Lahir ke dunia bukan mau kita, kebanyakan adanya keinginan orang tua kita. Terkadang kita menjadi pribadi lawan bagi orang tua kita sendiri. Faktornya karna banyak hal, mungkin karna banyaknya perbedaan sudut pandang mengenai cara hidup, prinsip hidup bahkan tujuan hidup. Tidak sedikit dari kita sebagai anak kadang berpikir kita tidak ingin ada disini tapi kenapa di harapkan namun di berikan perlawanan, hambatan bahkan cacian. Mungkin orang tua tidak sadar kalo itu perlawanan, hambatan bahkan cacian, mungkin mereka ingin memperlihatkan separah itu dunia. Nyatanya setelah bertambah dewasa memang separah itu dunia, ada untungnya aku telah di caci oleh orang tuaku sehingga orang lain mencaci pun tak berasa berarti. Sebelum mencapai ke titik itu banyak sekali pergulatan dalam hidup yang terjadi terhadap orang tua.
Kita yang nakal ini kadang berpikir, kenapa orang tua kita selalu overprotektif terhadap kita. Padahal yang kita lakukan adalah baik untuk kita, bahkan kesalahan yang kita perbuat pun baik untuk kita belajar. Tapi berbeda dengan sudut pandang orang tua. Sebisa mungkin kamu (anakku) tidak perlu berbuat kesalahan cukup orang lain saja atau aku saja dulu yang pernah berbuat kesalahan dalam hidupku, kamu tidak usah. Kamu cukup belajar dari kesalahan orang lain, namun jiwa muda ini terlalu bergejolak, apalah artinya hidup tanpa perjalanan dan kesalahan, seakan kesalahan itu penting. Sekecil kita ingin main hujan-hujanan, bagi orang tua yang melarang hal ini mungkin banyak faktor mungkin mereka keberatan untuk mendampingi anaknya hujan-hujanan di luar, mungkin jika di berikan kepercayaan dengan teman kecil lainnya untuk hujan-hujanan anaknya masih belum bisa membedakan mana air hujan yang baik untuk bermain, mana air hujan yang dari genting bahkan saluran yang kemungkinan bisa menimbulkan penyakit, mungkin mereka tidak bisa menyampaikan dengan baik dan benar dengan anak kecil yang inginnya hujan-hujanan dengan temannya. Anak kecil itu yang sangat kuat keinginannya harus di patahkan dengan sebuah bentakan dan cacian serta membuat luka pertama itu. Aku kira bapak hanya mampu melukai ibu saja, ternyata dia sampai hati melukaiku. Aku yang anak kecil itu sesenggukan di peluk ibu dengan menikmati seramnya ekspresi wajah dan kata-kata bapak. Semua terekam di otakku, bahkan menjadi arsip pertamaku. Aku cukup patah hati pada saat itu, namun aku berpikir ini tak apa ini masih perjalanan pertama, sepertinya masih ada perjalanan-perjalanan berikutnya yang aku dan bapak memiliki sudut pandang yang berbeda.
Sebagai anak kecil yang hanya bisa menangis, setelah aku tenang aku berekspektasi akan di dengarkan oleh bapak, akan di tanyakan kamu tidak apa-apa nak? kamu kenapa ingin hujan-hujanan? sehingga aku bisa menjelaskan apa mauku dan maksudku. Ternyata setelah fase itu aku di diamkan saja dengan ekspresi tegang dan seram bapak. Sampai hari berlalu tiba-tiba lagak bapak mengajak damai putri kecilnya yang seakan lupa dengan kejadian kemarin-kemarin. Malah itu membuat luka pertamaku, itu hal kecil tapi ternyata masih ku ingat patah hati itu. Sebelumnya memang bapak selalu manis, seram ketika marah atau berdebat dengan ibu. Sampai juga sekarang marah itu ke anak kecilnya. Sebegitunya bapak anaknya ingin selalu aman dan tidak sakit.
