“Lo kenapa manyun gitu?”
Wonwoo bertanya sambil menaikkan alisnya melihat ekspresi yang dikeluarkan Mingyu saat membalas pesan di ponselnya.
“Biasa ini anak-anak suka banget gangguin.”
Wonwoo terkekeh, “ngapain mereka?”
“Teasing gue. MV yang lo jadi model lagi heboh di bahas. Di twitter juga. Fans lo nambah, yang ngadain giveaway juga banyak.”
“Haha iya. Tadi Chan udah kirim ke gue. Emang bener, muka kayak gue rugi sih kalo ga jadi artis.” balas Wonwoo menyeringai membuat Mingyu di depannya mendengus.
“Makan deh, Min. Udah mateng. Enak banget dagingnya disini.” ujar Wonwoo sambil meletakkan daging panggang itu di mangkuk Mingyu.
“Lo suka?”
Wonwoo mengangguk antusias, “suka, lo tau dari mana restorannya?”
“Pops. Katanya lo pasti bakal suka, terus nyuruh gue ajak lo ke sini. Ini tempat punya temennya dia dan emang di buat model private kayak gini.”
“The power of connection ya. Daerah ini juga kayak ga common untuk tempat makan. Cuma bisa muncul restoran seenak ini.”
Mingyu tersenyum, “emang dibuat bukan untuk public. Lo musi punya member untuk booking di sini. Even punya member pun kadang harus antri. Tapi gue tadi pake nama pops sih. Jadi free access kapan aja semau gue.”
Wonwoo mencibir, “sombong banget yang punya privilege.”
Mingyu terkekeh, “kalo lo mau lagi, tinggal bilang aja. Privilege gue sama lo kan sama sekarang.”
Wonwoo menggeleng, “bisa aja deh lo.”
“Besok lo ada acara ga?”
“Besok ya… wait, gue coba cek dulu ya.” balas Wonwoo sambil memeriksa ponselnya.
“Gue besok harus ke Lumi buat sign contract support role di movie yang gue audisi waktu ini. Setelah itu gue kosong, kenapa?” Jawab Wonwoo sambil mengangkat kepalanya yang membuat matanya bertemu dengan Mingyu yang tersenyum.
“Pagi?”
“Iya, mungkin sekitar satu sampe tiga jam? Tergantung nanti sekalian Jun mau nego apa.”
“During lunch berarti udah kosong ya?”
“Udah, kenapa?”
Wonwoo mengerutkan keningnya dengan kepalanya yang sedikit miring, melihat senyuman di wajah Mingyu semakin lembar, saat ini Mingyu tengah merogoh saku coat yang ia kenakan hari ini.
“Besok nikah sama gue ya, Wonwoo?” tanyanya sambil membuka sebuah kotak beludru berwarna merah. Menampilkan dua buah cincin emas putih di dalamnya.
Melihat itu Wonwoo terdiam sesaat sebelum tawa lembut keluar dari bibirnya, “kenapa mendadak? Katanya lo mau nentuin harinya dalam tiga bulan kedepan?”
Mingyu terlihat berpikir, “gue liat-liat lo kayaknya bakalan sibuk… nanti gue malah dicariin blind date lagi. Ga mau.”
Wonwoo terkekeh, “haha, okay. Mana cincinnya?”
“Siniin tangan lo, gue pasangin.” ujar Mingyu yang meraih jemari Wonwoo. Ia menyematkan perlahan membuatnya tertumpuk dengan cincin yang ia berikan sebelumnya. Sesuai dengan permintaan Mingyu, ia tidak melepaskan cincin darinya. Kecuali ketika ia harus bekerja, ia akan memakainya sebagai kalung. Dan begitu juga dengan Mingyu.
“Ini custom ya?” tanya Wonwoo melihat cincin yang melingkar di jarinya.
“Iya. Ada inisial nama lo. Cincin yang satunya nanti bisa lo keep. Ga usah di pake keduanya ya.”
“Oh okay… mana sini jari lo. Gue pakein.” balas Wonwoo, mengambil cincin satunya dan menyematkannya di jari Mingyu.
“Ok, husband?”
Mingyu terkekeh, “right, husband.”
“Besok kita harus ke district office-nya langsung ya?” tanya Wonwoo, ada sedikit nada cemas di dalamnya.
