Narasi 29
Have fun, kata Lee Chan.
Namun apa yang Wonwoo rasakan saat ini jauh dari kata itu. Ia baru saja bertemu dengan Jeonghan yang berjalan bersama dengan Seungcheol. Reaksi yang diberikan oleh pria cantik itu sedikit meleset dari prediksinya. Wonwoo selalu membayangkan jika Jeonghan akan mencercanya kalimat-kalimat yang memang pantas untuknya.
Tapi, pria cantik itu berjalan melewatinya, seakan ia tidak pernah ada di sana. Meninggalkannya dengan Seungcheol yang melihat kekasihnya melenggang pergi menjauh dengan wajah kusut.
“Hey. Kapan lo sampe?” sapa Seungcheol.
“Baru aja, Kak.” balas Wonwoo pelan.
“Jeonghan, dia—”
“It’s okay, kak. Wajar kok. Gue udah bohongin dia.” balas Wonwoo melihat Jeonghan yang tengah bercengkrama dengan beberapa teman artist-nya.
“Gue udah denger dari pops. Kenapa lo bohong?”
Ada keterkejutan dan kepanikan di wajah Wonwoo, “Kak Han?”
“Dia ga tau apa-apa. Makanya reaksi dia kayak gitu. Kenapa bohong Wonwoo? Gue ga ngerti kenapa kontrak itu bisa ada pas lo ketemu sama mama gue.”
“Gue emang ada rencana ketemu sama Seungkwan buat bahas itu. Makanya gue bawa.”
Seungcheol terdiam. Ia menatap Wonwoo dengan memicingkan matanya, jelas sadar jika pria di depannya sedang berbohong.
“Okay. Tapi kenapa lo bohong sama Mingyu? Dari cerita pops bukan lo yang minta penawaran.”
Wonwoo terlihat membasahi bibirnya yang kering, “ga ada bedanya kak. Gue juga beneran dapet uang dari Pak Jaemin.”
“Beda, dek.”
Wonwoo menggigit bibir bagian dalamnya, entah mengapa mendengar Seungcheol masih memanggilnya seperti itu, membuatnya merasa tidak nyaman, menyesakkan.
“Gue ga mau Mingyu marah sama kakeknya kalau dia tau yang sebenernya.”
“Tapi sekarang Mingyu juga marah sama kakek. Dia masih mikir kakek yang maksa lo.”
Wonwoo terdiam, kali ini tatapan matanya jatuh ke lantai marmer di kakinya.
“Mingyu sayang banget sama kakeknya. Dia ga akan marah lama-lama.”
“Dia juga sayang sama lo.”
Wonwoo tersenyum, “tapi gue ga sayang, kak.”
Seungcheol menghela nafasnya, “acting lo jelek banget.”
“Kak Han liat ke arah sini aja kak. Lo susulin dulu.” balas Wonwoo membuat Seungcheol menoleh ke belakang dan mendapati Jeonghan tengah menatapnya dengan tajam.
“Gue ke tempat Hannie dulu, nanti gue samperin lo buat ketemu sama beberapa orang, ya? Jun lagi on the way.”
Wonwoo mengangguk, “okay. Thank you, kak.”
Setelah Seungcheol pergi, kesendirian kembali meliputi Wonwoo. Beberapa orang memang menyapa dan mengajaknya mengobrol, tapi hanya sebatas basa-basi. Selanjutnya mereka pergi ke circle mereka masing-masing.
“Hyung, jangan bilang kalau target lo ganti ke Choi Seungcheol?”
Mendengar suara itu seketika Wonwoo langsung menoleh dan mendapati Baek Rion tersenyum ke arahnaya sambil membawa segelas champagne di tangan kirinya.
Bibirnya mengerucut ketika tidak mendapatkan respon dari Wonwoo yang hanya menatapnya dalam diam.
“Gimana menurut lo artikel-artikel yang keluar tentang Mingyu? Udah oke ga?” bisiknya di samping telinga Wonwoo.
“Stop dengan apapun yang lo lakuin. Dia ga ada hubungannya sama gue.”
Baek Rion mengedikkan bahunya, “udah setengah jalan, tanggung.” balasnya sambil merangkul pundak Wonwoo.
Melihat itu, ia ingin bereaksi untuk melepaskan rangkulan Rion, namun, belum sempat ia membuka suaranya, Seungcheol kembali datang menghampirinya bersama dengan seorang pria.
