Narasi 1
Wonwoo menghela nafas malas melihat makanan yang ia ambil tanpa berpikir. Rasa kesalnya membuatnya mengambil setiap menu yang ia lewati.
Sekarang, melihat tumpukan makanan itu malah membuatnya semakin merasa resah. Suasana hati yang awalnya cerah berubah mendung dengan drastis. Memang sejak awal ia tidak seharusnya berharap.
Sambil merutuki dirinya, ia menelan paksa makanan-makanan yang terasa hambar itu.
Wonwoo meletakkan alat makannya setelah menelan suapan es krim stroberi yang sudah setengah menjadi cair.
Dengan menyandarkan tubuhnya, ia mengelus pelan perutnya yang terasa penuh.
Sepertinya ia tidak sanggup untuk menyantap makan malam setelah ini, pikirnya.
Menatap orang-orang yang berlalu lalang untuk makan di restoran itu membuatnya kembali merenung atas kesulitan dirinya untuk mendapatkan sebuah project untuknya unjuk diri.
Wonwoo merasa dengan kemampuannya ia bisa bersaing, tapi, jika membicarakan faktor keberuntungan…
Sepertinya hal itu tidak pernah ada di pihaknya.
Kesal?
Tentu saja.
Ia sudah berusaha sangat keras, datang dari satu audisi ke audisi lain, bahkan menjadi daily worker kru produksi untuk mencari informasi dan mencoba peruntungannya berteman dengan casting team.
Namun nihil. Tidak ada audisi yang tembus untuknya bermain di sebuah film maupun drama pendek.
Bahkan terkadang iklan pun, ia hanya menjadi orang pajangan dan lebih buruknya, perannya tiba-tiba di hapus.
Entah sudah berapa kali hal itu terjadi, Wonwoo tidak lagi bisam menghitungnya.
Tapi ia masih belum menyerah.
Mungkin Hoshi benar, belum waktunya.
“Dia suka makan jangkrik. Kadang belalang. Namanya—”
Kedua alis Wonwoo berkedut saat kalimat absurd itu membangukan renungannya. Semakin ia mendengar lontaran-lontaran kalimat orang yang duduk di belakangnya, semakin membuat kepalanya sakit.
Ia tidak tahu apa yang tengah orang itu bahas, namun sepertinya hal itu tidak pantas dibicarakan di tempat makan?!
Dengan wajah tertekuk ia bangkit dari tempat duduknya. Merasa sedikit penasaran dengan bagaimana bentuk orang yang membicarakan seluruh nama serangga yang pernah ia dengar untuk dijadikan makanan.
“Sayang?!”
Wonwoo yang sudah memiliki suasana hati yang buruk mengerutkan keningnya, menatap pria yang terlihat terkejut ketika bertatapan mata dengannya.
“Aku bisa jelasin sayang.”
“???”
Belum sempat ia bereaksi atau merespon ucapan pria itu, Wonwoo bisa merasakan jika tubuhnya ditarik masuk ke dalam dekapan orang asing.
Seketika aroma mineral bercampur woody menyeruak masuk ke dalam hidungnya.
“Let me explain everything later. Don’t get mad at me, okay?”
Otak Wonwoo berputar keras memikirkan lontaran kalimat-kalimat aneh itu.
“Jangan marah sayang… tolong gue.”
Wonwoo mengernyitkan matanya, ketika pria itu mendorong tubuhnya Wonwoo bisa melihat wajah asing tampan yang terlihat frustasi.
“Lo—”
Belum sempat Wonwoo melontarkan pertanyaan. Pria itu membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman.
“Mngyu! Lo niat mau jalin hubungan sama gue ato cuma maen-maen?! Kenapa lo setuju kita katemu kalo lo udah ada pasangan!? Lo cuma buang waktu gue!”
Pria bernama Mingyu itu melepaskan tautan bibirnya, lalu menarik Wonwoo ke belakang tubuhnya, menyembunyikannya.
“Karena gue ga bisa nolak permintaan Mama. Gue emang belum cerita kalau gue udah ada pasangan. Tapi sekarang gue udah muak. Gue capek nutupin hubungan gue.”
Pria yang memiliki paras tampan dan dominan cantik itu menatapnya tidak percaya.
“Lo boong kan? Bilang aja kalau lo ga suka sama gue?”
“Emang? Kan gue udah ada pacar?”
“Gue ga percaya. Apa alasan lo nolak gue?”
“Gue udah punya pacar. Dan gue ga suka lo. Ayo, sayang… Kita harus bicara.”
Wonwoo yang masih tertegun dengan apa yang baru saja terjadi hanya bisa membiarkan jemarinya digenggam dan dituntun ke arah receptionist dan setelah ia sadar, ia sudah berada di ruang tamu kamar di hotel itu.
“What the—?!”