Nirvatia, seorang Scout Carthaki, berada di rumah sakit lapangan di tepi sungai saat kota Carthaki dilanda bencana reaktor yang memicu wabah Punishing Virus. Ia sibuk menangani pengungsi dan korban luka dengan profesional, berusaha menenangkan dan menyelamatkan sebanyak mungkin orang.
Di pusat komando sementara, Kolonel Pavlov dan Mayor Li menerima laporan: kebakaran di institut riset belum jelas penyebabnya, Corrupted telah menembus garis pertahanan, dan hanya ada satu kapal perang tersisa yang hanya bisa mengevakuasi sekitar 1.200 dari sekitar 30.000 warga sipil yang berkumpul di tepi sungai.
Mayor Li mengusulkan memakai Gestalt untuk memilih siapa yang akan diselamatkan, namun Pavlov menolak karena itu berarti “memilih 29.000 warga Carthaki untuk mati.” Di bawah tekanan moral dan berita dari Babylonia (detailnya tidak diungkap, tetapi jelas sangat buruk), Pavlov putus asa dan menembak dirinya sendiri.
Di luar, para pengungsi dan tentara panik saat mendengar berita kematian Pavlov. Ketegangan memuncak ketika suara dengungan mendekat: ternyata itu serangan udara dari pihak yang telah terinfeksi Punishing Virus. Bom-bom besar dijatuhkan, namun sebagian besar meleset dari titik konsentrasi pengungsi sehingga korban di tepi sungai relatif minim.
Nirvatia melindungi seorang anak pengungsi dari ledakan, lalu bersiap kembali bertugas. Namun, sebelum sempat bertindak lebih jauh, ia ditikam dari belakang oleh Corrupted. Ia terluka parah, dunia di sekelilingnya berubah menjadi kekacauan penuh teriakan, tembakan, dan serbuan Corrupted yang menyapu garis pertahanan Carthaki.
Narasi mencatat tanggal tragedi: 16 Maret 2162, sebuah bencana besar yang menghancurkan Carthaki dan semua yang berharga bagi Nirvatia. Namun, ketika bertahun-tahun kemudian Nirvatia mengakses Arsip World Government, ia mendapati bahwa seluruh peristiwa Carthaki — insiden aneh, kota yang hancur, para prajurit yang gugur — telah dihapus dari sejarah resmi.
Potongan-potongan memori dan suara orang-orang di masa lalu (teman, orang dekat, seseorang yang menuduh bahwa Carthaki dan seseorang yang disensor namanya tidak pernah benar-benar diperhatikan, serta janji yang sebagian disensor) menunjukkan bahwa banyak kehidupan dan cerita telah terkubur dan dilupakan.
Ilusi kembali ke saat ia ditikam muncul: anak pengungsi memanggilnya, sementara Corrupted hendak membunuh sang anak. Nirvatia berusaha melindungi, tetapi narasi menegaskan bahwa “sejarah tidak peduli pada teriakan putus asa seorang gadis.”
Pada momen itu, waktu seakan berhenti dan “cermin masa lalu” pecah. Seorang perempuan dengan mata merah yang sama muncul dan menghancurkan Corrupted. Ia mengaku sebagai Nirvatia dari masa depan. Dunia di sekeliling terfragmentasi dan terungkap bahwa adegan itu adalah ilusi yang ditenun oleh Punishing Virus.
Nirvatia muda meminta agar Carthaki diselamatkan. Nirvatia masa depan menjawab bahwa ia datang justru karena hal itu, dan bahwa banyak nama tak terlihat telah membawa mereka sampai sejauh ini, menekankan bahwa hidup jauh lebih tangguh daripada yang dibayangkan.
Lalu latar beralih ke masa kini: Zaman Reconquista, beberapa dekade setelah insiden Carthaki. Nirvatia (masa kini/masa depan) akhirnya kembali menjejak tanah kelahirannya. Ilusi Punishing gagal menahannya, dan banyak Corrupted muncul dari kabut untuk mengepungnya.
Nirvatia berdiri di atas mayat musuh, merasakan kembali udara dan cahaya matahari di tanah ini. Dengan senyum penuh amarah dan penghinaan, ia menyatakan bahwa karena dunia telah memilih untuk melupakan, ia sendiri yang akan membawa kembali kebenaran.
Cerita ditutup dengan Nirvatia mengayunkan sabit raksasanya yang disertai kilat ungu.
Nirvatia bertarung melawan para Corrupted di pinggiran zona radiasi Carthaki dan dengan mudah menghabisi mereka.
Saat ia melapor melalui log misi, komunikasi terganggu oleh interferensi korosif dari “Red Mist”, dan konsentrasi Punishing di area itu meningkat tajam.
Di tengah gangguan statis dan siaran darurat tentang zona radiasi yang menyebar serta korban yang berjatuhan, Asimov memaksa sambungan komunikasi prioritas tinggi dengan Nirvatia.
Asimov memberi tahu bahwa meski operasi ini dijalankan Science Council, militer tetap berhak memerintah Nirvatia. Ia memintanya menangguhkan misi pengambilan data dan mengalihkan prioritas untuk membantu misi lain.
Nirvatia menolak secara prinsip, menegaskan bahwa sebagai Security Director, prioritas lapangan harus ditentukan olehnya. Ia menilai peningkatan Punishing di Carthaki berarti ini mungkin kesempatan terakhir memasuki zona radiasi dan mengambil data, dan ia tidak berniat mengubah fokus misinya.
Asimov, yang berada di Babylonia, meninjau berkas tentang Nirvatia dan mengungkap bahwa sejak 2162 Nirvatia sudah 79 kali mengajukan permohonan untuk menyelidiki zona radiasi Carthaki (51 permohonan sipil, 28 melalui jalur resmi Science Council), dan semuanya ditolak.
Asimov kemudian menjelaskan alasan baru: ekspansi zona radiasi memaksa Babylonia menarik pasukan yang mengejar seorang Ascendant, tetapi seorang operator manusia yang tertinggal di sana kini hilang kontak. Menolong orang ini sekaligus akan membantu misi Nirvatia.
Awalnya Nirvatia enggan, karena lelah dengan “ilmuwan gila” dari Section One dan Two, namun sikapnya berubah ketika Asimov menyebut nama orang yang hilang: SKK.
Asimov menekankan hubungan yang belum jelas antara hilangnya SKK, ekspansi zona radiasi, dan Ascendant, serta memintanya berhati-hati dan tidak merusak “peralatan” Science Council.
Nirvatia menyetujui untuk menangani “masalah mendesak” ini, tetapi menegaskan bahwa setelah itu ia tidak akan menerima perintah yang menunda misinya di Carthaki. Ia meminta koordinat tepat lokasi SKK.
Cerita ditutup dengan tekad Nirvatia: ia berbalik arah untuk menjemput SKK, menyatakan bahwa selama ia ada, tidak akan ada yang bisa melukai SKK.
SKK terbangun dari mimpi buruk tentang Red Mist dan serangan Corrupted. Ia ditolong oleh Nirvatia, yang memperkenalkan diri sebagai Direktur Keamanan Science Council.
Nirvatia mengobati luka serpihan di paha kanan SKK dan memeriksa kondisinya.
SKK mengingat kejadian tiga jam sebelumnya:
Nikola memerintahkannya segera menuju zona radiasi Carthaki untuk memimpin pasukan darat memburu Ascendant bernama “John Doe”.
Nikola menegaskan larangan keras memasuki zona radiasi karena Red Mist menimbulkan dampak mental berat, dan selama 29 tahun tidak ada yang kembali hidup dari zona itu.
Satu jam sebelumnya, di garis depan:
Pasukan Echo disergap John Doe di titik B-77, sementara Red Mist menyebar dan komunikasi terganggu.
SKK memerintahkan evakuasi pengungsi dan dirinya tetap di belakang untuk menahan Corrupted.
John Doe mengejek manusia yang merasa di ambang kemenangan, mengklaim punya pasukan Corrupted tak terbatas. Ia menyatakan bahwa “perkecambahan” sudah dimulai dan SKK akan menjadi “nutrisi pertama” bagi “dia”.
Red Mist menyelimuti area, SKK mulai kehilangan kesadaran meskipun memakai armor pelindung. Sebelum pingsan, ia mendengar John Doe berkata bahwa “Seedling” telah ditanam dan “mangsa berikutnya” akan segera datang.
Kembali ke masa kini, di dalam gedung:
Nirvatia selesai membalut luka dan menjelaskan bahwa mereka berada di Carthaki Experimental Secondary School, masih di dalam zona radiasi.
Mereka tidak terdampak langsung Red Mist karena Nirvatia membawa Red Mist Blocker, alat yang menetralkan Red Mist dalam area terbatas, mirip Omega Device. Ia mengklaim dirinya orang yang paling mengerti Red Mist di dunia.
Nirvatia mengungkap bahwa ia berada di zona tersebut untuk misi Science Council: mengumpulkan data uji dari Post-Pandemic Age.
Saat SKK mencoba menghubungi militer, terjadi guncangan besar:
Tanah bergetar hebat, kota Carthaki seperti “bangkit” kembali dengan jalanan retak, bangunan roboh, dan puing-puing berterbangan.
Dari bawah tanah muncul sebuah “pohon” raksasa bercahaya emas, dikelilingi puing bangunan dan logam yang mengorbit seperti cincin planet, dengan sulur-sulur dan tetesan bercahaya.
Konsentrasi Punishing Virus melonjak di terminal SKK, dan Red Mist Blocker mengeluarkan peringatan. Komunikasi militer gagal sepenuhnya.
SKK menduga pohon tersebut berkaitan dengan menyebarnya Red Mist dan teringat kata-kata John Doe tentang “Seedling”.
Nirvatia menyebut lokasi kemunculan pohon itu sebagai Carthaki Research Institute, “asal dari semua kehancuran ini”.