Pria berkulit putih itu menaikkan salah satu alisnya melihat Wonwoo dan Rion terlihat cukup akrab, lalu menundukkan kepalanya menyapa Rion yang tetap merangkul pundak Wonwoo di sebelahnya.
“Wonwoo, kenalin ini sutradara Cha. Lo pasti udah sering dengar namanya kan? Sutradara satu ini baru aja balik ke Korea kemarin malam, setelah selesaiin project box office-nya di US.” celetuk Seungcheol memperkenalkan pria bermarga Cha yang masih terbilang muda itu—berumur sekitar empat puluh lima tahun.
Wonwoo menyunggingkan senyumannya sambil menggerakkan bahunya yang membuat rengkuhan Rion terlepas, “Halo Sutradara Cha, perkenalan saya Jeon Wonwoo,” ujarnya sambil menjulurkan tangannya.
Sutradara Cha terkekeh, “ngomong sante aja. Gue udah liat teaser lo di March. Setelah gue tau lo under Seungcheol, gue ngerasa udah ga heran. Gue ada kirim script ke Jun, tapi katanya tawaran ke lo lagi numpuk.” ucapnya sambil mendecak, berpura-pura kesal.
Seungcheol tertawa dan segera membalas pria itu, membuat ketiganya terlarut dalam percakapan yang tidak melibatkan Baek Rion.
Sedari tadi ia diam sambil memperhatikan bagaimana Wonwoo menanggapi setiap pertanyaan ataupun pujian yang diberikan kepadanya.
That’s not suit him at all.
Tempat seperti ini dengan orang-orang seperti Seungcheol dan Sutradara Cha tidak layak untuk Wonwoo.
Di matanya, tidak ada tempat yang kayak untuk Wonwoo.
Melihat bagaimana pria itu tertawa sambil bercengkrama seperti itu, terlihat seolah-olah kehidupannya baik-baik saja. Dan Rion membenci itu.
Jeon Wonwoo merampas hal berharga yang ia miliki, ia membuat keluarganya hancur. Mungkin orang-orang akan berpikir sikapnya berlebihan. Tapi, baginya kehidupannya sebelum Wonwoo muncul adalah kebahagiaan yang tidak akan pernah ada orang lain yang memberikannya. Dia sangat dekat dengan kakeknya, dan saat pria paruh baya itu jatuh sakit dengan semua fakta mengenai ibunya, yang akhirnya membuatnya meninggal. Rion kecil hanya tahu jika semua itu terjadi karena kehadiran Wonwoo.
Mendengar dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Ibunya memaki Wonwoo semakin membuatnya yakin jika kehancuran keluarganya disebabkan oleh Wonwoo yang juga saat itu masih kecil.
Baginya, kehidupannya dengan keluarganya sekarang itu bagaikan sebuah cermin yang pecah. Seberapa besarpun ibu dan ayahnya mencoba untuk menatanya kembali, hasilnya tidak akan pernah serupa. Banyak serpihan hilang yang membuat refleksi yang diperlihatkan tidak akan pernah utuh lagi.
Dan penyebab semua itu adalah pria yang sekarang sibuk memutar gelas red wine yang baru saja diberikan oleh Seungcheol. Mata pria itu mengingatkannya kepada Ibunya dan ia benci dengan fakta jika Wonwoo memiliki aliran darah yang sama dengannya.
Ketiga orang itu berputar arah, dan asumsi Rion mereka berjalan menuju ruangan untuk makan malam. Langkah ringanya dengan tangan yang sengaja ia silangkan dibelakang, berjalan mengikuti tiga orang itu.
Ia bersenandung kecil sambil memperhatikan sikap Wonwoo yang terlihat menggelikan dan penuh kepalsuan.
“Yoon Serin!” panggil Baek Rion cukup keras, membuat perhatian Wonwoo teralih dan tidak melihat jika ada kelompok tidak menyadari seseorang datang dari sisi kanan depannya, ia mengerutkan keningnya saat merasakan wanita yang datang menghampiri Rion itu sengaja melewatinya dan membuatnya bertabrakan dengan entah siapa itu.
Suara pecahan gelas kaca yang terjatuh dari tangannya kini hancur berkeping dengan sisa wine yang membasahi baju orang yang ia tabrak dan sepatu kulit miliknya.
