Narasi 6
“Kenapa lo ga chat bilang udah sampe?”
Mingyu yang baru saja melajukan pelan mobil kesayangannya tersenyum, “dari kaca lo keliatan happy banget ngobrol sama Ochi, jadi gue pengen gabung juga,” jawabnya jujur.
“Biasa aja padahal. Kayak lo lagi ngobrol sama temen-temen lo.”
“Beda aja sih keliatannnya. Karena ngomongin mantan lo ya?”
Mingyu tidak bisa melihatnya, tapi Wonwoo baru saja memutar bola matanya malas, “pake dibahas lagi. Males banget.”
Suara kekehan terdengar dari arah Mingyu, “emangnya kenapa? Gue ga boleh tau ya? Orang health science itu bukan? Yang lo pacaran cuma tiga hari?”
Mendengar kalimat itu, Wonwoo secepat kilat melemparkan tatapan tidak percaya ke rah Mingyu. Matanya yang tajam menyerupai rubah itu membesar, terkejut.
“Kok lo tau?!” tanyanya heran.
“Waktu lo masak, HP lo kedip terus, gue ga sengaja aja baca itu pesan yang dikirim sama Hoshi.”
Wonwoo menghembuskan nafas lega, “gue kira lo cari tau tentang gue sampe sedalam itu. Ngeri juga kalau beneran lo nyari tau gue sampe kayak gitu. Soalnya yang tau kan cuma Hoshi sama itu orang.”
Mingyu tersenyum, “gue ga kayak gitu ya orangnnya. Ada batasan kalau gue mau tau tentang seseorang, kecuali memang harus.”
“Maksudnya?”
“Contohnya kalau ada yang fraud di tempat gue. Baru investigasinya bakal ngulik sedalem gue harus tau siapa aja yang berhubungan sama mereka.”
Wonwoo menaikkan salah satu alisnya, “gua ga paham.”
“Panjang kalau di jelasin, sayang. Kapan-kapan aja pas ada yang ketauan?”
Wonwoo menyipitkan matanya, “kok lo sante banget seakan-akan lo ga takut kalao nanti ada yang fraud?”
Mingyu mengedikkan bahunya, “mungkin gue kedengeran sombong—gue ga terlalu takut tentang itu, karena gue punya team hebat buat deteksi orang-orang amce itu. Emang prosesnya ga sebentar, tapi gue ga bakal biarin mereka sampe buat perusahaan gue rugi. Ada cue kapan gue harus gerak. Nangkap basah orang serakah emang butuh pengorbanan—dan disini gue biarin mereka sucking every penny they can before bam, gotcha.”
“Demen ya kalo lo udah nemuin orangnya?”
Mingyu menganggukkan kepalanya, “iya, karena gue bisa bales. Buat mereka nyesel udah milih betray kepercayaan gue.”
“Catetan buat gue. Jangan sampe gue jadi musuhnya Kim Mingyu.” celetuk Wonwoo membuat Mingyu tertawa.
“Kok lo ga pake cincin yang gue kasi?”
Wonwoo melirik kearah jari manis tangannya, malam dimana Mingyu menyematkan cincin itu, ia dengan sengaja mencari tahu berapa harganya sebelum tidur. Dan ketika menemukan rata-rata harga cincin dari brand yang di beli Mingyu, seketika Wonwoo segera melepaskannya dan meletakknya di tempat paling aman di kamarnya.
Barang sekecil itu bisa membayar satu tahun uang sewa apartemennya. Tidak mungkin ia akan memakainay setiap hari. Takut jika ia sedang sial ia akan menghilangkan barang berharga itu.
“Gue simpen. Takut ilang.”
“Kirain ga suka... kalo ilang, tinggal beli lagi.”
Wonwoo memeikik takjub, kalimat yang sering ia dengar di drama-drama klise itu sekarang ia dengar secara langsung.
“Gue boleh tau ga, uang di rekening lo itu berapa? Enteng banget ngomgongnya, buat gue iri aja.” komentarnya membuat tawa Mingyu kembali muncul di perjalanan mereka.
“Kapan-kapan gue liatin, jangan kaget ya.”
Wonwoo mendengus, “sombong banget… gue porotin tau rasa lo.”
Mingyu mengendikkan bahunya, “porotin aja, gue ga takut.”
“Lo yang ngomong ya. Jangan nyesel, kalo gue beneran morotin lo.”
“Palingan lo morotin gue buat beli makanan.” celetuk Mingyu yang Wonwoo hanya mendecak sebagai jawaban.
