Seungkwan bertanya sangat hati-hati. Sejak Wonwoo sampai di dalam kamarnya, pria itu sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun. Matanya merekat menatap lekat-lekat ke arah ponsel miliknya.
“Gue ga laper.”
“Lo cuma makan dua sendok aja tadi,”
“Kayaknya gue kenyang gegara kena infuse deh. Lo makan aja.” jawab Wonwoo seadanya.
Keheningan menyelimuti kamar milik Seungkwan kala tidak ada satupun dari mereka yang membuka suara. Wonwoo masih sibuk dengan ponselnya dan Seungkwan sibuk menatap Wonwoo heran.
“Lo masih ga mau cerita sama gue?” tanya Seungkwan pelan.
Sesaat, gerakan di jemari Wonwoo terhenti, sebelum ia kembali menggulir layar ponselnya.
“Gue bener-bener bingung mau cerita dari mana.” balas Wonwoo pelan.
“Ada hubungannya sama Mingyu?”
Kebisuan dari Wonwoo menjadi jawaban dari pertanyaan Seungkwan.
“Minggu lalu, lo lari-lari nangis gitu karena dia?”
Wonwoo menganggukkan kepalanya dan detik berikut ia menceritakan semuanya. Dari apa yang terjadi saat ia menyerahkan data siswa kelasnya, apa yang Suha lakukan sampai foto yang dikirimkan Suha kepadanya.
Seungkwan mengerutkan keningnya sambil menggigit jarinya melihat dua jepretan di ponsel milik Wonwoo.
“Lo kenal?”
Seungkwan menggeleng pelan, “yang ini belum pernah gue liat sebelumnya. Lo juga tau sendiri, walopun gue sepupu Mingyu, circle temen kita itu beda banget. Temen olimpiade dia mungkin?”
Wonwoo mengendikkan bahunya.
“Mungkin. Tapi mungkin putusnya gue ama dia itu emang jalan gue tau kalo selama ini gue cuma backburner ya?”
Seungkwan mengangkat wajahnya, ia melihat ekspresi tersesat yang pertama kali ia lihat di wajah sahabatnya.
“Gue mau tanya ama Mingyu.”
“Jangan. Gue kayaknya belum siap untuk nerima fakta kalo dia emang mantan pertama Mingyu. Dia emang mau buat gue nyesel kan, mungkin karena itu dia sengaja posting chat dia sama orang itu…”
Wonwoo menghentikan kalimatnya, ia mengigit bibir bagian atasnya sambil meremas boneka bebek milik Seungkwan.
“Iya gue nyesel banget. Gue nyesel banget biarin diri gue bener-bener sayang sama Mingyu. Gue ngerasa bego banget.” lirihnya.
“Selama ini gue sama sekali ga perah ngerasa kayak gini waktu putus sama mantan-mantan gue sebelumnya walopun mereka maen di belakang gue. Cuma sama Mingyu… kenapa ya… kok gue ngerasa kayak lost, devestated knowing he loves someone and that’s not me?”
Meliat pelupuk mata Wonwoo sudah di penuhi oleh air mata, Seungkwan cepat-cepat berjalan ke arahnya dan membawa sahabatnya itu ke dalam pelukannya.
“Ga apa, lo nangis aja. Keluarin aja yang lo rasain, ya. Gue disini bakal dengerin semuanya.”
“Sayang banget gue sama Mingyu... Masa semuanya sia-sia? Gue ama dia kenal bukan baru empat bulan. Tapi, kenapa Mingyu sama sekali ga pernah bahas tentang orang itu? Dan kenapa begonya gue malah iyain pas dia nembak gue dulu ya?”
Seungkwan menepuk-nepuk punggung Wonwoo pelan, mencoba memberikan ketenganan di tengah gemuruh kesedihan yang di rasakan Wonwoo.
“Apa selama ini gue kurang peka sama Mingyu sampe ga sadar kalo dia itu punya orang yang dia tunggu? Tapi, kenapa dia buang-buang waktu buat pacaran sama gue? Kok dia nyakitin gue?”