“Sorry, dek. Kita jadinya ketemu hari ini. Gue liat interview, lo belum tidur, ya? Mau di undur aja, ga?” tanya Seungcheol masih duduk meja kerjanya.
“Ga perlu kak. Gue lagi ga bisa tidur, nanti malam aja. Sekalian rotate waktu tidur gue biar balik normal.”
“Lo yakin? Besok lo ada masih ada schedule photo bareng DK buat Haon kan?”
Wonwoo mengangguk, “it’s okay, kak. Masih aman.”
Seungcheol menghela nafas kecil melihat kekeraskepalaan Wonwoo, “ok. Gue tadi minta secretary gue beli minum dan light snack. Kata Jeonghan lo pasti suka, dia rekomen ini.” ujar pria itu bersamaan dengan secretary-nya yang masuk membawa nampan berisi minuman dan beberapa jenis cemilan.
Melihat jenis-jenis cake di depannya, Wonwoo menyunggingkan senyumannya dengan perasaan bersalah yang menyentil hatinya, “thanks, Kak.”
Seungcheol mengangguk dan duduk di sofa tamu, tepat berseberangan dengan Wonwoo.
Keduanya terdiam, Wonwoo terlihat memainkan gelas minumannya dan Seungcheol memperhatikan pria yang lebih muda darinya.
Keadaan Wonwoo tidak jauh berbeda dari Mingyu. Keduanya sama-sama terlihat kurang istirahat dengan kantung mata yang cukup tebal bersembunyi di balik kacamata itu.
Kelelahan dapat Seungcheol lihat dari wajah Wonwoo yang terlihat sedikit pucat—mungkin karena kurang tidur.
Sama dengan Mingyu. Terakhir kali ia melihat Mingyu itu saat ia bertunangan dengan Jeonghan. Dan pria itu terlihat sama buruknya dengan Wonwoo. Adiknya itu bahkan terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Entah karena masalah di perusahaannya atau tidak. Tapi Seungcheol tahu, jika Wonwoo adalah salah satu penyebab Mingyu menjadi berantakan.
“Kak, gue mau terminate contract gue sama LumiDAL.”
Seungcheol mengerutkan keningnya, “ini beda sama apa yang Jun sampein ke gue dan lo ga ada bahas hal ini di chat sama gue. Kenapa dari rest tiba-tiba jadi terminate? Ada yang kasi lo offer lebih?”
Wonwoo terlihat meremas gelas di tangannya dan menggeleng pelan, “ga ada.”
“Kasi gue alasan yang bisa gue terima. Kenapa lo bilang kalau lo ga bisa lama-lama ada di industri ini? Terus tujuan lo di Lumi apa?”
Wonwoo tahu jika saat ini, Seungcheol menahan marah. Ia tahu jika pria itu tidak suka dengan orang yang main-main dengan karirnya. Terlebih jika mereka ada di bawah naungannya.
“Gue akan bayar penaltinya.”
“It’s not about that. Jangan buat gue ngulang pertanyaan gue dua kali, Wonwoo.”
Wonwoo menggigit bibir bawahnya, jemarinya yang memermas gelasnya sekarang bertautan dan mulai mengopek satu sama lain. Nafasnya terasa sangat berat untuk membuka suara. Ia bingung.
Bibirnya terasa kelu.
“Kak sorry, gue udah boong ke lo sebelumnya. Gue dan Rion—ada hal yang terjadi antara gue dan Rion. Gue ga bisa jelasin banyak, tapi orang yang kirim foto gue dan Pak Jaemin ke mantan journalist itu Rion.”
Seungcheol semakin mengerutkan keningnya, “gue ga ngerti. Ada apa dengan lo dan Rion? Did you offend him?”
Wonwoo menggigit bibir bawahnya, bagaimana caranya menjelaskan jika Wonwoo melakukan hal yang lebih dari sekedar membuatnya tersinggung?
Wonwoo tidak ingin menceritakan tentang hidupnya. Bukan karena dia peduli dengan tanggapan Seungcheol, tapi dia tidak mau memperlihatkan luka yang selama ini masih basah dan terus menyakitinya.
“Ada kejadian antara gue dan Rion hal itu yang buat dia dan mamanya sampe harus pergi dari Korea. Dia benci gue karena itu.” balas Wonwoo.
Ia tidak berbohong, seperti saran Hoshi. Hanya saja ia tidak bisa menceritakan lebih detail dari ini.
“Kejadian itu ga akan pernah bisa dia ungkapin ke media. Karena itu, cara dia buat melampiaskan kebenciannya dengan berita itu dan juga dengan apa yang terjadi sama perusahaan Mingyu sekarang.”
“Gimana?”
Nafas Wonwoo terasa tercekat, ia berusaha untuk mengangkat kepalanya dan memberanikan diri menatap Seungcheol, “apa yang terjadi sama Mingyu, semua itu karena gue. Gue ga tau sejauh mana Rion tau hubungan gue sama Mingyu. Tapi, gue rasa dia ga tau kalau hubungan gue sama Mingyu itu cuma pura-pura. Gue udah coba buat jelasin ke dia kalau kita ga ada hubungan apapun. But he still…”
Wonwoo tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia menggigit bibir bagian dalamnya cukup kuat, sampai ia merasakan rasa anyir darah.
“Dia ga akan berhenti, kak. I need your help to stop him. Gue ga tau harus minta tolong sama siapa lagi selain lo.”
Seungcheol terdiam. Kepalanya tiba-tiba berdenyut mendengar apa yang baru diungkapkan Wonwoo.