“Oh,” Wonwoo terlihat panik melihat outer berwarna brown khaki itu, bernoda karena tumpahan minumannya.
“Maaf, saya ga sengaja,” bisik Wonwoo meraih saputangan di sakunya tanpa memperhatikan orang-orang di sekelilingnya tengah tercekat.
“Get your fucking hands off me.”
Tubuh Wonwoo membantu, jemarinya seketika berubah menjadi dingin mendengar suara familiar itu. Hanya saja, kali ini tidak ada kehangatan di dalamnya.
“Fucking hell.” lanjut Mingyu sambil melepaskan outer yang tengah ia kenakan sekarang.
“Sorry, gue ga sengaja. Nanti gue ganti ya, kerugian lo.”
Mingyu menatapnya tajam sambil mendengus, “you should. Replace it, send it to my office.”
Belum sempat Wonwoo membalas, ia bisa melihat Mingyu tengah melempar kartu namanya di depan wajahnya.
“Kim Mingyu!”
Wonwoo menggigit bibir bagian dalamnya melihat kartu nama itu yang sudah jatuh di lantai.
“Why? You should've taught him how to behave at events like this, so he'd fit in.” ujarnya datar menatap ke arah Seungcheol.
“Igyu, udah. Ayo, dinner-nya mau mulai.” celetuk Jeonghan menarik lengan Mingyu.
Wonwoo memilih untuk mengambil kartu nama yang terjatuh itu,
“Saya minta maaf sekali lagi. Nanti saya akan ganti.” balasnya sambil membungkukkan badannya.
Mingyu melihat pria itu sesaat sebelum melemparkan pakaian itu ke bawah kaki Wonwoo, “throw it out.” sebelum melenggang pergi, mengabaikan orang-orang yang ada di dekat sana mulai berbisik-bisik.
Wonwoo kembali mendudukkan badannya untuk meraih outer milik Mingyu, kemudian meminta maaf kepada Seungcheol dan juga Sutradara Cha yang harus menyaksikan kecerobohannya.
Baek Rion yang ikut menyaksikan drama di depannya pun ikut menggumam melihat bagaimana perlakuan dingin Mingyu ke arah kakaknya.
“Sumpah? Lo liat gimana reaksi Mingyu? Jangan-jangan rumor sama kakeknya itu beneran? Like Mingyu literally humiliate him just now.” komentar wanita bergaun bodyfit yang berdiri di samping Baek Rion.
“Could be.”
“Disgusting.” komentar wanita bersama Yoon Serin itu, “let’s eat, Rion. Mama gue minta gue bawa pulang satu koleksi hari ini.”
Rion tidak membalas, ia melirik ke arah Wonwoo dengan wajah muramnya sekilas sebelum melenggang pergi bersama wanita itu.
・・・・・
“Gue ga mau ketemu mereka. Kalau gue tau mereka bakal ngejar gini, gue ga akan ikut ini acara!”
“Lo sekarang dimana?” suara dari seberang telepon itu terdengar sampai keluar.
“Ga tau! Gue mau pulang. Lo nanti balik naik taxi aja!” serunya sambil memutuskan sambungan telepon.
“Bangke, tempatnya kenapa luas banget. Gue nyasar, sialan.” komentarnya melihat lorong kosong yang tidak ada seorangpun yang berlalu lalang.
Dokyeom masih dalam mode melarikan diri dari Seungkwan dan Minghao yang sedari tadi mencarinya. Ia benar-benar merasa seperti bermain petak umpet yang membuat jantungnya berdebar setiap kali mendengar langkah seseorang mendekatinya.
Bagaimana mereka memperlakukannya sudah cukup membuatnya sadar jika dia mungkin tidak cocok ada di circle pertemanan itu. Tentu, tanpa bantuan Mingyu, Dokyeom mungkin tidak akan bisa menemukan agensi yang benar-benar menghargainya.
Tapi ia akan menganggap bayarannya kepada Mingyu dengan semua kerja sama yang sudah ia lakukan secara sukarela untuk membantu bisnis Mingyu selama ini. Dan sekarang, sejak mengetahui jika mereka tidak menganggapnya, Dokyeom sudah memutuskan untuk tidak akan pernah mau memiliki urusan dengan mereka semua.
