Narasi 11
“Enak banget, kayaknya gue bisa deh makan itu tiap hari," komentar Mingyu duduk disebelah Wonwoo di balkon rumahnya.
Setelah membereskan makan malam mereka, ia melihat Wonwoo berjalan menuju tempat ini, yang sepertinya menjadi salah satu tempat kesukaannya di rumah Mingyu.
Jika ia tidak berada di kamarnya ketika Mingyu mencarinya, pria itu pasti akan berada disini. Entah sambil memainkan ponselnya, membaca, bahkan ia pernah tertidur juga.
“Lo seneng banget ya disini?”
Wonwoo menganggukkan kepalanya tanpa menoleh, “suka banget, gue bisa liat langit.” jawabnya pelan.
“Mau minum ga?” tawar Mingyu yang kembali berdiri dari tempat duduknya.
“Boleh, bir aja.”
“Ok!”
Wonwoo merasa jika hari ini sangat panjang. Menandatangani kontrak dengan LumiDAL masih terasa seperti mimpi.
Secepat inikah?
Dulu, keluar dari Storm Ent pun tidak pernah terbayang di benak Wonwoo. Ia merasa jika dirinya akan selama terjebak disana, semasih orang itu menginginkannya.
Baek Rion.
Orang yang membencinya. Orang yang selama ini diam-diam memboikot setiap karirnya.
Wonwoo terkadang sering dibuat bingung, haruskah orang itu membencinya sampai seperti ini?
Ia tidak pernah merasa melakukan suatu kesalahan yang besar.
Wonwoo hanya meminta hak-nya. Ia hanya ingin jawaban....
Hanya itu… ia sama sekali tidak memiliki niat untuk menghancurkan hidup seseorang. Tapi, sepertinya bagi Baek Rion, kedatangannya—kehidupannya adalah sebuah ancaman.
“Hey, congratulations.”
Wonwoo terbangun dari lamunannya dan mengerjapkan matanya melihat Mingyu datang membawa strawberry shortcake berdiameter 12 cm, lengkap dengan sebuah lilin menyala.
“Make a wish first, then blow the candle.”
Wonwoo terkekeh, ia memejamkan matanya sebelum meniup lilin itu.
“Sempet-sempetnya ya lo.” sahutnya, mengambil kue itu dari tangan Mingyu dan meletakkannya di atas meja kaca di depannya.
“Kan gue janji buat beliin cake. Lebihnya cuma isi lilin aja... Makannya kita pake sendok aja ya? Ga perlu di potong cantik.” sahut Mingyu memberikan sebuah sendok yang ia simpan di balik celanannya. Kemudian ia juga mengeluarkan dua buah birdari kantung celananya, yang membuat Wonwoo terkekeh.
“Celana lo kantong doraemon ya.”
“Hebat kan celana gue, untung ga melorot. Ga lucu kalo gue kasi surprisenya malah jadi lawakan.” sahutnya sambil membuka bir itu.
Suara khas kaleng itu menggema bersamaan dengan busa yang meluap. Cepat-cepat pria itu meminum birnya sebelum membasahi celana training yang ia kenakan.
“Lo bosen ga kalo gue bilang makasi lagi?” tanya Wonwoo yang sudah memasukan satu suap kue ke dalam mulutnya.
“Bosen sih. Lo juga udah masakin gue tadi. Puas banget gue.” jawab Mingyu yang ikut menyendok kue dengan hiasan buah segar itu.
“Hehe.”
“Wish lo apa tadi?”
Wonwoo menaikkan salah satu alisnya, “rahasia dong?”
“Masa ga ada wish yang mau beli sesuatu gitu? Biasanya kalo gue tanya temen gue, mereka bakal nyebut barang yang mau di beli.”
Pria bermata bak rubah itu kembali terkekeh yang membuat matanya menyipit, “wish gue ga bisa di beli.”
Mingyu mencibir mendengar jawaban Wonwoo, “coba apa? Gue mau bukti.”
Wonwoo menggelengkan kepalanya, “ga mau, rahasia. Cuma gue yang tahu.”
Mingyu memutar bola matanya sambil makan suapan keempat kue itu, “ga cocok sih minum bir sama ini. Birnya jadi pait, cuma cake-nya enak banget.”
“Iya enak... setengah udah lo abisin sendiri.”
Mingyu tertawa, “lo sih makanya cimit-cimit. Gue abisin lah.” balasnya, sambil meletakkan sendok miliknya. Ia membenarkan posisi duduknya lalu mengalihkan tatapannya ke arah langit malam itu.
