Murid kelas XII adalah puncak pembelajaran di sekolah setelah itu kami sebagai para guru berharap mereka tidak berhenti belajar untuk ke depannya. Tentu definisi belajar ini tidak hanya dalam lingkup akademisi melainkan lingkup lainnya seperti pekerjaan dan kehidupan. Siapa yang berperan penting agar murid menganggap belajar adalah kegiatan yang di lakukan sepanjang hayat? Disini siapa yang langsung kepikiran guru? iya itu jawaban yang benar, tapi yang tidak kalah penting adalah faktor keluarga. Kedua mitra ini tidak hanya seperti kawan kolega tetapi mitra yang benar-benar BERMITRA. Selama ini sekolah meng-approach walmur hanya untuk pembiayaan (kebanyakan) yah mentok dengan pembagian rapor lah, jarang sekali walmur di berikan pertemuan yang kontiniu untuk melihat perkembangan anaknya secara AKSI, mendapatkan pengalaman parenting dan penyamaan persepsi pendidikan era jaman sekarang antara sekolah dengan walmur itu sendiri. Selama ortu tidak begitu mengerti kegiatan yang ada di sekolah walmur akan abu melihat sebuah kegiatan yang ada di sekolah. Setelah melihat itu abu mereka akan meminta pendapat kepada anaknya. Iya kalo anaknya yang suka belajar, pasti akan menjelaskan kegiatan sekolah dengan objektif. definisi objektif disini adalah menjelaskan definisi kegiatan, tujuan dan manfaat bahkan sampai ke kelebihan dan kekurangan bagaimana sekolah mengimpelemntasikannya. Wah jika ada anaknya yang memiliki struktur pemikiran yang seperti itu ia pasti jadi generasi emas yang sesungguhnya ya. Tapi kebanyakan dari mereka menjelaskan dengan abu, dan kurang objektif (belum lagi jika walmur bertanya ke sesama walmur yang julid aja gitu sama program sekolah). Bisa jadi benar pendapatnya yang kurang objektif itu karna namanya juga anak-anak (murid) tapi sebuah pendidikan dan pelatihan tentu memiliki maksud jika adanya sebuah kegiatan. Sekarang kembali lagi bagaimana pra-eksekusi kegiatan, eksekusi kegiatan, sampai pasca eksekusi kegiatan. Maka dari itu biaya pendidikan sangat tinggi ya bapak ibu, karna banyak tahap yang di lakukan. Itu lah jika kita ingin memiliki pemikiran yang struktural dan sistematis, hal ini secara tidak langsung akan membawa kita ke persoalan hidup lainnya. karna proses belajar lah yang akan di ingat oleh kita, bukan sin cos nya matematika, bukan luwes atau tidak murid ketika menari dalam pelajar seni, bukan hafalnya murid dengan undang-undang ketika mapel kewarganegaraan. Mungkin 5 tahun ke depan mereka akan lupa, tapi perasaan belajar, pengalaman yang mengasyikan akan membawanya ke alam bawah sadar bahwasannya belajar itu menyenangkan yaa. 


oke oke dengan pendahuluan di atas, disini saya akan menyimpkan 3 poin untuk masalah pendidikan itu sendiri:

Kita Elaborasikan berdasarkan poin-poin :

a. Negara tidak mampu memberikan dana yang cukup

b. Mindset gratis pada warga negaranya karna kemiskinan

c. Tidak ada komunikasi yang jelas dari pihak sekolah ke walmur yang "gamblang" pada sebuah pertemuan.

Tentu poin ini adalah dampak dari berbagai masalah yang ada di pendidikan. Sebab murid kurang senang/nyaman belajar.

Ketiga hal ini seperti siklus, siklus yang HANCUR!!

Belum lagi ketemu walmur yang mindset lama atau susah di satukan persepsinya dengan pihak sekolah ( ini kalo sekolahnya udah bener ya , eh walmur yang butuh di edukasi dengan usaha yang yahhh *capekkk ). Tapi kenapa tidak sulit bagi walmur yang di sekolah prestige ya? Sekolah international walmur nya terkesan lebih mudah di samakan visinya DARI PADA walmur sekolah lain. Karna ya dengan SPP, fasilitas dan kurikulum yang prestige mereka sadar pendidikan itu PENTING jadi sekolah ga perlu susah-susah mengedukasi "BAPAK-IBU PENDIDIKAN ITU PENTING, MARI KITA TANAMKAN BELAJAR SEPANJANG HAYAT PADA ANAK-ANAK KITA". Mereka si sekolah prestige tinggal jelaskan program minta masukan (UDAH). Kayanya udah gitu aja, sama ngajarin murid yang bener UDAH. Lah ko sekolah negeri banyak amat PR-nya yaa. Ya tapi upaya positif harus di lakukan kalo menurut saya, jangan udah sistem begini kita juga ya yaudalah mau gimana lagi? Mindset apa itu? GURU KEKINIAN??? Apalagi hanya menyalahkan orang lain yang di luar kendali kita. Sistemnya sih bobrok, walmur sih susah di edukasi, muridnya sih males mikir. Kenapa ga kita bikin langkah-langkah aja yang meminimalisir hal itu?? Kalo kita udah bener udah maksimal udah optimal terus masih ada aja yang minus itu namanya perjalanan, itu namanya proses, itu namanya berpikir saintifik,sistemtis, dan solutif bukan haduhhhh. Karna murid kelas XII saya menulis ini, melihat capaian sekolah tidak kesampaian untuk meloloskan SNBP muridnya dan  kesadaran untuk mengikuti tes SNBT yang minim pula. Saya semakin sadar bahwasannya yang salah tidak hanya MEREKA tapi KITA, guru dan sekolah. Kita masih punya celah 🥹

***