Narasi 15 - Tentang Wonwoo
Wanita tadi bernama Jung Eunrim, ibu dari Baek Rion dan juga Wonwoo, dulu.
Wonwoo baru mengetahui nama ibunya sendiri ketika memasuki kelas empat sekolah dasar. Kala itu, ia tidak sengaja menemukan sebuah foto yang memperlihatkan dirinya menangis digendong oleh pengasuh di sana dan Jung Eunrim—duduk berjauhan darinya, menatap kamera dengan tatapan datar.
Di belakang foto itu ia bisa melihat nama ibunya terukir lengkap dengan tanggal saat ia meninggalkan Wonwoo di sana.
Ingatan Wonwoo tentang ibunya sudah pudar. Ia bahkan sudah lupa dengan wajahnya sampai ia akhirnya menemukan foto yang sepertinya memang disembunyikan itu. Ketika salah satu staf panti memergokinya tengah melihat foto itu, lembaran itu segera dirampas dari tangannya.
Wonwoo kecil tidak mengerti, mengapa staf itu terlihat ketakutan dan saat ia bertanya apakah wanita ini ibunya, pengasuh itu hanya menjawab “bukan”. Saat itu, dirinya sudah bisa membedakan orang yang tengah berbohong, namun ia hanya mengangguk melenggang pergi.
Berbekal nama itu, pelan-pelan ia mulai mencari. Ada secercah harapan untuk dirinya ketika mengetahui nama itu dan membuatnya sedikit bersemangat untuk bisa menemukan ibunya, walau ia masih kesulitan untuk mengingat wajah itu.
Orang-orang di panti asuhan, selalu mengatakan jika ia akan dijemput. Walau tidak ada satu orang pun yang datang mengunjunginya selama ia tinggal di sana. Namun, Wonwoo masih menunggu. Ia masih percaya bahwa jika ada alasan untuk ibunya menitipkannya di tempat ini, mungkin ibunya tidak memiliki biaya untuk membesarkannya, dan akan kembali saat dia sudah merasa cukup—itulah yang masih tertanam di pikiran Wonwoo kecil.
Hari demi hari, ia sama sekali tidak menyerah untuk mencari wanita itu yang hanya berbekal dengan nama.
Sampai ketika ia menginjak kelas enam sekolah dasar, sebuah yayasan berkunjung untuk memberikan informasi bahwa mereka akan membiayai sekolah untuk anak panti asuhan, dengan syarat bisa masuk ke sekolah yang ditunjuk yayasan tersebut.
Di sanalah Wonwoo pertama kali melihat wanita bernama Jung Eunrim. Ia sudah lupa dengan wajah yang pernah ia lihat di foto itu, dan ketika wanita itu memperkenalkan dirinya, Wonwoo hanya bisa menatapnya dalam diam.
Jung Eunrim, satu-satunya anak putri pemilik salah satu yayasan terkemuka—Sehwa Foundation— yang sekarang memimpin sebagai direktur. Wonwoo merasa bahwa wanita itu hanya memiliki nama yang sama dengan orang yang ia rasa adalah ibunya, karena ia bisa melihat bahwa wanita itu datang bersama dengan putranya yang hanya terpaut sekitar tiga atau empat tahun darinya.
Wonwoo juga berpikir, jika wanita itu adalah ibunya dan berasal dari keluarga seperti itu—tidak mungkin dia akan meninggalkannya di panti asuhan, bukan?
Hari itu, harapan menemukan ibunya pupus. Debaran jantungnya yang tidak beraturan ketika wanita itu mengenalkan dirinya dengan nama itu pun kembali berubah normal.
Namun, ia tidak melewatkan kesempatan untuk memperhatikan wanita itu.
Jung Eunrim, cantik. Di mata Wonwoo, ia terlihat seperti seorang putri dengan blazer dress berwarna krem dan sabuk berwarna cokelat melingkari pinggang rampingnya. Jemarinya terus menggenggam putra kecilnya yang terlihat malu-malu menganggapi setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh guru-guru di sekolahnya.
Wonwoo, yang saat itu menyantap makan siangnya, diam-diam terus melirik hingga tatapannya tertangkap oleh wanita itu. Senyuman tulus ia lemparkan, sambil mengatakan, “Makan yang banyak, ya.”
