Warning: Semi-NSFW ahead — you’ve been warned.
﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏
Narasi 20 | Tentang Mingyu
Wonwoo merenggangkan tubuh lelahnya setelah mengajak Oreo ke tempat tidurnya. Saat berbalik badan, ia bisa melihat jika Mingyu masih diam di posisi yang sama. Bahkan saat ia sudah berdiri di dekatnya untuk membereskan sisa snack mereka, ia masih tidak bergeming.
“Katanya lo mau tidur?”
Mingyu mengerjap-ngerjapkan matanya—terbangun dari lamunannya, melirik ke arah Wonwoo, “sebentar lagi.”
Wonwoo mengangguk, “lo mau nginep di kamar gue? In case kalo lo lagi ga mau sendiri?”
“Mau.” balasnya singkat, “ntar lagi gue ke sana.”
Wonwoo hanya mengangguk dan berjalan meninggalkan Mingyu untuk menuju kamarnya. Sebelum ia memasuki kamarnya, ia menoleh ke arah kamar milik Mingyu, rasa penasarannya membuatnya melangkah ke sana dan memeriksa kamar Mingyu terlebih dahulu. Melihat keadaan kamarnya masih rapi, Wonwoo tanpa sadar menghembuskan nafas lega.
ᯓᯓᯓ
Mingyu naik ke ranjang Wonwoo sekitar tiga puluh menit kemudian. Aroma sabun yang fresh, membuat perhatian Wonwoo yang tadinya menonton reels di ponselnya teralih untuk memperhatikan pergerakan pria itu. Setelah menarik selimut, Mingyu langsung merebahkan dirinya lalu menutup kedua matanya dengan lengan kirinya.
“Kenapa lo ga tanya?” suara Mingyu terdengar menyerupai bisikan.
“Karena gue ngerasa lo lagi ga mau bahas. Kakek lo tadi chat gue, karena lo ga ada bales dia lagi.”
Mingyu tidak menjawab dan Wonwoo memilih untuk mengunci ponselnya lalu meletakkannya di bawah bantalnya. Ia membalik badannya ke posisi menyamping sambil menggunakan tangannya sebagai bantal, menatap Mingyu dalam diam—menunggunya untuk mulai bercerita.
“Kalau kayak gini terus, gue beneran bisa benci sama dia. Tadi Seungcheol chat gue, dia yang minta maaf dan gue malah ngerasa jahat banget sama dia. Gue ngerasa ngerebut perhatian mamanya sendiri. Padahal gue ga ada minta. Gue beneran berharap kalo Seungcheol marah atau kesel ke gue, ketimbang dia yang malah ngerasa bersalah.”
Sebenarnya selama mendengar cerita tentang Hong Mira ada banyak hal yang ingin Wonwoo tanyakan. Sikap wanita itu terlampau tidak wajar dengan perhatian yang dia berikan kepada Mingyu. Menyayangi orang lain yang bukan anak kandungnya memang hal yang wajar, namun melebihi anak kandungnya?
Sedikit lebih, Wonwoo mengerti bagaimana perasaan Seungcheol. Walaupun Hong Mira tidak sepenuhnya acuh kepadanya, namun perasaan iri itu pasti ada.
“Pops juga sama nyebelinnya. Kalau ga sanggung ngurus gue ya udah gue di biarin aja. Ga usah minta tolong dia. Liat kan sekarang, dia ngerasa berhak ikut campur dengan semua keputusan gue.”
“Lo jangan ngomong gitu, kalo kakek lo denger apa dia ga sedih. Kan bisa aja kakek lo ga enakan nolak,”
Mingyu mendengus, “mana ada. Dia sering nolak permintaan gue.”
“Ya karena lo cucunya? Biasanya kan ada orang yang ga bisa nolak ke orang asing? Mungkin salah satunya itu kakek lo."
Mingyu mengangkat lengannya, menatap dan membuat kedua mata mereka bertemu, “kenapa lo bela kakek gue?”
Wonwoo mendecak, “gue ga bela. Gue cuma kasi lo insight kalo pemikiran lo mungkin salah.”
“Nyatanya emang pops selalu setuju sama permintaan dia selama ini.”
Wonwoo menggumam, “Min… mungkin ga sih lo sama kakek lo mirip? Lo yang ga bisa nolak pas lo di cariin blind date dan kakek lo juga yang ga bisa nolak saat tante Hong kasi suggestion itu?”
Mingyu terdiam dibuatnya. Mereka berdua memang sedarah, jadi kemungkinan sifat mereka ada yang mirip, bukan?