Kabut tebal bercahaya emas menyebar seperti salju di seluruh benua.
Sementara itu, di pinggiran zona radiasi Carthaki:
Pasukan manusia mulai mundur; kendaraan rusak dan perwira memerintahkan evakuasi cepat menjauh dari Red Mist, sekalipun artinya meninggalkan ribuan warga di sebuah kota satelit.
Seorang prajurit wanita yang sinis terhadap keputusan “mundur taktis” Babylonia berjalan sendirian menuju arah Carthaki.
Ia membawa surat undangan dengan peta Carthaki, pengirimnya adalah Nirvatia, dan mengaku lebih mengenal jalan pulang ke Carthaki daripada sang pengundang.
Saat masuk ke dalam kabut, ia diserang ilusi masa lalu: suara tawa anak-anak, gedung Carthaki Experimental Secondary School, dan kenangan masa kecil.
Ia menyadari itu hanyalah trik Red Mist, menepis ilusi tersebut, dan tetap meneruskan perjalanan menuju “kampung halamannya” di dalam zona.
Waktu dan tempat: Tahun 2162, di Carthaki Experimental Secondary School, kota industri/teknologi Akdilek yang dikelilingi pabrik dan fasilitas roket.
Nirvatia menjalani pemeriksaan psikologis dengan dokter sekolah.
Ia diminta menggambarkan gambar abstrak dan selalu mengaitkannya dengan “pohon” yang “terbakar” atau “berdarah,” di bawah langit gelap yang menekan.
Dokter menyimpulkan ia mengalami PTSD dan amnesia akibat trauma berat. Otaknya “melindunginya” dengan menekan memori menyakitkan.
Nirvatia sensitif terhadap suara keras seperti ledakan, uji mesin roket, atau suara mendadak; gejalanya berupa nyeri dada hebat, pusing, hingga pingsan.
Dokter menyatakan kondisi seperti ini bisa membaik lewat pengobatan, tetapi penyembuhan mental tergantung usaha dirinya sendiri.
Ia diberi obat yang harus diminum tiap pagi serta kunci asrama kamar 303, dan diberi tahu bahwa ia akan punya teman sekamar yang berkepribadian ceria.
Dokter juga memberi nasihat bernuansa religius dan filosofis:
Trauma adalah “musuh” sekaligus bagian dari dirinya.
Ia tidak harus “mengalahkan” trauma, tetapi menjalani proses “penebusan” demi menemukan cara hidup yang lebih damai.
Dokter menegaskan bahwa Carthaki adalah kota yang “cukup besar untuk memeluk semua luka,” dan menyambut Nirvatia sebagai bagian dari mereka.
Di asrama, fasilitas umum sangat lengkap dan ramai, berbeda dari bayangan Nirvatia.
Saat kembali ke area umum lantai satu, ia menemukan koper dan barang-barangnya sudah diacak-acak.
Seorang gadis bermata satu (Jagienka) sedang memainkan konsol gim genggam tua bertuliskan nama “Morigan,” milik Nirvatia. Bersamanya ada seorang anak laki-laki lemah (Zhang).
Konflik dengan Jagienka dan Zhang:
Nirvatia marah dan menuntut konsolnya dikembalikan serta meminta keduanya minta maaf.
Jagienka mengklaim semua barang di area bersama adalah “milik bersama” dan mencoba menunjukkan statusnya sebagai “bos.”
Nirvatia menolak aturan itu, menyatakan ia orang luar dan tidak terikat “aturan buatan” mereka.
Saat Zhang mencoba menyerangnya, Nirvatia dengan cepat melumpuhkan tangannya, menunjukkan kemampuan fisik yang baik.
Serangan PTSD Nirvatia:
Tiba-tiba terdengar suara ledakan roket dari luar. Nirvatia langsung tersungkur, kesakitan hebat dengan dada seperti tersengat dan suara denging di telinga.
Jagienka panik dan menyuruh Zhang memanggil dokter.
Dalam kondisi separuh sadar, Nirvatia mengalami kilas balik/halusinasi:
Ia melihat langit terbakar dan seorang perempuan yang memeluknya, berbisik agar ia terus berlari dan jangan menoleh ke belakang.
Ia yakin kata-kata itu sangat penting, tetapi detailnya tetap kabur.
Munculnya Margaret:
Nirvatia “kembali” ke ruang bersama asrama dan mendapati kepalanya berada di pangkuan seorang gadis asing yang memegang tangannya.
Gadis itu memperkenalkan diri sebagai Margaret dan memeriksa kondisi Nirvatia. Anehnya, gejala yang biasanya berlangsung lebih dari 10 menit hilang dalam waktu kurang dari satu menit.
Margaret mengembalikan kartu pelajar dan kunci kamar Nirvatia, lalu mengungkap bahwa ia juga penghuni kamar 303, berarti mereka adalah teman sekamar yang baru diatur sekolah.
Dinamika antara Margaret, Jagienka, dan Nirvatia:
Margaret langsung menegur Jagienka karena dianggap suka menggertak murid lain, dan memintanya mengulurkan tangan untuk mengembalikan konsol milik Nirvatia.
Jagienka, yang biasanya agresif, bersikap patuh terhadap Margaret dan terlihat malu.
Margaret menjanjikan kue buatan baru untuk Jagienka, dan ini cukup untuk menurunkan ketegangan.
Terbentuknya hubungan pertemanan:
Sebelum Margaret pergi, Nirvatia menghentikannya dan mengucapkan terima kasih sekali lagi.
Nirvatia dengan canggung bertanya apakah mereka bisa menjadi teman. Margaret sempat terkejut, lalu menjawab dengan antusias bahwa tentu saja mereka bisa, apalagi mereka sekamar.
Margaret menghadiahkan sebuah gelang dengan mutiara berwarna ungu muda kepada Nirvatia, serupa dengan gelang bermutiara kuning pucat yang dipakai Jagienka.
Margaret menyatakan bahwa mulai sekarang mereka adalah teman, dan ia menantikan persahabatan mereka. Nirvatia menyetujuinya.
Latar: Carthaki Experimental Secondary School tahun 2162, masa Post-Pandemic Age. Kelas pelatihan Scout dipimpin Mayor Li, instruktur utama yang terkenal galak dan suka pamer soal prestasinya.
Di kelas, Mayor Li mengajar penanganan medis di medan perang. Jagienka awalnya menjawab beberapa pertanyaan medis dengan benar dan bangga dengan prestasinya sebagai anggota klub terjun payung.
Saat Mayor Li menanyakan istilah medis untuk trauma psikologis akibat perang (reaksi teriak saat mendengar suara keras), Jagienka hanya menjawab secara emosional, bukan istilah medis. Mayor Li menegur bahwa itu masalah patologis yang butuh istilah dan penanganan profesional.
Di bangku belakang, Margaret asyik dengan kue “mirror glaze” yang ia buat bersama tante kantin. Nirvatia datang menegurnya karena semalam Margaret tidak kembali ke asrama. Margaret awalnya tidak mengenalinya, lalu baru ingat setelah melihat gelang ungu Nirvatia.
Margaret memaksa Nirvatia mencicipi kuenya meski Nirvatia bilang tidak suka manis. Ternyata Nirvatia mengakui rasanya enak, dan Margaret bersemangat ingin jadi pembuat kue terbaik di dunia.
Keributan mereka menarik perhatian kelas. Mayor Li memanggil mereka berdiri dan mengulang pertanyaan tentang kondisi “takut suara keras”.
Nirvatia langsung menjawab “shell shock”, menjelaskan bahwa itu trauma psikologis nonorganik yang butuh perawatan profesional.
Mayor Li memuji jawaban itu dan memberinya nilai tambah, mengingatkannya sebagai murid pindahan yang cerdas.
Jagienka cemburu dan merasa tidak adil karena ia sebelumnya menjawab lebih banyak pertanyaan. Ia menantang Nirvatia, meremehkan kemampuan menghafal dan mengklaim bahwa pilot butuh kemampuan berpikir, lalu menantangnya dengan soal matematika.
Duel matematika:
Jagienka memberi soal barisan geometri; Nirvatia menjawab cepat dan lengkap, menunjukkan dua kemungkinan jawaban (48 atau 243) berdasarkan dua nilai rasio yang mungkin.
Nirvatia balas memberi soal geometri segitiga siku-siku. Jagienka mencoba mengerjakan dengan Teorema Garis Bagi (Geometric Mean Theorem), tapi jelas mulai kesulitan.
Saat ketegangan memuncak, Mayor Li mendekat untuk menegur. Dalam kondisi frustrasi, Jagienka berteriak “Diam!” dan secara refleks melempar kue Margaret ke belakang. Kue itu mengenai Mayor Li dan membuatnya seperti “Santa Claus”, memicu keheningan total di kelas.
Akibat keributan di kelas, Mayor Li menghukum Nirvatia, Jagienka, dan Margaret dengan lari 5 putaran di lintasan luar sambil membawa ransel berbobot. Rute lari memutari kompleks pabrik roket Carthaki, terasa sangat panjang dan melelahkan.
Nirvatia kelelahan berat, berkeringat dan terengah-engah, menyesal tidak pemanasan. Jagienka, yang fisiknya jauh lebih kuat, bahkan sudah sempat satu putaran di depan.
Jagienka kembali mendekat, mengambil sebagian beban pasir dari ransel Margaret untuk membantunya. Ia menyombongkan diri bahwa ini ringan dibanding latihan klub, tapi dalam hati mulai merasa bersalah karena menyadari dua kemalangan Nirvatia sejauh ini adalah akibat ulahnya.
Saat Jagienka mencoba juga membantu meringankan beban Nirvatia, Nirvatia menepis tangannya dan berkata, “Jangan sentuh aku. Aku bisa mengurus masalahku sendiri,” lalu mempererat tali ransel dan berusaha berlari di depan.
