menatap ke arah jalanan. Air matanya sudah hampir menyeruak keluar.
“Terus, nama aku Seungcheol?”
“Huh?”
“Kamu udah dengerin kalimat aku baik-baik, ga?”
Wonwoo membuka mulutnya sesaat sebelum menutupnya rapat-rapat. Keningnya mengkerut mencerna kalimat yang baru saja Mingyu ucapkan.
“Dan itu bukan berarti kalo orang yang lo maksud waktu ada yang confess ke lo itu gue. Kalo semisal itu bukan Jeonghan, bisa aja itu orang lain!”
“Kamu kesel kayak gini, berarti selama ini aku ga sayang sendiri ya, Wonu?”
“Sumpah lo ga jelas banget. Kalo lo cuma maen-maen udah ya. Gue ga mau lagi. Tolong pulangin gue. Gue capek banget.”
“Udah malem, apart aku lebih deket dari ini. Aku udah ijin mami bilang kamu nginep sama aku.”
“Gue ga mau. Kalo lo ga mau mulangin gue. Turunin gue disini, gue bisa cari taxi sendiri.”
“Kita udah sampe.”
Wonwoo mengigit bibir bawahnya. Entah kenapa ia merasa jika ia kembali ingin menangis. Matanya yang ia yakini sudah bengkat itu masih terasa berat dan sekarang ia harus menghadapi kenyataan jika ia harus bermalam di tempat Mingyu?
Mingyu memarkirkan mobilnya pelan, detik berikutnya Wonwoo membuka pintu mobil itu dengan kasar sebelum menutupnya cukup keras.
Jika Mingyu tidak mau memulangkannya, ia akan mencari cara untuk pulang sendiri.
Sudah hafal dengan tempat itu, Wonwoo segera berjalan menuju pintu keluar. Masih dengan menggigit bibir bawahnya, menahan tangis yang sudah ingin menyeruak.
“Jangan kemana-kemana lagi. Disini sama aku. Kangen banget sama Wonu.” bisik Mingyu, menghentikan langkah Wonwoo, membuatnya terdiam.
“Lepasin ato gue teriak?!” sahut Wonwoo berusaha untuk melepaskan cengkraman Mingyu yang memeluknya begitu kuat.
“Teriak aja, ga ada yang denger.”
“Sumpah ya Mingyu, lo maunya apa sih?! Kenapa lo pingin banget gue nyesel? Udah ya, gue ga mau! Gue ga suka dibuat kayak gini. Gue ga suka nangis gegara lo kayak gini!”
Mingyu mengecup pelan tengkuk leher Wonwoo, “maaf sayang. Ga ada yang mau buat kamu nyesel. Aku kelewatan teasingnya. Maaf buat kamu kesel. Maaf buat kamu nangis. Aku ga akan ngulang lagi.”
“Lo buat gue bingung! Gue bener-bener ga paham sama apa mau Lo. Kalo putus ya udah, jangan lakuin hal-hal yang buat gue bertanya-tanya.”
“Ga mau putus. Aku maunya sama kamu, Wonwoo. Look at me please?”
Perlahan Mingyu memutar tubuh Wonwoo, mendapati jika ujung hidung pria itu sudah memerah dengan bibir bagian bawah yang ia gigit keras.
Dengan lembut, Mingyu mengelus bibir Wonwoo, “jangan di gigit, nanti luka.”
“Liat aku sayang…” Lanjutnya sambil mengangkat dagu Wonwoo.
“Mantan aku itu kamu. Sebelumnya juga kamu.”
Wonwoo mengerutkan keningnya, “lo gila?”
Mingyu menyunggingkan senyumannya sebelum menarik Wonwoo ke dalam pelukannya.
“Sumpah. I miss you so much that it suffocated me. Jangan ngilang kayak tadi lagi. Aku bener-bener takut.”
Wonwoo berusaha untuk mendorong tubuh Mingyu, namun gagal. Pria itu benar-benar memeluknya sangat erat, seakan tidak ada hari esok.
“Mungkin kamu lupa. Tapi aku ga akan pernah lupa. Kamu pacar pertama aku Wonu, tapi waktu itu kayaknya kita jadian ga sampe sejam?”
Wonwoo mengeryitkan keninngya mendengar perkataan Mingyu.
“Gue lagi ga bercanda. Lepasin. Gue mau pulang, gue capek. Pengen tidur.”
Mingyu melepaskan pelukannya, dan mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir Wonwoo, membuat pria berkacamata itu mengerjapkan matanya.
