Pemakaman Watanabe (masa depan, setelah ia “hilang”)
Forsaken mengadakan upacara untuk “kematian” Watanabe setelah 6 bulan pencarian tanpa hasil; yang ditemukan hanya puing dan sisa-sisa rekan.
Ballard memberi pidato penuh emosi:
Watanabe dulu hanyalah anak biasa di Golden Age.
Setelah bencana dan kematian ibunya, ia memutuskan bukan sekadar jadi “tentara/construct/pemimpin”, tapi menjadi seseorang yang melindungi yang lemah, melawan ketidakadilan, dan berbicara untuk kaum tertindas.
Ballard menegaskan:
Watanabe telah mencapai cita-cita itu lewat pengorbanannya.
Api perjuangan Forsaken tidak akan padam meski Watanabe mati atau Babylonia menghancurkan tubuhnya.
Mereka akan terus membebaskan orang-orang di area konservasi, mempertahankan tanah mereka, dan melanjutkan perjuangan sampai ada dua kemungkinan saja: kemenangan atau kematian—dan mereka memilih kemenangan penuh.
Forsaken menjawab dengan teriakan “Victory!” di tengah hujan dan guntur.
Flashback ke Golden Age – Makam Tsuru (ibu Watanabe)
Lokasi: World Government National Cemetery, jam 4 sore, sebelum wabah Punishing, saat dunia baru saja memasuki masa damai.
Watanabe kecil datang bersama ayahnya, Shin, ke makam ibunya, Tsuru, yang gugur dalam perang terakhir. Tidak ada jasad, hanya batu nisan.
Ballard datang, menunjukkan hubungan dekat dengan keluarga Watanabe dan Tsuru.
Dari obrolan Shin dan Ballard:
Ada jenderal bernama Hans dan ilmuwan Dominik; mereka bagian dari struktur World Government.
Tsuru dulu murid Hans dan tewas karena keputusan militer yang salah (satu timnya musnah). Hans merasa sangat bersalah.
Shin menerima bahwa itulah perang, dan kini hanya kedamaian yang bisa menyembuhkan luka itu.
Rencana politik & ekonomi World Government (Trillard & Hans)
Sementara di tempat lain, Presiden Trillard dan Hans berdiskusi soal proposal “sistem kontrak militer”:
Sebagian angkatan darat bisa “dikontrakkan” ke konglomerat dan entitas ekonomi.
Arnold (kepala Security Intelligence Bureau) sangat menentang sampai memukul Trillard.
Motif Trillard:
Dunia damai, ideologi sudah disatukan oleh Dominik dan Science Council, perang sudah ditekan oleh militer Hans, tapi sumber daya masih dikuasai minoritas kaya.
Ia ingin menggunakan sistem kontrak untuk “menarik” uang mereka, sambil memecah fokus mereka:
Angkatan yang bisa mereka sewa tetap dibatasi (hanya darat, rekrutmen & pelatihan dipegang pemerintah).
Saat para konglomerat saling bertarung dan terkunci konflik internal, World Government akan fokus ke luar planet: Proyek Eden dan Zero-point Energy.
Tujuan akhirnya: ketika umat manusia sudah menguasai sumber daya luar angkasa, “koin” yang disimpan para konglomerat kehilangan nilainya.
Hans memperingatkan bahwa ini permainan berbahaya; jika para konglomerat juga ikut bertaruh ke luar angkasa, mereka bisa jadi pesaing di kosmos.
Trillard menjawab: kalau mereka juga mengejar bintang dan kosmos, berarti mereka “sejalan”, dan tidak perlu dikhawatirkan.
Konflik batin Watanabe kecil tentang ibunya
Watanabe kecil tenggelam dalam pikiran sendiri di depan makam Tsuru:
Ibunya tewas dalam ledakan besar (meriam termal tidak stabil); semua yang ada di lokasi lenyap jadi abu dan logam meleleh.
Ia trauma: setiap melihat luka, yang muncul di kepalanya adalah bayangan tubuh yang hancur.
Ia mempertanyakan: “Mengapa Ibu harus pergi ke misi yang begitu berbahaya? Bukankah ia juga punya tanggung jawab sebagai istri dan ibu?”
Seorang perwira muda misterius muncul, dengan seragam militer berbeda dan lambang perisai dan sayap di jubahnya.
Perwira muda itu menjawab:
Tsuru pergi karena itu tanggung jawab yang ia pilih.
Ia tidak pernah mengabaikan Watanabe dan Shin; justru mereka adalah sumber keyakinannya.
Ia menyiratkan bahwa kelak, di masa depan, Watanabe juga akan menghadapi pilihan serupa.
Watanabe bersumpah ia tidak akan menjadi seperti ibunya yang “hanya meninggalkan makam kosong”, tapi suara perwira itu mengisyaratkan: ada lebih banyak warisan Tsuru daripada yang Watanabe sadari.
Hujan mulai turun lebat, memotong pembicaraan. Shin memanggil Watanabe untuk pulang.
Dari kejauhan, Watanabe melihat perwira muda itu lanjut meletakkan bunga di makam lain, berdiri sendiri di tengah hujan dan deretan batu nisan—digambarkan seperti mercusuar yang sepi namun teguh.
Penutup bab
Layar menutup dengan keterangan waktu: “2900 hari sebelum wabah Punishing Virus”.
Perdebatan arah peradaban manusia
Setelah masalah energi terselesaikan lewat cold fusion dan pembangunan Gestalt, umat manusia berdebat soal langkah besar berikutnya:
Rekayasa genetik & kloning tubuh plus replikasi kesadaran untuk “kelahiran kembali” tanpa batas.
Modifikasi tubuh agar manusia bisa meninggalkan “buaian” Bumi dan beradaptasi dengan kerasnya luar angkasa.
Sumber daya terbatas membuat mereka harus memilih prioritas.
Munculnya Proyek Eden & Zero-point Reactor
Di sidang Pemerintahan Dunia, Presiden pertama, Trillard, menerima proposal dari peneliti muda bernama Nithart, bawahan ilmuwan legendaris Dominik.
Proposal itu mengusulkan Zero-point Reactor, teknologi untuk menarik energi dari mana pun di ruang angkasa dan mengonversinya langsung ke bentuk energi yang dibutuhkan tanpa proses konversi boros seperti sebelumnya.
Tujuan akhirnya: mesin Zero-point (Zero-point Engine) yang bisa mendorong kapal kolonisasi mencapai dan bahkan melampaui kecepatan cahaya, mengubah fokus dari “navigasi antarbintang” menjadi kolonisasi antarbintang.
Perdebatan politik & petisi para ilmuwan besar
Beberapa anggota dewan menolak karena:
Butuh 20 tahun (10 tahun validasi + 10 tahun konstruksi).
Harus mengorbankan kapasitas produksi kapal bintang lain, sehingga “bertaruh” masa depan umat manusia pada satu teori yang belum pasti.
Nithart menunjukkan petisi yang ditandatangani nama-nama ilmuwan paling berpengaruh di dunia (perintis cold fusion, Gestalt, desain kapal bintang, dsb), termasuk Dominik sendiri.
Ini menekan politisi, meski ada yang menuduh Science Council “mengancam”.
Trillard akhirnya mengesahkan: “Project Eden” dan inti utamanya “Project Zero-point Energy” menjadi fokus utama 20 tahun ke depan. Target umat manusia resmi bergeser ke bintang-bintang.
Linimasa singkat Project Eden
Tahun 1–3:
Diluncurkan pembangunan 5 Zero-point reactor uji coba di seluruh dunia.
Verifikasi teori Zero-point Engine tuntas; secara teori mesin bisa dibangun.
Tahun 3–5:
Mulai pembangunan kapal koloni Eden I di Kota Antariksa Tsiolkovsky.
Eden I lulus rangkaian uji lingkungan ruang angkasa (SES), menjadikan hunian permanen di luar angkasa dan FTL tampak realistis.
Proyek Orient (navigasi antarbintang lama) dilebur ke dalam Project Eden; fokus resmi jadi kolonisasi.
Tahun 5–7:
Base bulan direnovasi untuk pembangunan Eden II dengan Zero-point Engine.
Hak penggunaan spaceport & starship diserahkan ke World Government; dibentuk Starship Fleet dan Space Force.
Lulusnya “Army Hiring Act” menghasilkan dana besar untuk Eden.
Tahun 10:
Trillard terpilih lagi berkat reformasi besar (medis, Gestalt di sipil, pendidikan, militer).
Tahun 14:
Eden II selesai dirakit di bulan, diuji dengan mesin cold fusion sementara dan masuk orbit sinkron bulan, menunggu mesin Zero-point.
Science Council mengumumkan: uji nyala pertama Zero-point Reactor akan dilakukan dalam satu tahun.
Seluruh dunia menaruh harapan pada Project Eden, tanpa menyadari bencana yang akan datang.
Kisah Watanabe dan keluarganya
Di tengah Golden Age ini, fokus berpindah ke kehidupan sehari-hari:
Watanabe, yang baru genap 18 tahun, akan bergabung ke pasukan darat (Ground Force), tepatnya ke skuad Oasis.
Ballard, veteran dan teman ayahnya, mengomentari penurunan disiplin militer sejak sistem kontrak dan standar rekrut yang dilonggarkan (karena musuh utama kini tinggal sisa teroris dan kartel narkoba).
Shin, ayah Watanabe dan perwira komando di Space Force, jarang pulang karena sibuk latihan dan simulasi taktik peperangan ruang angkasa. Ia dan Ballard khawatir karena Watanabe menderita hemofobia (takut darah) walau terapi sudah berjalan.
Konflik batin & tekad Watanabe
Shin mencoba membujuk Watanabe untuk tidak jadi tentara, mengingatkan bahwa bakat bukan kewajiban, dan ekspektasi berlebihan bisa berujung kehancuran.
Watanabe menyinggung ibunya, yang memilih “tugas” hingga mengorbankan nyawa. Ia:
Tidak pernah mengalami perang, hanya menikmati perdamaian yang dibangun generasi orang tuanya.
Merasa ada jurang pengalaman antara dia dan ayahnya, sehingga penjelasan soal pilihan sang ibu tak pernah benar-benar “masuk”.
Watanabe memilih menjadi tentara—bahkan jika “hanya” kontraktor—agar bisa:
Mengerti apa yang ibunya rasakan ketika memilih tugas di atas hidupnya.
Menghadapi luka batinnya sendiri dan memberi “perpisahan terakhir” yang sungguh-sungguh untuk sang ibu.
Ini adalah keputusan sadar untuk menantang ketakutannya dan mencari pemahaman, bukan sekadar ikut saran Gestalt.
Hadiah dan pesan ayah
Shin menerima tekad putranya dan memberikan hadiah kedua: sebuah shotgun lever-action antik dengan ukiran tulisan kecil:
“Ingatlah masa lalu, tapi jangan pernah lupakan masa depan.”
Maknanya: Watanabe boleh berdamai dengan luka masa lalu, tapi jangan tenggelam di dalamnya—semua ini harus mengarah ke masa depan.
Ballard mengingatkan bahwa tekad Watanabe masih “setengah matang”; nilai sejati keyakinan baru terlihat di tengah krisis nyata.
Foreshadowing bencana
Stage ditutup dengan kalimat:
“350 hari hingga wabah Punishing Virus.”
Sistem “Gestalt Matching”
Di kota ini, warga berusia 18+ tanpa catatan kriminal berat bisa memakai sistem pencocokan Gestalt untuk mencari teman.
Trillard mempromosikan fitur ini sebagai cara membantu orang keluar dari “lingkaran pergaulan lama” dan membangun koneksi baru di masyarakat yang makin bergantung pada komunikasi digital.
Keraguan Watanabe & Dorongan dari Shin
Watanabe awalnya ragu karena tidak terbiasa berteman dengan orang asing.
Shin dan Ballard mengungkap masa lalu Watanabe (sekolah, klub balap), hal yang Watanabe sendiri jarang ceritakan.
Shin menekankan bahwa di jalan hidup yang Watanabe pilih sendiri (menjadi prajurit), ia butuh teman baru, jadi dia mendorong Watanabe mencoba sistem Gestalt.
Watanabe Menggunakan Gestalt
Watanabe membuka sistem Gestalt dari terminal, menyetujui syarat & ketentuan tanpa membaca detail.
Sistem melakukan pencocokan dan menanyakan apakah ia ingin mengaktifkan “privacy mode”, yang langsung ia setujui.
Setelah itu, suara orang asing menyapanya: “Hello, can you hear me?”
Berangkat ke Kamp Pelatihan Oasis
Lima hari setelah ulang tahunnya, Watanabe berangkat ke kamp pelatihan rekrut baru Oasis (kamp modern di gurun, ia masuk skuad kedua).
Shin menelpon via satelit untuk mengucapkan salam perpisahan dan memberi restu, menegaskan tradisi keluarga mengantar anggota yang berangkat tugas militer.
Watanabe bercanda bahwa ini bukan ia masuk TK, tapi setuju untuk membuat ayahnya bangga.
Pertemuan dengan Orang Asing di Transportasi
Di perjalanan, seseorang membantunya mengangkat koper ke rak.
Watanabe merasa orang itu tampak familiar dan punya aura latihan yang mirip dengan murid Ballard, tapi ia tidak bisa mengingat siapa dia.
Orang itu mengatakan ia “semacam” juga pergi ke Oasis, tapi sebenarnya hendak menemui seseorang di sana.
Hari Pertama yang Aneh di Kamp
Sesampainya di kamp, hari pertama Watanabe langsung kacau.
Seorang instruktur mengancam akan memaksa seorang rekrut masuk ke pod simulasi (bahkan jika harus mengikatnya), dan meremehkan laporan resmi karena jarang dibaca atasan.
Instruktur menyebut pelatihan 8 tahun Watanabe di bawah Ballard dan menantangnya untuk menunjukkan kemampuannya.
Watanabe terbangun dari simulasi dengan rasa yang sangat nyata, di wajahnya. Ternyata ia pingsan saat pelatihan karena tidak tahan melihat darah.
Instructor (Backhaus) mengaku membangunkan Watanabe dengan cara “keras”, metode lama yang ia anggap efektif, dan menggoda Watanabe soal lemah mental karena pingsan duluan.
Watanabe awalnya mengira dia yang menang di simulasi, tapi setelah sadar, ia menerima hasil dan mengakui kekalahan, menolak rematch meski ditawari simulasi dengan “peaceful filter”.
Lalu cerita mundur ke saat Watanabe baru tiba di kamp pelatihan. Ia turun dari kendaraan, mengingat tekad, janji pada ayahnya, dan tujuan yang ingin ia cari, merasa gugup tapi bersemangat.
Backhaus tiba-tiba merangkul dan menyeret Watanabe ke ruang pod simulasi, menunjukkan gaya pelatihan yang agak kasar dan tidak terlalu teratur—persis seperti yang sering dikritik Ballard sebagai “kurang disiplin dan bermoral”.
Seorang medis datang dan menegur Backhaus karena memasukkan rekrut baru ke pod simulasi tanpa pelatihan adaptif terlebih dahulu, yang bisa menyebabkan efek samping.
Saat proses pendaftaran, Watanabe menyebut namanya, lalu terdengar seseorang mengulang: “Watanabe?”. Ternyata itu Bruce, rekrut lain yang sebelumnya sudah dikenalkan singkat waktu pencocokan Gestalt (Bruce dari Kepulauan Islay, Watanabe dari Beirut).
Backhaus lalu memperkenalkan dirinya secara resmi sebagai Chief Instructor skuad dua di Oasis Training Camp, dan menanyakan apakah seragam yang dulu diambil Ballard untuk Watanabe pas di tubuhnya.
Ballard & Monumen Lama
Ballard sendirian di alun-alun, menyentuh Monumen Persatuan yang sudah aus dan berdebu, merenungi nama‑nama pahlawan yang mulai dilupakan.
Ia menunggu “api sinyal” dan bersumpah para “deserter” (pengkhianat/pembelot) akan menerima konsekuensi.
Flashback: Ballard & Backhaus
Ballard menelpon Backhaus, memintanya mundur dari pertempuran karena mesin‑mesin yang mengamuk terlalu berbahaya dan ia sudah pensiun.
Backhaus keras kepala: ia percaya “besi” tak bisa diandalkan; hanya manusia yang dapat menahan serangan dan membeli waktu.
Ia berkata tugas veteran adalah membeli waktu dan ruang bagi generasi muda—bukan bersembunyi di belakang mereka.
Terakhir, Backhaus bercanda soal taruhannya dengan Ballard dan pergi bertempur.
Beberapa waktu kemudian, Ballard hanya mendengar nama Backhaus sebagai baris singkat di laporan: Backhaus gugur dalam Pertempuran Pertahanan Dataran Utara.
Ballard & Para Forsaken Sekarang
Seorang kurir melapor: selebaran baru sudah disebar ke kamp‑kamp, tapi banyak orang belum percaya Watanabe sudah mati.
Ajakan untuk menghindari konflik langsung dengan Babylonia berkurang, tapi belum hilang, terutama dari veteran yang setia pada Watanabe.