Langkah ringan dan jantung berdebar membawa Dokyeom menelusuri lorong sepi itu. Ia harus berhasil mencari pintu belakang yang sempat dia tanyakan pada staff di sana.
Tepat saat ia akan berbelok di ujung lorong, pertama kalinya Dokyeom merasakan jantungnya turun ke perut, melihat seseorang yang tengah berjongkok sambil bersandar di tembok dekat pintu keluar. Awalnya ia ragu, ia mendengar issue jika gedung ini berhantu, tapi ia kembali berpikir, jika tidak ada hantu yang berjongkok bukan?
Takut-takut ia melangkah mendekat, sebelum akhirnya ia mengenali baju yang ada di samping pria itu.
“Wonwoo?”
Wonwoo yang mendengar namanya disebut, mengangkat kepalanya. Hari ini ia tidak mengenakan kacamata atau pun softlens, jadi ia harus berusaha keras untuk mengenali siapa orang yang sedang mendekatinya karena suaranya terdengar sedikit asing untuknya.
“Lo siapa”?
Dokyeom mendecak sambil memutar bola matanya, “DK.”
“Oh.” balas Wonwoo singkat sebelum berdiri dari posisinya sambil menggenggam outer milik Mingyu di tangan kirinya. Kakinya terasa kaku dan membuat keseimbangannya tidak stabil yang akhirnya membuatnya terhuyung.
“Lo kenapa?!” seru Dokyeom menarik lengannya yang berhasil menahan pria itu agar tidak jatuh.
“Lo mabuk?”
Wonwoo menggeleng kecil. Tapi Dokyeom bisa mencium aroma alkohol darinya.
Dokyeom melihat apa yang terjadi dengan Wonwoo tadi. Bagaimana Mingyu memperlakukannya di depan umum dan itu sedikit membuatnya bertanya-tanya. Yang ia tahu mereka memang berpura-pura, tapi Mingyu tidak akan bersikap sekasar itu terlebih di kerumunan orang seperti itu.
“Lo mending pulang deh, telepon si Seungkwan.”
Wonwoo kembali menggeleng, “ga bisa.”
“Kenapa ga bisa? Dia ada disini sekarang. Gue ga mau nelpon dia buat lo.”
“Mingyu ama gue udah selesai. Gue pulangnya ga ke sana lagi.”
Dokyeom mendelik, “Hah?!”
“Hoshi… tolong telpon hoshi buat gue. Gue tinggal sama dia…”
“Ga mau.”
Wonwoo mendecak, “Hoshi marah sama gue… dia ga mau angkat kalo gue yang telepon. Please, Dokyeom.”
Dokyeom mendecak melihat bagaimana menyedihkannya ekspresi yang diberikan oleh Wonwoo sekarang. Detik berikutnya, ia meraih ponselnya, dan menghubungi nomor ponsel Hoshi yang sudah ia dapatkan dari managernya beberapa waktu lalu.
“Kasi tau gue alamat lo,”
“Lo siapa?!”
“DK.”
“Ngapain gue kasi alamat gue ke lo? Sinting lo.”
“Temen lo bentar lagi passed out, ini. Dia ga tinggal sama Mingyu lagi, katanya tinggal sama lo. Dikit lagi passed out ini orang.” ujar Dokyeom.
“Wonwoo?”
“Siapa lagi emang!?”
“Check message gue.” balas Hoshi sambil memutuskan sambungan ponselnya.
Wonwoo kembali berjongkok sambil bersandar dengan mengistirahatkan wajahnya di lipatan tangannya. Melihat itu, ia hanya bisa menghela nafas.
“Ayo, gue anter lo ke tempat Hoshi.” sahut Dokyeom sambil meraih lengan Wonwoo dan membantunya berjalan menuju parkir mobilnya. Mereka berhasil menemukan pintu belakang tempat itu dalam waktu kurang dari sepuluh menit dan bergegas menuju mobil milik Dokyeom.
“Pelan-pelan.” sahut pria itu membantu Wonwoo, masuk ke kursi penumpang, “gue akan anter lo ke tempat temen lo. Tapi, tolong jangan muntah di mobil gue.” ujar Dokyeom sebelum menutup pintu itu.
“Thanks, DK. Gue ga akan ngelupain bantuan lo hari ini.”
Mereka baru sampai di lampu merah pertama, mendengar cara bicara Wonwoo pria itu menolehkan kepalanya dan menatapnya sambil mengernyitkan keningnya kuat.