“Ga perlu. Nanti kita ke villa-nya pops yang ada di deket sana. Kita selesaiin semuanya privately. Jadi lo ga perlu takut buat dilihat public.”
“Bisa gitu ya?”
Mingyu tersenyum, “bisa. Kan gue udah janji bakal lindungin lo. Jadi gue bakal lakuin apapun supaya nama lo ga sampe diketahui publik kalau kita udah nikah. Lo ga usah takut ya?”
Wonwoo mengangguk, “makasi ya, Min?”
“Gue yang seharusnya bilang makasi ke lo ga sih? Lo udah ngorbanin status lo buat gue.”
“Tapi lo yang udah bisa buat gue kayak sekarang? Bayaran lo ke gue udah lebih dari cukup sampe gue bisa ngelakuin apa yang dulu bahkan ga bisa gue harepin.”
Mingyu tersenyum, “kok lo tiba-tiba jadi mellow. Lo deserves it.”
Wonwoo terdiam sambil melipat bibirnya, “gue pingin meluk lo, cuma kehalang meja.” ujarnya membuat lawan bicaranya tertawa.
“Simpen buat besok. Pops minta ikut soalnya.”
Wonwoo memicingkan matanya, “ seriusan?”
Mingyu mengangguk dan kembali menyantap makanan di depannya, “iya, makanya dia offer di villa dia. Tapi emang lebih aman sih. Gimana pun juga power Pops itu jauh di atas gue.”
Wonwoo menganggukkan kepalanya, “kita ada perlu bawa sesuatukah buat kakek lo?”
Mingyu nampak berpikir, “paling nanti disuruh nginep disana langsung dan lo di minta masak. Lusa lo ada schedule?”
“Gue ada kelas martial arts, sore.”
“Oh. Yakin gue, lo di minta nginep sama dia. Nanti kita ajak Oreo juga. Gue minta Junho bawa ke tempat pops langsung.”
“Okay.”
ᯓᯓᯓ
Kim Jaemin menatap dalam diam ke arah cucunya yang tengah sibuk membantu Wonwoo mengisi formulir di depannya. Matanya memicing melihat cincin yang tersemat di kedua jemari mereka.
“Kalau sudah terisi, silahkan tanda tangan di sini ya.” ujar pengacara pribadi keluarga Kim.
Mingyu terlebih dahulu mengambil pulpennya dan menandatangani dokumen itu diikuti oleh Wonwoo.
“Nanti saya yang akan memproses ini ke Gu Office. Tapi, secara hukum dengan penandatanganan dokumen ini dan juga dengan saksi yang ada, hubungan kalian sudah resmi. Selamat, menempuh hidup baru Mingyu dan Wonwoo.” ujar pria berumur empat puluh tahunan itu.
Mingyu tersenyum, “thank you. Pops, look, I got married.”
Suara tepuk tangan terdengar dari Jihoon yang diikuti oleh Kim Jaemin dan juga orang dari pengacara keluarga Kim.
Setelah itu pun, mereka melanjutkan untuk melakukan sesi foto bersama untuk keluarga baru itu. Termasuk Oreo yang juga ikut masuk ke dalam frame keluarga inti Kim Jaemin.
“Hasilnya nanti mau dicetak atau tidak, Bapak?” tanya Jihoon sambil memperlihatkan hasil jepretannya.
“Cetak, nanti kasi Mingyu juga.” balas Kim Jaemin dengan matanya yang sibuk memperhatikan cucu dan suami-nya sedang bercengkrama dengan Oreo. Dia tidak bisa mendengar apa yang tengah mereka bicarakan, tapi ia bisa melihat jika Wonwoo beberapa kali tertawa dengan entah apa yang Mingyu bicarakan.
Keduanya nampak nyaman duduk berdekatan dengan tubuh menyender satu sama lain seakan tidak ada orang di ruangan itu selain mereka. Ia mendecak kecil membuat perhatian Jihoon untuk tertuju ke arah pandangnya.
“Pinter banget Mingyu actingnya. Kok bisa keliatan tulus gitu. Kalo Wonwoo sih emang kerjaannya, cuma ga nyangka aja Mingyu punya hidden talent. Bapak juga sih… pantes ya, blood related.” komentarnya panjang lebar yang membuat pria paruh baya itu semakin mendecak kesal.
