Mingyu itu selalu ada disekeliling Wonwoo. Mereka bahkan sempat menjadi teman masa kecil, yang mugkin sudah terlupakan oleh Wonwoo.
Kedua orang tua mereka saling mengenal yang membuat keduanya sering bertemu sejak kecil, sampai Mingyu pindah bersama dengan Ibunya ke Jepang di tahun keduanya di sekolah dasar.
Sejak saat itu tidak ada hal yang membuat keduanya terikat—hanya kedua orang tua mereka yang masih saling berhubungan.
Mingyu sibuk dengan kehidupannya di Jepang dan Wonwoo juga lupa jika Mingyu pernah ada di masa kecilnya.
Sampai di tahun kedua sekolah menengah, Mingyu menjadi murid baru yang menghebohkan satu sekolah. Jarang untuk sekolah mereka menerima murid baru di tengah semester seperti itu.
Dan ketika melihat bagaimana prestasi Mingyu, semua orang terkesima, bahkan dalam waktu satu minggu Mingyu sudah berhasil mengumpulkan penggemarnya.
Kelas Mingyu dan Wonwoo sudah pasti berbeda. Wonwoo tidak terlalu peduli dengan akademinya, berbanding terbalik dengan Mingyu yang selalu menjadi sorotan dan disebut hampir setiap bulan karena prestasi yang ia dapatkan.
Awalnya Wonwoo sama sekali tidak terlalu peduli dengan bagaimana orang-orang hampir membicarakan Mingyu hampir setiap hari. Hingga suatu hari, Mingyu tiba-tiba saja ada di dalam kamarnya.
Saat itu Wonwoo berhasil membolos dan pergi bersama beberapa temannya untuk mendatangi sebuah festival di salah satu kampus ternama, namun sayangnya aksi mereka diketahui oleh salah satu guru yang membuat semuanya berbaur pergi.
Sialnya, Wonwoo memilih terus berlari dengan panik yang membuat dirinya terjungkal jatuh di genangan air—membuat pakaian sekolahnya kotor.
Bekas lumpur hampir di seluruh pakaian, dan beberapa bagian wajahnya lah yang Mingyu lihat saat Wonwoo masuk ke dalam kamarnya.
“Lo siapa? Kenapa ada di kamar gue?” tanya Wonwoo bingung.
“Mingyu. Tante minta bantuan gue buat ngajarin lo beberapa mata pelajaran. Katanya lo ga nurut sama adik lo.”
Wonwoo mendecak, sambil melempar tasnya dengan bekas lumpur kering ke lantai.
“Mau aja deh di repotin sama mami. Lo buang-buang waktu lo. Gue males, ga suka belajar.”
Wonwoo melihat jika Mingyu mengedikkan bahunya, “kita bisa pura-pura kalo lo belajar. Gue ngerjain tugas dan lo terserah mau ngapain aja.”
“Oke, gue suka ide lo. Gue mau bersihin badan dulu.”
Dan entah bagaimana, sejak saat itu, Mingyu selalu berada di sekeliling Wonwoo. Menjadi pendengar setiap keluhan Wonwoo mengenai kekasihnya ataupun bagaimana Wonwoo diam-diam ingin mengambil jurusan seni rupa setelah lulus sekolah nanti.
Mingyu selalu mendukung apapun yang Wonwoo ingin lakukan, dan begitu juga sebaliknya, dimana Wonwoo selalu ada disaat Mingyu membutuhkannya.
“Kepala gue kerasa penuh.”
Keluh Mingyu menenggelamkan kepalanya di antara lipatan tangannya.
Beberapa detik kemudian ia bisa merasakan jika kedua tangan kecil Wonwoo memijatnya pelan, “gimana kalo lo blender aja materi lomba lo terus lo telen? Biar menyatu sama tubuh lo.”
Mingyu mendengus mendengar ucapan ringan Wonwoo. Dia sama sekali tidak pernah berpikir dua kali untuk mengungkapkan isi pikirannya—satu hal yang Mingyu sukai jika berada di dekat Wonwoo.
“Ga kebayang sih gue rasanya.”
“Gue tau, apek.” balas Wonwoo yang seketika membuat Mingyu bangung dan menatap Wonwoo seksama, “lo gila?”