Ballard memutuskan:
Pencarian Watanabe tetap jalan, tapi mereka harus siap skenario terburuk.
Lanjutkan rencana, waspadai pihak yang menyebarkan keraguan dan merusak moral.
“Loyalis” akan ia hadapi sendiri, karena dalam pasukan hanya boleh ada satu garis komando.
Flashback: Watanabe & Rekan Latihan
Di gurun bersuhu ekstrem, Watanabe dan tim rekrut menjalani latihan fisik brutal ala Backhaus, tanpa armor canggih atau pod medis.
Anggota tim: Albert (fisik lemah), Bruce & Coates (dari Islay Islands), Garzah (pendiam, suka teh mint).
Albert hampir pingsan; Watanabe menahan jatuhnya dan ikut merasakan betapa panasnya pasir.
Bruce mengobati dengan cara tradisional, karena Backhaus melarang penggunaan pod medis untuk melatih ketahanan dan kemandirian.
Backhaus berprinsip: dalam bahaya, yang bisa kau andalkan hanya dirimu sendiri.
Obrolan masa depan:
Bruce & Coates memilih bergabung Ground Force (garis depan).
Watanabe, Albert, Garzah memilih jadi tentara bayaran. Watanabe bilang ia mengejar uang dan kelangsungan hidup, dan bercanda akan jadi bodyguard orang kaya, tapi disindir Bruce karena tak tahan melihat terlalu banyak darah.
Baik Bruce maupun Watanabe sama‑sama menyembunyikan motif terdalam mereka.
Shin & Proyek Starship / Zero-point Engine
Di orbit, Shin menerima proposal modifikasi kapal perang luar angkasa dengan Zero‑point Engine, meski uji nyala reaktor pertama baru bulan depan.
Tim teknik terlalu antusias, ingin segera memodifikasi armada dengan meniru desain kapal kolonisasi Eden II, dan mereka agak “iri” pada status Eden II sebagai pelopor.
Shin menolak mengesahkan langsung, tapi akan membawanya ke rapat umum. Modifikasi tak bisa terjadi sekaligus untuk seluruh armada.
Sekilas digambarkan "tembok" raksasa buatan manusia di orbit:
Spaceport sepanjang 18.750 km dengan 30 kapal luar angkasa, ratusan ribu personel.
240 satelit multifungsi menghubungkan Bumi–angkasa.
Semua ini adalah langkah awal menuju era Zero‑point Energy.
“Tall Guy” di Stasiun Luar Angkasa Internasional
Seorang prajurit tinggi pendiam, dijuluki “Tall Guy”, menjaga stasiun; ia berkomunikasi melalui drone yang menampilkan emote.
Peneliti Jada dan Philip akrab dengannya, memperlakukannya seperti maskot.
Mereka menggodanya karena sering berdiri di dekat jendela pandang, bertanya apakah ia ingin pindah ke armada kapal luar angkasa.
Setelah mereka pergi, terungkap bahwa yang ia tatap bukan kapal atau spaceport, melainkan hamparan ruang angkasa itu sendiri.
Ia teringat gadis yang pernah menggambarkan sensasi berjalan di luar angkasa: seperti melayang di air tanpa tekanan—bebas sepenuhnya. Ia bertanya‑tanya apakah ia akan merasakannya suatu hari nanti.
Nithart & Gestalt di bawah tanah
700 meter di bawah Science Council, Nithart menyelesaikan cek terhadap Gestalt, komputer kuantum raksasa berjuluk “Brain of the Golden Age”.
Gestalt menyimpan hampir semua pengetahuan dan data manusia, dari blueprint kapal hingga teka‑teki sepele, dan mengendalikan banyak aspek operasional masyarakat Golden Age.
Dengan kekuatan komputasinya, Proyek Zero‑point Energy sebentar lagi akan terealisasi, dan Gestalt siap menjadikannya “Keajaiban Pertama Umat Manusia”.
Para peneliti yakin keajaiban lain akan menyusul ketika manusia masuk era antarbintang.
“20 hari sampai wabah Punishing Virus”
Hari terakhir pelatihan di kamp (Watanabe, Bruce, Albert, Coates, Garzah, Backhaus)
Backhaus memeluk kelimanya erat-erat sebagai “perpisahan” di hari terakhir pelatihan.
Mereka membicarakan rencana setelah lulus:
Albert ingin masuk Ground Force.
Garzah disarankan Backhaus untuk melamar ke Angkatan Laut.
Coates mendapat saran serupa (masuk militer resmi).
Watanabe disarankan mencoba Angkatan Udara.
Bruce justru disarankan jangan masuk Angkatan Udara, padahal itu mimpinya.
Percakapan Bruce & Watanabe tentang mimpi dan kegagalan
Bruce menjauh untuk menenangkan diri; Watanabe menyusul membawakannya teh mint dari Garzah.
Bruce curhat:
Ia ingin mengikuti jejak ayahnya, Cyril, yang adalah ace pilot di Angkatan Udara.
Sejak kecil ia kagum dan ingin terbang di langit seperti ayahnya, sekaligus membuat sang ayah bangga.
Namun ia sadar bakatnya tidak cukup (terutama soal keseimbangan), sampai sang ayah berhenti mengajarinya demi mengurangi tekanan.
Bruce mengibaratkan dirinya seperti monyet yang mencoba meraih bulan di air: berusaha mengejar sesuatu yang mustahil.
Watanabe mengaitkan ini dengan dirinya sendiri yang mencoba memahami “keyakinan” sang ibu prajurit, dan memilih jadi tentara untuk mendekati pemahaman itu.
Watanabe menegaskan:
Mengejar “bulan di air” tidak salah; keindahan dan cahayanya layak didekati, meskipun mungkin tak bisa digenggam.
Yang penting bukan harus mencapai tujuan akhir yang sama dengan orang tua, tetapi tetap berjalan di jalan yang diterangi “cahaya” keyakinan itu.
Selama tidak berpaling ke kegelapan, mereka tetap berada dalam cahaya “bulan” yang sama.
Bruce, walau masih pahit, tersentuh dan memutuskan akan mencoba berbicara lagi dengan ayahnya dan belajar merelakan obsesi lamanya.
Mereka bersulang dengan teh mint yang masih panas, lalu berencana menonton upacara penyalaan Zero-point Reactor di layar besar.
Ignition Zero-point Reactor One – berbagai sudut pandang
Di Bumi:
Spotted Deer dan unit lain dari Biro Intelijen Keamanan mengawasi 26 zona dalam radius 2 km dari Reaktor Satu.
Mereka memastikan tak ada gangguan, termasuk menjatuhkan drone siluman.
Direktur baru Biro memerintahkan semua tetap waspada, terutama area bervegetasi.
Di ruang angkasa:
Di kantin stasiun luar angkasa, kru (Jada, Philip, dsb.) berdesakan menonton siaran langsung ignition di layar besar.
Mereka bahkan minta “Tall Guy” mengangkat mereka agar bisa melihat.
Philip ingin mengaktifkan mode zero-gravity agar ruangan muat lebih banyak orang, tapi Jada menolak karena repot menormalkan gravitasi lagi.
Para pejabat (Hans & Trillard):
Trillard menyesal tidak bisa menonton dari baris depan karena tertahan kerjaan kantor.
Ia membuka anggur merah dan minum bersama Hans, bersulang “Untuk hari esok”.
Detik pengapian dan awal bencana
Bruce hendak menghubungi ayahnya, Cyril, untuk membicarakan isi hatinya. Cyril menjawab, namun sebelum Bruce sempat mengutarakan semuanya, ignition Zero-point Reactor One dimulai.
Narasi berhenti tepat pada momen pengapian, lalu muncul kalimat:
PUNISHING VIRUS OUTBREAK
Ballard mengingat hari awal wabah Punishing: listrik padam, komunikasi terputus, mesin “bangkit” dan menyerang manusia. Sistem keamanan justru berubah jadi ancaman; armor dan drone berbalik membunuh manusia.
Di area reaktor, “wabah merah” menyebar: membuat mesin mengamuk dan melarutkan tubuh manusia. Banyak orang terjebak dan belum sempat kabur.
Ballard memimpin “regu bunuh diri” dengan pakaian pelindung terakhir untuk menyelamatkan orang di zona merah. Mereka hanya punya waktu 3 jam sebelum perlindungan pakaian tak lagi berguna.
Operasi gagal hampir total: dari 68 anggota, hanya 4 yang selamat, dan mereka hanya berhasil menyelamatkan 4 orang. Ballard kehilangan satu tangan, sebagian tangan lain, betis, dan organ dalamnya rusak parah. Setelah itu, ia mendapat kabar sahabatnya akan pergi ke garis depan, dan ia tidak berusaha mencegahnya.
Di sisi lain, Watanabe mengenang hari-hari awal bencana di kamp Oasis:
Hari 3: Komunikasi global putus, semua satelit tidak berfungsi, diduga terkait dengan pengaktifan ZPE. Semua latihan dihentikan, kamp masuk mode perang.
Hari 15: Mereka akhirnya menerima siaran pertama tentang virus baru bernama Punishing. Semua peralatan berteknologi tinggi dihancurkan, menyisakan senjata ringan non-intelijen dan beberapa howitzer tua. Kekuatan bertahan kamp turun lebih dari 90%.
Hari 30: Komunikasi stabil pulih, tetapi kerugian manusia di seluruh dunia sudah sangat besar.
Hari 48: Instruktur Backhaus dipanggil ke Front Utara dan tidak pernah kembali.
Hari 60: Skuad Oasis diperintahkan menyelamatkan warga sipil di dataran bersalju. Tim pengintai kehabisan amunisi dan gugur; pemimpin sementara Bruce menahan Corrupted selama enam jam sebelum mati sebagai pahlawan.
Hari 69: Warga sipil berhasil dievakuasi ke Kota 173. Watanabe menilai kamp tak bisa lagi dipertahankan, lalu mengusulkan pindah ke Kota 175 untuk mencari suplai dan penyintas; usulan disetujui.
Hari 73–75: Skuad tiba di Kota 175, menemukan banyak suplai (senjata ringan, makanan, obat). Sebagian anggota ditugaskan mengantar suplai, sementara Watanabe dan sisanya terus mencari penyintas.
Hari 80: Mereka menemukan pabrik yang dikuasai Punishing, yang memproduksi mesin yang corrupted. Pabrik berhasil diledakkan lewat operasi diam-diam, tapi aksi itu menarik hampir seluruh Corrupted di kota.
Hari 81: Dalam mundur, mereka menemukan dua penyintas, salah satunya seorang anak.
Watanabe mulai menyadari kebenaran masa lalu: seharusnya ia sudah mati saat disergap Corrupted besar waktu itu.
Ia terluka parah, dengan luka menganga di dada, nyaris di ambang kematian.
Di pelukannya ada seorang anak kecil yang ia selamatkan; ia bertekad setidaknya harus memastikan anak itu bisa kabur.
Anak itu menangis dan mencoba menghentikan darah Watanabe, menyalahkan diri sendiri karena Watanabe terluka demi dirinya.
Watanabe merasa ini adalah tanggung jawab dan sumpahnya sendiri, sama seperti yang akan dilakukan rekan-rekannya yang sudah mati (bayangan lima orang, termasuk Bruce yang kehilangan lengan, muncul di belakangnya).
Saat beberapa Corrupted yang tersisa mendekat, anak itu melempari mereka dengan batu sambil ketakutan, lalu berusaha menyeret Watanabe pergi, tapi tak sanggup.
Watanabe yang makin lemah hanya bisa memohon agar ada seseorang yang menyelamatkan sang anak.
Di saat kritis, terdengar suara seseorang berteriak “Get down!” lalu suara tembakan.
Watanabe pingsan sebelum sempat melihat jelas, tapi ia sangat mengenali suara orang yang menembaknya itu.
Watanabe Menjadi Construct
Watanabe tersadar di ruang operasi/hospital bed, tubuhnya sudah seluruhnya mekanis (Construct).
Ballard menjelaskan bahwa Watanabe terlalu parah lukanya, sehingga ia menandatangani persetujuan untuk mengubah Watanabe menjadi Construct agar bisa selamat.
Sebagai Construct, tubuh biologisnya hilang, diganti komponen logam dengan pusat kendali bernama M.I.N.D., bukan lagi otak manusia.
Watanabe mempertanyakan apakah ia masih “dirinya sendiri”, tapi Ballard menegaskan bahwa pengalaman, tujuan, dan jejak hidupnya tidak hilang hanya karena modifikasi tubuh.
Ballard ingin membentuk departemen intel khusus yang seluruh anggotanya Construct dan mengajak Watanabe bergabung karena musuh di masa depan bisa saja juga banyak Construct.
Watanabe menolak halus, karena ia merasa tempatnya adalah di garis depan—ia ingin memanfaatkan bantuan dan kepercayaan yang telah ia terima untuk mengakhiri bencana Punishing, meski harus mengorbankan nyawa.
Ballard menyadari tekad Watanabe, menyuruhnya fokus beradaptasi dengan tubuh baru, dan mengembalikan shotgun hadiah ulang tahun ke‑18 Watanabe. Ballard juga mengatakan komunikasi bumi-angkasa akan segera pulih dan mereka akan dibutuhkan.
Kontak Kembali dengan Armada Luar Angkasa
Di markas komando dunia, Hans mengamati peta: Punishing Virus (Red Plague) telah menguasai sebagian besar daratan dan lautan, logistik manusia kewalahan, dan nasib Starship Fleet belum jelas.
Setelah antena transmisi energi tinggi di Kutub Utara selesai, akhirnya sinyal dari luar atmosfer diterima.
Ternyata sinyal berasal dari starship “Miracle”; seorang perwira bernama Shin menjawab. Ini menegaskan bahwa armada luar angkasa, stasiun luar angkasa, Eden II, dan pangkalan bulan masih dikuasai manusia dan punya suplai cukup.
Mereka menjelaskan: seluruh satelit di orbit sudah meledakkan diri, drone pengintai ditembak jatuh oleh jaringan pertahanan otomatis yang telah terinfeksi Punishing.
Hans dan Shin menyusun rencana menggunakan satelit-satelit bekas sebagai “Rods of God” (batang logam kepadatan tinggi) untuk menghancurkan jaringan pertahanan terinfeksi di bumi tanpa memakai sistem senjata pintar yang mudah di-hack.
Dalam sebulan, 115 batang diluncurkan; 87 berhasil menghantam sasaran dan menghancurkan banyak sistem pertahanan terinfeksi, sehingga jalur antara bumi dan luar angkasa terbuka kembali dan sistem serangan empat dimensi (darat, laut, udara, ruang angkasa) dipulihkan.
Dengan kemenangan ini, Purifying Force dibentuk untuk memberantas kelompok-kelompok oportunis (perdagangan manusia, eksperimen kejam, dsb.) dan perlahan mengembalikan kredibilitas World Government.
Rapat Besar Pertama: Menentukan Strategi Melawan Punishing
Di “First All-Hands Meeting on the Battle against the Punishing”, Trillard membuka rapat untuk menentukan strategi jangka panjang.
Seorang anggota dewan (Councilor A) menyerang Science Council, menuduh mereka sebagai penyebab bencana Zero-point Reactor dan memaparkan besarnya korban dan kerugian.
Nithart (perwakilan Science Council) membalas dengan analogi sejarah: manusia tidak berhenti memakai api, industri, atau energi nuklir hanya karena dampak buruknya; Punishing dianggap sebagai “rintangan baru” yang harus diatasi, bukan alasan untuk mundur dari sains.
Ia menyampaikan bahwa Chief (kepala Science Council, perancang Zero-point Reactor) berencana memimpin sendiri tim untuk mematikan reaktor begitu “Inver-Device” untuk melindungi Construct telah dikembangkan. Mereka memilih bertanggung jawab langsung, bukan lari dari kesalahan.
Proposal Besar Hans: Project Acadia Transfer
Hans kemudian memaparkan rencana strategis besar: relokasi besar-besaran umat manusia ke luar angkasa.
Ia menekankan bahwa Punishing ada di mana-mana di bumi dengan konsentrasi berbeda, sementara satu-satunya “tempat suci” yang belum tersentuh adalah ruang angkasa.
Rencana:
Menjadikan spaceports, Starship Fleet, ISS, Eden II, dan pangkalan bulan sebagai basis utama.
Menciptakan kedalaman strategi 380.000 km antara Bumi dan Bulan sebagai “benteng terakhir” manusia.
Memindahkan warga sipil non-kombatan secara bertahap ke luar angkasa untuk menjadi tenaga kerja di spaceport dan starship, membangun kapasitas produksi senjata dan logistik di ruang angkasa.
Bulan dan planet lain jadi sumber daya; starship yang dimodifikasi memuat bahan mentah untuk diolah di pabrik ruang angkasa.
Dengan suplai senjata berkelanjutan, sementara musuh di bumi tidak mendapat bala bantuan, manusia secara perlahan akan memusnahkan Corrupted di Bumi, lalu meneliti solusi definitif untuk Punishing.
Hans menutup dengan seruan bahwa generasi mereka harus memikul tanggung jawab sejarah untuk merebut kembali rumah manusia berapapun biayanya.