Jagienka tersinggung dan memutuskan untuk bersikap kompetitif kembali, bertekad tidak akan menolong Nirvatia lagi, bahkan kalau pun Nirvatia sampai jatuh atau memohon. Ia langsung mempercepat lari, melewati Nirvatia sambil meneriakkan lagi, “Di kirimu!!”
Di Zona Radiasi Carthaki, SKK dan Nirvatia dikejar ratusan Corrupted. Untuk mengurangi jumlah musuh, Nirvatia memutuskan memanfaatkan sebuah pabrik roket Carthaki.
Nirvatia memancing Corrupted masuk ke dalam koridor pabrik, berdiri di antara deretan mesin roket, lalu memberi aba-aba pada SKK di ruang kontrol. SKK menekan tombol pengapian, menyalakan mesin roket yang memancarkan plasma luar biasa kuat dan membakar ribuan Corrupted dalam sekejap.
Setelah itu, asap dan panas menyelimuti area. SKK bergegas turun mencari Nirvatia dan menemukannya terhuyung, kulitnya terasa sangat panas dan kelelahan. Ia menyangkal luka fisik berat, tetapi kemudian kolaps di meja, vial obatnya berjatuhan.
SKK memeriksa tubuhnya dan kemudian mencoba menghubungkan M.I.N.D., tidak menemukan infeksi Punishing Virus tetapi merasakan “kehampaan” dingin dan sebuah pusaran raksasa yang menelan segala niat dan pikiran. Di tepinya, tampak fragmen ingatan Nirvatia.
Nirvatia, dalam keadaan lemah, meminta “resepnya” (obat penenang). SKK menyuntikkan serum ke perangkat di dadanya dengan bimbingannya, sementara ia menahan rasa sakit hebat hingga akhirnya mereda.
Setelah stabil, Nirvatia menjelaskan bahwa ia bukan terinfeksi virus, tetapi mengidap gangguan mental berat yang sudah lebih dari 20 tahun. Operasi menjadi Construct tidak menyembuhkan “pusaran” di dalam batinnya. Ia mengandalkan obat penenang untuk menekan gejalanya, yang dapat dipicu oleh hal besar maupun sepele.
Komunikasi singkat dengan militer menunjukkan sinyal bermasalah, tetapi mereka menyiarkan adanya “kota satelit” di luar Carthaki dan menyarankan SKK mengungsi ke sana. Nirvatia menolak, karena zona radiasi sedang berkembang dan “pohon emas” terkait Punishing Virus tidak boleh dibiarkan.
SKK menyarankan Nirvatia beristirahat atau menuju kota satelit, namun ia menegaskan bahwa kondisinya bukan urusan SKK, ia bisa menjaga dirinya sendiri. Ia diutus Asimov ke Carthaki untuk memulihkan data riset M.I.N.D. dan secara pribadi ingin mengungkap penyebab sebenarnya “Great Akdilek Explosion” yang menghancurkan kampung halamannya.
Dengan tekad kuat, Nirvatia menolak membiarkan SKK maju sendirian ke zona radiasi dan menyatakan bahwa perlindungan umat manusia dari ancaman masa depan adalah kewajiban mereka berdua. Mereka memutuskan segera bergerak menuju sumber masalah tanpa beristirahat lagi.
Sementara itu, di pinggiran Zona Radiasi Carthaki, seorang prajurit manusia bernama Zhang berusaha melindungi pengungsi dari Corrupted. Ketika situasi genting, seorang perempuan berpenutup mata, Jagienka, muncul dari pepohonan.
Jagienka menggunakan rantai dan senapan untuk menghabisi Corrupted dengan cepat dan memerintahkan para pengungsi untuk segera pergi karena area tidak aman. Zhang mengenalinya sebagai “Boss”-nya dari masa lalu. Setelah saling memastikan identitas, mereka berbicara singkat.
Zhang menjelaskan bahwa Red Mist tiba-tiba menyebar dari seberang sungai, komunikasi dengan Babylonia terputus, banyak pengungsi dan satuan pemerintah bercampur di kota satelit, dan pasukan mereka hanya cukup untuk bertahan, bukan menerobos keluar. Kabut di sisi mereka masih tipis sehingga belum mematikan.
Jagienka menimbang bahaya Carthaki, lalu menanyakan persediaan peluru sniper kaliber tinggi dan serum di kota satelit karena ia butuh mengisi ulang perlengkapan. Mendengar persediaan ada, ia memutuskan ikut Zhang kembali ke kota satelit.
Ketika Zhang bertanya tujuan Jagienka, ia menunjukkan surat bertanda tangan “Nirvatia” berisi informasi tentang kebenaran di balik “Great Akdilek Explosion”, dan menyebut bahwa ada kabar Margaret masih hidup. Emosi yang lama terpendam muncul saat ia menyebut nama itu.
Di Carthaki Experimental Secondary School tahun 2162, Zhang yang sedang berlatih basket diusir dan di-bully oleh sekelompok siswa klub basket yang ingin memakai lapangan untuk persiapan pertandingan.
Mereka mengejek kemampuan Zhang, melempar batu hingga melukainya, dan mengeroyoknya sambil memanggilnya “circus freak”.
Jagienka datang dan langsung menghajar salah satu pembully, mengancam akan memukul mereka sampai babak belur jika tidak mundur.
Pemimpin kelompok menyebut latar belakang keluarganya (orang tua martir Angkatan Udara), membuat Jagienka marah besar.
Situasi hampir berubah menjadi perkelahian massal, tetapi Nirvatia dan Margaret muncul.
Nirvatia menggunakan ancaman konsekuensi resmi: perkelahian bisa mendiskualifikasi mereka dari penilaian Scout besok, merusak peluang gelar “Dominik Patrol”, dan memicu hukuman dari Major Li.
Karena takut konsekuensi, para pembully akhirnya mundur.
Zhang berterima kasih, lalu pergi ke UKS sendirian.
Nirvatia menolak ucapan terima kasih Jagienka dan mengatakan ia hanya bertindak demi penilaian Patrol mereka, tidak ingin nilainya jatuh karena satu orang, lalu pergi dengan sikap dingin.
Margaret menyinggung apakah Jagienka sudah berdamai dan minta maaf pada Nirvatia.
Margaret menyemangati Jagienka agar lebih proaktif, tidak terus terjebak masa lalu, dan berjanji (pinky promise) bahwa lain kali jika ada masalah, Jagienka harus mencari Nirvatia atau Margaret dulu, bukan langsung main pukul.
Sore hari, hampir seribu murid mengikuti acara rally prapenilaian di Carthaki Research Institute, di depan Alliance Heritage Monument berbentuk pena, dengan moto “For a Better Tomorrow”.
Jagienka menjelaskan pada Margaret tentang arti monumen dan motonya, yang juga menjadi semboyan Carthaki dan tertulis di halaman pertama buku panduan Scout.
Nirvatia sedang bertugas di belakang panggung sebagai staf, menunjukkan bahwa ia sering “mencuri perhatian” lewat pencapaian resmi.
Major Li memperkenalkan Gregory, seorang pekerja industri yang telah mengabdi 30 tahun.
Gregory mengungkap bahwa karena luka perang lama (serpihan peluru di hati/liver) kambuh, dokter memvonis hidupnya tinggal kurang dari dua bulan.
Ia menceritakan:
30 tahun lalu, sebagai Carthaki Scout, ia dan sekitar 400 pemuda membangun rel kereta sempit dalam badai salju minus 30 derajat demi memastikan rakyat Carthaki mendapat batu bara dan kayu bakar.
Setelah mereka selesai, dari rel itulah bahan baku roket “Alliance 10” diangkut. Roket ini melambangkan ambisi era Keemasan yang meluncur ke luar angkasa.
Dari pengalaman itu, ia menemukan makna hidup: hidup dan bekerja keras (labor) dalam perjuangan kolektif, di mana bahkan prestasi kecil menjadi mulia.
Ia juga menyinggung keberhasilan 10 tahun lalu: para pemuda dan pekerja Carthaki menaklukkan tantangan energi M.I.N.D. dan menyelesaikan Reaktor Carthaki No. 4 yang kini menyuplai kebutuhan 35.000 orang.
Kemudian ia beralih ke situasi kini:
Satu tahun lalu, Punishing Virus menghancurkan peradaban modern dan menyeret dunia ke perang dan kematian.
Meski demikian, mereka telah berhasil menghentikan laju virus di Atlantik dan Kowloong.
Menurutnya, teknologi bisa mereka matikan karena mereka sendiri yang menciptakannya; yang penting adalah semangat persatuan dan pengorbanan.
Ia menekankan bahwa nilai seseorang diukur dari seberapa besar kesediaan berkorban demi tujuan yang benar.
Ia menyerukan pada generasi muda (para Scout) agar meneruskan perjuangan generasi sebelumnya untuk menahan laju Punishing Virus dan terus hidup serta bekerja dengan penuh semangat demi segala yang mereka sayangi.
Ia mengakhiri dengan pekikan “FOR A BETTER TOMORROW!”, disambut sorak dan tepuk tangan meriah. Banyak murid merasa tersentuh dan merasakan tujuan bersama, meski mungkin tidak sepenuhnya memahami kedalaman pesannya.
Pemimpin klub basket mengejek pidato Gregory sebagai propaganda dan mengeluh karena tidak bisa melihat laporan pertempuran dari Kolonel Pavlov.
Jagienka marah, membela isi pidato sebagai sejarah dan pondasi keyakinan serta disiplin yang membuat orang mau mengangkat senjata dan menang melawan Punishing Virus.
Margaret memberi jawaban yang lebih lugu dan damai: menurutnya yang penting adalah mereka bisa berpartisipasi bersama, dan jika itu adalah hal terakhir yang ingin disampaikan Gregory sebelum meninggal, pasti itu sangat berarti baginya; jadi tidak perlu bertengkar tentang hal itu.
