Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan kepala Wonwoo yang keluar terlebih dahulu. Ia menoleh ke arah kiri dan mendapati pria asing bernama Mingyu itu sudah duduk di sofa beds living room kamar hotel itu.
Dari wajahnya Mingyu terlihat seperti orang baik-baik. Senyumannya yang tipis membuat matanya menyipit.
“Gue mau panggil room service, lo ada pantangan makan?” tanyanya.
Wonwoo menggeleng, “gue udah makan tadi. Cuma kayaknya masih bisa nampung cemilan.”
Lagi-lagi Mingyu terkekeh, membuat Wonwoo mengernyitkan keningnya. Ia berjalan pelan dan memilih duduk di seberang Mingyu.
Ia bisa merasakan sejak ia keluar dari kamar mandi itu, Mingyu sama sekali tidak melepas tatapannya ke arahnya. Terlihat seakan ia penasaran dengan orang macam Wonwoo.
“Kenapa tanya harga kamar ini baru mau keluar?”
“Iseng aja. Lo mau ngomong apa?”
Deheman kecil keluar menjadi sambutan dari kalimatnya, “ini bakal sedikit complicated.”
Wonwoo mengernyitkan keningnya, mengisyaratkan Mingyu untuk melanjutkan kalimatnya.
“Orang itu udah bilang ke kakek kalo gue selama ini udah punya pacar cuma nyembunyiin aja. Dia ngirim foto kita masuk ke kamar ke keluarga gue.”
Wonwoo menyipitkan matanya, sama sekali tidak memberikan respon. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Kakek gue nelpon gue beberapa kali tapi ga gue angkat. Sampe akhirnya dia message bilang kalo gue nyembunyiin lo karena status kita yang beda.”
“Status apa? Gue belum nikah.”
Mingyu menghembuskan nafas berat sebelum kembali menyunggingkan senyuman tampannya sembari memberikan ponsel miliknya ke arah Wonwoo.
Dengan ragu, Wonwoo meraih ponsel keluaran terbaru itu dan membaca pesan yang dikirimkan kakek Mingyu.
Air mukanya yang awalnya tenang, perlahan menjadi panik melihat informasi tentang dirinya ada di dalam percakapan kakek dan cucu itu. Bahkan informasi dia tidak melanjutkan kuliahnya juga di ketauhi olehnya.
“Lo mafia?!” pekik Wonwoo.
“Ga gitu. Kakek gue cuma punya akses aja buat cari data tentang lo. Kan lo tadi juga kasi ID lo pas pesen kamar ini.”
“Status yang lo maksud itu gue miskin!?”
Mingyu tidak menjawab ataupun mengelak, membuat Wonwoo mendecak lidahnya kesal dan membuang ponsel milik Mingyu ke sisi kiri sofa yang ia duduki.
“Lo beneran ga tau gue ya Won?”
“Ga usah sok akrab manggil gue gitu. Lo emangnya siapa sampe gue harus tau lo?”
Mingyu kembali tersenyum, “ini pertama kalinya gue ketemu orang yang reaksinya kayak lo.”
“Oke, gue spesial berarti. Terus sekarang mau lo apa?”
“Nikah sama gue?”
“Ga mau.”
Tanpa berpikir apapun Wonwoo menolaknya, membuat Mingyu mengerjapkan matanya bingung.
“Oke. Listen. Gue tau ini bakal kedengaran kurang ajar dan ridiculous. Tapi gue bener-bener butuh bantuan lo. Kalo kakek gue udah sampe kayak gini. Lo juga ga bakal bisa lepas. Gue ga minta kita bakal nikah lama. Lo bisa nentuin sampe kapan. Nanti gue yang akan atur kenapa kita bisa cerai.”
“Kok lo keliatan percaya diri banget kalo gue ga bakal nolak?”
“Karena lo ga punya pilihan juga. Gue yakin kakek gue bakal ngajak lo ketemuan dalam minggu ini.”
“Gue ga mau. Buat apa, gue tinggal bilang aja kejadian yang sebenernya. Ruginya juga ga di gue.”
Kini, bisa terlihat jelas jika ada ekspresi frustasi di wajah Mingyu, “tadi lo bilang lo aktor dan belum ada sutradara yang lirik lo. Gue bisa bikin lo dapet project banyak dan kalo lo nolak, gue bisa buat kesempatan itu ga bakal pernah lo dapetin.”
“Lo ngancem gue? Tanpa lo ngelakuin apapun, gue ga punya itu kesempatan.”
