EPS 1

Siapa yang salah dalam ketidak berhasilan seorang anak? Orangtua? Guru? Lingkungan? Sekolah? Komunitas anak? Begitu banyak variabel kemungkinan yang hanya menjadi dugaan. Seorang guru tidak terlalu lama diam dalam pertanyaan "penuh" yang menggerogoti pikiran hingga bahkan tunjukan jari dari pihak-pihak yang masih sama-sama belajar. Mari kita penuhi diri kita Bapak/Ibu guru hebat! 

Variabel yang bisa kita jadikan bahan pengembangan dan reflektif di antaranya, kinerja guru, gaya mengajar, pendekatan pembelajaran, penguasaan kompetensi, dan prestasi belajar anak. Wah, memang seorang guru tidak bisa lepas dari prestasi belajar anak ya bapak/ibu, namun menurut Coleman tahun 1960-an di Amerika Serikat, dimana dia berkesimpulan bahwa "home and family factors" justru paling dominan dalam meningkatkan prestasi belajar anak, sedangkan "faktor sekolah" menjadi sekunder. Lalu yang menjadi faktor dominan sesunggunya apa yaa bapak/ibu? Kita simpan dulu ya pendapat Coleman itu, kita lanjut penuhi diri lagi dengan bagaimana sih seni dan ilmu mengajar, apakah mengajar kita sudah benar?. Paradigma belajar apa yang kita gunakan sehingga dapat kita tularkan bahkan implemetasikan di dalam kelas kita?. Personal branding sebagai guru apa kabar nih? personal branding disini tidak melulu tentang sosial media bapak/ibu, tapi seperti apa kita di pandangan peserta didik kita di sekolah? dan sebenarnya profil guru yang seperti apa sih yang di ingiinkan khalayak masyarakat tertutama murid kita sendiri?, Apakah selama ini kita sudah menjadi guru yang baik? Apa malah kita menjadi guru yang frustasi? Apalagi peran kita memang banyak ya di antaranya sebagai manajer dan fasilitator pembelajaran, memotivasi, melatih dan melakukan konseling kepada peserta didik. Yuk kita simak pembahasan kali ini!

Cara deliver atau penyampaian materi kita menjadi salah satu faktor peserta didik tetap menyimak mata pelajaran kita, hal yang mungkin bisa kita perhatikan masih banyak rekan kita sebagai guru mengkopi apa yang ada di buku dengan penyampaian yang begitu membosakan. Guru tidak sama dengan buku yang bisa "berbicara". Guru bukan transformatif bacaan yang di sampaikan kepada peserta didik. Lalu apa yang menjadi berharga dalam pembelajaran di dalam kelas jika guru bukan sebuah buku yang "berbicara"? jawabannya ialah DIALOG!!! 

Dialog ini jauh melampaui sekedar berbicara, peserta didik tidak akan tahan dengan sebuah ensiklopedi selama berjam-jam, adanya interaksi membuat hubungan dua arah menjadi hidup dan buatlah peserta didik menjadi "subjek" di kelas. Kita siap memberikan layanan pembelajaran sesuai dengan capaian di setiap harinya dengan memiliki prinsip mengajar yang baik dan siswa yang baik tentu akan mengambil manfaat besar dari peran guru, sebagaimana anak-anak di asuh dan dibesarkan di bawah pengasuhan orang tuanya sebagai sarana mencapai kematangan dan kemandirian.

Guru mampu berbicara sederhana dimana tidak perlu menggunakan bahasa yang mungkin sulit di pahami bagi peserta didik kita, kita bisa memahami level kognitifnya secara individu dari data tersebut kita dapat memilih kata dan gaya bahasa seperti apa yang akan kita gunakan dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu pendukung utama pendekatan pembelajaran yang meningkatkan interaksi di dalam kelas berbasis teknologi adalah argumen dari B.F. Skinner. Dia berpendapat guru dapat dilatih untuk menerapkan teknologi pendidikan atau mentransformasikan material pembelajaran dengan pendekatan teknologis dalam logika seperti masukan-proses-luaran atau stimulus - respon. 