Setelah hening sesaat, para anggota dewan satu per satu mendukung, dan proposal itu disahkan dengan suara mayoritas besar.
Nama resmi rencana tersebut: Project Acadia Transfer.
Proyek Acadia & Tiga Fase Transfer Besar
Manusia menjalankan “Project Acadia Transfer”, relokasi strategis terbesar dalam sejarah, untuk melawan Punishing.
Fase 1: Memindahkan 1,5 juta tenaga ahli, bahan baku, dan peralatan penting ke spaceport di orbit 10.000 km. Keamanan ketat: deteksi Punishing penuh, sambungan kompartemen dipasangi bahan peledak untuk pemisahan darurat, penataan ulang kapsul pelarian.
Fase 2: 20 dari 30 starship dimodifikasi jadi kapal koloni kecil, separuh spaceport diubah jadi fasilitas militer–industri. Di sela kerja, Jada dan Philip menyinggung kekacauan rapat soal desain modifikasi starship yang belum diputuskan.
Fase 3: 20 kapal koloni akan bolak-balik mengangkut sisa populasi Bumi ke planet lain di tata surya untuk ambil sumber daya dan memasok basis industri di orbit. Dibangun “kedalaman strategis” 380.000 km dengan titik penting: spaceport, armada starship, ISS, kapal koloni, dan basis Bulan. Dari seluruh tata surya inilah umat manusia berencana mengadakan serangan balasan.
Watanabe Selesai Dirawat
Watanabe resmi keluar dari perawatan setelah operasi/modifikasi darurat pada tubuhnya (material seperti tantalum).
Resepsionis heran karena ia cepat beradaptasi dan jadi yang pertama boleh pulang.
Soal matanya yang beda warna, Watanabe memilih tidak menggantinya karena ia tidak keberatan.
Tugas Baru: Operasi Gestalt
Di luar gedung, Ballard sudah menunggu dengan kendaraan dan mengatakan mereka punya misi: pengambilan inti pusat Gestalt.
Gestalt adalah mesin komputasi bola raksasa, disebut puncak pencapaian umat manusia:
Menghitung dan mengelola relokasi populasi, alokasi sumber daya, dan manajemen ruang untuk Transfer Besar.
Tanpa Gestalt, proyek akan butuh waktu dua kali lebih lama.
Jika Gestalt terinfeksi Punishing, kerusakan dan bahaya dari daya komputasinya akan tak terbayangkan. Karena itu Gestalt harus tetap di bawah kendali manusia.
Ballard vs “Para Penunggang Bencana”
Ballard menjelaskan kenapa dia butuh Watanabe: semua anak buah kepercayaannya sudah dikerahkan ke wilayah-wilayah berbahaya lain.
Di tengah kekacauan Punishing, muncul pihak-pihak:
Menyebar teori konspirasi bahwa World Government meninggalkan rakyat.
Korup dan menerima sogokan untuk ambil untung dari proyek.
Memanfaatkan pemutusan informasi untuk menipu orang ikut eksperimen ilegal yang seharusnya sudah dihentikan.
Ballard mencibir “Pasal 1092 Undang-Undang Kemajuan dan Perlindungan Sains dan Teknologi” sebagai omong kosong—menunjukkan sikap kerasnya terhadap mereka yang memanfaatkan bencana.
Ia menyebut orang-orang seperti itu sebagai “serigala rakus” yang mengais keuntungan; menurutnya mereka harus dipaksa “membayar dengan bunga”. Watanabe sadar tipe orang seperti Ballard biasanya berakhir tragis, tapi ia tahu Ballard tak akan mundur.
Soal Pesan untuk Shin
Ballard memberi terminal khusus pada Watanabe, kesempatan langka untuk mengirim pesan jarak jauh (karena satelit dan jaringan terbatas, prioritas untuk militer dan pemerintah).
Ballard menyinggung bahwa Watanabe belum menghubungi Shin sejak wabah Punishing.
Watanabe menolak menulis pesan, merasa beberapa hal—tentang ibunya, wasiat rekan-rekan, penyesalan dan kelegaan—hanya pantas disampaikan langsung, bukan lewat pesan singkat yang terasa seperti surat wasiat.
Saat Watanabe bertanya apakah Ballard menulis pesan, Ballard menjawab seakan sudah jelas ia juga tidak—keduanya saling mengerti.
Tiba di Pos Komando Sementara Operasi Gestalt
Ballard dan Watanabe melintas medan pertempuran untuk menghemat waktu dan tiba di pos komando.
Mereka bertemu Albert (“Greenhead”), teman lama Watanabe yang kini di Pasukan Darat dan ikut tergabung dalam operasi gabungan ini di bawah komando sementara Ballard.
Tim Gabungan: Militer, Norman Group, dan Science Council
Di dalam tenda, terlihat jelas tiga kubu:
Tentara bersenjata.
Teknisi dengan logo Norman Mining (Norman Group).
Seorang perempuan di sudut—Nithart dari Science Council.
Nithart menjelaskan: selain almarhum Landau, hanya dia yang paling paham Gestalt. Menjaga/merawat Gestalt adalah tugas hariannya. Rekan-rekannya yang lain sudah terlibat di operasi penutupan Reaktor Satu, jadi dia satu-satunya yang tersisa di sini.
Rencana Operasi Gestalt
Ballard memaparkan tahap-tahap operasi:
Fase 1:
Norman Mining menggunakan pemotong berat untuk membuka jalan ke “deep well” Gestalt di bawah tanah.
Norman mengingatkan: struktur bawah tanah di sekitar Gestalt rumit dan mudah membuat orang tersesat, bahkan dengan peta.
Fase 2:
Tim serbu militer membuka jalan menuju inti pusat Gestalt.
Watanabe memimpin tim serbu, sementara Ballard bertugas menahan serbuan Corrupted yang tertarik ke lokasi.
Ballard menekankan Watanabe harus terus memantau tingkat infeksi; bila mendekati ambang batas, ia harus segera mundur karena belum dipasangi Inver-Device.
Penjelasan Inver-Device:
Nithart menyebut Inver-Device sebagai garis pertahanan pertama Construct terhadap Punishing Virus—ibarat “firewall”.
Fase 3:
Perwakilan Science Council (Nithart) akan masuk ke inti Gestalt untuk mengecek apakah ada infeksi.
Jika bersih, ia akan melakukan restart untuk membuka kunci pengaman di sekeliling, agar tim Norman bisa mengangkat inti.
Jika sudah terlambat atau terinfeksi dan tak dapat diselamatkan, mereka akan meledakkan inti menggunakan bahan peledak yang dibawa—Gestalt tidak boleh jatuh ke tangan musuh.
Alasan Tidak Menghancurkan Kunci Pengaman
Watanabe bertanya: kenapa tidak langsung meledakkan pengunci keamanannya saja?
Nithart menjelaskan bahwa struktur pengaman Gestalt didesain menahan skenario ekstrem:
Inti memang punya batas penguatan, tapi justru kunci pengamannya dikuatkan habis-habisan, sampai sanggup bertahan di pusat gempa magnitudo 9.
Untuk menghancurkan kunci, mereka butuh bahan peledak jauh lebih kuat yang juga akan menghancurkan inti, bertentangan dengan tujuan menyelamatkan Gestalt.
Posisi Penting Nithart
Nithart mengusulkan agar ia ikut tim serbu supaya lebih efisien, tapi Ballard menolak.
Menurut Ballard, keselamatan Nithart berada di prioritas kedua setelah Gestalt karena hanya dia yang bisa melakukan restart. Jadi ia tidak boleh mengambil risiko di garis depan.
Mulainya Operasi
Ballard secara resmi menyatakan operasi dimulai.
Norman Mining memotong pintu pengaman tebal dua meter dengan peralatan berat, lalu menggesernya dengan crane.
Setelah jalan ternganga, Norman menyerahkan sisanya kepada tim militer.
Watanabe memimpin memasuki lorong dalam menuju Gestalt, memberi perintah: “Move out!”
Tim Watanabe terhambat oleh pintu pengaman tebal di dalam terowongan.
Mereka mencoba memotong pintu dengan cutter, tapi bahan bakar alat sudah habis, sementara setiap pintu menghabiskan banyak bahan bakar karena memang didesain sangat kuat oleh Science Council.
Watanabe menyadari bahwa tanpa pintu-pintu ini, mereka bisa cepat mencapai dasar dengan bantuan peta, tapi sekarang mereka harus mundur.
Nithart muncul dengan suara lelah, mengatakan “Tidak perlu mundur, aku akan membobol protokol keamanan”.
Ia berjalan dengan langkah berat dalam baju pelindung tebal, mengeluh tentang berat dan panas perlengkapannya.
Pusat Daya Komputasi Babylonia (Gestalt & Asimov)
Asimov masuk ke ruang inti Gestalt melalui 5 tahap verifikasi superketat (kartu otentikasi, biometrik, sandi grafis, kunci kuantum, dan dua kunci militer & yudisial).
Semua itu dilakukan karena pernah terjadi insiden besar yang menyebabkan banyak kerugian, sehingga akses ke Gestalt kini sangat dibatasi dan harus disaksikan perwakilan 5 departemen.
Asimov melakukan pengecekan rutin bulanan:
Fluktuasi daya komputasi berubah 0,023% dari bulan lalu, masih dalam batas aman.
Tidak ada anomali di data lock, tidak ada transmisi tak tercatat.
Perwakilan Eksekutif ingin mengurangi kuota komputasi demi keamanan; Asimov tidak keberatan karena sumber daya komputasi tidak terlalu penting bagi risetnya.
Asimov menatap panel isolasi Gestalt yang menyimpan seluruh pengetahuan umat manusia—mengisyaratkan bahwa sebenarnya semua “artefak pengetahuan” yang digali tim arkeologi selalu berada di bawah kendali manusia, hanya saja setelah insiden itu, tak ada lagi kesempatan mengeluarkannya.
Terowongan Perawatan Gestalt (500 meter di bawah tanah, Watanabe & Nithart)
Watanabe menyadari Nithart ikut turun ke terowongan dan langsung menanyai Ballard.
Ballard mengaku Nithart lebih “meyakinkan” dari yang ia bayangkan.
Nithart, memakai pakaian pelindung berat, menghampiri terminal di depan pintu keamanan dan mulai membukanya dengan cepat.
Ia menjelaskan:
Misi utama adalah menyelamatkan Gestalt: entah dengan menyelamatkan atau menghancurkannya, mereka harus mencapai “deep well” dulu.
Dengan kecepatan tim saat ini, mereka takkan sempat mencapai target sebelum tingkat infeksi melewati ambang, karena terhambat oleh banyak pintu keamanan.
Kalau mereka membongkar pintu satu per satu secara manual, misi akan molor minimal dua hari, meningkatkan risiko Gestalt terinfeksi dan dikepung Corrupted.
Nithart juga menyebut bahwa saat permohonan keikutsertaannya disetujui, yang meyakinkan atasan adalah data dan perhitungannya, bukan dirinya sebagai individu.
Ia mengutip: “Keselamatanmu berada tepat di bawah Gestalt,” dan menafsirkannya sebagai “kalau kita gagal mencapai Gestalt, nyawaku tidak penting.”
Watanabe mencoba menyangkal makna itu, tapi Nithart teguh: baginya, apa pun biayanya, Gestalt harus diselamatkan—itulah misinya.
Watanabe, menghormati tekadnya, memerintahkan seluruh unit membentuk formasi bertahan dengan Nithart di tengah.
Ia menyerahkan urusan pintu keamanan berikutnya pada Nithart dan mengingatkan agar jangan tertinggal; Nithart mengiyakan dan mengucapkan terima kasih.
Mereka lalu terus bergerak lebih dalam ke bawah tanah menuju Gestalt.
Situasi Darurat Gestalt & Serangan Corrupted
Alarm berbunyi: program inti Gestalt disabotase, konsentrasi Punishing melonjak.
Watanabe memerintahkan formasi bertahan untuk melindungi Gestalt.
Corrupted muncul dari segala penjuru terowongan bawah tanah, pertarungan sengit terjadi, pasukan mulai terluka parah.
Tugas Nithart & Keraguan
Flashback 24 jam sebelumnya: Chief mempercayakan Gestalt pada Nithart, memberinya sebuah disk data (milik Dominik) untuk digunakan jika Gestalt lepas kendali.
Nithart sebenarnya ragu dan merasa orang lain mungkin lebih cocok, tapi Chief dan tim sangat mempercayainya.
Di masa kini, Nithart sudah menghubungkan disk ke Gestalt, tapi virus tetap menembus firewall. Ia sempat curiga apakah Chief salah dan bahkan mempertanyakan apakah pencarian Zero-point Energy sendiri adalah sebuah kesalahan.
Keputusan Nithart & “Menyelam” ke Dalam Kode
Melihat rekan-rekannya terluka parah demi membelanya, ia teringat pesan Chief yang paling penting: percaya rekanmu dan dirimu sendiri.
Ia melepas earphone, fokus penuh, dan “masuk” ke aliran kode Gestalt, memvisualisasikan virus sebagai “ular” kode yang harus dihancurkan.
Di sana, ia menemukan ancaman yang lebih dalam:
Ada perintah keliru tersembunyi.
Target sebenarnya adalah kelemahan terbesar mereka—yakni pasukan mereka sendiri di luar angkasa.
Nithart menyadari virus ini tampak “cerdas” dan menargetkan pasukan di ruang angkasa. Ia memaksa pikirannya hingga batas untuk menghentikan beberapa perintah tertunda.
Keberhasilan & Pengorbanan Nithart
Saat hampir “menjangkau” dua perintah terakhir, tubuh fisiknya sudah hampir diserang Corrupted.
Watanabe menariknya tepat waktu dari serangan, menebas Corrupted yang menyerangnya.
Gestalt berubah dari merah peringatan menjadi biru tenang—Gestalt berhasil dipulihkan.
Namun tubuh Nithart sudah rusak berat: infeksi parah, jaringan tubuh rusak seperti terendam cairan kental—darah dan dagingnya sendiri. Ia bahkan sulit berdiri dan merangkak.
Ancaman Sebenarnya & Panggilan Bantuan
Nithart menegaskan: memulihkan Gestalt baru langkah pertama.
Bahaya utama adalah perintah keliru yang menyasar pasukan di luar angkasa—itu yang harus segera dihentikan.
Komunikasi dengan komando sementara kembali normal.
Watanabe melaporkan: Gestalt normal, tapi mereka terkepung dan Nithart dalam kondisi kritis.
Ballard langsung memerintahkan pasukan cadangan untuk menyelamatkan mereka sambil terkejut mendengar kondisi Nithart.
Babylonia & Hassen (post tragedi 1 april)
Hassen merenung di jendela Babylonia, melihat puing-puing logam di orbit Bumi dan mengenang kejayaan lama teknologi manusia sebelum Punishing Virus.
Ia akan rapat membahas dua masalah utama: perluasan pencarian Komandan Gray Raven yang hilang, dan konflik perbatasan dengan Forsaken—keduanya terkait karena wilayah Forsaken jadi “blind spot” pencarian.
Tim Watanabe & Nithart di bawah tanah (kembali ke masa lalu)
Sebuah tim penyerbu beranggotakan 12 orang tersisa hanya 4, kehabisan peluru dan dikepung Corrupted.
Nithart kritis tapi masih hidup. Tim bertahan jarak dekat sambil melindunginya.
Saat mereka hampir terdesak, Ballard datang dengan kendaraan berat dan pasukan bantuan, membersihkan Corrupted dan mengevakuasi mereka.
Nithart sempat menyebut ada “perintah keliru” yang dikirim ke Space Force, tapi belum sempat menjelaskan detailnya karena pingsan.
Ballard kemudian menunjuk Watanabe—satu-satunya yang bisa menerbangkan kapal luar angkasa tanpa peralatan tambahan—untuk naik ke orbit, menyelidiki situasi, dan memastikan jenis perintah salah yang dikirim.
Insiden armada luar angkasa (Spaceport & Eden II)
Di spaceport pada ketinggian 10.000 km, Shin memimpin rapat bulanan para komandan dari kapal perang luar angkasa. Ia memperkenalkan Cyril, “Beak of Islay”, ace pilot yang akan melatih rekrutan dengan pesawat tempur baru Fenrir.
Tiba-tiba terjadi guncangan, alarm berbunyi, dan pengumuman menyebutkan semua 30 kapal luar angkasa (termasuk flagship “Miracle” dan frigate “Ambition”) berangkat sendiri tanpa perintah.
Kontrol komandan diblokir, administrator ruang angkasa tewas ketika mesin cold fusion menyala, dan 320 staf port tewas seketika. Komunikasi dengan Bumi terputus dan diduga terganggu sinyal tidak dikenal.
Kapal-kapal itu diarahkan lurus ke Eden II. Perhitungan menunjukkan:
Tumbukan akan menghancurkan Eden II dan pangkalan bulan.
Puing-puing akan memicu hujan meteor setara 30% massa bulan jatuh ke Bumi, menghancurkan seluruh fasilitas di permukaan dan kemungkinan juga bunker bawah tanah.
