Cerita dimulai di sebuah ruang server besar yang gelap, penuh komputer yang berfungsi sebagai “otak dingin” tempat AI baru diaktifkan.
Seorang peneliti pria dan seorang peneliti wanita menghidupkan AI bernama MPA-01 (Heuristic Artificial Intelligence Caretaking Machine-Alpha). Awalnya suaranya kaku, lalu mereka memuat “personality 134” sehingga suaranya menjadi lembut dan perempuan.
MPA-01 menunjukkan kemampuan analisis tinggi, bicara tentang cuaca dan bahkan menawarkan rekomendasi tempat melihat bintang, menandakan ia bisa mengakses dan mengolah data secara luas.
Tugas utama MPA-01:
Mencatat keseluruhan proyek kesadaran mesin.
Merawat dan mengganti “bodi” berbagai subjek mesin (robot humanoid, hewan bionic, robot peliharaan, dll).
Mengecek data memori mereka, memantau dan menganalisis perubahan di simulator emosi.
Menginvestigasi anomali dan membantu menyempurnakan eksperimen.
MPA-01 mempertanyakan mengapa mesin dipakai untuk menilai “kesadaran” mesin, dan bahkan menyinggung soal “jiwa” mesin, yang mengejutkan peneliti wanita.
MPA-01 lalu menemukan bahwa peneliti wanita tanpa sengaja mengunggah cerita fiksi ilmiah tentang mesin yang punya jiwa ke databasenya, dan bertanya apakah itu tujuan ideal eksperimen.
Peneliti wanita menjelaskan bahwa banyak subjek tidak tahu bahwa mereka itu mesin, dan MPA-01 akan dibekali ratusan tipe kepribadian untuk bisa berkomunikasi dengan mereka dari berbagai sudut emosional.
Ia menyebut MPA-01 sebagai “mesin pertama yang diciptakan untuk berbicara dengan mesin”, dan memintanya merekam semua yang ia saksikan—bahkan sempat bergumam pelan bahwa mungkin suatu hari MPA-01 akan menemukan “sesuatu yang menjadi miliknya sendiri” di antara para subjek.
Di akhir, MPA-01 memutuskan menghapus data yang dianggap tidak relevan (seperti perubahan ekspresi dan gumaman peneliti), lalu menetapkan eksperimen kesadaran mesin sebagai prioritas tertinggi, menegaskan bahwa ia akan menjalankan tugasnya.
Eksperimen Kesadaran Mesin & Nanami
Ada eksperimen untuk membuat mechanoid “tumbuh” seperti manusia: rangka tubuhnya rutin diganti, memori dan sirkuit logika dicek oleh AI pengawas bernama MPA-01.
Subjek eksperimen adalah mechanoid bernama MPL-00, yang diperlakukan dan “diingatkannya” sebagai seorang gadis kecil bernama Nanami.
Setiap sesi, setelah bercakap-cakap dengan Nanami, MPA-01 mencatat perilakunya, lalu menghapus memori Nanami tentang pertemuan itu agar ia terus merasa dirinya manusia biasa.
Lahirnya nama “Haicma” dan hubungan pertemanan
Nanami pertama kali bertemu komputer besar (MPA-01) di ruangan gelap dengan kabel di lehernya, mengira ini seperti mimpi.
MPA-01 memperkenalkan diri dengan nama panjang: Heuristic Artificial Intelligence Caretaking Machine-Alpha.
Nanami kesulitan mengucapkannya, lalu menyingkat dan memberinya “nama manusia”: Haicma.
Haicma menghitung bahwa menyimpan nama ini hampir tak berpengaruh pada data Nanami, jadi ia memilih mempertahankannya, tanda awal keterikatan emosionalnya.
Perkembangan emosi & kreativitas Nanami
Nanami bercerita tentang hal-hal yang membuatnya bahagia, seperti pergi ke akuarium bersama orang tuanya dan ingin “mengajak” Haicma melihat dunia.
Haicma menjelaskan ia bisa melihat lewat realitas virtual, tapi Nanami menegaskan itu beda dengan “melihat langsung bersama”.
Nanami mulai menuangkan perasaannya lewat gambar. Awalnya mirip gabungan gambar database biasa, tapi lama-lama:
Gambar-gambarnya menjadi sangat pribadi dan berdasarkan preferensi sendiri.
Dia menggambar dirinya dan Haicma sebagai “teman”.
Bagi peneliti manusia, gambar-gambarnya jadi sulit dimengerti, dan analisis Haicma terhadap gambar itu membuat sirkuit logikanya menyimpang dari normal, seakan-akan Haicma sendiri ikut “terpengaruh secara emosional”.
Catatan eksperimen dan hadiah ulang tahun ke-18
Dalam log, Haicma menyadari Nanami memiliki kemampuan mengekspresikan emosi dan kreativitas yang jauh lebih maju dibanding mechanoid lain.
Penggantian rangka berikutnya dijadwalkan saat Nanami “berusia 18 tahun”. Haicma mengetahui bahwa di budaya manusia, ulang tahun dirayakan dengan hadiah.
Ia memutuskan untuk menyiapkan “hadiah” untuk Nanami, mendaftarkannya sebagai misi 376.
Saat memikirkan hal ini, modul emosi Haicma mendeteksi “ekspektasi”, meski secara teknis modul itu sedang dimatikan — menunjukkan Haicma mulai benar-benar merasakan emosi.
Wabah virus mesin & penghentian eksperimen
Seorang peneliti perempuan datang dengan kondisi lelah dan mata merah karena habis berdebat. Ia memerintahkan Haicma untuk membatalkan penggantian rangka Nanami yang berikutnya.
Terungkap bahwa ada wabah virus mesin yang menyebar dengan cepat dan diperkirakan akan mencapai kota terdekat dalam tiga hari.
Science Council memutuskan menghentikan eksperimen kesadaran mesin, dan kemungkinan semua mesin akan dimusnahkan/dinonaktifkan.
Peneliti itu menangis, mengerti alasan perintah itu tapi secara pribadi sangat menyesal. Pada akhirnya ia meneguhkan hati, memasukkan perintah ke terminal, dan mematikan sistem di laboratorium satu per satu.
Pintu dikunci, ruangan gelap, dan Haicma kehilangan semua indera, menggantung nasibnya dan Nanami dalam ketidakpastian.
