Setelah mata pelajaran selesai, Wonwoo tidak segera pulang, ia mencatat dengan seksama siapa saja teman kelasnya yang ikut berpartisipasi dalam festival sekolahnya. Membutuhkan waktu sepuluh menit untuknya menyusun nama di format yang diberikan Mingyu melalui email sekolahnya.
Melihat jika semua sudah tercatat sesuai dengan list di grup chat kelasnya, Wonwoo bangkit dari tempat duduknya.
“Coba ketua kelasnya gue. Bisa dah punya alasan buat ketemu Mingyu lagi.” celetuk salah seorang siswi disana.
“Lo aja yang kasi kalo gitu.” balas Wonwoo menjulurkan selembar kertas itu.
“Ogah, ya kalo Mingyu yang nerima, kalo bukan kan rugi gue jalan kaki kesana.” balasnya lagi membuat Wonwoo memutar bola matanya.
Tidak niat meladeni lebih jauh, Wonwoo segera membereskan barang-barang miliknya dan melangkahkan kakinya keluar kelas.
Ia berjalan gontai dengan raut kesal masih menghiasi wajahnya menelusuri koridor yang masih dipenuhi siswa-siswi yang memiliki kegiatan ekstrakurikuler.
Seungkwan pun sudah pergi melenggang terlebih dahulu untuk menemui kekasihnya dengan alasan mengerjakan tugas, membiarkan dirinya sendirian untuk memberikan kertas konyol ini kepada Mingyu.
Ia hanya merasa malas jika harus menghadapi Mingyu seorang diri. Belum genap tujuh hari lamanya Wonwoo memutuskan hubungan mereka, dan perubahan sikap Mingyu membuatnya merasa sedikit tidak nyaman. Menyesal, mungkin?
Mengingat kilas balik alasan ia memutuskan hubungan mereka, Wonwoo mengumpati dirinya sambil menghentak-hentakkan kakinya.
“Aarggh!” umpatnya tertahan.
“Lo ada keperluan apa ya disini? Gue ga ada janji lain hari ini.”
Suara khas milik Mingyu terdengar di balik tembok koridor, tanpa sadar Wonwoo memperlambat langkahnya.
Ruangan student council berada di paling ujung gedung dan jauh dari kelas-kelas, membuat tempat ini sangat jarang dilalui oleh para siswa. Memang terdengar saat ekslusive, tapi memang benar jika akses tempat ini hanya dipakai oleh para perwakilan siswa.
“Iya, gue tau. Cuma gue mau ngomong sama lo, Mingyu.”
Kali ini terdengar suara wanita yang terdengar asing di telinga Wonwoo.
“Lo mau ngomong apa?”
“Itu… gue suka sama lo. Mau ga jadi cowok gue?”
Wonwoo menghentikan langkahnya saat mendengar orang itu baru saja menyatakan perasaannya. Rasa penasaran membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Dengan ragu, ia berjalan mendekat dan mengintip di balik tembok belokan menuju ruangan student council.
Mata menyerupai musang miliknya, menyipit melihat Mingyu menatap datar ke arah siswi di depannya.
“Gue ga bisa.” jawab Mingyu singkat.
“Kenapa?”
“Ada orang yang gue suka.” balas Mingyu.
Kali ini ia tersenyum, memamerkan dua gigi taringnya, membuat Wonwoo mengerjap dengan desiran aneh di dadanya.
‘Apakah dia orang itu?’ pikirnya percaya diri.
“Bukannya kalian udah putus ya?”
Masih dengan senyuman tampannya, Mingyu membalas, “dia bakal balik lagi ke gue.”
Tanpa Wonwoo sadari, kertas yang ia bawa terlepas dari tangannya, membuatnya melayang jatuh ke jauh di depan, membuatnya tanpa sadar mengumpat kecil.
“Aish!”
Mingyu memicingkan matanya melihat sebuah kertas terjatuh dan sebuah sepatu familiar mengintip dibalik tembok belokan itu.