Mingyu benar, yang terpikir olehny saat ini adalah bagaimana cara menghabiskan uang Mingyu dengan semua list makanan sudah lama ingin ia cicipi.
“Jadi, kenapa lo cuma jadian tiga hari aja?” tanya Mingyu mengungkit pertanyaan itu lagi, dan mendapatkan protesan tidak terima dari Wonwoo.
Perjalanan mereka menuju mall penuh dengan Mingyu yang terus saja menggoda Wonwoo dengan pacar tiga harinya. Mungkin Wonwoo tidak sadar, tapi Mingyu tahu perubahaan mood yang dialami pria itu sejak kemarin.
Ia tahu jika Wonwoo tidak tidur saat ia memanggilnya tadi pagi. Dan Mingyu membiarkannya.
Saat ia tiba di tempat pertemuan dengan kliennya—sebelum mereka datang, Mingyu memaksa Seungkwan untuk memperlihatkan percakapan mereka. Setelah membaca semuanya, ia tahu tidak ada orang yang terima begitu saja mendapatkan cecaran seperti itu. Mingyu pun kembali mengomel kepada Seungkwan dan memintanya untuk meminta maaf. Walau bagaimana pun juga, apa yang dilakukan Seungkwan memang salah.
Dan sekarang, melihat jika ia sudah kembali seperti biasanya, Mingyu merasa lega.
. ݁₊ ⊹ . ݁ ⟡ ݁ . ⊹ ₊ ݁.
“Disana masih agak dingin kata Kak Han, jadi mendingan lo beli additional coat. Lo sempet bilang kalo ga terlalu kuat dingin kan?”
“Gue pake yang ada aja, ga usah beli lagi.”
Mingyu menganggukkan kepalanya, “ok, kalau gitu gue aja yang milihin.” balas Mingyu mengabaikan Wonwoo yang ingin protes.
Merasa tidak bisa membuat Mingyu berhenti untuk memilih barang-barang untuknya, Wonwoo memutuskan untuk pergi ke section skin care. Bibirnya menjadi lebih kering belakangan ini ditambah juga lipbalm-nya sudah habis.
Pilihannya jatuh pada lip balm yang memiliki aroma strawberry. Setelah selesai membayar, senyuman bahagia terlihat jelas di wajahnya.
Perasaan ketika mendapatkan sesuatu yang diinginkan benar-benar menyenangkan—itulah yang ia rasakan sekarang.
“Udah dapet yang lo pingin?”
“Anj—”
Wonwoo bersumpah jika ia tidak menahan dirinya, umpatan dan juga refleksnya untuk memukul, sudah membuat tangannya mendarat sempurna di kepala Mingyu.
“Kenapa sih lo suka banget ngagetin gue! Kalo gue mati jantungan gimana?!” protesnya keras.
Mingyu tersenyum, “reaksi lo lucu. Kayak kucing. Galak tapi ga nyeremin, lucu malah.”
Wonwoo tidak memberi komentar, lebih memilih untuk berjalan mendahului Mingyu. Namun beberapa detik kemudian, langkahnya terhenti lalu menolehkan kepalanya ke belakang.
“Kemana kita sekarang!?” tanyanya masih dengan wajah kusut yang semakin membuat Mingyu tidak kuasa untuk menahan senyuman puasnya.
“Kirain lo bakal jalan terus. Baru mau gue ikutin.”
Wonwoo mendecak, “cepet, gue laper.”
Mingyu berjalan cepat menghampiri Wonwoo, “ok sayang, gue udah book restaurant buat kita dinner hari ini. Gue harap lo suka ya.”
Wonwoo menaikkan salah satu alisnya, “kita makan di mana?”
“Tempat favorite mama. Yuk.”
. ݁₊ ⊹ . ݁ ⟡ ݁ . ⊹ ₊ ݁.
Mata Wonwoo berbinar melihat pemandangan diberikan oleh restoran yang Mingyu pesan. Berada di lantai paling atas salah satu hotel terkenal di kota itu membuatnya bisa menyaksikan gemerlap kota Seoul di malam hari. Bahkan bulan dan bintang terasa sangat dekat dengan dirinya sekarang.
Ini adalah pertama kalinya Wonwoo duduk di restoran semewah ini. Mingyu sempat mengatakan jika untuk orang lain, tidak akan semudah dirinya untuk bisa memesan tempat ini. Mungkin jika tidak bersama Mingyu, dirinya tidak akan pernah tahu jika ada tempat yang bisa membuatnya melihat seluruh penjuru kota tempatnya tinggal.