Sebelumnya bapak pernah marah kepada ibu dengan pembahasan yang aku tidak mengerti. Sebagai keturunan jawa, orang tuaku suka sekali membahas tentang orang dewasa menggunakan bahasa jawa itu. Tentu aku tidak mengerti, yang aku mengerti adalah bahasa pergaulan jakarta dan bahasa sopan (Indonesia) yang cocok untuk orang tua. Terdengar dari beberapa kata dan penekanan mereka sedang berdebat, dan tidak lama ibu hanya berdiam karna power bapak yang begitu kuat. Bukan power suara saja menurut penilaianku itu adalah power (menguasai ranah debat/diskusi itu). Bapak telah besar memegang kendali perdebatan itu, sampai ibu merasa capek dan emosi ibu kemudian lari dari perdebatan itu dan mengambil sebuah obat serangga cair yang tidak di peruntukan oleh manusia. Ibu ingin meminumnya sontak aku langsung berteriak karna sepertinya bapak tidak memperhatikan aksi ibu. Aku yang berteriak sambil menangis keras bapak kaget dan langsung menghampiri ibu sambil mengatakan, "wes,wes,wesss! udah udahh liat anakmu...!" Aku menangis kejar, aku bingung apa yang terjadi? Obrolan apa yang membuat ibu begitu? Mereka benar sedang berdebat? Aku tidak mengerti pembahasannya karna bahasa yang di gunakan dan masalah yang di bicarakan, aku masih anak-anak.
Setelah itu, aku di peluk ibu dengan keras dan ibu sedikit menangis namun tetap menenangkan ku yang selalu merengek "ibu ibuuuu...". Selesai dari adegan berbahaya itu, aku kira mereka sudah selesai. Bapak tambah emosi, bapak tetap mengeluarkan kata - kata yang penuh dengan penekanan, dan semakin mempertegas memang benar mereka sedang ribut!. "Bego kamu, tolol kamu! ga mikir!" kata bapak. Aku belum tenang dan semakin panik aku takut ibu melakukan hal heroik lagi sambil kebingungan aku keraskan tangisanku agar mereka menyudahi perbincangan itu. Untung saja, ibu mengerti maksud tangisanku "udah pak udah, ini loh anak e belum diem-diem!" kata ibu. "Udah dek, gapapa... udah diem gapapa..." ibu menenangkanku. Sedikit tenang aku di ajak tidur siang oleh ibuku dan tetap berada di pelukan ibu.
Menurut internet usia-usia memang aku sedang takut-takutnya di tinggal orang tua ku, namun semenjak kejadian pertengkaran itu aku semakin takut di tinggal minggat oleh ibuku. Jadi setiap bangun tidur pagi hari dan sore hari aku selalu berteriak, "buuu ibuuu?! bu siniiii!" buatku itu adalah memastikan ibuku tetap serumah dengan ku dan aku bisa memeluknya sebelum aku lelap. Aku memang sadar sejak dulu tidak ada hubungan yang selalu baik, mungkin itu adalah kejadian terburuk yang pernah mereka alami, semoga dengan hal terburuk itu mereka belajar untuk menjalin komunikasi aktif dan konstruktif. Namun sampai aku dewasa pun, ternyata belum bisa. Entah apa yang kurang, masalah orang tua memang tidak sesimpel itu. Aku hanya bisa diam dan percaya mereka bisa selalu dalam kendali. Mungkin patah hati pertamaku bukan patah hati pertama ibuku, bisa jadi patah hari pertama ibuku kejadian sebelum aku ada dunia.
Patah hati berikutnya adalah ketika aku diberikan tekanan untuk selalu mendapatkan peringkat kelas. Hal ini konyol tapi pada masa itu memang mendapat peringkat kelas seperti mendapat pride tersendiri. Mengingat pekerjaan bapak adalah supir dari pilot dan pramugari yang 6 hari selalu bertugas dengan jam kerja 16-18 jam, bapak selalu menuntut anaknya mendapatkan pencapaiannya itu agar tidak melalui kesulitan sepertinya. Bapak selalu marah jika ada nilaiku yang turun dan peringkatku turun, pada saat itu aku berpikir orangtuaku sangat perfeksionis. Dengan gaya satu arahnya aku hanya sebagai pendengar amarah dan emosi saja, aku hanya penikmat kata-kata. Aku bukan bintangnya kala itu, bukan bintang kelas maupun bintang dalam percakapan atau diskusi itu. Lagian kata siapa itu diskusi, itu hanya ekspektasiku yang kejadian adalah satu arah dan bapak yang menjadi bintang dalam panggung itu. Menikmati emosi bapak aku sampai menangis yang awalnya tidak namun bapak kadang berbicara keluar konteks dan menakutiku dengan masa depan yang mungkin aku tidak akan melaluinya. Buruk memang dan aku patah hati untuk ke sekian kalinya pada setiap kenaikan kelas jika aku mendapatkan peringkat 2. Usia sekarang aku memaknai sebenarnya orang tua ku bukan ingin aku selalu peringkat kelas, tapi orang tuaku berharap aku memiliki habit yang baik. Belajar tidak sambil menonton tv, sadar akan tanggung jawab akan belajar dan PR (orang tua tidak perlu mengingatkan), dan bangun lebih awal jika ingin pergi ke sekolah. Sebetulnya kejadian itu tidak sering aku lakukan namun hal itu yang ingin di sampaikan orang tuaku hanya saja momennya pas ketika aku tidak menjadi bintang kelas. Seakan kegagalan ku karna hal-hal itu, mungkin saja iya mungkin saja tidak. Karna menurutku aku masih anak-anak, kadang aku merasa bosan dengan rutinitas yang sama, kadang aku merasa kurang nyaman dengan guru kelasku yang menjelaskan terlalu cepat dan tidak friendly serta materi yang begitu sulit buatku pada saat itu. Faktor guru ternyata sangat berpengaruh untuk semangat anak SD ini. Dan menurutku untuk menurun tidak jadi bintang sesekali tidak apa, karna ya ini masa kanak-kanak.
