JURNAL DWI MINGGUAN 5
PEMBELAJARAN BERPIHAK PADA MURID (BERDIFERENSIASI – SOSIAL EMOSIONAL DAN SUPERVISI AKADEMIK)
Oleh Suhardin – CGP Angkatan 5 – Kota Kendari
1. Facts (Peristiwa)
Pembelajaran yang berpusat pada murid artinya pengajar senantiasa memenuhi kebutuhan siswa sehingga bisa menuntun kodrantnya untuk menghamba pada murid. Pernyataan ini sangat membenaniku untuk terus berupaya menjadi seorang sosok pengajara yang ideal. Tuntutan jaman dengan teknologi yang makin berkembang menjadi tantangan yang seakan tidak berujung. Tidak kuat mencari solusi tentu akan berdampak pada phisikologis seorang pendidik.
Mendalami pembelajaran berdiferensiasi dan social emosional bukan hanya membawa keingintahuan. Segudang pertanyaan pun datang dan pergi sejalan waktu pelatihan yang terus bergerak. Bagaimana menerapkan pembelajaran berdiferensiasi untuk menuntun murid dengan menata social emosional dalam proses belajar? Hubungan keduanya sangat erat dan beriringan. Boleh dikatakan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan.
Implementasi pembelajaran yang berpihak pada murid ini tidak mudah bagi pemula seperti saya. Mendalami materi modul 2 menjadi alternative yang memadai. Bukan berarti tanpa hambatan. Tantangannya sangat banyak. Koordinasi dan kolaborasi sangat dibutuhkan. Minimal ada teman yang mau dan mampu mengamati proses yang terjadi. Waktu luang yang bersamaan inilah inti masalahnya. Jadwal yang padat dan jumlah kelas yang banyak menjadi tantangan pemeretaannya. Butuh waktu dalam menyiapkannya. Ragam konten dan asessmen yang berbasis data memerlukan teknik tersendiri agar fleksibel dan efektif.
Rancangan rencana pembelajaran yang disusun harus disesuaikan dengan minat dan bakat siswa. Keragaman tentu akan muncul sehingga pemenuhannya butuh kebulatan tekad dan niat yang baik. Belum lagi, pembelajaran pagi dan tengah hari tentu ada perbedaan. Kondisi siswa serta lingkungannya tidak sama. Ada sisi social emosional yang harus dikembangkan dalam pembelajaran. Minimal memusatkan kembali perhatian siswa untuk bisa belajar dengan baik. Apakah hal ini hanya dibutuhkan oleh siswa? Tekanan maupun motivasi bisa saja tidak stabil pada diri seorang guru. Bekerja melalui interaksi manusia tentu akan berbeda dengan menghadapi benda. Kendalinya akan tidak sama dalam mewujudkan harapan yang diinginkan. Konsep pembelajaran social emosional ini dapat menjadi pertimbangan dalam mengembalikan emosi menjadi ideal.
Kedua hal tersebut harus diketahui tingkat keberhasilan maupun pengembangannya. Berarti butuh orang untuk mengamatu/pemantau dalam pelaksanaannya. Kegiatan supervise akademik menjadi wadah guru dalam merefleksikan kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Wawancaranya memerlukan teknik percakapan yang sesuai. Konsep TIRTA dengan RASA menjadi bentuk yang dapat diimplementasikan.
2. Feelings (Perasaan)
Mendalami modul 2 penuh dengan hambatan. Laptop yang mengalami masalah penyimpanan data hingga semua file hilang menjadi tekanan yang berat. Sedih bercampur kesal dirasakan selama seminggu. Materi pembelajaran social emosional yang dipelajari akhirnya bisa berguna. Mengelola emosi diri dan mindfulness menjadi modal dalam menumbuhkan kembali motovasi dan semangat. Meditasi ini melatih untuk focus pada keadaan sekitar serta emosi yang dirasakan telah mengembalikan keadaan, walaupun tidak sepenuhnya maksimal.
Implementasi praktik baik pembelajaran diferensiasi tercapai. Rasa senang pun tidak terhirhindarkan. Umpan balik yang diutarakan rekan sejawat membuktikan bahwa kegiatannya telah dikategorikan baik. Hasil capaian siswa dalam pembelajaran mampu disajikan. Penyiapan konten yang beragam telah memebantu mereka dapat belajar dengan baik. Produk yang dihasilkan pun beragam. Minat dan bakat mereka tersalurkan. Ada poster digital, video klip pembelajaran, karya tulis sederhana (pentigrap) dan gambar berupa lukisan bercerita.
