Sunken in Scarlet
Situasi setelah bencana Pulia Forest Park Ruins
Sudah lebih dari sebulan sejak insiden di Pulia Forest Park.
Menara CPF 040 hancur, sehingga udara tidak lagi dimurnikan dari Punishing Virus.
Ledakan yang membunuh Hetero-Hive Mother justru menyebarkan Punishing virus berkonsentrasi tinggi ke seluruh area, memicu bencana yang lebih besar.
Misi penyelamatan dan kondisi di darat
Transport craft terakhir untuk misi penyelamatan jatuh dan meledak, memicu serangan besar Hetero-Creature bersayap.
Lee mengevakuasi seorang Construct Soldier yang kakinya hancur, sambil terus menembak Hetero-Creature yang mengejar mereka.
Lucia menemukan kendaraan transport dan hendak menjemput mereka, sementara Liv tetap di area konservasi sebagai satu-satunya tenaga medis.
Prajurit itu mengeluh bahwa rencana bantuan permukaan dari Babylonia gagal lagi dan merasa mereka hanya akan jadi beban karena suplai medis terbatas.
Lee tetap berpegang pada prinsip Gray Raven: mereka tidak meninggalkan rekan, dan keputusan soal suplai dan prioritas pengobatan diserahkan pada evaluasi profesional di area konservasi.
Skala bencana global
Setelah kebakaran di hutan padam, Hetero-Creature dan Hetero-Sapien muncul di seluruh dunia dan membantai makhluk hidup di jalur mereka.
Warga Babylonia awalnya fully supported operasi penyelamatan ke permukaan (dipimpin Strike Hawk dan Cerberus), namun transport rescue terus ditembak jatuh oleh Hetero-Creature bersayap.
Langit jadi tidak aman, jalur evakuasi hancur, dan pasukan elit Babylonia yang terjebak di permukaan memilih tetap tinggal untuk melindungi area konservasi.
Red Tide dan mayat yang terus “kembali”
Noctis menunjukkan rekaman Red Tide yang membuat Hetero-Creature seperti “hidup kembali”.
Asimov menjelaskan bahwa meski Red Tide diuapkan, Punishing virus tetap di udara dan akan membentuk Red Tide baru dari jasad-jasad yang terinfeksi.
Mereka diminta menghancurkan Red Tide yang sudah terkonsentrasi, tapi tak perlu membuang waktu pada "cabang-cabang" kecil yang akan terus terbentuk.
Kamui mempertanyakan apakah mereka sedang “membersihkan Red Tide” atau “membersihkan para mayat”.
Teror si Kembar (Unidentified Twins)
Di tengah bencana global, kerusakan langsung akibat “the twins” sebenarnya relatif kecil dibanding gelombang Hetero-Creature, tapi mereka tetap jadi ancaman utama di jalur yang mereka lewati.
The Twins bergerak dari reruntuhan Pulia ke pantai barat, lalu menyusur ke utara, menghancurkan 37 area konservasi tanpa menyisakan korban selamat.
Garnisun kota mencoba memprediksi jalur mereka dan mundur duluan, tapi prediksi sering meleset.
Hanya satu area konservasi yang selamat karena bersembunyi sepenuhnya di bawah tanah dan tidak menarik perhatian mereka.
Evolusi dan “sikap” Hetero-Creature & the Twins
Hetero-Creature dan the Twins perlahan belajar, menggunakan alat, dan makin cerdas.
Mereka memperlakukan manusia seperti manusia memperlakukan tanaman: sebagai “sumber daya alam”.
The Twins mengumpulkan manusia yang tersesat dan mengembalikan mereka ke kerumunan—namun ini justru membuat manusia itu mati oleh infeksi Virus Punishing.
Mereka juga “menanam” konstruksi yang rusak ke dalam Red Tide dan menyuruh mereka “menjadi utuh kembali”, menunjukkan semacam rasa ingin tahu, tapi bukan empati.
Karena belum jelas apakah mereka benar-benar memiliki perasaan, manusia tak bisa mengandalkan komunikasi dan hanya bisa kabur sebelum terlambat.
Kondisi manusia yang tersisa
Rencana migrasi ke utara (Arctic Route Union) gagal karena Hetero-Creature dan the Twins juga bergerak ke arah itu, memaksa manusia mencari perlindungan ke tenggara.
Bangunan di permukaan tak lagi aman karena Punishing virus di udara; orang-orang terpaksa hidup di ruang bawah tanah area konservasi.
Pengumpulan sumber daya dan operasi penyelamatan dilakukan oleh konstruksi yang masih bisa bergerak di permukaan, tapi tetap dalam bahaya besar.
Transport craft yang awalnya dipakai untuk menyelamatkan orang, berulang kali justru hancur dan menjadi “bahan bakar” bencana.
Manusia dan construct yang tersisa berjuang untuk mempertahankan “sedikit cahaya” di tengah kegelapan tanpa akhir ini.
Rapat Dewan Babylonia & Keputusan Penyelamatan
Hassen memimpin rapat darurat di Babylonia untuk mengevaluasi operasi penyelamatan pengungsi di permukaan.
Data menunjukkan: korban pesawat dan awak terus naik, sementara jumlah pengungsi yang diselamatkan terus turun; tingkat keberhasilan misi penyelamatan turun hingga di bawah 3,12% selama 12 hari berturut‑turut.
Meski publik terbelah (57% ingin penyelamatan dihentikan, 43% ingin lanjut/menolong pasukan elit), Dewan memutuskan menghentikan sementara operasi penyelamatan ke permukaan dan memprioritaskan logistik Babylonia.
Namun, mereka berjanji akan mengubah taktik dan berusaha melakukan percobaan penyelamatan kedua bagi pasukan yang terjebak di Bumi.
Situasi Gray Raven & Kondisi SKK
Hassen memperlihatkan rekaman laporan misi dari Lucia dan Liv:
Gray Raven telah mengevakuasi 67 manusia dan SKK ke basement area konservasi di City 043, dengan persediaan hanya cukup 15 hari.
SKK mengalami cedera kepala berat, operasi darurat kraniotomi dilakukan dengan fasilitas terbatas.
SKK koma, terkena infeksi, berisiko sepsis, dan kondisi memburuk; peralatan dan obat minim.
Perjalanan pulang ke Babylonia dengan turbulensi bisa memperparah cedera, sehingga mereka meminta bantuan medis segera di lokasi.
Di Babylonia, beberapa komandan lain (Harley Jo, Yata, Simon) juga dalam kondisi parah; Simon masih koma. Banyak konstruksi, termasuk Egret, masih terjebak di permukaan.
Pertimbangan Politik & Proyek “Omega”
Nikola khawatir jika publik tahu betapa parahnya kondisi Gray Raven dan SKK, moral akan runtuh dan dukungan untuk menghentikan penyelamatan akan makin besar.
Hassen ingin jujur pada publik, berharap penerimaan kenyataan bisa membantu mereka menghadapi krisis ketimbang membiarkan rumor.
Hassen juga berencana memakai situasi Gray Raven sebagai “bargaining chip” untuk bernegosiasi dengan Kurono terkait “Omega File / Omega Weapon”:
Omega Prototype: senjata/prototipe yang bisa menyerap Punishing Virus, tapi efeknya terbatas dan tidak bisa secara aktif “memburu” virus, hanya menyerap lewat kontak.
Data riset sebagian dicuri dari Kurono, berbasis data Ascendant, dan akan digunakan bersama kerangka khusus untuk konstruksi.
Hassen ingin menggunakan tekanan situasi saat ini untuk memaksa kerja sama atau kesepakatan dengan Kurono tentang proyek Omega.
Latar Global: Punishing, Red Tide, dan “Mother”
Diceritakan kembali latar bencana:
“Red Tide” dan Hetero‑Creatures dulu dianggap hanya manifestasi evolusi Punishing, bukan sumber masalah.
Longinus Arsenal telah digunakan untuk menghancurkan Red Tide dan monster‑monsternya, tetapi Punishing Virus di udara tidak hilang, hanya “berpindah bentuk” seperti siklus air.
Virus di udara diserap oleh entitas yang disebut “Mother”, yang diam‑diam menyiapkan bencana baru.
Penghancuran CPF 040 dan Pulia Forest Park justru melepaskan Punishing dalam jumlah besar, memperparah keadaan dunia.
Munculnya makhluk humanoid hanyalah tanda evolusi lanjutan Punishing Creatures, bukan ancaman puncak. Red Tide terus menebar “benih” kehancuran di seluruh daratan.
Kondisi Basement Area Konservasi & Para Pengungsi
Sementara itu, di basement area konservasi (City 043), beberapa hari telah berlalu tanpa bantuan baru:
Persediaan makanan dan obat menipis.
Keluar dari basement berarti hampir pasti mati karena konsentrasi Punishing dan serangan Corrupted/Hetero‑Creatures.
Dua pengungsi berdebat keras soal:
Keterlambatan bantuan.
Penyesalan karena tidak naik transport craft Babylonia sebelumnya.
Rasa putus asa: menurut mereka, tinggal = mati, mencoba kabur = juga mati.
Seorang pemuda bernama Chuck mencoba mengatasi stres dengan memainkan gitar dan bernyanyi, tapi justru memicu kemarahan rekannya yang tegang.
Liv terus merawat para korban luka dan pengungsi tanpa istirahat, sambil menenangkan mereka, mengatakan konstruksi tidak butuh tidur, namun menyuruh mereka banyak beristirahat.
Suasana umum: frustrasi, kelelahan mental, dan putus asa, sementara Gray Raven tetap menjaga dan menunggu bantuan yang belum pasti datang.
Setting: Basement sempit di area konservasi yang menampung 164 pengungsi, 10 Construct, dan 2 komandan. Persediaan hampir habis, banyak yang sakit dan kelaparan, suasana penuh putus asa.
Lee kembali dari misi penyelamatan di pantai barat bersama dua remaja laki-laki dan seekor anjing border collie bernama Matches. Hampir semua area konservasi di pantai barat telah hancur oleh the Twins (Lucem & tenebris) dan Hetero-Creature; hanya sedikit penyintas yang tersisa.
Salah satu anak (Boy A, kemudian diketahui bernama Stanley) kakinya tercorrupted dan butuh serum. Boy B tampak sehat dan pandai berbicara, ia bercanda soal Stanley yang mengajari anjingnya mengemudi untuk mencairkan suasana dan mengurangi kecemburuan pengungsi terhadap jatah makanan.
Namun, Boy B juga menuduh Matches telah memakan banyak kaleng makanan di gudang di area konservasi mereka sebelumnya—bahkan persediaan yang diperoleh temannya dengan mengorbankan nyawa. Ketika gudang diselamatkan, yang ditemukan hanya dua mayat dan kaleng-kaleng kosong, sehingga muncul kecurigaan bahwa anjing itulah penyebab hilangnya suplai.
Para pengungsi yang lapar mulai marah. Mereka mempertanyakan hak Stanley untuk membawa seekor anjing yang juga harus makan, sementara mereka sendiri kekurangan makanan. Tekanan massa mengarah ke usulan ekstrem: mengusir Stanley, atau bahkan memakan anjingnya.
Liv berusaha melindungi Stanley dan Matches. Seorang pengungsi bernama Quina menganut “hukum rimba” dan ingin mengorbankan anjing demi bertahan hidup, bahkan meninju Liv yang sedang terluka. Pemimpin pengungsi menghentikan Quina, mengingatkan bahwa para Construct—terutama Liv yang pincang—telah menyelamatkan dan merawat mereka.
Liv dan pemimpin pengungsi mencari jalan tengah. Stanley berjanji hanya akan berbagi jatah pribadinya dengan Matches dan tidak akan mencuri. Pemimpin menerima usulan ini, dan massa akhirnya diam, meski enggan.
Di ruangan terpisah, Liv merawat luka corrupted Stanley. Ia memberikan ransum militer rusak segel (yang tadinya untuk sang SKK) kepada Matches karena makanan itu hampir kedaluwarsa, dan tampaknya sang SKK untuk sementara tidak membutuhkannya.
Stanley mengakui bahwa ia pernah mempertimbangkan untuk melepaskan Matches ke alam liar, karena hewan hanya menjadi carrier virus tapi tidak terkorupsi. Namun ia khawatir Matches—yang terbiasa dengan manusia—akan kembali dianiaya atau diserang orang lain. Ia mengaku egois, tetapi berkata bahwa jika persediaan benar-benar habis, ia lebih rela meninggalkan dirinya sendiri daripada meninggalkan atau mengorbankan Matches, yang ia anggap sebagai satu-satunya alasan untuk terus hidup.
Liv menegaskan bahwa karena ia ingin mempertahankan Matches, maka ia harus tetap hidup dan berhenti meremehkan nyawanya sendiri. Mereka saling berterima kasih; setelah dirawat dan disuntik serum, Stanley tertidur memeluk Matches.
Dewan Babylonia mengadakan rapat darurat setelah bencana di Pulia Forest Park. Situasi di Bumi memburuk: konsentrasi Punishing meningkat, Hetero-Creatures berevolusi, menyerang dalam kelompok, punya keunggulan udara, dan “si kembar” terus maju tanpa bisa dihentikan.
CPF hancur, greenhouse runtuh, darah para korban berubah jadi Red Tide yang melahirkan musuh baru. Semua pengorbanan di permukaan terasa sia-sia jika tak ada solusi besar.
Hassen mengusulkan memusatkan seluruh sumber daya Babylonia pada riset “Omega Prototype” yang bisa menyerap Punishing Virus, berdasarkan data Omega File yang didapat dari Atlantis. Namun, saat ini prototipe itu belum cukup untuk mengubah kondisi keseluruhan.
Nikola menyatakan solusi utama butuh bantuan “Project Winter”. Hal ini memicu kegelisahan karena:
Frame spesialis terbaru “Project Winter” berfungsi mirip frame Ascendant: mengumpulkan Punishing Virus di frame dan M.I.N.D. pengguna.
Pengguna bukan Ascendant, jadi tidak bisa menahan korupsi. Dalam uji coba, siapa pun yang memakainya tak bisa bertahan lebih dari 20 menit di permukaan sebelum terkikis Punishing, dan M.I.N.D. mereka rusak parah.
Nikola dan Asimov mengusulkan:
Gunakan Omega Prototype untuk mengurangi korupsi Punishing pada frame.
Masalah kestabilan M.I.N.D. diserahkan pada CTO (Asimov) dan teknologi Mind Beacon.