Jihoon menyunggingkan senyuman jahil ke arah Kim Jaemin sebelum kembali mengarahkan kameranya untuk membidik potret Mingyu dan Wonwoo yang masih sibuk saling bercengkrama di living room.
“Bapak coba deh gabung ke sana, biar saya foto candid.” ujar Jihoon yang diikuti oleh pria paruh baya itu untuk berjalan ke ruang tamu.
Mingyu yang melihat kakeknya datang pun langsung menyambutnya, diikuti oleh Oreo yang mengibaskan ekornya.
“Oreo kayaknya suka sama pops. Pasti tadi dikasih treat banyak ya?” tanya Mingyu saat pria tua itu duduk di sebelah Wonwoo sambil mengelus-ngelus Oreo yang sudah meletakkan kepalanya di pahanya
“Kemarin saat shopping, ada demo dog treats, katanya itu sehat untuk anjing, jadi saya coba beli dan kasi dia waktu dia sampai. Ternyata dia suka sekali. Nanti saya minta Jihoon untuk beli lagi.”
Wonwoo tersenyum, “say thank you, Oreo?” ujar Wonwoo sambil memberikan isyarat menggunakan tangannya.
“Woof!” seru Oreo membuat kekehan terdengar dari bibir Kim Jaemin.
Oreo itu pintar. Hejuu mengatakan jika ia sudah pandai dalam beberapa command dan juga tidak terlalu nakal. Percis dengan laporan yang diterima Mingyu dari Junho—pengasuhnya.
“Kalian hari ini jadi menginap?” tanya Kim Jaemin.
“Jadi! Baju Igyu masih ada kan disini? Kita ga ada bawa pakaian sama sekali. Tapi, kamu bawa baju ganti buat class besok ya, sayang?”
“Iya, cuma bawa satu set aja. Ga kepikiran bawa baju buat tidur.” balasnya dengan jemari yang masih mengelus-ngelus punggung Oreo.
“Nanti pakai punya Mingyu saja. Bajunya ada banyak disini.”
“Hehe okay. Makasi, kakek. Hari ini mau makan apa? Aku janji mau masakin buat kakek…” tanya Wonwoo.
“Apa saja, saya tidak masalah.”
Mingyu mencibir, “gengsi dia, sayang. Maunya duruchigi sebenernya, makanya tadi aku cek kulkas isinya pork semua.”
Wonwoo tertawa mendengarnya sementara Kim Jaemin hanya mendecak, “dia selalu pamer kamu masak itu. Kan saya juga jadi pingin. Dia sengaja tanya saya sudah makan atau belum, tapi tidak pernah ada wacana untuk invite saya dinner bareng.”
“Kok kamu jahat gitu, Min? Nanti setiap aku masak, aku janji buatin porsi buat kakek ya. Nanti aku chat juga biar Mingyu ga abisin sendiri.”
“Ok. Kamu jangan ingkar janji.”
“Pinky promise?” tanya Wonwoo sambil menjulurkan jari kelingkingnya yang membuat pria tua itu mendengus.
“Promise.” balasnya sambil menautkan jemarinya, membuat Mingyu hanya bisa memutar bola matanya.
“Jangan lupain gue ya, Wonwoo.” celetuk Jihoon yang masih memegang kamera di tangannya.
“Dia tidak perlu/Dia ga usah.” balas Mingyu dan Park Jaemin secara bersamaan yang membuat suasana itu berubah menjadi tawa.
Percakapan mereka pun berlanjut sampai Kim Jaemin sengaja meminta orang untuk menyiapkan jamuan sore untuk menemani mereka. Sampai akhirnya, Wonwoo pergi terlebih dahulu untuk melihat bahan-bahan apa saja yang ada di villa Kim Jaemin.
“Gue bantu ya, Wonwoo.” celetuk Jihoon yang menyusulnya.
“Kenapa lo ga bareng sama mereka aja?”
“Males, pasti mereka bakal bahas kerjaan. Dulu kalau gue ikut kumpul ya bakal ngebahas future-nya Mingyu. Tapi sekarang kan kalian udah nikah, bahasan mereka shifted ke kerjaan. Bosen gue dengernya.” balasa Jihoon.
Wonwoo tersenyum mendengarnya dan kembali memfokuskan dirinya untuk melihat bahan-bahan yang ada di dalam kulkas.
“Gimana rasanya menikah?” tanya Jihoon tiba-tiba yang membuatnya tanpa sadar menatap pria itu.