Wonwoo tersenyum melihat wajah Mingyu yang bersembunyi di balik lengan itu semakin tertekuk, terbukti dari bibirnya yang sekarang sedikit mengerucut.
“Dia bukan mama. Dia ga punya hak buat ngurusin gue sampe bilang pilihan gue itu salah. Selama ini dia ngerasa seolah-olah dia itu peduli, tapi kenyataannya dia cuma mau menuhin ego dia ke gue.”
“Hmm… kenapa dia bisa bersikap kayak gitu—it’s kinda strange why she put so much effort on you.”
Mingyu diam, lengannya masih menutupi wajahnya. Namun, ia sama sekali tidak bergeming. Dan Wonwoo tahu jika ia sama sekali belum tertidur.
Wonwoo tidak lagi mengatakan apapun, seakan ia tahu alasan mengapa Hong Mira bersikap seperti itu adalah hal yang tidak bisa Mingyu ungkapkan. Ia kemudian melirik tangan pria itu yang ia taruh di atas perutnya. Terlihat jelas kini jemari Mingyu tengah meremas selimut mereka.
“Gue kehilangan orang tua gue waktu gue grade 8. Mungkin lo sempet liat beritanya karena waktu itu bener-bener heboh banget. Keluarga gue itu dari dulu memang private. Dari papa tunangan, married dan gue lahir, media sama sekali ga bisa capture mama dan juga gue. Sampe akhirnya, papa waktu itu featuring di salah satu majalah bisnis. Gimana papa ngungkapin tentang keluarga kita, buat orang-orang semakin penasaran sama mama dan gue. Waktu itu gue sama mama masih belum di reveal ke public. Jadi orang-orang belum tau siapa yang istri papa.”
Mingyu mulai bercerita dengan suara pelannya, jemarinya masih meremas selimut itu yang sedari tadi masih Wonwo perhatikan dalam diam.
“Bermula dari sana… spekulasi-spekulasi tentang mama mulai muncul. Banyak narasi yang muncul. Dan beberapa bahkan ngira kalau mama gue itu Hong Mira. Gue ga tau awalnya kenapa isu kayak gitu bisa muncul, dan gue sengaja liat beberapa foto paparazzi yang capture gue lagi sama tante Hong. Kebanyakan itu ada di acara kegiatan sekolah. Padahal di sana ada mama, tapi ga ngerti kenapa yang ke capture malah gue sama dia. Mereka mulai cari tau tentang siapa Hong Mira… dan setelah mereka tau kalau bukan dia istri dari papa… banyak banget gue nemu comments di artikel ngomong kalau orang kayak papa harusnya sama orang kaya dia. Gue ga kebayang yang mama baca bisa lebih dari itu.”
Mingyu menggigit bibir bagian bawahnya setelah menyelesaikan kalimat itu.
“Gue ga ngeraguin banget hubungan kedua orang tua gue. Gue tau papa sayang banget sama mama. He always puts her first more than anything. Gue bahkan sempet denger papa marah-marah waktu itu sama PA-nya kenapa orang PR dia ga kerja untuk neken artikel ga penting kayak gitu. Walaupun mama waktu itu bilangin papa buat ignore aja, tapi papa ga bisa. Dia bener-bener mastiin kalau itu artikel udah ga bisa di akses lagi.”
Kali ini sebuah senyuman kecil muncul di wajah Mingyu. Mungkin sekarang, di balik tangan itu Mingyu tengah memejamkan matanya dan kembali ke nostalgia dia dan keluarga kecilnya.
“Tapi, tau ga kenapa setelah itu… beberapa artikel muncul lagi, nyorot kehidupan papa dan juga tante Hong, yang mana mereka memang temenan mungkin dari elementary school? Sebelum dia ke UK untuk beberapa tahun dan balik lagi ke Korea untuk sekolah dan akhirnya nikah sama Om Gihun. Ga sampe di sana aja… artikel yang ngebandingin tante Hong sama mama tiba-tiba muncul. Gue ga pernah tau dari mana wartawan berhasil dapetin informasi mama dan akhirnya buat public tau kalau papa nikah sama anak asuh pops. Lagi-lagi banyak narasi negatif muncul. Publik lagi-lagi ikut campur ke kehidupan keluarga gue, walau ada yang positif, tapi ketutupan semua. Mama dibilang cinderella or even worse, gold digger. Waktu itu, yang marah bukan cuma papa tapi pops juga. Mama memang bukan businesswoman kayak tante Hong, tapi mama bantu pops urus donas-donasi dia ke panti, shelter dan juga ngurus gue, pastinya.”