“Nginep disini ya malam ini? Kalau kamu masih ga mau ngobrol dulu ga apa, istirahat dulu. Aku bakal nunggu sampe kamu siap buat dengerin penjelasan aku.”
Wonwoo tidak membalas, ia masih sedikit bingung dengan apa yang baru saja Mingyu lakukan.
“Please, sayang?”
“Kok lo nyium gue?”
“Ga boleh?”
“Gue ciuman cuma sama pacar gue aja. Kan kita mantan.”
“Makanya jadian lagi. Mau ya?”
“Ga mau.”
“Ya udah, besok aku tanya lagi. Sekarang masuk dulu? Masih laper?”
Wonwoo menganggukkan kepalanya, ia membiarkan Mingyu menggandeng tangannya masuk ke dalam lift untuk menuju unit apartemen milik Mingyu.
“Ok, nanti aku masakin. Kamu mandi dulu.”
“Mau ramyeon.”
“Iya, sayang.”
***
Melihat pesan yang baru saja Mingyu kiriman membuat Wonwoo melupakan ramnyeon yang baru saja dibuat oleh Mingyu.
Ia membaca lekat-lekat screen capture yang baru saja Mingyu kirimkan.
Bagaimana mungkin ia mengajak orang berkencan secara random, saat ia baru kelar 5 SD?!
Mingyu benar, dia memang gila.
Terlebih, hal itu terjadi hanya beberama menit sebelum ia memutuskan hubungnya dengan Mingyu?
“Otak gue waktu itu kenapa anjing. Emang gue segila ini?! Ini pasti si Chan. Cuma dari cara ngomongnya gue banget?!”
Wonwoo menutup mulutnya dengan jemarinya, merasa tidak percaya dengan apa yang baru dia baca. Bagaimana ia harus menghadapi Mingyu jika selama ini prasangkanya itu seratus persen salah!?
Bukankah ini hanya akan membuatnya semakin konyol di depan Mingyu?!
Wonwoo merasa benar-benar ingin berteriak.
“Malu banget anjing! Masa gue ternyata sebelnya sama diri gue sendiri?! Kenapa coba gue nembak Mingyu kayak gitu dulu!? Sumpah isi otak gue itu apa sih!” Wonwoo bergumam sambil menutup wajahnya.
Mungkin ia harus melarikan diri dari Mingyu karena rasa malunya, namun melihat pakaian yang ia kenakan saat ini benar-benar membuatnya tidak mungkin untuk kabur.
Semua bajunya saat ini berada di dalam kamar Mingyu, jika ia masuk dan Mingyu sudah selesai memebersihkan diir, sudah pasti orang itu tidak akan membiarkannya kabur. Sembari memikirkan cara untuk menghindari Mingyu,Wonwoo melihat ke sekelilingnya untuk mencari tempat dimana ia bisa bersembuyi.
Melupakan ramyeon yang ia minta, Wonwoo bergegas berdiri dari ruang makan, berniat untuk bersembunyi di salah satu kamar disana.
Namun belum setengah jalan, Wonwoo bisa merasakan jika Mingyu sudah berada di belakangnya sambil meraih, tangannya.
“Mau kemana?”
“Isekai.”
“Ga boleh…” Mingyu menoleh ke arah meja makan, melihat jika mie buatanya masih penuh, “kok mienya ga di makan?”
“Ga laper lagi.”
“Mau tidur sekarang?”
Wonwoo menganggukkan kepalanya, “ya udah, ayo…” ujar Mingyu sambil menarik pelan tangan pria yang lebih pendek darinya.
“Gue ga tidur sama lo ya.”
Mingyu tidak menggubris perkataan Wonwoo, ia tetap menarik Wonwoo menuju kamarnya.
‘Keknya gue beneran kena hipnotis deh, kok gue nurut-nurut aja!? Masa gue murahan?!’ batin Wonwoo.
Wonwoo bisa mendengar jika Mingyu menutup pintu kamarnya, namun setelah itu, yang bisa ia rasakan adalah dorongan pelan yang membuatnya melangkah mundur membentur pintu itu sebelum sebuah kecupan mendarat di bibirnya.
Mata sipitnya membulat sesaat merasakan rasa kemnyal dan sedikit basah menyelinap masuk ke dalam mulutnya.
Kedua tangannya secara refleks meraih pinggang Mingyu, mencengkram baju kaos hitam yang tengah Mingyu kenakan itu dengan kuat.
