Narasi 18
Wonwoo berniat untuk duduk di sofa dekat balkon sambil mencari hiburan di ponselnya terperanjat ketika mendengar ketukan pintu di kamar hotelnya. Ia melirik melihat jam di ponselnya yang baru menunjukkan pukul setengah sembilan malam sambil melihat notifikasi pesan—yang mungkin ia lewatkan jika ada yang harus ia bahas dengan Lee Chan.
Sembari berjalan, ia memeriksa ponselnya dan tidak menemukan ada pesan apapun yang masuk—semakin membuatnya mengerutkan keningnya bingung.
Tempat saat ia membuka pintu kamar itu, wajahnya yang awalnya serius berubah bingung dengan kerjapan matanya berulang seperti ia memastikan jika orang yang sekarang tengah berdiri di depan pintunya dengan senyuman khasnya.
“Mingyu?”
“Hey. Gue tadi beli cake tapi ga bisa ngabisin sendiri, jadi mampir ke sini.” balasnya sambil memamerkan sekotak cake mungkin berukuran sekitar 10 cm.
Wonwoo masih terlihat bingung harus merespon kalimat itu seperti apa.
“Lo mau biarin gue berdiri di luar gini? Ga masalah nanti kalau ada team Lumi or SVTN yang mergokin gue?”
“Oh.”
Mendengar itu Wonwoo bergumam lalu menarik tangan Mingyu untuk masuk ke dalam kamarnya.
Dengan santainya, Mingyu berjalan sambil menyusuri kamar itu, “not bad.” komentarnya sambil menaruh kue yang ia beli di atas meja dan duduk di sofa tempat Wonwoo tadi.
Wonwoo yang memilih duduk di kasurnya masih menatap Mingyu dengan tatapan tidak percaya. Pakaian yang Mingyu kenakan saat ini sangat rapi dengan aroma parfum yang sedikit berbeda dari biasanya.
“Bukannya lo ada rencana jemput Oreo yang hari ini?” tanya Wonwoo akhirnya.
Sambil membuka kue itu, Mingyu nampak berpikir, “awalnya gitu, cuma gue ga tau kenapa malah pesen tiket pesawat ke sini ya?” balasnya sambil melirik Wonwoo sekilas dengan seringaian kecil. “Mungkin gue lagi ga mau sendiri aja hari ini.” tambahnya.
Wonwoo hanya bisa tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya sambil berjalan untuk duduk di seberang Mingyu.
“Jadi sekarang mau tiup lilin?” tanya Wonwoo.
Mingyu mengedikkan bahunya, “dapet dari bakery-nya. Jadi sayang kalau ga di pake.”
Wonwoo terkekeh dan membantu Mingyu memasang satu tiga lilin yang di tersedia disana, lalu mengambil korek dan menghidupkannya.
“Perlu gue matiin lampu juga, ga?” goda Wonwoo membuat Mingyu mendecak sambil tertawa.
“Make a wish dulu.”
Mingyu menautkan kedua tangannya sambil menutup matanya membuat Wonwoo bisa melihat dengan jelas refleksi api di wajah tampannya. Senyuman tipis terukir di wajah Mingyu sebelum ia membuka matanya perlahan dan meniup lilin di depannya. Reflek membuat Wonwoo menepuk tangannya, “happy birthday. Serius banget doa lo.”
Mingyu terkekeh, “kata pops harus totalitas. Jangan setengah-setengah. Gue tadi minta sendok di tempat beli ini, jadi makannya langsung aja ya? Kayak kita biasanya. Perut lo masih bisa nampung?”
Wonwoo mengangguk, “selalu ada space buat dessert.”
Mingyu tersenyum, “gue ga pernah beli cake di bakery ini, cuma kata driver taxi-nya ini tempat lagi happening.”
Wonwoo menyendok kue itu dan menyantapnya. Matanya membesar, sambil mengangguk ia memberikan Mingyu jempolnya, “enak, Min. Coba deh.”
Melihat itu Mingyu pun ikut menyantapnya, “pantes ya happening. Untung gue kebagian.”
“Ngantre ya?”
Mingyu mengangguk, “iya, kayaknya ada sekitar setengah jam.”
“Lo udah dinner?”
“Udah, tadi pas landing gue langsung makan, sebelum cari ini cake.”