Setelah acara, bukannya kembali ke asrama, Nirvatia pergi ke bukit belakang sekolah dengan senjata latihannya.
Pidato Gregory memberinya dorongan batin yang kuat: ia melihat contoh seorang “pasien” (orang sakit/terbatas) yang tetap memberi kontribusi besar lewat kerja keras. Itu membuatnya percaya bahwa orang tersisih dan tersesat sepertinya juga bisa menemukan tempat di dunia melalui usaha.
Di lapangan tembak, ia menemukan papan kayu bertuliskan: “Berhenti gemetar. Target tidak akan mengasihanimu. —Jagienka, penembak dengan skor tertinggi di lapangan ini.”
Nama Jagienka membuatnya kesal, tetapi ia menenangkan diri, memegang senapan, membayangkan wajah Jagienka di target, lalu menembak.
Nirvatia kembali ke asrama larut malam dan mengira Margaret tidak ada, tetapi ternyata Margaret dan Jagienka menyiapkan kejutan ulang tahun untuknya. Mereka memutuskan menjadikan tanggal masuk Nirvatia ke Carthaki sebagai “hari ulang tahunnya” dan menegaskan bahwa mereka sekarang adalah “keluarga”.
Suasana hangat ini terputus oleh sirene serangan udara. Komando distrik mengumumkan bahwa Carthaki diserang Corrupted, dan seluruh pasukan diminta ke posisi tempur. Ancaman besar: beberapa brigade Corrupted bergerak ke arah Carthaki, dan dukungan udara resmi baru akan tiba dalam sekitar 35 menit.
Di pos komando, Kolonel Pavlov menghadapi situasi genting: batalion garis depan terpukul keras, pertahanan ditembus drone Corrupted, dan tidak ada cadangan. Ia menolak permintaan dukungan udara rendah karena risiko infeksi Punishing Virus ke pesawat canggih.
Gregory muncul bersama 152 anggota Milisi Pekerja Carthaki. Ia memberi tahu bahwa di gudang tua (“Graveyard”) masih tersimpan tank, kendaraan, dan pesawat era sebelum Golden Age, sebagian masih bisa diterbangkan dan dirawat oleh klub terjun payung. Rencana: pekerja akan membuka akses ke gudang itu, militer menggunakan pesawat lama sebagai dukungan udara yang tahan gangguan virus (karena minim komponen pintar).
Di sektor K-20-2, Kapten Zana memimpin pasukan dalam jebakan lembah: mereka meledakkan tebing dan menghujani Corrupted yang terperangkap, tetapi kemudian diserang balik oleh drone berat di udara. Pasukannya menjadi sasaran tembak terbuka dan hampir dihancurkan.
Saat Zana hampir mati ditembaki drone, tiga pesawat serang darat tua bermarka bintang merah (IL-2) muncul, menembaki drone dan merebut kembali keunggulan udara. Ini hasil pengaktifan “Graveyard” oleh Milisi Pekerja dan militer.
Tekanan di garis depan berkurang, tetapi Major Li mendeteksi suara Corrupted jenis “Excavator” dari jaringan bawah tanah di bawah kota Carthaki, bukan dari permukaan. Analisis peta bunker bawah tanah menunjukkan sekitar 34 unit Corrupted bergerak menuju blok hunian dan terutama ke pabrik roket—target strategis vital.
Pavlov menyimpulkan musuh ingin meledakkan Carthaki lewat pabrik roket. Ia memerintahkan semua unit siap tempur menyeberang kembali ke kota, tapi waktu tidak cukup. Major Li menyarankan mengerahkan para Scout yang sudah siaga di kota. Pavlov menyetujui, memerintahkan formasi bertahan jarak jauh, dan menjadikan situasi ini “uji lapangan” untuk “sang anak”, yaitu Nirvatia.
Di perimeter pabrik roket, Nirvatia bersama Jagienka dan Margaret (Patroli E) menempati posisi di asrama pekerja. Nirvatia menjadi penembak utama, menahan Corrupted yang mendekat di satu-satunya jalur ke pabrik. Mereka berkomunikasi lewat radio dan berusaha saling menenangkan.
Kontak pertama: Nirvatia menembak Corrupted dengan akurat, membunuh beberapa target. Jagienka dan Margaret melakukan manuver pengapit, memanfaatkan balkon yang saling terhubung untuk bergerak cepat dan menembaki dari sisi. Dalam beberapa menit, sebagian besar Corrupted di jalur itu berhasil dilumpuhkan.
Seorang lansia berteriak; seekor Corrupted lolos dan menyusup ke gedung lain. Nirvatia tidak punya sudut tembak dan terjun langsung untuk pertarungan jarak dekat dengan bayonet. Serangannya hanya menggores pelindung logam; Corrupted membalas, menghantam senapan Nirvatia hingga ia terlempar menembus kaca, mengalami cedera berat (patah tulang rusuk dan batuk darah).
Saat Nirvatia hendak membalas tembakan, pesawat pengebom World Government mulai membombardir seberang sungai. Ledakan besar dan kilatan cahaya memicu kilas balik traumatis dalam diri Nirvatia tentang masa lalunya (suara perempuan yang menyuruhnya terus berlari dan jangan melihat ke belakang), membuatnya lumpuh ketakutan sejenak.
Corrupted hendak menghabisi Nirvatia. Margaret menerjang masuk, menahan serangan dengan pistolnya yang langsung hancur, lalu dihajar dan dilempar Corrupted. Nirvatia yang kesakitan total tidak bisa bangkit.
Jagienka datang terakhir: ia mengangkat batu raksasa dan meneriaki Corrupted, lalu melompat dan menghancurkan musuh itu dengan batu, menghentikan ancaman. Setelah itu kesadaran Nirvatia memudar; ia samar-samar melihat kedua temannya mendekat sebelum pingsan.
Nirvatia terbangun saat fajar. Medan tempur kini sunyi, diterangi cahaya keemasan. Ia disandarkan dan dipapah oleh Margaret dan Jagienka di jalan pusat kota, dikelilingi dokter, Scout yang terluka, dan warga.
Mereka menyadari bahwa Carthaki berhasil dipertahankan. Kolonel Pavlov menyiarkan pidato kota: ia memuji pekerja, tentara, dan pelajar yang bersatu menghadapi serangan masif Punishing Virus, menyanjung Milisi Pekerja yang mengubah arah perang, dan memuji para Scout yang melindungi pabrik roket. Ia secara resmi menyatakan seluruh siswa program Scout tahun itu lulus evaluasi pertempuran.
Major Li kemudian muncul bersama wartawan World Government untuk mencari Patroli E. Di depan kerumunan, ia membacakan keputusan komando: berkat keberanian, ketenangan, dan jumlah eliminasi Corrupted tertinggi sekaligus perlindungan warga, Patroli E (Nirvatia, Jagienka, Margaret) dianugerahi gelar bergengsi “Dominik Patrol” tahun ini.
Para wartawan memotret mereka; ketiganya masih terkejut tapi bangga. Mereka bergandengan tangan dan berteriak ke arah kamera: “For a better tomorrow!”
Jagienka tiba di Carthaki Satellite City, sebuah kota kumuh di tepi zona radiasi, dan menerima suplai senjata serta serum dari Zhang.
Zhang menjelaskan kondisi Carthaki: Babylonia secara politis tidak menindas, tetapi praktis menelantarkan; rantai industri hancur, orang hanya “bertahan hidup”, dan Punishing Virus telah memutus koneksi antarmanusia serta fondasi peradaban.
Jagienka mengungkapkan ia datang atas surat dari Nirvatia, yang mencurigai Great Akdilek Explosion terkait Margaret dan seorang Ascendant. Ia ditugaskan menyelidiki, namun zona radiasi justru meluas saat ia tiba.
Komandan Li muncul; ia dulunya instruktur Jagienka dan kini memimpin kota. Ia mengajak Jagienka melihat keadaan kota: ribuan pengungsi dan prajurit yang mundur menekan sumber daya yang sudah minim, sementara Red Mist dan serangan Corrupted mengancam dari luar.
Data situasi: penduduk kota sekitar 2832 orang, tetapi dalam 24 jam terakhir lebih dari 2000 pengungsi dan prajurit yang kacau telah masuk. Pertahanan kelelahan, dan mereka kekurangan pasukan untuk mengawasi pengungsi.
Li berencana mengerahkan seluruh kekuatan untuk menerobos kepungan Corrupted dan mengevakuasi sekitar 4000 orang, meski sangat berisiko. Ia berharap keberhasilan ini akan menumbuhkan kepercayaan pada Oasis (Forsaken) lebih daripada pada Babylonia, dan menjanjikan dukungan Carthaki pada Forsaken di masa depan.
Jagienka awalnya menolak terlibat karena merasa sekarang ia milik Forsaken dan bukan lagi orang Carthaki, serta ia punya misi pribadi mencari Margaret.
Sebuah ledakan dan kerusuhan di gerbang selatan memotong pembicaraan. Pengungsi menuntut perawatan medis untuk seorang gadis berusia sekitar 16 tahun yang demam berat, sementara tentara yang tertekan hampir menembaki kerumunan.
Saat seorang prajurit hendak melepaskan tembakan ke arah massa, Jagienka maju, membongkar senjatanya dalam sekejap, dan menengahi situasi. Ia menegaskan bahwa senjata harus diarahkan pada musuh, bukan sesama manusia.
Komandan Li secara terbuka mengakui Jagienka sebagai “orang kita” dan memintanya membantu mengatasi krisis ini. Jagienka, setelah melihat kondisi pengungsi dan konflik, akhirnya setuju bekerja sama.
Sebagai “bayaran”, ia bercanda meminta mobil Li yang “turbonya di depan dan menyembur api dari belakang”. Li malah menyerahkan semua kunci mobilnya, menandakan keseriusannya.
Lokasi: Kota pusat di Zona Radiasi Carthaki, dalam perjalanan menuju pohon emas yang raksasa.