“Papa ngelamar mama disini. Jadi setiap mama ulang tahun, kita harus makan disini.”
Wonwoo mengalihkan tatapannya ke arah Mingyu yang memangku dagunya dengan tangan kirinya sambil menatap langit dari kaca jendela itu.
“Mama sama Papanya Seungcheol untuk anak asuh kakek. Mereka berdua besar di panti asuhan bareng, dan kakek decide buat jadiin mereka anak angkat karena papa yang minta.”
Wonwoo mengerjapkan matanya, ia tidak menemukan cerita ini saat mencari tahu tentang keluarga Mingyu. Yang ia dapatkan jika kedua orang tua Mingyu meninggal dalam sebuah kecelakaan beruntun, beberapa tahun silam.
“Mereka semua gede bareng, tapi papa kayanya emang suka sama mama dari pertama kali ketemu tapi dia cari excuse aja sama kakek makanya ngajak-ngajak Papanya Seungcheol waktu dia suggest kakek buat cari anak asuh. Gue sama Seungcheol itu ga ada hubungan darah. Hubungan kita ada karena Choi Gihun—papanya Seungcheol itu anak angkat kakek. Awalnya mama juga, cuma ending-nya jadi mantu.” cerita Mingyu, masih dengan senyuman di wajah tampannya.
“Kakek cerita kalau mama pingin banget makan di restoran ini pas awal-awal mereka buka. Tapi ga pernah kesampean karena jaman itu aja reservasinya susah banget. Sampe akhirnya papa ngelamar mama disini. Kata kakek papa sengaja ga pernah ngajak mama kencan disini, karena pingin waktu mama pertama kali kesini itu jadi moment yang ga pernah dia lupain. Dan keinginan papa terkabul. Dari foto-fotonya, mama bener-bener keliatan bahagia banget. Jadi sejak itu, setiap ulang tahun mama, harus dirayakan disini. Itu mandat dari papa.” cerita Mingyu yang perlahan menolehkan kepalanya sampai tatapanya yang sedikit berkaca bertemu dengan tatapan Wonwoo.
“Hari ini ulang tahun mama.”
Wonwoo yang semula terdiam, menarik ujung bibirnya tersenyum, “Happy birthday Mama Min.” lirihnya lembut.
Mingyu terkekeh pelan, melihat reaksi yang diberikan Wonwoo. Pria di depannya memang sulit untuk ditebak—mungkin karena mereka belum mengenal satu sama lain terlalu lama.
Biasanya ketika ia bercerita tentang hal ini, orang-orang memberikannya tatapan iba yang terkadang membuatnya tidak nyaman. Seolah-olah keluarganya bernasib tragis yang membuatnya terlihat lemah atau pantas untuk di kasihani.
Tapi, reaksi yang diberikan Wonwoo di luar ekspetasinya. Tatapan itu tidak menampilkan kepurapuraan untuk memberikannya empati.
“Gue ga mau buat di hari yang harusnya happy ini lo malah sedih. Kita sekarang mau rayain ulang tahun mama lo kan?”
Mingyu menganggukkan kepalanya, “iya.”
“Coba lo bilang dari awal. Gue pasti beli cake. Di cafe tadi cake-nya enak.”
“Sayangnya mama ga terlalu suka cake. Biasanya yang end up ngabisin kalo ga papa ya kakek. Gue juga ga dikasi makan banyak-banyak.”
Wonwoo mengerucutkan bibirnya, masih merasa jika orang yang tidak menyukai kue itu sedikit aneh.
“Ya udah, kalo gitu lo pesen makanan kesukaan mama lo aja. Gue temenin.”
Mingyu memejamkan matanya, menahan tawa.
Aneh. Biasanya, hari ini menjadi hari yang membuat suasana hatinya buruk seharian. Namun kali ini berbeda, tidak ada perasaan berat atau hampa yang ia rasakan hari ini. Mungkin karena selama ini ia memilih untuk pergi ke tempat ini sendiri
Ia bahkan melarang kakeknya untuk ikut.
Kepergian kedua orang tuanya, masih menjadi hal terberat yang pernah ia alami. Perasaan terpukulnya ini cukup membuat perubahan drastis dihidupnya. Mingyu tidak lagi suka untuk merayakan sesuatu.
Jika pun ayah atau ibunya berulang tahun, atau hari pernikahan mereka, Mingyu lebih memilih untuk merayakannya sendiri. Entah ia mengurung diri di kamar atau ia akan mengunjungi tempat-tempat favorite kedua orang tuanya.