Mingyu mendecak kecil, “gue cuma nawarin lo win-win solution. Lo nikah sama gue, gue bakal jamin hidup lo. Gue bakal menuhin apapun yang lo mau.” Nada frustasi Mingyu terdengar sangat jelas.
“Lo ngomong gaya banget kayak lo punya segalanya?! Dan kenapa gue malah keseret sama urusan keluarga lo?!”
“Maaf. Tapi tolong, bantu gue? Gue janji bakal buat lo senyaman mungkin. Anggap lo lagi acting?” katanya, memohon.
Wonwoo tidak membalas, ia menatap Mingyu dengan seksama. Keputusasaan jelas terlihat di wajahnya yang sekarang menatapnya dengan penuh harap.
Tawaran yang diberikan Mingyu memang menggiurkan. Tapi, mereka berdua adalah orang asing, walau Wonwoo tahu jika orang di depannya ini mungkin bukanlah orang sembarangan yang terlihat jelas dari balutan pakaian yang ia kenakan dan juga harga kamar hotel yang sedang ia tempati sekarang.
Orang kaya memang aneh.
Mingyu tidak terlihat seperti seorang serial killer atau apapun itu. Tapi, jika ia bandingan dengan beberapa drama yang ia tonton, beberapa serial killer tampan bukan?
Tanpa sadar Wonwoo menggigit kukunya, terlihat berpikir.
“Gue ga punya apa-apa. Lo punya fetish apa dari badan gue yang mau lo jadiin trophy?” tanya Wonwoo yang kali ini dengan nada pelan. Ada nada takut di dalamnya.
“Gimana?” tanya Mingyu balik, kebingungan.
“Muka ganteng lo ga nutupin kemungkinan kalo lo bukan serial killer.”
Setelah mengatakan hal itu, tawa milik Mingyu menggelegar di kamar mewah itu, membuat Wonwoo semakin mengernyitkan keningnya bingung dan takut.
Mingyu tertawa cukup lama yang membuatnya menitikan air matanya.
Beberapa menit kemudian, dengan jemarinya, ia menghapus air di ujung matanya sebelum kembali menatap ke arah Wonwoo.
“Lo beneran mikir gitu?”
Wonwoo mengangguk sekali.
“Lo bukan tipe gue, Wonwoo.”
Wonwoo mengernyitkan keningnya, mengapa ia merasa tersinggung saat Mingyu mengatakan itu?
“Maksud lo gue jelek!?”
“It’s not like that. Please don’t get offended. Lo oke, cuman lo emang bukan tipe gue aja. Gue bukan serial killer. Gue takut darah dan gue ga ada waktu even buat luangin waktu untuk hobi gue.”
“Kok lo curhat.”
Mingyu terkekeh pelan, “mau bukti apa lagi yang ngeyakinin lo, kalo gue ga akan macem-macem? Gue bener-bener terdesak dan sialnya buat lo, ikut terlibat sama urusan keluarga gue.”
“Masalahnya, kalo gue nikah sekarang dan nanti cerai. Gue susah dong cari pasangan lagi?”
“Lo ada pacar? Atau ada orang yang lagi lo deketin?”
Wonwoo menggelengkan kepalanya, “belum ada,”
Mingyu tersenyum, “jadi apa yang buat lo ragu?”
“Kita belum saling kenal? Lo ama gue itu bener-bener orang asing? Dan gimana kalo yang serial killer itu gue?”’
“Ya udah…”
“Kenapa reaksi lo gitu!?”
“Palingan lo ketangkep besoknya kalo bunuh gue. Lo bener-bener ga tau gue siapa ya, Wonwoo?”
Wonwoo menganggukkan kepalanya, “bentar coba gue google dulu. Nama lo Kim Mingyu kan tadi?”
Jemari Wonwoo mengetik begitu cepat. Matanya yang bersembunyi di balik kaca mata berbingkai hitam itu sedikit membesar mengetahui fakta besar yang terpampang di ponselnya.
“Lo cucunya Kim Jaemin?”
“Kenal kakek gue?”
“Ga kenal, cuma gue tau. Siapa yang ga tau dia coba? Bentar… LO MAU GUE BOONG DI DEPAN KIM JAEMIN?! Kalo gini gue bisa tinggal nama aja! Gue denger rumor kalo kakek lo serem! Gue ga berani!”
“Kakek gue ga serem. Galak dikit.”
“Apa lagi itu! Ga mau gue! Mending lo jujur, kenapa lo ga mau dijodohin. Gue ga mau boong sama orang tua.”