“Nghh, nggh…” lenguhnya di tengah-tengah, ciuman yang di berikan oleh Mingyu. Ia ingin memangil namanya, namun Mingyu sama sekali tidak memberikannya kesempatan untuknya bahkan untuk mengambil nafas.
“Ngghhhh…” geraman dari Wonwoo terdengar sedikit memekik ketingan jemari dingin Mingyu menyusup mengelus punggungnya, membuat sensasi elektrik menyerang sekujur tubuhnya.
Kakinya sudah melemas, dan Wonwoo tidak tahu berapa lama lagi ia akan bertahan dari serangan mendadak yang Mingyu berikan.
Wonwoo terhuyung lemas dan Mingyu menangkap tubuhnya dengan sempurna. Kepala terkulai bersadar di dada Mingyu, membuatnya bisa mendengarkan detak jantung Mingyu yang berpacu sama cepatnya dengan dirinya.
Wonwoo tidak tahu bagaimana, tapi dirinya saat ini sudah berada di kasur, dengan Mingyu mendekapnya.
Pria itu masih memberikannya kecupan di setiap sisi tubuhnya yang bertemu dengan bibir tebal Mingyu.
Wonwoo memejamkan matanya, menerima setiap sapuan dari bibir Mingyu di wajahnya sambil menikmatinya dengan aroma sabun mandi yang khas milik yang mengelitik hidungnya.
“Kangen banget sayang…” bisik Mingyu.
Wonwoo membuka matanya, bertemu dengan mata coklat Mingyu. Bibirnya mengerucut kecil, “maaf…” bisiknya.
Mingyu tersenyum, sambil menyibak poni Wonwoo yang menutupi jidatnya, “aku juga keterlalun teasingnya.” balas Mingyu.
“Kadang aku itu masih susah banget baca isi pikiran kamu. Makanya kemarin pas kamu minta putus, aku bener bingung. Aku ngerasa sama sekali ga pernah ngelakuin kesalahan. Aku mikir banget dimana sih kesalahan aku, sampe kamu tiba-tiba minta putus. Aku penasaran sama alasan yang bener, makanya aku aku ikutin permainan kamu.”
“Aku ga akan nonton drama kayak gitu lagi.”
“Ga harus gitu. Cuma nanti aku minta apapun yang ganjel atau apapun yang kamu mau, langsung kasi tau aku? Ga usah lagi pake kode atau apapun itu, gimna?”
Wonwoo menganggukkan kepalanya, sambil menggenglamkan dirinya di dekapan Mingyu, “kangen banget min…” bisiknya.
“Kamu suka aku dari kapan?” lanjut Wonwoo bertanya.
Mingyu memberikan satu kecupan terakhir di pipi Wonwoo, sebelum membuka suaranya, “awalnya itu aku penasaran banget sama kamu yang nembak aku kelas lima sd itu dan ketebulan papa bilang kalau kita bakal balik ke Korea, aku ngode ke mami supaya masuk ke sekolah yang sama kayak kamu. Waktu itu pas hari pertama aku masuk, kita papasan, tapi kamu ga ngenalin aku. Bahkan sampe aku jadi tutor kamu, kamu sama sekali ga pernah bahas tentang kejadian kelas lima sd itu atopun bahas soal kita pernah jadi temen masa kecil.”
“Aku bener-bener lupa. Kok aku gila banget ya pas itu. Terus kamu suka gitu aja?”
Wonwoo bisa merasakan jika Mingyu mengelus punggungya lembut, “mungkin kamu lupa, tapi aku sempet ada di masa tertekan banget. Aku ngerasa kalo aku bener-bener ga bakal bisa jalan sesuai dengan ekspetasi papa mama, dan waktu itu entah gimana, kamu tiba-tiba ngajak aku bolos; Mingyu, mau bolos sama gue ga? Gue bener-bener jenuh banget. Naik bukit temenin gue ya? Gue buta arah jadi takut tersesat. Itu pertama kalinya aku bolos, dan aku inget banget pas kita di atas, waktu itu sunsetnya mulai keliatan kamu bilang; Gue tu ga pinter kayak lo... Mingyu, lo udah ngelakuin yang terbaik kok. Gue tau kalau dapet hasil ujian yang ga sesuai target lo buat lo ngerasa tertekan, cuma jangan terlalu beratin diri lo sendiri. Ga apa kok kalo gagal sekali ato dua kali. Gue ga mau bandingin nilai gue karena itu ga bakal apple to apple, tapi, percaya deh, mama papa lo pasti bangga kok. Gue aja bangga bisa temenan sama orang kayak lo. Di sana gue ngerasa kalau aku yakin suka ama kamu. Aku ga bisa ungkapin gimana aku seneng banget waktu itu. It feels like I found my treasure of life.”
