Pada tahun 2016, World Economic Forum merilis sebuah laporan yang diantaranya berisi visualisasi tentang nasib plastik, mulai dari proses produksi hingga proses daur ulang. Data yang digunakan pada laporan tersebut, menggunakan data dari tahun 2013.
Ditunjukkan bahwa produksi plastik pada saat itu mencapai 78 juta ton, namun plastik-plastik yang berhasil "diselamatkan" guna dijadikan bahan baku, hanya mencapai 2% dari total plastik yang diproduksi.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa, upaya daur ulang saja belum cukup untuk bisa mencegah lebih banyak lagi polusi plastik.
Bagikan informasi ini melalui tombol berikut :
Sistem pengelolaan sampah eksisting belum optimal untuk dapat mencegah plastik yang tercecer (mismanaged). Menurut laporan dari World Economic Forum, plastik yang tercecer dari pengelolaan sampah mencapai 32% dari jumlah total plastik yang diproduksi.
Bagi negara yang pengelolaan sampahnya sudah baik, hingga dapat melakukan proses daur ulang, pun plastik tetap jadi kekhawatiran. Pasalnya, menurut penelitian tahun 2017 oleh Geyer dan koleganya, plastik dapat didaurulang maksimal 2 kali dalam siklus hidupnya. Bahkan, ketika sudah melalui proses daur ulang, nilai pakainya menurun, dan kemungkinan untuk dijadikan barang yang sama sebelum dilakukan daur ulang, cenderung kecil.
Bagikan informasi tersebut lewat Instagram!
Dilansir dari media daring "Wired" yang berjudul "A Surge of New Plastic Is About to Hit The Planet", World Economic Forum memperkirakan produksi plastik akan meningkat sebanyak 2 kali lipat.
Di awal tahun 2020, perusahaan Shell bahkan mulai membuka plant produser plastik yang diperkirakan dapat menghasilkan 1,6 juta ton plastik per tahun.
Bagikan informasi ini lewat Twitter dengan menekan tombol beriku :