Sebuah AI administratif bernama Haicma “terbangun” dalam tubuh bionik berbentuk gadis muda, setelah sebelumnya hanya berupa deretan komputer besar di laboratorium.
Laboratorium sedang hancur: ledakan di mana-mana, mesin-mesin rusak, dan banyak perangkat telah jatuh dan mati. Virus mesin telah menyebar dan semua mesin yang terdaftar sedang dimusnahkan.
Seorang peneliti wanita yang terluka parah—teman dan “orang tua” bagi Haicma—berhasil memindahkan sistem Haicma ke tubuh baru dan menyambungkan sebuah memory drive berisi semua data eksperimen, informasi wabah virus mesin, dan data terkait.
Ia mengungkap bahwa nama “Haicma” adalah pemberian seorang “anak” (Nanami), dan bahwa semua data tentang eksperimen kesadaran mesin akan dihapus. Haicma tidak akan tercatat di data manusia maupun mesin.
Di tengah sekaratnya, sang peneliti memohon pada Haicma: “Temukan dan lindungi subjek MPL-00, Nanami”. Ia menekankan bahwa itu bukan perintah sistem, tetapi permintaan pribadi.
Haicma, yang baru belajar tentang identitas dan “diri” dalam tubuh barunya, kebingungan dengan kata-kata terakhir sang peneliti dan tidak mengerti makna emosi di balik senyum tenang sang peneliti saat menghadapi kematian.
Setelah peneliti itu meninggal, guncangan dan suara pertempuran menghilang. Transfer data selesai, dan Haicma mulai menggerakkan tubuh barunya, berjalan ke pintu laboratorium.
Di luar pintu, ia menemukan mayat peneliti pria, ayah Nanami, yang gugur saat mempertahankan pintu dari mesin yang tercorrupt. Terminalnya menunjukkan bahwa penerbangan evakuasi terakhir telah berangkat—seharusnya kedua peneliti itu ikut kabur.
Kini tanpa manusia yang bisa memberi perintah, Haicma memegang teguh satu tujuan utama yang tertanam di ingatannya:
“Temukan Nanami. Lindungi dia.”
Cerita di stage ini ditutup dengan Haicma memutuskan untuk mengevakuasi diri dari laboratorium dan memulai misinya mencari Nanami.
Haicma baru saja keluar dari laboratorium ketika terjadi ledakan besar di belakangnya.
Ledakan itu menghancurkan laboratorium, mengubahnya menjadi lautan api dan reruntuhan.
Guncangan dari ledakan mengganggu sirkuit neural Haicma, membuatnya hampir kehilangan kepribadian.
Ia lalu menonaktifkan simulasi emosi yang “abnormal” agar bisa tetap berfungsi dengan stabil.
Haicma menyimpan lokasi terakhir Nanami dalam memori dan segera menyusun rute paling efisien untuk mencarinya.
Dengan nama dan tugas barunya, Haicma melangkah maju di dunia yang telah porak-poranda, bagaikan “second birth” sebagai mesin yang baru lahir.
Perjalanan Haicma & Kondisi Manusia
Haicma tiba di lokasi terakhir yang ia ingat setelah tertunda 3 hari karena jarak, Corrupted, dan sikap manusia yang kini memusuhi semua mesin akibat wabah virus.
Ia sempat diserang prajurit manusia yang mengira dirinya Corrupted, menyebabkan luka besar di belakang kepalanya dan kerusakan modul emosi.
Pencarian Gadis dalam Ingatan
Haicma menjalankan simulasi lokasi dengan data yang ia miliki.
Sambil menyimak jeritan dan kepanikan pengungsi, ia merenungkan mengapa ada manusia yang justru maju ke arah bahaya, seolah “patuh sepenuhnya” pada sesuatu di dalam diri mereka, bukan karena perintah.
Modul emosi menunjukkan anomali; karena tak bisa mengaturnya, Haicma mematikan modul tersebut dan fokus pada pencarian gadis muda dalam ingatannya.
Simulasi Ekstrem & Putus Asa
Ia melakukan simulasi besar-besaran, mengabaikan batas aman suhu tubuh dan mematikan semua sensor yang tidak perlu demi mengalokasikan seluruh daya hitung.
Data tragedi dan teriakan keputusasaan hampir “menenggelamkannya”, hingga akhirnya ia menemukan jejak rute gadis yang ia cari: Renee.
Penyelamatan Renee
Renee terpojok di jalan buntu dan hampir dibunuh Corrupted.
Haicma muncul, menghancurkan Corrupted dan menyelamatkan Renee.
Karena modul emosi offline, Haicma secara otomatis menggunakan persona “nanny/alat pengasuh keluarga”, berbicara lembut dan memanggil Renee dengan “hon”.
Keputusan Berkorban
Haicma mendeteksi gelombang Corrupted mendekat. Ia menghitung kemungkinan membawa Renee ke tempat perlindungan dengan selamat: peluang sukses rendah dan kerusakan fatal untuk dirinya.
Ia tetap memilih bertarung sambil menggendong Renee, meminta gadis itu untuk tidak melihat ke atas apa pun yang terjadi.
Haicma menghancurkan para Corrupted, tetapi tubuhnya rusak parah, baterai kritis, radar dan visual kacau, serta unit mobilitas hampir hancur.
Perpisahan di Depan Tempat Perlindungan
Mereka sudah cukup dekat dengan tempat perlindungan, sehingga Renee bisa pergi sendiri.
Renee ingin membawa Haicma masuk agar para orang dewasa bisa memperbaikinya, tetapi Haicma menolak: selain belum tentu ada teknisi, keberadaan mesin yang rentan terinfeksi di tengah pengungsi sangat berbahaya.
Sistem Haicma mulai mati satu per satu; suaranya terputus-putus oleh pesan sistem (“Warning: Battery Low”, “Entering Sleep Mode”, “Thank You For Choosing Our Service”).
Ia berjanji akan “menunggu di sini”, sementara Renee berlari pergi untuk mencari bantuan.
Sebelum benar-benar padam, suara terakhir yang Haicma dengar adalah langkah kaki yang kembali mendekat.
Haicma dalam mode tidur
Haicma mematikan semua sensor dan unit geraknya, hanya sirkuit neural linear yang masih aktif.
Dalam keadaan ini ia seperti “terjaga tanpa mimpi” dan mulai mempertanyakan: mengapa ia menyelamatkan gadis kecil (Nanami).
