Kebangkitan dan Kehilangan Ingatan
Tokoh utama “terbangun” dari kegelapan setelah mengikuti titik cahaya.
Ia sadar di sebuah rumah tua yang reyot di pedesaan dekat pantai.
Ia tidak ingat siapa dirinya, dari mana asalnya, atau tujuannya.
Bertemu Cradle
Di halaman rumah, ada pemakaman kecil dan seorang gadis berkerudung sedang berdoa di depan nisan.
Gadis itu memperkenalkan diri sebagai Cradle.
Ia mengatakan dirinya diciptakan/dilahirkan untuk satu tugas: memandu orang yang bisa “menghentikan sound of the tide” dan mengakhiri “siklus abadi”.
Tokoh utama disebut sedang berada di “Jalur Penakluk Kutukan”(Path of the Curse Queller), dan ingatannya dihapus; dirinya yang hilang hanya akan kembali jika suara pasang berhenti.
Sound of the Tide dan Bencana
“Sound of the tide” adalah bencana yang berulang, seperti gelombang raksasa dari laut yang menghancurkan dunia secara periodik.
Tiba-tiba langit menggelap; yang tampak di cakrawala bukan awan badai, melainkan gelombang pasang raksasa yang menelan segalanya.
Cradle berkata mereka “kurang beruntung kali ini” namun akan ada “lain kali”.
Keduanya tersapu gelombang dan dunia berakhir.
Siklus Reset
Tokoh utama terbangun lagi di kamar yang sama, dengan kondisi yang sama persis.
Ia berlari ke luar dan kembali bertemu Cradle di pemakaman.
Cradle menjelaskan:
Setelah gelombang besar, semua di-reset ke awal.
Orang-orang lupa apa yang terjadi dan lupa bencana yang akan datang.
Waktu seolah terhenti di hari yang sama, tanpa “esok hari”.
Namun Cradle dan tokoh utama tidak lupa; karena itu, mereka punya peran untuk menghentikan sound of the tide.
Keadaan Dunia
Dunia ini pernah hancur sekali pada masa lampau.
Setelah “zaman mitos”, manusia membangun kembali peradaban di atas puing-puing perang kuno.
Pengetahuan kuno jadi misteri; manusia mulai dari nol dan mengulang sejarah.
Di tengah proses itu, sound of the tide muncul, berkali-kali menghancurkan dunia seakan ingin mengunci masa depan umat manusia.
Cradle sendiri tidak tahu asal-muasal sound of the tide maupun masa lalu tokoh utama; ia hanya menjalankan tugas yang diberikan padanya.
Tugas Tokoh Utama dan Perjalanan
Tugas tokoh utama: menghentikan sound of the tide dan mengakhiri siklus—sesuatu yang “tidak bisa ia elakkan”.
Cradle menyarankan untuk mencari tahu “bagaimana cara menghentikannya” dulu, baru “mengapa semua ini terjadi”.
Ia menawarkan diri untuk menemani menuju sebuah kota kecil di tepi pantai agar tokoh utama bisa memahami situasi dunia terlebih dahulu.
Meski tokoh utama merasa tidak punya pilihan, Cradle meminta maaf dan berjanji:
Apa pun akhir perjalanan nanti, ia akan menemani sampai detik terakhir.
Tokoh utama terbangun tanpa ingatan masa lalu, hanya ingat dirinya terdampar di pantai dan diselamatkan oleh para Scavenger.
Ia kemudian tinggal di sebuah kota kecil pesisir dan menjadi murid seorang mekanik tua. Setelah mahir memperbaiki hal-hal sederhana, hidupnya jadi tenang dan ia makin jarang memikirkan asal-usulnya.
Suatu hari, ia mendapat tugas lapangan dari bengkel untuk menangani pesanan warga di sebuah perkebunan besar yang baru dibeli keluarga kaya.
Di dekat halaman perkebunan itu ada pemakaman tua. Di sana ia melihat seorang gadis berkerudung sedang berdoa di depan nisan.
Ia menegur gadis itu karena jika keluarga kaya pemilik tanah melihatnya, ia pasti akan diusir. Gadis itu menjawab tenang bahwa tugasnya sudah selesai; ia hanya sedang mengucapkan selamat tinggal.
Gadis itu tiba-tiba bertanya apakah sang tokoh utama bahagia dengan kehidupannya sekarang. Jawabannya: ia cukup bahagia.