Saat berjalan, alarm Punishing di armor SKK berbunyi. Nirvatia menduga Red Mist mengganggu sistem dan mengajak mencari tempat istirahat.
Mereka masuk ke sebuah garasi mewah penuh mobil yang kontras dengan reruntuhan di luar. Nirvatia tampak mengenali tempat itu dan masuk ke salah satu mobil, mengajak SKK duduk.
SKK melepas armor agar Nirvatia bisa memeriksa dan mengatur ulang parameternya. Ia menambahkan sensor untuk memantau kondisi tubuh SKK secara real-time.
Nirvatia menyalakan musik, menjelaskan bahwa ia terbiasa bekerja dengan musik saat mengerjakan hal penting. Ia menganggap SKK sebagai sesuatu yang “penting”.
Obrolan beralih ke masa lalu:
Garasi itu dulunya adalah “surga kecil” Major Li, yang gemar mobil dan fashion.
Mereka membicarakan pengalaman SKK dalam berbagai misi berbahaya di berbagai wilayah (Transatlantic, Akdilek, ARU), dan Nirvatia menilai SKK seolah selalu “menang undian” dalam situasi hidup-mati.
Mereka berdiskusi soal ketidakadilan realitas, takdir, bakat, dan nilai kontribusi masing-masing orang.
Nirvatia kemudian mengungkap kelemahannya:
Ia “buta total” dalam urusan mengemudi.
Kondisi M.I.N.D.-nya dipicu oleh mobil, terkait dengan peristiwa Great Akdilek Explosion, ketika seseorang yang ia anggap keluarga tertinggal selamanya di kota itu, dalam sebuah perpisahan yang berkaitan dengan mobil.
Sejak bangun dari kondisi itu, gangguan pada M.I.N.D.-nya selalu mengikutinya, hingga menjadi bagian dari dirinya. Ia bahkan sulit membayangkan hidupnya jika suatu hari benar-benar sembuh.
Ia menjelaskan bahwa:
Penyembuhan kondisi M.I.N.D. pun tidak bisa dijamin bahkan oleh Asimov.
Ia datang ke sini untuk mengambil data terkait.
Nada menjadi sedikit lebih hangat dan bercampur harapan:
SKK menawarkan kemungkinan mengajarinya menyetir jika suatu hari ia sembuh.
Nirvatia bercanda akan memberi SKK posisi khusus di Science Council sebagai asisten, pengawal, dan sopir pribadi.
Ia meminta SKK, kalau hari itu tiba, mengajaknya berkeliling melihat tempat-tempat yang pernah SKK kunjungi.
Di sisi lain, Nirvatia juga berulang kali menyelipkan candaan sinis tentang kematian, bahkan mengatakan mungkin ia akan mati di sini.
SKK menegaskan bahwa mereka berdua akan selamat dan bahwa cerita mereka tidak akan berakhir di sini.
Nirvatia menerima “janji” itu dan mereka mengikatnya dengan janji kelingking: “Cerita kita tidak akan berakhir di sini.”
Tepat setelah momen hangat itu, gempa dahsyat terjadi:
Mobil dan ornamen di garasi bergetar hebat, lampu dan batuan runtuh menimpa mobil-mobil.
Nirvatia menarik SKK keluar dan mereka berdua lari meninggalkan garasi.
Gempa mereda setelah sekitar sepuluh detik.
Di luar, mereka menyaksikan perubahan besar:
Pohon emas raksasa di kejauhan menerobos bangunan yang menahannya dan terus tumbuh menembus langit.
Nirvatia merasa ada yang tidak beres dan mendeteksi 12 sinyal kehidupan manusia tepat di depan mereka.
battle
Pertempuran dibuka dengan seorang gadis berambut perak (dalam wujud “phantom”) yang menghabisi Corrupted terakhir, lalu tubuhnya hancur dan berubah menjadi cahaya keemasan.
John Doe (Ascendant) menertawakan hasil “phantom” itu dan menyebutnya “Golden Oak”.
Nirvatia menyerang John Doe dengan sabit raksasanya, tetapi ia berulang kali menghalangi serangannya dengan mengendalikan mayat Corrupted dan menjadikannya perisai.
Saat John Doe kembali membentengi diri dengan tumpukan mayat Corrupted, Nirvatia memanggil SKK untuk melakukan serangan dari samping.
SKK menembak John Doe dengan peluru khusus yang menembus armor dan melelehkan struktur internalnya, hingga tubuh Ascendant itu runtuh menjadi tumpukan logam.
Para pengungsi keluar dari persembunyian dan bertanya apakah Ascendant sudah benar‑benar mati. SKK menegaskan bahwa John Doe punya banyak “vessel”, tapi untuk saat ini tempat itu aman.
Nirvatia batuk vital fluid dan hampir roboh; ia kelelahan dan terpengaruh Red Mist, namun tetap berusaha menjaga wibawa di depan para pengungsi.
Alat pendeteksi di pinggang Nirvatia memberi peringatan bahwa Red Mist akan segera kembali. Ia menjelaskan sistem purifikasi hanya bisa menekan, bukan menghilangkan kabut tersebut.
Seorang pengungsi perempuan menyebut ada siaran militer mengenai kota satelit di selatan sungai yang memiliki CPF, yang “secara teori” menjadi zona aman terdekat jika masih berfungsi.
Seorang pengungsi laki‑laki mengingat sebuah perahu kecil yang ditinggalkan Ascendant di tepi sungai, cukup untuk membawa semua orang. Para pengungsi menaruh harapan pada keputusan SKK.
SKK memperkenalkan diri sebagai pemimpin Gray Raven dan memutuskan untuk mengevakuasi semua pengungsi ke kota satelit tersebut, menunda rencana untuk masuk lebih dalam ke zona radiasi.
Rombongan bergerak ke selatan melalui jalanan yang hancur dan, untungnya, tidak bertemu musuh. Setelah sekitar 15 menit, kondisi Nirvatia perlahan membaik dari pengaruh Red Mist.
SKK menanyakan identitas gadis berambut perak tadi dan alasan kemunculannya dalam bentuk tersebut. Pertanyaan ini memicu reaksi mental dan emosional hebat pada Nirvatia.
Nirvatia tersentak oleh ingatan: suara seorang gadis (Margaret) yang mengatakan mereka akan menjadi teman dan memintanya berjanji sesuatu (bagian kalimat tersensor).
Ledakan rasa sakit dan kebisingan mental menghantam Nirvatia; ingatan‑ingatan kabur dan banyak nama/wajah bercampur, memicu trauma lama yang telah terpendam selama puluhan tahun.
Nirvatia menyebut nama “Margaret”, berjuang menahan sesuatu di dalam dirinya yang seolah ingin keluar dan menghancurkan dirinya dari dalam.
SKK menenangkannya, dan pada saat kritis itu ia merasakan kembali “kehangatan yang familiar” ketika SKK menggenggam tangannya dan membantunya keluar dari “jeratan” mental tersebut, sambil menghubungkan M.I.N.D.
Nirvatia menyadari bahwa Margaret sering "menghilang" dari asrama selama 1–2 hari, lalu kembali dalam kondisi fisik yang makin memburuk (pucat, demam, lemas), namun selalu menutupi alasannya dengan cerita dan hadiah kecil seperti buah atau kue.
Jagienka kemudian memergoki Margaret dijemput oleh seseorang dengan mobil sedan, yang ternyata adalah Major Li. Ketika didesak, Margaret mengaku ia dibawa ke tempat jauh dengan izin khusus Major Li, tetapi tetap menolak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, hanya meminta Nirvatia dan Jagienka percaya bahwa ini demi ia bisa tetap bersama mereka sebagai “keluarga”.
Kondisi Margaret kian parah; suatu malam ia nyaris pingsan saat kembali ke asrama, demam tinggi dan nyaris tidak kuat bernafas. Nirvatia berusaha memintanya jujur dan menegaskan bahwa yang ia inginkan adalah keselamatan Margaret, bukan hadiah-hadiah kecil. Margaret hanya mengatakan “waktunya hampir tiba” dan meminta lampu dimatikan agar ia bisa beristirahat.
Di sisi lain, Major Li terlihat santai di kantornya dan menunjukkan ambisi pribadi (mengurus apartemen baru untuk ibunya, dekorasi kantor, dan sebagainya). Ia kemudian disergap oleh dua penyerang tak dikenal, dibius, dan diculik.
Ternyata, para penyerang adalah Nirvatia dan Jagienka. Mereka membawanya ke ruang komando bawah tanah, mengikat, dan menginterogasinya dengan ancaman penyiksaan (Jagienka memanaskan tang).
Tertekan, Major Li mengaku bahwa ia memang membawa Margaret ke Carthaki Research Institute, fasilitas rahasia di bawah Alliance Heritage Monument yang dikendalikan langsung World Government dan Babylonia. Ia mengklaim tidak ada eksperimen kejam, hanya “pekerjaan resmi” yang diawasi Control Court, dan ia sendiri tidak peduli apa yang dialami Margaret, asalkan membawa tambahan pendanaan untuk Carthaki.
Ia menyebut Margaret awalnya hanya dibawa sebulan sekali, tetapi belakangan frekuensinya meningkat. Jagienka dan Nirvatia menolak membiarkan Margaret dibawa lagi karena kondisinya yang memburuk.
Major Li telah mengantisipasi situasi ini dengan memasang pelacak di jam saku emasnya. Ia mengaktifkannya, memicu kedatangan pasukan bersenjata. Para prajurit masuk, membebaskannya, dan menahan Nirvatia serta Jagienka.
Major Li menuduh keduanya menyerang perwira militer dan memerintahkan agar mereka ditahan di sel sementara menunggu sidang disipliner (tribunal Scout). Barang-barang mereka, termasuk gelang dan boneka “Morigan” milik Nirvatia, disita.