“Lo ga mabuk?”
Wonwoo menggeleng.
“Lo acting? Lo boongin gue?”
Wonwoo terdiam.
“Anjing.”
“Kalau gue ga acting. Gue ga yakin lo mau bantuin gue.” balas Wonwoo.
Dokyeom menggelengkan kepalanya, sepertinya ia memang memiliki talent untuk ditipu.
“Gue ga maksud bohong sama lo. Kalau lo mau mukul gue pas kita sampai di tempat Hoshi, gua ga akan keberatan. Tapi jangan turunin gue di jalan.”
Dokyeom tidak membalas. Matanya terfokus ke arah jalan, malas menanggapi orang yang lagi-lagi membohonginya. Dia memang tidak terlalu kenal dengan Wonwoo, tapi mereka beberapa kali memang sering berkumpul bersama.
“Gue sama Mingyu udah selesai.”
“Gue ga peduli.” balas Dokyeom cepat.
“Gue jahatin Mingyu. Gue minta uang ke kakeknya juga, pake excuse gue ga bocorin pernikahan palsu kita ke media. Kayaknya sebentar lagi karir gue akan selesai. Lo juga liat kan gimana Mingyu ke gue tadi?” ujar Wonowo.
Dokyeom kali ini tidak menjawab.
“Kenapa lo ga tau tentang kita karena semuanya ada di kontrak. Sama kayak Hoshi, dia marah sama gue karena dia juga ga tau tentang apa yang gue lakuin. Mingyu bilang Minghao tahunya karena dia ga percaya dengan Mingyu yang tiba-tiba punya pacar dan itu bukan Kak Han. Kalau Seungkwan, dia harus tau, karena yang buat kontrak dia.”
“Lo mau bilang gue yang ga peka karena langsung percaya Mingyu dan lo pacaran?”
“Gue ga ada ngomong gitu. Kalau lo berasumsi kayak gitu, silahkan. Marah sama gue juga silahkan. Gue kan bagian dari permainan Mingyu yang bohongin lo,” ujar Wonwoo sambil menyandarkan kepalanya di jendela mobil itu.
“Dokyeom, lo ketemu sama dia itu buat gue iri. Gue yakin dengan karakter yang Mingyu punya, dia lagi cari cara biar bisa memperbaiki hubungan kalian. Dia cuma lagi sibuk aja sama masalahnya sekarang, makanya ga bisa cari lo.”
Dokyeom mendengus, “tau banget lo tentang Mingyu, katanya boongan.”
Wonwoo hanya tersenyum, tidak ada kalimat untuk membalas kalimat yang dilempar Dokyeom itu.
・・・・・
Hoshi menyilangkan tangannya di dada, menatap Wonwoo yang saat ini terduduk di kasur kamarnya.
“Lo beneran pindah rumah ya?”
Sebenarnya Hoshi malas menjawab, tapi ketika melihat keadaan Wonwoo yang datang bersama Dokyeom, membuatnya hanya menghela nafas kecil.
“Bukan. Sepupu gue lagi liburan, gue diminta jaga rumah sama anjingnya.”
Wonwoo menganggukkan kepalanya, “oh, kakak sepupu lo yang Dokter ya?”
“Iya.”
Keheningan mengambil alih, Hoshi melihat gerak-gerik Wonwoo dengan kedua tangannya yang saling bertaut. Ia masih sangat hafal dengan kebiasaannya. Namun, kali ini entah mengapa ia tidak memiliki niat untuk menghentikannya.
Hoshi sedang marah—sangat marah, melihat bagaimana Wonwoo berakhir seperti sekarang ini.
Dia membaca semua pesan yang Wonwoo kirim, dia tau apa yang Wonwoo alami dan dia tahu bagaimana publik beranggapan tentangnya.
Dan semua itu bermula dari hubungan palsunya dengan Mingyu. Jika saja mereka tidak melakukan perjanjian bodoh itu, Wonwoo mungkin masih akan tetap kesusahan dalam karirnya, tapi setidaknya dia tidak akan memberikan celah untuk orang lain menyakitinya seperti sekarang ini.
“Lo ngapain ke sini,” celetuk Hoshi akhirnya.
“Maafin gue, Hoshi.”
Hoshi menghela nafas berat, “ga ada gunanya. Mending lo balik sekarang. Gue mau tidur.”