Data kasus: saat pertarungan melawan Alpha dan Huaxu, Huaxu memaksa SKK terhubung dengan Corrupted. Biasanya hal ini sangat berbahaya, tapi gejala pada SKK lebih ringan dari standar. Gray Raven (Lucia, Liv, Lee, Chrome) tetap bisa mempertahankan link dengan SKK, menunjukkan kestabilan M.I.N.D. yang tinggi.
Karena frame spesialis baru sangat tidak stabil, Constructs yang sudah pernah terdampak frame spesialis terlalu berisiko. Tersisa kandidat yang dianggap layak: Lee dan Liv.
Masalahnya:
SKK menolak terlibat langsung dalam “Project Winter”.
SKK saat ini koma, sementara Gray Raven masih beroperasi di surface.
Transport menuju surface sangat berbahaya karena musuh udara.
Hassen mengajukan solusi:
Ada markas bawah tanah Kurono di City 047 dengan banyak sumber daya, transport craft, dan bahkan sebuah spaceship.
Jika disetujui, Babylonia bisa memanfaatkan fasilitas itu untuk menjemput SKK dan dua Construct Gray Raven lainnya.
Perdebatan di Dewan:
Ada yang menganggap fokus ke satu proyek terlalu berisiko.
Ada yang khawatir etika: eksperimen ini praktis mengirim subjek ke pertempuran dengan peluang hidup yang kecil—simulasi memperkirakan subjek akan mati dalam 3 jam tanpa kestabilan M.I.N.D. yang memadai.
Namun, bagi beberapa ilmuwan, angka 3 jam ini justru sebuah kemajuan besar dibanding uji coba sebelumnya yang gagal total, bahkan sebagai “bom manusia” pun tak bertahan 1 menit.
Hilda menegaskan:
Gray Raven dan SKK adalah pahlawan, bukan kelinci percobaan.
Control Court akan mengawasi kerja sama dan memastikan SKK hanya ikut penelitian yang berkaitan dengan link ke frame spesialis.
Eksperimen hanya akan dilakukan jika SKK menunjukkan tanda-tanda membaik dari koma.
Asimov dan Nikola:
Mengakui rencana integrasi Omega Prototype dengan frame spesialis masih top-secret dan butuh lebih banyak data agen serta uji coba.
Menyatakan tak bisa menjamin hasil, tapi menekankan bahwa tanpa kerja sama lintas departemen, tak ada harapan untuk membalikkan keadaan.
Akhirnya:
Hassen menegaskan bahwa dalam situasi kritis ini, satu-satunya pilihan adalah kerja sama.
“Project Winter” + Omega Prototype diposisikan sebagai permulaan sebuah harapan, meski baru langkah pertama dan sarat risiko serta pengorbanan.
Situasi pengungsian & kondisi Liv
Hujan terus-menerus, para pengungsi putus asa, banyak yang sakit dan kelaparan.
Liv kelelahan, kakinya patah saat misi, tapi hanya displ int karena ia ingin menyisakan persediaan medis untuk para pengungsi.
Kedatangan Shrek, Fantine, dan anak yang terluka
Seorang pria (Shrek) dan wanita hamil (Fantine) datang membawa seorang anak laki-laki yang punggungnya tertusuk Hetero-Creature.
Stanley menyerahkan ranjang lipatnya untuk si anak, Liv menangani lukanya tanpa anestesi karena keterbatasan.
Konflik soal “hak” untuk punya anak
Stanley marah pada Fantine: jika tak mampu membesarkan anak, kenapa hamil? Ia menuduh orang-orang memakai status “punya anak/hamil” demi dapat bantuan di area konservasi.
Ia menceritakan masa lalunya: orang tuanya memanfaatkannya untuk jatah bantuan, lalu “memberikannya” pada orang lain demi makanan, dan akhirnya membuangnya saat ia tak lagi berguna.
Fantine dan para pengungsi berdiskusi: ada yang menyalahkan orang tua seperti itu, ada yang bilang tanpa mereka tak akan ada anak yang tersisa di dunia sekejam ini.
Kebenaran tentang anak itu & pandangan Fantine
Fantine dan Shrek ternyata bukan orang tua kandung si anak; suami Fantine dan Shrek adalah pedagang, dan anak itu yatim piatu karena kecelakaan dua tahun lalu.
Fantine mengakui dunia ini tidak bisa menjamin orang tua dan anak tetap hidup bersama, tapi ia menyadari betapa berat nasib anak yang ditinggal sejak kecil.
Ia berjanji akan mempertimbangkan serius keputusan soal kandungannya.
Pandangan Liv & harapan di tengah kesulitan
Liv menengahi: kelahiran hidup baru seharusnya hal yang membahagiakan, tapi memang tak boleh jadi beban yang tak sanggup ditanggung.
Ia mencontohkan hubungan Stanley dengan anjingnya, Matches: merawat Matches membuat hidup Stanley lebih sulit, tapi juga memberinya makna dan motivasi.
Diskusi bergeser pada pentingnya melindungi kehidupan—baik anak maupun hewan—karena tanpa kehidupan, apa arti semua persediaan?
Kabar buruk dari luar & identitas Shrek
Fantine membawa kabar: konservasi di City 045 sudah penuh, CPF di City 044 diserang Hetero-Creatures dan sedang dievakuasi—di sanalah Lucia dan Lee berada.
Shrek datang dari pihak Forsaken dan sedang mencari serum untuk ditukar dengan suplai; dia mengatakan semua tempat yang ia lewati kekurangan makanan dan serum dan bahkan mencoba merampoknya.
Ia menawarkan barter: suplai dengan serum. Liv hanya bisa memberikan tiga vial karena stok menipis.
Liv menyadari pria itu adalah Shrek yang namanya pernah ia lihat dalam pesan di buku dan di reruntuhan (“Earth has been stricken… Live for tomorrow, because all will pass.”), tapi ia memilih diam dan tidak mengungkit masa lalunya.
Penutup
Shrek beristirahat di area pengungsian.
Liv menatap semua orang yang berkumpul tanpa tahu apa yang akan terjadi esok hari dan merindukan kehadiran sang SKK di sisinya.
Kondisi Umum & Putus Asa
Malam di area konservasi Kota 043; persediaan makanan & obat hampir habis.
Komandan Gray Raven masih koma, banyak pengungsi kritis, dan Liv terus berjuang merawat mereka meski peluang hidup sangat tipis.
Liv menyesali kematian-kematian yang tak bisa ia cegah (seperti anak 13 tahun, Pulana) dan merasa tidak berdaya, namun tetap menulis di buku hariannya untuk mencari cara agar bisa menolong lebih baik.
Lindsey & Pelajaran Tentang Duka
Lindsey diselamatkan tapi luka parah; Liv tahu secara medis hampir mustahil menyelamatkannya, namun tetap berusaha karena melihat keinginan Lindsey untuk hidup dan mengatakan sesuatu pada pasangannya, Jin.
Seorang profesor dari masa lalu pernah menasihati Liv: jangan memaksa orang untuk “kuat” atau tidak bersedih; izinkan kesedihan itu, dan gunakan penyesalan sebagai motivasi untuk menyelamatkan orang lain.
Akane Menangis & Lagu Penghiburan
Chuck memanggil Liv karena mendengar Akane menangis. Liv memeluknya dan menyanyikan sebuah lagu lama yang biasa dinyanyikan di rumah sakit lapangan untuk mengenang teman-teman yang gugur.
Chuck dan beberapa musisi pengungsi ikut bermain musik dan bernyanyi. Nyanyian itu menyebar, membuat banyak pengungsi ikut berkumpul dan untuk sesaat melupakan keputusasaan.
Laporan Lucia & Ancaman di Luar
Lucia dan Lee kembali dari misi:
Mereka tidak menemukan obat yang Liv butuhkan.
Kota konservasi lain (044, 045) dalam kondisi lebih buruk, bahkan diserang Hetero-Creature yang sudah belajar menyerang secara berkelompok.
Mereka menyadari tempat aman makin sedikit, jumlah orang di 043 banyak, dan jika misi penyelamatan Babylonia terus gagal, mereka mungkin harus mengevakuasi semua orang—sesuatu yang hampir mustahil.
Meski begitu, Liv menenangkan Lucia: mereka tidak bisa menyelamatkan semua orang, tapi harus tetap melakukan yang terbaik.
Penemuan Padi & Porridge Harapan
Lucia membawa satu karung padi yang ia temukan di reruntuhan; ini cukup untuk dimasak menjadi bubur bagi semua pengungsi.
Semua orang bergembira, mengupas padi bersama, menyiapkan air hujan yang dimurnikan, lalu memasak bubur di kompor portabel.
Seorang kakek bernama Cali, yang selama ini menolak makan karena sakit parah (kanker), hanya meminta untuk menyimpan sedikit padi, bukan memakannya. Ia dan istrinya memandang bubur itu seperti simbol harapan kecil.
Kematian Lindsey & “Menyanyi Bukannya Menangis”
Di tengah suasana gembira menunggu bubur matang, Jin datang dengan air mata: Lindsey baru saja meninggal, seperti yang Liv perkirakan sebelumnya.
Kegembiraan semua orang seketika terhenti; mereka kembali dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa tidak semua bisa diselamatkan.
Mengingat nasihat profesornya, Liv memilih tidak memaksa semua orang untuk “tabah” memakai kata-kata kosong; bersama Chuck dan para musisi, ia mengajak semua orang menyanyikan lagi lagu tentang “danau kehidupan” dan perpisahan.
Nyanyian ini bukan memberi harapan palsu, tapi tempat untuk meluapkan duka secara jujur—“kita bernyanyi, bukan menangis”—agar perasaan sesak tidak dipendam sendiri.
Kisah Masa Lalu Sang Nenek & Arti Menyisakan Benih
Istri Cali menceritakan masa-masa kelaparan di era pasca- zero-point reactor:
Mesin pertanian mati, makanan langka, orang-orang sampai makan burung, tikus, dan serangga.
Muncul aturan tak tertulis: selalu tinggalkan benih, anak hewan, akar tanaman, dan hewan bunting agar masih ada yang bisa tumbuh lagi. Ini yang menyelamatkan mereka dari kelaparan total.
Ia mengaku masa lalu kelam: kelompoknya pernah mencuri makanan dari seorang pria yang mereka panggil “Cheese”, tidak menyisakan benih, sehingga istri pria itu kehilangan bayinya. Ia menyesali hal itu hingga kini.
Sejak saat itu, ia dan orang-orang tua yang selamat selalu menjaga kebiasaan menyisakan “benih” untuk masa depan—kebiasaan yang menjelaskan kenapa Cali ingin menyimpan padi, bukan memakannya.
Bubur Dibagikan & Keheningan Sebelum Lanjut
Bubur akhirnya matang. Para construct dan Liv membagi bubur secara teratur pada semua orang yang bisa bangun; Jin membawa bubur ke sisi jenazah Lindsey, Cali akhirnya memakan sedikit bubur atas bujukan istrinya.
Suasana hangat: makanan panas dan lagu melunakkan rasa putus asa, walau masalah besar belum terselesaikan.
Di tengah keramaian makan itu, Lucia memanggil Liv secara pelan dan mengajaknya pergi ke tempat lain, menandai bahwa sesuatu yang penting akan dibicarakan di bagian berikutnya.
Babylonia Memutus Bantuan & Ancaman Baru
Vanessa mengungkap bahwa Babylonia telah menunda/menyetop operasi bantuan ke area mereka, meski akses GPS masih terbuka.
Dari data GPS, “Unidentified Twins” telah memasuki City 042, sementara mereka masih di City 043.
Liv mendeteksi gerombolan besar Hetero-Creatures dari utara, ETA 8 jam. Jumlahnya kemungkinan jauh lebih banyak dari yang bisa terdeteksi.
Rencana Evakuasi Tiga Arah
Lucia, Liv, dan Lee menyusun rencana:
Kelompok 1 (sehat): Jalan kaki dengan gear pelindung ke City 044 (CPF rusak, Punishing tinggi, tapi rute relatif aman).
Kelompok 2 (sebagian luka): Dibawa ke City 045, ke gudang yang punya alat filtrasi kecil.
Kelompok 3 (luka berat + SKK + Vanessa + Bambinata): Dibawa ke City 046, yang dikuasai Scavenger bersenjata, tapi tak banyak yang bisa mereka lakukan terhadap Constructs.
Masalah utama: konsentrasi Punishing, kurangnya makanan & energi, ancaman Hetero-Creatures, serta keterbatasan gear pelindung dan kendaraan.
Pandangan Vanessa: Harus Terima Pengorbanan
Vanessa menegaskan bahwa mustahil menyelamatkan semua orang dalam kondisi dan waktu yang sempit.
Ia menyarankan agar siap meninggalkan yang tak mampu mengikuti evakuasi bila situasi memaksa.
Hal ini menimbulkan ketegangan moral dengan Gray Raven, terutama karena gaya pikir Vanessa yang sangat “rasional” dan dingin.
Keributan dengan Para Pengungsi Soal Kendaraan
Saat Gray Raven keluar, para pengungsi sudah berkemas. Mereka berniat ke markas Forsaken dan hendak “meminjam” 3 kendaraan.
Pemimpin pengungsi mendengar diam‑diam pembicaraan Babylonia menghentikan bantuan, lalu memutuskan untuk pergi sendiri.
Liv mengungkap ancaman Hetero-Creatures dan Twins supaya mereka mengerti bahaya dan tidak kabur sembarangan.
Setelah debat:
Pengungsi setuju dua kendaraan disisakan untuk mengangkut luka berat.
Mereka mengambil satu kendaraan kecil untuk bawaan dan tempat istirahat.
Semua sepakat para pengungsi sehat diarahkan ke City 044.
Ketidakpercayaan pada Vanessa & Syarat Pengungsi
Pemimpin pengungsi menuduh Vanessa hanya peduli “nilai” manusia dan akan mengorbankan yang lemah demi kepentingan sendiri.
Ia menuntut:
Pengungsi + luka berat pergi dulu dengan dua kendaraan.
Vanessa dan para Construct tinggal di belakang menahan serangan sampai semua terlindungi.
Setelah rombongan aman dan kembali menjemput, barulah Vanessa dan SKK boleh pergi.
Vanessa akhirnya menyetujui, meski jelas tidak senang, dan menugaskan Sandra (Construct) menjadi sopir untuk mengantisipasi bahaya di jalan.
Pengaturan Teknis Evakuasi Luka Berat
Liv menyusun daftar luka berat dan menata penggunaan dua kendaraan:
Kendaraan 1: diisi 4 tandu (8 kritis plus beberapa kasus khusus), sangat padat tapi masih aman.