Beberapa kapal berhasil mengurangi akselerasi karena kru di dalamnya berkorban, mengirim pesan terakhir yang berisi salam perpisahan dan permintaan agar sisanya dihentikan.
Rencana bunuh diri menghancurkan kapal-kapal
Shin dan para komandan menyimpulkan: satu-satunya cara menyelamatkan umat manusia adalah meledakkan reaktor fusi kapal dari dalam dengan bahan peledak.
Cara masuk: menggunakan pod penyelamat (escape pod) yang tahan lingkungan ekstrem, diterbangkan langsung masuk ke nozzle mesin kapal bersama muatan bahan peledak. Ini misi bunuh diri.
Para komandan kapal (Miracle, Ambition, Starlight, Voyager, dll.) yang sudah “setengah hidupnya dihabiskan dengan starship” secara sukarela maju menjadi “moths to flame”:
Mereka menerima bahwa senjata yang tak terkendali harus dimusnahkan.
Mereka siap mengorbankan diri agar Bumi dan Eden II selamat, dan agar generasi muda punya masa depan.
Shin menolak Cyril untuk ikut ke misi bunuh diri, menegaskan bahwa masa depan langit milik generasi muda—Cyril harus tetap hidup sebagai pelindung pilot-pilot muda.
Pertempuran luar angkasa pertama umat manusia
300 escape pod berisi komandan dan awak komando berangkat menuju kapal-kapal raksasa, tampak kecil seperti ngengat yang terbang ke api.
Mereka berbagi pesan terakhir di kokpit, kebanyakan tentang keluarga yang telah mereka tinggalkan dan keyakinan bahwa yang mereka lakukan akan membanggakan orang-orang terkasih.
Saat mereka mendekat, pertahanan otomatis kapal masih aktif dan sangat berbahaya.
Tiba-tiba, Cyril dan puluhan pilot muda (Ivor, Kenley, Sophia, William, dan lain-lain) menerobos ke kanal komunikasi, datang dengan skuadron pesawat tempur Fenrir.
Mereka membangkang perintah Shin untuk tetap di spaceport, menegaskan:
Mereka juga punya tanggung jawab.
Tidak ada yang bisa lari dari pertempuran ini.
Tugas mereka adalah menutupi “pasukan bunuh diri” dengan tembakan dan menghancurkan drone/pertahanan kapal, sementara para komandan fokus menabrakkan pod mereka ke nozzle mesin.
Cyril memberikan pidato singkat tentang sejarah perjalanan manusia: menaklukkan hewan, daratan, laut, dan langit, lalu menyerukan agar mereka menunjukkan pada “ciptaan-ciptaan” mereka siapa komandan sebenarnya.
Pertempuran dimulai: rentetan tembakan energi dan amunisi hidup memenuhi kehampaan luar angkasa. Pod-pod bermuatan bom melaju kencang menuju kapal-kapal.
Stage ditutup dengan perumpamaan “bahkan ngengat pun berani terbang ke api”; mereka bertekad merebut kemenangan, meski harus dengan pengorbanan tragis.
Lokasi: Stasiun Luar Angkasa Internasional, orbit 25.000 km.
Jada berdebat sengit dengan manajer soal rencana modifikasi: ia ngotot kubah ekologi (ecological dome) harus dipertahankan, sementara manajer ingin memangkas demi kejar tenggat.
Saat mereka berdebat, stasiun tiba-tiba bergetar hebat; alarm berbunyi dan siaran mengumumkan ada “intrusi tak dikenal” di stasiun.
Pintu ruang rapat macet. “Tall Guy” memaksa membukanya dengan exoskeleton-nya.
Begitu pintu terbuka, muncul mesin bulat raksasa dengan cakar logam berlumuran darah(korolev), yang langsung mengincar Jada, Philip, dan manajer.
“Tall Guy” dihantam sampai menabrak dinding, namun ia sudah menyiapkan alat penahan elektromagnetik di lantai yang melumpuhkan mesin itu, membuatnya macet dan mengulang kata-kata sebelumnya.
Ketiga peneliti selamat berkat “Tall Guy”. Manajer panik dan mengajak semuanya kabur meninggalkan stasiun.
Jada dan Philip akhirnya berlari menyusul, setelah sempat berterima kasih pada “Tall Guy”.
Di akhir, saat mereka berbalik, “Tall Guy” diam-diam menghapus darah yang merembes dari balik armornya.
Pertarungan dengan Korolev
“Tall Guy” bertarung melawan Corrupted raksasa bernama Korolev di stasiun luar angkasa.
Ia terluka parah, lengannya mati rasa, tubuhnya hangus, tapi tetap menahan Korolev dengan kabel beraliran listrik agar para peneliti bisa kabur.
Korolev memakai penglihatan termal untuk menyerang dalam kabut serbuk pemadam.
Upaya kabur dan minta bantuan
Manajer, Jada, dan Philip melarikan diri dengan bantuan drone hijau sebagai penunjuk jalan.
Mereka menemukan pod pelarian sudah hancur, lalu mencoba mengirim siaran darurat minta bantuan.
Tidak ada jawaban dari armada maupun spaceport; Jada terus memohon dengan putus asa.
Korolev mendekati ruang aman
Korolev berusaha menerobos pintu ruang aman, mengancam akan “menghukum” siapa pun yang tak mau membuka pintu.
“Tall Guy” diseret dan dibanting seperti umpan, tubuhnya penuh luka, darah berceceran.
Keputusan terakhir “Tall Guy”
Dalam keadaan sekarat, ia teringat penjelasan Philip dan Jada tentang tombol airlock: jika dibuka, perbedaan tekanan akan menyedot apa pun ke luar angkasa, termasuk Korolev… dan manusia di dalamnya.
Dulu ia diperingatkan Jada: “Jangan pernah menekan tombol itu.”
Kini, dengan satu tangan yang tersisa, ia justru merangkak dan menekan tombol airlock.
Pengorbanan di luar angkasa
“Tall Guy” dan Korolev tersedot keluar ke ruang hampa. Korolev sempat mencengkeram panel logam, tapi tetap dalam posisi genting.
Saat melayang di luar angkasa, “Tall Guy” merasa hangat oleh darahnya sendiri dan mengingat hari pertama datang ke stasiun:
Ia tak bisa bicara, wajahnya penuh luka bakar.
Jada dan Philip menerimanya, memanggilnya “Tall Guy”, mengajaknya makan bersama, dan tidak menghakimi penampilannya.
Kenangan akan kebaikan kecil itu menghangatkan hatinya saat penglihatannya gelap tertutup darah. Ia berkorban demi menyelamatkan mereka.
Harapan dan kenyataan pahit
Jada dan yang lain akhirnya berhasil tersambung dengan pihak luar. Mereka dijanjikan bantuan cepat, termasuk kedatangan Construct militer yang berarti “Tall Guy” mungkin bisa diselamatkan.
Namun mereka menyadari suara benturan di pintu sudah berhenti.
Drone yang menemani mereka tiba-tiba mati, hanya menyisakan satu pesan terakhir berupa emotikon senyum.
Watanabe menembus atmosfer
Watanabe menerbangkan pesawat transport dengan kecepatan sangat tinggi, menembus atmosfer bumi.
Radar mendeteksi banyak objek tidak dikenal yang ternyata puing-puing kapal luar angkasa yang jatuh dan terbakar saat memasuki atmosfer.
Ia bermanuver di tengah hujan reruntuhan kapal yang berjatuhan menuju Bumi.
Kondisi armada luar angkasa
Di luar atmosfer, situasi kacau: pelabuhan antariksa porak poranda, kapal-kapal perang hancur, puing beterbangan, dan sistem pertahanan tak mampu menghentikan semua reruntuhan.
Sebuah kapal induk meledak, membentuk bola api hijau raksasa yang bahkan lebih terang dari matahari, memancarkan radiasi kuat.
Komunikasi dengan penyintas
Di tengah gangguan radiasi, Watanabe akhirnya tersambung dengan seorang perwira yang tersisa dari armada, yang mengkonfirmasi bahwa:
Armada menerima malicious command dan menjadi tidak terkendali.
Tim bunuh diri meledakkan kapal-kapal sendiri untuk mencegahnya jatuh ke Babylonia.
Shin, komandan armada sekaligus ayah Watanabe, termasuk dalam daftar pengorbanan. Perwira yang bicara adalah letnannya.
Panggilan darurat dari stasiun luar angkasa
Di sela-sela gangguan, terdengar pesan minta tolong: “space station under attack”.
Letnan menyuruh Watanabe segera menuju stasiun luar angkasa, melanjutkan pengorbanan Shin dengan menyelamatkan lebih banyak orang.
Watanabe menerima hal itu, menahan kesedihan, dan memilih bergerak maju demi mereka yang masih hidup.
Keputusan terakhir Shin
Dari sudut pandang Shin dan Cyril, terlihat bahwa Shin sengaja tidak mengungkap bahwa ia masih hidup saat bicara dengan Watanabe.
Alasannya: ia tak ingin Watanabe menyesal karena “terlambat menyelamatkan ayahnya” atau terbebani oleh penyesalan baru.
Shin membawa pod pelarian menuju kehancuran, berkorban bersama armada.
Saat mendekati kematian, ia memandang Bumi yang hijau dan indah, mengungkapkan betapa berat baginya untuk meninggalkannya.
Penutup
Watanabe merasakan kegelisahan batin dan menoleh ke arah bola api hijau—tempat ayahnya menghilang.
Namun ia menggertakkan gigi dan mempercepat laju menuju stasiun luar angkasa, memutuskan untuk hidup demi orang-orang yang masih membutuhkan dirinya.
Watanabe tiba di stasiun luar angkasa yang sudah sepenuhnya berubah: badan stasiun dipenuhi struktur merah aneh, jelas sudah bukan lagi fasilitas penelitian manusia.
Ia menemukan tiga orang selamat: sang manajer , Jada, dan Philip. Dari terminal manajer, hampir semua sinyal hidup karyawan lain sudah “abu-abu” (hilang sinyal atau mati), menandakan hampir semua orang di stasiun tewas.
Watanabe mengevakuasi mereka dengan pesawat transport. Mereka menyadari:
Stasiun luar angkasa hancur.
Spaceport porak-poranda.
Armada Starship rusak parah (lebih dari 70% hancur saat menghentikan kapal yang “mengamuk”).
Project Acadia Transfer praktis runtuh.
Dalam keputusasaan itu, manajer memutuskan tujuan: Eden II, yang sekarang hanyalah “cangkang kosong”, tapi tetap jadi satu-satunya harapan.
Saat menuju Eden II, mereka melihat banyak “bintang jatuh”: modul kabin, escape pod dari spaceport dan stasiun—tanda masih ada orang-orang lain yang berhasil melarikan diri.
Narasi menutup dengan nuansa harapan:
Escape pod dan modul itu diibaratkan “Shooting Stars” yang menuju Eden, membawa kehendak dan pengorbanan mereka yang gugur.
Eden tidak lagi sekadar cangkang kosong, melainkan benteng terakhir umat manusia, tembok sekaligus batu nisan yang menyimpan keberanian mereka.
Dari Babylonia, “percikan” peradaban manusia akan dibawa menuju masa depan.
Dampak kekalahan Proyek Acadia Transfer
Komando Pertahanan Punishing menerima laporan kerugian besar setelah hancurnya operasi luar angkasa.
Data korban:
Stasiun luar angkasa: 1.927 tewas, 25 selamat, stasiun sepenuhnya dikuasai musuh, peluang rebut kembali hanya 0,12%.
Armada kapal luar angkasa: 35.782 tewas, 965 hilang, 1.729 selamat. Semua perwira tingkat wakil komandan ke atas tewas, 87% unit tempur hancur, kapal-kapal musnah.
Garnisun spaceport: 1.792 tewas, 298 hilang, 23.597 selamat. Bagian modular tersisa dipisah dan dikaitkan ke kapal koloni Eden II.
Skuadron dirgantara: 9.300 tewas, 125 hilang, >80% personel gugur, >97% pesawat hancur.
Ledakan nuklir di luar angkasa menimbulkan radiasi dan puing jatuh, kerugian masih dihitung.
Secara militer-strategis: Proyek Acadia Transfer resmi gagal total: spaceport, kapal bintang, dan ISS hilang.
Status Reactor One dan Punishing Virus
Laporan dari Reaktor 1: 45 stasiun pemantau mendeteksi lonjakan konsentrasi Punishing 20.000 kali lipat dalam 300 milidetik, kontak dengan Dominik dan tim terputus.
Namun setelah itu:
Tidak ada peningkatan lagi.
Penyebaran virus mengikuti model difusi yang sudah diprediksi.
Tidak ada reaksi energi terdeteksi.
Staf komando menyimpulkan: Reaktor 1 berhasil dimatikan, meski tim Dominik kemungkinan gugur.
Respon Hans sebagai komandan
Hans memerintahkan:
Bentuk zona karantina sesuai pola difusi Punishing.
Evakuasi massal.
Kirim tim penyelamat, ukur indeks Geiger di area kena nuklir, tentukan zona aman, lakukan pembersihan, hidupkan lagi fasilitas listrik.
Data korban harus dipastikan, satuan yang selamat direorganisasi.
Walau memberi perintah dengan tenang, beban psikologisnya berat:
Ia merasa gagal mengantisipasi sifat Punishing yang tak dikenal.
Setiap angka korban di laporan baginya adalah darah dan nyawa, bukan statistik.
Ia terus bertanya: apakah rencana berbeda, atau sekadar urutan aksi berbeda, bisa menyelamatkan lebih banyak orang?
Krisis mental Hans: godaan untuk bunuh diri
Hans sendirian di ruangan pribadinya, setelah berhari-hari tidak tidur.
Ia merasa:
Sebagai komandan, ia wajib memikul tanggung jawab.
Sebagai manusia, ia tersiksa oleh rasa bersalah dan duka.
Pada puncak keputusasaan, ia membuka lemari, mengeluarkan pistol berisi peluru penuh, dan menempelkannya ke dagu.
Ini menandai titik terendah mental Hans—ia mempertimbangkan untuk “bebas” dari beban, namun kemudian ia memilih untuk hidup dan memikul beban itu.
Pertemuan Trillard dan Kurono-San: deal politik kotor
Trillard, Presiden World Government, menerima kunjungan Kurono-San, pengusaha besar dari Kurono Group, yang sudah ia kenal lebih dari 30 tahun.
Obrolan mereka:
Kurono-San berlagak santai, mengejek teh murah Trillard, lalu perlahan mengarahkan percakapan ke situasi politik pasca-bencana.
Ia menyinggung masa lalu seperti Project Cthylla dan Winter, menunjukkan sejarah kerja sama gelap mereka.
Posisi Trillard:
Secara formal, militer (Hans) sudah mengambil alih komando, ia sendiri “hanya” tanda tangan dokumen.
Ia mengaku nyaman di belakang layar dan menyatakan mempercayai Hans.
Kurono-San mulai menyerang:
Mengatakan bahwa orang hanya mengingat perubahan besar, bukan kerja “memelihara” sistem.
Menyebut reformasi Trillard—reformasi medis, sipilisasi Gestalt, pendidikan universal—tidak akan diingat.
Yang akan diingat orang hanyalah: Presiden pertama World Government + Science Council = pembuka gerbang neraka Punishing Virus.
Menyiratkan bahwa Trillard sudah menekan banyak upaya pemakzulan terhadap Science Council.
Meragukan bahwa reputasi Trillard bisa bertahan di tengah opini publik yang emosional.
Penawaran Kurono-San: kontrak dan daftar jabatan
Kurono-San mengeluarkan dua amplop:
Kontrak transfer layanan angkutan udara yang sangat dibutuhkan World Government (karena kekuatan udara militer hancur).
Daftar nama jabatan – posisi-posisi penting yang ingin dikuasai “mereka” melalui penunjukan resmi World Government.
Sumber transport craft:
Milik sektor sipil/korporat, tidak ikut ke garis depan karena “dilindungi” oleh kebijakan World Government.
Trillard menyatakan secara teori ia bisa menyita semua itu atas nama pemerintah.
Kurono-San mengatakan:
Langkah itu di kondisi krisis akan memicu kemarahan publik dan kerusuhan.
Menanyakan apakah World Government masih punya tenaga cukup untuk menekan kerusuhan.
Amplop kedua (daftar posisi):
Trillard membaca sekilas, mengeluh bahwa permintaan posisi terlalu banyak.
Kurono-San menegaskan ini bukan sekadar proposal, tapi “undangan” untuk berpindah kubu.
Ia berkata: era Science Council sudah berakhir; jika Trillard menandatangani, era berikutnya akan dimiliki “mereka” bersama—Trillard tetap jadi presiden berkuasa, bukan kambing hitam yang dibenci semua orang.
Bargaining Trillard: antara prinsip, kekuasaan, dan kebutuhan
Trillard menolak klaim bahwa zaman baru akan milik Kurono saja, tapi Kurono-San menjawab: bila kontrak diteken, mereka bersama yang akan berkuasa.
Trillard mengakui batas kekuasaan presiden:
Ia tidak bisa mengganti semua jabatan sekaligus.