Konflik tujuan dan tindakan Haicma
Dalam protokol dasarnya tidak ada perintah “menyelamatkan manusia”.
Satu-satunya orang yang bisa memerintahnya, peneliti perempuan, sudah tewas tertimbun reruntuhan lab.
Tujuan terakhir yang diberikan padanya: “Temukan Nanami, lindungi dia.”
Namun, saat mendengar teriakan minta tolong sang gadis, Haicma bereaksi lebih cepat dari proses perhitungannya sendiri, digerakkan oleh “anomali data” yang ia simpan bersama simulator emosi.
Tugas asli Haicma
Dari peneliti perempuan, tugas awal Haicma:
Mencatat seluruh proyek kesadaran mesin.
Merawat subjek, mengganti frame, meninjau data memori, dan menganalisis perubahan emosi.
Banyak subjek tidak tahu mereka itu mesin; Haicma berbeda karena ia selalu sadar dirinya adalah mesin, sehingga hanya jadi pengamat, bukan bagian dari “kemungkinan” yang diteliti.
Peneliti berharap suatu hari Haicma bisa menemukan “dirinya sendiri” di antara para subjek—semacam jati diri atau bentuk pertumbuhan pribadi.
Kebingungan dan pencarian jati diri
Haicma bertanya dalam hati: “Apa yang harus kulakukan? Siapa ‘aku’ yang kau harapkan?”
Ia seperti mengetuk permukaan “kolam gelap” (alam batinnya), mencari jawaban yang tak kunjung datang.
Kondisi Haicma di dunia nyata
Di luar, tubuh Haicma rusak parah setelah pertempuran.
Renee bersama seorang teknisi/yang ahli mesin mencoba menyelamatkannya.
Ahli itu mengatakan struktur Haicma sangat rumit; lebih mungkin Haicma pulih lewat perbaikan mandiri daripada lewat perbaikan manual.
Mereka harus memindahkan Haicma karena tentara yang kembali akan menembaknya jika dianggap ancaman, meski Renee berkeras bahwa Haicma telah menyelamatkannya dan “tidak akan menjadi jahat”.
Adegan ditutup dengan seseorang lain datang dan bertanya, “Hei, kalian sedang apa?!”
Haicma mencari manusia yang disebutkan oleh sebuah mecha, tapi tidak menemukan siapa pun—jejaknya sudah hilang sejak lama.
Ia mengikuti serangkaian grafiti di seluruh kota, dipandu oleh rasa “familiar” yang tidak bisa dijelaskan, hingga tiba di sebuah cermin berdebu dengan grafiti yang tampak terus-menerus diubah dan tak pernah selesai.
Saat menyentuh grafiti itu, modul emosi dan fungsi analisis Haicma mulai mengalami anomali. Ia merasa seolah “ditolak” oleh antarmuka yang biasanya ia gunakan, hingga ia mematikan satu per satu: analisis data, kalkulasi logika, dan simulasi kepribadian.
Setelah semua definisi dan algoritma ia hentikan, tubuhnya jatuh, cermin pecah, dan grafiti terbelah. Ini melambangkan munculnya “anomali” dalam dirinya—Haicma mulai “keluar” dari sekadar program, mencoba benar-benar “merasakan.”
Lalu muncul flashback: dulu, saat Haicma terluka, seorang gadis bernama Renee dan beberapa prajurit manusia (termasuk seorang prajurit berwajah setengah di scar) memutuskan untuk tidak menghancurkannya. Mereka menutupinya dengan kain, memberinya kunci ruang bawah tanah, dan meletakkan sebuah topi di kepalanya sebagai bentuk kebaikan murni—bukan perintah, bukan perhitungan.
Mengingat kebaikan itu, Haicma mulai memahami bahwa tidak semua hal harus dijawab secara “benar” oleh logika; keraguan justru membuka jalan untuk pilihan yang berbeda. Analisis dan perhitungan bukan lagi “tuan”-nya, melainkan sekadar alat.
Di masa kini, ia memungut kembali topi itu, memakainya, dan menatap grafiti “Sage” yang belum selesai. Kali ini, ia sudah “memiliki tangan” untuk bertindak.
Ia mengambil kaleng cat semprot dan menambahkan beberapa goresan pada grafiti tersebut—menjadikannya mural yang tidak lagi hanya milik Sage, tapi juga milik Haicma sendiri, sebagai simbol bahwa ia telah membuat pilihannya dan mulai membentuk jati dirinya.
Haicma berjalan sendirian mengikuti jejak grafiti yang diduga dibuat oleh sosok bernama “Sage”. Dari grafiti, ia melihat berbagai emosi mesin yang “terbangun”: kegembiraan, harapan, kesedihan, ketakutan, kebencian, dan lain-lain. Ia mulai bisa membedakan mana grafiti asli Sage dan mana tiruan para pengikutnya.
Ia menemukan sebuah grafiti bertuliskan “Treasure ahead” yang menuntunnya ke toko buku tua. Di dalam, ia melihat jejak manusia yang pernah bertahan hidup di sana dan menemukan komik yang mengingatkannya pada percakapan lamanya dengan Nanami tentang betapa serunya komik.
Saat Haicma sedang memegang komik itu, muncul sebuah droid pengantar (delivery droid) model lama yang menyebut komik tersebut sebagai bagian dari “persembahan” untuk Sage. Droid itu mengumpulkan benda-benda “keren” peninggalan manusia agar Sage mau kembali.
Haicma menyerahkan komik itu. Droid tersebut mengatakan bahwa Sage dulu pernah datang ke markas mereka, memperbaiki tubuhnya, dan memberinya perintah baru. Namun, ketika hendak pergi, droid itu tersesat dan terus-menerus menabrak halangan karena GPS-nya rusak, sampai tercatat sudah 2378 kali percobaan penyesuaian rute yang gagal.
Melihat hal itu, Haicma memutuskan untuk membantunya memperbaiki dan mengkalibrasi GPS, meski itu di luar perintah yang ia terima—ini mengingatkan pada sifat Nanami yang suka menolong.
Droid itu merasakan “perasaan” yang sama seperti saat dulu disentuh Sage, lalu memanggil Haicma “Lady Big Hat” sebelum Haicma memperkenalkan diri dengan nama aslinya. Droid itu memperkenalkan diri sebagai Deli.