“Mama itu jarang banget nunjukin dia itu sedih. Mungkin waktu lagi sama papa ya… tapi kalau di depan gue, dia itu ga pernah sama sekali nunjukin dia emosi dia yang lagi sedih, marah atau kesel. Kecuali kalau gue nakal ya,” kataya Mingyu dengan tawa kecil.
“Dia beneran keliatan cuek banget sama berita yang ada. Tapi aslinya gimana perasaan mama itu, gue ga tau. Gue harap dia ceritain semua keluh kesahnya sama papa. Mungkin karena gue masih terlalu kecil ya waktu itu, jadi mama ga mau cerita sama gue. Dipikir-pikir lagi, gue tau apa ya tentang hal itu. Waktu itu gue cuma bisa marah aja liat orang-orang bandingin mama.”
“Kayaknya gue bisa bayangin gimana waktu lo umur segitu ngedumelnya.” komentar Wonwoo menyunggingkan senyumannya.
Mingyu perlahan mengangkat lengannya. Membiarkan matanya terbuka perlahan yang sedikit silau dengan lampu kamar Wonwoo, lalu menoleh menatap Wonwoo dengan tatapan yang masih sedikit memburam.
“Ketebak ya?” tanyanya.
Wonwoo mengangguk, “iya.”
“Oh! Mama gue itu juga pinter banget ngelukis, kalo lo liat lukisan-lukisan yang ada di rumah dan villa pops, itu semua di buat sama mama. Dan kalo liat yang ruang tengah, di samping family photo. Itu lukisan terakhir mama, lukisan itu yang lanjutin gue, soalnya mama ga sempet nyelesaiin dulu.”
“Lo juga bisa lukis?”
Mingyu tersenyum sambil mengangguk, “bisa, nurun dari mama. Cuma gue ga fokus ke sana, jadi mungkin skill gue udah turun.”
“Gue selalu iri sama orang yang bisa gambar. Keren aja gitu, bisa capture sesuatu di depan mata lo terus transfer itu ke atas kertas.” kata Wonwoo dengan tangan yang bergerak seakan-akan ia tengah melukis sekarang, membuat tawa kecil Mingyu keluar.
“Karena gue ga bisa ngajarin, nanti semisal ada waktu, gue bakal ngelukis lo.”
Wonwoo memicingkan matanya, “draw me like one of your french girls?” tanyanya sambil mengedipkan satu matanya, yang berakhir membuat keduanya saling tertawa.
“Lo konyol banget sih.”
Wonwoo tidak membalas, tapi setidaknya ia tidak lagi melihat kerutan kekesalah di wajah Mingyu.
“Mama sama papa pasti seneng deh kalo bisa ketemu sama lo.”
Wonwoo tersenyum, “gue juga denger cerita dari lo, pingin ketemu sama orang tua lo. Pasti baik banget ya mereka? Ngeliat gimana lo tumbuh kayak sekarang, peran mereka walau cuma sebentar, itu pasti berpengaruh banget. Seungkwan cerita banyak tentang lo, dia juga bilang kalau dia sama temen-temen lo yang lain itu bersyukur banget bisa ketemu sama orang kayak lo. Lo disayang banyak orang, Mingyu.”
Senyuman tipis kembali muncul di wajah tampan itu. Sebenernya ini bukan pertama kalinya ia mendengarkan kalimat seperti itu. Mingyu merasa dia hanya menjadi dirinya sendiri. Ia juga masih merasa jika dia bukan orang yang benar-benar baik. Buktinya ia membawa Wonwoo terjebak di kehidupan sementara mereka. Bermain rumah-rumahan.
“Mama sama papa selalu ngajarin gue, kalau gue itu sama orang harus baik. Mereka ga pernah melarang gue mau berteman sama siapapun entah mereka dari kalangan mana sekali pun, bahkan mereka udah ajak gue ikut volunteer ke panti asuhan dari gue kecil. Inget banget gue waktu itu kayaknya lagi di grade 5, gue diajak vouluntee dan gue beneran di minta buat cuci piring bekas makan siang bareng papa. Kata pops abis itu gue tidur pules banget di mobil waktu perjalanan balik ke Seoul.”
