Dunia Panas, Keberlanjutan Dingin
a note from R. Nugroho Purwantoro, FEB UI lecturer's who is always curious about the future of our planet and the proactive role business can play in driving its transition
a note from R. Nugroho Purwantoro, FEB UI lecturer's who is always curious about the future of our planet and the proactive role business can play in driving its transition
Dunia Makin Panas, Keberlanjutan Makin Dingin
Fenomena gelombang panas yang memecahkan rekor historis melanda berbagai wilayah di Bumi. Suhu udara yang panas (lebih dari 40 derajat celcius) telah “membakar” beberapa kota dan menguji keandalan infrastruktur seperti jaringan listrik maupun fasilitas layanan kesehatan yang ada. Permasalahannya, peningkatan suhu ini tidak terjadi secara bertahap, gelombang panas tiba-tiba muncul semakin panas, dalam waktu yang lebih lama, lebih mematikan, dan tentu saja lebih mahal dampak yang diakibatkannya. Sebuah artikel di The New York Times menyebutkan bahwa setiap musim panas, Amerika Serikat menghabiskan sekitar $1 miliar untuk biaya perawatan kesehatan yang berhubungan dengan gelombang panas.
Tahun 2023 menjadi tahun terpanas sejak pencatatan global dimulai pada tahun 1850 dengan suhu 1,18°C di atas rata-rata abad ke-20. 10 tahun terpanas dalam rekor 174 tahun terakhir semuanya terjadi selama 1 dekade terakhir (2014–2023). Sebagai catatan, tahun 2005, yang merupakan tahun pertama dicatatnya rekor suhu global baru abad ke-21, kini cuma menjadi tahun terpanas ke-12 yang pernah tercatat. Tahun 2010, yang saat itu melampaui rekor tahun 2005, kini menduduki peringkat ke-11 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat. Meskipun tahun 2021 dan 2022 tidak termasuk dalam lima tahun terpanas yang pernah tercatat, suhu tahunan global meningkat dengan laju rata-rata 0,06°C per dekade sejak tahun 1850 dan meningkat lebih dari tiga kali lipat laju tersebut 0,20°C sejak tahun 1982.
Mirisnya, “pencapaian” ini sejalan dengan kesimpulan laporan terbaru Statistical Review of World Energy dari the Energy Institute bahwa tingkat emisi gas rumah kaca, penyebab pemanasan global, mencapai rekor terbaru tahun lalu. Meskipun tercatat pula adanya peningkatan nilai investasi pada energi terbarukan. Artinya, energi ramah lingkungan yang ada saat ini masih belum mampu memenuhi keseluruhan pertumbuhan permintaan akan energi. Dapat dikatakan, bahwa transisi energi belum dimulai.
Laporan tersebut menyatakan bahwa penggunaan energi primer secara global naik 2 persen ke rekor 620 exajoule – 1EJ setara dengan sekitar 170 juta barel minyak. Pangsa bahan bakar fosil dalam bauran energi dibanding tahun 2022 hanya turun sedikit (sebesar 0,4 persen) menjadi 81,5 persen. Sebagai perbandingan jangka panjang, proporsi bahan bakar fosil dalam bauran energi mencapai 86 persen pada tahun 1995. Data ini mengungkapkan besarnya tantangan yang dihadapi dunia setelah negara-negara pada konferensi COP28 di Dubai menetapkan target ambisius untuk mempercepat transisi dari bahan bakar fosil, dalam upaya membatasi pemanasan global hingga 1,5C di atas tingkat pra-industri.
Pesan penting yang perlu disampaikan adalah kita perlu melipatgandakan upaya dalam mengurangi emisi karbon dan menyediakan pendanaan serta kapasitas untuk membangun lebih banyak sumber energi baru atau terbarukan yang rendah karbon khususnya di negara-negara berkembang. Karena, dalam konteks negara maju pangsa bahan bakar fosil dalam bauran energi Eropa misalnya sudah turun di bawah 70 persen. Untuk pertama kalinya sejak revolusi industri, karena Eropa didesak oleh keadaan geopolitik terus mengurangi ketergantungannya pada pasokan gas dari Rusia dan mengurangi penggunaan batu bara. Sementara di Amerika Serikat, konsumsi batu bara turun 17 persen, sehingga penggunaan bahan bakar fosil secara keseluruhan dalam bauran energi negara tersebut turun 2 persen menjadi sekitar 80 persen konsumsi energi primer. Dapat diharapkan bahwa kedua wilayah ini telah menunjukkan tanda-tanda yang jelas akan puncak atau mulai menurunnya secara permanen permintaan akan bahan bakar fosil.