“Lo beneran akan kayak gini terus ke gue?”
“Lo mau gue kayak gimana? Emang lo bakal ngedengerin gue? Emang lo pernah nganggep gue?” tanya Hoshi, nada bicara sudah sedikit lebih tinggi dari sebelumnya.
“Gue ga pernah ga nganggep lo. Yang deket sama gue cuma lo, kenapa lo terus bilang gue ga pernah nganggep lo,”
Hoshi mengepalkan jemarinya kuat, “terus kenapa lo ngelakuin itu!? Kenapa lo setuju pura-pura nikah sama Mingyu! Kenapa lo boongin gue dan biarin gue kayak orang bego, nanggepin kelakuan palsukalian berdua?”
Wonwoo terdiam, sambil menggigit bibir bawahnya.
“Kenapa lo nyiksa diri lo kayak gini dan kasi kesempatan buat orang itu ngancurin lo!?”
“Gue takut!” balas Wonwoo setengah berteriak, matanya yang memerah menatap Hoshi dengan nyalang, memperlihatkan raut frustasi yang membuat siapapun melihatnya akan tertegun.
“Gue takut sama sama apa yang Mingyu lakuin kalau gue ngelanggar kontraknya! Gue ga tau power dia kayak gimana. Dia terlalu baik, gue takut dengan apa yang akan dia minta ke gue buat bayarannya. Gue takut, karena dia ga kasi gue pilihan buat bilang ga. Gue takut Hoshi.”
Hoshi mengernyitkan keningnya mendengar kalimat tidak beraturan yang diucap Wonwoo. Pria itu sudah mencapai batasnya, dan sepertinya Hoshi membuatnya melepaskan pelatuknya.
“Semuanya masih muter di kepala gue gimana gue dulu dibohohin sama orang yang gue kira bisa gue percaya. Gue ga tau kenapa Mingyu baik ke gue kayak gitu, makanya gue ga cerita sama lo. Gue ga berani ngelanggar kontraknya,” Wonwoo menggelengkan kepalanya.
“Gue beneran ga bisa bayangin apa yang akan dia lakuin ke gue. Gue ga punya apa-apa lagi Hoshi, gue ga ada pilihan lain selain boongin lo. Please, jangan marah sama gue. Jangan benci gue juga Hoshi. Gue takut beneran sama orang-orang kayak mereka.”
Tidak ada balasan, Hoshi hanya menatap Wonwoo dengan mata lebih merah dari sebelumnya.
“Hoshi, jangan diem aja… please. Gue beneran bingung. Kepala gue penuh banget.”
“Gue ga tau, Nu. Gue ga ngerti. Sekarang lo udah selesai sama Mingyu, apa lagi yang lo takutin? Apa yang buat lo ngerasa sakit karena udah nyelesaiin semuanya sama Mingyu?”
Mendengar kalimat itu, tangisan Wonwoo pecah. Perlahan ia mulai membuka mulutnya lagi, menceritakan setiap detail apa yang Baek Rion lakukan. Bagaimana pria itu membuat Mingyu terkena masalah akhir-akhir ini yang cukup membuat Hoshi tercengang.
Mendengar setiap kalimat putus asa yang diceritakan Wonwoo, membuat Hoshi digerogoti perasaan bersalah. Sesaat ia lupa, bagaimana Wonwoo itu.
Amarahnya membuatnya lupa jika Wonwoo memang orang yang suka memendam semuanya sendiri. Ia lupa jika Wonwoo selalu merasa semua masalah yang ia alami adalah kesalahannya.
Hoshi merasa tidak sanggup lagi mendengar isi kepala Wonwoo dan memilih untuk memeluknya. Ia bisa merasakan tubuh pria itu bergetar hebat menahan semua beban yang memenuhi kepalanya.
“Sorry. Sorry, gue lupa tentang lo, Nu. Sorry, udah marah selama ini dan buat lo ngerasa ditinggal.” bisik Hoshi membuatnya semakin terisak.
“Jangan di pendem semuanya sendiri. Gue ga benci lo, Nu. Gue ga akan bisa benci lo. Nangis aja dulu ya, gue temenin.” sahutnya lagi sambil menepuk-nepuk punggung sahabatnya.