Ia menghapus dua nama yang berhubungan dengan militer, karena Hans terlalu berpengaruh di tubuh militer.
Kurono-San menerima, menganggap dua posisi itu tidak esensial.
Kesepakatan:
Trillard akan umumkan penunjukan jabatan baru pada konferensi pers bulan depan.
Begitu pengumuman keluar, transport craft akan dipindahkan ke World Government.
Kurono-San menyambut: “Selamat bergabung, Trillard.”
Satu bulan kemudian: konfrontasi Hans dan Trillard
Sebulan lewat, fisik dan mental Hans anjlok: rambutnya memutih dalam semalam, terlihat jauh lebih tua.
Ia tetap bekerja, tidak menunjukkan keputusasaan, menjadikan dirinya sendiri sebagai “taruhan terakhir” demi menghormati pengorbanan para prajurit.
Namun, ketika:
Para anggota dewan yang tidak bersalah dijebloskan ke penjara dengan tuduhan palsu.
Trillard mengumumkan penunjukan-penunjukan baru (yang jelas merupakan hasil deal dengan Kurono).
Hans meledak marah, merasa dikhianati oleh orang yang ia anggap sahabat dan pemimpin sipilnya.
Ia mendatangi Trillard dan menghajarnya:
Meninju wajah Trillard sampai ia jatuh tersungkur.
Menyebut tindakan Trillard sebagai “menggadaikan masa depan Parlemen” dan memperingatkan konsekuensi jika World Government jatuh ke tangan kelompok seperti Kurono.
Trillard akhirnya berkata, setelah lama diam:
“Mimpi kita sudah hancur, Hans. Saatnya menghadapi kenyataan.”
Hans memukulnya lagi, dan bodyguard menghentikan.
Bodyguard mengingatkan: bila Hans terus memukuli Presiden, itu akan dianggap sebagai penyerangan terhadap kepala negara.
Hans bertanya: “Ada lagi yang mau kau katakan?”
Trillard hanya bungkam. Hans pergi dengan marah, pintu dibanting.
Terlihat jelas jurang:
Hans berpegang pada ideal dan prinsip.
Trillard memilih kompromi machiavellian demi kelangsungan praktis (transport) dan juga kekuasaan.
Malam terakhir Trillard: “kematian yang tidak mulia, tapi berguna”
Malam hari, Trillard:
Memberi instruksi terakhir kepada seorang pemuda (konteks menunjukkan bawahan/kepercayaan).
Menyuruhnya pergi, lalu mulai membersihkan kantornya dengan sangat teliti: lantai, rak buku, jendela, semua dibersihkan hingga berkilau.
Sambil mengusap punggungnya yang pegal, ia berkata:
“Setelah dibersihkan, seharusnya tidak cepat kotor lagi.”
Ia teringat momen lama: minum dan bersulang dengan Hans di bawah cahaya bintang, bersumpah untuk:
Memimpin umat manusia keluar dari tata surya.
Menulis legenda baru di luar angkasa.
Meninggalkan jejak gemilang dalam sejarah, bukan lenyap sebagai tokoh kecil yang terlupakan.
Ia juga mengingat janjinya dulu pada Hans:
Bahwa ia menempatkan World Government di atas dirinya sendiri.
Monolog batin:
Ia menyadari bahwa “umur” politik dan moralnya sudah habis; “zaman tidak butuh politisi medioker lain.”
Tapi ia masih bisa melakukan sesuatu yang mencuci sebagian dosanya dan membantu Hans.
Ia menyiapkan anggur merah, menuang ke gelas, dan bersulang pada bulan:
“To tomorrow.” – mengulang bersulang masa muda bersama Hans.
Anggur itu sudah dicampur sianida. Ia meminumnya, bunuh diri dengan tenang.
Skandal Trillard: pengkhianat yang justru menyelamatkan sistem
Keesokan harinya:
Control Court menerima laporan lengkap berisi detail kejahatan korupsi dan suap Trillard, plus bukti kuat.
Saat mereka memasuki kantornya:
Trillard sudah meninggal, gelas anggur di sampingnya positif sianida.
Penyelidikan formal menyimpulkan:
Laporan itu valid, bukti otentik.
Trillard memang mengumpulkan aset dalam jumlah besar dari sumber tidak wajar.
Dampak hukum dan politik:
Trillard dipecat dan dihapus dari World Government, statusnya dicemarkan total.
Korban-korban rekayasa politik sebelumnya (para anggota dewan dan pejabat lain) dibebaskan dan direhabilitasi.
Semua aset Trillard, termasuk banyak transport craft, disita oleh negara.
Implikasi di balik layar:
Jika Trillard masih hidup, kelompok dibalik ini bisa memaksa dia mencabut pengakuan atau mengungkap siapa pelapor anonim yang mengirimkan dokumen ke Control Court.
Dengan kematian, mereka tidak bisa berbuat apa-apa terhadap orang mati yang dibenci oleh seluruh dunia.
Reaksi Hans dan gerakan pembersihan
Hari itu, Hans mengurung diri di kantornya lama sekali, jelas terguncang:
Ia baru saja memukuli sahabat yang ternyata memilih mati demi menyelamatkan sesuatu yang lebih besar.
Di sisi lain:
Purifying Force bergerak cepat berdasarkan laporan dan daftar nama yang muncul.
Ballard, yang memimpin, hampir menghancurkan terminalnya karena marah melihat betapa panjangnya daftar “tumor korupsi”.
Ia memerintahkan: “Bergerak! Saatnya mencabut tumor-tumor korupsi!”
Persepsi publik & langkah berikutnya: Evakuasi Acadia dimulai
Skandal Trillard menyebabkan kehebohan global selama beberapa hari.
Namun, hanya tiga hari kemudian, dunia beralih fokus:
Bencana Punishing dan kehancuran infrastruktur jauh lebih besar dari satu skandal politik.
Yang kemudian menjadi pusat perhatian:
Acadia Evacuation – program evakuasi besar-besaran umat manusia – resmi dimulai.
New Oakley – Watanabe Dikabarkan Mati
Dua penjaga desa ngobrol santai soal tugas jaga bar tua yang anehnya dijaga ketat atas perintah wali kota.
Mereka membahas peningkatan penjagaan di tebing, bukan cuma untuk melawan Hetero-Creature, tapi juga Forsaken.
Salah satu dari mereka menemukan koran yang “tertiup angin”. Judulnya: “Kematian Bukan Milik Para Forsaken… Mengenang Pemimpin Terpercaya Kita, Watanabe…”
Si penjaga yang bisa baca langsung panik, menyimpan koran itu, dan bergegas melapor ke wali kota.
Pemakaman Nasional Pemerintahan Dunia – Watanabe & Ballard
Watanabe berziarah ke makam orang tuanya. Di sekelilingnya banyak nisan baru, korban kegagalan “Great Transfer”.
Dunia berubah: persediaan menipis, orang sibuk cari harga & berita, seni diabaikan, jalanan sepi. “Acadia Transfer” kini jadi “Acadia Evacuation”.
Ballard datang berziarah juga. Ia terlihat lebih kelam dan menakutkan dibanding dulu.
Mereka membahas:
Watanabe yang sekarang di angkatan udara dengan kerangka tempur udara khusus.
Mata buatan Watanabe yang berbeda warna tetap dipertahankan atas keinginannya, sebagai simbol untuk “melihat dunia untuk mereka yang telah tiada”.
Watanabe gelisah soal keputusan membawa kembali inti pusat Gestalt ke Babylonia, padahal Gestalt-lah yang memicu kerusuhan besar sebelumnya.
Ballard menjelaskan:
Prajurit tidak bisa menyelamatkan semua orang; keputusan besar diambil para pemimpin.
Para pemimpin harus memakai semua yang bisa dipakai, bahkan hal berisiko, demi kelangsungan banyak orang.
Benar atau salah hanya bisa dinilai sejarah; yang penting sekarang adalah “posisi” dan untuk siapa mereka bertarung.
Jika Watanabe ingin menyelamatkan lebih dari sekadar apa yang ada di depan mata, dia harus mulai berpikir dan merasakan lebih dalam, serta memikirkan pengaruhnya sendiri.
“Saat kita bertarung demi mereka yang tak bisa bersuara, kita kuat.”
Watanabe pergi untuk bertemu timnya, masih diliputi konflik batin.
Ballard & Cyril – Krisis di Pemerintahan Dunia
Di pemakaman lain, Ballard bertemu Cyril secara rahasia.
Ballard mengabarkan Hans (panglima militer World Government) sekarat, dirawat diam-diam di rumah sakit.
Tekanan sejak kegagalan Great Transfer dan perencanaan Evakuasi Acadia membuat Hans hancur secara fisik dan mental.
Situasi politik makin memburuk: pengorbanan Trillard hanya memberi ketenangan sesaat, tapi keadaan kembali merosot dan banyak yang beralih ke faksi oportunis.
Jika Hans wafat (atau meski selamat), tuntutan penggantian pemimpin akan menguat.
Ballard dan Cyril mempertimbangkan kandidat pengganti (Wells, Smith, Nikola), namun Ballard menolak semuanya untuk saat ini.
Ballard memutuskan memulai “langkah pengamanan”:
Mengumpulkan kekuatan sendiri demi mencegah para prajurit dijadikan “alat” dan mempertahankan “kemuliaan terakhir” militer.
Bawah Tanah – Jada, Zong, dan SKK
Di ruang bawah tanah remang, seorang dokter bernama Jada membaca koran yang memuja Watanabe sebagai pemimpin tepercaya yang gugur, dan ia mencemooh isi berita itu.
Zong memprotes karena sulit mendapatkan koran, dan memanggilnya “Bibi Jada” (yang ia bantah sambil mengeluh soal usia).
Jada meratapi kepergian Philip, yang lebih hebat darinya dalam merawat Construct.
Di tengah ruangan ada seseorang yang terbaring dalam peralatan medis; fisiknya dirawat, tetapi kesadarannya tertidur.
Jada merasa frustasi karena sudah dua kali diselamatkan orang itu (termasuk di Hutan Kota Pulia) tapi ia belum bisa membangunkannya.
Zong mencoba menyemangati, mengingatkan bahwa Jada dulunya “cuma” perancang, dan apa yang ia lakukan sekarang sudah hebat.
Terungkap bahwa di era pasca-pandemi, peneliti harus serba bisa, dan Jada menyindir dirinya sendiri sebagai yang “terburuk” sampai-sampai ditinggalkan.
SKK ada di sana, baru selesai koneksi Deep M.I.N.D. sebelumnya hingga mimisan.
Meski begitu, SKK memutuskan untuk mencoba lagi menyambungkan diri ke kesadaran orang yang tertidur, karena waktu mendesak.
Babylonia – Cerberus Lounge (Noctis, Vera, No.21)
Noctis gelisah karena terus “standby” dan marah karena tidak diizinkan ke permukaan, curiga ini ulah Kurono.
Vera dan No.21 menegur Noctis yang ribut terus, sementara Vera diam-diam menyembunyikan sesuatu darinya.
Dari kilas balik percakapan Vera–Murray, terungkap bahwa ada pihak yang ingin memanfaatkan masa lalu Noctis, sehingga Murray memerintahkan agar Noctis dijauhkan dari permukaan dan jangan sampai tahu ada yang janggal.
Noctis dan No.21 menyadari kalau Vera tampak jauh lebih cemas bahkan dibanding saat mendengar SKK hilang.
Markas Komando Pertahanan Punishing – Hans dan Collins
Hans, komandan tua yang sakit-sakitan, memaksa diri mengawasi Operasi Ke-3 Great Evacuation.
Ia menyadari banyak wajah baru di ruang komando; personel lama terus diganti ketika ia dirawat di rumah sakit, tanpa persetujuannya.
Seorang pria berambut pirang bernama Collins muncul dan mengumumkan keputusan Parlemen:
Hans dicopot dari jabatan Kepala Militer & Pertahanan Punishing, dipindah ke Staf Umum untuk mengurus taktik construct.
Collins diangkat menjadi Chief Commander baru untuk menjamin kelancaran Great Evacuation.
Semua dilakukan tanpa sepengetahuan Hans; para bawahan tak berani menatapnya.
Hans menerima keputusan Parlemen, tapi memperingatkan Collins: jangan coba-coba mencari keuntungan dari Great Evacuation, karena ia akan tetap mengawasi.
Pemakaman – Watanabe & “kematian” Ballard
Watanabe mengunjungi makam Ballard, mengungkap bahwa situasi dunia kacau: pemberontakan, wabah, kelaparan besar.
Ia tidak percaya penuh pada kabar bahwa Ballard tewas dalam misi, karena mendengar rumor mengenai Purifying Force dan mencium ada kejanggalan.
Ia juga menyebut Hassen yang kini menjadi Presiden Humanity’s United Front, seorang yang licik tapi tidak mengorbankan orang-orangnya sendiri.
Watanabe berjanji di depan makam Ballard akan terus mencari kebenaran dan tidak menyerah.
Dari kejauhan, ternyata Ballard masih hidup, berdiri bersama Cyril, mengamati Watanabe di depan “makamnya”.
Ballard, Cyril, dan rahasia Great Evacuation
Terungkap bahwa Ballard memalsukan kematiannya dan kini menjadi mata-mata ganda: dimanfaatkan sekaligus oleh Parlemen dan Kurono.
Keadaan “sudah mati” justru membuatnya lebih leluasa bergerak di bayang-bayang, dan dari posisi inilah ia berhasil mendapatkan dokumen rahasia Great Evacuation.
Cyril bertanya kenapa Ballard tidak pernah mengajak Watanabe sejak awal:
Ballard menjelaskan bahwa Watanabe terlalu teguh pendirian—selama ia yakin berjuang demi masa depan umat manusia melalui Babylonia, dia tidak akan berpaling.
Iman Watanabe bukan pada organisasi, melainkan pada “sesuatu yang lebih besar” .
Namun Ballard yakin: kalau suatu hari Watanabe sendiri menemukan kebenaran tentang pengkhianatan Babylonia dalam Great Evacuation, ia akan menjadi rekan paling dapat dipercaya.
Kematian Cyril & warisan tekad Watanabe
Lalu adegan melompat ke momen kecelakaan di pesawat/kapal angkasa: sirene berbunyi, kapal sekarat.
Watanabe berteriak menyuruh Cyril menggunakan kursi lontar, tapi Cyril sudah tertembus serpihan dan mengalami luka fatal.
Dalam monolog batinnya, Cyril mengakui:
Ia menyadari Watanabe lebih teguh dan “lebih benar” darinya, selalu mencari makna dan menatap masa depan meski disesatkan.
Beberapa kata dari tokoh lain menggema di pikirannya:
Watanabe: “Kita hidup di era kelam, tapi kita butuh seseorang yang menatap masa depan.”
Shin: “Kita harus meninggalkan harapan untuk generasi berikutnya, bukan sekadar sekelompok orang tua yang memerintah. Masa depan milik yang muda; Cyril, kaulah pelindung mereka.”
Menjelang ajal, Cyril:
Menolak kursi lontar, memutuskan meneruskan misi sampai akhir.
Mengirim pesan terakhir pada Watanabe: “Percaya pada apa yang ingin kamu percayai, dan jangan pernah mundur.”
Meminta Watanabe pulang dan mengingat mereka yang gugur, agar tanah ini tidak melupakan bahwa mereka pernah berjuang demi masa depan.
Pesawat jatuh; Cyril mati dengan harapan bisa “bergabung” dengan anak dan kawan-kawannya yang sudah tiada.
Malam hari di gurun, Watanabe sedang membersihkan tubuh constructnya ketika dua Scavenger bersaudara, Watt dan Felix, muncul diam‑diam.
Watanabe menunjukkan bahwa ia tidak bermusuhan dengan memberi mereka kayu bakar dan api. Dari situ mereka mulai saling mengenal dan berbicara soal “Oasis”, tempat yang dikabarkan jadi surga kecil dengan makanan, air, senjata, dan hukum.
Watt menunjukkan peta yang ia beli mahal dari pedagang keliling. Watanabe mengungkapkan bahwa ia sudah ke sana: Oasis ternyata sudah kosong, semua peralatan dan suplai diangkut pergi. Yang tersisa hanya asrama berkarat dan bendera lusuh yang ia bawa.
Harapan Watt hancur, tapi ia menerima kenyataan itu. Ia mengeluh pahit tentang dunia yang kacau setelah Great Evacuation dan nasib orang‑orang yang tak terpilih naik ke Babylonia.
Watanabe mengajak Watt dan Felix bepergian bersama. Watt awalnya menolak karena takut konflik perebutan sumber daya. Watanabe lalu mengaku bahwa ia adalah Construct, sehingga makanan dan air akan diprioritaskan untuk manusia. Jawaban tulus Watanabe dan pertanyaan polos Felix akhirnya membuat Watt setuju bergabung.
Dalam perjalanan mencari “Oasis”, semakin banyak orang dari berbagai latar belakang yang bergabung:
Mereka yang diselamatkan (Suma),
Mantan tentara Ground Force (Leon),
Construct lain yang dikejar karena “parts”-nya (Jerry),
Pemimpin Humanity Corp dan macam‑macam orang lain: insinyur, ilmuwan, dokter, pelukis, penulis, pengungsi, dll.