Ada cerita konyol berikutnya yaitu bapak menemukan surat laki-laki yang menyukaiku di dalam tasku. Bapak marah sangat besar, bapak kira aku menyukainya sama sekali bahkan aku tidak mengenal laki-laki itu. Lalu mengapa aku menyimpannya? aku ingin membacanya dengan tenang karna sebelumnya aku membacanya dengan tegang dan takut. Maksudku aku ingin mencari tahu siapa laki-laki itu karna sangat misterius, aku takut suatu saat aku akan di ganggu ketika aku sedang tidak terjaga dari ibu atau teman-temanku. Tapi lagi-lagi bapak emosi dengan satu arahnya, maksudku tidak tersampaikan. Menurutku banyak kesempatan aku tidak di berikan waktu bebicara dengan tenang, ketika aku menjawab pertanyaan bapak yang singkat aku dituduh bohong semakin malas aku berkeinginan menjelaskan dengan tenang. Bahkan sering kali aku ikut emosi melihat bapak yang emosi dan sedih karna kata-katanya yang membuatku (seharusnya tidak sebegitunya).
Aku beranjak remaja dan sebentar lagi menggunakan seragam putih biru, aku meminta kado pada ulang tahunku. Aku ingin alat musik keyboard, aku pikir aku bisa menghabiskan waktu liburan tahun baruku sebelum masuk SMP dengan bermain keyboard, dengan harapkan sekolah baru, jenjang baru, teman baru dan skill baru itu luar biasa jika di bayangkan. Sejak kecil aku suka dengan musik, entertaiment, panggung dan apapun itu yang berhubungan dengan performance. Keterkaitanku sudah nampak sejak kecil, aku ingin di lihat ketika bernyanyi sambil bermain gitar asal serta aku suka bersolek. Ada momen ketika usia 2 tahun aku sangat antusias dengan panggung di gang komplek rumahku. Panggung itu untuk perayaan 17 Agustus pada masanya, aku terlalu bersemangat hingga merasa ingin tampil beda dari biasanya. Padahal aku bukan penampil, tapi aku merasa aku harus tampil jika ada kesempatan. Kemudian sampailah pada pembuka acara dan penampil pertama dan aku tidak ingin kehilangan momentumku, aku bilang ke ibuku "bu, aku mau nyanyi di panggung!" singkatkan dengan perdebatan kecil ibu langsung menghampiri MC dan menyampaikan keinginanku. MC pun mengabulkan keinginanku dan menyambut ku dengan hangat di atas panggung. Mereka bertanya "mau nyanyi apa adik?", "cicak cicak" sautku. Akupun tidak habis pikir kenapa aku seberani itu, dan bapak ibu hanya tersenyum dari pandangan posisi panggung yang berbeda. Bapak sedang berkumpul dengan bapak-bapak, ibu senantiasa menunggu ku di pinggir panggung dengan posisi agak jauh dari ku agar tetap menikmati penampilanku. Turun dari panggung itu aku merasa puas, puas sekali entah kenapa. Lalu aku berpikir, dengan pengalaman musik itu dan sampai sekarang aku merasa tertahan dalam dunia seni ku, aku ingin memiliki skill baru untuk mendukung musikku yaitu bermain keyboard. Aku isi liburanku dengan keyboard yang sebenarnya aku masih bingung bagaimana awal belajar keyboard. Internet pada jamannya sudah mulai menjadi budaya pop tapi belum terlalu pop. Ingin rasanya search di internet bagaimana caranya untuk bermain keyboard agar handal, namun ternyata di tengah kepengurusan pemberkasan kelulusan ku sebagai anak SD aku membeli buku musik yang terdapat akord-akord keyboard dan gitar. Pada jamannya disebut dengan MBS, "Bang lupus, beli MBS dong bang!" itulah kata-kataku ketika membeli buku musik di dekat SDku. Sampai akhirnya aku menemukan jalan musikku di sekolah, singkatkan aku menjadi perhatian sekolahku jika aku pasti dikaitkan dengan musik. Pada masa ini aku lebih suka bermain musik di bandingkan belajar, aku lebih semangat bertemu ekskul dari pada pembelajaran kelas, aku lebih bergairah bertemu teman-temanku di musik di bandingkan di dalam kelas.