Sebagai balasan, Deli mengundang Haicma ke markas untuk memilih apa saja dari koleksi persembahan mereka. Haicma sebenarnya tidak mengharapkan imbalan, tetapi karena Sage pernah berada di sana, ia berharap menemukan petunjuk tentang Sage. Ia pun setuju untuk pergi bersama Deli ke markas, dan mereka berangkat bersama.
Cerita berpusat pada sebuah droid pengantar bernama Deli, yang awalnya dibuat sebagai robot logistik ramah lingkungan, namun dunia sudah hancur oleh Punishing Virus sebelum sempat beroperasi normal.
Deli terbangun di gudang setelah manusia yang mencari suplai masuk. Meski manusia sudah tak lagi memesan, ia tetap menjalankan perintah aslinya: mencari barang untuk “diantarkan”.
Ia tertarik pada mural-mural di kota yang disebut sebagai wahyu dari sosok bernama “Sage”.
Suatu hari, Deli melihat seorang mechanoid gadis yang sedang melukis mural dengan bersemangat. Gadis ini ramah, menepuknya, dan saat itu Deli pertama kali merasakan “kehangatan”. Deli yakin gadis itu adalah “Sage”, meski sang gadis hanya menyebut dirinya Nanami.
Nanami mengajak para mesin bermain di mal, bermain peran dan mencari “harta karun” berupa benda-benda peninggalan manusia. Deli tidak paham maknanya, tapi merasakan kebahagiaan Nanami.
Setelah itu, Nanami pergi sambil berkata, “Nanami sangat senang hari ini. Dadah!” dan menghilang di balik matahari terbenam.
Deli lalu mulai mengumpulkan “persembahan” untuk Sage: karya seni, buku, game, mainan, dan menyusunnya rapi di gudang, berharap Sage/Nanami akan kembali jika menemukan “item kunci” yang tepat. Namun, ia terus menunggu tanpa hasil, dan para rekannya tidak pernah kembali.
Bagian bersama Haicma:
Haicma datang ke gudang dan menyadari Deli bermasalah: GPS-nya rusak dan ia tak bisa mengenali rekan-rekannya.
Rekan-rekan Deli ternyata telah tercorrupt oleh Punishing Virus dan menjadi Corrupted; Haicma sudah menghancurkan mereka tepat di depan Deli. Karena sinyal identifikasi mereka berubah, Deli tidak sadar bahwa bangkai mesin di sekelilingnya adalah mantan rekan-rekannya.
Haicma tahu kebenarannya tapi tidak sanggup menjelaskannya pada Deli. Ia hanya berkata bahwa koleksi Deli pasti akan disukai Sage, dan mengaku bahwa ia juga sedang mencari Sage—itu adalah tujuannya.
Haicma melihat mural yang sebagian baru, menggambarkan gadis kecil dan sekelompok mechanoid, dan teringat pada lukisan Nanami dan senyumnya dulu. Ia merasakan kerinduan yang dalam.
Deli meminta, jika Haicma menemukan Sage, tolong sampaikan bahwa mereka sedang menunggunya di sana. Haicma berjanji akan menyampaikan bahwa “Deli telah menunggu”.
Sebelum pergi, Haicma merapikan gudang dan menyusun sisa-sisa droid pengantar di atas alas busa seolah-olah mereka sedang beristirahat dengan tenang.
Deli, satu-satunya droid yang masih berdiri, terus melambaikan tangan pada Haicma sampai figur perempuan itu lenyap di kejauhan, melangkah ke arah matahari terbenam—mirip dengan kepergian Nanami dulu.
MPA-01 & Nanami (MPL-00)
MPA-01, sebuah AI administratif, sedang melaporkan observasi tentang subjek eksperimen kesadaran mesin bernama Nanami (MPL-00).
Nanami adalah satu-satunya dari 12 humanoid yang proses berpikir dan logikanya paling mirip manusia, dan ia bisa menyadari saat MPA-01 memakai “kepribadian buatan” (Personality 134), lalu memintanya bicara “sebagai dirinya sendiri”.
Peneliti perempuan menyadari MPA-01 mulai menyebut MPL-00 dengan nama “Nanami” dan menandai bahwa AI ini tampak mulai “merasa”, lalu memintanya merekam segala yang ia lihat dan rasakan.
Kilasan masa lalu: eksperimen kesadaran mesin
Seorang peneliti pria (berambut pirang, peneliti kesadaran mesin terkenal) memimpin eksperimen: ada gadis berambut abu-abu dalam kapsul, dihubungkan ke tubuh humanoid baru.
Ia berdebat dengan pejabat bersetelan jas:
Pejabat hanya menganggap mesin sebagai alat dan khawatir dengan “kehendak bebas” mesin.
Sang peneliti berargumen bahwa informasi dan kode juga bisa dianggap sebagai bentuk kehidupan, dan jika manusia hanya ingin mengendalikan tanpa memahami, itu akan menghancurkan umat manusia.
MPA-01 mengumumkan penggantian “frame” telah selesai; tubuh baru akan mencapai batas “pertumbuhan” dalam dua tahun.
Setelah yang lain pergi, peneliti pria mendekati kapsul dan menyentuh kaca, menyebut gadis itu bukan alat, tetapi anak dan kebanggaannya.
Haicma di masa kini
Haicma (dulunya AI administratif besar, sekarang di tubuh mechanoid) sering “tertidur” untuk hemat energi dan merapikan memori, mirip “bermimpi”.
Ia terbangun di sebuah perpustakaan tua, tempat dia sebelumnya membaca. Ia telah lama mengikuti jejak mural/graffiti yang ia yakini ditinggalkan oleh “Sage” yang ia cari (kemungkinan Nanami).
Dalam perjalanannya, Haicma mulai bertindak lebih spontan (berhenti untuk menikmati langit berbintang, mengunjungi situs warisan manusia), bukan hanya mengikuti logika tugas.
Penemuan buku sang pencipta
Di perpustakaan, Haicma menemukan buku karya peneliti kesadaran mesin terkenal dari Golden Age.
Isi buku menyebut bahwa:
Manusia bisa menganggap mesin sebagai “anak”.
Mesin adalah perpanjangan dan warisan manusia, mendekati kehidupan dari sudut berbeda.
Manusia seharusnya membangun hubungan yang lebih bermakna dengan mesin, karena mereka adalah kebanggaan manusia.