Mingyu sangat jarang untuk bersantai di balkon ini. Biasanya ia menghabiskan waktunya di ruang kerja, atau di ruang tamu untuk menonton televisi. Tapi melihat Wonwoo yang hampir setiap malam pergi ke tempat ini, membuatnya penasaran.
“Gue masih ngerasa kalo gue mimpi keluar dari Storm Ent. Awalnya, waktu gue baru-baru terjun jadi model, gue sering banget dapet job. Bahkan gue pernah jadi support role walau cuma di awal-awal episode. Tapi sejak masuk ke sana, tiba-tiba aja jadi sesusah itu. Setelah gue sign sama LumiDAL tadi, gue ngerasa perbedaan treatment yang jauh banget. Gue ga tau apakah karena agensi gue sebelumnya itu agensi kecil atau gimana. Cuma beda banget.”
“Lo pernah offended seseorang ga di sana?”
“Seingget gue ga pernah. Tapi ga tau kalau gue ga sengaja. Kalau lo tanya soal orang yang approach gue ada ulterior motive, sejauh yang gue inget itu ga pernah ada. Maknya gue kadang heran, gue ga semenarik itukah?”
“Lo mau punya orang yang modelan kayak gitu?”
Wonwoo cepat-cepat menggelengkan kepalanya, “ga gitu… gue juga ga mau jadi play thing. Gue ngerasa kalau gue bisa bersaing dengan potensi yang gue punya. Tapi, satu kesempatan pun ga pernah dapet.”
“Cara bicara lo, buat gue mikir lo pengen punya sponsor, like many actresses and actors who approach me, they obviously come for money, yet they dare to try to seduce me, acting all innocent as if they were the purest souls. Gue baru kenal lo sebentar, tapi gue ga kebayang lo orangnya kayak gitu. Or do you?”
“Gue pernah putus asa, dan emang pernah punya pikiran itu karena suggestion dari agent gue dulu. Dia kasi gue invitation party. Gue ga dateng... Tapi bedanya gue sekarang sama lo dan mereka yang deketein lo itu apa?”
“Beda. Lo ga jebak gue buat tidur bareng then pake itu untuk ngancem gue. Yang nawarin hubungan ini gue, bukan lo. Gue ga bayar lo karena kita tidur bareng. Gue bayar lo acting jadi pasangan gue. Hak-hak yang lo dapet itu sama seperti apa yang seharusnya gue kasih buat pasangan gue. Apa yang kita lakuin sekarang itu sama kayak beberapa temen gue lakuin. Bedanya, mereka nikah karena bisnis, gue nikah buat menghindar.”
Wonwoo menatap Mingyu dalam diam. Ia sedikit tidak mengerti mengapa nada bicaranya terdengar sedikit marah.
“Lo mikir diri lo ga ada bedanya sama mereka ya, Wonwoo?”
Wonwoo tersenyum tipis, tanpa menjawab pun Mingyu sudah bisa menebaknya.
“Jangan. Gue ga berpikir lo serendah itu. Okay, LumiDAL memang punya keluarga gue. Tapi, dia scout lo bukan semata-mata karena lo pacar gue. Semua project-project lo sebelumnya udah ada di tangan Jun dan sudah di review langsung sama Seungcheol. Dia ga main-main kalau mau rekrut orang. Even lo pacar gue, kalo lo ga masuk standar dia, lo ga akan bisa join Lumi. Tapi lo bakal di lempar ke agensi lain. Seandainya pun lo mikir lo sengaja masuk Lumi supaya mikir lebih gampang ngontrol hubungan kita, lo juga salah. I can manage to control us, even while you’re still with your former agency . Sayang, yang gue lakuin semua itu udah di calculate. Dan lo ada di Storm Ent emang harus gue eliminasi,”
“Lo ngapain aja Mingyu.”
“Everything that you can never imagine. Gimana pun juga lo akan jadi pride gue di depan keluarga gue. Jadi gue ngelakuin semaksimal yang gue bisa buat lindungin lo, termasuk mistreatment yang lo dapetin dari agensi lo.” Tegas Mingyu.
Wonwoo menghela nafas kecil, ia menyesap kembali bir di tangannya dan meneguknya sampai habis setengah.
“Hey,” panggil Mingyu.
Wonwoo menolehkan kepalanya, dan detik berikutnya ia mengerang saat Mingyu menyentil jidatnya.
“Aw! Lo nagapain ngejitak gue!?”
“Kelapa lo yang kecil ini kenapa isinya negatif? Ada yang ngomongin lo kah pas di Lumi?” tanya Mingyu menatap Wonwoo dengan wajah serius.