Wonwoo masih menatap Mingyu yang kembali menyendok kue itu, “lo ngapain aja hari ini, Min?”
“Setelah lunch bareng pops and Seungcheol, gue jenguk papa sama mama. Gue agak lama disana, sebelum balik dan bingung, akhirnya gue decide buat ke sini.” balas Mingyu, ia menyandarkan tubuhnya di punggung sofa sambil menatap Wonwoo yang masih sibuk mencari stroberi di cake itu.
“Ngobrol apa aja sama mama dan papa lo?”
“Hm…” Mingyu menggumam, “banyak… gue tahun ini baru dua kali jenguk mereka. Biasanya gue selalu nyempetin setiap bulan, cuma tahun ini gue agak hectic..." kata Mingyu.
Sorot matanya sekarang menatap kue di depannya dengan kilatan nostalgia di dalamnya, "Gue sama papa itu ga terlalu deket sebenernya. Papa itu baik banget, cuma mungkin karena dia selalu sibuk, spending time sama gue itu lebih sedikit ketimbang kayak gue sama mama dan pops. He was a good father. Sesibuk-sibuknya, dia ga pernah ngelewatin waktu pertemuan orang tua atau misalnya saat gue dapet penghargaan waktu sekolah dulu, walau cuma dateng sbentar, tapi dia selalu ada dan ga melewatkan acara penting gue. Sayang banget waktu gue sama mereka sebentar banget. Gue masih pingin coba bisa lebih deket lagi sama papa.”
“Papa sama mama lo pasti seneng liat lo gede kayak sekarang. Lo dikelilingi sama orang-orang baik dan lo sendirinya juga baik banget.”
Mingyu tersenyum, “sebenernya gue juga ga baik-baik banget sih. Kebetulan aja lo ketemunya bukan sama gue as your business colleagues.”
“Emang versi lo yang itu gimana?”
“Kalau lo minta gue nilai diri sendiri, mungkin gue bisa bilang gue itu strict. Semua keputusan yang gue ambil itu udah gue kalkulasi, jadi kalau ada hal yang ga sesuai dengan kalkulasi gue… gue ga bisa. Contohnya, semisal gue mau pergi ke Daegu, gue udah kasi lead kendaraan apa beserta keuntungan dan kerugiannya buat team gue dan mereka sekarang nentuin mau lewat jalan yang mana supaya gue bisa sampe kesana tepat waktu dengan segala konsekuensi yang ada. Tapi, kalau ada salah satu diantara mereka yang tiba-tiba make kendaraan yang ga di list, gue jadi galak. Karena gue tau, kita ga akan sampe kesana. Dan yah, yang gue takutin pun terjadi. Semuanya kacau.” cerita Mingyu.
“Gue ada di posisi sekarang itu ga instan. Gue beneran mulai dari bawah dan naik sesuai dengan kemampuan gue. Gue sebagai cucu pops ga bikin gue diterima langsung gitu aja sama orang-orang disana. Mereka merasa gue terlalu muda untuk ada di posisi sekarang. Emang theory dan practice itu beda. Tapi gue terus berusaha untuk buktiin kalau penilaian mereka ke gue salah.” Mingyu tersenyum, mengingat sampai saat ini, masih ada orang yang ingin menggeser posisinya.
“Kata mereka cara kerja gue sama papa beda. Dan selalu ngehasut pops kalau gue belum pantes buat di posisi sekarang atau nanti saat ganti posisi pops.”
Wonwoo mengerjapkan matanya, “lo mau naik jabatan?”
“Maybe? Gue sama pops belum ada ngomongin ini lagi. Dulu dia emang pernah nyeletuk kalo gue akan naik posisi setelah gue nikah. Cuma kayaknya belum. Masih banyak yang harus gue pelajarin.”
“Lo naik posisinya itu jadi apa nantinya?”
“CEO,” balas Mingyu singkat, ia melirik ke arah Wonwoo dan melihat ekspresi terkesiap dari pria berkacamata itu, “kok lo keliatan kaget gitu? Calon suami lo ini calon CEO, harusnya lo seneng?”
Wonwoo mendengus sambil menggelengkan kepalanya, “keren ya gue, kayaknya bisa merasakan gimana rasanya jadi suami CEO sebentar. Itu pun kalau lo beneran naik semasa kontrak kita.” jawab Wonwoo sambil menyunggingkan senyumannya.