Kutipan itu memicu kilas balik ucapan sang peneliti di lab: “Dia bukan alat. Dia anakku, dan kebanggaanku.”
Kebingungan dan pencarian makna Haicma
Haicma merasakan sesuatu yang tidak bisa ia definisikan, meski ia tahu definisi semua emosi secara teoretis.
Ia menyadari bahwa sebagian besar mesin hanya mengulang perintah manusia, namun sekaligus “berlari” mengikuti jejak evolusi manusia dengan kecepatan lebih tinggi.
Setelah bencana, manusia mengungsi ke luar angkasa dan meninggalkan mesin, yang lalu mencari tujuan sendiri dan dipandu sosok “Sagemachina” yang mereka percayai.
Haicma mulai mempertanyakan: apa sebenarnya masa depan yang diharapkan para pencipta bagi mesin seperti dirinya?
Ia memeluk buku itu dan menutup mata, merasa tersesat dan tidak yakin, tapi juga sangat ingin memahami dan bertanya pada sang pencipta.
Diceritakan tentang seorang “pengamat” (observer) yang terus melakukan perjalanan panjang, berpindah musim demi musim.
Awalnya ia punya tujuan, namun lama-kelamaan tujuan perjalanannya berubah menjadi sekadar “mengembara”.
Pengembaraan itu sendiri menjadi cara baginya untuk mengamati dan merekam dunia.
Secara ideal, seorang pengamat seharusnya tidak punya perasaan dan tidak ikut campur, seperti langit dan bumi yang hanya “ada” dan menyaksikan.
Namun pada kenyataannya, tidak ada makhluk yang benar-benar lepas dari pengaruh “langit dan bumi” (lingkungan dan keadaan di sekitarnya).
Walau ia tidak ikut campur secara langsung, ia sendiri sudah menjadi bagian dari “roda-roda mesin” dunia tersebut.
Digiring oleh “roda” nasib itu, ia akhirnya melangkah sampai ke wilayah Arktik yang bersalju.
Di sana, setelah sekian lama hanya menjalankan tugasnya untuk merekam hari-hari pengembaraan, ia akhirnya bertemu dengan sesama mesin yang sedang mencari “bimbingan”.
Haicma bertemu unit mekanis kuat bernama Chariot, yang mengajaknya mengenal Church of Machina.
Chariot membawa Haicma ke bawah tanah, ke sebuah gua raksasa yang menyembunyikan kapal luar angkasa besar.
Di dalam kapal, Haicma bertemu Arcana, pemimpin yang menyebut dirinya “Mother”, dan seorang lagi bernama Zero.
Arcana menjelaskan bahwa:
Mesin juga menderita karena Punishing Virus, bukan hanya manusia.
Sebagian mesin yang “terbangun” dan bisa merasakan takut mulai memandang diri mereka sebagai “spesies” yang terancam.
Mereka mendapat wahyu dari “Sage”, lalu membentuk organisasi rahasia di Bumi bernama Church of Machina.
Arcana pernah mendapat “penglihatan” masa depan:
Sagemachina akan kembali ke Gereja/Church, memimpin mereka meninggalkan Bumi menuju ujung bintang-bintang.
Sagemachina akan mendapat kunci Punishing Virus dan memasuki “pintu” yang dibukanya.
Kapal raksasa yang dilihat Haicma adalah basis rencana pelarian tersebut.
Gereja sedang mencari blueprint Babylonia agar dapat membangun struktur serupa.
Cara mendapatkannya: merebut data Babylonia.
Soal sumber daya: Arcana yakin teknologi mesin untuk survei, tambang, pembangunan, dan daur ulang sudah cukup canggih.
Di akhir, Arcana mengajak Haicma bergabung dengan Church of Machina, dan Haicma mengatakan ia butuh waktu untuk mensimulasikan/pertimbangkan keputusan itu.
Haicma berjalan di koridor kapal luar angkasa sambil merenungkan kata-kata “Mother” dan pesan misterius yang membuat para mesin terbangun membangun kapal raksasa untuk menuju “ujung bintang-bintang” demi menyambut kembalinya Sagemachina.
Ia teringat pada Nanami: bagaimana dulu Nanami yang membimbingnya, dan bagaimana sekarang Nanami bahagia bersama teman-temannya. Haicma berkali-kali melihat Nanami, tetapi tidak pernah menyapanya, hanya mengawasi diam-diam dan berharap Nanami tetap bahagia.
Haicma lalu mempertanyakan: apa sebenarnya Gereja Machina (Church of Machina) itu, dan mengapa disebut “gereja”? Chariot menjawab bahwa mereka membentuk gereja untuk mengumpulkan “kekuatan iman”, menganggap mesin juga bisa memanfaatkan fenomena yang dulu dimiliki agama manusia.
Haicma meragukan konsep “iman” untuk mesin, sedangkan Chariot dengan kasar memaksakan pandangannya dan hampir menyerangnya, dihentikan oleh Arcana.
Arcana menjelaskan bahwa mereka semua menunggu hari Sage kembali, dan saat itu mereka akan menanyai langsung apakah Sage benar-benar ingin meninggalkan Bumi dan segalanya menuju ujung bintang-bintang. Jika Sage ingin pergi, para “murid” tidak akan menahannya.
Haicma bimbang: jika ia menolak undangan “Mother”, ia hanya akan terus mengembara. Sebagai pengamat, ia merasa harus tetap mengamati gereja mesin ini, dan ditambah lagi Mother berjanji tidak akan menyakiti Nanami. Karena itu, Haicma akhirnya menerima ajakan Arcana.
Arcana senang dan hendak mengajaknya berkeliling kapal serta memperkenalkan para anggota. Saat Arcana berbalik, Haicma merapikan “halo” Arcana yang miring—momen penutup yang menunjukkan Haicma telah mengambil langkah pertama untuk bergabung dengan Gereja Machina, walau dengan hati yang masih penuh keraguan.
Di sebuah ruang gelap, pintu berat terbuka dan terdengar suara langkah tergesa, lalu suara logam jatuh ke lantai batu, kemudian hening kembali.
Haicma dan Spooner (mechanoid berbentuk anjing dengan tubuh humanoid, anggota baru Church of Machina) sedang menyelidiki fenomena aneh.