Gadis itu merasa lega mendengarnya, lalu berkata bahwa sudah waktunya ia pergi dan menutup dengan, “Sampai kita bertemu lagi.”
Saat gadis itu pergi menjauh, tokoh utama mendadak merasa seolah pernah mengenalnya, tapi tak bisa mengingat dengan jelas. Ia akhirnya menganggap perasaan itu cuma imajinasinya dan membiarkan semuanya berlalu.
Cerita dibuka dengan adegan tragis: seorang gadis ditusuk sampai tembus dada, tubuhnya tergeletak dingin di kaki tokoh utama, perlahan ditelan kegelapan.
Ada suara misterius yang berdialog dengan tokoh utama, mempertanyakan apakah “ini” sudah cukup, lalu menyatakan “ini sudah cukup”, tapi dunia tetap “bergejolak” dan tidak tenang.
Sound of the tide terus terdengar berulang-ulang, seakan-akan menelan tokoh utama lagi dan lagi, menandakan siklus yang belum berakhir atau semacam kutukan yang terus berulang.
Sosok tak dikenal menyadari bahwa akhir yang baru saja terjadi bukan akhir yang diharapkan; mereka bertanya-tanya di mana titik perbedaannya dan mengatakan perjalanan harus dimulai dari awal lagi.
Dijelaskan bahwa selama sound of the tide masih terdengar, sisa kehendak (wills) para tokoh belum menghilang, dan dunia tidak akan pernah menjadi utuh.
Sosok itu lalu memohon pada “Cradle” agar membuat “orang itu” menghentikan sound of the tide dan melepaskan perjuangan yang dianggap sia-sia, serta membuang “kemelekatan berlebihan” yang mengikatnya.
Mereka menolak adanya “tempat baru” dan “realitas yang menyedihkan” itu — seolah ingin mengurung orang itu dalam dunia ini agar tetap tinggal di sana.
Tokoh utama kemudian “terbangun” di atas ranjang tua, merasa semuanya familiar tapi kehilangan ingatan.
Seorang gadis berkerudung muncul, memperkenalkan diri sebagai Cradle.
Cradle berkata bahwa dia ada untuk membimbing tokoh utama dalam perjalanan menghentikan sound of the tide.
Tokoh utama terbangun di rumah sakit darurat di dalam area konservasi setelah selamat dari “Red Tide”.
Ia mengalami kebingungan dan kemungkinan amnesia; dokter mengatakan seharusnya Red Tide tidak menyebabkan itu, tapi ada kasus kepribadian orang berubah setelah diselamatkan.
Di tas selempang lusuhnya, ia menemukan naskah novel yang selama ini ia tulis: tentang dunia pasca-apocalypse, bencana bernama “sound of the tide”, dan perjalanan ke abyss.
Ingatannya tentang perjalanan di Red Tide sudah kabur, seperti mimpi yang terlupa. Ia bukan penulis profesional; menulis hanyalah hobi pribadi.
Tiba-tiba muncul suara misterius di dalam kepalanya yang mempertanyakan: apakah cukup kalau tulisannya hanya dibaca sendiri? Tidakkah ia ingin ada orang yang benar-benar memahami ceritanya—dan dirinya?
Setelah dokter keluar lagi, ia menatap naskah itu, lalu mulai menulis ulang: seorang protagonis amnesia yang bangun di kota asing dan ditakdirkan menghentikan bencana.
Saat menulis, ia merasakan gelombang inspirasi: seorang tokoh pendamping dibutuhkan—seorang teman dan pemandu yang mengerti sang Tokoh utama sepenuhnya.
Dalam imajinasinya muncul sosok gadis muda misterius yang selalu bersama Tokoh utama, memberi saran, menemaninya melawan “penjaga laut dalam”, hingga akhir perjalanan, dan berjanji akan selalu menunggu kepulangannya.
Nama gadis itu muncul begitu saja di benaknya: Cradle.
Tokoh utama “terbangun” di dunia baru: padang rumput yang diselimuti merah, tanaman asing, suasana tenang dengan suara burung dan aroma lembap. Ia merasakan keterhubungan yang sangat kuat dengan dunia ini, seolah-olah menjadi bagian penting darinya.
Di dalam hutan, ia bertemu seorang gadis bermata merah rubi bernama Cradle, yang duduk di bawah pohon tua sambil memegang bunga merah. Cradle lega karena sang tokoh utama masih mengingat namanya dan tidak perlu mengucapkan perpisahan lagi.
