Classy.
Kata pertama yang terlintas di pikiran Wonwoo saat pertama kali bertemu dengan Hong Mira. Garis tegas di wajah cantiknya yang belum menua itu terlihat seolah-olah tidak akan ada orang yang bisa menyentuhnya.
Cara berbicara, cara berjalan bahkan cara duduknya terlihat sangat jelas jika wanita itu bukan dari keluarga yang biasa-biasa saja.
Orang seperti Hong Mira, membuat Wonwoo takut. Dia mengingatkannya kepada Jung Eunrim.
Wonwoo tidak tahu sejak kapan jantungnya berdebar seperti ini. Rasa gugup tiba-tiba saja mengerubungi hatinya.
Sejauh ini, semuanya percakapan masih baik-baik saja. Mereka sekarang tengah duduk di ruang tamu sambil menunggu Kim Jaemin yang masih memiliki urusan bersama Jihoon di ruang kerjanya.
“You can call me mama too. Karena kamu sudah menikah dengan Mingyu.”
Wonwoo menganggukkan kepalanya sembari melihat wanita itu menyesap teh dengan anggunnya.
“Kamu ketemu Mingyu di mana?”
“Saya ketemu Mingyu itu kebetulan, Mama.” jawab Wonwoo pelan, ada nada canggung di suaranya ketika ia menyebut panggilan itu, “waktu itu kita ga sengaja duduk bareng pas makan siang. Terus ketemu lagi waktu di exhibition pelukis favorite saya.” lanjut Wonwoo sambil menyunggingkan senyumannya.
“Itu beneran kebetulan atau kamu memang sengaja mengikuti Mingyu?”
Mingyu menatap Hong Mira tajam. Ia tahu jika wanita itu tidak akan diam dengan semua isi pikirannya. Tapi, Wonwoo terlihat tenang, ia menyunggingkan senyumannya, “kebetulan. Saya beneran ga tau sebelumnya Mingyu itu siapa. Saya pernah denger nama kakek, tapi hanya sebatas itu. Saya ga pernah cari tau tentang keluarga kakek di internet.”
Hong Mira menganggukkan kepalanya, jemarinya dengan kuku di poles nailart itu masih memegang cangkir teh itu dengan anggun.
“Kenapa kamu berhenti sekolah? Pendidikan itu penting, apalagi kamu pasangannya Mingyu. Tidak ada rencana untuk lanjut sekolah?”
Wonwoo berdehem pelan, “belum, mama. Mungkin nanti.” balasnya masih dengan menyunggingkan senyumannya.
“Kenapa nanti? Nanti telat loh. Umur kamu kan sudah matang banget. Mantan-mantan Mingyu semuanya master degree, kamu—”
“Ma, udah.” celetuk Seungcheol, ia melirik ke arah Mingyu yang masih terdiam, mendengarkan apa yang akan selanjutnya wanita itu katakan.
“Jangan potong mama. Mama cuma ingin Mingyu mendapatkan yang terbaik. Kamu tolong jangan tersinggung ya, Wonwoo. Ini juga demi kebaikan kamu kedepannya. Tidak ada yang tau kan, berapa lama kamu akan menjadi aktor. Contohnya Jeonghan, walau sekarang dia itu sibuk dengan profesi aktornya, tapi keluarganya sudah kasi dia bekal pendidikan untuk dia adapt saat nanti dia sudah waktunya untuk melanjutkan perusahaan keluarganya. Minimal kamu harus kuliah.”
“Iya, saya—”
Perkataan Wonwoo terputus, ketika suara berat di sampingnya angkat bicara, “tante cukup.”
Mendengar Mingyu mendengar Mingyu memanggilnya seperti itu, keterkejutan terlihat jelas di wajah cantiknya.
“Aku nahan diri supaya ga marah danger tante compare education Wonu sama orang yang menurut tante masuk ke standar tante itu. Ga semua dinilai dari itu, buktinya mama juga orang yang punya background sama kayak Wonu, tapi dia bisa buktiin kalau pendidikan tinggi belum tentu bisa buat orang punya martabat.”
“Min…” panggil Wonwoo meremas pergelangan tangan Mingyu yang mengepal erat.
“Sayang, maksud mama tidak seperti itu.”
“Kalau dinner sekarang itu cuma buat jatuhin pilihan aku, mending dari awal kalian ga usah undang kita. Ayo, sayang.” ujar Mingyu meraih tangan Wonwoo.
“Min, jangan kayak gini.” bisik Wonwoo pelan.
“Kita pulang.”
“What’s going on?”
Semuanya menoleh ke sumber suara itu kecuali Mingyu yang sudah berdiri sambil menarik tangan Wonwoo.
“Next time, don’t invite us just to humiliate my choice. We’re leaving.”
“Mingyu jangan pulang. Maafin mama gue ya?” hardik Seungcheol yang sudah pasti diabaikan oleh Mingyu.
“Apa maksudmu, Mingyu?” tanya Kim Jaemin tengan garis wajah tegasnya.
“Ask your in-law. Ayo, ga usah makan disini” balas Mingyu yang menarik tangan Wonwoo, menyeretnya pergi meninggalkan ruang tamu itu. Wonwoo tidak memiliki pilihan merasakan cengkraman kuat jemari Mingyu di pergelangan tangannya. Ia hanya bisa menoleh ke belakang sambil bergumam maaf ke arah Kim Jaemin yang terlihat bingung.
・・・・・
“Lepasin tangan gue!” Wonwoo meninggikan suaranya sambil menghempaskan keras tangannya yang akhirnya berhasil melepaskan cengkraman Mingyu.