“Inget. Aku inget itu. Waktu itu pertama kalinya buat aku liat kamu gelisah gitu. Ga suka, you seemed like you had lost your composure. Aku ga suka liat kamu kayak gitu.”
Wonwoo bisa merasakan jika kecupan yang cukup lama di puncak kepalanya,
“Sayang banget sama kamu. Jangan buat aku khawatir lagi ya, aku kayaknya bisa gila kalo kamu kenapa-napa tadi.”
Wonwoo semakin mengeratkan pelukannya, “maafin aku. Jangan teasing aku kayak gitu lagi. Aku sedih banget mikir kalo kamu itu ga serius sama aku. Aku ga bisa kebayang kalo kamu itu bakal end up sama orang yang bukan aku.”
“Maafin aku juga. Kadang pingin banget aku liat kamu jealous.”
Pukulan kecil bisa minggyu rasakan di pahanya, “aku tu sering cemburu, cuma ga nunjukin aja. Kan gengsi.” balas Wonwoo mendapatkan kekehan dari Mingyu.
“Tapi kenapa kamu harus nunggu kita mau lulus baru nembak aku?”
Mingyu menggumam pelan, senyuman kecil terukir di bibirnya, “aku masih inget banget awal kamu minta putus pas kelas lima sd itu. Kamu bilang kalo kamu itu ga bakal keep up jadian sama orang yang seneng belajar kayak aku. Pas aku kenal kamu lagi, aku ngerasa kamu masih stick sama pendirian kamu itu. Kamu tu sering banget nyeletuk, gimana orang yang bakalan nikah sama aku nanti, bahkan suka jodoh-jodohin aku sama orang yang kamu rasa setara sama aku. Aku ga suka, cuma pas aku nolak kamu keliatan kecewa banget. Aku lebih ga suka liat kamu sedih gitu, makanya aku iyain aja pas kamu sempet nawarin aku blind date. Aku ngerasa gila sih waktu itu, karena bertentangan banget sama keingian aku yang pingin sama kamu.”
“Aku versi itu bego banget ya. Kok bisa sih aku nyuruh kamu jadian sama orang lain. Kan cocoknya sama aku!?”
“Ga bego, kamu cuma tersesat aja sih. Aku selalu cari kesempatan buat nembak kamu, tapi selalu ga pas karena kamu selalu kasi aku info pacar baru kamu tiap aku mau nembak. Aku terlalu mikir, apa, gimana, kapan itu terlalu terstruktur sampe lupa kalo kamu itu orangnya simple. Makanya aku nembaknya di kamar kamu.”
“Aku beneran ga nyangka sih waktu itu. Aku bener-bener kagok dan cuma bisa ngangguk.”
“Sekarang, bisa ga kasi tau kapan kamu mulai suka sama aku?”
Wonwoo bergerak membenarkan posisi tidurnya, menengadah sambil melihat ke langit-langit kamar Mingyu. Kepalanya masih bersendaer di pundak Mingyu dengan menggunakan lengan kekasihnya sebagai bantal,
“Aku suka sama kamu itu ga sedetail yang kamu ceritain. Rasanya ngalir aja. Aku ga tau sejak kapan dan gimana feeling aku mulai berbubah ke kamu. Cuma, aku tu selalu end up bandingin mantan-mantan aku pas pacaran sama kamu. Aku pun bingung sejak kapan aku mikirin kalo bareng kamu itu lebih enak ketimbang sama mereka. Jahat ya aku sama mereka? Aku tu bukan semena-mena pingin pacaran sama sini. Cuma aku itu kayak lagi nyari hal yang buat aku nyaman. Tapi ga ada orang yang buat aku sebahagia dan senyaman kayak sama kamu.” cerita Wonwoo.
“Sorry, kalau aku ga bisa kasi jawaban kayak kamu. Tapi, aku bener-bener sayang banget sama kamu. Kamu mantan yang pertama yang buat aku nangis ama galau. Sebelum-sebelumnya even mereka morotin aku, selingkuhin aku… aku ga pernah ngerasa kayak kemarin. Jangan gitu lagi… please jangan buat aku ngerasa kayak gitu lagi, Min…” ujar Wonwoo, ia menoleh dan bertemu dengan mata Mingyu yang menatapnya lekat-lekat.