Semua sahabatnya bahkan keluarganya tahu jika saat hari-hari itu tiba, Mingyu tidak akan bisa dihubungi. Mereka akan sebisa mungkin tidak mengganggu Mingyu.
Tapi hari ini, ia ingin Wonwoo ikut. Mungkin karena perasaan bersalahnya dengan Wonwoo karena perkataan Seungkwan, ia ingin menebusnya dengan mengajaknya ke tempat yang bisa membuatnya melihat pemandangan seindah ini.
Reaksi Wonwoo dan bagaimana pria itu berceloteh ketika baru duduk di tempat ini membuat Mingyu tidak terlalu merasa kesepian seperti bisanya.
Haruskah ia mulai membuka diri untuk menikmati special kedua orang tuanya bersama orang-orang terdekatnya?
“Mingyu, gue ga ngerti sama menu-menu disini. Nanti pas makanannya dateng lo jelasin ya?”
Mingyu yang tertegun sejenak, bangun dari lamunannya mendengar kalimat polos dari Wonwoo. Sadar jika hal yang biasa menurutnya, tidak sama dengan Wonwoo.
Sesaat ia lupa, kehidupan dirinya dan Wonwoo benar-benar jauh berbeda.
Mungkin hal yang ia lakukan hari ini adalah hal sepele, tapi bagi pria itu duduk di tempat seperti ini bagaikan memenangkan sebuah lotre. Beberapa kali Mingyu sudah melihat Wonwoo memotret ataupun merekam pemandangan di hadapannya.
Saat menu Entrée datang, matanya terlihat berbinar, tangannya yang masih menggenggam ponsel itu sudah bersiap memotretnya. Setelah cukup dengan hasil jepretannya, tatapannya sekarang beralih menatap Mingyu dengan kilatan penasaran. Menunggu penjelasan yang diberikan oleh Mingyu.
Pria itu tertawa, membuat Wonwoo mengernyit bingung, “kok lo ketawa?”
Mingyu tidak bisa bersuara, ia masih tertawa dengan tangan terangkat meminta Wonwoo untuk menunggu.
“Lucu banget sih sayang…”
Wonwoo memiringkan kepalanya, Mingyu aneh. Ia tidak bisa menebak isi kepalanya.
Mingyu pun menjelaskan setiap menu yang datang kepada Wonwoo. Malam itu, dinner mereka dipenuhi banyak pertanyaan dari Wonwoo dan pujian dari pria berkacamata itu mengenai makanannya.
“Awalnya gue skeptis. Kalau gue bakal kelaperan lagi. Porsi makannnya dikit-dikit banget. Tapi ga tau kalau menunya terus dateng. Gue sekrang bener-bener kenyang. Tapi, gue tetep mau coba dessert yang lo rekomen tadi ya. Boleh?”
“Boleh banget. Lo boleh pesen sebanyak apapun yang lo mau.”
“Hehe, makasi ya Min. Kalau ga sama lo, gue ga mungkin bisa makan disini. Hoshi pasti iri sih.”
“Nanti kita juga bisa ajak Hoshi makan bareng disini.”
Wonwoo menggelengkan kepalanya, “jangan... mahal. Ajak makan BBQ aja dia udah happy kok. Gue juga sebenernya makan BBQ aja udah seneng.”
“Tapi lo happy ga hari ini?”
Dengan antusias Wonwoo menganggukkan kepalanya, “banget. Bilang makasi ya ke mama lo. Makasi udah lahirin Mingyu yang baik banget.”
Mingyu mengerjapkan matanya mendengar kalimat itu.
Baik katanya…
Ia merasa konyol. Yang ia lakukan sejatinya itu menjebak Wonwoo untuk mengabulkan permintaan konyolnya dan pria itu masih mengatakannya baik?
Mingyu menyandarkan tubuhnya ke belakang dengan menghela nafas berat, what did he done?
Tapi semuanya sudah terlambat untuk mundur, bukan?
“Nanti lo aja yang ngomong makasinya ke mama. Kita kunjungin orang tua gue bareng ya?”
Wonwoo terlihat berpikir, “Jangan ya, Min. Gue ga mau bohong di depan orang tua lo. Cukup sama kakek lo aja ya?”
Pria itu terdiam senjenak, menatap Wonwoo lekat, “okay. Kalau itu buat lo ga nyaman. Nanti ketemu orang tua gue pas kita udah temenan nanti ya?”
Wonwoo mendengus, “masih gue pikirin, mau apa ga jadi temen lo.”