Cradle mengatakan bahwa pilihan sang tokoh utama telah membuat dunia menjadi seperti “seharusnya”. Ia tak menyangka sang tokoh bisa terhubung sampai ke “esensi” dunia, sehingga melampaui ekspektasinya.
Ia mengingatkan janjinya: apa pun akhir perjalanan sang tokoh, ia akan tetap menemani sampai “momen terakhir”. Bagi Cradle, ini adalah “akhir” perjalanan sang tokoh, tetapi tugasnya sendiri belum selesai.
Cradle menjelaskan bahwa bunga merah yang melambangkan “kelahiran kembali” (rebirth) belum mekar di seluruh dunia. Ia ingin menebarkan benih bunga itu ke mana pun ia dapat melihat.
Ia lalu menanyakan: apakah sang tokoh mau terus menemaninya sampai benar-benar “momen terakhir”? Jika pemain memilih “I will.”, Cradle tersenyum, mengatakan bahwa ia sudah menduganya, dan menyebut ini sebagai akhir yang dipilih sang tokoh—sebuah perjanjian/pact.
Di akhir, Cradle berdiri, menggenggam tangan sang tokoh, dan berkata bahwa mereka akan “melanjutkan perjalanan selamanya di dunia yang telah dibayangkan sang tokoh utama.”
Bagian “Cradle” (Gadis & Curse Queller)
Seorang gadis berada di dunia tandus penuh batu nisan setelah “Curse Queller” (manusia yang ia dampingi) mengambil keputusan terakhirnya dan menghilang.
Dunia yang diciptakan untuk manusia itu kehilangan tujuan, berada di ambang kehancuran.
Gadis itu bingung: mengapa manusia itu menyerah tepat sebelum “mendapat segalanya”? Ia mengulang pertanyaan itu, tapi tahu jawabannya tak akan pernah ia dapat.
Ia menyadari bahwa meski ia tidak mengerti manusia, perjalanannya tidak sia-sia.
Ia duduk, menunduk pada batu-batu nisan, dan mengucapkan terima kasih pada sang manusia/pemeran utama:
Atas waktu yang mereka habiskan bersama.
Atas semua keputusan yang mengejutkan sampai akhir.
Ia berjanji akan memanfaatkan semua yang ia pelajari dari manusia itu, demi “menenangkan gelombang” dan hasil yang lebih baik di masa depan.
Ia juga menyampaikan salam perpisahan terakhir atas nama dirinya dan “semua dirinya” (implikasi multiselves/entitas jamak), menyebut bahwa manusia itu dan semua yang terlibat telah menciptakan sebuah kisah yang menarik.
Angin berhembus, rambut gadis itu tertiup, dan “mimpi sesaat” ini pun menghilang.
Bagian “Lee, Liv, Lucia, dan SKK”
Di dunia nyata, tim Gray Raven (Lee, Liv, Lucia, dan SKK) selesai memeriksa area bekas Red Tide (daerah yang sebelumnya terinfeksi Punishing Virus).
Virus di area itu sudah turun di bawah batas bahaya, tidak ada Corrupted atau Hetero-Creatures. Aneh, karena Red Tide biasanya tidak mereda sendiri.
Lee menunjukkan sebuah ransel tua yang ditemukan di bangunan terbengkalai. Di dalamnya hanya ada:
Jurnal lusuh
Pulpen habis tinta
Perban jamuran
Liv memeriksa, tapi hampir pasti pemilik ransel (seorang Scavenger) sudah meninggal karena area ini dulu dipenuhi Red Tide pekat.
SKK membaca jurnal itu sampai akhir. Isinya ternyata adalah sebuah “cerita” yang ditulis oleh Scavenger tersebut.
SKK menyebut ceritanya sulit dijelaskan singkat; jika tim lain tertarik, ia akan minta WGAA membuat salinan. Mereka pun menandai misi selesai dan pergi sambil membawa ransel itu.
Narasi menutup dengan penegasan bahwa:
Cerita itu mungkin tidak spektakuler atau layak pujian.
Tapi setiap kisah yang ditulis dengan tulus akan menemukan “pembacanya” sendiri.
Penutup misterius
Ada suara samar di kejauhan, terputus-putus, seakan bertanya apakah “keinginan seseorang” akhirnya terwujud.
Suara ini tidak didengar siapa pun...