Mingyu tidak memberikan komentar, ia masih menatap Wonwoo dalam diam sambil memperhatikan pria itu yang masih setia menyendok kue di depannya yang sudah hampir habis.
“Sekarang yang jadi CEO emangnya siapa?”
“Bukan dari keluarga gue. Dia pemegang saham awalnya, cuma karena papa udah ga ada jadi dia gantiin sampe sekarang. Kalo pops sekarang dia Chairman. Tertarik ga mau kerja di tempat gue?”
“Secara ga langsung gue kan emang kerja sama lo, Min. Cuma bedanya ga masuk karyawan perusahaan lo aja.” balas Wonwoo tersenyum, “gaji pertama gue juga udah gue terima.”
“Oh, udah ya? Lo beli apa aja?”
“Baru beli hadiah ulang tahun lo aja.” balas Wonwoo.
Mingyu menaikkan alisnya, “gaji pertama lo buat beliin gue hadiah?”
Balasan Wonwoo hanya anggukan, mulutnya penuh dengan kue strawberry itu sebelum membuka suaranya, “tadi maunya gue traktir Chan juga, cuma katanya makan malam kita ditanggung sama Lumi, jadi gue ga di kasi bayar. Maunya nanti gue ngajak lo makan, cuma kayak aneh ga sih? Kan yang kasi uang lo?” ujar Wonwoo sambil menggaruk pelipisnya.
Mingyu tersenyum, “kalo mau traktir gue, grocery kita untuk yang minggu depan lo yang beli gimana?”
“Oh! Okay! Ada sesuatu yang lo pingin makan kah?”
“Terserah lo. Gue ga mungkin nolak kalo lo udah masak.”
Wonwoo tersenyum, “okay, ga boleh protes ya. Gue nanti sekalian juga masak buat kakek lo dan Jihoon deh.”
Mingyu kembali mendecak, mengingat pesan yang diberikan oleh Jihoon tadi pagi. “Sebel gue sama Jihoon.”
“Kenapa?”
Mingyu tidak membalas, melainkan meraih ponselnya dan menunjukkan pesan dari Jihoon tadi pagi. Tidak butuh waktu lama, Wonwoo terkekeh melihat pesan darinya.
“Dia beneran beliin lo peralatan masak?”
Mingyu mengangguk, “nyesel gue kasih tau lo bisa masak sama pops. Sekarang lo malah sibuk masak buat orang lain juga.” ujarnya sambil mendecak.
“Ga boleh pelit. Mirip juga ya lo sama kakek lo.” sahut Wonwoo sambil meletakkan sendoknya, “lo abisin ya kuenya, gue kenyang. Dari tadi lo cerita yang makan gue aja.”
Mingyu terkekeh dan cepat-cepat menyantap beberapa suap lagi dan menghabiskan bersih kue yang ia beli, “porsinya pas ya yang size segini, ga ada sisa kalau makan berdua.”
Wonwoo mengangguk setuju, biasanya jika dia atau mingyu membeli kue dengan ukuran yang lebih besar, pasti kue itu akan habis dalam hitungan hari.
“Lo langsung balik atau booking hotel di tempat lain?”
Mingyu memicingkan matanya mendengar pertanyaan Wonwoo, “tega lo nyuruh gue balik padahal gue baru sampe belum ada tiga jam?”
Wonwoo mengerucutkan bibirnya sambil mengedikkan bahunya, “kan lo suka ga ketebak? Seungkwan udah tau belum lo kesini?”
Mingyu menggeleng, “ga, gue lagi kabur dari dia. Biarin dia penasaran. Gue cuma bilang mau landing dan ga bilang mau kemana.” balas Mingyu membuat Wonwoo terkekeh.
Pria itu kemudian mengambil bekas kue itu dan membuangnya ke dalam tong sampah, “nginep disini?” tanyanya yang masih berdiri depan tempat sampah itu.
Mingyu mengangguk, “iya. Gue belum booking hotel. Gue disini aja ya?”
“Ok. Lo mau mandi? Pake baju gue aja dulu. Lo balik kapan?”
Mingyu berdiri dari tempat duduknya untuk berjalan mendekati Wonwoo yang membuka lemari disana.
