Narasi 27
Wonwoo duduk di posisi yang sama tanpa ada niat untuk menyentuh minuman yang sudah ia pesan hampir empat puluh lima menit yang lalu. Ice Americano itu mungkin sudah berasa watery dengan es yang sudah habis mencair.
Hari ini janji temunya di jam dua siang. Namun, Wonwoo sudah sampai di private restaurant itu satu jam sebelumnya. Lima belas menit lagi, mungkin orang itu akan datang.
Tapi, tidak sampai sepuluh menit kemudian, pintu ruangan itu bergeser dengan menampilkan wajah seorang pelayan wanita masuk terlebih dahulu yang beberapa saat kemudian memberikan gestur untuk mempersilahkan tamu itu untuk masuk ke dalam ruangan yang sudah Wonwoo pesan.
Melihatnya, Wonwoo berdiri dari tempat duduknya dan membungkukan badannya. Ia menelan ludahnya sebelum kembali duduk bersamaan dengan orang itu.
Baek Daeho, suami Jung Eunrim dan ayah dari Baek Rion, saat ini menatapnya setelah memesan beberapa makanan.
Wonwoo tanpa sadar menggigit bibir bagian dalamnya dengan jemari dinginnya yang saling bertaut gugup. Sedikit tidak menyangka jika Baek Daeho mau meluangkan waktunya untuk bertemu dengannya.
Kesan Wonwoo terhadap Baek Daeho dari pertama kali mereka bertemu sampai saat ini, masih sama.
Dia mengeluarkan aura yang sama seperti Mingyu dan Kakeknya.
Unapproachable.
Wonwoo tidak ingat berapa kali ia bertemu dengan pria di depannya, mungkin bisa dihitung jari.
Dirinya dan Baek Daeho tidak pernah memiliki interaksi yang berkesan. Pria itu tidak pernah menuntutnya setelah kemunculan Wonwoo secara tiba-tiba di hari itu. Yang Wonwoo ingat saat itu, pria itu hanya menatapnya sekilas sebelum menghela nafas dan melenggang pergi entah kemana bersama dengan Jung Eunrim.
Juga dulu, saat Jung Eunrim dan Baek Rion berkunjung ke sekolahnya, Baek Daeho tidak pernah ikut. Jadi, sampai sekarang Wonwoo tidak tahu orang seperti apa dia.
“Terima kasih sudah mau bertemu dengan saya di tengah kesibukan, Bapak.” celetuk Wonwoo melihat Baek Daeho menyesap teh hijau dingin yang baru saja diletakkan oleh pelayan disana.
“Don’t mention it. Should we eat first, or do you want to get straight to business?”
Wonwoo kembali menggigit bibir bawahnya, ia benar-benar tidak memiliki selera untuk makan sekarang. Namun, untuk memulai percakapan juga tidak mudah. Bibirnya terasa kelu dengan berbagai skenario yang membuat kepalanya berdenyut.
“Apa yang sudah dilakukan Eunrim?”
Wonwoo mengerjapkan namanya mendengar nama itu, nafasnya kembali tercekat kemudian ia menggeleng pelan.
“Oh. Rion it is.” lanjutnya melihat reaksi dari pria berkacamata di depannya.
“Please make him stop.”
Baek Daeho menaikkan salah satu alisnya sambil menatap Wonwoo, bingung.
“Sampai saat ini saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan untuk bisa membuat Rion memaafkan saya karena membuat keluarganya hancur. Ibunya meminta saya untuk tidak muncul lagi di hadapan kalian. Saya sudah berusaha melakukannya, tapi Rion tidak puas dengan itu. Saya paham atas kemarahan Rion, dan saya juga tidak akan pernah melawan jika ia membalas sakit hati yang saya buat untuk dia. Hanya saja… untuk yang kali ini, saya tidak bisa membiarkannya. Saya tidak akan pernah bisa melawan dia dan Bapak tahu itu. Tapi, apa yang Rion lakukan sudah melewati batas. Saya tidak akan meminta pertemuan ini jika dia melampiaskan kemarahannya kepada saya…”
Kernyitan di wajah Baek Daeho terlihat semakin serius. Ia tahu beberapa waktu lalu publik heboh dengan berita mengenai Wonwoo yang diisukan memiliki hubungan dengan Kim Jaemin, dan ketika menerima kabar jika Wonwoo ingin bertemu dengannya, ia sudah menebak jika hal itu ada hubungannya dengan anaknya. Mantan istrinya terlalu tidak peduli dengan anak di depannya untuk melakukan hal itu. Dia tidak akan menyibukkan diri untuk membuat hal seperti itu. Tapi, Baek Rion.
Dengan jemari dinginnya, Wonwoo menjulurkan tangannya untuk memperlihatkan bagaimana Rion mencoba untuk menghancurkanya.
“Tolong, buat Rion berhenti untuk mengusik orang yang tidak ada hubunganya dengan saya.” lirih Wonwoo membiarkan pria itu membaca setiap pesan yang Rion kirimkan.