Masa itu aku punya band dan aku sebagai vokalis, band kami punya beberapa lagu dan ada niatan untuk menggarap musik dengan menjadikannya format mp3 sehingga bisa di nikmati teman-teman lainnya dan ada di dalam list lagu handphone orang lain jika memang berkenan dan suka dengan lagu ini. Namun pada kenyataannya, bapak tidak mengijinkan aku berangkat untuk rekaman. Bapak lebih suka aku menikmati musik untuk diri sendiri dan musik hanya sebagai hiburan. Buat bapak mendokumentasikan suara adalah hal yang tidak penting, kalaupun penting bagaimana transportasinya, dengan siapa aku berangkat, jam berapa pulangnya, ada siapa di ruangan rekaman itu. Bapak adalah orang yang sangat overprotektif buatku pada masa itu. Bapak kurang suka aku terlalu fokus pada musikku, buat bapak musik adalah sambilan bukan hal yang utama. Bapak menilai teman-teman bandku tidak mudah untuk di berikan kepercayaan. Bapak sangat mengutamakan unggah-ungguh yang terkadang nilai unggah-ungguh disetiap keluarga berbeda dan tidak semua keluarga dan orang dapat mengerti value keluarga orang lain. Bapak khawatir dengan aku yang dimana sudah mulai merasa dewasa dan percaya dengan sekitar serta duniaku. Bapak merasa tidak di hargai jika aku tetap pada pendirianku, yang aku menilai itu hal yang aku perjuangkan (musikku). Bapak marah di depan teman-temanku sampai sedih dan malu di hari janjianku dengan teman bandku untuk rekaman lagu kami. Lebih besar maluku dari pada sedihku karna bapakku marah di muka umum bukan di dalam rumah dengan pintu tertutup, bukan hanya dengan aku marahnya tapi dengan teman-temanku. Kami yang belum dewasa tidak bisa mengontrol itu dan teman-temanku pergi ke studio rekaman itu. Ini patah hatiku kesekian.
Setelah lulus dari SMP, aku masuk SMA yang sebetulnya aku tidak terlalu semangat di masa ini. Aku bingung bagaimana aku menjalankan kesukaanku (musik)?. Bapakku tidak mendukungku, SMAku tidak ada sumber daya yang mendukung, apa ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan?. Banyak hal terjadi, aku tidak seambisius dulu bahkan aku sempat mencari pelarian tapi hanya musik yang membuat aku nyaman. Sampailah aku di kota yang berbeda dengan sekolah SMA yang berbeda, masa ini aku benar-benar lari dari musikku. Banyak penyesuaian dari kepindahanku, bahasa yang berbeda, teman yang memandang aku berbeda yah wajar saja karna aku dari ibukota yang pindah ke kabupaten kecil dengan bahasa pergaulan suroboyoan, pacar LDR, suasana rumah yang berbeda dimana aku belajar menjadi gadis desa dengan beberapa stigma yang ada di otakku, hidup dekat dengan saudara entah ini akan menyenangkan atau tidak aku masih memproses ini semua. Aku galau berkepanjangan sampai aku merasa di titik klimaks, aku nangis sejadi-jadinya dan teriak sekeras-kerasnya entah ini stress atau depresi, aku merasa kehilangan diriku yang biasanya. Begitu banyak perbedaan dari sebelum-sebelumnya. Patah hati berikutnya adalah bapak emosi dengan melihat aku yang selalu murung dengan keadaan. Maksud bapak sudah harus ada di titik penerimaan, carilah hal-hal positif dari perbedaan ini. Tapi titik itu tidak mengantarkan ku ke pemikiranku, aku hanya bingung ini apa dan bagaimana kok seperti ini?. Akhirnya bapakku sambil emosi berteriak, "saya akan jual rumah di jakarta,biar kamu lupa!". Aku sedih dan emosi kenapa bapak tidak pernah mendengarkan aku, kenapa bapak tidak pernah bertanya apa yang aku rasakan, kenapa bapak selalu menyimpulkan soal dengan solusi yang menyakitkan buatku. Aku kecewa!