“Beneran. Gue sama Seungkwan blender beberapa lembar kisi-kisi soal. Kita campur sih pake susu ama pisang, tapi ya gitu. Rasanya ga enak, ew. Ga mau lagi gue.”
“Kok lo masih idup?”
Satu pukulan halus mendarat di kepala Mingyu, “lo mau gue mati?”
Mingyu tersenyum kecil dan menggeleng, “ga lah. Nanti siapa yang nemenin gue pas lagi stress?”
“Si Chan?”
“Gue maunya sama lo.”
Sedetik berikutnya, Wonwoo terdiam mendengar jawaban Mingyu, ia mengerjap pelan merasakan degupan aneh di dadanya.
“Lo sama cowok lo udah putus belum?”
“Hm?”
Wonwoo membasahi bibir keringnya, “udah, dari minggu lalu.” Jawabnya pelan.
“Kenapa?”
“Ga cocok aja. Dia sibuk banget sama bicycle groupnya. Padahal gue yang beliin dia sepeda baru tapi gue ga pernah di ajak.”
“Jadi sepeda yang di garasi itu rencananya buat lo pake ngedate sambil sepedaan gitu?”
Wonwoo mengangguk lemah.
“Lo itu, kebiasaan buang-buang duit buat sampah.”
“Love language gue kan giving gifts?”
“Kok sama gue ga? Malah lo suka mintain gue aneh-aneh?”
“Kalo sama lo love langue gue berubah jadi receiving gift.”
Balasnya sambil terkekeh, tangannya terulur meraih kacamaa mingyu,“semisal gue lepas kacamata lo ini, lo masih bisa liat gue ga?” tanya Wonwoo tiba-tiba.
“Bisa. Gue ga buta?”
“Gue lepas ya?”
Mingyu mengangguk dan membiarkan Wonwoo melepas kaccamata dengan frame hitam itu.
“Jangan di pake, nanti nular.”
“Udah sebenernya, gue kan suka make diem-diem pas lo napping. Anter gue cari kacamata sabtu besok?”
“Oke.”
“Lo yang milihin modelnya ya?”
“Siap sayang.”
“Ish. Apaan sih.” Balas Wonwoo sambil memasang kembali kacamata itu di wajah Mingyu, dan kembali berjalan duduk di seberang Mingyu.
Meraih kudapan yang disiapkan orang dapurnya tadi.
“Wonwoo.”
“Hm?”
Wonwoo menggumam pelan, bibirnya masih mengunyah, dan matanya kini terfokus kepada handphone miliknya.
“Jadi pacar gue aja gimana?”
Gerakan Wonwooo terhenti seketika. Tubuhnya sama sekali tidak bergerak, mendengar ucapan yang baru saja Mingyu utarakan.
“Gue suka sama lo. Gue ga mau keduluan orang lain lagi. Pacaran sama gue aja ya?”
Wonwoo mengerjapkan matanya sambil menelan ludahnya.
Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasa dengan sensasi aneh yang ia rasakan di perutnya.
“Ga usah bercanda, Mingyu.”
“Coba liat gue.”
Pelan-pelan Wonwoo mengangkat wajahnya, disambut dengan wajah tampan Mingyu yang tersenyum menatapnya. Ia bisa melihat jika ujung telinga lelaki itu memerah—sama seperti dengan dirinya.
Apakah Mingyu merasakan wajahnya memanas juga?
“Agak sedikit konyol sih, gue nembak lo disini. Cuma gue ga ada waktu lagi buat cari tempat proper. Takut keduluan orang lagi… Jadi pacar gue ya, Wonwoo?”
Kamar miliknyalah yang menjadi saksi, saat Mingyu mengungkapkan perasaaan palsunya.
Mungkin jika Wonwoo tidak menerimanya saat itu, ia tidak akan merasakan ini?
Wonwoo melemparkan boneka musang pemberiang Mingyu kesembarang arah, sebelum kembali menenggelamkan wajahnya di bantalnya.
Bayang-bayang potret yang dikirimkan Suha benar-benar merusak suasana hatinya di hari Minggu yang cerah ini.
“Benci banget, kenapa lo maenin gue. Kenapa gue beneran suka sama lo,” bisik Wonwoo sambil terisak kecil.