“Kenapa Rion sampai kayak gini ke lo? Gue ga paham. Kenapa dia sampe ngelakuin hal sejauh ini karena lo.”
“I did something to him and his family. Please don’t ask more than that, Kak. Gue yang akan handle hal itu. Tapi, untuk sekarang gue butuh bantuan lo buat dia berhenti.”
Melihat Seungcheol diam sambil memijat pelipisnya, membuat rasa gugup menyergapi Wonwoo. Bayang-bayang penolakan sudah menghantuinya. Memikirkan untuk mendatangi Seungcheol bukan keputusan yang ia ambil kemarin malam. Ia sudah memikirkan ini bahkan sejak nama Mingyu di sebut oleh Rion.
Jika Seungcheol enggan membantunya seperti Baek Daeho, Wonwoo benar-benar tidak tahu harus melakukan apa lagi.
“I have a condition.”
Wonwoo mengerjapkan matanya mendengar kalimat itu keluar dari bibir Seungcheol. Walau terkesan datar, tapi hal itu membuat Wonwoo sedikit percaya dengan harapan.
“Don't terminate your contract with Lumi. I'll let you take a break, but I won't allow you to leave Lumi before your contract ends. Entah nanti lo mau lanjut atau ga, itu urusan belakangan.”
Mendengar itu tidak membuat Wonwoo lega. Entah, ia merasa jika tubuhnya ringan, dan keadaannya sekitarnya terasa berputar. Kondisi yang ditawarkan Seungcheol memberatkannya.
Wonwoo tidak bisa menunggu selama itu untuk pergi. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan dengan Rion jika Seungcheol setuju dengan rencananya, tapi dengan dia masih ada di tempat ini.
Wonwoo tidak yakin Rion akan diam. Wonwoo tidak yakin jika Jung Eunrim akan membiarkannya jika ia berhasil melaporkan anak kesayangannya.
Ia menggelengkan kepalanya, “gue ga bisa kak.”
“Gue ga minta lo jawab sekarang. Lo bisa kasi jawaban ke gue setelah pikiran lo jernih. Taking a short break is fine with me.”
Wonwoo memejamkan matanya cukup erat sambil menggigit bibir bawahnya. Pada akhirnya, semua keadaan membuatnya tidak memiliki pilihan sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Apa bedanya dengan dia membiarkan Rion melakukan apapun keinginannya seperti sekarang?
Masih berada di tempat di mana Rion dan Ibunya berpikir kehidupannya baik-baik saja, sama saja dengan Wonwoo menginjak sebuah ranjau. Dua pilihan yang ia punya adalah membiarkannya meledak bersamanya atau mencoba melepaskan ranjau itu, tapi waktunya untuk menghindar dari ledakan itu hanya beberapa detik. Yang pada akhirnya membuatnya hanya memiliki satu pilihan, meledak.
Melihat Wonwoo diam, Seungcheol semakin mengernyitkan keningnya bingung. Apakah syarat yang ia minta sangat memberatkannya?
Menurutnya keputusan memberikan syarat seperti itu kepada Wonwoo bukan karena kepentingannya atau pun perusahaannya. Tapi untuk Wonwoo sendiri. Potensinya untuk naik ke tangga yang lebih tinggi sangat besar dan mendapatkan kabar jika ia ingin berhenti begitu saja, membuat Seungcheol merasa janggal dan kesal.
Ia tidak suka dengan orang yang membuang kesempatan sebesar ini dengan alasan yang menurutnya, sulit untuk di pahami.
Jika Rion ingin menyerangnya, semasih Wonwoo masih berada di bawah naungannya, Seungcheol akan berusaha menyelamatkannya, semasih Wonwoo jujur dengannya.
Wonwoo yang terlihat enggan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengannya dan Rion, membuat Seungcheol tidak bisa mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan di kepalanya.
“Kalau hal yang ngeberatin lo karena perasaan bersalah lo ke Mingyu. Lo ga usah khawatir, he can handle the company's problems on his own. I know it won't be easy, but he'll eventually clean up the mess and make those who tried to harm him pay for what they did.”
Wonwoo masih terdiam. Ia sama sekali tidak menanggapi kalimat yang baru saja disampaikan Seungcheol.
“Apa yang harus gue lakuin supaya gue bisa mutusin kontrak di Lumi kak?”
Kali ini berbalik. Seungcheol terdiam. Ia menatap Wonwoo dengan wajah datar.
“Lo tau disini gue mau bantu lo, kan Wonwoo? Don’t be like this. Kita bisa cari jalan keluar untuk masalah lo dan Rion.”
Wonwoo menggelengkan kepalanya, “kak, gue tau apa yang Rion mau. Dan gue bukan bagian dari Lumi itu salah satunya. Lo juga bilang dia datengin lo kan, sebelumnya?”
Seungcheol tidak berbohong jika ia terkejut saat Rion tiba-tiba datang ke tempatnya dan mengatakan ingin bergabung dengan agensinya. Mereka sama sekali tidak berinteraksi satu sama lain dan dia tiba-tiba saja datang dengan sikap arogannya kemudian menceritakan tentang sepenggal kisah Wonwoo begitu saja.
Semua orang yang ada di posisinya saat itu pun akan tahu jika ada sesuatu terjadi antara Wonwoo dan Rion. Tapi, sama seperti Wonwoo saat itu, Rion juga tidak memberikannya petunjuk lebih untuk sekedar menebak hubungan keduanya.
“Dia ga akan jadi bagian dari Lumi.”
Raut wajah Wonwoo menunjukkan jika jawaban yang Seungcheol berikan tidak sesuai dengan harapannya.
“Istirhat dulu ya, Wonwoo? I’lll help you deal with Rion.”