Esoknya bapak berniat mengajakku diskusi, rumah jakarta jual aja yaa? kan kita juga bakal jarang kesana, rumah itu bakal rusak karna waktu kalo ga pernah kita sambangi dan rawat. Setelah kontrak dengan pengontrak habis, kita bisa jual itu dengan harapan rumah itu tetap terawat dengan pemilik yang baru. Aku diam dan masih kesal dengan menjawab "terserah!". Menurutku itu bukan diskusi, itu hanya minta ijin dan apa kendali ku untuk tidak mengijinkan? itu rumah orang tuaku bukan rumahku bebas saja baginya untuk menyikapi rumahnya yang jauh disana itu. Buatku Jakarta tetap disini, di hatikku banyak kenangan disana.
Beranjak dewasa aku ingin mampu 'seakan' berdikari, aku ingin mengenal dunia lebih dekat lagi. Aku yang sudah berkuliah ingin mencoba berbisnis skincare kesukaanku dan beberapa customerku. Aku merasa dalam bisnis kecilku ini dalam dunia online aku merasa bisnis ini cukup di minati. Banyak cara strategi bisnis yang belum aku pelajari dan coba, untuk mempelajarinya membutuhkan buku, komunitas dan seminar yang bisa membuat aku terpenuhi dalam dunia bisnis atau ya bisa di bilang berdagang. Walau berdagang dan berbisnis berbeda, aku selalu menyebutkan daganganku ini bisnis karna aku memimpikan ini menjadi besar, kalaupun memang ini bukan jalan atau bisa dibilang gagal setidaknya aku sudah banyak belajar di bidang ini. Aku yang ingin berkembang ini merasa ingin mengenal customerku lebih dekat, aku ingin datang ke cfd (car free day) untuk menjajakan dagangan skincareku, seberapa banyak orang yang peduli dengan skincare ini dan berapa banyak orang yang loyal dengan skincare ini karna di dunia online skincareku selalu di beli dengan orang dengan nama dan alamat yang berbeda seakan customer yang membeli skincareku adalah ingin mencoba - coba skincare yang baru mereka lihat di instagramnya. Namun aku berpikir berjualan dengan motor di car free day sangat membahayakan, dengan membawa meja kecil kursi dan dagangan yang di jajakan membuat motor matic mungilku terasa penuh. sedangkan tempat car free day dari rumahku berjalan 15 - 20 km. Aku merasa perlu menambah skill yaitu menyetir mobil, aku berpikir orang tuaku lama-lama akan bertambah tua tidak selamanya aku mengandalkannya bahkan suatu hari bahkan bisa saja mereka yang bergantung padaku. Contoh sederhananya ketika orang tua kita sakit dan tidak bisa berkendara, kami memiliki privillege mobil jadul tahun 1996 dengan kondisi mesin dan interior yang masih sangat bagus, jadi mengapa tidak di manfaatkan untuk hal positif, untukku tidak adanya ruginya jika memiliki skill menyetir, toh aku tidak akan menggunakan mobil sebagai kendaraan daily ku, aku hanya ingin bermanfaat ketika orang tuaku membutuhkanku dan bisa mencoba bisnisku dengan lebih luas lagi. Sejujurnya dulu ketika kuliah semester 3 aku pernah kursus mengemudi, namuan aku merasa dengan kursus tidak mendapatkan apa-apa. Guru tidak memberikan tips dan trik bagaimana mengendalikan kendaraan roda 4 itu, aku merasa kursus mobil hanya sia-sia. Maksudku lebih baik belajar dengan bapak sendiri, toh bapak masih piawai mengendarai mobil walau matanya sudah agak kabur jika tidak pakai kacamata. Singkatnya aku mengirim chat melalui whatsapp dengan bapak menunjukkan niatku untuk belajar mobil, memang aku tidak menjelaskan niatku secara detail aku hanya ingin belajar mobil sudah itu saja. Dalam chat bapak jawab iya namun ketika tiba di rumah, bapak bertanya dengan nada kepo kenapa tiba-tiba pengen belajar mobil? Aku hanya menjawab "pengen aja". Aku memang tidak terbiasa berbicara banyak dengan bapak, jadi tidak terlatih untuk menceritakan sesuatu kepadanya. Hal ini menjadi algortima pada otak dan habitku, ini adalah jurang komunikasi dalam keluarga padahal anak perempuan katanya harus dekat dengan bapaknya. Tapi aku tidak karna beberapa