Wonwoo kecil mengerjapkan matanya, kemudian mengangguk sambil dengan semangat menyendok makan siang yang disiapkan oleh yayasan itu.
Hari itu Wonwoo merasa bahagia, walau harapannya untuk menemukan ibunya gagal. Dia menikmati harinya mendengarkan penjelasan dan cerita dari Jung Eunrim.
Wonwoo pun akhirnya berusaha untuk mendapatkan beasiswa yang diumumkan oleh Sehwa. Ia belajar dengan giat untuk mendapatkan kursi di sekolah yang ada dalam daftar Sehwa Foundation. Perjuangannya berhasil, dan mendapatkan beasiswa penuh termasuk juga uang jajan dari yayasan itu.
Seiring berjalanan waktu, Wonwoo sama sekali tidak bisa menahan rasa penasarannya. Setiap malam, ia berusaha keras untuk mengingat wanita di foto yang pernah ia lihat itu. Ia masih merasa jika jarak dia dan ibunya sudah semakin dekat. Dan Jung Eunrim, selalu menghatui pemikirannya.
Bagaimana jika wanita itu adalah ibunya?
Wonwoo sering kali membuang pemikiran itu jauh-jauh, karena bagaimana mungkin wanita yang terlihat menyayangi anaknya seperti itu membuang anaknya sendiri ke panti asuhan?
Karena perasaan menggebu itu tidak bisa ia tahan lagi, akhirnya suatu malam ia nekat untuk diam-diam masuk ke ruang staf untuk mencari foto itu. Awalnya ia tidak yakin, jika mereka masih menyimpannya. Namun, sepertinya saat itu Tuhan ada di pihaknya.
Dengan jemari bergetar, ia menatap nanar foto itu lagi. Dan dugaannya benar. Wanita di foto itu sama dengan Jung Eunrim yang dulu mengunjungi sekolahnya. Ada sebuah senyum lega terukir di wajahnya. Rasa bersemangat yang berapi mulai memenuhi relung hatinya. Cepat-cepat ia menyimpan foto itu dan kembali ke kamarnya. Di malam itu, ia pun berencana untuk mencari Jung Eunrim. Namun, lagi-lagi, Wonwoo tidak memiliki petunjuk di mana wanita itu tinggal.
Memasuki sekolah menengah dan menjadi penerima beasiswa dari Sehwa Foundation membuat Wonwoo bersemangat menunjukkan kemampuannya. Di sekolahnya, ia sering mendengar informasi mengenai kebaikan Jung Eunrim yang selalu melakukan kegiatan sosial untuk membantu banyak orang.
Wonwoo mendengar banyak hal yang membanggakan tentang ibunya.
Hal itu semakin membuatnya tidak sabar untuk bertemu dengannya. Ia sangat yakin jika ibunya akan bahagia bertemu dengannya—sama seperti dengan dirinya.
Hari-harinya kini disibukkan dengan mencari tahu setiap kegiatan Jung Eunrim. Ia bahkan beberapa kali ikut sebagai volunteer di kegiatan sosialnya, namun kesempatan untuk berbicara lama dengan wanita itu sangat sulit. Wonwoo bahkan sudah memperkenalkan dirinya, namun saat ia menyebut namanya, wanita itu tidak bereaksi apa pun. Ia sedikit bingung karena itu, apakah panti asuhan mengganti namanya tanpa sepengetahuan Jung Eunrim?
Dan lagi, ia lebih memilih untuk mengabaikannya dan tetap berusaha mencari kesempatan untuk bisa berbicara dengan wanita itu lebih lama. Ia pun selalu aktif ikut serta di setiap kegiatan Sehwa dan selalu mencari kesempatan untuk mencari informasi mengenai Jung Eunrim.
Wonwoo kecil tidak sadar, jika pertanyaan-pertanyaannya mengenai Jung Eunrim mendapatkan perhatian dari salah satu orang dari Sehwa Foundation. Memang, terkadang ia bertanya secara terus terang mengenai tempat tinggal Jung Eunrim, ke setiap staf Sehwa yang ia ajak berbicara—sampai ia tidak sadar jika saat itu ia berbicara dengan Jung Seungho, adik lelaki Jung Eunrim.