Kondisi sebaliknya, penggunaan bahan bakar fosil di India meningkat sebesar 8 persen, dan untuk pertama kalinya konsumsi batu bara India jumlahnya melampaui tingkat penggunaan gabungan di Amerika Utara dan Eropa. Meskipun negara ini termasuk tepat waktu dalam memenuhi target pembangunan kapasitas pembangkit listrik dari sumber terbarukan, namun masih jauh dari cukup untuk menutupi peningkatan permintaan listrik secara keseluruhan.
Sementara, di Cina, yang menyumbang sekitar 30 persen pemakaian energi global, konsumsi bahan bakar fosil meningkat 6 persen ke tingkat tertinggi baru yaitu 139 EJ. Namun, Cina sangat cepat dalam meluncurkan energi terbarukan, dengan kapasitas tenaga surya dan angin baru yang mencakup 63 persen instalasi global pada tahun 2023. Cina juga merupakan rumah dari 50% baterai penyimpan daya terbesar di dunia. Secara keseluruhan, proporsi bahan bakar fosil dalam bauran energi primer Cina telah menurun selama dekade terakhir, mencapai 81,6 persen pada tahun 2023. Dipercaya, sumber energi ramah lingkungan sudah dapat memenuhi pertumbuhan permintaan listrik di Cina pada tahun 2027 dan melampauinya pada tahun 2030.
Kabar buruknya, komitmen industri keuangan khususnya di Wall Street terhadap investasi berkelanjutan cenderung menurun di bawah tekanan politik lokal Amerika Serikat. Uang justru cenderung terus mengalir keluar dari penempatan dana investasi yang berfokus pada prinsip-prinsip lingkungan hidup, sosial dan tata kelola (ESG). Kekhawatiran mengenai isu green-washing, boikot dari berbagai dana pensiun institusi publik khususnya di negara-negara bagian yang dikendalikan partai republik, hingga perdebatan internal di banyak dewan direksi mengenai fokus perusahaan, menjadi alasannya. Di Amerika Serikat, strategi investasi berbasis ESG semakin dipolitisasi. Bahkan pada perkembangan terakhir, frasa ESG sendiri seolah menjadi “haram”, hingga dihapus dari program resmi Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, setelah pada tahun-tahun sebelumnya selalu muncul sebagai salah satu agenda utama.
Para investor institusional besar yang sebelumnya mendukung inisiatif ESG, kini mengubah narasi mereka. BlackRock misalnya, dulu dikenal sebagai juara dalam menjagokan ESG sebagai salah satu pertimbangan utama dalam strategi investasi mereka, kini menjadi lebih “diam” seiring dengan meningkatnya ketegangan politik, terutama di kalangan anggota parlemen (kongres) dari Partai Republik. Salah satu dana investasi kelolaan mereka, iShares ESG, mengalami arus keluar penarikan dana besar-besaran selama tahun 2023. Secara keseluruhan, manajer investasi di Wall Street telah melikuidasi 16 dana investasi terkait ESG pada kuartal terakhir dan hanya membuka tujuh dana investasi baru sejenis, merupakan kuartal kedua berturut-turut di mana jumlah dana investasi ESG yang ditutup melampaui jumlah dana investasi baru yang dibuka.
Survey terbaru dari Gallup juga menunjukkan bahwa isu iklim semakin tidak menjadi prioritas utama bagi masyarakat Amerika Serikat. Permasalahan ekonomi, imigrasi dan isu sosial kini menjadi perhatian utama para pemilih. Sehingga secara politik, isu iklim tidak lagi “panas” untuk menjaring dukungan. Kemungkinan jika Donald Trump terpilih kembali, isu lingkungan akan menurun prioritasnya lebih jauh lagi.