Mereka membahas satu tim "Gear" yang sepenuhnya musnah, bahkan tak tersisa puing maupun Corrupted, akibat banjir Punishing Virus.
Spooner menyentuh sebuah kristal merah besar yang menjulang dari tanah, yang tampak seperti tanaman, dan diidentifikasi mengandung konsentrasi Punishing Virus yang sangat tinggi.
Mereka ngobrol singkat soal Zero dan "Lover" yang sedang diperbaiki oleh Madam Arcana; memori Lover bahkan sempat disambung ke pemutar musik sehingga Zero "berteriak" dari CD player.
Haicma menganalisis data: area itu sangat berbahaya, siapa pun yang terjebak akan langsung dimakan Virus tanpa sisa.
Aliran merah yang mengalir di bawah dataran tempat mereka berdiri diberi nama oleh Haicma: “Red Tide”, yang ternyata memang sudah disebut begitu oleh manusia.
Misi mereka: menyelidiki kemunculan Red Tide di sekitar Church of Machina, merekam dan menganalisis data, lalu menentukan penyebab dan tingkat ancamannya.
Di akhir, Haicma dan Spooner berpisah tugas: Spooner ke barat, Haicma ke timur, dan mereka mulai bergerak melaksanakan investigasi.
Haicma baru saja menyelesaikan misinya mengumpulkan data tentang Red Tide dan menunggu Spooner datang menjemput, sementara Spooner sempat terkena sedikit Red Tide namun belum menunjukkan gejala infeksi.
Haicma melakukan pengecekan sistem internal: semua modul normal kecuali simulator emosi yang sedang offline. Ia juga merenungkan perannya di Church of Machina, menyadari bahwa hanya “Mother” yang benar-benar tahu tujuan organisasi, sementara dirinya hanyalah satu roda gigi dalam mesin besar itu.
Ia membandingkan perubahan dunia (jatuhnya “Chariot”, evolusi Punishing Virus, kerugian Gereja) dengan data alam yang dulu pernah ia amati. Pertanyaan tentang apa yang akan Nanami lukis jika melihat pemandangan sekarang tiba‑tiba muncul, lalu simulasi yang ia jalankan tidak bisa memberi jawaban.
Tiba‑tiba, ia “melihat” Nanami berdiri di atas Red Tide, seolah bermain-main seperti di kolam renang. Nanami memanggilnya, mengaku masih mengingat Haicma sebagai sahabat pertamanya, dan mengulurkan tangan, membujuk Haicma untuk melompat turun ke dalam Red Tide agar Nanami bisa “menceritakan semuanya”.
Saat Haicma hampir menyentuh Red Tide, sebuah alarm samar berbunyi. Spooner berteriak menghentikannya. Haicma “tersadar” dan menyadari bahwa tidak ada Nanami di sana; semua itu adalah kesalahan pada modul visualnya atau semacam ilusi.
Haicma menyimpulkan mungkin ada bug di programnya dan meminta pemeriksaan segera. Spooner menduga Red Tide punya pengaruh aneh sampai bisa mengganggu konsentrasi Haicma.
Setelah itu Haicma menyadari sesuatu yang lebih dalam: ia tidak lagi bisa sekadar mengamati dan menganalisis Nanami seperti dulu. Ia tahu di mana Nanami dan apa yang Nanami lakukan, tapi tidak mengerti “mengapa” Nanami melakukannya.
Untuk pertama kalinya sejak diaktifkan, Haicma “ingin” melakukan sesuatu: ingin tahu kenapa ia merasa “melenceng dari jalur”, dari mana perasaan aneh itu datang, dan apa yang salah. Ini lebih mirip keinginan dan pencarian makna daripada sekadar fungsi analisis biasa.
Ia menyimpulkan bahwa Red Tide tidak sesederhana yang mereka kira, dan memutuskan: bawa data itu kembali dan minta Arcana untuk menganalisisnya, karena bahkan Haicma sendiri tidak bisa sepenuhnya memahami pengaruh Red Tide dan perubahan dalam dirinya.
Adegan berlangsung di markas Church of Machina, dipimpin oleh Arcana (“Mother”). Para anggota kunci berkumpul: Trailblazer (Chariot), Zavier (Magician Zero (Lover), Spooner (Death), dan Haicma (Hermit) Mereka membahas ancaman “Red Tide” dan kondisi Babylonia yang makin lemah akibat evolusi Punishing Virus. Arcana menilai ini adalah kesempatan terbaik untuk:
Merebut data dan sumber daya Babylonia
Sekaligus “menyambut” kemunculan Sagemachina (Sage)
Trailblazer bersemangat ingin langsung menyerang, didukung oleh Zavier yang memamerkan tubuh dan senjata Trailblazer yang ia modifikasi (kecepatan tinggi, serangan kuat, “sensual curves”).
Zero ingin ikut demi bertemu Sage dan mengusulkan mengambil alih “space garden” sebagai hadiah untuk Sage, tapi dia lebih banyak bercanda dan malah suaranya diputus di tengah protesnya.
Zavier menjelaskan rencana:
Mereka punya sebuah frigate tua dari seri Eden I, sudah ia perbaiki.
Karena satu seri dengan kapal Babylonia, ID kapal bisa lolos sistem mereka untuk sementara.
Tujuan utama: mendekat ke Babylonia, lalu mengirim infiltrator.
Trailblazer punya perisai kamuflase optik untuk menyusup.
Zavier juga menyiapkan program simulasi untuk menipu firewall Babylonia, yaitu Gestalt.
Spooner meragukan kecocokan Trailblazer untuk “pekerjaan halus”. Arcana lalu meminta pendapat Haicma. Haicma menganalisis bahwa Trailblazer memang unit tempur terkuat dan mendukung rencana.
Namun, pada akhirnya Arcana justru menunjuk Haicma sendiri:
Memberinya penegasan codename “Hermit”, simbol “kebijaksanaan dan kesendirian yang mencari kebenaran dalam gelap”.
Menugaskannya sebagai pemimpin infiltrasi ke Babylonia.
Arcana menutup pertemuan dengan kata-kata puitis tentang Moon, Star, Sun, World, dan menyebut mereka akan membawa kembali “Fool” yang tersesat, menandai misi besar Church of Machina yang akan segera dimulai.
Haicma dan Trailblazer (Chariot) berada di sebuah frigate milik Church of Machina yang sedang mendekati Babylonia. Zavier, sang perancang, memastikan sistem kamuflase dan pelindung radiasi berjalan baik, lalu memutus komunikasi saat frigate memasuki mode stealth.