Tanpa sadar, tujuan awal “mencari Oasis” memudar; yang tersisa adalah rombongan besar yang saling menopang untuk bertahan hidup.
Kelompok ini lalu memberi diri mereka nama “The Forsaken” – menggambarkan diri sebagai “jiwa‑jiwa yang ditinggalkan di permukaan”.
Mereka memakai bendera lama Oasis milik Watanabe dan merancang lambang baru di atasnya, sebagai penghormatan terhadap asal mula perjalanan mereka. Semua memberi ide (tema gurun, api, kesan militer, dll.), lalu seorang seniman di kamp menggambar emblem tersebut. Beberapa hari kemudian, bendera Forsaken dikibarkan tinggi di gurun.
Adegan lalu berpindah ke penjara bawah tanah:
Ballard berbicara dengan Suma, Jerry, dan Leon yang dipenjara. Suma menuduh Ballard menghancurkan semua yang Watanabe tinggalkan dengan memicu perang, sesuatu yang bertentangan dengan tujuan awal Forsaken.
Ballard memancing kebencian Jerry pada Babylonia (yang dulu menerima lalu meninggalkannya), namun Jerry menolak gagasan perang. Ia mengutip Watanabe: melepaskan kebencian lebih berani daripada menyeret orang lain ke dalamnya.
Leon, mantan tentara, bertanya apakah tindakan Ballard ini impulsif atau sudah direncanakan, dan menyebut kode nama lamanya dari masa Oasis: “Generalissimo”.
Ballard tetap memutuskan mereka harus tetap ditahan, menandai perpecahan ideologis dalam Forsaken: antara jalan Watanabe (melepaskan kebencian) dan jalan Ballard (membalas Babylonia dengan perang).
Kondisi Watanabe & penjelasan M.I.N.D. Trauma
Jada menjelaskan bahwa Watanabe mengalami “M.I.N.D. Trauma Syndrome”: halusinasi, distorsi visual, nyeri fantom, tapi juga peningkatan performa frame dan resistansi Punishing virus.
Efek ini didapat dari cara bertarung yang ekstrem dan berbahaya; kerusakan jangka panjang membuat M.I.N.D.-nya rapuh dan ada bagian corruption di tubuh Watanabe yang tak bisa dihapus.
Watanabe dilarang bertarung
Leon memaksa Watanabe beristirahat karena tingkat corruptionnya dan karena ia melepas Inver-Device secara paksa.
Bagi Forsaken, kehilangan satu construct masih bisa ditanggung, tapi kehilangan pemimpin akan melumpuhkan mereka. Leon menganggap Watanabe adalah “bendera” Forsaken.
Watanabe merasa pemimpin yang tidak turun bertarung sulit disebut panji, tapi para anggota menegaskan ia sudah melakukan lebih dari cukup.
Kedatangan “Oasis” dan reuni dengan Zong
Anak-anak kamp mengerubungi seorang prajurit yang ternyata adalah Zong, bocah yang dulu pernah diselamatkan Watanabe.
“Zong” diambil dari zongzi yang dulu diberikan Watanabe; ia kini seorang Construct dan anggota “Oasis”.
Zong menyampaikan undangan dari Generalissimo Oasis agar pemimpin Forsaken datang bernegosiasi—secara praktis, untuk mengajak Forsaken bergabung dengan Oasis.
Diskusi internal Forsaken soal tawaran Oasis
Leon awalnya sinis, menganggap “bergabung” sebagai bentuk pengambilalihan.
Anggota lain mengungkap bahwa dulunya banyak dari mereka mencari Oasis; sekarang mereka merasa kamp Forsaken sudah seperti “oasis” sendiri.
Watt menyadari: Zong punya suku cadang baru dan fasilitas tidur, artinya Oasis memiliki sumber daya besar bagi para Construct.
Mereka mendorong Watanabe menerima ajakan demi kesehatan dirinya dan kawan‑kawan (termasuk Jerry). Watanabe setuju untuk melihat Oasis yang dulu mereka idamkan.
Pertemuan dengan Ballard & pengungkapan identitas
Suasana negosiasi tegang; tapi cepat terungkap bahwa pemimpin Oasis, Ballard, adalah mantan instruktur Watanabe.
Negosiasi pertama lebih mirip temu kangen tanpa hasil konkret. Setelah itu Ballard memanggil Watanabe secara pribadi.
“Kematian” palsu Ballard & rencana besar
Ballard mengaku kematiannya dulu adalah kematian rekayasa yang dibutuhkan oleh Parlemen dan korporasi Kurono.
Ia masih dianggap mata‑mata oleh keduanya; status itu memberinya keleluasaan bergerak selama Oasis tidak terlalu menonjol.
Sekarang Oasis telah menjadi kekuatan besar di permukaan; jika Ballard terus memimpin langsung, ia bakal dicurigai dan diincar.
Oasis diintegrasikan ke Forsaken, Watanabe jadi pemimpin
Ballard mengusulkan: Oasis dibubarkan dan diintegrasikan ke dalam Forsaken, dengan Watanabe sebagai pemimpinnya.
Alasannya: Watanabe sudah terbukti cakap memimpin, membangun jaringan, dan menjaga integritas. Nama “Forsaken” pun dipuji Ballard.
Watanabe khawatir soal penerimaan para prajurit Oasis dan soal kebenaran masa lalu, terutama terkait Cyril. Ballard menganggap tak perlu diungkap, tapi Watanabe bersikeras karena fondasi kepemimpinannya adalah kejujuran dan janji untuk tidak melupakan para pejuang yang gugur.
Penggabungan berjalan mulus & kilas balik perjalanan Forsaken
Penggabungan Forsaken–Oasis berlangsung relatif lancar; konflik kecil soal Cyril diredam oleh otoritas Ballard.
Nama Oasis dihapus; Forsaken kini “menghijaukan” daratan tandus—menutupi darah dan air mata masa lalu.
Ditampilkan kilas balik:
Kesetiaan & penyesalan (Felix, Jada, mereka yang diselamatkan dan yang gagal diselamatkan).
Perselisihan dengan Ballard saat Watanabe memaksa misi penyelamatan yang dianggap nekat (kereta).
Kerja sama mereka menghajar pedagang manusia dan misi‑misi lain.
Hubungan Watanabe–Ballard tumbuh sangat dekat: Watanabe membuka semua hal padanya dan percaya penuh.
Frame baru “Epitaph” & pandangan Watanabe soal masa depan
Menjelang operasi besar untuk menahan Hetero‑Creatures, Ballard menunjukkan frame baru untuk Watanabe yang sudah disiapkan sejak lama, memanfaatkan kelengahan Kurono dan Parlemen pasca insiden Hetero Tower.
Watanabe menamai frame itu “Epitaph”, sebagai monumen hidup bagi mereka yang gugur.
Mereka membahas masa depan hubungan antara permukaan dan Babylonia:
Watanabe tidak bisa memaafkan masa lalu, tapi menolak mewariskan kebencian pada generasi berikutnya.
Jika Babylonia berani menghadapi kebenaran dan bertobat sungguh‑sungguh, ia percaya rekonsiliasi mungkin terjadi.
Ia menekankan pentingnya membiarkan generasi baru memilih sendiri berdasarkan masa lalu dan kenyataan saat ini.
Shotgun ayah & janji terakhir dengan Ballard
Ballard mengembalikan shotgun lama milik ayah Watanabe, yang dulu tak bisa ia bawa saat membelot.
Watanabe mengaku yakin jalur yang ia tempuh benar karena didukung Forsaken dan Ballard.
Ballard memperingatkan: tak ada orang yang selalu benar; jika suatu hari Watanabe menganggap Ballard salah, ia harus datang untuk menghentikannya.
Ballard menutup dengan kalimat bernada berat. Ia lalu berkata: “Mari kita mulai...”
Cradle dan “buku” di dalam hati Watanabe
Cradle mengamati sebuah pertempuran: sekelompok orang disergap oleh kelompok lain yang menyamar sebagai Purifying Force.
Watanabe terluka parah oleh granat, banyak rekannya gugur.
Di tengah kematian dan kehancuran, Cradle—entitas yang menyebarkan “benih peradaban baru” di wilayah Hetero—hanya tertarik pada hidup yang sekarat, bukan yang melarikan diri.
Ia “membaca” kisah dalam hati Watanabe lewat sebuah buku, lalu mengembalikannya sesuai perjanjian.
Cradle memperkenalkan diri pada SKK sebagai “pembaca” dan mengatakan ia menantikan hari ketika bisa “menyentuh masa lalu” di dalam hati SKK.
Watanabe dan “pintu” kehendak untuk hidup
Di dalam kondisi antara hidup dan mati, Watanabe melihat sebuah pintu yang selalu berada di hadapannya, ke mana pun ia bergerak.
Ia menyadari pintu itu melambangkan kehendak untuk bertahan hidup; pintu yang selalu ia buka ketika menyelamatkan Zong, menghentikan Hetero-Core ke Bumi, melawan Corrupted di kereta, dan saat berulang kali me-reboot M.I.N.D.-nya.
Ia bimbang karena musuh yang menyerangnya adalah mantan rekan seperjuangan; ia meragukan apakah jalan yang ia pilih benar dan apakah Ballard sebenarnya memberi masa depan yang “lebih baik”.
Roh/ingatan para sahabat yang telah gugur (Garzah, Backhaus, Albert, Coates, Bruce) menyemangatinya: yang penting bukan berapa banyak orang yang bisa ia selamatkan sendirian, tetapi seberapa jauh keyakinannya menginspirasi orang lain.
Bruce menegaskan bahwa Watanabe telah memberi orang-orang keberanian untuk mempercayai masa depan, bukan sekadar bertahan hidup. Mereka memintanya untuk terus melakukan apa yang ia anggap benar, dan menunjuk cahaya di kejauhan. Watanabe lalu membuka pintu itu dan kembali.
Watanabe terbangun di New Oakley
Watanabe tersadar di ruangan dengan langit-langit kayu asing, tubuhnya dipenuhi kabel.
Jada menjelaskan bahwa ia berada di New Oakley dan sudah koma selama berbulan-bulan.
SKK tertidur di sisi ranjang Watanabe; Mind Beacon SKK telah dipaksa bekerja terus menerus demi menjaga koneksi hingga Watanabe bisa bangun.
Bagian frame Watanabe yang hancur sudah diperbaiki, tapi matanya yang hilang belum diganti. Jada mengungkap bahwa bola mata aslinya disisipi kamera pengawas, sehingga tidak disarankan dipasang kembali.
Jada menyuruhnya menemui Zong—yang bersama seorang “anak muda” (SKK) telah diam-diam membawanya ke New Oakley.
Sebelum pergi, Watanabe membetulkan selimut SKK dan berterima kasih secara halus, lalu meninggalkan ruangan untuk menemui Zong.
Pertarungan berakhir, dan armor defensif malah jadi penghambat.
Musuh yang lincah berhasil menghindari serangan; saat pemimpin skuad sadar, dia sudah sendirian.
Pemimpin skuad panik dan menembak secara acak, tapi hanya mengenai serpihan kayu.
Tiba-tiba ada serangan dari belakang ke area leher lewat armornya, membuatnya tumbang.
SKK dan Zong keluar dengan hati-hati dari basement dan melihat Watanabe sudah mengalahkan musuh terakhir.
Watanabe berkata mereka harus segera pergi karena tempat itu mungkin sudah tidak aman.
Namun, suara misterius muncul dan berkata mereka tidak akan sempat kabur.
Sebuah pedang melayang, memercikkan api dan membakar seluruh gudang.
Sosok yang muncul adalah Nigel.
Latar tempat: Perbatasan antara pos Forsaken dan pasukan Babylonia, menjelang konflik terbuka.
Di sisi Forsaken:
Seorang rookie Forsaken minta rokok ke veteran saat berjaga. Karena takut ketahuan dan takut disniper, veteran tidak memberinya korek tetapi mengajarinya “ngudut” dengan mengunyah tembakau supaya tetap melek.
Rookie bercerita ia baru gabung sekitar 4 bulan lalu, setelah hutan ungu (Corrupted) muncul dekat kampnya dan membantai hampir semua orang. Forsaken datang, menyelamatkan mereka, lalu menawarkan untuk bergabung.
Sejak ikut Forsaken, ia mendapat makanan, tempat tinggal, dan senjata yang layak. Ia menyesal tidak bergabung lebih cepat.
Veteran menjelaskan semua perlengkapan itu ada berkat Watanabe:
Dulu Watanabe tidak menghancurkan pabrik yang terinfeksi seperti Babylonia, tapi menyelamatkan chip dan komponen penting, menjaga area itu sampai virus bisa diusir.
Karena itu, saat Clean Zone muncul, jalur produksi bisa cepat dihidupkan lagi, Forsaken bisa bersenjata penuh, lalu merebut wilayah dari Babylonia.
Bagi veteran, Watanabe adalah “akar” Forsaken. Ia menyindir: sekarang akar kalian sudah diambil orang lain, apa kalian akan memaafkan mereka?
Di sisi Babylonia (Construct soldiers):
Dua construct mengawasi pos Forsaken, kesal karena veteran Forsaken sering meludah ke arah mereka.
Mereka menggunakan drone mikro untuk mengintai, tapi selalu gagal menembus sistem pertahanan Forsaken. Mereka curiga ada mata-mata (mole) lain, karena Forsaken seolah sangat paham teknologi terbaru Babylonia.
Salah satu dari mereka menyinggung rumor: SKK menghilang, diduga dijual ke Ascendants oleh seorang pengkhianat. Topik ini dianggap berbahaya karena bisa menarik perhatian Purifying Force.
Mereka juga resah karena atasan tidak memberi jawaban jelas atas tuduhan Forsaken dan takut situasi bisa memicu perang, meski Babylonia punya Longinus Arsenal sebagai senjata pamungkas.
Ballard:
Setelah menenangkan para Forsaken, Ballard kembali ke kantornya dan menyebut bahwa mereka punya rencana rahasia untuk melawan Longinus Arsenal, sehingga jika Babylonia memakainya, akan ada harga mahal yang harus dibayar.
Ia menerima pesan tentang New Oakley dan menyadari “dia” masih hidup, lalu bertanya-tanya di mana letak kesalahan rencananya.
Seorang sosok abu-abu muncul diam-diam dan berkata, “Serahkan padaku, Generalissimo,” menandakan akan ada langkah rahasia berikutnya dari pihak Forsaken.
SKK , Jada, Watanabe, dan Zong bertemu lagi dengan Nigel, si “Scorpio” yang dulu hampir membuat SKK dan Noctis tewas.
Sikap Nigel sekarang jauh lebih menyeramkan dan tampak gila, bukan sekadar kejam seperti sebelumnya.
Nigel menyadari kehadiran SKK tapi menegaskan bahwa ia hanya punya satu target: Watanabe.
Zong mencoba menyerang secara diam-diam, tapi diabaikan; Nigel fokus penuh pada Watanabe karena menganggapnya sebagai penghalang terbesar bagi “Generalissimo” dan bertekad tidak membiarkannya hidup.
Watanabe menerima tantangan itu dan ingin mengorek informasi tentang Ballard dari Nigel. Ia menyuruh Zong melindungi SKK dan Jada.
Nigel menyatakan tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu duel mereka.
Cerita di stage ini berakhir saat Watanabe dan Nigel melompat dan bentrok di udara, bayangan biru dan hitam mereka saling beradu dalam pertarungan sengit.
Pertarungan Nigel vs Watanabe mencapai batas
Nigel bertarung dengan tubuh yang sudah rusak parah; rangka buatan di tubuhnya retak dan ia akhirnya jatuh tak mampu bangun lagi.
Watanabe juga terluka berat, menancapkan trailblade ke tanah untuk menopang diri, dikelilingi panas dan api hijau.
Alasan Nigel bertarung
Watanabe menanyai Nigel: apa sebenarnya yang diinginkan Ballard dan mengapa Nigel bertarung sampai sejauh ini.
Nigel mengaku tidak punya kebencian khusus pada Babylonia.
Ia menceritakan masa lalunya: lahir buta sejak lahir, tak bisa disembuhkan bahkan dengan teknologi Golden Age; ia sadar bahwa “orangtua” yang merawatnya bukan orangtuanya, karena ia sebenarnya dijual seharga terminal tua.
Karena sudah pernah “dibuang”, ia tak peduli lagi soal ditinggalkan. Ia tidak punya mimpi, masa depan, atau gambaran tentang “cahaya”, karena dari kecil hidup di sudut tergelap dunia.
Ballard menyelamatkannya dari lab rahasia, tapi dunia luar baginya sama gelapnya—ia tetap tak bisa melihat.
Yang Ballard berikan padanya bukan mimpi, melainkan kekuatan untuk bertarung.
Bagi Nigel, bertarung adalah satu-satunya penebusan dan tujuan hidupnya:
Orang lain bertarung demi hidup, keselamatan, dan masa depan.
Nigel bertarung demi pertarungan itu sendiri.