・・・・・
“Lo ngapain duduknya gitu?” tanya Hoshi melihat tubuh tegang Dokyeom di pinggir sofa, di sebelahnya anjing coklat milik sepepunya yang bernama Mocha itu menatapnya dalam diam.
“Anjing lo galak, gue diliatin terus kayak gitu dari tadi,”
“Mocha! Bali ke kamar lo! Tidur!” seru Hoshi sambil menunjuk sebuah pintu, anjing itu pun menurutinya dan berlari ke kamarnya.
“Dia tidur di kamar sepupu gue.” sahut Hoshi, berjalan menuju kulkas dan mengambil dua kaleng beer, ia melangkah menuju Dokyeom duduk dan memberikan satu kaleng dingin itu ke dia.
“Sorry, sebelumnya gue udah marah ga jelas ke lo.” celetuk Hoshi, membuka minumannya.
“It’s okay. Gue juga baru tau kalau lo senasib sama gue. Ga tau apa-apa.”
Hoshi tersenyum, ia menyesap beer dingin itu dengan tatapan menatap lurus ke depan.
“Wonwoo gimana?”
“Tidur. Gue biarin aja dulu, nanti juga bangun lagi. Lagi kumat kayaknya itu insomnianya.”
Dokyeom menganggukkan kepalanya, “pas lo teriak, gue maunya nyamperin karena takut kalian berantem dan end up denger semuanya.”
“Inferiority complex dia itu parah banget. Mingyu itu orangnya gimana?” tanya Hoshi.
“Jujur, sampe sekarang gue masih ga percaya sih kalau mereka bohongan. Apa yang Mingyu lakuin ke Wonwoo lebih dari apa yang biasa dia lakuin ke mantan-mantan dia. Termasuk ke Jeonghan, orang yang ngisi hati Mingyu dari dia belum puber sampe dia bilang pacaran sama Wonwoo. Sebelum gue left group, dia selalu bahas Wonwoo ini, Wonwoo itu, rekomendasi restoran buat dia coba sama Wonwoo. Pokoknya, Wonwoo, Wonwoo, Wonwoo. Gue rasa dia udah kejebak sih dan sukanya udah beneran.”
Dokyeom terdiam sejenak, “gue ga kebayang kalau Mingyu tahu, apa yang sebenernya terjadi sama Wonwoo. Tapi, kalo asumsi gue bener dia suka beneran sama Wonwoo, dia ga akan biarin ada orang yang bahkan nyentuh rambutnya. Dia tipe orang yang buat dihindari buat jadi musuh, dendaman dia.”
Sekarang pertanyaan di kepalanya sudah terjawab, melihat bagaimana perlakuan Mingyu kepada Wonwoo tadi.
“Wonwoo kayaknya berhasil buat Mingyu benci sama dia.”
Hoshi menolehkan kepalanya, ia mengerutkan keningnya mendengar bagaimana Dokyeom menjelaskan kejadian tadi.
“Dia mau buat Baek Rion ngerasa kalau mereka ga ada hubungannya lagi kan? Emang yakin dia bakal stop?”
“Sinting. Ini yang ga gue suka dari Wonwoo. Suka banget mutusin untuk ngelakuin hal yang bakal backfire ke dia.” komentar Hoshi, sambil menenggak habis beer di tangannya.
Dokyeom tidak membalas. Ia berteman dengan Mingyu tidak sebentar. Ia sudah menyaksikan banyak contoh bagaimana jika seseorang memilih Mingyu menjadi musuhnya. Mendengar cerita tentang apa yang terjadi antara Mingyu dan Wonwoo, sebelumnya tidak ada orang yang akan berani menemui Kim Jaemin untuk mengancam-nya. Berbanding terbalik dengan semua mantan pasangan Mingyu yang di datangi oleh Kim Jaemin. Tidak ada orang seperti Wonwoo, di masa lalu Mingyu.
Mungkin ini pertama kalinya untuk Mingyu dipermainkan seperti ini. Dokyeom menghela nafasnya, merasa tidak memiliki urusan dengan bagaimana perasaan yang rasakan oleh Mingyu.
“Mending sekarang lo kasi tau Wonwoo supaya jangan sampe ketemu Mingyu lagi. Dia serem kalau marah. Gue tau sih, dia jadi BA Haon dan chance ketemunya gede, tapi at least ga di waktu dekat. Dia jarang involve buat supervise proses shooting.”
“Iya, gue tau.”