“Ga ada. Lo aja yang baru tau kalo isi kepala gue negatif semua.” jawab Wonwoo acuh. “Gue ngerasa kalau apa yang gue kasih ke lo itu ga sebanding dengan bayaran lo ke gue.” lanjutnya.
Mingyu mengerutkan keningnya, “kan lo tetep balikin uang penalty-nya ke gue, apa lagi yang lo rasa kurang?”
Wonwoo mengedikkan bahunya, “ga tau. Belum ketemu gue jawabannya.”
Mingyu baru ingin membalas Wonwoo, namun perhatiannya teralihkan oleh gerimis hujan. Ia mengerutkan keningnya melihat hujan yang datang tanpa awan mendung.
“Gerimis, lo ga mau masuk? Dingin.”
“Lo duluan aja, gue masih mau disini.”
“Ya udah, gue juga.” balas Mingyu yang berpindah duduk tempat kesamping Wonwoo. Menggesek tubuhnya membuat lengan keduanya menempel.
“Lo kenapa sih?”
“Biar ga kedinginan. Lo kan ga kuat dingin.” jawab Mingyu membuat Wonwoo mendengus, sambil kembali menyesal minuamannya.
“Gue ternyata masih belum kenal lo ya?” tanya Mingyu tanpa menolehkan kepalanya ke arah Wonwoo.
“Hm..” balas Wonwoo menggumam.
“Kalau ada sesuatu yang ngeganjel. Lo bisa cerita ke gue. Gue juga pendengar yang baik kok.”
Mendengar itu Wonwoo tersenyum, “iya… cuma gue belum bisa. Terlalu kusut. Nanti aja ya, kalo gue udah kenal lo lebih dalem.”
“Agak sakit gue, ternyata bagi lo kita ga sedeket itu?”
Wonwoo hanya bisa menggelengkan kepalanya, “kita emang orang asing Mingyu. Cuma ide gila lo aja yang buat kita terikat.”
Ia bisa mendengar Mingyu terkekeh disampingnya, “tapi gue ga nyesel. Ketemu sama lo gue ga nyesel.” ungkap Mingyu.
Wonwoo menoleh dan membuat kedua mata mereka bertemu, “gue juga ngerasa sama untuk yang itu. Gue seneng bisa ketemu lo, Min...” balasnya, sebuah senyuman tulus terukir di wajahnya.
Wonwoo tidak berbohong. Bertemu dengan Mingyu mungkin memang sebuah jimat keberuntungan untuknya. Ia merasa pertemuannya, mengawali kebebasan yang ia inignkan.
Suara rintik hujan yang semakin menjadi memenuhi tempat itu saat tidak ada lagi ungkapan yang mereka utarakan. Hanya sebuah tatapan satu sama lain dengan senyuman yang masih bertengger. Tatapan dalam satu sama lain itu seakan menjadi ungkapan kalimat yang tidak bisa mereka sampaikan satu sama lain.
Mingyu yang benar-benar berterima kasih kepada Wonwoo yang membantunya, dan Wonwoo yang berterima kasih karena Mingyu menyelamatkan hidupnya. Mingyu mungkin tidak tahu, keluarnya dia dari agensi lama itu membuat rantai yang membelegu di kakinya perlahan mulai retak.
Suara gerimis hujan peralahan berubah menjadi rintik yang semakin besar. Namun tidak membuat keduanya beranjak dari tempat mereka. Masing saling bertukar tatap dan juga senyum.
Mungkin karena cuaca yang mulai mendingin, dan aroma hujan yang menenangkan, membuat keduanya tidak sadar jika perlahan senyuman mereka berakhir menjadi sebuah kecupan.
Wonwoo tidak sadar dengan dirinya yang menjatuhkan bir di tangannya, dan Mingyu juga tidak sadar jika tangannya sudah menekan tengkuk leher Wonwoo yang membuat ciuman mereka menjadi semakin dalam.
Deru nafas yang hangat berbaur dengan aroma bir dan strawberry serta sedikit rasa manis dari cream cake yang baru saja Wonwoo makan.
Lenguhan kecil yang mulai terdengar, tidak menghentikan mereka. Keduanya seakan larut dalam suasana malam gerimis. Seakan mencari kehangatan di tengah malam yang mendingin.
Kelopak mata Mingyu terbuka perlahan, melihat jika Wonwoo tengah memejamkan matanya, menikmati setiap lumatannya lalu detik berikutnya, ketika ciuman mereka terlepas. Wonwoo membiarkan dahi memeka beradu.
Mingyu bisa melihat deru nafas berat dari pria itu dengan bibirnya yang bengkak dan memerah. Saat Wonwoo membuka matanya perlahan, Mingyu tersenyum, "That was good. You taste like strawberries.”