Guru mampu berpengetahuan luas, berhenti belajar sepertinya 2 kata lucu jika hal tersebut di lakukan oleh seorang guru. Boleh saja kita rehat sejenak, namun bukan stuck!. Nah ini nih gongnya kalo menurut saya, guru mampu menginspirasi agar peserta didik dapat memahami, mengevaluasi, menimbang dan mengenali kebenaran. Mengenali kebenaran dengan cara-cara yang bijak dan tepat guna. Mengarahkan bagaimana cara belajar untuk dirinya sendiri serta mendorong dan menginspirasi dengan laku.

Guru memfasiliasi peluang belajar dengan lingkungan edukatif, memotivasi, mengangkap pikiran dan hari peserta didik. Guru berperan dalam mendorong dan membangkitkan gairah baru peserta didik untuk membangun jembatan antara apa yang mereka ketahui dan dapat lakukan, serta bagaimana mereka mampu menjadi pembelajar yang berkelanjutan. Kehadiran seutuhnya seorang guru untuk peserta didik memiliki beberapa elemen :

Guru mampu meneliti, menulis dan memimpin anggota tim karna dalam mengajar kita akan menjadi peneliti bagi peserta didik kita, dari tes kemampuan awal, menentukan level kognitif di setiap capaian pembelajaran, minat dan bakat, serta gaya belajar. Hal-hal ini menjadi konklusi singkat saya yang mempercayai bahwa mengajar adalah seni, mengajar membutuhkan ilmu, mengajar tentu saja sebuah profesi. Mengapa seni? karna guru harus mampu melakukan dan menangani proses kreatif secara tidak terduga yang membutuhkan sebuah intuisi, ekspresi dan improvisasi. N.L. Gage mendukung dengan mengemukakan bahwa mengajar adalah seni atau seni guru dalam mengajar merupakan dasar ilmiah dari hasil penelitian dari lingkup ilmu sosial, psikologi, sosiologi, dan komunikasi. Mengapa mengajar membutuhkan ilmu? karna temuan ilmiah tersebut (salah satunya milih Gage) dapat berubah sejalan dengan penemuan lain/baru yang dapat menimbulkan diskusi/anutan baru. Karna adanya sebuah seni dalam temuan ilmiahnya mengajar membutuhkan ilmu sehingga mengajar layak di katakan sebagai sebuah profesi karna membuat sebuah skill individunya. 

Tenaga profesional tidak bisa selalu bertahan dengan sebatas "dugaan" melainkan harus mengandalkan pengetahuan ilmiah dan perasaan yang tajam tentang bagaimana menerapkan keduanya. Jadi, kombinasi antara seni dan ilmu pengetahuan harus harmonis di ruang-ruang kegiatan pembejaran itu dilakukan.

Masyarakat tentu mengidamkan kehadiran guru yang istimewa namun tidak jumawa. Arti jumawa disini adalah dapat mengerti dan memberi tolerasi atas perbedaan masing-masing peserta didiknya. Brilliant teacher mampu mencerminkan keterpelajaran, integritas pribadi dan kemampuan berkomunikasi dengan peserta didik. keterpelajaran disini merupakan terdidik  dalam etika pengetahuan dan kebiasaan berpikir. Guru juga bukan super person melainkan orang yang memiliki keyakinan secara jujur mengalir dari pengajuan wajar dan siap mengakui kelemahan sendiri. Brilliant teacher juga memperhatikan kemampuan berkomunikasinya yang memiliki kemampuan berempati, melihat situasi peserta didiknya, menjadi pendengar yang kompulsif, membangun percakapan positif serta memotivasi.

Salah satu aktifitas di bawah ini apakah sudah kita lakukan bapak/ibu? mari kita refleksi bersama.

Karakter pribadi seorang guru mampu :

Karakter guru di kelas :

Guru menghindari perilaku ini:

***