Di dalam sel, Jagienka menyesali rencana mereka yang gagal, sementara Nirvatia tetap fokus mencari cara kabur. Setelah gagal memecahkan gembok secara kasar, Nirvatia mengusulkan menggunakan “Morigan” untuk mendapatkan kawat atau logam tipis guna membuka kunci, meskipun sebelumnya ia sangat protektif terhadap boneka itu. Ia mengakui bahwa sekarang ada hal yang lebih penting dari benda tersebut, yaitu menyelamatkan Margaret.
Keduanya berhasil keluar dari sel. Jagienka, yang mengandalkan pendengarannya sebagai calon pilot, mendengar penjaga mendekat dan memutuskan untuk menjadi pengalih perhatian di luar institut, sementara Nirvatia akan menyusup ke dalam untuk menyelamatkan Margaret. Nirvatia mengenakan semua gelang pemberian Margaret dan berjanji dalam hati untuk menjemputnya.
Secara paralel, di Carthaki Research Institute, operator dan insinyur memantau “Reactor No. 4”, reaktor besar dengan inti emas yang memasok energi ke seluruh kota melalui jaringan mirip syaraf dan pembuluh. Mereka juga mengulas data uji terkait seorang gadis berambut perak dengan tingkat sinkronisasi M.I.N.D. yang sangat tinggi (92,7%), yang jelas adalah Margaret.
Saat sistem beralih dari mode daya rendah malam hari, sebuah lampu peringatan keselamatan menyala. Manual menyebut satu lampu berarti “degradasi parsial inti” yang dapat mempengaruhi efisiensi reaktor M.I.N.D. dan menyarankan untuk melapor serta melakukan pemeriksaan.
Mengira ini hanya peringatan teknis biasa (bukan bahaya langsung), insinyur dan operator mengaktifkan sistem pemantauan otomatis lalu meninggalkan ruang kendali untuk melapor dan “mencari udara segar”.
Begitu ruangan kosong dan gelap, hanya dengungan reaktor yang terdengar. Di sudut yang tak terjangkau pandangan, serangkaian lampu merah (peringatan keselamatan) menyala kuat.
Pagi hari di Carthaki, sirene darurat berbunyi karena sistem keamanan pabrik roket dilaporkan kena gangguan dan diduga terinfeksi Punishing Virus. Keamanan kota jadi kacau.
Nirvatia menyadari Margaret menghilang dari kamarnya. Ia menyelinap ke Alliance Heritage Monument , masuk lewat ventilasi, dan menemukan laboratorium rahasia berisi kapsul-kapsul dan sebuah bola biru transparan dengan seorang gadis pucat di dalamnya—Margaret, yang terhubung ke banyak kabel seperti Construct.
Nirvatia bersembunyi ketika Major Li dan seorang peneliti masuk. Obrolan mereka mengungkap bahwa Margaret menjalani “prosedur” secara sukarela dan berisiko pada nyawanya, namun detailnya dirahasiakan dari Major Li.
Nirvatia menyentuh bola tempat Margaret berada. Kontak ini memicu arus energi besar yang membawa kesadaran Nirvatia ke semacam ruang batin/ilusi bercahaya emas di bawah pohon ek emas raksasa. Di sana ia melihat sosok perempuan misterius (yang biasanya muncul saat kambuh) dan kemudian Margaret.
Dalam ruang emas itu, Margaret menjelaskan kondisinya:
Ia adalah Construct yang memiliki “Seedling” (bibit kecil bercahaya) di dalam tubuhnya.
Seedling ini memakan M.I.N.D.-nya dan mengikis modul memori, sehingga setiap kali ia tidur, ia lupa wajah orang-orang, meski mereka penting baginya.
Untuk mengingat Nirvatia dan Jagienka, ia membuat gelang berwarna sebagai “jangkar” memori.
Seedling membuat orang yang menyentuhnya merasa damai dan bisa sementara mengatasi gangguan psikologis, serta memberi Margaret kemampuan menahan Punishing Virus.
Margaret menghubungkan kemampuan ini dengan dua kejadian sebelumnya: setiap kali Nirvatia pingsan karena kambuh, Margaret yang menyentuh dan menenangkan Nirvatia hingga sadar kembali. Saat bertarung di pabrik roket, Margaret juga selamat dari serangan Corrupted berkat Seedling.
Namun, efek samping Seedling makin parah:
Lama-kelamaan Margaret akan lupa wajah teman-temannya, lalu melupakan Carthaki, semua orang, dan akhirnya dirinya sendiri. Versi “baru” dirinya akan lahir tanpa ingatan masa lalu.
Para peneliti mengatakan Seedling bisa diangkat, tetapi sudah terlalu menyatu; operasi pengangkatan berpotensi membunuh Margaret.
Margaret secara sadar memilih mengambil risiko operasi itu:
Ia takut mati, tetapi lebih takut melupakan keluarga dan teman-temannya.
Ia berharap kekuatan Seedling dapat dipindahkan kepada orang-orang yang lebih kuat darinya, agar bisa menjadi pohon besar pelindung yang membantu banyak orang yang hidup dalam bayang-bayang trauma—termasuk Nirvatia dan Jagienka.
Ia mengakui bahwa ia hanya ingin menjadi pembuat kue, tidak seberani Jagienka dan tidak sepintar Nirvatia, tetapi ingin melakukan sesuatu yang berarti walaupun taruhannya “menghilang selamanya”.
Nirvatia berusaha meyakinkan Margaret:
Ia mengatakan mereka tidak peduli Margaret manusia atau Construct, yang penting adalah keselamatannya.
Mengajak Margaret pulang, berjanji mereka bisa bersama-sama menanggung beban itu dan membicarakannya dengan Jagienka sebagai keluarga.
Saat Margaret tampak hendak menjawab, langit ilusi emas itu tiba-tiba retak dan hancur, seolah dunia mental mereka pecah oleh ledakan besar di dunia nyata. Nirvatia terlempar kembali ke laboratorium tepat ketika jendela-jendela pecah dan bola api masif dari “Great Akdilek Explosion” meluluhlantakkan wilayah itu.
Gelas pecah dan gelombang panas mematikan menerjang. Nirvatia mengalami kambuhnya kondisi mentalnya: penglihatan menampilkan kilas balik perempuan asing, langit terbakar, dan pohon raksasa. Mayor Li mendorongnya ke tanah untuk menyelamatkannya.
Di tengah ledakan dan semburan api ribuan derajat, Margaret memunculkan kembali pohon emas (manifestasi kekuatan Seedling) sebagai penghalang. Ia berdiri di pusat cahaya, menahan api dan Red Mist dengan kekuatan terakhirnya untuk melindungi Nirvatia dan Major Li.
Ketika penghalang emas retak, Margaret melangkah lebih jauh ke arah kobaran api dan red mist, memisahkan bahaya itu dari Nirvatia. Dalam momen terakhirnya:
Ia menatap pemandangan di belakangnya, ingin mengingat warna dunia sekali lagi.
Ia mengucapkan selamat tinggal, menyatakan betapa bahagianya ia bisa menjadi keluarga mereka.
Ia berkata akan “tinggal di masa lalu” dan meminta teman-temannya terus bergerak maju, dan bahwa jika mereka tidak lupa menoleh ke belakang, mereka “akan selalu bisa saling melihat”.
Pesan terakhirnya kepada Nirvatia: “Lindungi Jagienka.”
Adegan berganti ke 22 menit setelah Great Akdilek Explosion. Nirvatia terbangun di tengah reruntuhan Carthaki, dengan Jagienka di sisinya. Kota berubah menjadi neraka: jalanan runtuh dan terbakar, orang-orang terluka lari, sebagian lain mengais reruntuhan sambil berdarah.
Jagienka panik menanyakan keberadaan Margaret. Nirvatia menjawab Margaret masih di institut riset dan mengakui bahwa setelah ledakan dan kondisi mentalnya kambuh, ia tidak mengingat kejadian berikutnya.
Jagienka, putus asa, berniat menerobos kerumunan untuk kembali menyelamatkan Margaret. Kerumunan pengungsi terlalu padat, mendorong mereka mundur. Teriakan Jagienka agar diberi jalan tidak digubris.
Major Li muncul dengan mobil dan menyuruh mereka naik untuk menuju titik evakuasi militer di tepi sungai. Jagienka memaksa minta diantar ke institut, tetapi Major Li menolak karena terlalu berbahaya.
Jagienka memilih nekat kembali ke arah lokasi ledakan sendiri, menyebut Major Li “pengecut”. Pada saat itulah suara Margaret di kepala Nirvatia (“Lindungi Jagienka”) teringat, dan Nirvatia harus membuat pilihan.
Dengan berat hati, Nirvatia memukul tengkuk Jagienka hingga pingsan, lalu menangis meminta maaf. Ia mengangkat Jagienka yang tak sadarkan diri ke kursi belakang mobil Major Li, memutuskan menyelamatkan Jagienka sesuai janji pada Margaret, meskipun itu berarti meninggalkan Margaret di kawasan ledakan.
Saat mobil pergi, Nirvatia terus menangis dan meminta maaf kepada Margaret, dihantui rasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkannya. Di kejauhan, di atas cakrawala yang dilalap api, mulai terlihat titik-titik merah yang menandakan kemunculan Corrupted.
Pertempuran besar terjadi di Carthaki Satellite City. Pasukan manusia, dipimpin antara lain oleh Jagienka dan Zhang, berusaha menahan serbuan ribuan Corrupted yang dipimpin Ascendant John Doe.
John Doe menggunakan kemampuan Punishing dan manipulasi logam untuk menghancurkan tembok kota dan membuka celah. Corrupted masuk ke kota, tetapi ternyata terjebak dalam taktik pertahanan kota: warga dan tentara menembak dari segala arah.
John Doe menyusup ke dalam kota, hampir membunuh seorang anak pembawa amunisi. Zhang menyerangnya secara nekat, tetapi dengan mudah dikalahkan dan mengalami luka sangat parah.