faktor, fase ini aku masih berpikir kondisi ini bisa di perbaiki seiring berjalannya waktu ditambah aku meminta bantuannya untuk mengajariku belajar mobil mungkin bisa mendekatkan kita antara anak dan bapak. Namun ternyata jawabanku yang pengen aja, tidak memuaskannya bahkan terkesan iseng buatnya. Bapak merasa aku belum perlu mempelajari mobil itu, bapak merasa masih ada bapak yang bisa mengantarkanmu buat apa aku minta diajarkan menyetir. Bapak merasa belajar mobil tanpa guru yang profesional adalah membahayakan. Kemudian dengan nada yang cukup tinggi bapak seakan tidak bersedia mengajari mobil kepadaku. Aku sontak emosi kenapa bapak tidak pernah mendukungku, kenapa bapak selalu memikirkan pikirannya saja. Namun aku berpikir ini bukan salahnya ada salahku juga aku tidak menjelaskan niatku dengan detail, tapi aku tidak terlatih bicara banyak dengannya. Menurutku sama aja bicara banyak dengan pendek olehnya, pasti hasil dikusinya melelahkan. Aku tidak pernah nyaman diskusi dengan bapak bahkan berbicara saja aku enggan kadang takut. Akhirnya kita terdapat cekcok yang menurutku salah paham, tapi yasudah aku tidak terbiasa mengkonfirmasi juga dalam banyak kasus bukan aku lead diskusinya bahkan dalam banyak kasus aku tidak pernah berdiskusi dengan bapak, adanya perintah, hardik, mengingatkan dan begitu. Singkatnya bapak mengajakku belajar mobil di dalam perumahan dan aku lupa tidak menahan koling secara menerus ketika berhenti alhasil mobil sedikit loncat dan mati. Menurutku itu hal yang wajar ketika belajar mobil, namun bapak emosi. Aku tidak akan nyaman belajar ketika sudah emosi diantaranya dan aku memutuskan untuk pulang dengan wajah yang menggerutu. Kemudian aku memutuskan untuk kursus mobil dengan sebelumnya aku berbekal tips menyetir dari youtube. Menurutku tips dari youtube sangat membantu bahkan lebih membantu dari guru yang katanya profesional di kursus mengemudi itu. Jika aku tidak memahami mindset menyetir mobil dari youtube aku juga tidak akan paham tips dan trik bagaimana mengendalikan stir. Lalu waktu kursus beberapa pertemuan aku masih banyak punya PR yaitu bagaimana cara memarkir kendaraan yang cukup besar ini, maklum aku terbiasa membawa sepeda motor matic mungil. Aku merasa belum menguasai seluruh body mobilnya, kemudian aku merasa cukup dengan kursus itu. Aku sudah mencoba membawa mobil ke tempat kerjaku, dan terkesan aman walau aku kadang panik dalam perpindahan gigi. Namun ada momen ketika aku menyetir mobil dengan mandiri diluar lingkup jalur sekolah, alhasil mobilnya terkena batu ketika aku berhenti. Mobil sedan memang memiliki moncong yang panjang terkadang tidak terlihat apakah ada batu di bawahnya. Hal ini menurut temanku wajar terjadi, cuma aku tidak ingin membuat bapak khawatir dan aku tidak di perbolehkan membawa mobil lagi. Semenjak itu aku memutuskan tidak akan membawa mobil bapak karna aku merasa ini bukan mobilku juga buat apa aku optimalisasi membawa mobil ini. Mungkin aku akan lebih leluasa dengan mobilku sendiri, menabrak batu beberapa kali mungkin akan jadi modal belajarku untuk menguasai mobil. Untuk aku sampai mahir menggunakan mobil tapi menggunakan mobil orang tua, sepertinya itu hanya ambisiusku saja. Toh sepertinya aku memang tipikal anak yang tidak nyaman menggunakan benda atau barang yang apa - apa dari orang tua. Semenjak dapat menghasilkan uang sendiri aku mengisi kamarku dengan uang jerih payahku, aku merasa aku harus berdikari mulai dari aku menghasilkan uang untuk diriku. Mungkin aku akan mendapatkan mobil dengan uangku sendiri nanti dan aku bisa mahir membawanya. Semua tidak ada terlambat dan seiring berjalannya bisnis kecil itu, penjualan semakin menurun dan kesibukkan ku bertambah ketika aku harus bekerja 7 pagi - 4 sore dan bisnis pendidikanku. Aku nikmati dulu apa yang aku bisa.