Kendaraan 2: bisa menampung 17 orang luka dengan pengaturan duduk/berbaring sangat rapat.
Total ada 62 orang luka; dalam satu perjalanan hanya 21 yang bisa dibawa. Artinya minimal perlu 3 trip, termasuk untuk komandan dan beberapa kritis lain.
Pengorbanan & Keputusan Pribadi Beberapa Karakter
Fantine, yang sedang hamil, menyerahkan jatahnya di kendaraan supaya anak laki-laki yang ia bawa (luka di punggung) bisa pergi dulu. Ia memilih tinggal dan membantu merawat yang tertinggal.
Shrek menawarkan diri duduk di atap kendaraan agar tak mengambil ruang di dalam, sambil berinisiatif:
Mengurus bantuan dokter dari Forsaken di City 045.
Menjaga para luka berat setelah tiba, karena Liv harus kembali.
Cali, kakek yang sakit kanker, menolak ikut evakuasi.
Keberangkatan Trip Pertama
Setelah penataan tandu dan duduk sempit selesai, kendaraan pertama berangkat:
Lucia: fokus mengamankan rute dari Hetero-Creatures.
Liv: menangani para luka berat di dalam.
Lee & Sandra: mengemudi.
Kendaraan kelebihan muatan; alarm berbunyi, lalu Lee mematikan sirene secara manual dan mereka berangkat dalam ketegangan waktu dan ancaman serangan.
Rombongan tiba di Kota 045 setelah menempuh perjalanan berat melewati jalan dan bangunan runtuh yang diserang Corrupted dan Hetero-Creatures.
Shrek baru saja selesai menghubungi pihak Forsaken menggunakan terminal Lee untuk meminta dokter dan kemungkinan penampungan pengungsi. Lee menegurnya karena membuat janji tanpa persiapan, tapi Shrek menjawab bahwa manusia harus saling mengandalkan.
Liv memeriksa kondisi semua orang: mengecek tanda vital dan mengganti perban luka yang terbuka selama perjalanan. Ia mengembalikan buku Shrek yang sudah penuh catatan medis; Shrek tidak keberatan karena merasa sudah mendapat manfaat dari buku itu.
Liv meminta maaf pada Akane karena tak bisa membuat boneka kelinci yang sama persis seperti sebelumnya, dan hanya sempat membuat boneka kecil selama perjalanan. Akane tetap senang, dan Liv berjanji akan membuat boneka yang sama jika bisa kembali ke area konservasi di Kota 043.
Lucia menyadari kondisi kaki Liv yang terluka dan vital fluid yang bocor. Liv berusaha meremehkan kondisinya, tapi Lucia menegaskan akan menggendongnya jika diperlukan.
Shrek menyampaikan bahwa dokter Forsaken baru akan tiba sekitar satu hari lagi. Karena itu, ia yang akan merawat para korban sementara.
Liv memutuskan untuk kembali lagi guna menjemput dan mengawal para korban luka lainnya, sementara Shrek menjaga yang sudah ada di gudang Kota 045.
Vanessa di ruang bawah tanah bersama SKK
Sudah lima jam sejak Liv dan yang lain berangkat mengevakuasi pengungsi, tapi evakuasi belum tuntas karena laju massa terlalu lambat.
Serbuan Hetero-Creatures diperkirakan tiba dalam tiga jam. Di basement hanya tersisa puluhan orang, sementara semua Construct bertempur di permukaan.
Vanessa memantau pergerakan musuh, mengirim intel ke Babylonia, dan menyusun ulang rencana taktis serta rute evakuasi Gray Raven.
Ia lalu duduk di samping ranjang sang Chief (SKK), yang koma, tubuh lemah dan kurus karena sakit.
Vanessa mengejek dan meremehkan Chief: menyebutnya naif, lemah, dan tak layak dijadikan panutan.
Ia bahkan meletakkan tangan di leher Chief, seolah bisa membunuhnya kapan saja, namun tak melakukannya, merasa “tidak ada gunanya”.
Sambil menatap layar dan bercermin, Vanessa mengungkap pandangannya yang sinis:
Medan perang kejam, tidak semua orang bisa diselamatkan, bahkan Chief sekalipun.
Reputasi, hak, dan “ikatan” hanyalah debu ketika orang mati; orang yang diselamatkan pun pada akhirnya akan lupa.
Di akhir, ia memutuskan naik ke permukaan bersama empat Construct untuk bersiap melawan Hetero-Creatures, meninggalkan Chief dan para korban luka di basement.
Situasi di basement setelah Vanessa pergi
Waktu kini 04:30, satu setengah jam sebelum Hetero-Creatures masuk area konservasi.
Di basement tersisa: SKK yang koma, 41 tentara dengan luka ringan, 4 pasien kritis (Nagayuki, Kanata, Lindsey, Cali), dan satu pengungsi tambahan: seorang anak laki-laki.
Anak laki-laki dan Stanley
Anak laki-laki seharusnya sudah ikut rombongan evakuasi pertama, tapi ia diam‑diam turun ke gudang di lantai 3 bawah tanah, terpeleset di tangga, pingsan, dan ketinggalan rombongan.
Ia ditemukan oleh anjing Stanley, Matches. Anak itu kesal dan menuduh Matches pernah memakan seluruh kaleng makanannya—kaleng yang didapatkan kakaknya dengan mempertaruhkan nyawa.
Ia marah karena:
Makanan itu sangat berharga dan punya nilai emosional (pemberian temannya yang sudah meninggal).
Merasa konservasi “tidak aman” dan sistem yang katanya “kita semua satu perahu” justru merampas kalengnya dan mengizinkan orang seperti Stanley masuk.
Sambil menangis, ia mengaku ingin memakai kaleng-kaleng itu untuk mencari kakaknya yang ia sebut sebagai “kakak terbaik di dunia”.
Jurnal sang kakak dan pesan tersembunyi
Anak itu menunjukkan buku catatan lusuh milik kakaknya:
Penuh gambar keinginan masa kecil mereka (ayam panggang, rumah, pakaian baru, bola, taman, sosok ibu yang baik).
Di samping tiap gambar tertulis kalimat yang sama, yang ia yakini sebagai “mantra” agar ibu di surga mengabulkan keinginan mereka.
Ia bertanya apakah Stanley bisa membaca; Stanley mengiyakan sebagian.
Saat Stanley melihat tulisan itu, ternyata isinya adalah: “Maaf sudah membawamu ke dunia ini” (“Sorry I brought you into this world”), bukan doa atau mantra.
Stanley nyaris menjelaskan, tapi urung dan berbohong bahwa ia hanya “melamun”, agar anak itu tidak tahu makna sebenarnya yang kelam dan menyakitkan.
Perubahan sikap anak, tapi tanpa permintaan maaf
Anak itu berkata ia menunjukkan jurnal karena Stanley telah menyelamatkannya.
Ia masih mencoba menjaga gengsi, menutupi muka dengan selimut dan tetap menyalahkan Matches dengan mulutnya, tetapi:
Ia mengakui dalam hati sudah mengamati Stanley beberapa hari dan mulai menyadari kebenaran (bahwa ia mungkin salah menuduh).
Meski demikian, ia tidak sanggup minta maaf secara langsung, hanya menyuruh Stanley “tidur” dan berhenti bicara.
Kematian Lindsey
Ketika suasana mulai tenang, tiba-tiba terdengar jeritan memilukan dari ujung basement:
Seseorang berteriak, memanggil dan meratapi Lindsey yang baru saja meninggal.
Lindsey, salah satu pasien kritis, akhirnya menghembuskan napas terakhir di tengah situasi genting dan tanpa jaminan keselamatan.
Adegan menutup dengan pertanyaan: “Berapa lama lagi… sampai fajar datang?”, menekankan keputusasaan dan ketidakpastian apakah mereka bisa bertahan sampai “pagi” (keselamatan).
Kematian Lindsey & Perasaan Jin
Gray Raven kembali ke tempat pengungsian dan mendapati Lindsey sudah meninggal.
Jin hancur hati, tidak mengerti kenapa Lindsey mengorbankan diri untuk menyelamatkannya.
Liv menjelaskan: Lindsey menyebut dirinya “penakut” karena ia sangat takut Jin yang mati, jadi ia memilih menghadapi kematian sendirian demi menyelamatkan Jin.
Jin berjanji akan terus hidup sesuai keinginan Lindsey.
Kekacauan Evakuasi & Keterbatasan Tempat
Saat evakuasi, para pengungsi panik, saling dorong, berebut naik kendaraan yang sudah kelebihan muatan.
Beberapa orang terlantar: seorang bocah lelaki, Stanley dan anjingnya Matches, juga beberapa lansia dan luka berat.
Liv berjanji akan kembali menjemput mereka jika bisa.
Stanley menyerahkan tempatnya untuk bocah lelaki itu; seorang nenek tua juga turun agar Jin bisa pergi dan sekaligus menitipkan sekantong benih padi pada Jin, menyuruhnya menanam dan meneruskan tradisi jika mereka menemukan tempat aman.
Masalah Kecepatan & Keputusan Keras Vanessa
Kendaraan terlalu berat, hanya bisa melaju ~37 km/jam, tak mungkin kabur dari gerombolan Hetero-Creatures.
Vanessa menghentikan kendaraan dan menyatakan: tiap kendaraan harus dikurangi jadi 15 orang, kalau tidak, semua akan mati.
Gray Raven menolak meninggalkan lebih banyak orang, dan berniat bertahan serta mengalihkan kawanan musuh.
Perdebatan Nilai Kehidupan
Vanessa mengejek “kenaifan” Gray Raven dan SKK, menganggap pengungsi “tak berharga”.
Liv menegaskan: tidak ada kehidupan yang tak bernilai; Gray Raven tidak akan lari dari medan perang karena takut atau susah.
Vanessa teringat ucapan instruktur lamanya: kalau meremehkan nyawa dan menganggap yang “tak berguna” itu tak penting, suatu hari kau akan kehilangan segalanya.
Ia mulai menyadari perbedaan cara pandang dirinya dan Gray Raven.
Pengorbanan Vanessa & Egret
Vanessa mengubah keputusan:
Egret (Vanessa & Bambinata) yang akan tinggal untuk memancing dan menahan Hetero-Creatures.
Gray Raven diwajibkan membawa komandan dan pengungsi pergi.
Lucia, Liv, dan Lee khawatir Vanessa akan mati, tapi Vanessa bersikeras punya caranya sendiri dan menyuruh mereka meneruskan perjalanan sampai tujuan.
Ia meminta mereka menyampaikan pada sang SKK bahwa ia yang menyelamatkan mereka hari itu, dan menunggu “ucapan terima kasih” ketika ia kembali.
Menuju Pertarungan
Setelah kendaraan menjauh, suara Hetero-Creatures semakin terdengar.
Vanessa dan Bambinata terbang menggunakan drone, dan dari udara melihat jalan kota yang menurun berubah menjadi “lautan merah” kawanan musuh yang mendekat.
Vanessa bersiap menjadikan dirinya sendiri bagian dari “bidak catur” di medan perang, berbeda dari caranya dulu yang selalu mengorbankan “boneka-boneka” bawahannya.
Keadaan setelah evakuasi utama
Setelah pasukan utama Gray Raven dan Liv mengevakuasi orang-orang, CPF (Central Purification Filter) di area konservasi rusak dan justru memompa kabut Punishing virus.
Permukaan tanah dipenuhi “Red Tide” (materi korosi virus), membuat mereka yang tertinggal tak bisa kabur.
Kematian pasangan lansia
Nenek (Lina) kakinya membusuk karena menginjak Red Tide saat mencoba mencari jalan untuk menyelamatkan Cali (kakek).
Mereka menerima serum yang dibagikan Liv, sementara satu kaleng makanan diberikan ke Stanley, tapi tidak langsung dimakan.
Beberapa jam kemudian, Lina meninggal karena infeksi dan kondisinya. Cali, yang sudah renta dan sakit, memeluk jasad istrinya dan pelan-pelan menunggu kematian, berharap bisa “pulang bersama” di akhirat.
Derita Stanley dan hilangnya harapan
Stanley terluka parah; kakinya juga membusuk oleh Virus Punishing. Ia terus menunggu Liv dan rombongan kembali, tapi 10, 15, hingga 24 jam berlalu tanpa kabar.
Ia dilanda kelaparan, sakit, dan rasa putus asa, tapi tetap memeluk anjingnya, Matches, yang kebal terhadap virus.
Stanley menuliskan keinginannya di selembar kertas—“ingin bebas, terbang dengan sayap meninggalkan Red Tide, bersama Matches.” Ia menggambar sepasang sayap sederhana di pojok kertas itu.
Menyadari semua orang sudah tiada
Setelah 24+ jam, Stanley mendengar suara dan mengira ada yang kembali.
Ia keluar dari kamar dan mendapati Cali dan Lina sudah meninggal; tubuh mereka telah menjadi seperti Red Tide yang membusuk.
Ia memaksa diri keluar dari ruang bawah tanah dan memeriksa seluruh area konservasi, sampai ke atap bangunan. Tak ada satu pun manusia yang tersisa.
Ia menyimpulkan: tak ada yang akan kembali. Semua orang sudah mati atau tak akan sampai lagi ke sana.
Pengorbanan terakhir untuk Matches
Stanley dan Matches sudah sangat lemah, nyaris tak bisa bergerak. Satu-satunya makanan yang tersisa adalah satu kaleng yang ia simpan.
Ia tahu, sekalipun ia ikut makan, itu tidak akan cukup untuk menyelamatkan hidupnya atau memberinya tenaga untuk melarikan diri.
Ia memutuskan memberikan seluruh isi kaleng itu kepada Matches, memilih lagi-lagi mengorbankan dirinya demi makhluk lain.
Ia tersenyum bukan karena situasi membaik, tetapi karena melihat Matches bahagia saat makan.
Keputusan bunuh diri demi “kebebasan”
Ingatannya pada percakapan dengan Liv muncul kembali—tentang bagaimana ia dulu merasa hidupnya tak berharga dan “tidak suka hidup”.
Ia mengingat keinginannya untuk “bebas”, untuk terbang melampaui Red Tide dengan sayap yang ia gambar.
Setelah merasa tidak ada jalan keluar, ia memutuskan bunuh diri:
Ia berpamitan pada Matches.
Ia menulis pesan di balik kertas bergambar sayap itu dan menyimpannya di saku terbersih.