“Lo ama Wonwoo belum putus?” tanya siswi itu lagi, tidak sadar jika ada orang lain tengah mendengar percakapan mereka.
“Emang kapan gue bilang orang itu Wonwoo?” tanya balik Mingyu membuat siswi itu menggelengkan kepalanya.
“Sorry gue ga bisa nerima lo. Gue bener-bener sayang banget sama orang ini, dan gue ga akan ngelepas dia lagi. Cukup sekali.”
Dan seketika bayang-bayang apa yang Seungkwan katakan sebelumnya seketika memenuhi kepala Wonwoo.
“Mingyu tu pacaran baru dua kali. Pertama sama orang yang gue lupa siapa namanya dan kedua itu lo.”
Jadi orang yang di maksud Mingyu bukan dirinya?
“Oh okay. Thanks udah mau dengerin gue.” balas siswi itu.
Melihatnya pergi menjauh, Mingyu memilih untuk kembali masuk ke dalam ruangannya. Ia baru saja kembali dari toilet sebelum siswi itu menghadangnya. Ini sudah kesekian kalinya ia menolak pernyataan cinta dari penghuni sekolah itu bahkan saat ia masih menjadi kekasih Wonwoo.
Ia tidak ingin menyakiti orang lain dengan memberikan perhatian atau harapan palsu, jadi menolak mereka adalah satu-satunya yang bisa ia lakukan. Seorang sudah mengisi hatinya dan ia tidak akan membiarkan orang lain untuk mengambil tempat orang spesial itu.
Siswi itu masih berharap Mingyu memanggil namanya, tapi mendengar pintu ruangan tertutup ia menghembuskan napas kesal. Ia memilih melangkah dengan wajah masam, namun terhenti untuk mengambil sebuah kertas yang terjatuh, sebelum sadar jika ada seseorang tengah berdiri mematung di balik tembok itu.
“Punya lo?” ujar siswi itu memberikan lembaran kertas milik Wonwoo.
“Thanks,” jawab Wonwoo sembari mengambilnya.
“Lo denger kan? Untung sih gue bilang lo mutusin Mingyu, kayaknya dia sayang banget sama mantan dia yang entah siapa itu.” balas siswi itu lemah.
Wonwoo menggigit bibir bagian dalam miliknya. Jemarinya tanpa sadar meremas kertas yang seharusnya ia berikan kepada Mingyu. Dengan langkah lebar ia berjalan menuju ruangan itu.
Tangannya membuka kasar pintu yang malam itu, memperlihatkan Mingyu yang baru saja duduk di sofa ruangannya. Tidak sampai satu detik, Mingyu mengalihkan matanya dari Wonwoo yang menatapnya datar.
“Gue mau kasi ini.” sahut Wonwoo berjalan melempar kertas lecek itu di meja depan Mingyu duduk.
“Thanks,” balas Mingyu, meraih kertas itu dan memeriksanya.
Wonwoo adalah orang terakhir yang datang membawa list ini dan itu artinya ia harus pulang lebih lambat karena harus menyelesaikan ini atau ia akan kehabisan waktu.
Melihat tidak ada pergerakan dari orang yang masih diam di ruangan itu, Mingyu mengangkat kepalanya, “Lo ngapain masih disini?” tanyanya datar, menatap air muka Wonwoo yang sulit diartikan.
Wonwoo belum mengeluarkan suaranya, ia hanya menatap Mingyu dengan matanya yang tajam bak musang dengan napas yang mulai memburu.
Saat melihat pria di depannya tengah meremas celana miliknya, Mingyu mengerutkan naikkan salah satu alisnya.
Dan saat melihat ada titik air mata di pelupuk mata tajam Wonwoo, Mingyu mengerjapkan kedua matanya dengan alis bertaut, “lo itu bener-bener yang terburuk!” ujarnya sebelum melenggang pergi membuat Mingyu membatu.
Ia baru saja membuat Wonwoo menangis.