Memperbaiki sistem pengelolaan sampah belum efektif hasilnya jika hanya dilakukan di hilir sistem : sektor penanganan dan pengumpulan sampah. Untuk hasil yang lebih berkepanjangan dan berkelanjutan, dibutuhkan intervensi lebih dalam lagi pada sistem pengelolaan sampah : dari hulu ke hilir.
Sebagaimana yang kita ketahui, sampah yang kita kenal, awalnya merupakan barang-barang konsumsi, yang semakin lama nilai pakainya menurun atau habis. Barang-barang tersebut masih didesain dengan desain lama yang menganut konsep cradle-to-grave, artinya barang dibuat untuk pada akhirnya dibuang.
Michael McDonough, melalui bukunya yang berjudul Cradle to Cradle, menyajikan perspektif baru tentang bagaimana sebuah produk bisa diproduksi dengan memikirkan bahwa setelah masa pakainya habis, produk tersebut dapat dibuat menjadi bahan baku produk lain. Konsep tersebut disebut sebagai cradle-to-cradle, yang artinya barang dibuat untuk pada akhirnya dimanfaatkan kembali hingga siklus yang tak terhingga.
Bagikan rekomendasi buku ini pada kerabat Anda yuk dengan klik tombol berikut.
Dalam bukunya, McDonough memaparkan bahwa upaya individual yang dilakukan sebagai bentuk kontribusi pada keberlanjutan lingkungan kurang efektif dalam jangka panjang. Terbayang, jika dalam konsep hulu ke hilir hanya berfokus pada penyelesaian di hilir, maka masalah sebenarnya belum sepenuhnya terpecahkan. Mesti ada suatu masa dimana kita semua merasa aman dalam memakai barang atau produk, tanpa kuatir berkontribusi pada masalah lingkungan.
Dalam menuju ke masa itu, kita perlu memperluas lagi perspektif tentang bagaimana sebuah bahan baku pada akhirnya menjadi barang yang biasa kita konsumsi.
Buku The Story of Stuff milik Annie Leonard dapat menjadi bahan bacaan yang bagus untuk memperluas perspektif tentang bagaimana bahan baku diproses menjadi produk layak konsumsi. Buku tersebut pun menunjukkan bahwa dengan konsep produksi yang masih cradle-to-grave akan membebani lingkungan, baik dari mulai pengambilan bahan baku hingga masa pembuangan barang.
Bagikan rekomendasi buku-buku ini melalui Instagram dengan klik tombol berikut.
Pada tahun 1992, Profesor Mohan Monasinghe pernah mengajukan Sustainomics Framework di perhelatan Earth Summit Rio de Janeiro. Dalam framework tersebut, terdapat segitiga Pembangunan Keberlanjutan (Sustainability Development Triangle), yang masing-masing sisinya terdiri atas aspek Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan. Menurutnya, ketiga aspek tersebut harus berada dalam kesetimbangan untuk dapat keluar dari krisis multisektor yang terjadi di abad-21 ini.
Sejalan dengan ide tersebut, Kate Ratworth dalam bukunya yang berjudul Doughnut Economics, setuju bahwa masalah yang ada di abad-21 tidak bisa hanya diselesaikan dalam satu sektor saja. Katakanlah, masalah lingkungan, sebenarnya jika ditinjau lebih dalam, memiliki kaitan erat dengan masalah lain dalam segitiga keberlanjutan.
Melalui buku Doughnut Economics, kita akan dapat melihat penyelesaian multisektoral terhadap suatu masalah (salah satunya masalah lingkungan). Buku tersebut membawa perspektif baru seputar konsep ekonomi baru yang dapat menyelesaikan masalah multisektoral.
Yuk sebarkan informasi rekomendasi buku tersebut, agar lebih banyak orang yang tahu bahwa masalah yang kini dihadapi, mesti diselesaikan dengan kerjasama dari berbagai sektor! Klik tombol berikut ini.