Ia mengatakan pada Matches untuk terus hidup, bahkan jika harus memakan jasadnya nanti agar bisa bertahan.
Stanley melompat dari atap, membayangkan dirinya terbang dengan sayap ke langit, menuju kebebasan.
Kenyataan pahit kematian
Ia tidak langsung mati; tubuhnya jatuh di atas tumpukan kotak kosong yang justru memperlambat kematiannya.
Ia merasakan rasa sakit luar biasa—tulang remuk, darah mengalir, napas tercekik—dan sadar bahwa kematian bukan “jalan mudah”.
Ia teringat istilah “Sustained Suicide Fantasy”: angan kematian sebagai “jalan keluar” yang justru menyeret orang turun secara perlahan.
Di tengah siksaan, ia bertanya pada dirinya sendiri:
“Apakah kematian benar-benar membebaskanku?”
“Apakah aku menyesal?”
Jawabannya: Ia tidak menyesal mengorbankan dirinya demi orang lain, termasuk kursi evakuasi yang dulu ia serahkan, dan kini makanan terakhir untuk Matches.
Ia menyadari: sejak dulu ia membenci hidup dan berharap tidak pernah dilahirkan, tapi pada akhirnya ia mengakui keberadaannya dan menerima konsekuensi pilihannya.
Makna “kebebasan” di akhir hidupnya
Ia teringat kata-kata seorang pria tua: kebebasan adalah bisa berlari meski dengan belenggu di kaki; jika kau harus menyerahkan hidup untuk mengejar “kebebasan”, kau justru menjadi budak keinginanmu sendiri.
Meski tubuhnya tersiksa, ia menemukan satu hal yang tidak ia sesali:
Ia memilih untuk hidup demi orang lain sampai batas terakhir,
Ia membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak selalu “orang yang ditinggalkan”—kali ini, ia yang memilih untuk memberikan kesempatan pada yang lain.
Dalam penderitaan itu, ia merasa akhirnya mengerti nilai kehidupan dan perasaannya sendiri.
Ketika darahnya habis dan tubuhnya membeku, narasi menggambarkan bahwa:
Dalam sekejap terakhir, jiwanya benar-benar “belajar terbang” menembus tanah, seolah-olah ia akhirnya mendapatkan kebebasan yang ia idamkan.
Kepulangan Liv yang terlambat
Liv kembali ke area konservasi Kota 043 setelah 32 jam, dalam keadaan kaki patah.
Ia mendapati anak laki-laki yang pernah ia janjikan akan kembali menemuinya sudah meninggal.
Anjingnya, Matches, mengitari jasad tuannya dan “meminta” Liv menggunakan perban yang ia bawa.
Misi menyelamatkan pengungsi ke Kota 046
Sebelumnya, Liv dan Gray Raven mengantar dua ambulans penuh korban luka ke area konservasi Kota 046.
Awalnya ditolak keras oleh pemimpin pengungsi bersenjata yang membenci Babylonia dan Konstruk.
Setelah negosiasi keras dan ancaman bencana Hetero-Creature seperti di Kota 043 dijelaskan, mereka akhirnya setuju menampung korban.
Sebagai gantinya, sebagian besar Konstruk lain harus tinggal menjaga Kota 046; hanya Gray Raven yang boleh pergi.
Kota 043 dilanda Red Tide dan kemunculan si kembar
Saat Gray Raven kembali ke Kota 043, pinggiran kota sudah tenggelam Red Tide berwarna merah.
Konservasi di dataran tinggi masih aman, tapi muncul ancaman baru: the Twins telah menyeberangi Kota 042 dan mendekati Kota 043.
Cali, Lina, Stanley, Vanessa, dan Bambinata masih di area konservasi, sehingga Gray Raven berusaha mengalihkan perhatian si kembar agar tidak menuju ke sana.
Rencana pengalihan dan pengejaran mematikan
Lee menembak si kembar dari jauh untuk menarik perhatian mereka. Serangannya meleset, tapi berhasil membuat the Twins berbalik mengejar Gray Raven.
Gray Raven berpencar: Lee ke satu arah, Lucia membawa Liv (yang kakinya cedera) ke arah lain.
Si kembar meniru taktik mereka dan masing-masing mengejar Lee serta Liv–Lucia.
Mereka dikejar selama berjam-jam; terasa seperti si kembar “bermain-main” dengan mangsanya.
Uji coba Omega Prototype
Saat Gray Raven hampir kehabisan tenaga, mereka mendapat panggilan dari markas Babylonia untuk ikut uji coba senjata baru: Omega Prototype.
Dalam pertempuran sengit, mereka berhasil melemparkan Omega ke tubuh si kembar:
Pada kembaran laki-laki, “kulit”-nya melepuh, meleleh, dan mengelupas. Punishing di tubuhnya tampak diserap.
Pada kembaran perempuan, luka parah muncul di tangan dan dada, dan luka itu tidak sembuh cepat seperti biasanya.
Data yang dikumpulkan menunjukkan Omega memang mampu menyerap Punishing dan benar-benar melukai si kembar.
Setelah misi uji selesai, Lucia menarik Liv (yang kakinya makin parah sampai patah total) untuk mundur.
Pandangan Babylonia: harapan dan pengorbanan
Di orbit, Nikola, Hassen, dan Celica meninjau rekaman pertarungan.
Mereka menyadari Gray Raven tidak cukup kuat dan dipaksa bereaksi tanpa persiapan.
Tim pengantar Omega Prototype juga mengalami kerugian besar: 4 selamat, 6 tewas, hanya 1 kotak suplai yang berhasil dibawa kembali.
Meski tahu harganya tidak sebanding, mereka menganggap pengorbanan ini “perlu” demi data senjata anti-Punishing.
Keterlambatan penyelamatan dan penyesalan Liv
Setelah semua itu, Gray Raven kembali ke Kota 043 dan menyisir untuk mencari Vanessa dan Bambinata, namun keduanya tak ditemukan.
Saat Liv akhirnya sampai ke area konservasi, ia mendapati Cali, Lina, Stanley, dan Matches’ master sudah meninggal.
Liv dihantui penyesalan: andai ia bisa membawa mereka pergi, andai ia lebih kuat—namun berkali-kali ditegaskan, “tidak ada ‘seandainya’.”
Matches dan pesan terakhir anak itu
Matches menggonggong dan mendekati Liv, satu-satunya yang masih hidup di tempat itu selain dirinya.
Liv bimbang: apakah ia harus membawa Matches (padahal banyak orang tidak suka anjing itu), atau membiarkannya bebas dengan risiko bahaya di luar.
Ia lalu menemukan secarik kertas berdarah di saku baju si anak:
Anak itu menulis bahwa ia mengkhawatirkan Matches dan meminta, jika Liv kembali dan Matches masih hidup, tolong bawa Matches pergi.
Ia tidak menyesal meninggalkan kendaraan untuk menolong anjingnya.
Ia meminta Liv untuk tidak bersedih melihat kondisinya, dan bersyukur Liv menepati janji dan kembali.
Catatan itu menjadi pesan terakhir yang mendorong Liv untuk membawa Matches bersamanya.
Kembalinya Liv & Rasa Bersalah
Liv menguburkan Lindsey, Cali, Lina, dan Stanley, lalu kembali ke Conservation Area 046 bersama Matches.
Ia diliputi penyesalan: gagal menyelamatkan banyak orang, termasuk merasa bersalah atas kondisi SKK yang masih tak sadarkan diri.
Ia teringat ucapan SKK dulu: “Bahkan bantuan terkecil pun tetap berarti, hanya jadi tak berarti jika kamu menyerah.”
Ingatan itu membuatnya perlahan bangkit lagi.
Kabar Buruk tentang Fantine
Seorang pengungsi bersenjata pulang dengan kain berlumur darah, melaporkan bahwa Jonny dan yang lain tewas.
Fantine, yang hamil 39 minggu, ikut pergi mencari perlengkapan persalinan menggunakan mobil Gray Raven dan belum kembali.
Para pengungsi menganggap Fantine kemungkinan besar sudah mati; hanya dia yang berstatus hilang.
Liv dan Lucia memutuskan mencari Fantine. Matches ikut membantu, dipandu dengan bau barang-barang Fantine.
Fantine Sebelum Tragedi
10 jam sebelumnya, Fantine berhasil mengumpulkan perlengkapan persalinan dan beristirahat di bangku mall.
Ia merenungkan apakah tepat membawa anak ke dunia yang keras dan kejam ini.
Meski hidupnya sulit, ia merasa pernah sangat bahagia karena cinta keluarga dan suaminya.
Ia bimbang: apakah melahirkan anak ini merupakan tindakan egois hanya demi tidak kesepian dan ingin dicintai?
Ia bertanya-tanya: Apakah anaknya nanti akan membenci dunia ini, atau justru menemukan keindahan di dalamnya?
Serangan Hetero-Sapien
Fantine mendengar suara serak yang familiar: Hetero-Sapien yang masih bisa memanggil namanya dan menyuruhnya lari.
Ia segera kabur meski tahu berlari di usia kehamilan 39 minggu berisiko memicu persalinan.
Dalam pelarian, ia kesakitan dan memohon pada “Tuhan” untuk memberinya sedikit waktu lagi.
Kelahiran di Tengah Malam
Fantine terbangun di bawah sinar bulan, dalam kondisi sudah melahirkan.
Bayinya lahir di jalanan, dalam lumpur dan darah, bukan di ruang bersalin yang aman. Bayi itu adalah seorang perempuan.
Fantine mengalami pendarahan hebat (postpartum bleeding) dan rasa dingin karena kehilangan darah.
Dilema Terberat Fantine
Menyadari bahwa bantuan mungkin takkan datang tepat waktu, Fantine berusaha membungkus bayi dengan selimut.
Ia mempertimbangkan membunuh bayinya secara cepat dan “tanpa rasa sakit” dengan mencekik leher yang masih rapuh, agar sang anak tidak perlu menderita di dunia kejam ini.
Namun saat tangannya menyentuh bayi, tubuhnya malah menepuk lembut, bukan mencekik.
Tangisan keras bayi seolah menjawab kesedihannya.
Fantine mengakui dirinya ibu yang penakut dan egois, tapi menyadari perasaannya pada anak itu bukan sekadar kebahagiaan atau penderitaan, melainkan kerinduan dan harapan.
Di ambang kematian, ia berdoa: minta agar anaknya diselamatkan, diberi kesempatan hidup cukup lama untuk memilih sendiri jalan hidupnya.
Liv Menemukan Fantine & Bayi
Matches menggonggong dan memandu Liv ke lokasi Fantine.
Liv mendapati Fantine sekarat karena pendarahan pasca melahirkan serta bayi yang masih hidup.
Liv tak bisa melakukan transfusi darah di situ, dan kondisinya sangat genting.
Permintaan Terakhir Fantine
Fantine meminta satu hal pada Liv:
Selamatkan dan besarkan bayinya.
Biarkan si anak tumbuh dan membuat keputusannya sendiri tentang hidup dan dunia.
Liv menyetujui setelah yakin bahwa ia benar-benar bisa melindungi bayi itu.
Fantine menamai putrinya Cosette dan mengatakan ia tidak menyesal telah melahirkannya—ia sudah lama menantikan kelahiran sang putri.
Ia titip pesan untuk masa depan:
Katakan pada Cosette bahwa ayah dan ibunya membawanya ke dunia ini karena mereka percaya dunia, meski keras, tetap indah.
Jika suatu hari Cosette benci dunia meski sudah berjuang, suruh dia “mencari” ayah dan ibunya (isyarat bahwa hidup bukan belenggu, melainkan kekuatan; kematian pun bisa jadi pilihan, namun hanya setelah benar-benar berjuang dan membuat keputusan sendiri).
Setelah itu, Fantine meninggal dengan senyum, tetap memegang teguh: “Aku tidak menyesal melahirkan putriku.”
Pemahaman Baru Liv tentang Hidup & Mati
Liv menyaksikan pengorbanan dua orang:
Seorang bocah lelaki (dari bagian cerita sebelumnya) yang membenci masa depan, tetapi tetap mengorbankan diri demi menyelamatkan orang lain.
Fantine, yang mencintai masa depan dan dengan sadar melahirkan serta mempertaruhkan nyawanya demi sang anak.
Keduanya sama-sama rela mati demi kehidupan lain, demi harapan sekecil apa pun.
Liv akhirnya memahami:
Hidup singkat bukan berarti tak bermakna.
Setiap kehidupan meninggalkan jejak dan diteruskan ke kehidupan lain.
Kematian bukan sekadar akhir, melainkan perpindahan “energi hidup” dari satu makhluk ke makhluk lain.
Ia mengerti kata-kata SKK: “Bahkan perubahan dan bantuan yang paling kecil tetap berarti.”
Tekad Baru Liv
Sambil memeluk bayi Cosette dan Matches, Liv menyimpulkan:
Kematian bukan perpisahan abadi. Mereka “hidup” melalui orang-orang yang mereka cintai.
Dunia menjadi indah karena keberagaman semua bentuk kehidupan: manusia, Construct, hewan, bahkan serangga.
Ia akan melindungi harapan yang orang-orang seperti bocah itu, Fantine, dan Stanley pertaruhkan dengan nyawa.
Liv bertekad untuk:
Tidak menyerah, berapa pun kecilnya kontribusinya.
Terus menolong dan berjuang karena setiap nyawa dan setiap usaha, sekecil apa pun, punya arti.
Escaping from Calamity
Tekad Liv & Omega Weapon
Liv merasa hanya mengobati korban setiap hari tidak cukup; sumber bencana (Punishing Virus) harus dihentikan.
Ia teringat Omega Prototype yang bisa menyerap virus dan berdiskusi dengan Lucia untuk mengajukan uji coba ulang senjata itu.
Lucia dan Lee mendukung penuh rencana Liv.
Ajakan dari Parlemen Babylonia
Melalui Celica, Liv dihubungkan ke Parlemen. Mereka menawarkan misi berisiko ekstrem:
Liv menjadi carrier untuk Omega Weapon dengan memakai specialized frame.
Punishing Virus akan ditarik lewat M.I.N.D. Liv lalu diserap senjata.
Risiko: laju infeksi bisa melampaui kemampuan senjata, M.I.N.D. bisa rusak, frame tak bisa reboot/recall.
Peluang hidup Liv hanya 7,23%.
Liv tetap menerima, dengan syarat bisa membawa SKK yang koma dan seorang bayi (Cosette) kembali ke Babylonia.
Persiapan Evakuasi & Eskort
Hassen memerintahkan Liv untuk:
Membawa SKK kembali ke Babylonia.