Mendengar itu, Wonwoo ikut tersenyum, seandainya panti asuhan tempatnya itu memiliki keluarga Mingyu sebagai donatur, mungkin ia bisa menarik hati Kim Jaemin seperti Jihoon? Dia memang tidak sepintar Jihoon, tapi Wonwoo merasa jika dirinya mampu bersaing, pikirnya.
“Cara didik orang tua gue itu beda banget sama Tante Hong. Dia terang-terangan ngelarang gue temenan sama orang yang menurut dia itu ga pantes. Waktu mama sama papa pergi, dia sebenernya sudah menetap di UK dan balik ke Seoul sementara, katanya sih bantu ngurus gue. Tapi gue malah ngerasa dia neken gue dengan semua standar dia. Perginya mama buat dia merasa bisa ngatur kehidupan gue kayak gue anaknya. Salah satu trigger gue kena anger issue itu dari dia. Pops akhirnya sadar itu dan minta dia buat balik ke UK. Untung waktu itu ada Kak Han. Gue lebih merasa diurus sama dia ketimbang Tante Hong yang cuma protes kalo apa yang gue lakuin itu salah.”
Mingyu menghela nafas cukup berat, “gue tau waktu itu pops, yang harusnya udah istirahat, harus tiba-tiba balik ke perusahaan buat urusin kerjaan papa. Karena papa tiba-toba ga ada, jadi mau ga mau pops harus cover semuanya. Dan mungkin karena itu dia setuju sama tawaran Tante Hong buat ngurus gue. Dia pergi ninggalin keluarganya buat gue. Bisa lo bayangin ga?” tanya Mingyu, ia kembali menatap Wonwoo dengan sebuah senyuman.
Tapi, kali ini senyuman itu terlihat lebih sinis. Wonwoo dengan ragu menggelengkan kepalanya.
“Menurut lo, kenapa dia sampe bela-belain ninggalin keluarganya buat ngurus gue, yang mana kita itu ga ada sama sekali hubungan darah. Dia bukan temen deket mama dan dia itu punya bisnis disana.”
Wonwoo mengerutkan keningnya, “gue punya tebakan liar, cuma gue pasti salah.”
Mingyu terkekeh pelan, “kalo lo nebak dia mama kandung gue, itu salah besar sih.”
Wonwoo yang menatap Mingyu cepat-cepat mengalihkan tatapannya, seperti seekor kucing yang merasa bersalah, lucu—pikirnya.
Kembali, Mingyu terlihat menghela nafas cukup berat.
“Tante Hong… she once loved papa dearly. She wanted to be with him instead of Om Gihun. Kenapa gue bisa tau ini…” kalimat Mingyu terputus, senyuman masam kembali terlihat di wajah tampannya, “gue ga sengaja pernah dengar dia scolding mama. Gue ga tau apa yang buat dia snapped kayak gitu. Tapi dia ngomong ke mama kalo harusnya papa end up sama dia. Orang yang pantes sama papa itu dia. Gue yang waktu itu masih kecil nyamperin mereka, terus marahin dia balik kalau gue ga mau punya mama kayak dia. Gue inget dia keliatan kaget banget, dan bilang kalo apa yang dia omongin itu cuma bercanda. Dan sudah pasti, gue ga diem. Gue aduin itu ke papa dan pops. Setelah itu, dia kayaknya jarang banget maen ke rumah lagi. Waktu itu keluarga mereka masih tinggal di Korea dan sering banget mampir ke sini, dinner wajib kayak dua minggu sekali. Tapi ya gitu… hal itu bertahan sebentar. Beberapa bulan kemudian dia balik lagi ikut campur lagi.”
Wonwoo terkejut. Sungguh. Ia tidak menyangka jika orang seperti Hong Mira memiliki obsesi seperti itu.
"Kak Seungcheol tau ga tentang ini?"
Mingyu terlihat menggeleng, "gue ga tau. Tapi gue harap dia ga pernah tau ini... Muka gue sama papa itu mirip banget. Jadi gue selalu ngerasa kalo dia ngelakuin ini karena ga bisa memenuhi obsesi dia dulu yang bisa sama papa. Gue ga tau pops notice ini apa ga. Tapi mungkin kayak yang lo bilang, dia mirip gue yang ga bisa nolak tante Hong. Biar bagaimanapun juga dia itu emang deket sama keluarga pops bahkan sebelum pops angkat mama sama om Gihun.”
“Tante Hong sama papa lo, sempet dijodohin kah?”
Mingyu berpikir sesaat sambil menggumam kecil, “gue jujur ga tau. Pops ga pernah cerita. Tapi waktu papa suka sama mama, katanya dia terang-terangan bilang mau nikah sama pilihannya sendiri. Dia nolak perjodohan.”