“Besok, sekalian jemput Oreo.”
ᯓᯓᯓ
Wonwoo merebahkan dirinya terakhir setelah ia mencuci muka dan menyikat gigi karena memakan cake tadi. Ia bisa melihat Mingyu tengah mengetik di ponselnya dengan wajah tertekuk.
“Hari ulang tahun lo belum lewat, kenapa udah kusut gitu mukanya?” tanya Wonwoo sambil membenarkan bantal miliknya.
“Lagi kesel. Mantan gue ngechat mulu.”
Wonwoo menaikkan salah satu alisnya, “kenapa? Mau hooked up?”
Decakan Mingyu semakin keras, wajahnya malah bertambah kusut mendengar pertanyaan Wonwoo, “ga, males banget. Gue ga tau mereka mau apa lagi dari gue. Hubungan kita berakhir menurut gue ga baik-baik. Pops itu dari dulu emang suka banget ikut campur urusan gue, dia suka nemuin pacar-pacar gue diem-diem. Dan mereka ini, nerima tawaran pops buat mutusin gue.”
“Gimana?” tanya Wonwoo membalik badannya ke arah Mingyu, menggunakan tangannya sebagai bantal tambahan.
“Pops kasi mereka uang buat putus sama gue. Waktu itu alasan pops bilang kalo gue cuma main-main dan milih orang kayak milih kucing dalam karung. Gue jujur ga terlalu background checking mereka. Gue emang masih ga bisa lupain Kak Han waktu itu, tapi gue coba. Malah pops ga percayaan dan minta mereka mutusin gue.”
“Mereka? Lebih dari satu ya?”
Mingyu mengangguk, “yang nerima uang pops dua aja. Sisanya gue ga tau, soalnya putusnya juga ga terlalu mendadak. Tapi giliran pops setuju sama mantan gue dulu, kita ga berhasil lanjutin hubungan. Gue sih masalahnya.”
Wonwoo menggelengkan kepalanya, “complicated banget asmara lo.”
Mingyu memutar bola matanya, dan enggan untuk membahasnya lebih anjut, “pops ga ada chat lo aneh-aneh kan? Minta ketemuan gitu?”
Wonwoo menggeleng, “ga ada, chat pertama kita waktu lo ngasi nomer gue itu. Cuma bilang makasih sama mau ganti tempat makan gue.” balas Wonwoo.
“Kalau pops ngajak lo ketemu, kapanpun itu. Lo harus ngasi tau gue ya. Gue ga mau lo di paksa kayak mereka.”
Wonwoo tersenyum, “okay. Emang lo kesel banget sama mereka?”
Mingyu menghela nafasnya, “ga sepenuhnya kesel juga. Cuma gue ga suka cara mereka minta putus cuma karena bayaran pops. Dan mereka setuju dengan gampangnya.”
“Lo ke pops lo gimana waktu itu?”
“Gue kayaknya ada ga ngomong sama pops hampir enam bulan karena itu. Soalnya ga sekali, ini dua kali. Ga tau apakah dia ngelakuin hal yang sama ato ga sama orang-orang bayaran gue.”
Wonwoo menganggukkan kepalanya membuat Mingyu menoleh ke arahnya, “lo ga kepikiran ngelakuin hal yang samakan? Kalau yang gue kasi kurang, ngomong aja ke gue. Jangan boongin gue atau khianatin gue kayak mereka.”
Wonwoo menyunggingkan senyumannya, “Iya.” jawabnya singkat yang mendapatkan tatapan tidak puas dari Mingyu.
“Kenapa lo ngeliatin gue kayak gitu?”
“Jawaban lo kayak ga tulus.”
Wonwoo terkekeh, “emang gue harus jawab kayak gimana? Baik, Pak Mingyu—gitu?”
Mingyu kembali mendecak, “ga tau.” balasnya yang kemudian melempar ponselnya ke atas nightstand.
Setelah itu Mingyu bergerak mendekati Wonwoo dan dalam hitungan detik ia sudah menenggelamkan kepalanya di dekapan Wonwoo.
“Lo kenapa?” tanya Wonwoo yang sedikit terkejut dengan pergerakan Mingyu. Pria itu hanya menggeleng kecil, sambil memeluk tubuh Wonwoo.
“Ada yang ganggu pikiran lo?” tanya Wonwoo lagi.