“10 juta won perbulan.”
“Hah?”
“25 juta. Gue bakal kasi lo sebulan selama kita nikah.”
Mata Wonwoo mengerjap. Jumlah yang ditawarkan Mingyu bahkan cukup untuknya melunasi hutang yang ia miliki saat ini, bahkan bisa untuknya menyewa apartemen yang lebih layak.
“50 juta?”
“Tunggu. Stop! Jangan ngebut. Kepala gue sakit.”
“Gue—”
Kalimat Mingyu terpotong ketika room service yang ia pesan datang. Beberapa pelayan pun masuk dengan beberapa nampan penuh dengan makanan dan menatapnya di ruang makan.
“Selamat menikmati.” ucap salah satu pelayan sebelum pergi dari kamar mewah itu.
Wonwoo terlihat menelan ludahnya sambil menatap banyak makanan di hadapannya.
“Dimakan aja. Gue pesen buat kita.”
“Gue ga nolak. Tiba-tiba gue laper lagi.”
Tanpa memikirkan apapun, Wonwoo segera menyantap makanan di hadapannya.
“Lo tadi ngapain di sini?” Tanya Mingyu.
“Awalnya mau casting. Tapi di info kalo role yang gue mau udah taken. Terus di tawarin jadi cameo.”
“Lo ambil?”
Wonwoo menggeleng, “ga jadi, katanya udah keisi juga.” jawabnya sambil menghela nafas.
“Lo sama sekali ga pernah dapet peran?”
Wonwoo menggeleng, “agensi gue kecil. Bisanya suka di serobot agensi gede. Misal pun dapet, itu jadi passerby yang ga ada line-nya. Dan paling sialnya pas hari pertama syuting, pemeran asli yang kepilih udah dateng dan gue diusir pulang.”
“Susah ya jadi aktor?”
“Banget kalo lo ga punya koneksi ato tingkat keberuntungan lo rendah kayak gue.”
“Kenapa mau jadi aktor?”
“Rugi ga sih muka modelan gue ga jadi aktor?” tanya Wonwoo tersenyum ke arah Mingyu.
Satu jawaban yang sama sekali disangka oleh Mingyu sampai membuat tangannya yang hampir memasukkan makanan ke mulutnya terhenti. Ia menggelengkan kepalanya kecil, tersenyum kemudian melanjutkan makanannya.
Keduanya pun larut dalam percakapan yang sangat random.
Sampai akhirnya Wonwoo terbaring lemah di sofa empuk disana sambil mengelus perutnya yang terasa benar-benar kenyang.
“Kenyang banget. Makasi ya makanannya.”
“Sama-sama. Tawaran gue pikirin baik-baik ya? Gue kasi waktu sampe besok.”
“Hah?! Cepet banget!”
“Kakek gue udah mau ketemu lo. Paling sial besok pagi dia udah ada di apartemen lo.”
Wonwoo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia menatap Mingyu sambil menghembuskan nafas lelah.
“Lo beneran mau kasi gue uang segitu?”
Mingyu mengangguk, “kurang?”
Wonwoo menggeleng cepat-cepat, “gue sering banget nemuin hal kayak gini di script klise. Dan ga nyangka kalo gue bakal ngalamin hal ini beneran. Gue udah bisa kebayang sih kalo gue ga bakal bisa bebas setelah gue setuju masuk ke permainan lo.”
Mingyu hanya mengangguk. Apa yang dikhawatirkan Wonwoo memang benar. Setelah ia setuju, tidak akan lagi ada kebebasan untuk mereka berdua.
“Gue ada pilihan ga sih?”
“Sadly, no.”
“Ok. Gue mau.”
Mingyu mengerjapkan matanya, “lo yakin?!”
Wonwoo megangguk, “lo harus jamin kalo gue ga tinggal nama in case ini ketauan.”
“Lo ga perlu khawatir. Gue ga bakal buat lo nyesel bantu gue.”
“Ya ya.”
“Makasi banyak ya Wonwoo? Lo bener-bener nyelametin hidup gue.” balas Mingyu dengan senyuman yang penuh dengan kelegaan.
“Boleh gue tanya sesuatu ga?”
“Ya?”
“Kenapa lo ga mau di jodohin?”
Senyuman itu perlahan berubah kelu, “ada orang yang gue suka. Tapi, gue ga bakal pernah bisa sama dia.”
“Oh. Orangnya kemana?”
“Masih disini. Cuma dia cintanya bukan sama gue.”