Wonwoo tersenyum, “kayak lo ya? Ga suka di jodohin?”
Mingyu mengangguk, “iya. Sampe sekarang gue ga paham, kenapa bisa ngomong gitu ke mama padahal waktu itu dia sudah menikah sama om Gihun. Dia bahkan nikah duluan dan lahirin Seungcheol. Gue ngerasa kasian dan bersalah ke Seungcheol ama papanya. Gue beneran ngerasa jahat banget, karena buat tante Hong milih sibuk ngurusin gue. Menurut lo, mungkin ga pops capek ngurus gue? Sampe dia akhirnya oke sama suggestion tante Hong buat bantu dia ngurus gue?”
Wonwoo berdehem pelan, “menurut gue, saat orang tua lo pergi, kakek lo lebih ke ga punya pilihan. Sama kayak lo, dia itu juga kehilangan anak sama menantunya. Dia pasti ngerasa devastated, marah, bingung. Karena kepergian orang tua lo yang mendadak. Belum lagi urusan kerjaan, saham dan lain-lain. Mungkin kalau dibilang capek, kalimatnya itu kedengaran sedikit negatif. Ketimbang kata itu, mungkin tepatnya waktu itu kakek lo bingung harus ngapain. Lo masih kecil, baru aja masuk fase remaja kan? Mungkin, hal itu yang buat kakek lo setuju. Cuma disini, tante Hong emang terlalu mendalami peran aja, sampe dia ga sadar kalau dia coba masuk ke tempat yang mana harusnya dia cuma jadi penonton. Dia cukup kasi lo perhatian, bukan jadi orang yang nentuin kehidupan lo.”
“Gue yakin dia sayang sama lo. Cuma caranya dia salah. Mungkin dia masih belum bisa lepasin perasaannya sama papa lo. Dan liat lo waktu itu ga ada guide, lalu dia ada chance buat nawarin diri dia dan akhirnya semua keinginan dia yang dulu itu muncul lagi. Pingin lo kebentuk kayak apa yang dia mau. Lo yang harus dapetin orang yang satu standar sama dia. Kayak yang gue bilang, tante Hong terlalu masuk ke dalam perannya dia yang bahkan bukan gantiin peran mama lo.”
Mingyu menatap Wonwoo lekat-lekat, seakan ia tengah membaca arti dari kalimat yang diucapkan oleh pria itu.
“Kadang gue ngerasa lo itu nyeremin deh,” celetuk Mingyu membuat Wonwoo menaikkan salah satu alisnya, “maksudnya?”
“Lo bisa buat gue cerita hal yang ga mau ungkapin sama siapapun. Bahkan ke ketiga sahabat gue. Ga ada yang tau tentang hal ini. Hal yang selama ini terus ngusik kepala gue. Not even Kak Han, cuma lo.”
Wonwoo tidak bergeming, tapi tanpa sadar ia menggigit pipi bagian dalamnya.
“Dulu gue sukanya cerita ke mama. Tapi sejak mama ga ada, gue ngerasa ga punya tempat lagi buat ngungkapin sisi yang pingin gue tutupin. Cuma sama mama gue biasanya kayak gini. Dari kemarin sebenernya gue udah ngerasa ga enak banget waktu liat chat dari Tante Hong. Belum lagi Seungcheol. Rasanya kepala gue mau meledak mikir semua ini.” ungkap Mingyu sambil memijat pelipisnya.
“Tadi udah gue guyur pake air juga masih berat. Even nelen painkiller dari siang juga ga ilang-ilang. Gue nahan diri banget supaya ga ngetik kalimat yang bakal nyinggung tante Hong. Gue pingin dia berhenti bersikap kayak gini ke gue. Gue bener-bener capek.”
“Nanti mungkin lo harus ngomong sama dia face to face. Kadang ga semua yang lewat chat itu bisa keungkap semuanya. Gue yakin, dia sayangnya sama lo beneran, lo cuma perlu ingetin dia batasnya sampe mana. Ngomongnya nanti pelan-pelan, pake kepala dingin. Kayaknya Tante Hong ini emang tipe orang yang keras kepala banget.”
Mingyu memejamkan matanya sambil mengangguk pelan, “iya, memang."
“Chat kakek lo jangan lupa di bales. Dia beneran khawatir sama lo.”
“Iya besok, aja.” balas Mingyu yang masih memijat pelipisnya.