Dalam konsep ekonomi, menurunnya dukungan atas isu ESG, dimana sebagian besar raksasa industri keuangan menarik diri dari perjanjian iklim internasional dan berupaya melobi untuk mempermudah peraturan seputar pengungkapan/pelaporan terkait iklim, dapat dipahami sebagai sebuah masalah dilema tahanan (prisoner's dilemma) klasik. Jika perusahaan secara kolektif beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan, iklim global yang lebih sejuk tentu akan memberikan manfaat yang besar untuk semua orang di masa depan. Namun dalam jangka pendek, tiap perusahaan mempunyai insentifnya masing-masing untuk mendapatkan ataupun mempertahankan keuntungan dari sistem yang sudah berjalan dengan bahan bakar fosil sebagai sumber energi utama, sehingga transisi energi sulit untuk dicapai.
Beberapa investor aktivis pada saat ini juga banyak yang memilih untuk mundur. Proposal resolusi pemegang saham terkait perubahan iklim telah kehilangan dukungan investor dalam beberapa tahun terakhir, menurut catatan penelitian RBC Capital Markets yang diberitakan oleh the New York Times. Perusahaan energi ExxonMobil bahkan menggugat dua investor aktivis pada Januari 2024 atas usulan pemegang saham yang mereka ajukan, yang meminta ExxonMobil untuk mempercepat rencana pengurangan emisi karbonnya. Para investor aktivis tersebut akhirnya membatalkan inisiatif resolusi mereka.
Dan perusahaan raksasa teknologi juga menghadapi kenyataan dampak besar iklim yang mereka akibatkan. Semakin populernya penggunaan kecerdasan buatan (AI) telah menyebabkan peningkatan penggunaan listrik dan air dalam jumlah besar untuk keperluan mendinginkan fasilitas pusat data (data center) yang mendukung layanan mereka. Ketika mulai banyak negara-negara bagian di Amerika Serikat yang mempertimbangkan kembali dukungan mereka terhadap investasi pusat data di wilayahnya, dampak negatif popularitas AI semakin “terdorong” untuk pindah ke negara-negara berkembang dimana raksasa teknologi dapat memanfaatkan harga listrik dan air yang lebih rendah. Amerika Latin, misalnya, kini mulai mencatat lonjakan investasi pengembangan fasilitas pusat data, termasuk di Mexico City, sebuah ironi mengingat wilayah ini hampir dilanda kekeringan, dimana para ahli dalam waktu dekat memperkirakan sumber air tanah disini akan habis.
Penulis:
R. Nugroho Purwantoro
Lembaga Management FEB UI
Referensi:
NOAA, 2023 was the warmest year in the modern temperature record, NOAA National Centers For Environmental Information, Jan. 17, 2024 https://www.climate.gov/news-features/featured-images/2023-was-warmest-year-modern-temperature-record?campaign_id=4&emc=edit_dk_20240620&instance_id=126722&nl=dealbook®i_id=100912859&segment_id=170067&te=1&user_id=5ac1376b47190190bb160a4dc5d2c935#:~:text=The%20year%202023%20was%20the,decade%20(2014%E2%80%932023).
Energy Institute, Statistical Review of World Energy 2024
https://www.energyinst.org/statistical-review
Lydia DePillis, Dilemma on Wall Street: Short-Term Gain or Climate Benefit?, The New York Times, June 20, 2024
Andrew Ross Sorkin, Wall Street’s Climate Retreat, The New York Times, Feb. 16, 2024
Bernhard Warner, Investors Pull Billions From Sustainable Funds Amid Political Heat, The New York Times, Jan. 19, 2024 Updated Feb. 6, 2024
Lydia Saad, Inflation, Immigration Rank Among Top U.S. Issue Concerns, Gallup, March 29, 2024 https://news.gallup.com/poll/642887/inflation-immigration-rank-among-top-issue-concerns.aspx?campaign_id=4&emc=edit_dk_20240620&instance_id=126722&nl=dealbook®i_id=100912859&segment_id=170067&te=1&user_id=5ac1376b47190190bb160a4dc5d2c935#:~:text=Six%20Issues%20Worrisome%20to%20Majority%20of%20Americans&text=These%20are%20crime%20and%20violence,the%20budget%20deficit%20(51%25).
Lois Parshley, The Unknown Toll Of The AI Takeover, The Lever, June 19, 2024, https://www.levernews.com/the-unknown-toll-of-the-ai-takeover/