“Kangen mama.” balasnya singkat.
Wonwoo menggumam pelan sembari menepuk-nepuk lembut punggung Mingyu.
“Biasanya gue itu selalu habisin waktu ulang tahun gue sendiri. Tapi hari ini gue coba buat keluar, makan sama keluarga gue. Tapi gue tetep ngerasa ada yang kurang. Mama sama papa itu pergi deket banget jaraknya sebelum gue ulang tahun, gue kadang ngerasa nyesel walau kecelakaan itu bukan karena gue.”
“Emang biasanya lo ngapain aja kalau sendiri?”
Mingyu kembali menggeleng, “blur. Gue ga terlalu inget. Kayaknya udah berlalu aja harinya. Kenapa ya mama sama papa pergi cepet banget? Gue bahkan belum bisa bahagiain mereka.”
“Dari mana lo tau kalo mereka ga bahagia karena lo? Mungkin bahagia versi lo beda ya? Tapi gue rasa dari cerita lo dan keluarga lo pas kita dinner bareng itu, mereka bahagia banget punya lo, Min. Seandainya mereka masih disini, bahagia yang lo maksud itu gimana?”
Mingyu terdiam, pertanyaan Wonwoo membuatnya kembali berpikir, “gue bakal ngelakuin apapun yang mama dan papa mau.” jawabnya akhirnya.
“Termasuk tunangan sama pilihan mereka?”
“Iya.”
Wonwoo tersenyum, “kalo gue jadi kakek lo dan denger ini, pasti gue kesel sih,” balas Wonwoo sambil tetap mengelus punggung Mingyu.
“Lo sama Kak Han cintanya udah kayak cinta mati. Gue ga yakin even permintaan mama lo juga bakal lo turutin. Kecuali kalian nanti—entah siapa dia—nikahnya kayak kita, based on contract. Gue rasa orang-orang kayak lo yang nikah karena bisnis juga banyak kan?”
“Banyak… yang di kenalin sama Mama Hong dan Pops juga selebihnya cuma urusan bisnis. Feeling katanya bisa tumbuh sendirinya. Lo percaya itu ga?” tanya Mingyu.
Wonwoo menggumam sambil berpikir, “mungkin? Jujur gue belum ada bayangan. Karena selama ini hubungan gue itu berdasarkan mutual feeling—menurut gue. Gue belum pernah jadian sama orang yang gue ga suka. Gue nembak atau nerima orang itu pasti karena gue punya feeling sama mereka. Jadi gue ga yakin sama hal itu. Menurut lo gimana?”
Mingyu terdiam untuk beberapa saat, “ga tau gue. Ga pernah.” balasnya sambil mengeratkan pelukannya.
“Ya udah, ga usah lo pikirin. Lo emang jadi mellow gini ya pas ulang tahun?”
Mingyu kembali mengangguk yang menggelitik perut Wonwoo karena rambutnya.
“Mama—Tante Hong tadi chat gue juga. Dia minta ketemu sama lo pas dia balik ke Korea nanti.”
“Hm… Mama Hong ini mamanya Kak Seungcheol kan? Dia kelihatannya sayang banget ya sama lo? Gue harus gimana nanti kalo ketemu dia?”
“Biasain aja. Gue sebenernya kesel. Dia bukan mama, tapi selama ini ngatur hidup gue seolah-olah dia mama gue. We’re not even blood related, tapi dia selalu jump in di setiap keputusan yang gue ambil. Dia selalu berusaha buat gantiin posisi mama.”
Wonwoo mengerutkan keningnya, mendengar ada sesuatu yang ia rasa sedikit janggal dari cara Mingyu menceritakannya.
“Keluarga Tante Hong itu deket sama Keluarga Pops. Mama juga temenan sama dia, but not that close. Sebelum papa sama mama nikah, dia nikah duluan sama Om Gihun. Yang gue inget, karena Om Gihun anak asuh pops, yang buat keluarga kita itu jadi sering hangout bareng. Kita sama sekali ga pernah tinggal serumah. Tapi, ya gitu… kadang Tante Hong suka banget involve. Ya, gue paham, keluarga dia sama keluarga pops itu deket banget, cuma kan tetep dia itu sebenernya orang asing. Beda sama Kak Han. Kalau Kak Han emang tinggal sama gue karena orang tuanya dulu kerja di luar, tapi dia ga mau ikut. Mama akhirnya nyaranin buat ngerawat Kak Han di sini, sambil nemenin gue.” Cerita Mingyu panjang lebar.