Pergi ke basis bawah tanah City 047 yang menyimpan pesawat, airship, dan suplai terakhir.
Banyak Construct sukarela (termasuk Percy, Reyna, Sandra dan lainnya) mau menjadi pengawal Liv kembali ke Babylonia, meski sadar mereka bisa mati di jalan.
Hampir semua yang selamat merasa mereka berhutang nyawa pada Liv, sehingga memilih ikut.
Dilema Perlindungan Pengungsi
Liv cemas jika semua pergi, siapa yang melindungi para pengungsi dan merawat yang luka.
Para Construct mengakui kemampuan tempur mereka terbatas untuk menahan serangan Hetero-Creature.
Lucia sempat ingin tinggal demi melindungi semua orang, tapi punya firasat buruk kalau ia tidak ikut.
Akhirnya disepakati:
Mereka akan mengantar pengungsi ke City 047 secara bertahap (beberapa trip), bukan meninggalkan mereka begitu saja.
Distribusi Suplai di City 047
Gray Raven membuka gudang suplai di base bawah tanah City 047 dan membagikannya ke para pengungsi dari berbagai area.
Situasi sedikit membaik; orang-orang bisa makan dan semangat mereka pulih sementara.
Shrek juga datang untuk mengambil suplai agar tidak menguras stok di Conservation Area 045.
Perpisahan & Keberangkatan
Kapten Olke menjelaskan misi kembali ke Babylonia adalah sukarela dan sangat berbahaya, tapi satu-satunya jalan untuk mengembangkan Omega Weapon dan menyingkirkan Punishing Virus.
Lucia menyadari Liv kini tersenyum lebih tulus, karena akhirnya melihat secercah harapan. Mereka mengenang kata-kata SKK tentang “yang lemah bukan berarti tak berguna” dan pentingnya setiap kehidupan.
Liv menitip pesan agar Lucia dan Lee menjaga diri sekaligus menjaga orang-orang yang tersisa.
Liv berangkat dengan airship, membawa:
Omega mission sebagai carrier,
SKK yang masih koma,
Bayi Cosette.
Chapter ditutup dengan nuansa harapan bercampur perpisahan: perjalanan ini adalah awal dari harapan baru, tapi juga bisa menjadi pengorbanan terakhir Liv.
Sebuah pesawat udara (airship) dan transport yang mengawal Liv terbang menjauh dan menghilang di langit.
Di bawah langit merah menyala, ada seorang gadis yang berjalan sendirian di alam liar, diselimuti bayangan hitam raksasa.
Daerah itu punya konsentrasi Punishing Virus yang sangat tinggi, sampai-sampai konstruksi terbaik pun enggan masuk, namun gadis itu sama sekali tidak terpengaruh.
Gadis itu berkata bahwa dia sudah bersusah payah menjadi seperti sekarang dan ingin semua orang melihatnya, tapi saat ini ada hal yang lebih penting yang harus dia lakukan.
Ia memanggil “Mecha babushka” (Gestalt) dan meminta koordinat. Gestalt memperingatkan bahwa apa yang ia lakukan tidak akan mengubah bencana ini.
Gadis itu tetap bersikeras: meski sia-sia, ia tidak ingin umat manusia dan semua karya indah mereka musnah.
Ia berniat membantu mewujudkan keinginan orang lain, dan sebagai balasannya mereka akan membantunya juga.
Sambil menatap langit, ia merasa nostalgia dan melambaikan tangan pada “rumahnya” di balik awan, lalu mengucap selamat tinggal dan berpesan: “Jangan lupakan Nanami.”
Kondisi Liv & Babylonia
Sudah 15 hari sejak Liv kembali ke Babylonia dan beradaptasi dengan frame barunya.
Ia banyak menghabiskan waktu di Star of Life, membantu dokter dan merawat pasien, sambil mencatat data mereka di jurnal kertas.
Cosette masih dalam observasi dan nantinya akan dipindahkan ke Youth Center.
Sang SKK sudah koma lebih dari dua bulan dan belum menunjukkan tanda akan bangun. Jika lewat tiga bulan, risikonya permanen, dan pilihan terakhir adalah menjadi Construct.
Proyek frame spesial (Omega Weapon)
Liv datang ke lab Asimov untuk proses adaptasi dan bertemu Hippocrates, profesornya yang dulu sudah “pensiun” dari praktik.
Hippocrates melihat data proyek: frame baru yang dikembangkan dari data seorang agent, mirip Ascendant.
Frame ini bisa “menarik” Punishing Virus seperti Ascendant, dan terhubung ke sebuah senjata bernama Omega Weapon yang berfungsi seperti “terowongan”/“wormhole” untuk menyedot virus agar bisa benar-benar dihilangkan, bahkan berpotensi menyembuhkan Corrupted.
Bahaya terhadap Liv
Masalah utama: laju virus yang ditarik tidak bisa dikendalikan, sehingga Omega Weapon kemungkinan tidak mampu menangkap semuanya.
Sisa virus berpotensi menginfeksi Liv, bahkan bisa membuatnya menjadi Corrupted atau Ascendant baru.
Untuk mencegah hal itu, Purifying Force menyiapkan:
M.I.N.D. needle probe (untuk memantau aktivitas M.I.N.D. Liv),
EMP discharge collar (untuk mematikan M.I.N.D. Liv secara langsung bila keadaan di luar kontrol).
Liv tahu risikonya dan secara sadar menandatangani persetujuan, karena tidak ingin menjadi musuh umat manusia.
Pertimbangan kandidat & peran commandant
Faktor pemilihan kandidat: kestabilan M.I.N.D. dan kemampuan menahan strain.
Dari tiga kandidat teratas, Liv berada di posisi kedua; posisi pertama adalah Lee (juga dari Gray Raven).
Asimov menjelaskan bahwa dulu ia bisa menstabilkan Chrome dengan inhibitor, tapi:
Kali ini inhibitor tidak bisa dipakai karena menghambat fungsi utama frame yang harus melampaui ambang batas untuk menarik virus.
Banyak frame spesial bergantung pada kemampuan SKK sebagai commandant untuk menstabilkan M.I.N.D.; karena SKK masih koma, jaminan keselamatan itu hilang.
Hippocrates bergabung & tujuan Liv
Hippocrates mengkritik pendekatan Kurono dan pihak yang menganggap nyawa hanya “biaya eksperimen”, namun akhirnya setuju bergabung dalam operasi:
Ia akan membantu di sisi stabilitas M.I.N.D.,
Ia juga akan menjadi dokter penanggung jawab untuk SKK, berusaha membangunkannya.
Ia memperlihatkan skema frame baru Liv dan bertanya apakah Liv punya permintaan khusus.
Liv meminta satu hal: “sayap”.
Ia ingin frame Eclipse bisa terbang, agar dapat menembus medan berbahaya dan mencapai siapa pun yang membutuhkan bantuan—mereka yang sedang berjuang ataupun yang bisa ia selamatkan.
Sudah 15 hari sejak kapal transport Babylonia terakhir pergi. Para pengungsi tanpa tempat tinggal kini berkumpul di markas bawah tanah Kota 047, namun persediaan terbatas dan suatu saat akan habis.
Gray Raven, Strike Hawk, dan Cerberus berkumpul di Kota 047 untuk mengatur evakuasi 687 orang menuju beberapa area konservasi/barang aman di pesisir barat. Tiap anggota pasukan elit memimpin satu regu kecil agar lebih fleksibel dan meminimalkan kerugian bila terjadi insiden.
Camu tidak ditempatkan bersama kelompok lain karena “kualitas unik” miliknya yang berbahaya bagi rekan satu tim. Ia akan bekerja di luar markas dan berkoordinasi dengan Wanshi, sambil tetap memilih mempertahankan kondisinya sekarang meskipun ada kemungkinan Omega Weapon bisa mengubahnya.
Vera memimpin para pengungsi yang bersenjata, sementara No.21 dan Noctis membantu memimpin platoon lain. Suasana tegang, namun Kamui berusaha tetap ceria.
Tiba-tiba komunikasi dari Watanabe masuk. Ia melaporkan bahwa markas mereka diserang oleh kembar (twins) dan banyak yang terluka. Sinyal sangat buruk, hanya beberapa kata yang tertangkap: Hetero-Creature, kembar, Akdilek, Kota 037 dan 043, serta bahwa mereka sedang dikejar.
Watanabe meminta mereka untuk bertemu di stasiun Kota 043 dalam 5 jam, lalu komunikasi terputus oleh ledakan.
Menyadari jarak yang terlalu jauh untuk menolong langsung di lokasi Watanabe, Gray Raven dan yang lain memutuskan untuk:
Lucia, Lee, dan Chrome (bersama 3 konstruksi lain) berangkat ke stasiun Kota 043 untuk menjemput / membantu Watanabe.
Kamui, No.21, dan Noctis tetap memimpin para pengungsi yang terluka dan bertahan di sekitar Kota 047.
Mereka sadar bahwa kembar sebelumnya memburu Gray Raven dan sulit dihindari hanya dengan kecepatan. Kali ini mereka berangkat dengan persiapan untuk bertarung, bukan sekadar lari.
Cinderelik dan “the twins” meninggalkan Vonnegut dan Roland, mengejar kereta raksasa bernama Asslam yang melaju di tengah Red Tide.
Vonnegut menjelaskan pada Roland bahwa ia membiarkan para kembar “bertumbuh” lewat perjalanan itu—entah menjadi pemburu (pemangsa) atau pengikut (mangsa). Yang penting, mereka belajar tentang “kemanusiaan,” baik sisi gelap maupun sisi terangnya.
Ia menegaskan bahwa Red Tide tak terelakkan dan mereka butuh “teman” di dunia baru, tanpa peduli apakah teman itu predator atau prey, selama bisa menjadi pelajaran tentang manusia.
Roland menyinggung cerita Vonnegut pada Cinderelik tentang iblis yang melihat manusia lemah dan tamak lalu ingin “membentuk ulang dunia.” Vonnegut menambahkan bahwa ia juga menyuruh Cinderelik untuk menyaksikan “potensi” manusia—bukan hanya keburukan, tapi juga kemungkinan adanya “cahaya.”
Vonnegut mengaku tidak percaya pada manusia, melainkan pada Construct. Ia menyadari bahwa hanya sedikit manusia yang beruntung bisa menjadi Construct; yang lain akan hancur oleh Punishing Virus.
Meski begitu, ia menyiratkan masih bersedia “mencoba sesuatu yang baru,” seolah masih membuka kemungkinan eksperimen atau harapan tipis bagi manusia.
Di sisi lain, si kembar menyerang Asslam. Kereta raksasa itu sampai harus “memotong ekornya”—melepaskan gerbong belakang beserta orang dan barang di dalamnya—demi lolos dari serangan mereka.
Gerbong belakang dan semua yang tertinggal ditelan Red Tide, sementara para penumpang yang berhasil tetap di Asslam “melaju menuju akhir” mereka, menandakan bahwa bertahan hidup di kereta bukan berarti selamat, melainkan hanya menunda kehancuran.
Kereta penyelamat dipersekusi terus-menerus oleh para Hetero-Creatures dan Hetero-Sapiens setelah gerbong belakang diputus oleh Asslam. Para penumpang—manusia dan Construct—sudah bertahan satu hari satu malam dan sangat kelelahan.
Tinggal 12 gerbong tersisa. Sophia dan Lee sibuk memperbaiki peralatan, sementara para pengungsi yang ketakutan hanya bisa bersembunyi.
Jamilah menjelaskan bahwa banyak orang dari gerbong ini sudah ia evakuasi ke area konservasi kota lain, namun sebagian menolak pergi dan berakhir tewas. Ia menegaskan Akdilek datang dengan perhitungan sendiri: semua pihak seharusnya bersatu, dan Babylonia akan memberi kompensasi atas kerugian.
Watanabe dan Forsaken telah menanggung kerugian besar saat menyelamatkan para korban yang sebelumnya mereka tampung di markas. Serangan masif Hetero-Creatures memaksa mereka melarikan diri dan naik ke kereta ini, membawa 35 Construct dan 587 penyintas.
Shrek, yang biasanya cerewet, terlihat murung dan cemas. Ia takut mereka tidak bisa mengalahkan atau kabur dari “si kembar” (twins) dan tak sanggup melihat lebih banyak Construct gugur, apalagi Watanabe yang sudah di ambang batas fisik.
Jamilah lalu menyebut adanya “kemungkinan baru”: permintaan tambahan dari Babylonia untuk menguji sistem senjata baru.
Lucia, Chrome, dan Watanabe membahas Omega Prototype (Omega Weapon):
Versi pertama tidak terlalu efektif, namun kini sudah ditingkatkan.
Fungsinya: menciptakan area kecil yang “disinfeksi”, menarik Virus Punishing ke dalam.
Phase Two dari prototipe akan dijatuhkan besok, di kota 210 sekitar pukul 4.
Rencana: kereta harus tiba di stasiun City 210 sebelum jam itu, menerima senjata, menurunkan warga sipil ke markas aman di sana, lalu hanya menyisakan pasukan kecil untuk memancing perhatian si kembar.
Rencana ini dinilai sangat mepet oleh Changyu, tapi Chrome menegaskan mereka harus segera menjauh dari kejaran musuh demi keselamatan warga sipil.
Di tengah diskusi, Jamilah diam-diam mengirim pesan mental ke Shrek: “Welcome back…”, menandakan ada hubungan atau masa lalu di antara mereka yang belum dijelaskan.
Serangan musuh belum berhenti; Changyu terus menghancurkan Corrupted yang memanjat ke celah gerbong, sementara Lucia memperingatkan bahwa gelombang serangan baru akan segera datang.
Adegan berlangsung di kereta pengungsi yang diserang, 12 jam sebelum mereka tiba di City 210.
Waktu seolah melambat dalam visi pasangan kembar (twins) yang dengan mudah mendekati Asslam dan menghantam gerbong kereta yang sudah retak, membuat banyak orang terjatuh dari kereta layaknya kertas berserakan.
Para pengungsi, manusia, dan Constructs diserang oleh Hetero-Creatures, sementara “Red Tide” menyapu dan mengancam menelan semua orang.
Watanabe maju menembus kerumunan musuh dengan dua pedangnya, berusaha melindungi para korban dan melawan keputusasaan.
Di antara kericuhan, terdengar teriakan pengungsi yang kehilangan keluarganya, jeritan kesakitan, doa, dan kemarahan; Sophia meneriakkan nama Changyu dan Jamilah, menunjukkan ada orang terdekatnya yang dalam bahaya.