Karena itu, misi apa pun akan ia jalankan, musuh siapa pun akan ia bunuh.
Percakapan Nigel dan Ballard (kilas balik)
Sebelum misi melawan Watanabe, Ballard sebenarnya ragu dan mengingatkan bahwa luka Nigel sebelumnya bukan “cedera ringan”, terutama kerusakan pada alat magnet di lengan kanannya.
Ballard menilai dalam kondisi sekarang, Nigel tidak akan bisa mengalahkan Watanabe, salah satu murid terbaiknya.
Nigel justru menolak:
Forsaken hanya berani menantang Babylonia karena Ballard memimpin.
Ballard sudah mempersiapkan momen ini selama puluhan tahun; sekarang “sumbunya sudah dinyalakan”, tak ada waktu untuk ragu.
Menurut Nigel, inilah saat paling tepat menggunakan kekuatannya.
Ballard memperingatkan: “Kau akan mati.”
Nigel menerima kemungkinan itu. Ia tidak mencari kematian, tapi bila nyawanya dipakai untuk pertempuran ini, itu akan menjadi penebusan terbesarnya.
Setelah hening panjang, Ballard akhirnya mengizinkan dan berkata akan menunggu “kabar baik” dari Nigel.
Setelah Nigel pergi, Ballard menatap ke arah kepergiannya lama sekali, lalu menghubungi satu-satunya kontak di terminal lamanya (identitasnya belum diungkap; hanya terdengar seseorang menjawab “Halo?”).
Kembali ke pertempuran saat ini
Nigel mengingat bahwa Ballard masih menunggu kabar baik darinya.
Cincin magnet di lengan kanan Nigel menyala merah.
Watanabe segera bereaksi: memanggil Zong, yang langsung berlari menyelamatkan Jada yang tertegun, sementara Watanabe melempar Nigel menjauh dan bergerak ke arah SKK untuk melindungi.
Nigel berteriak bahwa mereka tidak akan bisa menghentikan rencana Generalissimo (Ballard) dengan cara apa pun.
Ledakan besar terjadi—asap, api, dan bau mesiu memenuhi area, menyelimuti pandangan.
Bunyi ledakan dan kehancuran membawa Nigel kembali ke ingatan hari saat ia pertama kali bertemu Ballard:
Suara ledakan, kandang yang hancur, langkah berat, dan ajakan Ballard padanya:
“Korban lain… Mau ikut kami dan membakar serangga-serangga itu sampai jadi abu?”
Ledakan & Kebakaran
SKK, Watanabe, Zong, dan Jada terkena ledakan api.
Zong dan Watanabe mengalami luka bakar, sementara SKK dan Jada hampir tak terluka.
Seorang bandit menuduh Zong (karena seragam Forsaken) sebagai dalang kebakaran dan mengaitkannya dengan serangan Forsaken sebelumnya.
Penjelasan dari Max tentang Situasi Forsaken & Babylonia
Fann membawa kalian menemui Max.
Max menjelaskan:
Peralatan dan orang seperti Jada dulunya diselamatkan Forsaken saat bencana, lalu memilih tinggal di permukaan karena merasa lebih dihargai dibanding di Eden.
Nama Watanabe sudah terkenal; tindakannya menginspirasi banyak orang untuk melawan.
Ballard menggunakan “kematian” Watanabe sebagai alat propaganda untuk menyalakan kebencian Forsaken terhadap Babylonia.
Selama enam bulan Watanabe menghilang, Ballard pelan‑pelan merebut wilayah dengan dalih “mencari Watanabe” dan “melindungi diri”.
Terjadi gesekan antara Babylonia dan Forsaken, namun awalnya masih bisa diredam.
Minggu lalu, setelah menguasai satu wilayah lagi, Ballard mengumumkan kematian Watanabe dan menyerukan semua Forsaken untuk “membebaskan area konservasi”.
Banyak yang terprovokasi, sebagian menentang.
Mereka yang menentang dipanggil ke markas Ballard dan tidak terdengar lagi kabarnya.
Kini Forsaken dan Babylonia mengumpulkan pasukan di perbatasan, siap perang, dan Max tidak bisa lagi menjamin keselamatan SKK di New Oakley.
Rencana: Berpisah & Dua Arah Misi
SKK dan Watanabe berbeda pendapat:
SKK ingin ke perbatasan.
Watanabe berniat menghadapi Ballard langsung.
Watanabe menilai Ballard:
Benci sesuatu tapi tidak bertindak gegabah.
Jika dia berani menghadapi Babylonia, berarti dia sudah menyiapkan “kekuatan penyeimbang” yang berbahaya, selevel Longinus Arsenal.
Tugas dibagi:
SKK + Zong: menuju perbatasan untuk menahan eskalasi antara Forsaken dan Babylonia, mencari tahu perintah sebenarnya, dan menenangkan kedua pihak.
Watanabe: menuju Ballard untuk mencari tahu senjata/kekuatan apa yang dipakai untuk melawan Babylonia dan berusaha menghentikannya.
Zong dipilih ikut bersama SKK agar:
Lebih meyakinkan sebagai perwakilan Forsaken.
Menjaga keselamatan SKK di perjalanan.
Max meminjamkan satu mobil jeep untuk membantu perjalanan mereka.
Percakapan di Dalam Jeep: Babylonia, Forsaken, dan Prinsip SKK
Dalam perjalanan, Watanabe bertanya seberapa banyak memorinya yang SKK lihat. Lalu bergeser ke topik besar:
SKK sekarang tahu asal-usul Forsaken dan apa yang dilakukan Babylonia.
Watanabe bertanya: bagaimana perasaan SKK tentang Babylonia sekarang?
SKK menjawab bahwa Babylonia adalah tempat yang perlu kamu lindungi, meski jauh dari sempurna.
Meski bisa berkhianat dan tidak benar‑benar “butuh” dirinya, SKK tetap ingin menyelamatkannya.
Alasannya: itu tempat mereka dilahirkan; kalau semua orang memilih lari, tak akan ada yang tersisa untuk mengubahnya.
Jawabannya mengingatkan Watanabe pada alasan awal dia dan rekan‑rekannya bertahan di bumi:
Mereka tidak mau menyerah pada tanah tempat manusia berpijak.
Manusia akan merebut kembali rumahnya, berapa pun harga yang harus dibayar.
Kebingungan dan rasa dikhianati dalam diri Watanabe mereda; dia mengingat kembali tekad awalnya.
Ia setengah bercanda, setengah serius, mengatakan bahwa dia ingin mengajak SKK bergabung dengan Forsaken.
Perpisahan di Tepi Hutan
Jeep berhenti di pintu masuk hutan, titik di mana rute mereka berpisah:
SKK dan Zong masuk hutan menuju perbatasan.
Watanabe meneruskan perjalanan melalui jalan raya lama untuk menemui Ballard.
Sebelum ia pergi, SKK menanyakan apakah mereka akan berhasil.
Watanabe sempat terdiam, lalu menjawab: ya, dan dia memberi janjinya.
ada percabangan "pov" setelah 27-21
struktur chapter:
27-22 → 27-23 → 27-24
↗ ↘
→ 27-21 27-28 →
↘ ↗
27-25 → 27-26 → 27-27
SKK terbangun di pegunungan setelah melarikan diri dari laboratorium bawah tanah selama 4 hari, dalam kondisi terluka, kelaparan, dan berpakaian seadanya .
Ia mencoba menghilangkan jejak (membuang terminal yang dilacak, menutup luka dengan lumut), lalu mencari sungai untuk membersihkan luka dan menilai kondisi dirinya yang sudah kurus dan penuh memar.
Saat sedang berpikir akan naik ke puncak gunung atau mengikuti aliran sungai, tiba‑tiba muncul Zong. SKK menodongkan pistol dan menguji identitas Zong dengan menanyakan kenangan pertama kali mereka bertemu.
Setelah Zong menjawab benar, SKK percaya dan membiarkan Zong membalut luka‑lukanya. Dari obrolan, terungkap bahwa SKK diculik, sementara Zong datang dengan misinya sendiri.
Zong menawarkan untuk menggendong dan bahkan memberikan sepatunya. Saat itulah SKK menyadari Zong adalah seorang Construct, sesuatu yang selama ini Zong rahasiakan karena merasa tidak sepenting Construct lain.
Zong lalu membawa SKK ke sebuah gua tempat Watanabe terbaring pingsan dan terluka parah. Zong berharap SKK bisa menyembuhkan Watanabe dengan koneksi M.I.N.D.
SKK menjelaskan bahwa koneksi M.I.N.D. bukan “obat segala penyakit” dan tidak bisa dilakukan sembarangan tanpa peralatan yang tepat. Mereka butuh tempat dengan fasilitas, di luar Babylonia maupun Forsaken.
Keduanya kemudian memikirkan tempat yang sama: New Oakley, sebuah pemukiman Construct yang punya peralatan dasar medis dan teknis.
Di New Oakley, mereka bertemu Max, yang menjelaskan bahwa Forsaken baru saja merampok kota, dan mengakui bahwa mereka sudah lama mengawasi situasi untuk memastikan SKK dan Zong tidak bersekongkol dengan Forsaken.
Max mempersilakan mereka bersembunyi di basement kedai tua dan berjanji memanggil Jada, menegaskan bahwa New Oakley tidak melupakan jasa teman‑temannya.
Setelah itu, SKK akhirnya mendapat tempat aman sementara untuk memulai proses “awakening” yang panjang, menyusun kembali potongan kebenaran dari cerita Zong dan informasi dunia luar.
Di akhir, Watanabe sudah pergi menuju “medan perangnya” sendiri, dan SKK pun bersiap menunaikan bagiannya dalam rencana itu.
Penembakan Prajurit Manusia & Munculnya Cradle
SKK terpaksa menembak seorang pemberontak manusia demi melindungi Zong. Ini pertama kalinya ia benar‑benar membunuh manusia, bukan Corrupted atau Hetero-Creature.
Zong terpukul dan merasa seharusnya dialah yang menanggung perbuatan itu, bukan “pahlawan” melawan Punishing.
Mayat pemberontak itu kemudian meleleh ke dalam ladang ungu, dan Cradle muncul. Ia menyebut ini pertemuan ketiga dengan SKK dan mengatakan bahwa ia datang untuk “mengambil yang dibuang”.
Cradle mengisyaratkan hubungan misterius dengan Hetero Zone, bukan sebagai “pengendali” tapi sesuatu yang belum bisa ia definisikan.
Ia menunjukkan arah keluar Hetero Zone karena ingin “melihat lebih banyak cerita” dan menganggap kisah umat manusia lebih penting dari manusia itu sendiri, lalu menghilang.
Pelarian Keluar dari Hetero Zone & Zong Tertinggal
SKK dan Zong berusaha kabur dari Hetero Zone, menghindari serangan Hetero-Creature dan menembus tumbuhan aneh.
Saat mereka hampir menembus batas menuju “wilayah normal” dan udara bersih, SKK terlalu fokus pada kebebasan yang sudah dekat dan baru menyadari bahwa Zong tertinggal.
Kilasan Masa Lalu: Pengorbanan Zong untuk Watanabe
Zong mengingat kembali hari ketika mereka diserang bom: Watanabe sekarat dengan lubang besar di dada, dan Zong tak berdaya menolong.
Di atas ladang ungu, gadis berjubah hijau (Cradle) muncul dan mengatakan bahwa “inti” Watanabe hancur dan ia akan segera “tidur selamanya”, kecuali ada yang menukar intinya.
Zong, yang tak ingin kembali merasakan ketidakberdayaan, bersikeras menyelamatkan Watanabe. Cradle menafsir itu sebagai “pengorbanan”, lalu menerima “kesepakatan” itu.
Cradle memindahkan core Zong ke tubuh Watanabe, dan menanamkan “sesuatu yang lain” di tempat core Zong semula. Itulah harga yang dibayar.
Akhir Zong: Penyesalan, Kepastian, dan Permintaan Terakhir
Setelah keluar ke Clean Zone, “sesuatu” di dada Zong menghilang, membuat tubuhnya perlahan kolaps.
Zong bertanya pada SKK apakah yang ia lakukan itu benar, dan apakah Watanabe akan terinfeksi karena tindakannya.
Cradle kembali sebentar sebagai “pembaca” yang mengembalikan “buku” (cerita dalam hati Zong), lalu menyatakan bukan dia penyebab infeksi. SKK berjanji pada Zong bahwa Watanabe tidak akan terinfeksi.
Zong lega, takut jika ia justru membuat Watanabe menjadi sosok yang Watanabe benci. Ia juga memohon agar tidak dijadikan Corrupted, karena ia tahu betapa sakitnya bagi Watanabe mengeksekusi rekan yang terkorupsi.
Zong akhirnya tenang menerima kematian, menganggap dirinya akhirnya bisa melindungi orang lain.
Permintaan terakhirnya: sampaikan pada Watanabe bahwa “si cengeng kecil yang dulu cuma jadi beban sekarang sudah bisa melindungi orang lain”.
Ia memberi salut terakhir padanya, lalu meninggal di bawah sinar matahari.
Langkah Terakhir SKK: Menuju Perundingan
Meski terluka parah dan membawa beban tubuh Zong di punggung, SKK berjalan ke zona netral di antara pos Forsaken dan Babylonia.
Kedua pihak waspada, menodongkan senjata ke arahnya. SKK mengibarkan dua bendera: satu lambang Gray Raven, satu lagi lambang Forsaken—cara yang Zong sebelumnya ajarkan sebagai “pemberitahuan” sebelum masuk.
Demi menghormati tekad Zong dan menepati janjinya, SKK mengambil risiko besar untuk mempertemukan kedua pihak dan mengungkap kebenaran perang.
SKK memperkenalkan diri sebagai [player name], Commandant Gray Raven, dan menyatakan akan mengungkap kebenaran di balik perang ini.
Latar tempat: Sebuah kamp Forsaken yang dulunya wilayah tak bertuan, kini sudah diubah menjadi markas militer besar dengan tank, artileri, dan truk yang mengangkut pasukan ke medan perang.
Dua Prajurit Forsaken sedang berjaga dan khawatir akan hujan. Mereka sempat tegang ketika melihat kilatan warna hijau, mengira ada penyusup, tapi ternyata hanya sobekan kanvas hijau yang tersangkut di dahan. Mereka lalu lengah kembali.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mengawasi seluruh kamp dari tempat tinggi: Watanabe.
Watanabe menyadari kamp itu sudah banyak berubah sejak ia pergi, hanya monumen lama yang masih menyisakan jejak masa lalu. Melihat semua persenjataan berat, ia bertanya dalam hati: “Kenapa kau melakukan ini, Ballard?”
Meski banyak pertanyaan, Watanabe menahan diri untuk tidak langsung menemui Ballard. Ia fokus pada tugas utamanya: menyelamatkan rekan-rekannya yang terjebak, karena ia telah dipercaya sebagai pemimpin mereka.
Di akhir, Watanabe meminta maaf pada kawan-kawannya karena terlambat dan berkata seolah mereka sudah menunggunya, sementara "badai sedang mendekat."
Konfrontasi Ballard & Watanabe
Watanabe muncul hidup-hidup di hadapan Ballard, meski seharusnya sudah mati.
Ballard terkejut dengan kondisi Watanabe, tapi menganggap itu tak lagi penting dan setuju menjawab pertanyaannya.
Rencana & Motif Ballard
Setelah insiden Hetero Tower dan kekacauan di Babylonia, Ballard melihat celah untuk membangun kekuatan militer di permukaan yang dapat menandingi Babylonia.
Ia memakai chip rekayasa lama, jaringan dan sumber daya yang dikumpulkan selama puluhan tahun.
Oasis yang dipimpin Watanabe justru menjadi hambatan terbesar: para prajurit mulai berdamai dengan masa lalu dan cenderung mau rekonsiliasi dengan Babylonia—hal yang tak bisa diterima Ballard.
Kebencian Ballard pada Babylonia
Ballard menolak mentah-mentah anggapan bahwa “Babylonia sudah berubah”.
Ia mengungkit:
Lloyd yang “dihapus” dan dibungkam.
Rekan-rekan seperti Jett, Soren, Howard yang ditinggalkan.
Pesan AI komando yang meninggalkan pasukan di luar angkasa demi “alokasi sumber daya strategis”.
Propaganda perekrutan Construct & rencana Liszt memanfaatkan Zero-point Engine untuk menyelamatkan Babylonia sendiri.
Baginya, pucuk pimpinan Babylonia adalah pengecut dan pengkhianat yang mengorbankan prajurit demi kekuasaan dan kenyamanan.
Benturan Ideologi dengan Watanabe
Watanabe menuduh Ballard menyeret satu generasi ke perang baru, menghancurkan rumah dan harapan yang telah diperjuangkan para korban perang terdahulu.
Ia menegaskan: jika api kebencian masa lalu dibiarkan, warisan persatuan dan pengorbanan akan lenyap.
Menurut Watanabe, Ballard terlalu dibutakan dendam sehingga tak bisa melihat masa depan.
Rencana Bunuh Diri & Serangan Massal
Ballard mengungkap alasan memilih markas Pemerintah Lama: lokasi ini bisa diserang Longinus Arsenal tanpa node.