Ini pertama kalinya Wonwoo kembali mendengar tentang Mingyu. Dari penampilan luar, Mingyu memang terlihat seperti orang yang cuek. Tapi ternyata pemikirannya salah, dia termasuk orang yang cukup sensitif.
“Gue cuma kesel, kenapa Pops itu selalu dengerin dia, kalau mau merencanakan sesuatu tentang gue. Kayak nentuin siapa yang cocok buat gue, sekolah gue harus dimana even dulu dia ngatur gue boleh temenan itu sama siapa aja. Untungnya dulu waktu gue sekolah ga di tempat dia tinggal. Kayaknya gue bisa stress beneran di sana.”
“Tante Hong itu emang tinggal di UK ya?”
Wonwoo merasakan jika Mingyu kembali menganggukkan kepalanya.
“Iya. Keluarga dia emang ada bisnis di sana. Dia besar di sana, sebelum balik ke Korea buat sekolah mungkin? Gue lupa. Gue bukan Seungcheol. Gue bukan anaknya. Tapi dia itu selalu ngatur gue dan pops ngebiarin gitu aja. Gue emang kehilangan sosok orang tua itu masih kecil, tapi bukan berarti dia bisa gantiin gitu aja. I don’t really need it. Pops is enough.”
“Kenapa ga lo coba omongin sama kakek lo?”
“Udah. Tapi pops tetep bilang, kalo dia sayang sama gue, makanya ngelakuin semua itu. Gue ngerasa ga perlu. Susah banget buat mereka ngerti kalau gue udah bisa nentuin apa yang gue mau sendiri. Ga usah di direct lagi. Termasuk sama semua blind date yang selalu mereka atur itu. Waktu gue ketemu lo pertama kali, saat itu gue udah burn out banget. Gue capek dan akhirnya bertindak tanpa mikir dan buat lo ikut kejebak sama gue.”
“Capek banget gue sama standar yang Tante set untuk orang yang pantes buat gue. Pas gue nemu orangnya, dia malah jadian sama anaknya. Ironis banget, ya?”
Wonwoo tersenyum tipis yang luput dari penglihatan Mingyu, “iya… lo pasti ngerasa takdir itu jahat ya?”
“Iya…”
“Kadang gue juga mikir sama. Gue selalu bertanya, kenapa gue tetep lahir kalau endingnya gue di buang.”
Kalimat itu membuat Mingyu terdiam, ia mendongakkan kepalanya dan mendapati Wonwoo tengah menatap lurus ke depan.
“Gue terus mikir kayak gitu sampe lupa harus buat tujuan gue hidup itu apa. Kayaknya semuanya sia-sia. Gue pingin banget cari orang tua gue. Tapi, liat gue ada di tempat itu sampe gue besar, rasanya mereka memang ga pingin gue cari. Kalau dibilang sedih… gue sedih banget. Gue suka iri kalau denger orang-orang cerita hal-hal kecil tentang keluarga mereka, kayak… menu makan malam mereka, atau kemana rencana liburan mereka. Hal itu cuma bisa gue liat aja dari orang-orang sekitar gue sama dari drama yang gue tonton. Tapi gue ga bisa ngerasainnya, gue ga tau sih rasanya gimana. Mungkin rasanya kayak waktu keluarga Hoshi ngajak gue liburan juga ya? Tapi, ngerti ga sih lo… kayak … you’re with them… but somehow you’re not belong there?”
Mingyu menarik tubuhnya dan menatap Mingyu lekat, “lo juga ngerasa kayak gitu sama keluarga gue?”
Wonwoo tersenyum dan itu menjawab pertanyaan Mingyu, “gimana pun juga gue itu orang asing, Mingyu. Jadi bagian keluarga lo itu cuma kerjaan gue sementara. Gue ga akan selamanya pura-pura. Lo mungkin sekarang bisa ngelak, tapi nanti akan ada waktunya lo sadar kalau semua pilihan Tante Hong dan Kakek lo itu bener. Lo emang harus ketemu sama orang yang kayak Kak Han. Orang yang paham banget dengan dunia lo dan bisa lo jadiin sandaran. Mungkin lo ga sadar sekarang, tapi gue yakin dia itu sebenernya udah ada di sekitar lo lama. Cuma emang belum ketemu aja. Mungkin ada childhood friend yang lo lupain? Bisa aja kan…”
Mingyu tidak membalas, kepalanya masih mendongak menatap Wonwoo lekat-lekat.