Darah dan Red Tide membanjiri rel kereta, membentuk “luka merah” di tanah, digambarkan seperti neraka dengan guntur dan jeritan manusia.
Meski tragedi sedang terjadi, pada saat itu orang-orang di kereta masih percaya bahwa ada harapan yang menunggu mereka di City 210.
Setelah satu malam penuh pembantaian, dari 587 orang yang naik kereta, hanya tersisa 151 orang hidup dan 23 Construct (di luar pasukan elit). Tiga kali bom bunuh diri sudah digunakan untuk membersihkan Heter-Creatures di sekitar kereta.
Meski begitu, ancaman belum berakhir. Gelombang musuh baru terus berdatangan, dan semua orang sadar mereka selamat terutama karena si kembar hampir tidak ikut bertarung.
Kereta hampir mencapai tujuan, namun mereka hanya punya kira-kira 9 menit sebelum si kembar menyusul. Dalam kondisi banyak yang terluka dan beberapa dalam kondisi kritis, waktu ini jelas sangat sempit untuk evakuasi.
Lucia, Changyu, Chrome, Watanabe, Lee, dan Sophia mendiskusikan rencana:
Mengeluarkan para penyintas secepat mungkin di stasiun.
Membagi siapa yang mengawal yang luka berat (Changyu, Sophia, Watanabe).
Menjaga agar si kembar dan Hetero-Creatures tetap mengejar kereta, karena mereka perlu menarik musuh untuk menggunakan “Omega Prototype” dengan bantuan pasukan Babylonia di City 210.
Lee mengingatkan bahwa jika si kembar menyadari kerumunan orang sudah pergi, mereka akan mengubah target dan korban bisa lebih banyak. Artinya, sebagian harus tetap menjadi umpan di kereta.
Chrome memutuskan untuk membiarkan para Construct memilih sendiri: tetap di kereta sebagai umpan atau ikut evakuasi, karena tidak ada pilihan yang benar-benar aman dan paksaan hanya akan melemahkan tekad.
Rencana cadangan: bila si kembar tidak mengikuti kereta, mereka akan memecah diri menjadi tim-tim kecil dan menyerang dari berbagai arah untuk memancing perhatian musuh kembali ke mereka. Lee juga menyiapkan EMP disruptor untuk digunakan bersama Omega Prototype.
Kereta akhirnya mulai berjalan lagi, sementara si kembar Punishing masih mengejar dari luar.
Lee dan Chrome memasang Omega II di badan gerbong, tapi si kembar tidak mau mendekat, seolah sudah mengenali bahaya Omega dari pertempuran sebelumnya.
Untuk menyamarkan Omega II, Lee menggunakan kotak “polarity-masking” dan Lucia berencana mendekat ke si kembar dengan menyimpan Omega II di dalam tas tangan, diikat kabel baja ke dalam gerbong sebagai pengaman.
Namun, tiap kali Lucia mencoba mendekat, si kembar langsung mundur dan bersembunyi di balik Hetero-Creatures. Tes kedua dengan tas berisi batu menunjukkan: yang mereka waspadai adalah pendekatan Lucia (dan serangan tersembunyi), bukan tasnya.
Di dalam gerbong, ternyata ada dua manusia yang tertinggal: Shrek dan Garcia.
Shrek kedua kakinya rusak parah dan sudah memasang torniket, sadar bahwa ia mungkin akan cacat dan tak ingin menghambat evakuasi.
Garcia mengalami luka dalam parah (hati, ginjal, arteri), dan persediaan medis sudah habis; peluang selamatnya sangat kecil.
Keduanya sengaja memilih tertinggal agar tidak membebani yang lain.
Saat si kembar menyerang lagi, rangkaian kereta terbelah. Beberapa gerbong belakang terlepas, hampir menyeret Lee dan yang lain jatuh, tapi Lucia dan Chrome berhasil menyelamatkan diri ke gerbong depan dengan manuver cepat.
Garcia terjatuh dari ujung gerbong yang patah dan mendarat di dekat si kembar. Si kembar “menyelamatkannya” dari benturan, tapi justru memaparkannya langsung ke konsentrasi tinggi Virus Punishing, membuat tubuhnya cepat membusuk.
Shrek menahan Lucia yang ingin menolong dan, dengan penuh penyesalan, memohon agar Lucia melepaskan Garcia karena sudah terlambat—dan menyalahkan dirinya karena gagal menangkapnya.
Serangan di dalam terowongan & pengorbanan Shrek
Kereta yang membawa para penyintas memasuki terowongan dan langsung dikepung Hetero-Creatures, termasuk satu Hetero-Hive Mother raksasa yang menghadang di depan.
Kereta menabrak Hive, terowongan runtuh, dan Shrek terlempar keluar kereta bersama barang-barang.
Lee melompat menyelamatkan Shrek, namun lengannya patah tertimpa batu. Ia berusaha menarik Shrek naik sambil menahan serangan musuh.
Shrek menyadari ia memegang tas berisi alat penyamaran (masking device) yang bisa memicu reaksi besar pada Omega II. Ia memutuskan berkorban agar yang lain bisa selamat.
Sambil mengingat masa lalunya dan filosofi bahwa kematian dirinya harus berarti bagi yang hidup, Shrek melepas pegangan Lee.
Shrek jatuh ke arah si kembar (Omega II). Ledakan/amarah Omega II menghancurkan terowongan dan menghalangi seluruh Hetero-Creatures, sementara kereta dan para penyintas berhasil lolos dengan selamat.
Jejak tawa & perjalanan Watanabe
Di luar, angin membawa pasir melintasi kota terbengkalai.
Watanabe dan para pengungsi berjalan, dan Watanabe sekilas merasa mendengar seseorang tertawa, tapi menganggapnya hanya salah dengar dan mereka melanjutkan perjalanan.
Vonnegut, Cinderelik, dan nasib Shrek
Setelah semuanya berakhir, Vonnegut dan Cinderelik muncul di terowongan yang runtuh. Konsentrasi Punishing virus rendah karena senjata baru Omega II hancur, tapi efeknya masih terasa.
Vonnegut menemukan tubuh Shrek yang berlumuran darah namun ternyata masih hidup; ia kagum pada keinginan hidup Shrek dan menyebutnya “sampel” yang ditinggalkan si kembar.
Cinderelik menjelaskan soal “ketakutan” yang mulai dimiliki para Hetero-Creatures akibat peristiwa di Central Purification Filter, dan bahwa Hive Mother datang karena merasakan ketakutan anak-anaknya.
Cinderelik menegaskan Hive Mother bukan “ibu” aslinya, hanya wadah data. Ia melakukan semua ini demi hari ketika ibu dan “Cinderelik” yang asli kembali.
Vonnegut menjanjikan kebebasan padanya setelah semuanya selesai, bahkan jika ia ingin pergi ke Babylonia.
Cinderelik mengakui ingin bertemu Kugawa Kurono lagi, apa pun pendapatnya soal tindakan yang ia lakukan dan soal kematian ibunya.
Rencana ke depan & gereja Sang Penyayang
Mereka sadar Omega II (si kembar) mundur ke dalam Red Tide untuk memulihkan diri, sementara perintah menyerang tiga Construct (termasuk kapten favorit Vonnegut) belum dicabut, jadi mereka akan terus diburu Hetero-Creatures.
Vonnegut memutuskan hanya mengamati dan tidak ikut campur, sebagai “uji kelangsungan hidup” bagi para Construct.
Cinderelik menyebut para penyintas telah meninggalkan kereta dan terjebak di gereja yang sering dikunjungi “Merciful One".
Vonnegut menyiratkan bila sosok itu ikut turun tangan, mereka tak perlu mencampuri, karena ia adalah “penghapusan/oblivion” itu sendiri.
Praying in Doomsday
Kondisi Liv & rasa sakit adaptasi frame baru
Sudah 28 hari sejak Liv kembali ke Babylonia.
Semakin sering ia beradaptasi dengan frame spesialis barunya, sakit di M.I.N.D.-nya makin parah, seperti migrain yang menusuk kepala.
Meski frekuensi berkurang berkat Hippocrates, intensitas sakitnya tetap kuat.
Ia tetap memaksa bekerja di Star of Life karena pasien terus berdatangan, sementara misi penyelamatan ke permukaan sudah berhenti hampir sebulan.
Kekhawatiran soal Gray Raven
Laporan misi Gray Raven rutin diterima selama 15 hari pertama, terutama soal basis di bawah Kota 047.
Setelah itu, Babylonia kehilangan kontak 3 hari.
Laporan berikutnya menunjukkan Lucia, Lee, dan Chrome bersembunyi di gereja dengan beberapa penyintas, masih bertarung dan hanya sempat mengirim hasil tes Omega II.
Sejak saat itu, Liv hanya mendapat jawaban “tidak ada kabar”. Ia gelisah karena tidak tahu kondisi rekan-rekannya.
Percakapan dengan Hippocrates: “Si bodoh yang berempati”
Hippocrates memanggil Liv dan membawanya ke ruangan SKK.
Ia mengatakan, jika semua lancar, ini adalah 24 jam terakhir sebelum Liv berangkat (turun ke surface).
Hippocrates menceritakan bagaimana dulu dosen klinis Liv menganggap Liv itu “bodoh” karena:
Liv sering mengoperasi dirinya sendiri (suntik, jahit luka, ambil darah) demi tidak merepotkan orang lain dan supaya tahu seberapa sakit prosedur itu, agar kelak ia bisa mengurangi rasa sakit pasien.
Peralatan yang ia pakai dulu disterilkan dan disimpan sebagai pengingat agar para dokter tidak kehilangan empati di tengah banyaknya kematian.
Di era pasca-apokalips, alat medis canggih hilang, rasa sakit pasien jadi “nomor sekian” dibanding efektivitas dan kebutuhan militer—tapi Liv masih peduli.
Hippocrates menyebut Liv “fool” karena tetap berempati di dunia yang kejam, dan karena itu dia terus mengawasi Liv bahkan setelah pensiun.
Putus asa Hippocrates: tidak bisa menyelamatkan Liv & SKK
Hippocrates mengakui ia gagal:
Tidak bisa menyelamatkan Liv dari nasib yang menantinya.
Tidak bisa membangunkan sang SKK, yang mungkin tidak akan pernah sadar lagi.
Ia bahkan mencoba meminta penundaan beberapa hari, berharap SKK bangun dan bisa menyelesaikan banyak masalah, tapi situasi di permukaan terlalu gawat — terlalu banyak orang yang sekarat.
Ia menangis dan menggenggam tangan Liv, menyesal karena “terlambat” dan ingin Liv punya masa depan.
Penjelasan Asimov tentang frame baru Liv
Di lab Asimov, tinggal Asimov dan Rosa (yang kemudian pergi).
Asimov menjelaskan:
Frame baru Liv bisa “memurnikan” Punishing Virus— pertama kalinya mereka benar-benar bisa mengeliminasi virus.
Proses ganti frame bersifat rahasia, jadi hanya Asimov dan Hippocrates yang hadir.
Frame ini dibangun dari data seorang agent, jadi kemampuannya mirip, tapi tetap hanya “imitasi”.
Liv belum pernah mengalami “filtering” seperti agent, jadi saat bertarung kadar virus yang ditarik ke tubuh bisa melampaui batas.
Berbeda dengan frame Lucia dan Chrome, di kasus Liv tidak ada jaminan ia akan tetap terkendali.
Kemungkinan masuk ke Ascension-Network
Menurut hipotesis Asimov:
Jika kecepatan Punishing virus yang “ditarik” oleh frame lebih cepat dari kemampuan senjata Omega untuk “menyerap” nya, Liv bisa melewati ambang infeksi.
Dalam kondisi itu, ada kemungkinan Liv bisa memasuki Ascension-Network (Ascnet) sambil tetap sadar, dibantu oleh frame ini.
Dengan M.I.N.D. needle probe, Asimov bisa melihat apa yang Liv lihat di dalam Ascnet.
Ia berharap ini jadi kesempatan langka untuk memahami hubungan antara Corrupted, agen, Red Tide, dan Hetero-Creatures, yang sampai sekarang belum jelas.
Tekad Liv & langkah menuju “fajar harapan”
Kali ini Liv berangkat tanpa SKK — berbeda dengan dulu, ketika sang SKK mengatakan ia tak perlu menanggung semua beban sendiri.
Namun Liv memutuskan bahwa jika dulu ia bisa berjalan sendirian, sekarang pun ia sanggup, demi harapan umat manusia.
Ia menerima prosedur ganti frame, melihatnya sebagai “dawn of hope” — fajar harapan.
Halaman berakhir saat Liv melangkah ke atas platform perawatan, berjalan menuju cahaya, sementara Hippocrates dan Asimov mengawasinya.
Sudah 28 hari sejak Liv pergi ke Babylonia, dan ini adalah hari ke-10 Lucia, Lee, dan Chrome terjebak bertahan di sebuah gereja terpencil setelah kereta mereka berhenti di tengah hutan dan dikepung Hetero-Creatures.
Mereka berkali-kali mencoba menerobos kepungan tapi selalu berakhir terpojok di tempat lain hingga akhirnya memutuskan bertahan dan menjadikan gereja sebagai basis.
Persediaan mereka hampir habis, kondisi fisik rusak parah (lengan kanan Lee rusak dan terinfeksi, Lucia juga terluka berat), dan mereka belum mendapat bantuan dari Babylonia meski laporan misi dan permintaan bala bantuan sudah diterima.
Changyu menghubungi mereka lewat terminal, mengatakan bahwa ia dan Sophia sedang menuju gereja membawa suplai dan beberapa Konstruk dari Babylonia, serta meminjam logistik dari kelompok Nighter dan orang-orang Watanabe.
Lucia awalnya melarang mereka datang karena terlalu berbahaya, tapi Changyu bersikeras. Lucia menanyakan kondisi Jamilah, dan Changyu menjelaskan bahwa Pulao sudah menemukan orang yang bisa menolong.
Dalam keputusasaan dan kelelahan, Lucia dan Lee sempat mempertanyakan apakah mereka telah “ditinggalkan” Babylonia, namun mereka tetap berpegang pada janji: empat anggota Gray Raven (Lucia, Lee, Liv, dan SKK) akan selalu bersama.
Meski situasi hampir mustahil, mereka menolak menyerah. Lucia bertekad memanggil Chrome untuk membeli waktu dengan serangan es-nya, sementara Lee masih punya sedikit perangkat buatan sendiri yang mungkin bisa digunakan.