Bapak memang selalu khawatir, ketika aku pulang terlambat mendekati jam 11 malam bapak marah besar. Aku pulang dari rumah murid yang akan tampil dan perform esok harinya, namun bapak seakan saya tidak peduli apa yang kamu lakukan terpenting kamu harus di rumah jam 9 malam. Aku memang seorang guru les musik yang dekat murid dan orang tuanya terkadang sungkan memberhentikan obrolan jika wali murid bertanya banyak hal kepadaku tentang musik. Tentu yang bertanya adalah wali murid perempuan, aku juga takut jika wali murid laki-laki mengobrol denganku sampai jam 10 malam. Aku menganggap itu pekerjaan, dedikasi dan pendekatan namun bapak berpikir lain. Sampailah perkataan emang kamu kaya dari ngelesi ini? nada keras bapak. Iya! aku jawab dengan keras. Aku kesal dengan kalimat itu, dari situlah aku dapat menutupi kebutuhan dan keinginanku kenapa seakan memiliki salah besar ketika aku pulang terlambat. Toh aku bekerja bukan hangout kurang penting, kemudian kalimat berikutnya "saya malu ngeliat anak pulang malam terus!" lanjutnya. Aku berteriak dan menangis serta berpikir apa yang membuat malu karnaku? aku adalah wanita yang hanya ingin mandiri secara finansial dan karir. Aku memang memiliki pekerjaan pagi hari tapi itu tidak menutup kebutuhanku, aku juga sebagai pemusik wedding memang agak sering pulang malam. Tapi aku bekerja bukan jual diri, kenapa orang tuaku harus malu denganku. Semenjak pindah ke kabupaten kecil bapak lebih lebih memikirkan stigma orang lain terhadap keluarga ketimbang hal positif yang bisa di ambil dari keluarganya. Buatnya perempuan harus tau waktu dan batasan, aku tau ada batasan dalam hidup tapi aku tidak melakukan hal negatif dan tidak melulu aku selalu pulang terlambat. Ini dunia pekerjaanku, kenapa orang tuaku tidak pernah mengerti duniaku(?). Kalimat yang membuat patah hati kesekian kalinya adalah "kamu nikah aja sana! saya capek mendidik kamu!!" bentak bapak. Aku adalah wanita dalam fase pencarian, pencarian jati diri dalam pekerjaan dan percintaan. Aku baru saja disakiti laki-laki dengan luar biasa dan berpikir mungkin menikah bukan capaian terdekat dalam hidupku. Mungkin aku menikah pada usia 30-an dan itu tidak masalah buatku, tapi bapak berbicara seakan mengusirku dari kartu keluarga. Dengan begitu aku bukan semakin bisa memahami konteks pembicaraan hal itu mengantarkan pada sebuah emosi marah dan kesal yang luar biasa. Selalu begitu ketika aku kena peringatan bapak, tidak pernah dimengerti dan seakan bapak tidak pernah mendengarkanku. Terima kasih pak ini patah hatiku setelah ada orang lain yang berani menyakitiku namun bapak juga telah berani menyakitiku.
Bapak berharap banyak padaku, terturama dengan karir yang tetap. Menurutku rejeki jika sudah di usahakan tidak bisa dipaksa akan kehadirannya. Bapak lebih setuju aku menjadi guru sekolah penuh dedikasi ketimbang guru les dan musisi penuh dedikasi. Bapak berharap aku menjadi guru sekolah negeri yang di angkat menjadi pegawai negeri. Menurut bapak pekerjaan tetap dan aman sangat penting bagi kehidupan karna kehidupan butuh cashflow dan perputaran. Kebutuhan setiap bulan tidak mungkin berubah cenderung konsisten dan bahkan bisa naik seiring berjalannya waktu dan kondisi harga pasar. Aku setuju dengan itu, cuma untuk mendapatkan gelas pegawai negeri itu tidak semudah itu dan aku masih berpikir dengan hal keterkaitan waktu dengan sebuah pekerjaan. Tentu jika pekerjaan memiliki keterkaitan waktu yang panjang akan mengurangi waktu ku untuk berkreasi, mencari murid baru untuk les musik dan menerima job - job wedding yang sangat menyenangkan bagiku. Ini buatku merasa, aku harus kemana(?) Singkat hidup aku lolos ASN pada akun pendaftaranku, aku dinyatakan lolos tes namun pada tanggalnya statusku berubah menjadi tidak lolos. Bagaimana bisa perubahan itu terjadi ketika masa pemberkasan sudah ku nantikan? Hal ini tamparan besar bagi bapak menurutku, beliau sudha berharap banyak padaku dan status itu. Apa yang aku rasakan bukan sedih tapi bingung, kenapa hal konyol bisa terjadi