Jagienka menghadapi John Doe secara langsung. Ia terluka, tetapi tetap memaksa menyerang dengan senjata spesial dan kemampuan mekanisnya, siap mati bersama musuh. John Doe mengerahkan Punishing Virus dan membakar tubuh Jagienka, namun ia tetap tidak melepaskan belatinya.
Saat John Doe hendak menyelesaikan serangan, sebuah tembakan (SKK) dari kejauhan menghentikan serangannya, lalu Nirvatia muncul (dengan sabit besar) yang langsung menebas tubuh bagian atas John Doe. Jagienka menghabisi kepala John Doe dengan injakan sebelum ia sempat mengungkapkan rahasianya.
Setelah pertempuran, di rumah sakit darurat, dilaporkan banyak korban: puluhan tewas dan luka, termasuk perwira penting. Berkat bantuan SKK, korban sipil relatif dapat ditekan.
Zhang berada dalam kondisi kritis. Nirvatia menjelaskan bahwa obat-obatan sudah habis, peralatan usang, dan Zhang hanya bisa bertahan 1–3 hari tanpa dukungan medis memadai.
Konflik emosional muncul antara Jagienka dan Nirvatia. Jagienka marah karena sebuah surat “dari Nirvatia” yang dulu ia terima:
Surat itu mengklaim bahwa John Doe ada di Carthaki Satellite City.
Menyebut adanya “rahasia besar” terkait seseorang bernama Margaret, yang disebut sebagai pemicu Ledakan Besar Akdilek dan kejatuhan Carthaki, serta menyatakan Margaret masih hidup dan bersembunyi di reruntuhan Carthaki.
Nirvatia dengan tegas menyatakan ia tidak pernah menulis surat itu dan menganggapnya pemalsuan. Jagienka bersikeras bahwa surat itu datang melalui jalur resmi Oasis dan sudah diverifikasi dari Babylonia.
SKK menjelaskan bahwa ia dan Nirvatia sebelumnya diserang John Doe di reruntuhan Carthaki, dan di sana muncul sosok gadis muda bernama Margaret yang wujudnya seperti phantom dan menghilang setelah pertempuran.
Dari hal itu, Nirvatia menyimpulkan kemungkinan:
Surat palsu itu dibuat John Doe, yang mungkin telah mendapatkan informasi tentang masa lalu Jagienka dan Margaret.
Tujuannya adalah memancing Jagienka datang ke Carthaki/Satellite City.
Jagienka sangat kecewa karena sempat mengira Nirvatia “tiba-tiba peduli” dan mengingat orang-orang di permukaan, tetapi kini menyadari surat itu palsu. Ia merobek surat tersebut.
Terungkap pula ketegangan lama antara Nirvatia dan Jagienka:
Jagienka selama lima tahun menjadi pemimpin kelompok Forsaken, menancapkan bendera mereka di 23 kota dan menculik 12 utusan diplomatik Oasis.
Nama Jagienka masih ada di daftar buronan Babylonia sejak “hari itu”, tetapi tidak pernah benar-benar diburu secara aktif.
Commander Li (major Li) menegaskan bahwa ia dapat membaca kejujuran Nirvatia dari matanya, mendukung klaim bahwa Nirvatia tidak berbohong soal surat.
Percakapan menyinggung kembali “hari itu,” memicu rasa sakit kepala dan semacam kilas balik pada Commander Li.
Di tengah kehancuran Carthaki akibat Punishing Virus dari Reaktor No. 4, sekitar 30.000 warga sipil berkumpul di tepi sungai menunggu evakuasi. Kapal terakhir hanya bisa menampung 1.200 orang.
Babylonia memberi tahu Kolonel Pavlov bahwa di bawah Reaktor No. 4 terdapat “bom” yang lebih mengerikan dari nuklir: reaktor itu berfungsi seperti Zero-point Engine yang terus-menerus memuntahkan Punishing Virus. Jika tidak dimatikan, dalam waktu kurang dari dua bulan seluruh Bumi akan diliputi red mist.
Pavlov menerima perintah tak langsung: “kota pekerja dan baja” Carthaki harus mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan dunia. Dalam tekanan dan keputusasaan, ia bunuh diri, dan Major Li mewarisi posisi komando.
Major Li mengumumkan kepada 30.000 orang bahwa hanya 1.200 yang bisa dievakuasi, sementara seseorang harus menembus kota yang sudah jebol pertahanannya untuk mematikan reaktor. Awalnya semua diam; Li mencoba memotivasi dengan janji uang, relokasi, dan kehormatan—yang sebenarnya ia karang sendiri tanpa otorisasi.
Gregory, seorang pekerja, menjadi orang pertama yang maju. Ia menyatakan bahwa jika mereka sanggup membangun reaktor, mereka juga bisa mematikannya. Ia menolak medali dan imbalan, menekankan bahwa orang tidak mati demi “pernak-pernik”, tapi bisa mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan dunia.
Keberanian Gregory memicu gelombang sukarelawan: para pekerja dari berbagai bagian industri dan seluruh Resimen Garnisun Carthaki ikut maju. Mereka menyatakan bahwa dunia bergantung pada mereka dan bahwa Carthaki akan menjadi kota yang tak satu pun dari warganya gentar.
Major Li terguncang menyaksikan ribuan orang sukarela menuju misi bunuh diri. Ia hampir ikut, namun teringat ibunya dan trauma masa lalu, lalu terhenti. Seorang perwira staf yang lebih tua menenangkannya dan menegaskan bahwa orang yang selamatlah yang akan membangun masa depan dan harus hidup untuk menceritakan apa yang terjadi.
Akhirnya, 28.812 pekerja dan tentara secara sukarela memasuki zona radiasi mematikan untuk menghentikan kebocoran. Tidak ada yang kembali, tetapi 3 jam 14 menit setelah kebocoran mulai, Reaktor No. 4 berhenti, red mist berhenti menyebar, dan 1.413 orang berhasil dievakuasi ke Kota Satelit di seberang sungai. Pengorbanan ini diabadikan dalam Monumen Pahlawan Tanpa Nama Carthaki.
Bertahun-tahun kemudian di Kota Satelit Carthaki, Major Li—sekarang cacat dan berwajah terbakar—memimpin pembangunan kamp pengungsi dengan tangan besi, bahkan mengizinkan penggunaan kekerasan demi menambah ruang pemukiman. Ia juga terus berurusan dengan tim investigasi Babylonia yang tampak menutupi kebenaran tentang insiden reaktor.
Di monumen, dua gadis, Nirvatia dan Jagienka, mencari jawaban tentang apa yang sebenarnya terjadi dan nasib orang-orang yang mereka sayangi, termasuk Margaret. Li mengatakan ia sudah mengajukan surat dan petisi mereka, tetapi pemerintah merahasiakan kebenaran dengan alasan “pertimbangan” politik. Ia menegaskan bahwa mereka bergantung pada World Government demi kelangsungan hidup Kota Satelit.
Li lalu memberi tahu bahwa Pusat Pemuda World Government membuka rekrutmen: tiap zona mendapat satu kursi untuk pergi ke Babylonia lewat ujian. Ia, yang menerima bahwa dirinya akan terjebak di Kota Satelit selamanya, berharap Nirvatia dan Jagienka mempertimbangkan kesempatan itu demi masa depan yang “lebih cerah”.
Di depan monumen, Nirvatia dan Jagienka semula sepakat untuk memboikot ujian bersama teman-teman mereka sebagai bentuk protes, dan menggunakan kesempatan itu untuk menuntut transparansi atas insiden Carthaki.
Namun keesokan harinya, Jagienka berlari ke pemakaman dan mendapati bahwa Nirvatia justru menerima tawaran ke Babylonia setelah mendapat peringkat pertama. Marah dan terluka, Jagienka menampar Nirvatia dan menuduhnya tidak pernah peduli pada Carthaki maupun Margaret, dan menyelamatkan diri sendiri karena takut mati.
Dalam pertengkaran, Jagienka merobek gelang yang selalu dipakai Nirvatia (peninggalan Margaret untuk Jagienka). Tali gelang putus dan manik-manik ungu berjatuhan. Nirvatia jatuh berlutut dan dengan panik mengumpulkan manik-manik itu, menunjukkan betapa berharganya benda tersebut baginya.
Dengan banyak orang, tentara, dan seorang komisaris World Government menyaksikan, Nirvatia akhirnya “membalikkan” sikapnya di depan umum: ia mengakui bahwa ia “bukan bagian” dari mereka, mengejek konsep keluarga dan retorika heroik Carthaki, mengaku membenci Carthaki dan ingin hidup di tempat yang lebih maju dan penuh harapan. Ia secara terbuka menyatakan ingin pergi ke Babylonia.
Komisaris World Government, yang tertarik pada keberanian dan ketegasan Nirvatia, mengonfirmasi bahwa ia memang peringkat pertama dan mengatur agar kapal pengangkut menjemputnya malam itu untuk memulai “hidup baru”.
Jagienka menjerit, menyebut Nirvatia pengkhianat. Nirvatia berhenti sejenak seakan ingin menjawab, tetapi akhirnya menahan diri. Ia melangkah keluar dari taman memorial, sadar bahwa mulai saat itu ia akan dicap sebagai pengkhianat pertama Carthaki dan dibenci oleh orang-orangnya, namun tetap memilih pergi ke Babylonia.
Jagienka datang ke monumen pahlawan tanpa nama di Kota Satelit Carthaki, berbicara pada makam Margaret dan mengungkap kelelahan, rasa ditinggalkan, serta kecemburuannya terhadap Nirvatia.
Ia menyalahkan Nirvatia dan orang-orang seperti dia sebagai pembohong pengecut yang menyebabkan kematian Margaret dan ribuan warga Carthaki.