“Masih sakit? Gue ambilin lo minum dulu ya, stok gue di sini abis. Tunggu bentar.”
Wonwoo bergegas turun dari kasurnya dan keluar kamar. Biasanya di kamarnya selalu ada ekstra botol air. Namun, ia lupa untuk membawa stok baru ke kamarnya. Ia sengaja mengambilkan air hangat untuk Mingyu dan mabawa tiga botol air biasa untuk ia stok lagi.
“Diminum, Min.” sahutnya memberikan mug berwarna hitam itu kepada Mingyu yang sudah bersandar di kepala ranjang.
“Lo mau minum obat lagi?”
Mingyu menggeleng, “tadi gue udah minum sehabis mandi. Mungkin belum ada efeknya aja.”
“Lo ga demam kan?” Wonwoo bertanya sambil memeriksa suhu tubuh Mingyu. Merasa jika suhu tubuhnya normal, menganggukkan kepalanya, “aman, lo ga demam. Mau pake bye-bye fever ga?”
Mingyu tadinya memejamkan mata, langsung menatap Wonwoo tajam, “bisa ngilangin pusing katanya. Gue belum pernah coba, tapi kebetulan lo lagi pusing, boleh lah lo yang ngetes? Kita buktiin bener apa boong itu klaimnya.” lanjut Wonwoo.
Mingyu memutar bola matanya, “random banget. Ga mau gue.”
Wonwoo mendecak, “ga bisa diajak kerjasama banget. Lo tidur aja, gue mau ke toilet bentar.”
Suara gemericik air bisa Mingyu dengar dari tempatnya duduk. Sambil memejamkan matanya, ia menikmati suara air itu untuk beberapa saat sampai Wonwoo menutup keran air itu.
“Kenapa belum rebahan?” tanya Wonwoo yang menaiki kasurnya, sambil menarik selimut yang menutupi setengah badannya. Ia masih menoleh ke arah Mingyu yang memejamkan matanya, menunggu jawaban dari pria itu.
“Pusing banget…” keluh Mingyu pelan, membuat Wonwoo mengerutkan keningnya khawatir.
“Nambah parah ya?” tanyanya bergerak untuk mendekat, mencoba untuk memeriksa lagi suhu tubuh Mingyu, berpikir jika yang sebelumnya ia bisa saja keliru.
Mingyu tidak membalas, ia hanya mengangguk dengan mata yang masih terpejam rapat. Merasa bayangan tangan Wonwoo sudah ada di depan matanya, Mingyu dengan cepat meraih pergelangan tangannya, matanya yang semula terpejam, terbuka seketika dengan seringaian di bibirnya, “gotcha.” bisiknya sebelum mendaratkan sebuah ciuman di bibir Wonwoo.
Pria itu tertegun, mata tajam menyerupai rubah itu mengerjap-ngerjap bingung dengan aksi yang dilakukan Mingyu. Bibirnya yang sedikit terbuka, saat ingin bertanya pun bisa merasakan sesuatu yang kenyal dan basah tengah bergerak di dalamnya.
“Open your mouth, sayang.” bisik Mingyu di sela-sela usahanya. Wonwoo yang mendengar itu akhirnya tersadar lalu menarik kepalanya untuk menghindari ciuman itu.
“Lo pura-pura?”
“Hehe.” balas Mingyu santai. Tangannya masih menggenggam pergelangan tangan Wonwoo yang terasa sangat pas.
“Jangan marah. Gue cuma mau kiss.” lanjut Mingyu dengan tampang innocentnya.
“Kan biasanya lo minta juga, ga pernah gue nolak. Kenapa pake pura-pura segala. Gue kan beneran khawatir.”
“Hehe, maaf. Kiss?”
Wonwoo mendecak, sebelum mendaratkan sebuah senyuman kilat di bibir Mingyu, “udah.”
“Apaan gitu doang?”
“Kan kiss!”
“Gue maunya kan french kiss!”
Wonwoo kembali mendecak, “males. Lo nyebelin.” balasnya sambil menarik tangannya dari cengkraman Mingyu.
“Kan gue udah minta maaf. Jangan ngambek dong, sayang. Gue beneran pusing sebenernya.”
“Istirahat, kalau pusing. Biar cepet ilang.”
“Ini udah mau berkurang pas gue kiss lo tadi. Kayaknya manjur deh, mau test itu aja ga? Ketimbang itu bye-bye fever?”
Wonwoo hanya bisa memutar bola mata dibuatnya, “ya udah.”