“Lo berlebihan, Mingyu. Lo ga seharusnya ngomong kayak gitu.”
Mingyu menatap Wonwoo datar, “kenapa ga marah?”
“Hah?”
“Kenapa lo ga marah saat dia jelas-jelas lagi ngerendahin lo?
Wonwoo memincingkan matanya medengengar pertanayan Mingyu, “kenapa gue harus marah, Mingyu?”
Mingyu mendengus tidak percaya mendengar Wonwoo yang membalikkan pertanyaan itu kepadanya, “lo seriusan nanya itu? Lo ga paham kenapa gue marah?”
Wonwoo membasahi bibirnya yang terasa kering, “gue ga bisa marah karena itu emang bener. Semua orang juga mau kalau anaknya dapet pasangan yang sesuai sama keinginan mereka. Wajar kalau dia ngerasa gue ga pantes buat lo. Karena itu kenyataannya, Mingyu.”
“Dia bukan mama gue. Dia ga punya hak untuk menjadi penentu apa yang baik dan yang ga baik buat gue. Dan dia juga ga punya hak untuk ngerendahin yang sekarang statusnya udah jadi pasangan gue.”
Wonwoo menatap Mingyu dalam diam, tidak paham mengapa reaksi Mingyu bisa reaktif seperti ini.
“Sekali pun lo bukan pasangan gue, jangan biarin orang lain ngerendahin lo kayak gitu. Paham ga maksud gue?”
Ah…
Wonwoo mengerti. Perasaan yang Mingyu tunjukan sekarang itu adalah simpati dan kasihan.
Wonwoo terkadang lupa jika kehidupan Mingyu itu penuh dengan orang-orang yang sibuk membela diri, mempertahankan pendapat dan bersaing untuk menunjukkan siapa yang terbaik.
Berbeda dengan Wonwoo yang kerap kali satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya menjadi pendengar dan menerima semua pendapat orang tentangnya.
Wonwoo juga terkadang lupa, jika orang seperti dirinya tidak pernah hadir di kehidupan Mingyu. Wajar jika Mingyu tidak paham jika ada posisi di mana orang tidak memiliki ruang bahkan untuk membela diri, seperti dirinya. Mingyu tidak akan pernah mengerti dengan orang yang tidak memiliki pilihan apapun di kehidupannya, karena dia sudah terbiasa menggenggam segalanya di kepalan tangannya.
Sebuah hal yang kontras yang akan membuat hubungan mereka tidak akan bertahan lama jika mereka tidak berpura-pura.
“Dinginin kepala lo. Nanti kita balik ke dalem,” kata Wonwoo berjalan ke arah fountain di halaman depan rumah kakek Mingyu.
“Ga. Kita pulang. Gue bisa beliin makanan yang sama kayak kakek gue beli sekarang, kalau lo mau makan itu.”
“Bukan gitu, Mingyu. Kakek lo buat dinner ini untuk kita. Buat gue di kenalin ke keluarga inti lo. Tante udah nunjukin kalau dia ga suka sama gue, dan sekarang sika lo ini buat nilai gue di mata dia berkurang lagi.”
“Lo ga perlu cari validasi sama dia.”
“Tapi ada kakek lo disana, Mingyu.”
Mingyu mendecak sebal, ia ikut duduk di samping Wonwoo sambil menatap air di dalam kolam itu. Namun, gerakannya teralih seketika saat melihat Wonwoo tiba-tiba saja berdiri.
“Berdiri bentar deh.”
Mingyu masih diam tidak bergerak, tatapannya dari kolam itu beralih melihat Wonwoo yang berdiri di depannya.
“Min…”
Mingyu kembali mendecak, namun beranjak berdiri mengikuti keinginan Wonwoo. Hanya saja, tatapan itu sekarang kembali melihat ke arah kolam itu. Menatapnya dengan tajam.
Mingyu benar-benar kesal.
Wonwoo melangkah maju dan mengalungkan tangannya di pinggan Mingyu sambil menyenderkan kepalanya di dada pria yang masih terlihat kesal itu.
“Makasi ya, Mingyu. Sebelumnya ga ada orang yang marah kalau liat gue di perlakukan kayak tadi. Maaf, gue ga bisa bela diri gue sendiri. Gue janji ga akan bersikap kayak tadi kalau ketemu keluarga lo.”
Mingyu terdiam sesaat sebelum membalas pelukan Wonwoo, “mama pernah dapet perlakuan yang sama walau kita ke party ga bareng papa. Gue liat dia diem-diem nangis di toilet, tapi dia ga pernah cerita itu ke papa dan nyuruh gue ga ngomong apapun ke papa. Gue waktu itu masih kecil untuk bela mama. Tapi gue ngerasa sakit waktu liat mama nangis. Gue ga mau lo ngerasa kayak gitu, Wonu. Rasanya ga enak.”
Jemari lentik Wonwoo mengelus-elus pelan punggung Mingyu, “iya… gue paham kok rasanya.” balas Wonwoo pelan yang semakin membuat Mingyu menunduk untuk menghirup aroma dari parfume yang dipakai Wonwoo. Parfume yang ia beli untuk Wonowo.
“Ga mau pulang aja? Kita makan diluar. Jangan disini.”
“Kakek lo nanti sedih, Mingyu. Kak Seungcheol juga keliatan ga enak banget tadi.
“Biarin.”
“Jangan gitu. Masuk sekarang ya?”
“Sebentar lagi. Let me stay like this a little longer.” bisik Mingyu, masih dengan dekapannya, menghangatkan Wonwoo dari udara malam yang sedikit dingin dari biasanya.
“Okay.”