Wonwoo mengedikkan bahunya, “biasa aja? Kan lo tau ini boongan? Thrill-nya juga ga ada karena Pak Jaemin juga udah tau. Itu sebenernya buat gue lebih santai.”
“Tapi Mingyu juga jadi keliatan alami banget acting-nya. Karena influence lo ya?”
“kebawa suasana mungkin? Atau anaknya emang jago, cuma ga sadar. Sebenernya secara ga langsung gue sekarang kan lagi acting di depan Mingyu doang. Yang gue boongin sekarang itu dia.” sahut Wonwoo melihat ke arah living room sekilas.
“Jahat ya gue? Mingyu baik banget, tapi gue malah mainin dia di belakang. Menurut lo kalau dia tau, dia bakal benci gue ya?”
Jihoon butuh waktu untuk menjawab pertanyaan Wonwoo. Ia bisa melihat jika pria berkacamata itu tidak mengatakan apapun lagi setelah bertanya seperti itu—seakan ia menunggu Jihoon untuk menjawabnya.
“Mungkin. Mingyu paling ga suka dikhianatin. Kalau maen-maen sama kepercayaan dia…”
“No mercy, ya?” Wonwoo memotong kalimat Jihoon.
Sikap diam Jihoon membuat Wonwoo menyunggingkan senyuman lemah, “sayang banget, gue bakal kehilangan orang sebaik Mingyu nanti.”
“Bapak sama gue bisa jamin kalau itu ga akan terjadi. Lo ga usah khawatir.”
Wonwoo tersenyum, “gue tau. Cuma, tetep ketakutan itu ada. Kita ga tau kedepannya kayak gimana kan? Bisa aja gue yang ceroboh.”
“Apa yang lo takutin?”
Sambil mempersiapkan bahan-bahan masakan, Wonwoo terlihat berpikir untuk menjawab pertanyaan itu, “sejujurnya untuk sekarang, gue takut terbiasa. Yang gue lakuin ini itu ga ada rest-nya. Beda kalau gue lagi acting untuk project gue. Gue harus keliatan sealami mungkin supaya Mingyu ga curiga. Gue takut terlalu nyaman dan waktu gue harus selesaiin semuanya malah buat kekacauan. Mingyu beneran baik banget sama gue dan setiap kebaikan yang dia kasi itu buat gue semakin ngerasa bersalah.”
“Mingyu baik sekaligus nyeremin buat gue. Dia beneran memperlakukan gue seakan gue bisa bergantung sama dia. Cuma, kayaknya dia sial ketemu gue. Gue masih belum kebayang gimana harus nyelesaiin semua ini sesuai perjanjian sama Pak Jaemin. Apa yang harus gue lakuin untuk minta Mingyu untuk berhenti dan batalin kontrak kita.” lanjut Wonwoo yang sekarang sedang memotong daging, memunggungi Jihoon yang menatapnya tidak bergeming.
“Ga ada yang tau juga kalo kedepannya lo ga harus berhenti.”
Mendengarnya, membuat Wonwoo terkekeh kecil, “rasanya gue sendiri ga bakal sanggup harus pura-pura jadi pasangan Mingyu selamanya. Kehidupan Mingyu sama gue beda, kita ga bisa selamanya kayak gini. Lo denger sendiri kan kalau dia sebenernya udah punya jodoh. Gue yakin lo tau kan siapa orangnya.”
Wonwoo melirik dan Jihon menganggukkan kepalanya.
“Orangnya ada di sini kah? Di sekitar Mingyu maksud gue.”
Jihoon menggeleng, “ga. Dia ga tinggal di Korea. Gue belum dapet informasi kapan dia akan balik ke sini."
“Mingyu kenal ga sama orangnya?”
Jinho kembali mengangguk, “iya, they used to be close. Tapi kayaknya ga sampe in relationship. Salah satu temen sekolah dia dulu.”
“ Dari sana lo udah tau kalau hubungan ini ga akan lama. Cuma sekarang gue harus ngatur biar selesainya lebih cepet dari perjanjian gue sama Mingyu. Tapi gue rasa Mingyu ga akan keberatan. Dia bilang gue bisa mutusin kontrak kita kapan pun gue mau.”
Jihoon tidak memberikan respon, ia berjalan mendekati Wonwoo dan membantunya untuk memotong sayuran-sayuran yang baru saja dibersihkan pria berkacamata itu.