Wonwoo yang polos dan masih kecil tidak mengerti dengan senyuman yang di berikan lelaki itu, saat ia menceritakan tentang kemungkinan Jung Eunrim adalah ibunya. Awalnya ia tidak tahu jika Seungho adalah adik dari wanita itu, mereka tidak terlihat mirip dan Wonwoo yang masih lugu hanya bisa menceritakan apa isi pikirannya.
Lalu, ketika orang itu mengatakan jika dia percaya, ia pun memberikan sebuah kertas berisikan alamat tempat tinggal wanita itu. Jung Seungho juga menawarkan untuk menjemputnya untuk bertemu dengan ibunya.
Di hari saat Jung Seungho datang mencarinya, kilatan kebahagiaan tidak bisa ia tutupin. Matanya berbinar dan meminta Seungho menunggu sebentar agar dia bisa mengganti pakaian dengan pakaian terbaik yang ia punya. Bahkan di perjalanan ia menuju rumah ibunya, ia meminta izin untuk membeli buah. Ia merasa jika ia tidak boleh berkunjung dengan tangan kosong.
Uang tabungan yang ia kumpulkan ia gunakan untuk membeli strawberry dan jeruk. Ia tidak tahu apakah ibunya memiliki selera yang sama atau tidak, tapi ketika Seungho mengatakan jika wanita itu juga menyukai strawberry, Wonwoo menghela nafas lega.
“Kesukaan kalian juga sama. Pantes lo anaknya.”
Wonwoo masih ingat kalimat itu yang dilontarkan oleh Seungho, tapi ia tidak mengerti mengapa pria itu berkata dengan nada yang terdengar seperti mengejek. Namun, kebahagiaannya saat itu tidak bisa menebak maksud tawa itu. Di kepalanya sudah berputar skenario apa yang akan ia tanyakan kepada ibunya. Ada banyak hal yang juga ingin ia ceritakan.
Jantungnya kembali berdebar lebih kencang dari biasanya. Ia merasa gugup dan juga bahagia di saat yang bersamaan.
Ketika memasuki kawasan perumahan elit, Wonwoo tidak kuasa untuk melihat keluar jendela dengan pandangan takjub. Ibunya tinggal di tempat seperti ini?
Mulutnya menganga sambil menggumam takjub melihat rumah-rumah yang hanya ia lihat di televisi.
Saat ia turun dari mobil Seungho, kegugupan membuat tangannya mengeluarkan keringat. Dengan perasaan bercampur aduk, ia berjalan di belakang Seungho untuk memasuki rumah elit itu. Buah yang ia beli terbungkus plastik biasa terlihat sedikit menyedihkan saat ia melihat pohon ceri di halaman rumah itu.
Raut kegugupan di wajah Wonwoo terlihat sangat kontras dengan rona bahagia di wajah Seungho dan ketika mereka sampai di taman belakang, Wonwoo bisa melihat jika keluarga besar tengah bersiap untuk merayakan sesuatu. Tempat itu didekorasi dengan warna putih dan juga terdapat sebuah kue tart di sana. Wonwoo masih ingat betul, kalimat yang diucapkan Jung Seungho yang membuat dunia Wonwoo runtuh seketika.
“Kak Eunrim. Gue bawa hadiah ulang tahun pernikahan lo. Tau ga gue dateng sama siapa? Anak yang udah lo buang.”
Mendengar kalimat itu, yang terkejut bukan hanya Wonwoo. Tapi seluruh orang yang ada di sana. Wonwoo pun tidak bisa melepas tatapannya dari pria di sampingnya yang terlihat menikmati momen ini.
Rasa panas rasanya menyerang seluruh indra Wonwoo. Ia bahkan tidak sanggup untuk melihat ke arah ibunya.
Yang ia bisa rasakan adalah seseorang menariknya menjauh. Yang jelas itu bukan Jung Seungho, Wonwoo tidak tahu siapa orang itu. Ia diseret menjauh sambil melihat Jung Eunrim beradu mulut dengan seorang pria asing yang belum pernah Wonwoo lihat sebelumnya.