“Saya tidak mengerti dengan apa yang Rion lakukan untuk menyerang Mingyu, tapi tolong minta Rion untuk berhenti dengan apapun yang dia lakukan. Rion tidak akan mau mendengarkan saya, seberapa keras saya memohon dia tidak mau mendengarkan saya. Tolong jangan biarkan Rion melibatkan orang lain.” ujar Wonwoo menggigit bibir bawahnya dengan air mata yang sudah memanas.
Baek Daeho belum memberikan reaksi apapun, keningnya masih mengkerut melihat ke layar ponsel itu. Sementara Wonwoo merasa sangat gelisah untuk mendengarkan jawaban dari pria di depannya.
“Baek Rion itu satu-satunya anak yang saya miliki.”
Kalimat pembuka yang seketika membuat degupan jantung Wonwoo dua kali lipat lebih cepat.
“You know he's been living under his mother's care since they left for the US. Frekuensi saya bertemu sama dia sedikit. But the thing I know that my son will get what he wants.”
Wonwoo menatap nanar mendengar kalimat selanjutnya yang dilontarkan pria itu.
“Saya tidak bisa memintanya untuk berhenti. Itu hanya akan membuatnya ingin melakukan lebih dari ini.”
Baek Daeho meletakkan ponsel itu di atas meja sebelum mendorongnya ke arah Wonwoo yang menatapnya dengan penuh penyesalan.
“Tapi, saya tidak akan meminta kamu untuk diam. Jika dia salah, dia harus di hukum. Baek Rion tidak tahu siapa orang yang tengah ia hadapi. Sebagai ayahnya, saya pasti akan berusaha memenuhi setiap keinginannya. Apapun itu.”
Bibir Wonwoo bergetar, kepalanya semakin berdenyut tidak mengerti dengan maksud kalimat yang diucapkan oleh pria itu.
“Keinginannya yang saya ingat sebelum dia berangkat ke US, masih tetap sama. You shouldn't have existed. Every time you're around, it only fuels his hatred toward you. Please don't get me wrong. I'm not asking you to do anything extreme. What I mean is, just go somewhere he'll never find you."
Setitik air mata jatuh di pipi kiri Wonwoo, “saya tidak pernah dengan sengaja untuk muncul di hadapan Rion atau pun Ibunya. Tapi Rion yang selalu mencoba untuk menemukan saya dan mengacaukan semuanya.”
“Like I said. In his eyes, your existence ruined his life, my family.” balas Baek Daeho dengan penekanan, membuat Wonwoo mengurungkan niatnya untuk membuka mulut.
Jemarinya mengepal sangat kuat, membuat kukunya menusuk telapak tangannya. Ekspektasinya sudah ia taruh paling bawah. Tapi, mendengar langsung respon dari Baek Daeho seperti ini membuatnya kekesalan dan kemarahannya ingin menyeruak.
Ia tahu pria di depannya juga tidak mengindahkan kehadirannya sejak awal. Biar bagaimanapun juga Wonwoo dimata mereka adalah penghancur.
“It’s not easy to stop him. Dan kamu sudah mengetahui itu.”
“Apa jaminan kalau dia akan berhenti mengusik Mingyu jika saya pergi?” Tanya Wonwoo akhirnya.
Baek Daeho kembali menenggak minumannya sebelum menjawab pertanyaan Wonwoo.
“Kalau dia bosan atau menerima konsekuensinya, dia akan berhenti.” jawab pria itu enteng.
“So you're telling me to sit back and wait until he gets bored while he's trying to ruin someone else's life? How can you let him do something that could end up harming himself? Terlebih jika Mingyu tahu kalau dia yang ada di balik semua tuduhan itu?” tanya Wonwoo tidak percaya, matanya sudah memerah mendengar kalimat demi kalimat yang jauh dari harapannya keluar dari Baek Daeho. Bagaimana mungkin seorang ayah diam membiarkan anaknya melakukan hal seperti itu?
Baek Daeho tidak memberikan respon, ia memainkan pinggiran gelas ocha di depannya.
“Bapak tidak masalah dengan semua yang lakukan Rion dengan kemungkinan yang akan dia hadapi jika keluarga Mingyu mengetahui semua ini?” ulang Wonwoo dengan tatapan tidak percaya. Raut wajahnya terlihat frustasi melihat bagaimana Baek Daeho menanggapi hal ini seolah-olah tidak mempengaruhinya—seolah-olah ia tidak peduli dengan anaknya sendiri.
“Dia harus bertanggung jawab dengan semua pilihannya, apapun itu. Dan kamu juga harus melakukan hal yang sama.”
Wonwoo menatap pria paruh baya itu dengan tatapan nanar.
“Semua berawal dari kamu. Dan kamu yang bisa mengakhirinya.”
Arah kalimat itu sudah Wonwoo pahami. Secara tidak langsung, di mata Baek Daeho, sikap Rion yang seperti ini karena Wonwoo.
Pada akhirnya, semuanya lagi-lagi menjadi kesalahannya.