Chrome sedang bertarung tanpa henti melawan gelombang Corrupted dan Hetero-Creatures untuk melindungi Changyu, Sophia, dan para penyintas lain.
Musuh datang seperti ombak tanpa akhir; Chrome memposisikan dirinya sebagai “bendungan” yang menahan semuanya, meski dia tahu “api”-nya tidak bisa menyala selamanya.
Di tengah pertempuran, ia teringat Kamui, Wanshi, Camu, ayahnya, dan SKK, serta menahan diri untuk tidak meminta bantuan karena semua orang juga sedang dalam situasi sulit.
Ia ingat tawaran Asimov untuk kembali ke frame Arclight yang lebih aman, tapi ia menolaknya karena kondisi medan perang membutuhkan frame Glory yang lebih spesialis.
Chrome merenung apakah keputusannya—memakai Glory, naik ke kereta, tidak mundur ke area konservasi—adalah kesalahan, lalu menyimpulkan bahwa semua itu adalah pilihan yang benar, karena tanpanya pasti akan lebih sedikit yang selamat.
Tubuh dan framenya sudah parah terkorosi “cairan merah” dari para musuh, infeksi makin cepat, dan penglihatannya mulai kabur.
Tiba-tiba, suara angin dan jeritan lenyap; yang tersisa hanya cahaya putih. Ia tidak yakin apakah semuanya sudah berakhir, tapi menyadari dirinya sudah mencapai batas.
Sebelum “jatuh,” ia bertekad bahwa ia tidak boleh menyerah dan masih harus melindungi orang lain. Ia menutup mata dalam cahaya putih sambil berkata, “Maaf… tolong tunggu aku…” menandakan ia hanya menganggap ini sebagai jeda singkat, bukan akhir.
Lucia dan timnya terjebak di dalam sebuah gereja, dikepung Hetero-Creatures setelah bertarung tanpa henti lebih dari sepuluh hari.
Kondisi Lucia sudah sangat parah: tubuhnya hampir tidak bisa bergerak, energi InverDevice hampir habis, dan ia memperkirakan hanya punya sekitar sepuluh menit sebelum benar-benar tidak bisa bertarung lagi.
Dalam keputusasaan, Lucia mengingat masa lalunya di gereja lain—tempat ia kehilangan keluarga terakhirnya—dan juga mengingat rekan-rekannya: Lee, Chrome, Vera, Vanessa, serta pilihan mereka untuk tetap bertarung demi melindungi orang lain. Ia meneguhkan diri bahwa mereka tidak menyesali keputusan itu meski dunia tidak berbelas kasih.
Di tengah situasi kritis, tiba-tiba suara Liv masuk ke kanal komunikasi. Liv sedang dalam pesawat menuju lokasi mereka dan butuh sekitar satu jam untuk tiba.
Lucia sadar satu jam akan terlalu lama untuknya bertahan, tapi ia tidak mengatakan hal itu secara langsung. Sebagai gantinya, ia meminta Liv untuk menyanyikan lagu—bukan hanya untuk menenangkannya saat bertarung, tetapi juga agar suatu hari Liv menyanyikan lagu itu untuk sang Commandant.
Liv menyadari ada yang tidak beres dan suaranya bergetar, tetapi tetap setuju untuk bernyanyi, bertekad “berdiri di sisi” Lucia lewat suaranya, sambil memaksa Lucia berjanji untuk tidak menyerah dan bertahan sampai ia tiba.
Lucia menutup dengan berkata bahwa Liv “selalu bisa membantu” dan bahwa ia akan menunggu Liv di sana, meskipun secara batin ia sudah bersiap menghadapi kemungkinan akhir hidupnya.
Kebangkitan Liv dalam frame baru
Liv selesai menjalani pergantian frame yang memakan waktu lebih lama dari biasanya.
Saat membuka mata, ia dikerumuni para petinggi dan anggota Parlemen yang memandangnya dengan antusias tapi juga dingin, seolah menilai sebuah “proyek” ketimbang seorang individu.
Seorang wanita dari Control Court memberinya bros emas, dan semua orang merayakan nama frame barunya.
Perkataan Asimov dan keputusan terakhir
Setelah keramaian bubar, Asimov dan Hippocrates memberi tahu bahwa akan ada satu adaptasi terakhir selama sekitar dua jam.
Mereka menyuruh Liv untuk pergi mengucapkan salam perpisahan pada sang SKK agar tidak menyesal.
Liv mengingat percakapan di Nighter tentang “pilihan” dan “kebebasan” (Huaxu dan Villier yang “bergabung”), juga jawaban SKK bahwa mereka memilih jalan mereka sendiri.
Tekad Liv: mengorbankan diri demi masa depan
Dari semua tragedi yang ia saksikan, tumbuh tekad kuat dalam hati Liv: ia rela menjadi pion yang bisa dikorbankan untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa.
Ia merencanakan pertarungan tiga jam di surfacr, sadar bahwa sejak ia naik ke sana, hidupnya berjalan di atas “timer” tiga jam.
Ia menguatkan diri bahwa ini adalah pilihannya sendiri, demi rumah dan masa depan bagi semua orang, bukan sekadar kenyamanannya bersama Gray Raven.
Kunjungan ke SKK yang tak sadarkan diri
Liv datang ke kamar rumah sakit tempat SKK terbaring lemah.
Ia menyentuh dada, leher, wajah, dan bekas-bekas luka SKK, mengingat tiap momen saat luka itu terbentuk dan bagaimana ia dulu tak bisa mencegahnya.
Walau luka itu bisa dihapus dengan teknologi, Liv menegaskan bahwa ia mengingat semuanya: rasa sakit, pergulatan, kelemahan, hingga mimpi SKK.
Ungkapan rasa terima kasih dan rasa tidak berharga
Liv mengucapkan terima kasih karena telah dilindungi oleh SKK dan Gray Raven, sambil merasa dirinya bukan orang yang istimewa dan hanya “beruntung” bisa berada di sana.
Ia merasa tak punya apa-apa untuk diberikan selain dirinya sendiri dan kenangannya.
Ia menggambarkan dirinya seperti sinar matahari di loteng, angin malam di reruntuhan—halus, hampir tak terdengar, tetapi tetap ada.
Hadiah perpisahan: bunga dari perahu kertas
Di samping ranjang, Liv menaruh perahu-perahu kertas yang ia lipat dari halaman buku hariannya selama tiga bulan.
Setiap perahu memuat abu, debu, darah, dan air mata—semua pengalamannya.
Dengan tujuh jarum suntik yang diberikan Asimov, ia menyusun perahu-perahu itu menjadi bentuk bunga Queen of the Night: bunga yang mekar singkat tapi indah, simbol hidupnya yang akan bersinar sebentar sebelum padam.
Doa, penyesalan, dan harapan akan “kehidupan setelahnya”
Liv mencium tangan SKK dan berkata agar tidak bersedih atas singkatnya hidup; selama ada yang mengingat, tiga jam bisa berarti keabadian.
Ia memohon maaf, mengakui bahwa meskipun ia siap berkorban dan tahu mimpinya mungkin sia-sia, di dalam hati ia tetap berharap ada “afterlife” dimana mereka bisa bertemu lagi.
Liv menangis tersedu-sedu, memanggil nama SKK, mencurahkan cintanya pada dunia: manusia, construct, mesin, hewan, bahkan bakteri—semua kehidupan indah yang layak diperjuangkan.
Alasan pengorbanan: menghapus Punishing Virus
Liv menyadari bahwa rumah dan masa depan semua orang telah direnggut oleh Punishing Virus.
Seseorang harus mengambil langkah pertama untuk menemukan cara memusnahkan virus itu, meski taruhannya adalah nyawanya sendiri dan perpisahan abadi dengan Komandan.
Ia menerima harga itu: hanya dengan lenyapnya Punishing Virus, manusia seperti SKK bisa hidup tenang.
Perpisahan dengan Gray Raven dan SKK
Liv menyelesaikan semua yang ingin ia sampaikan sambil menangis, sampai terdengar ketukan di pintu menandakan waktunya sudah tiba.
Ia merapikan bunga kertas, berdiri, lalu membungkuk dalam-dalam pada SKK.
Ia menyatakan bahwa adalah kehormatan bisa belajar dari semua orang di Gray Raven, meminta maaf karena harus pergi, lalu berkata bahwa inilah saatnya ia meninggalkan Gray Raven.
Dengan itu, Liv melangkah menuju adaptasi terakhir dan pengorbanannya, mantap pada pilihannya meski tahu ia akan pergi dengan penuh penyesalan.
Malam digambarkan kelam dan penuh kematian; nyanyian seorang gadis berubah menjadi requiem (nyanyian kematian).
Awan gelap menutupi langit, jeritan orang mati masih terasa, dan gelombang merah (seperti darah / Punishing) berusaha menarik jatuh pesawat transport.
Pesawat rusak dan mengeluarkan asap, tetapi tidak ada yang tewas; para Construct keluar dengan selamat menggunakan parasut.
Saat mereka mendarat, fajar mulai menyingsing—tanda harapan baru.
Di atas menara jam gereja, muncul sebuah frame putih, suci, seperti makhluk ilahi dengan sayap yang menentang gravitasi.
Gadis/frame ini akan menjalani pertarungan terakhirnya:
Ia bersedia menjadi wadah sains dan harapan.
Tujuannya menghapus bayang-bayang kelam Punishing Virus.
Ia melangkah di atas “tangga cahaya” dan secara simbolis menyatakan perang terhadap malam tanpa akhir (kegelapan dan Punishing).
Empyrea dan “obat” Punishing Virus
Liv menggunakan frame Empyrea sebagai “Omega Weapon” yang menyerap Punishing Virus.
Api gading Empyrea membakar Hetero-Creature dan mengusir virus dari banyak Corrupted serta Construct, membuat mereka sadar kembali. - Ini baru “setetes obat untuk luka sebesar planet”, tapi jadi titik awal besar bagi umat manusia.
Harga yang dibayar Liv
Karena Liv bukan agent seperti Ascendant, ia tidak bisa mengendalikan virus yang diserap.
Punishing Virus yang masuk ke M.I.N.D.-nya membawa data memori dari orang-orang yang mati dan Corrupted.
Hippocrates menjelaskan: memori-memori ini bercampur dengan ingatan Liv, mengancam jati dirinya—“mimpi kupu-kupu” versi Punishing.
Liv mengalami puluhan ribu kehidupan dan kematian sekaligus: rasa sakit, penyesalan, pengkhianatan, pengorbanan.
Ia “menjadi” banyak orang sekaligus: korban, pelindung, pembunuh, perawat, petani, gravedigger, dsb. Semua emosi dan tragedi menyatu jadi elegi kehidupan di dalam dirinya.
Dilema para peneliti dan petinggi
Dari sisi Babylonia (Collins, Asimov, Hassen, Hippocrates, Nikola, Hilda):
Mereka menyimpulkan proyek frame + Omega Weapon sukses secara teknis.
Namun, invasi memori akan merusak M.I.N.D. Liv parah; sekalipun selamat, hidupnya akan penuh nyeri dan bayang-bayang memori kematian orang lain.
Hippocrates sampai berkata: mungkin kematian adalah “pembebasan” terbaik untuk Liv.
Pengorbanan sadar Liv
Meski tersiksa oleh memori dan rasa sakit yang luar biasa, Liv terus maju, menolong satu demi satu orang yang masih bisa diselamatkan, menerima semua rasa sakit mereka:
“It’s okay… Let me take your pain…”
Ia menukar sisa waktu hidupnya untuk menyelamatkan sebanyak mungkin orang, sampai tubuh dan M.I.N.D.-nya hampir hancur total.
SKK terbangun
POV berpindah ke sang SKK yang terjebak dalam mimpi/ruang batin yang gelap, memanggil Lucia, Lee, dan Liv, tapi tak ada jawaban.
Sebuah suara asing namun lembut menawarkan bantuan: membangunkanmu lebih cepat agar kamu masih bisa membuat pilihanmu sendiri “sebelum hari Eternal Winter.”
Kamu meminta dibangunkan, dan tersadar di Star of Life setelah hampir tiga bulan koma sejak misi Pulia Forest Park.
Di sampingmu ada origami bunga Queen of the Night, bernoda tanah dan darah—simbol Liv dan pengorbanannya.
Keputusan menyelamatkan Liv
Hippocrates, Asimov, dan Presiden Hassen menjelaskan:
Untuk menjangkau M.I.N.D. Liv, koneksi langsung mustahil.
Kamu harus terkoneksi jarak jauh via anggota Gray Raven lain (Lucia/Lee/Chrome) sebagai “medium”, lalu memaksa masuk ke Deep M.I.N.D. Liv.
Risiko: kamu dan medium bisa terkena Punishing Virus dan overload informasi.
Di permukaan masih banyak Hetero-Creature, dan tubuhmu lemah meski dibantu exoskeleton.
Hippocrates menekankan: sekalipun Liv diselamatkan, M.I.N.D.-nya akan mengalami kerusakan permanen; dampaknya mungkin lebih buruk daripada mati.
Hassen mencoba menahanmu demi “masa depan cerah” seorang commandant, tapi kamu bersikeras pergi karena:
Liv membuat pilihan yang sama, dan
Liv adalah rekanmu.
Hassen akhirnya mengaku juga menunggu “keajaiban” dan memerintahkan persiapan keberangkatan. Transport craft akan dikirim untuk mengevakuasi Construct dan melindungi jalanmu menuju Liv.
Liv di ambang batas – Ascension-Network
Dalam kondisi nyaris hancur, Liv tersesat di ruang gelap—mungkin representasi Ascension-Network.
Teriakan “—Liv! Come back! I don’t want to lose anyone anymore!” memanggilnya dan memberinya sedikit pegangan pada dirinya sendiri.
Ruang kosong ini menjelma menjadi kota terbalik dengan geometri aneh, dipenuhi bayangan dan suara yang familiar–memori dan data dari Ascension-Network.
Liv mendengar suara seperti Asimov dan juga sesuatu yang mirip Gestalt, menjelaskan bahwa yang ia lihat hanyalah “interpretasi” dari sesuatu yang tak terbayangkan.
Di sini, Liv merasakan ketenangan yang mirip “kematian”. Ia sempat berpikir untuk “tinggal” di sini saja, merasa tugasnya sudah selesai.
Namun suara yang memanggilnya membuatnya ragu; ia bertanya apakah bisa “bertahan sedikit lebih lama lagi”.