“Kalau seandainya, Mingyu beneran suka sama lo gimana?” tanyanya pelan.
“Gue ga pernah berpikir kesana. Kayaknya sih ga mungkin, paling itu cuma fling. Cuma kebawa suasana aja. Lo tau kan gimana dia cinta mati-nya sama Kak Han? Ngebayangin dia suka ama orang lain aja susah, apalagi dia suka sama gue?” kata Wonwoo balik bertanya dengan tawa kecil.
Tidak ada ekspresi apapun yang keluar dari Jihoon, keningnya mengernyit tidak puas dengan jawaban yang diberikan olehnya,
“Terus lo? Seandainya lo suka sama Mingyu?”
“Ya udah. Biarin aja, nanti juga kalau kita udah selesai, dengan gue ga ketemu Mingyu, perasaan itu bakal hilang. Dunianya Mingyu itu jauh banget. Gue ga akan pernah bisa ke sana. Gue aware dari awal, kalau orang kayak gua itu cuma bisa mimpi bisa dapetin Mingyu. Ini pun jadi pasangan pura-pura dia udah jackpot buat gue.” balas Wonwoo memamerkan senyumannya yang masih respon dengan wajah datar oleh Jihoon.
“Gue ga ngerti…” kata Jihoon.
“Kenapa?”
“Kenapa gue rasa ada kalimat boong yang lo ucapin. Cuma gue ga tau bagian mana yang boong.”
Wonwoo kembali tersenyum, “ga usah lo pikirin. Nanti juga lo bakal lupa.”
“Jadi kedepannya seandainya kalian suka satu sama lain. Lo tetep bakal cerai? Walaupun Bapak juga setuju kalian menikah.”
“Iya. Sekarang lo bisa anggep gue lagi kerja buat jagain jodoh orang. Sekaligus jagain Mingyu supaya dia ga perlu cari orang buat pura-pura.”
“Lo ga ngerasa keberatankah?”
“Boong kalo gue bilang ga. Tapi sama kayak yang gue bilang sebelumnya, kakek sama cucu itu ga kasi gue pilihan. Dan lagi bayarannya juga gede banget.”
Jihoon menghela nafas kecil melihat Wonwoo masih tetap menyunggingkan senyumannya seakan dia benar-benar tidak memiliki masalah dengan konsekuensi yang akan ia hadapi kedepannya.
“Kalau lo perlu bantuan. Lo hubungin gue aja. Gue emang kerja sama Bapak, cuma gue paham posisi lo, gue pasti bakal bantu lo. Ga semua hal gue ceritain ke bapak. Lo bisa percaya sama gue ya, Wonwoo.”
Wonwoo mengangguk, “makasi Jihoon. Gue denger lo anak asuh Pak Jaemin ya? Mingyu cerita sekilas aja.”
“Iya. Kedua orang tua gue udah ga ada, keluarga mereka juga ga ada yang bisa ngajak gue karena ekonomi yang buat gue berakhir di panti asuhan tempat Pak Jaemin biasa donasi. Kebetulan aja kemampuan gue itu impress Bapak yang akhirnya decide buat sekolahin gue. Sebenernya ada dua, tapi mereka sekarang lebih fokus bantu perusahaan dia di UK, bareng sama papanya Seungcheol.”
“Beruntung banget ya lo bisa ketemu sama keluarganya Mingyu.”
Jihoon tidak bisa memungkiri untuk mensyukuri itu. Pertemuannya dengan keluarga Mingyu memang membawa perubahan yang besar di kehidupannya.
“Lo gimana?”
“Hm… bukannya lo sama Pak Jaemin udah nyari tau ya?”
“Kita cuma tau sebatas lo anak panti asuhan aja. Tapi ga mendetail, karena ga ada reportnya. Kemungkinan karena panti tempat lo tinggal sempet kebakaran. Jadi dokumen lo ikutan hilang.”
Wonwoo menganggukkan kepalanya, panti tempatnya tinggal memang pernah mengalami kebakaran tepat saat ia pergi dari tempat itu.
Sebenarnya, ia merasa tidak memiliki ikatan apapun dengan orang-orang yang ada di sana. Ia tidak memiliki teman dekat ataupun pengasuh yang bisa ia percaya.