“Aku cium kamu lagi boleh?”
Wonwoo mengerjapkan matanya, kemudian mengangguk pelan.
Ketika bibir keduanya bertemu, ia bisa merasakan jika bukan hanya dirinya yang berdebar seperti ini, tetapi juga Mingyu.
Lenguhan demi lenguhan keluar dari keduanya memenuhi kamar itu. Gesekan demi gesekan saling menyentuh satu sama lain ketika ciuma di bibir itu beralir ke leher dan tulang selangka Wonwoo.
“Min… ahh…” lenguhnya gelisah merasakan jika sesuatu dibwahnya mulai terasa keras.
“Kamu keras sayang…”
“Jangan di pegang… malu…”
Mingyu terkekeh kecil, “biar aku yang bantu ya sayang…” ucap Mingyu kecil, ia kembali mencium bibir Wonwoo dalam, membuat pria yang kini di bawahnya itu menggeliat.
Saat Mingyu membuka celananya, Wonwoo menutup wajahnya dengan tangannya, melihat jika penis miliknya sudah berdiri tegak dengan cairan percum, sudah muncul di ujungnya.
“Nghhh…” ia melenguh saat ujung ibu jari Mingyu menutup ujung penisnya, sebelum memijatnya perlahan.
“Min…hhgnhh..”
“Jangan tutup mukanya, gimana aku cium kamu kalo ditutup gitu.” bisik Mingyu mengecup tangan Wonwoo yang masih setiap menutup wajahnya.
Desahan tidak bisa ia tahan merasakan pijatan dari tangan Mingyu yang membuat hawa panas bisa ia rasakan di sekujur tubuhnya.
“Ahh…” Ia memekik merasakan gigitan di tulang selangkanya, diikutin dengan hisapan yang menghasilkan bunyi kecupan, memenuhi kamar itu.
“Buka sayang tangannya, aku mau liat muka kamu…”
Dengan pelan, Wonwoo melepaskan tutupan tangannya diwajah, menampilkan wajah bersemu dengan mulut terengah-engah. Tatapanya yang semula buram perlahan menangkap jelas wajah tampan Mingyu yang kini menatapnya lekat-lekat.
“Min…hhng..” Wonwoo memejamkan matanya lagi, ketika Mingyu mempercepat gerakan di tangannya.
Mingyu memicingkan matanya, melihat bagaimana reaksi Wonwoo terhadap service yang ia berikan.
Mulut mungilnya yang kini terlihat membengkak, terlihat sexy di depannya. Tanpa pikir dua kali, ia kembali mendaratkan bibirnya di atas bibir Wonwoo yang masih mengerang nikmat.
Wonwoo mengalungkan tangannya di leher Mingyu, membuat ciuman keduanya semakin dalam.
“Oh… Min…nghhh, cepetin… aku mau nghhh.”
Mingyu tidak membiarkan Wonwoo menyelesaikan kalimatnya, ia mencium Wonwoo semakin dalam, bahkan sampai ia tidak bisa menguacapkan apapun selain mengerang.
“Min.. aahhh.” Ia sedikit memekik dengan tubuhnya yang terhentak ketika cairan miliknya keluar menciprat ke depan dan membahasi tangan Mingyu.
Wajahnya yang masih bersemu merah bernafas tersengal bersandar di leher Mingyu. Ia benar-benar merasa lelah. Deru nafasnya terasa panas pun bisa di rasakan oleh Mingyu.
“Min… aku… kamu, kotor…”
“It’s okay, sayang. Aku yang bersihin, kamu tidur aja. Capek banget ya hari ini? Badan kamu agak anget.” ujara Mingyu menyibak rambut Wonwoo yang kini lengket dengan keringat.
“Kamu gimana?” tanyanya pelan, matanya yang sudah hampir setengah tertutup itu terlihat lelah.
“I can take care of it myself. Tidur sayang, nanti aku yang bersihin semuanya.”
“Min… maaf. Sayang banget sama kamu. Jangan tinggalin aku,” gumam Wonwoo.
“Ga akan, sayang.” balas Mingyu, mendaratkan sebuah kecupan singkat di kening Wonwoo.
“I love you, sayang. Mimpinya yang indah-indah aja ya.” ujarnya yang mendapatkan balasan dengkuran halus dari Wonwoo yang sudah terlelap.