Mendengar itu senyuman di wajah Mingyu semakin melebar. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia menarik tubuh Wonwoo, membuatnya tertidur di sampingnya sebelum kembali mendaratkan sebuah ciuman yang kali ini berbalas seperti keinginannya.
Suara lumatan yang saling ingin mendominasi pun kembali memenuhi kamar itu. Ciuman yang awalnya hanya di mulut perlahan bergerak menelusuri bagian tubuh lainnya.
Desahan Wonwoo pun tidak bisa ia tahan, saat Mingyu menggigit collarbone-nya. Ia tidak mengerti, mengapa pria itu sangat suka menggigit bagian itu. Setiap kali mereka making out atau berhubungan badan, Mingyu tidak pernah absen menggigit dan menghisap bagian itu.
Wonwoo tahu, jika sudah seperti ini, mereka akan berakhir tidur telanjang. Mingyu sudah memberikan sign-nya dan Wonwoo sangat mengerti dengan arti setiap sentuhan yang diberikan Mingyu saat ini.
“Min?”
“Can we?” tanya Mingyu setelah memberikan sebuah kecupan singkat di mata Wonwoo.
Kilauan penuh harap di pupil mata Mingyu membuat Wonwoo bisa melihat refleksi wajahnya yang sudah memerah, dengan nafas yang terengah. Satu hal yang ia kagumi dari Mingyu. Pria itu selalu bertanya apakah dia bersedia atau tidak. Pernah, hari itu Wonwoo mengatakan jika ia sedang tidak mood. Ia sangka Mingyu akan memaksanya… tapi tidak. Mingyu tersenyum, sebelum menciumnya pelan lalu pergi ke kamar mandi untuk mengurus dirinya.
Itu pertama kalinya Wonwoo merasa penolakannya dihargai dalam hal itu. Mingyu benar-benar berbeda dengan mantan-mantannya.
“Iya…” balas Wonwoo dengan suara parunya.
Setelahnya, ia tahu jika Mingyu akan kembali membuatnya mengerang nikmat. Wonwoo menikmatinya, dia tidak akan berbohong mengakui sentuhan dan permainan Mingyu itu benar-benar membuatnya seakan di atas awan. Terkadang ia bahkan tidak ingat apapun, dan sudah terbangun dengan badan yang bersih—dan juga pegal, keesokan harinya.
Sama seperti saat ini. Ia hanya bisa mengerang, sambil menyebut nama pria itu. Setiap gerakan Mingyu beradu dengan erangan-erangan nikmatnya.
Dan sekarang, dirinya yang merasa pening. Kepalanya tidak bisa berpikir dengan jernih dengan semua gerakan dan kalimat-kalimat yang Mingyu ucapkan. Yang bisa ia lakukan hanya bisa mengerang dan meminta Mingyu untuk mempercepat gerakanya, memohonnya untuk berhenti, atau memintanya untuk menciumnya—selain menyebut namanya, tentunya.
“You’re so good. Dari pertama kali, setiap kita main, rasanya masih sama. Lo enak banget, sayang.” bisik Mingyu sambil menjilat telinga Wonwoo, yang rasanya sudah mati rasa. Wonwoo tidak bisa lagi merasakan sentuhan di area sensitifnya karena genjotan yang diberikan Mingyu. Kendalinya terlepas mengimbangi gerakan Mingyu yang memenuhi rektumnya.
Mingyu suka saat Wonwoo memekik karena gerakannya, dan juga ketika Wonwoo menyebut namanya terus menerus. Wonwoo tidak pernah menahan dirinya saat mereka melakukan ini. Ia akan berusaha mengimbangi Mingyu. Take and give.
Wonwoo benar-benar pandai dalam hal itu dan membuat candu bagi Mingyu.
Setiap rintihan yang Wonwoo keluarkan ketika menyebut namanya membuat getaran asing selalu muncul di benak Mingyu. Melihat bagaimana mata sayu Wonwoo memohon dengan bibir terbuka saat menghirup oksigen membuat Mingyu semakin bersemangat. Rona merah di telinga dan juga pipi Wonwoo membuatnya terlihat sangat cantik di mata Mingyu.
Dan ketika tidak sengaja mendapati Wonwoo menyunggingkan senyumannya, disela-sela desahanya saat ia mengenjotnya, Mingyu tahu jika pria itu mereka berdua menikmati satu sama lain. Membuatnya berdebar penuh semangat.