Ruang itu membelah menjadi dua jalan: satu bertanda “FUTURE”, satunya “PAST” — simbol pilihan yang harus ia buat.
Sebuah suara berkata: “I hope you would not regret this decision,” menggaris-bawahi bahwa pilihannya sekarang akan menentukan penyesalan atau tidaknya di masa depan.
Liv telah gugur dan namanya terukir di monumen perang.
Ia menjadi salah satu dari banyak nama—manusia dan Construct—yang berkorban demi masa depan umat manusia. Kini, ia hanya bisa “melihat” masa depan sebagai sebuah simulasi/prediksi.
Lucia datang berziarah dan menyalahkan diri sendiri.
Lucia meletakkan boneka domba di depan monumen Liv dan curhat seorang diri.
Ia merasa bersalah karena tak bisa menyelamatkan Liv, dan marah kepada dirinya sendiri serta pihak yang menyembunyikan kebenaran soal Project Winter.
Ia menyadari bahwa kalau Liv tidak datang menyelamatkan mereka saat itu, Lee, Chrome, Changyu, Sophia, bahkan dirinya sendiri mungkin akan mati.
Kesimpulannya: tak ada cara untuk menyelamatkan Liv tanpa mengorbankan orang lain—dan Liv pasti tak ingin itu.
Lee juga datang, tapi ia sangat pendiam.
Lee hanya menyapa singkat, “Liv,” lalu terdiam lama.
Saat waktunya habis, ia cuma berkata bahwa ia datang untuk mengucapkan selamat tinggal.
Ia tak pernah kembali lagi ke monumen, dan masa depannya menjadi sesuatu yang bahkan tak bisa “dilihat” Liv.
Waktu berlalu: SKK dan Lucia akhirnya juga gugur.
SKK dan Lucia rutin datang berziarah, tubuh SKK menunjukkan bekas waktu dan pertempuran.
Musim dingin di permukaan kian berat.
Pada akhirnya, nama SKK lalu Lucia menyusul Liv di monumen perang.
Bertahun-tahun kemudian, Cosette datang.
Seorang Construct perempuan muda bernama Cosette berdiri di depan monumen Liv.
Ia mengaku sebagai bayi yang dulu diselamatkan Liv; orang tuanya mengorbankan diri karena yakin ia akan jadi “jenius”.
Cosette justru merasa dirinya biasa saja, Support-type Construct yang tak istimewa dan menganggap semua orang pasti kecewa.
Liv (yang tak dapat didengar) ingin menjelaskan bahwa orang tua Cosette hanya ingin ia bahagia dan punya kebebasan memilih masa depan, bukan menjadi “jenius”.
Cosette kehilangan semua orang dan menangis sendirian.
Di musim dingin yang berat, Cosette sudah kehilangan semua orang yang ia sayangi.
Ia bertanya-tanya tentang orang tuanya dan alasan mereka melahirkannya, lalu menangis di depan monumen karena tak punya lagi tempat bercerita.
Saat ia menangis, pemandangan memudar ditelan kabut putih.
Batas penglihatan masa depan Liv tercapai.
Liv menyadari: inilah sejauh mana prediksinya bisa melihat masa depan.
Ia mempertanyakan: “Apakah ini masa depan yang selama ini kuharapkan?”
Ia menyadari bahwa kematian adalah istirahat yang jauh lebih mudah dibanding menanggung semua rasa sakit dan penderitaan itu, tapi baginya, masa depan yang ia lihat terasa dingin dan tanpa warna.
Suara (entah sistem/algoritma atau entitas lain) menawarinya “jalan yang lebih menyakitkan” jika itu pilihan Liv, sambil memperingatkan agar ia tidak menyesalinya.
Liv di ambang kematian
Cerita dibuka dengan Liv yang baru saja menyelesaikan misi, tapi tubuhnya rusak parah dan ia sekarat.
Rekan-rekannya menangis, membahas betapa Liv terus menderita karena M.I.N.D. migraines dan death mirages.
“Pertemuan” di lautan bunga
Liv berjalan sampai dunia di sekelilingnya berubah menjadi lautan bunga.
Luka di dadanya berubah menjadi mawar dan terbang tertiup angin.
Di sana ia bertemu Lucia, Lee (dalam wujud siluet gelap), Hippocrates, dan sang SKK yang sudah tampak jauh lebih tua.
Terungkapnya penderitaan Liv
Hippocrates menjelaskan bahwa sejak memakai frame khusus, Liv terus disiksa sakit kepala M.I.N.D. dan bayangan kematian dari data memori.
Rasa sakit itu berkurang saat teknologi Deep M.I.N.D. ditingkatkan, tapi setelah SKK wafat, semua rasa sakit dan ilusi kembali, bahkan setelah ganti frame.
Hippocrates pernah ingin “mengakhiri” Liv dengan tenang agar dia tidak terus tersiksa, dan sampai ingin SKK merasakan sendiri sakitnya.
Bunga kertas dan kilas balik masa depan
SKK memberikan Liv bunga kertas yang memicu banjir ingatan: Liv melihat “masa depan” dirinya.
Ia mengingat menaruh bunga Queen of the Night di samping ranjang SKK, pertempuran di gereja, dan bagaimana ia selamat tapi menjadi “beban” bagi Gray Raven karena sakit dan mirages-nya.
Liv menjalani rehabilitasi panjang bersama SKK untuk beradaptasi dengan efek sampingan Deep M.I.N.D.
Masa depan umat manusia dan Cosette
Tahun‑tahun berlalu: Cosette tumbuh, mengetahui keinginan ibunya, lalu menjadi Construct Support yang hebat.
Gray Raven dan Cosette terus bertarung, menemukan teman baru dan kehilangan yang lama.
Meski Punishing Virus akhirnya bisa diatasi, bencana baru menimpa dunia — selalu ada “pertarungan berikutnya”.
Akhir perjalanan para tokoh utama
SKK wafat di tengah “musim dingin” panjang yang melanda dunia.
Menyusul kemudian pengorbanan Lucia, lalu Lee.
Luka dan pengorbanan mereka digambarkan sebagai parit dan obor yang membuka jalan hidup bagi orang lain.
Saat musim semi tiba dan salju terakhir meleleh, Liv pun akhirnya “jatuh” dan meninggal.
Reuni dan makna “kehangatan”
Kembali ke lautan bunga: SKK menawarkan Liv untuk bertemu yang lain di “seberang bunga”.
Liv, Lucia, Lee, dan SKK berjalan bersama ke “perjalanan baru” itu.
Narasi menyebutkan ini bisa jadi hanya mimpi terakhir, fragmen M.I.N.D., atau konstruksi Ascension-Network — tak ada yang tahu pasti.
Namun, pemandangan hangat ini justru mengungkap masa depan pahit: Liv hidup bertahun‑tahun dilanda sakit dan ilusi setelah kehilangan semua orang, sebelum akhirnya bisa berkumpul dengan mereka lagi.
Liv menyadari bahwa masa lalu/masa depan yang ia lihat tidaklah indah, namun ia tetap merasa hangat karena pada akhirnya bisa kembali bersama orang‑orang yang ia sayangi.
Lucia baru pulih dari infeksi dan akhirnya menyadari rencana Liv: Liv berniat mengorbankan dirinya. Lucia marah pada dirinya sendiri karena terlambat menyadarinya, dan bersikeras bahwa ia tidak mau kehilangan siapa pun lagi.
Lee dan yang lain (Chrome, Changyu, Sophia) tetap tinggal untuk menahan Corrupted dan Hetero-Creatures, sementara Lucia—satu-satunya yang bisa terbang—mengejar Liv di udara.
Situasi ini mencerminkan tragedi masa lalu Gray Raven lama, ketika mereka menjalankan misi dengan “anak” yang kebal Punishing Virus, yang berujung pada hilangnya tim Lucia. Seperti dulu, tidak ada kebohongan terang-terangan, tapi banyak kebenaran yang disembunyikan.
Lucia mengejar Liv dan berusaha membangunkannya, tapi Liv bergerak seperti boneka tanpa kesadaran, terus menjalankan prosedur yang bisa mengorbankan dirinya.
SKK terbangun dan menghubungi Lucia. Ia menjelaskan penjelasan Asimov: kondisi Liv bukan hanya infeksi, melainkan data memori yang terjun ke M.I.N.D.-nya, membentuk wujud seperti Hetero-Sapiens atau proyeksi Red Tide.
Rencana mereka:
Lucia harus “memaksa masuk” ke M.I.N.D. Liv dengan memanfaatkan keterhubungan tim Gray Raven.
SKK akan menstabilkan Mind Beacon dari jarak jauh.
Asimov memperingatkan bahwa virus dan data dalam M.I.N.D. Liv akan mengambil bentuk berdasarkan apa yang dikenal Lucia, dan mencoba menipunya. Lucia harus tetap fokus dan tidak terkecoh.
Hippocrates menegaskan: Liv harus “dibangunkan” dengan cara apa pun, atau koneksi jarak jauh akan gagal.
Meski sadar ini sangat berbahaya, Lucia tidak ragu. Setelah saling menguatkan dengan SKK (termasuk “fist-pump” lewat kamera), Lucia menerima ini sebagai “perintah” yang tidak boleh gagal: membawa Liv dan semua orang kembali dengan selamat.
Di akhir, Asimov memulai proses “force entry” ke M.I.N.D. Liv, dan Lucia bersiap masuk, memikul harapan dan kepercayaan semua orang saat hitungan mundur dimulai.
Evakuasi dan Pertempuran di Gereja
Setelah Liv menggunakan Empyrea dan terinfeksi berat, armada transport berhasil turun di sekitar gereja.
Hetero-Creatures berkurang drastis, tapi sepasang “kembar” (musuh kuat) masih bertarung di puncak menara jam.
Di bawah, kamu dibantu Changyu dan Sophia untuk menembus kerumunan Corrupted dan naik ke atas.
Lucia, Lee, Chrome vs Si Kembar
Di puncak menara, Lucia, Lee, dan Chrome yang baru saja “bangun” dari infeksi bertarung sengit melindungi Liv yang tak sadarkan diri.
Mereka berulang kali memanfaatkan Frost Spirit Chrome, prediksi tembakan Lee, dan serangan Lucia untuk menjepit si kembar, tetapi musuh terus belajar pola serangan mereka dan sembuh dengan menyerap Punishing Virus.
Setelah beberapa kali kombinasi serangan, mereka hampir menang, namun ketika mereka memakai serangan pamungkas dengan Frost Spirit, frame mereka membeku dan tidak bisa bergerak—tepat saat si kembar hendak menghabisi mereka.
Pengorbanan Liv dengan Empyrea
Liv memaksa bangkit dan mengaktifkan Omega Weapon (Empyrea), menciptakan ruang suci yang menolak tubuh si kembar yang terbuat dari Punishing Virus.
Api gading Empyrea membakar mereka, memaksa kembaran perempuan membawa pasangannya kabur ke langit.
Liv tidak terima dan mengejar ke awan, melepaskan serangan pemurnian raksasa bagaikan matahari jatuh, menghanguskan Punishing Virus, lalu kehabisan tenaga dan jatuh dari langit, siap mati tanpa penyesalan karena sudah melindungi teman-temannya.
Pelukan Terlambat dan Pilihan Liv
Sebelum menghantam tanah, Liv mendarat di pelukanmu.
Vital-nya turun drastis, infeksinya melonjak; kamu merasakan panas Punishing Virus menembus baju pelindungmu.
Dengan perangkat dari Asimov dan Hippocrates, kamu membuat Deep M.I.N.D. connection untuk menyatukan kembali pecahan M.I.N.D. Liv. Ia bangun sambil sakit hebat.
Kalung EMP di lehernya hampir meledak. Kamu memegang kunci disarm, tapi teringat peringatan Hippocrates bahwa hidup yang menunggu Liv mungkin lebih menyakitkan daripada kematian.
Dialog tentang Hidup, Penderitaan, dan Harapan
Sebelum menonaktifkan kalung, kamu bertanya: jika ia tahu masa depan hanya berisi rasa sakit dan perjuangan, apakah ia tetap mau melangkah ke sana?
Liv menjawab tanpa ragu: ya.
Ia tahu betapa menyakitkannya hidup (migraine M.I.N.D., kematian berulang di mirage, infeksi, dll.), tetapi tidak menyesal.
Ia balik bertanya kepadamu hal yang sama: jika kamu tahu takkan melihat hari pemulihan Bumi dan harus terus berperang sampai akhir hidup, apakah kamu tetap maju? Kamu juga menjawab “ya”.
Liv mengatakan ia tetap akan memilih hidup ini, mengenal kalian semua, mencintai kehidupan dan Gray Raven, dan berjalan menuju masa depan meski penuh penderitaan.
Baginya, kematian bukan menyerah, tetapi “mempersilakan hidup terus berjalan”; namun pilihan pribadinya adalah tidak pernah menyerah dan terus hidup bersama kalian selama mungkin.
Keputusan: Menyelamatkan Liv
Setelah mendengar jawabannya, kamu menegaskan bahwa kamu juga tidak akan menyerah dan akan membawanya pulang, apapun harga yang harus dibayar.
Kamu menonaktifkan kalung EMP. Liv akhirnya tertidur dalam pelukanmu, mempercayaimu sepenuhnya.
Setelah Pertempuran & Konsekuensi
Transport craft datang, Lucia membawa Liv ke dalam pesawat untuk dibawa ke Babylonia, sementara semua anggota regu yang tersisa kembali berkumpul, terluka tetapi hidup.
Asimov menjelaskan:
Infeksi Liv sudah melewati batas aman, sangat berbahaya.
Mereka harus menurunkan tingkat infeksi, mencari pecahan M.I.N.D.-nya, dan menilai apakah masih bisa diperbaiki.
Liv sebaiknya kembali ke frame Eclipse lebih dulu.
Waktu infeksi beratnya relatif singkat, jadi masih ada kesempatan; kalau lebih lama, arus data akan merobek dan menyeret pecahan M.I.N.D.-nya.
Hassen menambahkan tiga kabar baik:
Liv masih punya kesempatan untuk pulih.
Setelah si kembar kabur, serangan Hetero-Creatures terbang berkurang.
Senjata Omega dan frame khusus terbukti berhasil, membuka peluang serangan balik umat manusia.
Tujuh “Kesedihan” dan Cinta pada Kehidupan
Narasi puitis menutup bab ini, memakai metafora “ratu malam” dari kertas dan tujuh “kuncup/bud” yang mewakili tujuh “dukacita” (joy & sorrow, freedom, giving, ship, farewell, death, love).