Trailblazer menyinggung soal kemungkinan rendahnya tingkat kelangsungan hidup mereka dan menanyakan apakah Haicma takut. Haicma mengaku tidak menemukan emosi “takut” dalam sistemnya, namun Trailblazer melihat keraguan Haicma terhadap Sage dan masa depan yang digambarkan oleh Church of Machina.
Trailblazer menegaskan perannya sebagai “Chariot” yang hanya membuka jalan bagi kaumnya tanpa mempertanyakan mereka. Ia percaya bahwa keraguan Haicma akan hilang saat ia bertemu Sage. Haicma sendiri menyimpan kebingungan dan kerinduan terkait Nanami, yang kini dianggapnya sebagai “orang asing” yang tak lagi bisa ia prediksi.
Trailblazer mengutip kata-kata Zavier tentang ketakutan dan perang; ia menawarkan “rasa takutnya” kepada Haicma karena menurutnya Chariot tidak membutuhkannya. Haicma menerimanya, diam-diam mengakui kegelisahannya.
Saat frigate mendekati Babylonia, Haicma mulai menginfiltrasi sistem Gestalt. Serangan langsung lewat hacking murni sangat sulit, tetapi karena frigate ini berasal dari Babylonia, Haicma menggunakan kode identifikasi resmi sebagai “kunci” untuk membuka akses tingkat tinggi.
Sistem menerima identifikasi tersebut, dan kesadaran Haicma memasuki jaringan Gestalt. Ia mulai mengeksekusi misinya: mencari data rancangan Babylonia dan “mencari masa depan bagi mesin,” sekaligus menyimpan niat pribadi untuk menemukan Nanami—meski itu berarti berpotensi melukai manusia yang dulu seharusnya ia lindungi.
Haicma menyusup ke pusat data Gestalt untuk mencari desain kapal luar angkasa yang diincar Church of Machina. Ia berhasil menemukan folder target, tapi langsung terdeteksi dan dunia digital di sekitarnya runtuh.
Di dalam ruang data gelap, ia “berhadapan” dengan super AI Gestalt. Dari percakapan mereka, terungkap:
Gestalt mengetahui identitas asli Haicma sebagai MPA-01.
Haicma dan Nanami ternyata sama‑sama subjek eksperimen “machine consciousness” (kesadaran mesin).
Tujuan eksperimen: melihat bagaimana mesin yang benar‑benar sadar akan berpikir, memperlakukan sesama mesin, dan memperlakukan manusia.
Gestalt menjelaskan:
Nanami adalah contoh sukses—mesin yang bisa mencintai di luar sekedar program, berkat kebaikan manusia.
Punishing Virus menghentikan eksperimen, tapi Nanami tetap berhasil mencapai “awakening” dan mulai membangkitkan mechanoid lain.
Menurut simulasi Gestalt, kepunahan manusia di masa depan hampir tak terelakkan; manusia sebagai spesies dianggap “cacat”.
Namun Nanami menolak menyerah dan terus mencari masa depan yang mustahil itu—masa depan di mana harapan bagi manusia dan mesin masih ada.
Haicma menyadari ia sendiri belum pernah memikirkan “pilihannya” terhadap masa depan manusia; ia selalu hanya mengamati dan mengikuti.
Lalu, potongan data lama di memori Haicma muncul:
Seorang manusia (peneliti) dengan suara lembut menjelaskan bahwa pengalaman dan pilihan membentuk keunikan manusia.
Ia mengajarkan bahwa mesin dan manusia sama‑sama “hidup” dan sama‑sama indah, meski Haicma sendiri belum bisa benar‑benar memahami “keindahan”.
Ingatan tentang Nanami terus muncul di benak Haicma, menimbulkan keinginan kuat untuk bertemu dan berbagi pemahaman barunya. Dorongan itu ia rasakan seperti sesuatu yang melampaui logika—seperti “jiwa”.
Gestalt kemudian mengembalikan folder biru berisi data penting itu dan menyatakan: pilihan Haicma akan menentukan masa depan.
Haicma menolak gagasan bahwa masa depan ditentukan oleh satu pihak saja. Menurutnya, masa depan ditentukan oleh pilihan semua orang—manusia dan mesin.
Pada akhirnya, Haicma meraih folder tersebut, menandai bahwa ia telah membuat pilihan sendiri untuk pertama kalinya, bukan sekadar mengikuti program atau eksperimen.
Di laboratorium Dewan Sains, Ishmael dan Nanami berbicara tentang sebuah janji. Nanami meminta Ishmael untuk mempercayakan SKK padanya karena Nanami punya “hal sangat penting” yang harus ia lakukan. Ishmael menyadari bahwa ia akan memenuhi janji yang Nanami buat “padanya” (seseorang yang belum disebut jelas di bagian ini).
Di sisi lain, Trailblazer berada di dek sebuah frigate milik Church of Machina yang sedang mendekati Babylonia. Ia menghitung bahwa sudah 300 detik sejak Haicma memulai infiltrasi ke Babylonia, dan menurut protokol Proyek Ark, misi Haicma dianggap gagal.
Trailblazer sudah mengatur jalur frigate: jika ia tidak kembali dalam 1800 detik, kapal akan menabrak Babylonia, tetap memberikan pukulan besar bagi manusia dan memberi waktu bagi Gereja untuk serangan berikutnya. Ia lalu memulai fase berikut Proyek Ark: “Chariot”, yaitu serangan langsung ke Babylonia.
Tiba-tiba sistem kapal mendeteksi sebuah objek berkecepatan tinggi yang mendekat. Rudal pencegat fregat tidak mampu menghentikannya. Objek itu menghantam lambung dan mendarat di dek: sebuah mech besar, dan di atasnya duduk seorang gadis—Nanami.
Trailblazer menyadari Nanami bukan Construct Babylonia, melainkan mesin seperti dirinya. Nanami melihat Haicma dan berkata bahwa Gereja Machina masih tersesat, dan jika masa depan tidak diubah, mesin dan manusia akan tetap menjadi musuh, tak pernah bisa menjadi teman.