Wonwoo tidak pandai mengungkapkan perasaannya dengan kalimat seperti Mingyu saat mereka bermain, tapi sekarang Mingyu sudah mahir membaca setiap gerakan, bahasa tubuh dari Wonwoo. Dia seakan bisa menghafal reaksi yanga kan di berikan Wonwoo saat ia menyentuh titik nikmatnya, pekikannya... rintihan... dan juga bagaimana dinding Wonwoo semakin mengetat saat memperdalam genjotannya.
Seperti sekarang, Mingyu bisa merasakan kedua kakinya bergetar mengapit pingganngya ketika ia mencapai klimaksnya, namun matanya menatap Mingyu tegas dengan jemarinya menangkup wajah Mingyu, “lagi… cium Min…” sahutnya sambil menggerakkan pinggulnya sembari ia bergerak mendekati wajah Mingyu untuk menciumnya.
“As you wish, sayang.” balas Mingyu tersenyum sebelum melahap kembali bibir Wonwoo yang sudah memerah. Hentakan tubuhnya saat mendapatkan dorongan kuat dari Mingyu beradu dengan erangan di sela-sela ciumannya,
“Oh… Mingyu…hng...deeper...” bisiknya sambil meremas rambut panjang Mingyu.
Malam itu pun terasa cukup panjang. Erangan dan desahan mereka masih memenuhi kamar itu hingga lewat pukul satu pagi, sampai Wonwoo tidak bisa menahan kantuknya. Hari ini, semua kegiatan yang ia lakukan sampai tengah malam seperti ini benar-benar menguras tenaganya. Ia tidak bisa lagi merespon saat Mingyu menciumnya atau memberikan tanda saat Mingyu mencapai klimaks terakhirnya. Wonwoo hanya memekik dengan tubuh membusung sebelum ia terkulai lemas dengan mata terpejam, dan mulut terbuka. Ketika Mingyu mengeluarkan penisnya, ia bisa melihat tubuh Wonwoo masih bergetar tidak terkendali, erangan tidak sadak sadar masih keluar dari bibirnya untuk beberapa saat sebelum ia terdiam, tergantikan oleh dengkuran halus.
Mingyu yang masih bersimpuh di atasnya dengan nafas memburu hanya bisa menatapnya. Kilatan puas terlihat jelas di matanya yang membuatnya menyeringai meinkmati hasil karyanya di tubuh Wonwoo. Jemarinya terulur meraba jejak-jejak dirinya di tubuh basah Wonwoo.
Setelah menatap pria itu cukup lama, akhirnya Mingyu bangun dari tempatnya dan pergi ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum ia kembali ke ranjang itu dan membersihkan tubuh Wonwoo yang masih tidak bergerak. Dengan hati-hati ia membersikan setiap inci tubuh Wonowo, dia tidak akan membiarkan Wonwoo tidur dengan badan lengket seperi ini. Tidak perlu waktu lama untuk Mingyu membersihkan Wonwoo sampai ia mengenakan setelan baju tidur. Kemudian dengan lembut, seperti menggendong bayi, ia membawa Wonwoo berjalan menuju kamarnya.
Seperti sebelum-sebelumnya ia lakukan. Setiap kali mereka selesai berhubungan badan, Mingyu pasti akan membawa Wonwoo tidur di salah satu kamar mereka yang tidak terpakai. Ia benar-benar membuat Wonwoo bangun senyaman mungkin kecuali dengan efek permainannya yang cukup sering membuatnya merasakan nyeri dibagian belakangnya.
Setelah merebahkan Wonwoo, Mingyu naik ke atas kasurnya dan bersandar sebentar. Kepalanya menengadah menatap langit-langit kamarnya untuk beberapa waktu hingga sebuah sentuhan membuatnya terbangun dari lamunannya dan mendapati Wonwoo yang sudah meringkuk seperti bayi sambil mencengkram selimutnya.
Tanpa sadar, sebuah senyuman muncul lagi di wajah Mingyu. Jemarinya bergerak menyibak rambut pria itu yang meutupi matanya.
Tangannya masih dia mengelus-ngelus pipi Wonwoo yang rona kemerahannya sudah mulai memutar sampai beberapa detik kemudian, ia mendekatkan dirinya dan mendaratkan sebuah kecupan singkat di mata Wonwoo, lalu turun ke hidungnya, beralih ke pipinya dan berakhir di bibirnya yang terbuka sedikit.
Satu, dua, tiga... dan lima kali banyaknya ia mencium bibir merah Wonwoo yang masih membengkak.
"I broke the rules, Wonu. What should I do now?"