JURNAL DWIMINGGUAN PERTAMA CALON GURU PENGGERAK (CGP) ANGKATAN 5 TAHUN 2022
Oleh : SUHARDIN (SMPN 17 KENDARI)
Semenjak pagi, perbincangan tentang seremonial pembukaan telah ramai di grup on line. Kegiatan Calon Guru Penggerak (CGP) Angatan 5 dimulai hari ini (18/5/2022). Waktunya adalah dimulai pukul 13.00 hingga 16.30 WIB. Secara resmi pihak penyelenggara telah menyampaikan secara daring melalui surat Nomor : 1074/B6.7/GT.03.15/2022 tertanggal 13 Mei 2022. Pemberitahuan Kemdikbudristek RI merupakan undangan bagi seluruh guru yang telah lolos seleksi tahap kedua. Artinya guru penggerak ini akan memasuki tahap ketiga dalam kegiatan yang akan berlangsung enam bulan. Pelaksanaan pembukaan ini akan berlangsung di Jakarta namun setiap pesertanya mengikutinya secara daring.
Catatan kecilku dari video paparan Dr. IRWAN SYAHRIR M.Pd. Terdapat dua hal penting tentang Pendidikan dari Ki Hajar Dewantara. Pertama adalah pendidikan merupakan tempat bersemayamnya budi. Budi yang dimaksud adalah Budi kebudayaan. Koneksi antara pendidikan dan kebudayaan merupakan pondasi untuk menjemput kebudayaan yang dicita-citakan serta membentuk peradaban. Pendidikan dan Kebudayaan tidak terpisahkan yang terikat sangat erat.
Kedua adalah perubahan. Sifatnya adalah kekal. Sebagai ilustrasi, diberikan contoh tentang tata surya yang beragam bentuk dan juga ciri khasnya sendiri. Semua selalu bergerak, begitupula dengan kebudayaan. Harus terus berputar bergerak sesuai dengan kodrat. Jika berhenti tentu akan terjadi kefatalan. Begitu pun dengan pendidikan maupun kebudayaan. Harus terus bergerak dengan seiring perubahan zaman dan alam. Planet-planet memiliki ukuran yang tidak sama begitu pula dengan kebudayaan. Tentu memiliki perbedaan di setiap daerah. Ini harus dipandang sebagai sebuah kekayaan bangsa.
Kegiatan Lokakarya Orientasi (O) dihadiri Koord widyaswara yang mewakili Kepala LPPKPS. Pelaksanaan Lokakarya Orientasi Program berlangsung dari tanggal 21-22 Mei 2022. Tiga hotel yang digunakan namun kegiatan orientasi dilaksanakan di Plaza Inn kendari. Makmur, S.Pd.M.Pd selaku Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kota Kendari mengungkapkan bahwa sudah mengangkat beberapa kepala sekolah dari calon guru penggerak yang telah dinyatakan lulus seleksi untuk diklat ini. Ucapan selamat datang juga dikemukakan pada peserta yang berasal dari luar daerah dan tim dari pusat.
Perwakilan LPPKSP Solo memberikan sambutan berikutnya. Menurutnya, lembaga ini akan hilang bulan depan namun ceritanya akan panjang jika dijabarkan. Lebih lanjut dijabarkan bahwa, hidup itu tidak kekal, yang ada adalah berubah. Semua harus disikapi, jangan anti perubahan. Berganti nama pada PBGP (Balai Besar Guru Penggera) transformasi dari P4TK dan LPPKSP. Didaerah akan dirubah dari LPMP menjadi BGP (Balai guru penggerak). Ini kebijakan baru untuk mencapai visi indonesia maju dengan terciptanya profil pelajar pancasila. Inilah yang akan menjadi pendobrak bagi calon guru penggerak. Orientasi ini adalah untuk menyatakan kesiapan dan kesanggupan untuk dijalankan 5 bulan kedepan. Melalui guru penggerak untuk membentuk kepala sekolah masa depan. Begitulah yang diungkapkan oleh Drs Wiyono M.Pd dalam membuka kegiatan ini.
Telah banyak yang dilakukan sebelumnya namun setelah membaca dan mempelajari modul 1.1 menimbulkan presepsi yang berbeda. Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara telah membuka wawasan berpikir yang lebih luas. Beberapa hal yang penting diperoleh diantaranya, pendidik yang menghamba pada anak. Kodrta anak yang berbeda rupanya sangat penting diingat. Tidak boleh memaksakan kacakapan pendidik dalam menuntun anak. Memenuhi kebutuhannya tanpa meminta sesuatu sarta mampu menghargai perbedaan yang mereka miliki.
Mengajar harus sesuai kodrat alam dan zaman. Rentang usia yang berbeda jangan menjadi hambatan untuk mengikuti zaman yang terus berkembang. Alam yang berubah tentu bentuk dan isi kehidupan tidak sama dengan sebelumnya. Butuh kebijaksanaan untuk bisa mengajar dengan zaman dan alam peserta didik saat ini.
Menuntun lebih bermakna dari memberi pelajaran semata. Tidak menyamakan dalam pemaksanaan kehendak dalam materi pelajaran. Memberikan kebebasan namun harus terkontrol. Arus perubahan negative menjadi perhatian utama. Jangan sampai merasuk dalam kehidupan anak didik. Memanfaatkan alam sekitar dan sumber belajar yang berkearifan lokal menjadi kunci untuk berbudaya. Mengarahkan pencapaian kesejahteraan dan keselamatan hidup anak didik menjadi tujuan pengajaran. Pendidikan harus membentuk budi pekerti melalui pembiasaan positif.
Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik menjadi ide dan gagasan untuk mengoptimalkannya. Menjadi guru “penentang zaman” tidak bisa dipungkri dalam mengabdi. Bagaimana mau menuntun, jika ilmu zamannya tidak sesuai? Ini pekerjaan berat bagi saya yang gagap teknologi. Mengajar dengan sumber yang dekat dengan siswa menjadi pilihan. Konsep adat istiadat “samaturu” dalam masyarakat Suku Tolaki bisa menjadi referensi. Mengangkat konsep kearifan lokal tersebut dalam pembelajaran. Adat tersebut bermakna persatuan atau gotong-royong.
Selain berdiskusi, membuat artikel, menyusun portofolio, menjawab pertanyaan tugas, membuat video kegiatan menjadi pengalaman berharga dalam pendalaman materi. Begitulah sekilas perjalanan awal mengikuti kegiatan program penggerak ini. Saya pun mulai memahami bagaimana belajar melalui Learning Manajement Sistem (LMS).
Kendari, Mei 2022