“Jadi lo pernah training buat jadi Idol, tapi gagal debut. Tapi sampe sekarang masih ikut vocal class. Itu gimana ceritanya?”
“Requirement dari mereka minta kita wajib ikut itu.”
Seungkwan menganggukkan kepalanya, “project lo dulu lumayan. Kenapa sekarang lo kayak tenggelem?” celetuk Seungkwan setelah melihat rincian list iklan yang pernah Wonwoo bintangi selama ini.
“Gue juga ga paham.” balas Wonwoo singkat.
“Talent agent lo pasif. Dia handle berapa orang selain lo?”
“Cuma ada satu orang talent agent di agensi gue.”
Seungkwan mengangkat kepalanya langsung dan menatap Wonwoo masam, “heran gue kenapa masih bisa bertahan ini agensi.”
“Ada artistnya lagi naik, karena itu mungkin.”
“Baek Rion sam Min Hyemi kan?”
Wonwoo mengangguk sambil memainkan bantal sofa yang ia peluk. Sementara Mingyu yang sama sekali tidak bersuara, masih tetap fokus membaca satu persatu pasal-pasal di kontrak yang akan mereka tanda tangani.
“Portfolio lo cukup buat team LumiDAL Ent scout lo. Ini jujur bakal ada risk kalau ini sampe ke publik karena kasarnya lo itu bukan siapa-siapa. Even orang-orang di Lumi bakal bertanya-tanya. Gue yakin lo udah kebayang kan?”
Wonwoo menganggukkan kepalanya, “sebenernya ga perlu keluar dari agensi gue juga ga malalah sih. Gue cuma pingin dapet project aja.”
“Ga segampang itu. Orang-orang malah bakal berpikir aneh kalo tiba-tiba lo dapet project garapan Lumi, tapi lo bukan anak sana. Gue juga bakal susah ngatur kalo lo ga ada di bawah Lumi.”
“Lo tau kan LumiDAL Ent itu juga punya keluarga Mingyu?”
Terlihat jelas rona terkejut di wajah Wonwoo saat mata sipitnya membulat, “hah?”
Mingyu yang melihat pekikan Wonwoo melirik sekilas dan tersenyum tipis, “lo keliatan beneran ga tertarik sama gue ya, Wonwoo? Research lo tentang gue sampe mana aja?” tanya Mingyu menyeringai.
Wonwoo menggaruk-garuk pipinya, “apa yang lo ga punya Mingyu?”
“Jeonghan” celetuk Seungkwan yang detik berikutnya sebuah bantal mendarat tepat di wajahnya.
“Technically, Lumi bukan punya gue. Itu perusahaan punya kakak gue. Gue ga ada andil urus perusahaan itu.”
“Ga ada andil di perusahaannya tapi ide buat perusahaan itu kan karena kak Han pingin jadi actor. Dia minta buat perusahaan entertainment tapi dilempar ke sepupunya buat ngurus.”
Wonwoo mengernyitkan keningnya, sedikit bingung dengan pembicaraan mereka.
“Choi Seungcheol, sepupu Mingyu. Dia yang pegang LumiDAL dan dia pacarnya Jeonghan.” lanjut Seungkwan menyadari kebingungan di wajah Wonwoo.
“Ga usah lo perteges bisa kali.”
“Kan dia ga tau? Ya gue harus perteges dong.” balas Seungkwan.
“Oh, crush lo pacarannya malah sama sepupu lo ya. Pantes susah move on.” celetuk Wonwoo mendapat kekehan tawa dari Seungkwan.
“Mereka semua temenan dari kecil. Tapi lo ingusan sih, makanya Kak Han demennya sama yang lebih mature.” ujar Seungkwan mengejek Mingyu, diikuti oleh Wonwoo juga menganggukkan kepalanya setuju.
“Kenapa lo ngangguk?” tanya Mingyu dengan wajah masam.
“No comment, ga punya hak.” celetuk Wonwoo mengambil soda di depannya dan menegaknya pelan.
“Biasanya Kak Cheol jarang terlibat sama urusan scout. Tapi karena ini udah di denger sama kakek Mingyu, udah bisa dipastikan satu keluarga orang ini udah notice,” ujar Seungkwan melirik tajam ke arah Mingyu.
“Gue harus banget pindah agency?”
Seungkwan menganggukkan kepalanya.
“Agensi lo agak fishy, sayang.” celetuk Mingyu yang lansung mendapatkan tatapan terkejut dari Seungkwan.
“Sayang?”
“Latian. Kedepannya gue di depan lo ama yang lain kan harus beneran keliatan pacaran.”
Seungkwan memutar bola matanya.
“Serah lo dah. Urusan tentang karir lo udah clear. Gue update nanti setelah final bahas sama talent agent Lumi buat strategy scout lo. Sekarang kita bahas ke kontrak kalian berdua.” sahut Seungkwan yang mengambil nafas sangat panjang.
“Ada yang mau kalian rubah?” tanyanya menoleh dua orang di depannya satu per satu.
Wonwoo yang mendengar pertanyaan itu menoleh ke arah Mingyu.
“Gue oke.” balas Mingyu mengambil pulpen di meja dan menandatangani kontrak itu.
“Gue juga.” Wonwoo menimpali, sambil menandatangani kertas itu.
Seungkwan memincingkan matanya.
“Lo ga baca,” sahutnya ke arah Wonwoo.
“Gue percaya sama kalian.”
Seungkwan bisa merasakan jika mata kirimnya berkedut, “hah?”
Wonwoo menganggukkan kepalanya, “iya, gue percaya sama kalian. Gue udah baca hal-hal yang harus gue lakuin selama jadi pasangan Mingyu.”
“Intinya ga disana? Lo beneran ga punya tuntutan apapun ngelakuin ini sama dia?” tanya Seungkwan menunjuk Mingyu.
“Yang Mingyu offer ke gue udah cukup.”
“Hah?”
“Ini kontraknya gue keep satu kan ?” tanya Wonwoo menunjuk kontrak di tangannya.
“Lo bisa minta lebih, sayang.” tekan Mingyu yang juga menatapnya sedikit heran.
“Gue beneran ga kepikiran harus minta apa lagi, karena gue ngerasa yang lo offer udah lebih dari cukup. Toh kalau gue beneran bakal dapet project, gue bakalan ada duit tambahan disana.”
“Lo udah ga bisa mundur lagi, karena udah tanda tangan.” ujar Mingyu.
“Iya gue paham.”
“Okay, partner?” tanya Mingyu menjulurkan tangannya.
Wonwoo menyunggingkan senyumannya, “partner.” balasnya menjabat jemari Mingyu.
“Sumpah. Gue merasa bakalan gila beneran kedepannya.” celetuk Seungkwan menjambak rambutnya.