Jadi, ketika ia meninggalkan tempat itu, ia merasa tidak ada hal lagi yang harus ia ingat di sana.
“Gue dibuang, alasannya gue ga tau. Mungkin mereka benci sama gue.”
Jihoon mengernyitkan keningnya, “lo ga pernah coba untuk cari?”
“Ga ada lead. Tapi ngeliat gue dibuang umur tiga tahunan, bukannya itu artinya mereka ga mau gue ada di kehidupan merka, ya? Ga ada gunanya buat gue untuk nyari orang yang udah buang gue kan?”
“Mungkin mereka punya alasan? Gue bisa bantu, kalau lo mau.”
Wonwoo menggeleng, “it’s okay. I’m good now. Gue takut danger jawaban kenapa mereka buang gue. Jadi lebih baik gue ga tau.”
“Okay. Tapi, seandainya lo pingin tau orang tua lo. Gue bisa bantu lo, ya.”
“Okay. Makasi ya, Jihoon.”
Keduanya pun kembali ke kegiatan mereka sambil membicarakan hal random. Ternyata Jihoon orang yang cocok ia ajak untuk bercengkrama. Dalam beberapa hal kesukaan mereka pun sama. Dan bagi Wonwoo, mungkin Jihoon tidak seburuk yang ia pikirkan. Awalnya ia mengira jika Jihoon adalah orang yang susah untuk di approach, tapi ternyata dia lebih friendly dari penampilannya.
Beberapa kali bahkan ia membuat candaan yang diluar pikiran Wonwoo, cukup membuatnya merasa terkejut dengan kemampuan melawaknya.
Agenda memasaknya pun menjadi lebih cepat dari bantuan Jihoon walau beberapa kali ia teralihkan dengan Oreo yang tiba-tiba saja datang saat mencium aroma daging.
“Hey, masih lama ya?”
Wonwoo bisa merasakan jika sepasang tangan tengah melingkar di pinggangnya dengan tumpuan dagu di bahunya.
“Belum, ntar lagi.” balas Wonwoo santai yang lagi-lagi membuat Jihoon memicingkan matanya.
“Ngapain lo ngeliatin kita kayak gitu?” tanya Mingyu ketus.
“Apaan sih lo. Mata gue kan emang gini,” balas Jihoon menggertak.
Mingyu memutar bola matanya, “laper sayang,” komentarnya sambil mendaratkan sebuah ciuman di tengkuk leher Wonwoo.
“Kalau kamu gelayutan gini malah buat aku masaknya jadi lama. Kamu balik gih, tememin kakek.” balas Wonwoo.
Mingyu menggumam kecil, ia menenggelamkan kepalanya lagi di tengkuk leher Wonwoo sambil menggerakkan kepalanya kekanan dan ke kirim.
“Min, geli. Jangan nuzzle kepalanya kayak gitu. Kayak Oreo aja!” protes Wonwoo dengan kedua tangannya yang sekarang berusaha untuk melepaskan pelukan Mingyu.
“Lo lama banget disini sama Jihoon. Hati-hati dia bahaya.”
“Maksud lo apaan sih!?” hardik Jihoon.
“Liat kan. Galak. Lo nanti ketularan nanti jadi galak.”
“Mending lo balik nemenin kakek lo sebelum ini piring gue lempar ke muka lo.”
“Sayang, aku diancam.”
Wonwoo terkekeh, “kamu sih mulai duluan. Balik dulu sana, temenin kakek maen sama Oreo. Dikit lagi ini selesai.”
Mingyu menghela nafas kecil, “butuh recharge. Balik badan dulu deh sayang.”
Mau tidak mau Wonwoo memutar badannya, dan dalam satu kedipan mata ia bisa merasakan kedua tangan Mingyu tengah menangkup wajahnya dan mendaratkan sebuah ciuman.
Jihoon memutar bola matanya melihat sepasang keluarga baru itu tengah melumat satu sama lain di dalam dapur.
Suara kecupan di akhir pun dapat Jihoon dengar lebih dari tiga kali sebelum akhirnya Mingyu pergi dari tempat itu sambil terkekeh puas.
“Pura-pura nikah tapi kelakuannya kayak udah kecintaan aja. Emang ada acting se-real itu? Yakin gue, piala Oscar diborong Mingyu kalau itu beneran acting.” ujar Jihoon yang menggerutu dan Wonwoo sama sekali tidak memberikan respon apapun.