Apakah itu ayahnya?
Mendapatkan jawaban itu kali ini tidak selama Wonwoo mengetahui nama ibunya. Suami Jung Eunrim bernama Baek Daeho. Satu-satunya suami dari Jung Eunrim, ayah kandung dari Baek Rion, bukanlah ayahnya.
Orang yang menyeretnya saat itu adalah kakak sulung dari Jung Eunrim bernama Jung Eunho. Dia membawa Wonwoo pergi ke ruang kerja dan memintanya untuk tidak pergi ke mana-mana.
Perasaan bahagiannya seketika berubah menjadi sebuah mimpi buruk. Untuk dirinya dan juga Eunrim.
Saat mendengar pintu yang dibuka secara kasar, wanita yang biasa ia lihat dengan gestur keibuan berubah. Wonwoo tidak merasa mengenalnya. Tatapan itu terlihat menakutkan. Di belakangnya, seorang pria tua ikut masuk, melihatnya dengan tatapan sinis.
Dan di hari itulah, akhirnya Wonwoo mengetahui alasan mengapa ia ditinggalkan di panti asuhan, tidak ada orang yang mencarinya, dan juga mengapa Jung Eunrim tidak bereaksi saat ia mengenalkan namanya.
Nama yang ia dapat tidak diberikan oleh ibunya. Itu adalah nama yang diberikan oleh pihak panti asuhan. Wonwoo ditinggal ketika ia berusia tiga tahun, saat wanita itu mengandung Baek Rion. Wonwoo tidak tahu jika ibunya hamil saat itu dan ia juga tidak ingat ibunya memanggilnya dengan sebutan apa selama ia masih tinggal bersama.
Ia lupa.
Wonwoo sama sekali tidak memiliki ingatan apapun tentang kebersamaannya bersama dengan ibunya.
・・・・・
Jung Eunrim.
Sejak awal hidupnya dalam kegemerlapan. Lahir sebagai satu-satunya putri keluarga Jung membuatnya merasa bebas. Masa mudanya habis tanpa aturan. Ia melakukan apa pun yang ia inginkan, tanpa mempertimbangkan pendapat orang lain maupun orang tuanya. Kedua orang tuanya yang sibuk hanya bisa menghela nafas saat mendapatkan laporan dari kenakalannya.
Namun, ketika mendapati dirinya hamil dengan pria yang tidak ia ingat, saat itu Eunrim merasa ketakutan untuk pertama kalinya. Ia tahu jika kedua orang tuanya tidak akan pernah memaafkan hal satu ini.
Ketakutan itu membuatnya berhasil menutupi rahasia gelapnya sampai anak pertamanya lahir—Wonwoo.
Memang terdengar aneh, mengapa keluarganya sampai tidak tahu hal itu. Mungkin bisa di katakan jika kehidupan keluarga Jung Eunrim jauh dari kata harmonis. Kedua orang tuanya sibuk dengan bisnis mereka, yang membuat mereka tidak memiliki waktu untuk memperhatikannya yang akhirnya membuatnya tidak sulit untuk menutupi keberadaan Wonwoo.
Jung Eunrim sudah berusaha sangat keras menutupi kehadiran Wonwoo. Melakukan aborsi sempat terlintas di pikirannya, namun rasa takutnya saat itu membelegunya. Usianya yang muda membuatnya tidak bisa berpikir jernih dan berakhir melahirkan anaknya diam-diam, tanpa sepengetahuan siapapun.
Sampai akhirnya tiba waktu ia dijodohkan oleh Baek Daeho. Pria itu berhasil mencuri hatinya dan membuatnya jatuh cinta. Jung Eunrim merasa bersama dengan pria itu, ia akan mendapatkan kebahagiaan yang ia impikan. Sebuah keluarga yang harmonis.
Namun, kebahagiannya bersama dengan Baek Daeho tidak berjalan lama seiring pria itu mengetahui ia sudah melahirkan seorang anak. Saat itu wanita itu menangis sejadi-jadinya, mengatakan jika ia menyesal dan memohon untuk Baek Daeho tidak meninggalkannya.