“Gue ga inget ada orang kayak ciri-ciri yang lo sebutin itu.”
Wonwoo mendenguskan senyum, “di inget-inget aja lagi. Dunia lo itu luas banget, Min. Orang yang pernah lo temuin, itu gue yakin bisa lima kali lipat dari yang gue kenal. Jadi wajar kalo dia kelewat diingetan lo. Ethan deh contoh kecilnya… walaupun keluarga lo ga setuju sama dia, tapi dia lahir di tempat yang satu lingkaran kayak keluarga lo.”
“Mama sama papa ga gitu. Mama bukan dari keluarga yang sama kayak papa.”
“Iya, tapi mama lo anak asuh kakek lo. Dan kebetulan aja dia jodoh sama papa lo. Ga nutup kemungkinan kan lo end up sama Jihoon?”
“Dari sekian banyak orang sekitar gue yang lo kenal. Nama yang muncul dari lo Jihoon?”
Wonwoo mengedikkan bahunya, “kan lo pake pembanding tadi mama dan papa lo. Yang gue tau anak asuh kakek lo kan cuma Jihoon.”
Mingyu mendecak, “ga mungkin gue sama dia.”
“Kan cuma perumpamaan, ga usah lo anggep serius juga. Kenapa lo kedengarannya kesel.”
“Iya. Sedih gue ilang, berubah jadi kesel.” jawab Mingyu ketus yang kembali menenggelamkan kepalanya di perut Wonwoo.
“Tidur yang bener, Min. Gue dari tadi sebenarnya geli lo gerak-gerak terus.” ujar Wonwoo yang semakin membuat Mingyu menggerakkan kepalanya.
“Hey!” protes Wonwoo mendorong kepala Mingyu. Ia bisa mendengar kekehan kecil keluar dari bibir Mingyu yang terdengar menikmati kegiatannya. Wonwoo pun bisa merasakan jika jemari Mingyu mulai bergerak untuk menggelitik pinggangnya, membuatnya menggeliat tidak nyaman.
“Mingyu! Udah! Geli!” seru Wonwoo yang sibuk menahan tangan pria yang entah kenapa memiliki tenaga lebih kuat darinya.
Mingyu tertawa lepas sambil membenarkan posisi tidurnya, sementara Wonwoo sibuk menarik selimut untuk melindungi tubuhnya.
“Sensitive banget sih pinggang lo… Geli banget ya?” tanya Mingyu dengan jemari yang sudah masuk ke dalam selimut Wonwoo.
“Min udah, geli..” keluh Wonwoo menahan tawanya yang masih berusaha menahan tangan Mingyu.
Dengan sengaja pria itu terus berusaha menggelitik Wonwoo yang terus mencoba menahannya sampai akhirnya Mingyu meraih kedua tangan Wonwoo dan menariknya masuk ke dalam pelukannya.
“Let’s sleep.” bisik Mingyu yang membenamkan kepala Wonwoo di dalam dekapannya.
Nafas Wonwoo yang memburu karena perlawanannya pun kini bisa Mingyu dengar dengan jelas berpacu dengan detak jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat.
“Lo aneh banget deh hari ini. Lo lagi kesel tapi kenapa clingy banget.” komentar Wonwoo membenarkan posisi tidurnya agar bisa lebih nyaman.
“Hm…” gumam Mingyu menarik tangan Wonwoo dan melingkarkannya di atas pinggannya, “entah kenapa hari ini gue ngerasa lebih kesepian dari tahun-tahun sebelumnya. Untung ada lo yang bisa gue ganggu. Makasi ya, Wonwoo? Lo udah dateng ke kehidupan gue.” ujar Mingyu sambil mendaratkan satu kecupan lembut di puncak kepala Wonwoo.
Wonwoo tidak menjawab, namun Mingyu tidak sadar jika pria itu tengah meremas pakaian Mingyu cukup kuat.