Kenyamanan mengajar tidak lagi terbatas oleh waktu dan kondisi lingkungan yang ada. Pagi maupun siang tidak lagi mengganggu konstrasi belajar siswa. Ice breaking, kejutan kecil ditengah jam pelajaran dan permainan kontrol emosi dilakukan dengan ragam yang berganti tiap minggu. Memang butuh koordinasi dan kolaborasi untuk menerapkan pembelajaran social emosional secara mandiri atau eksplisit. Namun Teknik inplisit telah banyak menggugah hal yang positif dalam pembelajaran. Saya pun mulai suka dengan hal-hal kecil yang menginspirasi, memusatkan perhatian dan kegembiraan sejenak. Tidak lengkap terasa jika hal ini lenyap dari alur kegiatan kelas.
Menjadi coach, coachee maupun pemantau diperankan dalam implemantasi pada aksi nyata modul ini. Terkesan susah dan merepotkan berbalik arah menjadi perasaan suka. Mendalami prinsip coaching dan paradigma coach dalam pembelajaran telah menuntun pikiran menjadi lebih tercerahkan. Ketiga kemampuan itu memang berbeda tetapi memiliki tujuan yang sama. Memaksimalkan potensi diri untuk mengembangkannya menjadi jauh lebih bermakna. Kemampuan melakukan supervise ini menjadi bermakna ketika menjadi supervisor bagi rekan sejawat. Praktik yang berulang, paparan dalam diskusi kelompok, penyajian materi melalui aplikasi serta penjelasan instruktur menjadikan pemahaman makin bertambah. Sungguh ini tidak bisa diukur dengan materi. Walaupun lelah dan waktu yang Panjang dalam melakoninya, namun ilmu yang diperoleh sangat bermanfaat.
Perasaan senang juga dirasakan saat tugas-tugas yang dibebankan dapat terselesaikan tepat waktu. Bukan berarti hanya taan pada jadwal namun tingkat pemahaman yang bertambah menjadi hal pokoknya. Mengerjakannya dengan pemahaman yang baik tentu hasilnya bisa cepat dan ideal. Keraguan pun sirna ketika tanggapan umpan balik terlihat dalam learning management system.
3. Findings (Pembelajaran)
Bagian pertama modul ini memberikan pembelajaran berarti tentang diferensiasi. Pembelajaran ini berorientasi untuk kebutuhan murid yang merupakan serangkaian keputusan masuk akala tau commonsense yang dengaja dibuat guru. Keputusan yang diambil itu berdasarkan kurikulum dengan tujuan pembelajaran diferensiasi yang jelas. Kegiatannya senantiasa memberi keleluasaan siswa dalam meningkatkan potensinya berbasis kesiapan belajar serta profil pelajar pancasila. Bukan hanya produk yang menjadi tolok ukur keberhasilan. Penyiapan konten yang berbeda dan proses yang dilakukan selama pembelajaran juga memegang peranan yang sama pentingnya.
Penerapannya harus bertumpu pada suatu lingkungan belajar untuk mengundang siswa dalam belajar, memiliki tujuan yang jelas, ada penilaian berkelanjutan serta mampu merespon akan kebutuhan belajar siswa. Suasan kelas yang efektif menjadi pertimbangan yang tidak kalah pentingnya.
Kesipan belajar siswa ini menyangkut pengetahuan maupun keterampilan yang telah ada pada pertemuan sebelumnya. Bisa jadi dari hal yang bersifat mendasar menjadi transformative atau dari konkret menjadi abstrak. Melihat siswa dari hal sederhana menjadi kompleks atau berawal dari terstruktur menjadi terbuka. Pertimbangan lainnya adalah berawal dari ketergantungan menjadi mandiri serta dari lambat menjadi cepat.
Menumbuhkan dan mempertahankan minat dapat dilakukan melalui proses memilih yang dilakukan siswa, menerapkan pembelajaran kooperatif, investigasi kelompok serta pemodelan. Tujuannya adalah membantu menyadarkan keinginannya sendiri, menunjukan keterhubungan, menerepkan ide atau keterampilan serta motivasi untuk belajar.