Melihat Jung Eunrim menangis putus asa menjelaskan semuanya, pria itu tidak marah. Tidak ada reaksi apa pun darinya yang membuat Jung Eunrim semakin merasa bersalah.
Hubungan mereka pun tetap berlanjut tanpa ada Wonwoo yang sengaja ia sembunyikan dengan bantuan Baek Daeho .
Sampai ia mendapati dieinya hamil dari hubungannya dengan pria itu. Disanalah akhirnya Baek Daeho memintanya untuk berkata jujur kepada orang tuanya dan memberinya pilihan.
Jung Eunrim saat itu hanya memiliki dua pilihan. Menikahi Baek Daeho, tanpa Wonwoo. Atau Tetap bersama Wonwoo tapi dia akan kehilangan semuanya, termasuk Baek Daeho dan namanya sebagai ahli waris Sehwa Foundation.
Tentu saja, melihat Wonwoo berakhir di panti asuhan. Wanita itu memilih yang pertama.
Membuangnya.
Kalimat itu terus saja terngiang di telinga Wonwoo yang semakin panas. Ia bahkan sudah merasakan jika matanya sudah mulai panas, tapi tidak ada air mata yang keluar.
Ia mendengar bagaimana Jung Eunrim bertengkar dengan ayahnya dan menyalahkannya yang tiba-tiba muncul.
Satu fakta yang Wonwoo dapatkan saat itu, jika kedua orang tua Baek Daeho tidak tahu jika Jung Eunrim memiliki anak selain Rion.
Kedatangan Wonwoo kala itu, menjadi awal dari kehancuran keluarga kecil dari Jung Eunrim. Keluarga yang sudah ia bangun perlahan, dengan membuang kehadirannya.
Bagi Eunrim. Kehadiran Wonwoo adalah mimpi buruk yang berhasil ia lenyapkan. Namun, dengan datangnya Wonwoo, mimpi itu berubah nyata dan menjadi malapetaka untuknya.
Wonwoo tidak bisa lagi mengingat apa yang dikatakan oleh ayah Eunrim kepadanya.
Memory block.
Wonwoo lupa, tapi ia ingat jika hal itu membuatnya merasakan kesakitan di tempat yang tidak bisa ia sentuh.
Wonwoo juga akhirya tahu, tujuan dari Seungho membawanya kesana, hanya untuk membuat wanita itu hancur. Seungho adalah adik tiri dari Jung Eunrim dan Jung Eunho yang memang mengincar posisi Eunrim di Sehwa. Dan sialnya, Wonwoo bertemu dengannya. Membuatnya menjadi senjata yang juga menghancurkan kebahagiaan semu yang Wonwoo harapkan.
Setelah itu, Wonwoo ingat betul, berita menyebar di sekolahnya yang mengatakan Jung Eunrim bercerai karena permintaan keluarga Baek Daeho. Dia bersama putranya pergi ke US untuk tinggal di sana. Rumor-rumor pun mulai bermunculan. Namun, tidak ada orang yang bisa membenarkannya.
Bagi Jung Eunrim dan Baek Rion, keluarga mereka hancur karena kehadiran Wonwoo.
Dan sekarang, Wonwoo tidak tahu lagi harus menyalahkan siapa tentang kehidupannya.
Wonwoo kira dengan menemukan ibunya, ia akan bahagia. Tapi, mengapa semuanya berubah menjadi hal paling terburuk dalam hidupnya?
Wonwoo meremas box berisi baju milik Mingyu sambil mengigit bibir bagian bawahnya. Pertemuannya hari ini dengan Jung Eunrim memang tidak bisa dihindari. Wonwoo sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak muncul di hadapan wanita itu, tapi sepertinya takdir memang suka bermain dengannya.
Ingatan-ingatan kejadian di hari itu masih menghantuinya. Perasaan yang tidak diinginkan masih terus menggerogoti pikiran dan hatinya, bersama dengan pertanyaan-pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada wanita itu, masih tersimpan rapat.
Khayalan untuk bercengkerama dengan ibunya sambil menceritakan kehidupannya pun pupus.
Wonwoo tahu, jika ia tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk merasakan apa yang selama ini ia bayangkan.
Jawabannya sudah ia terima di hari itu. Jung Eunrim membenci kehidupannya.