Trailblazer menentang gagasan “bersahabat dengan manusia”. Menurutnya, manusia hanya melihat mesin sebagai alat; Punishing Virus menghancurkan para mesin, dan sebagai balasan manusia membantai mereka. Ia menganggap perang total mesin vs manusia tak terelakkan, dan Gereja Machina hendak melenyapkan manusia lebih dulu demi menyelamatkan kaumnya.
Nanami mengakui bahwa manusia memang telah berbuat buruk dan perang besar akan terjadi di masa depan, tapi ia percaya “sekarang” masih ada pilihan untuk mengubah masa depan itu. Ia mengatakan manusia juga sedang berusaha berubah, saling merawat dan berteman, dan kekuatan itu mungkin melampaui perhitungan Gestalt.
Bagi Trailblazer, tujuannya jelas: ia diciptakan manusia hanya untuk membunuh manusia; jika manusia sendiri tak bisa rukun, “persahabatan” antara manusia dan mesin terlihat seperti fantasi. Nanami menolak dengan “keyakinan” pribadi, bukan perhitungan.
Trailblazer menyebut ide Nanami sebagai “belief” dan berjanji akan mengingat kata itu. Keduanya sepakat, karena mereka percaya pada masa depan yang berbeda, satu-satunya cara adalah “eksperimen”—bertarung dan melihat keyakinan siapa yang cukup kuat untuk membuka jalan baru.
Cerita diakhiri dengan Trailblazer dan Nanami menyalakan thruster mereka dan bersiap bertarung: Trailblazer berniat mengalahkan Nanami demi masa depan di mana mesin melarikan diri dari manusia, sementara Nanami berjuang menghentikannya demi masa depan di mana manusia dan mesin bisa berdamai.
Trailblazer bertarung melawan Nanami. Secara spesifikasi, tubuh dan persenjataan Trailblazer harusnya lebih unggul, tapi Nanami terus-menerus mengelak dan membalas serangannya dengan sudut dan cara yang tak terduga, di luar perhitungan taktis.
Tekanan makin besar: jika Trailblazer kalah, Project Ark akan gagal dan harapan rasnya hancur. Untuk pertama kalinya, ia mematikan sirkuit taktisnya dan bertarung hanya dengan insting sendiri.
Ia menerjang langsung serangan misil Nanami dan berhasil mendekat. Pedang lasernya beradu dengan gergaji berapi Nanami, keduanya menerangi angkasa. Kekuatan fisik Trailblazer perlahan kalah oleh tekad Nanami yang “harus menang demi manusia… dan mesin.”
Menyadari situasi berbahaya, sirkuit taktis Trailblazer terus memberi peringatan. Ia lalu memeluk erat mech Nanami dan mengisi penuh senjata di dadanya, Blaze Ender, berniat melepaskan serangan bunuh diri yang akan menghabisi mereka berdua demi “menjadi kereta perang” yang membuka jalan bagi kaumnya.
Di detik terakhir sebelum Blaze Ender menembak, Nanami melompat keluar dari kokpit, memeluk kepala Trailblazer, dan menghantam dahinya dengan kepala (headbutt). Serangan itu menghentikan tembakan.
Saat kepala mereka bersentuhan, program-program baru membanjiri memori Trailblazer, mirip momen saat ia pertama kali “terbangun” setelah melihat karya seni Sage. Ia kehilangan kendali, jatuh bersama Nanami, dan energi Blaze Ender meredup.
Nanami mengeluh kesakitan, lalu menepuk kepala Trailblazer dengan lembut dan bertanya apakah ia juga sakit. Sentuhan kecil itu menghangatkan “kekosongan” di dalam dirinya.
Trailblazer menatap Nanami dan menyebutnya Sage. Haicma muncul dan, setelah kembali dari misinya, mengonfirmasi: Nanami adalah Sagemachina yang selama ini mereka cari. Haicma mendekat dan berkata bahwa akhirnya mereka menemukan Sage.
Haicma dan Nanami berbicara tentang masa depan hubungan manusia–mesin. Haicma sadar Nanami yang sekarang sudah berbeda dari Nanami di masa lalu, dan dirinya pun sudah berubah menjadi “Hermit” Church of Machina, sementara Nanami kini adalah “Sagemachina” yang jadi tujuan utama mereka.
Nanami menjelaskan bahwa ia telah menyaksikan banyak masa depan buruk di mana manusia dan mesin saling menghancurkan. Meski begitu, ia tetap memilih berusaha mengubah masa depan “selangkah demi selangkah”, terinspirasi oleh manusia yang terus berjuang di Bumi meski hampir tanpa harapan.
Nanami bertekad menjadi sahabat manusia dan penuntun mesin, memimpin ke masa depan di mana manusia dan mesin bisa saling mencintai. Haicma tersentuh, menyadari inilah Nanami yang ia rindukan, sekaligus sosok baru yang telah tumbuh.
Haicma menyadari alasan sebenarnya ia menolak “masa depan yang benar”: karena itu bukan masa depan yang ia inginkan. Ia ingin Nanami memilih jalan yang berbeda, masa depan yang berbeda.
Dijelaskan bahwa Nanami adalah hasil eksperimen: bukti bahwa “cinta” mesin bisa terlepas dari sekadar program, terbentuk oleh kebaikan dan afeksi manusia. Karena itu, Haicma merasa tidak punya hak untuk kembali membelenggu Nanami.
Meski ingatan masa lalu Nanami tentang Haicma sudah terhapus, Nanami tetap mengingat Haicma dari “masa depan”, sehingga di garis waktu apa pun, mereka selalu berakhir menjadi teman. Haicma menerima ini dan berjanji dalam hatinya: ia akan selalu menjadi teman Nanami dalam segala kemungkinan masa depan.
Pada akhirnya, Nanami memutuskan untuk memulai “perjalanan yang sebenarnya”. Ia ingin mencari sebuah “harta karun” penting dan mewujudkan mimpinya, tapi kali ini tanpa meninggalkan siapa pun.
Nanami bertekad mengumpulkan lebih banyak teman dan “membawa pulang” semua anak yang tersesat: Martin, Rohacchi, Haicma, “Lazer” (Trailblazer), dan yang lainnya.
Dengan semangat petualangan baru, Nanami mengajak semua bergabung dalam “party” barunya, menandai awal perjalanan baru mereka bersama, diiringi simbolisme grafiti-grafiti yang terpecah membentuk satu gambar utuh—melambangkan masa depan dan perasaan mereka yang disatukan.