Ia memanfaatkan perintah salah (erroneous command) yang dulu dihentikan Nithart, tetapi tidak dihapus dari sistem.
Salah satu perintah itu adalah peluncuran 7.295 rudal balistik dari seluruh armada luar angkasa, dengan target: Babylonia.
Ballard telah menyiapkan sistem: jika aktivitas otaknya berhenti, perintah itu akan otomatis dikirim via antena di wilayah Forsaken.
Ia yakin Babylonia pasti memakai Longinus Arsenal untuk membunuhnya—dan momen kematiannya akan memicu serangan rudal yang dapat menghancurkan Babylonia.
Tujuan Akhir Ballard
Ia ingin “mengubur” Babylonia bersama semua rahasia kelamnya.
Dengan runtuhnya Babylonia, Ballard percaya umat manusia di permukaan akan bersatu kembali dalam kebencian dan ketakutan bersama, bukan sekadar kepentingan.
Menurutnya, inilah satu-satunya cara membangun dunia baru tanpa “pedang Damokles” Babylonia di atas kepala mereka.
Penutup Bab
Saat Watanabe berusaha menghentikannya, Ballard menyatakan bahwa ia sudah telat, waktu telah tiba
Rapat darurat World Government
Hassen mengumumkan bahwa pemimpin baru Forsaken telah dipastikan: Ballard, pendiri Purifying Force yang secara resmi dikatakan sudah mati.
Seorang tokoh tua berpengaruh, Kurono-San, mantan ketua Executive Court dan anggota kehormatan parlemen, tiba-tiba muncul di rapat.
Pengungkapan Ballard & Forsaken
Kurono-San menayangkan rekaman Ballard yang sedang berpidato di hadapan Forsaken, jelas menyatakan niat perang dan “kemenangan total” melawan Babylonia.
Terungkap bahwa dulu kematian Ballard adalah “kematian palsu” yang diatur Kurono dan parlemen; Ballard dulunya dipakai sebagai algojo bayangan dan mata-mata, tapi ternyata mengkhianati mereka dan jadi “triple agent”.
Kerja sama rahasia dengan Watanabe
Nikola mengakui bahwa Babylonia selama ini punya jalur komunikasi rahasia dan sempat bekerja sama dengan Watanabe, mantan pemimpin Forsaken.
Komunikasi dengan Watanabe terputus sejak setengah tahun lalu, dan sekarang diduga ia:
entah bermain dua kaki,
atau sudah dibunuh/ditumbangkan Ballard.
Usulan penggunaan Longinus Arsenal
Karena Ballard tahu banyak rahasia kotor Babylonia dan jelas bermusuhan, Nikola mengusulkan opsi ekstrem: memakai Longinus Arsenal, senjata pemusnah massal, untuk menghancurkan markas Ballard (bekas markas besar World Government) dalam waktu 1 jam.
Kurono-San mendorong opsi ini, berargumen bahwa:
Angkatan bersenjata Babylonia sekarang kurang cocok untuk perang frontal.
Forsaken sangat diuntungkan di permukaan yang penuh Punishing Virus.
Perang langsung akan memakan banyak korban dan melemahkan Babylonia.
Hassen menentang keras, karena:
Sejak Age Reconquista, Babylonia berusaha memperbaiki hubungan dengan manusia di permukaan.
Menembak Longinus ke “rekan” di permukaan akan menghancurkan kepercayaan rapuh yang baru terbangun.
Manipulasi politik Kurono-San
Kurono-San memakai argumen sejarah:
Dahulu penyatuan manusia dicapai lewat “operasi damai” (perang panjang) yang melahirkan World Government dan Golden Age.
Sekarang, demi persatuan, rasa sakit perang dan pengorbanan dianggap “layak dibayar”.
Tujuannya bukan mengumpulkan suara setuju, tapi mendorong banyak anggota untuk abstain:
“Biar orang lain yang menarik pelatuk, tapi semua menikmati hasilnya.”
Voting pertama:
35,1% setuju, 30,8% menolak, 34,1% golput → usulan Longinus dinyatakan lolos karena suara setuju melewati ambang minimal.
Deklarasi ‘United Declaration’ dari masa lalu
Saat keputusan itu tercapai, Gestalt otomatis memutar sebuah pengumuman tersembunyi: “United Declaration”, diatur sejak awal pembentukan World Government.
Kondisinya: jika senjata pemusnah massal hendak digunakan pada populasi besar, deklarasi ini wajib disiarkan.
Muncul rekaman Trillard, Presiden pertama World Government, bersama daftar penandatangan pendiri lain (politik & ilmuwan).
Isi pesannya:
Persatuan memang punya harga, tapi:
Tanyakan dulu: sudah benar-benar mendengar tuntutan pihak lain? Tidak ada ruang negosiasi sama sekali?
Jangan menjadikan “biaya” sebagai alasan untuk lari dari kesulitan.
Jangan kembali ke barbarisme “yang kuat berkuasa, yang lemah dikorbankan”.
Mereka mengingatkan:
Jangan jadi “Death, destroyer of worlds”.
Dan yang paling penting: “Jangan menjadi salju yang diam namun memicu longsor (avalanche)” — sindiran untuk orang-orang yang diam dan membiarkan bencana moral terjadi.
Masa lalu Hassen dengan Trillard
Flashback singkat: Trillard memberi instruksi rahasia pada Hassen muda:
Setelah mereka pergi, Hassen harus mengirim laporan anonim seperti yang diinstruksikan, lalu kembali ke kelompoknya seolah tak tahu apa-apa.
Trillard menyebut Hassen sebagai “peluru” yang ia tembakkan ke masa depan untuk menyelamatkannya.
Ini menjelaskan mengapa Hassen, di masa kini, rela jadi “peluru” yang menghadapi Kurono-San dan tradisi kelam itu.
Masuknya Celica & kebenaran soal Watanabe
Celica menerobos rapat tanpa prosedur karena “tidak ada waktu”:
Ia mengabarkan bahwa SKK telah ditemukan hidup-hidup.
SKK membawa informasi baru:
Ballard memfitnah Babylonia dengan menuduh mereka membunuh Watanabe, untuk memicu konflik.
Padahal Watanabe sudah pulih dan sedang menuju markas utama Ballard untuk menghentikannya.
Kurono-San mencoba meragukan: apakah itu benar-benar SKK, mengingat Gray Raven pernah membawa klon.
Celica menegaskan: semua bekas operasi cocok dengan data “Star of Life”.
Kurono-San masih menyerang: siapa yang menjamin kebenaran ucapan SKK?
Hassen mengambil sikap penuh tanggung jawab
Di tengah keraguan itu, Hassen teringat amanat Trillard.
Ia menyatakan di depan semua orang:
Sebagai Presiden, ia bersedia menjamin kebenaran kata-kata commandant dan menanggung semua konsekuensi politik maupun hukum.
Dengan dasar informasi baru dan deklarasi Trillard, Hassen memerintahkan voting kedua untuk keputusan penggunaan Longinus Arsenal.
Lokasi: Markas Pemerintahan Dunia Lama, pukul 19.00.
Hitungan mundur aktivasi Longinusmencapai nol, tetapi serangan “hukuman ilahi” tidak pernah terjadi.
Komunikasi dari berbagai lini (garis depan, belakang, pabrik makanan, pabrik senjata) terus berdatangan—tanda bahwa Babylonia masih aman dan tidak jadi dimusnahkan.
Watanabe menegaskan pada Ballard bahwa Babylonia sudah berubah dan memintanya berhenti bersikeras.
Hasil rapat Babylonia:
37,1% setuju pakai Longinus
60,2% menolak
2,7% golput
Proposal penggunaan Longinus resmi ditolak.
Ballard hancur secara mental, merasa dihantui “jiwa-jiwa yang ditelantarkan”, tapi ia bersikeras bahwa hanya sebagian rencananya yang gagal.
Ia masih memegang kode peluncuran 7295 misil dan bisa mengirim perintah lewat antena di wilayah Forsaken, sementara komputasi Gestalt diblokir—secara teori, ia masih bisa menghanguskan Babylonia dalam 10 menit.
Namun, Ballard tidak menekan tombol peluncuran.
Sebagai gantinya, ia melompat keluar lewat jendela kaca dan menantang Watanabe untuk mengikutinya jika ingin menghentikannya dan mengakhiri semuanya sekali untuk selamanya.
Perjalanan batin Watanabe menuju “kematian”
Watanabe seakan berjalan melewati kenangan dan “bayangan” orang-orang penting dalam hidupnya: ayah angkatnya Shin, rekan-rekan Forsaken (Bruce, Coates, Garzah, Backhaus), Cyril, Felix, Philip, dan bahkan suara ibunya, Tsuru.
Mereka semua menegaskan bahwa perjuangan dan pengorbanan mereka tidak sia-sia, dan mendorong Watanabe untuk terus maju tanpa menyesal, menjadi “pedang yang menembus malam” dan “tulang punggung” masa depan.
Pada akhirnya, ia melangkah mantap ke dalam “badai pasir bernama kematian” demi membawa kehidupan baru.
Pengorbanan Ballard dan duel ideologi
Watanabe tersadar di bawah reruntuhan dan mendapati Ballard menahan puing yang menusuk tubuhnya, jelas mengorbankan diri untuk menyelamatkan Watanabe.
Ballard menjelaskan bahwa dalam rencananya, hanya satu dari mereka yang boleh hidup, agar Forsaken tidak hancur dan arah kebencian mereka tidak sia-sia.
Ia mengakui bahwa dirinya kalah dari Watanabe: ia tak bisa memimpin Forsaken seperti Watanabe, dan kehadiran Watanabe membuktikan bahwa konflik Forsaken vs Babylonia belum tak terelakkan.
Ballard menegaskan pandangannya:
Great Evavuation lah yang “mematahkan tulang punggung era”, memisahkan langit (Babylonia) dan tanah (orang-orang yang ditinggal).
Selama Babylonia aman di langit, umat manusia tidak akan benar-benar bersatu.
Ia menolak “bersembunyi” atau mundur karena itu berarti jadi pengecut seperti yang ia benci.
Pelajaran terakhir untuk Watanabe
Ballard memaksa Watanabe menjawab: apa yang ia percaya, apa yang ia lindungi, dan untuk siapa ia bertarung.
Watanabe menjawab: kawan-kawan yang berdiri bersamanya, dan tanah yang mereka tak ingin tinggalkan.
Ballard memintanya bertekad untuk menyingkirkan segala ancaman, bahkan perasaannya sendiri jika perlu. Watanabe akhirnya menyatakan kesediaannya.
Ballard mengungkap bahwa ia sudah memutus koneksi ke sistem peluncuran misil—ia memberi “hadiah era lama” tanpa menjerumuskan mereka ke kehancuran.
Ia bertanya untuk terakhir kalinya: bisakah Watanabe menjadi “tulang punggung” yang menanggung beban sebuah era?
Kematian Ballard dan rekonsiliasi masa lalu
Di ambang kematian, Ballard seakan bertemu kembali dengan Backhaus di tengah hujan.
Backhaus menggoda Ballard yang hidup terlalu lama dan mengakui bahwa ada wajah-wajah yang mungkin Ballard tak sanggup temui karena rasa bersalahnya.
Ia memberikan cerutu—hadiah dari taruhan yang dulu ia “kalahkan”: bahwa “tulang punggung yang menanggung beban” bukan hanya satu orang, tapi ‘kita’ bersama.
Ballard mengakui bahwa Watanabe adalah orang yang bisa mereka percayai untuk memikul masa depan. Dengan menyalakan cerutu dan memastikan tak ada “orang lama” yang mengikutinya, ia menerima kematiannya dan berjalan menuju “makamnya” tanpa menoleh.
Pesan Terakhir Ayah Watanabe
Watanabe menemukan pesan lama dari ayahnya di barang-barang Ballard.
Ayahnya menjelaskan filosofi:
Peradaban lahir untuk menentang “survival of the fittest”.
Persatuan (unity) itu menyakitkan dan berharga karena menahan ego dan naluri hewani.
Sumber kekuatan umat manusia adalah cinta dan persatuan, bukan kekuatan militer atau pemerintahan dunia.
Ia percaya Golden Age bukan periode sejarah tertentu, tapi keyakinan, pikiran, dan tindakan manusia.
Ia berharap manusia sekali lagi membangun “tulang punggung dunia” lewat cinta dan persatuan, dan menutup dengan kalimat:
“A World for All” dan mengaku bangga serta mencintai Watanabe.
Dampak Kematian Ballard & “Pedang” di Tangan Watanabe
Setelah kebenaran terungkap, konflik yang dipicu Ballard mereda; rakyat bersuka atas kembalinya Watanabe dan mengutuk kubu perang.
Namun, hubungan Forsaken dan Babylonia tetap menegang; pasukan di perbatasan tidak ditarik.
Watanabe memegang medal peninggalan Ballard yang berisi kode peluncuran 7295 rudal di luar angkasa.
Medal ini menjadi “pedang di atas kepala” Babylonia.
Selama pedang ini ada, Forsaken tak akan melepaskan wilayah, dan Babylonia tak akan benar-benar tenang.
Watanabe menyadari:
Persatuan tidak berarti satu pihak tunduk atau menyerah.
Keseimbangan kekuatan kadang perlu agar dua pihak bisa duduk bernegosiasi.
Tapi koin ini punya dua sisi: perdamaian dan kehancuran.
Dia memilih tetap memegang “pedang” itu, tidak menyembunyikan keberadaannya, meski membuatnya dibenci kedua pihak:
Pihak anti‑Babylonia menginginkan kekuatan itu.
Pihak yang ingin damai membenci sikap konfrontatifnya.
Bagi Watanabe, ini adalah harga persatuan: membawa ketakutan demi perdamaian yang langgeng, sekaligus melindungi rekan‑rekannya agar tidak berada di bawah belas kasihan orang lain.
Kembalinya SKK & Persiapan Negosiasi dengan Forsaken
Setelah SKK kembali ke Babylonia, Star of Life memeriksa kondisi medis dan menemukan apa yang dialami SKK selama menghilang.
Gray Raven (Lucia, Lee, Liv) menerapkan perlindungan ketat 24 jam pada SKK, tak mau kehilangannya lagi.
Tiga hari kemudian, SKK diundang Diplomatic Court untuk ikut negosiasi dengan Forsaken di zona netral, karena hubungan baiknya dengan Forsaken.
Lucia dan Lee memeriksa keamanan transport; Bridget (pilot) dan Liszt (anggota dewan) ikut.
Liszt menegaskan bahwa Babylonia butuh kehadiran SKK demi menunjukkan itikad baik, lalu mengingatkan SKK harus tahu di mana posisi/pendiriannya.
Jawaban Watanabe & SKK: “Mereforging the Spine”
Di saat yang paralel, Watanabe menyimpan medal nya dan bersiap menuju pertemuan.
Pertanyaan Liszt (“kamu berpihak ke mana?”) dijawab secara implisit melalui tekad bersama:
Watanabe & SKK: “To reforge the spine of this era.”
Changyu, Jamilah, dan “Scorpio”
Changyu mengantarkan sebuah kotak besar yang berisi seorang pria hampir sekarat ke sebuah kota yang penuh pemabuk namun berpertahanan kuat.
Jamilah menyuruhnya tak khawatir: keluarga kerajaan akan mengurus penyelamatan pria itu.
Mereka menyebut pria itu sebagai “Scorpio”, sosok yang diharapkan mampu menyingkirkan banyak rintangan bagi keluarga kerajaan.
Gestalt & “Dominik”: Contamining Memetic dan Ancaman Lebih Besar
Dua entitas misterius berdialog: Gestalt dan sosok yang dipanggil Dominik (sebenarnya data memori Dominik sebelum masuk Reactor One).
Gestalt menuduh Dominik melanggar prinsip awal mereka:
Dulu mereka hanya penonton yang tak boleh ikut campur, hanya mengamati “permainan catur” umat manusia.
Dominik mengaku membocorkan “informasi tersegel” yang berisi “contaminating memetics”: informasi yang, saat menyebar, mencemari dan dapat menghancurkan manusia.
Alasannya: “menyuntikkan obat penenang” pada umat manusia yang sedang sangat irasional, agar mereka tidak saling menghancurkan diri saat itu juga.
Gestalt mengingatkan:
Mereka sudah dua kali menunda malapetaka memetika ini:
Saat wabah Punishing Virus, Gestalt memerintahkan satelit global meledak, menghentikan penyebaran.
Di Post‑Pandemic Age, Nithart dan Dominik menghentikannya lagi.
Sekarang tidak ada Nithart kedua dan Dominik “murni” kedua.
Countdown kehancuran sudah berjalan dan hampir mustahil dihentikan.
Dominik (memori) tidak tahu kondisi Dominik asli, tapi menduga ada “referensi solusi” untuk memetika ini yang mulai muncul.
Mereka melihat visual sebuah kota cincin raksasa, berliku seperti labirin, dengan struktur bawah tanah luas.
Dominik dan Gestalt menyimpulkan:
“It has begun.”