Profil belajar murid memiliki keterkaitan dengan banyak hal. Disamping lingkungannya yang bersifat ekternal juga dari dalam dirinya. Faktor internal ini bisa berupa jenis kelamin, gaya berpikir ataupun kecerdasan. Tujuan aspek ini adalah pemberian peluang pada murid untuk melakukan pembelajaran secara natural serta efisiean. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyiapkannya adalah lingkungan, pengaruh budaya, visual, audiotori dan kinestetik.
Modul kedua yang dipelajari adalah pembelajaran social emosional. Pembelajaran ini merupakan proses pembentukan kesadaran serta control diri dan kemampuan berkomunikasi. Upaya mencari solusi dari setiap permasalahan social emosional siswa agar memiliki kemampuan dalam bertahan serta mengatasinya merupakan tujuan pembelajaran social emosional di sekolah.
Sejatinya, pembelajaran ini menekankan kemampuan siswa agar dapat memiliki kesadaran diri (mamahami, menghayati dan mengelola emosi), pengelolaan diri (menetapkan dan mencapai tujuan positif), kesadaran seosial (merasakan dan menunjukan empati), keterampilan berelasi (membangun dan mempertahankan hubungan postif) serta pengambilan keputusan yang bertanggung jawab (membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan). Inilah komptensi social emosional (CASEL). Prinsip kesadaran penuh (mindfulness) dapat diterapkan melalui Teknik STOP (stop - take & berath - observe – proceed) dan menciptakan iklim kelas dan budaya sekolah.
Modul ketiga mengajarkan tentang supervise akademik. Salah satu bentuknya dalam lingkup sekolah adalah supervise klinis. Kegiatan ini tidak lepas dari proses coaching. Hal ini merupakan proses kolaborasi yang senantiasa berorientasi pada solusi dan hasil yang sistematis yang dibantu oleh coach.
Paradigma berpikir Among dalam kegiatan supervsisi adalah coach dan coachee adalah mitra serta bersifat kasih dan persaudaraan. Berorientasi pada emansipasi dan ruang perjumpaan peribadi. Paradigma berpikir coaching yakni focus pada coachee yang dikembangkan, memiliki kemampuan melihat peluang baru dan masa depan, memiliki kesadaran diri yang kuat serta bersikap terbuka dan ingin tahu. Prinsip coaching adalah kemitraan, proses yang keratif serta memaksimalkan potensi.
Supervisi akademik melalui paradigma berpikir coaching bertujuan dalam pengembangan sekolah berupa pertumbuhan, perkembangan dan pengawasan. Paradigma brpikir coaching ini terdiri dari kemitraan, konstruktif, terencana, reflekstif, obyektif, berkesinambungan dan komprehensif.
4. Future (Penerapan)
Contoh implementasi pembelajaran berdiferensiasi adalah kegiatan di kelas IX melalui metagenesis tumbuhan lumut dan paku. Sebelum pembelajaran saya melakukan asessmen diagnostic melalui pra asessmen. Observasi dan kolaborasi dengan guru lain dilakukan untuk melengkapi data kesiapan belajar murid. Kontek belajar tidak hanya berupa buku paket saja. Konten video melalui youtube milik pribadi, artikel blog guru dan poster. Proses juga menjadi tidak sama. Ada beberapa orang mendapatkan perhatian khusus. Penjelasan secara gamlang dilakukan untuk memberika pemahaman yang berarti. Produk yang dihasilkan juga beragam. Ada siswa yang membuat poster digital, video, tulisan cerita dan menggambar.
Kegiatan pembelajaran secara eskplisit dilakukan untuk menumbuhkan semangat belajar. Pembelajaran social emosional ini dilakukan untuk memotivasi serta memusatkan perhatian siswa dalam belajar. Sangat terasa perbedaannya bila dilakukan atau tidak. Apalagi bila waktu kegiatan pembelajaran itu telah memasuki waktu siang hari.
Berlatih menjadi coach dalam coaching adalah pengalaman yang berharga. Pola yang berbeda dengan Teknik yang selama ini digunakan menjadi penyemangatnya. Teknik TIRTA dan RASA menjadi hal baru yang diketahui. Ini menjadi modal dalam menerapkannya dalam kegiatan supervise klinis di sekolah.