dalam sistem pendidikan ini? Wah luar biasa, aku merasa di injak sistem, negara dan sedikit 'bau' permainan. Aku telusuri itu hingga tingkat tertinggi yang aku bisa, bukan untuk status yang kembali tapi bagaimana proses itu bisa berubah yang tadinya lolos menjadi tidak lolos? Sisi lain aku bukan tipikal orang yang hanya menangis karna bingung, pergerakan ini penting buatku untuk menunjukan bahwa aku tidak bisa dipermainkan. Entah menunjukan ke siapa, yang terpenting aku maju untuk diriku sendiri. Menunjukkan respect tinggi pada diri juga sangat penting. Mau tidak mau proses kalut itu aku di dampingi bapak perjalanan dari kabupaten kecil ke kota kerinduanku Jakarta. Jakarta bukan kota pelampiasan rindu untuk kali ini, Jakarta menjadi kota bertanya ku yang mungkin aku belum tentu menemukan jawaban atau tidak. Intinya Jakarta aku kembali dengan niat baikku, semoga sambil lalu rindu bisa terobati bersama kalut bingungku. Singkatnya aku tidak menemukan jawaban yang sesuai bahkan jauh dari harapan. Tentu ini bukan heroik yang aku lakukan, aku sudah mencoba bertanya kepada lembaga terdekat yang dimana aku menaruh besar pada lembaga itu. Namun jawabannya kurang mengenakkan, 1 lembaga membuat tamparan sinis kepadaku dengan berkata, ini tentang nasib bu nasib ibu sendiri jadi ibu bisa urus sendiri! sautnya sambil lalu berjalan menutup pintu. Baik akan aku realisasikan, aku naik kepada lembaga berikutnya dengan sambutan lembut tanpa jawaban yang memuaskan dan aku memutuskan untuk bergerak ke Jakarta sendirian ya dengan di temani bapak karna untuk menginap kami menginap di saudara bapak. Jika aku sendiri aku pun mampu tapi ini juga harapan bapak, bapak juga berhak ke Jakarta untuk bertanya secara langsung. Sampailah di Jakarta dengan gedung tingginya aku mencoba tenang sambil mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan ku, aku tidak mau rugi dengan ongkos kepergianku ke jakarta tanpa membawa pulang jawaban. Nyatanya di Jakarta gedung tinggi itu aku biarkan bertanya sendiri, itu tidak masalah buatku tapi kenapa bapak malah menyingkir dari obrolan itu ? mohon di simak maksudku agar bapak tahu sistem ini dan bisa membantuku untuk memberikan pertanyaan yang lebih detail lagi. Ternyata bapak hanya pengantar semu, untuk menguatkanku di belakang saja dia memiliki mendekati jendela gedung tinggi sambil memfotonya. Memang bapak memiliki peran dengan memfoto kami dalam diskusi itu, tapi aku yakin bapak kecewa dengan keputusan itu entah kenapa ada rasa aku ingin di bela dan melihat bapakku bertanya akan nasibku. Ini sebenarnya bukan mimpiku tapi mimpi bapak. Ini patah hati kesekianku pak.
Akhir dari ini adalah sebuah perjalanan dan kita memutuskan melakukan perjalanan mudik ke kampung mama di solo. Aku kira aku kuat bertemu saudara-saudara disana, aku kira ini bisa mengobati ternyata sebaliknya ini adalah semakin membuat luka dalam dengan mereka bertanya karirku sudah di angkat belum? itu membuat aku ingat dengan proses kemarin dan ditambah lagi sepupuku baru saja menjadi ASN Pertanahan. Wajarkah aku punya rasa iri? aku sedih dan ingat kondisiku kemarin yang bingung. Ternyata aku tidak nyaman disana, momen pulang kampung yang menurutku menyenangkan ternyata jauh dari harapan. Kenyataannya momen pulang kampung itu adalah kumpul untuk membicarakan saudara lain yang posisi jauh di banding kita. Aku merasa itu bukan hal positif di tengah diriku yang penuh perasaan kenegatifan akhir-akhir itu aku merasa perkumpulan saudara itu bukan kegiatan yang menyenangkan. Aku lebih suka bagaimana cara kita bisa membantu? bagaimana kita bisa mendekati keluarga itu agar terbuka apa yang sebenarnya terjadi ketimbang judgement yang di lakukan. Kita tidak benar-benar tau apa yang di rasakan oleh keluarga itu. Perasaanku memburuk dan aku ingin pulang, terjadilah cek cok besar keluargaku di rumah pakdeku. Aku mau pulang tapi tidak ada yang mengertiku, dan aku tidak terbiasa menyampaikan perasaan dan ideku ke bapak. Jadilah prasangka baru, masalah baru dan patah hari baru.