Jagienka memutuskan bahwa, sebagai satu-satunya anggota “Dominik Patrol” yang tersisa, ia akan membuktikan bahwa Carthaki tidak akan tunduk pada kebohongan Babylonia.
Di Babylonia, Nirvatia diundang untuk pidato publik sebagai “siswi teladan” dari area konservasi di permukaan. Pemerintah ingin mempromosikan kisah “gadis sakit keras yang diselamatkan oleh Babylonia”.
Di atas panggung, Nirvatia awalnya mengikuti narasi resmi: asalnya dari Carthaki, PTSD, dan bagaimana ia diterima di kota itu.
Lalu ia berbalik menentang naskah resmi: menuduh World Government menyembunyikan kebenaran tentang “Great Akdilek Explosion” dan tidak mengungkap angka korban maupun penjelasan insiden, sehingga pengorbanan warga Carthaki dihapus dari sejarah.
Nirvatia mengeluarkan pistol tersembunyi, menyandera pejabat pemerintah Yori, dan menuntut jawaban:
Mengapa terjadi kebocoran Punishing di Reaktor No. 4 Carthaki?
Apa hubungan letusan supervulkanik Akdilek dengan insiden tersebut?
Apa itu “Seedling” dan apa yang dilakukan Institut Riset Carthaki terhadap Margaret?
Sebuah entitas digital bernama “The Tower” muncul melalui kamera dan layar, mengklaim diri sebagai penjaga keseimbangan dan pembersih keraguan, bukan perwakilan “dunia”, tetapi semacam otoritas yang berdiri di atas semua.
“The Tower” menjelaskan bahwa acara pengakuan Nirvatia hanya “tes” untuk mengukur loyalitasnya pada “kemanusiaan”. Dengan melakukan aksi balas dendam dan pembangkangan publik, Nirvatia dinyatakan gagal.
Mereka meremehkan pentingnya kebenaran satu tragedi dibanding “penyakit” yang mengancam peradaban, dan menyatakan bahwa Nirvatia tidak sepenting yang ia bayangkan.
Putus asa, Nirvatia mencoba bunuh diri di depan dunia sebagai jawaban terhadap tuntutan akan loyalitas: ia menodongkan pistol ke pelipis untuk menunjukkan bahwa ia menolak tunduk.
Namun, sebelum ia bisa menarik pelatuk, semacam mekanisme atau intervensi (bunyi dengung, rasa beku dari tulang ekor, napas terhenti) menghentikan tubuhnya. Ia terseret kembali ke ingatan traumatis: kehancuran, sirene serangan udara, suara perempuan misterius yang menyruhnya tetap berlari, suara Margaret yang mengorbankan diri dan meminta Nirvatia melindungi Jagienka.
Nirvatia berusaha mati-matian menarik pelatuk, tapi senjata tidak bergerak. Dunia di sekelilingnya menggelap, dan ia tenggelam lagi dalam “penyakit” M.I.N.D. dan penderitaan mentalnya.
Di Carthaki, pada pukul 14.58, upacara peringatan digelar. Komisioner World Government yang berdinas di Babylonia hadir dengan sikap dingin dan terburu-buru, bahkan ingin melewatkan momen mengheningkan cipta demi formalitas foto.
Dari atas bukit, Jagienka berbaring dengan senapan yang bertuliskan nama Margaret dan menembak ke arah komisioner sebagai “balas dendam” atas 30.000 korban Carthaki dan kebohongan Babylonia.
Peluru hanya menggores pipi target dan menancap di monumen; Jagienka heran karena perhitungannya benar dan ia adalah penembak jitu. Saat memeriksa laras, ia mendapati alur laras (rifling) telah sengaja didistorsi halus—menjelaskan tembakannya meleset.
Ia segera mengokang dan bersiap menembak lagi, menyadari ini mungkin kesempatan terakhirnya.
Sebelum tembakan kedua, seorang lelaki tua dengan lengan mekanik muncul di belakangnya. Ia mengaku hanya pengembara, lalu mempertanyakan motif Jagienka.
Jagienka menjelaskan ia mengejar “keadilan” untuk Carthaki dan menganggap Babylonia bersalah karena menutupi kebenaran.
Lelaki itu menantang logikanya: jika Virus Punishing yang membunuh keluarganya, mengapa ia menembak manusia biasa? Mematikan satu pejabat tidak akan mengubah kebijakan Babylonia atau mengalahkan Virus Punishing; pemerintah bisa menyembunyikan kematian satu orang sama mudahnya seperti menutupi 30.000 korban.
Ia menyatakan bahwa dunia tidak akan berubah karena satu peluru, dan bertanya apakah ini hasil yang layak atas pengorbanan para korban Carthaki. Jagienka terdiam.
Di bawah bukit, pasukan keamanan mulai menyisir area, dan lelaki tua itu memperkenalkan diri sebagai Arnold, mantan petugas medis lapangan yang kini membantu orang lemah di permukaan.
Arnold menawarkan dua pilihan pada Jagienka: mati-matian “melawan musuh” dengan satu tindakan impulsif yang sia-sia, atau pergi bersamanya untuk membantu anak-anak tak berdaya dan menyatukan orang-orang di permukaan sebagai bentuk perlawanan yang lebih bermakna.
Ia menegaskan bahwa cara paling tajam untuk mengecam pengecut adalah menunjukkan keberanian yang lebih besar, dan bahwa kalau Babylonia telah menelantarkan permukaan, maka merekalah yang harus menggerakkan dunia yang beku ini.
Setelah menatap kampung halamannya untuk terakhir kali, mengingat kenangan dan orang-orang yang sudah tiada, Jagienka memutuskan untuk pergi bersama Arnold, berniat menjadi “api” yang menyulut kembali harapan. Ia mengucapkan selamat tinggal pada Margaret.
Di ruang pemantauan rumah sakit, seorang peneliti muda memeriksa lengan mekanik Nirvatia. Ia kagum bahwa Nirvatia sendiri yang merancang dan membangunnya, dengan spesifikasi hampir setara standar militer.
Ia memperingatkan Nirvatia bahwa upaya bunuh dirinya adalah tanda “kebodohan dan kepengecutan”, dan menugaskannya membaca materi teknis untuk diuji tujuh hari kemudian, menekankan bahwa bakatnya adalah aset berharga bagi umat manusia.
Nirvatia memaksa bertanya tentang kebenaran Carthaki: pohon emas raksasa yang ia lihat, bagaimana itu menyembuhkan penyakitnya, suara-suara baru yang ia dengar, serta apa yang sebenarnya terjadi di Institut Riset Carthaki dan pada Margaret dan Jagienka.
Peneliti itu mengakui bahwa kepentingan mereka sebenarnya selaras: Institut Carthaki adalah ujung tombak riset M.I.N.D., dan setelah insiden tersebut, Science Council menghentikan semua proyek M.I.N.D. tanpa penjelasan. Ia yakin ada “kekuatan tak terlihat” di balik penutupan dan bungkamnya para petinggi.
Nirvatia menyebut bahwa ia telah bertemu entitas yang menyebut diri “The Tower”, tetapi peneliti memilih tidak menindaklanjuti topik itu.
Putus asa, Nirvatia mengaku tidak tahu harus mulai dari mana: ia kehilangan segalanya, musuhnya tak terlihat tapi ada di mana-mana, dan ia tidak tahu cara menyembuhkan penyakit atau membongkar rahasia itu.
Peneliti itu (dan paralel dengan Arnold) menyampaikan kisah historis tentang Ptolemy, Copernicus, Bruno, dan Galileo: bagaimana model bumi-sentris yang tampak “mutlak benar” akhirnya runtuh oleh observasi yang bersih dan keberanian intelektual; bagaimana kebenaran sering harus menunggu berabad-abad hingga ada orang yang berani mengakui apa yang telah “dilihat sendiri”.
Kalimat kunci yang dipetik untuk Nirvatia dan Jagienka: “Aku telah melihatnya dengan mataku sendiri,” menunjukkan bahwa saksi langsung suatu kebenaran punya tanggung jawab jangka panjang, bukan hanya ledakan emosi sesaat.
Peneliti itu mengungkap namanya, Asimov, dan menawarkan diri sebagai sponsor resmi Nirvatia di bawah Science Council jika ia menunjukkan kinerja luar biasa.
Ia menyarankan Nirvatia “menempa ambisi dan kecemerlangannya”: belajar menahan diri, sabar, mengumpulkan kekuatan, dan menunggu momen yang tepat untuk “menghunus pedang” dalam rangka mengungkap kebenaran yang terkubur di bawah reruntuhan Carthaki.
Secara paralel, Arnold meminta Jagienka mengalihkan keinginannya membalas dendam menjadi tindakan jangka panjang: membantu orang lemah dan membangun persatuan di permukaan sebagai langkah memutar kembali “roda” dunia yang macet.
Carthaki Satellite City sedang dikepung Red Mist dan Corrupted.
Operasi “Witch Hunt” World Government untuk memburu Ascendant gagal, komunikasi terputus, dan kota dipenuhi pengungsi serta tentara yang terluka.
Konsentrasi Punishing Virus meningkat, banyak yang mulai terinfeksi ringan.
Nirvatia menceritakan pada Commander Li bahwa ia masuk Science Council dengan bantuan “dia” (Asimov) dan selama bertahun-tahun berpura-pura loyal sambil menyelidiki insiden Great Akdilek Explosion dan “the Tower”.
Ia menjadi Construct dengan menawarkan dirinya sebagai subjek uji coba untuk meneliti kemungkinan warisan penyakit mental di M.I.N.D., namun operasi itu menegaskan luka jiwa yang tak bisa diperbaiki; setelahnya pasien dengan gangguan mental tidak lagi dipertimbangkan menjadi Construct.
Hidup di Babylonia baginya hampa dan menyakitkan; ia terjebak pada hari ledakan dan merasa terasing dari dunia.
Ia akhirnya mendapat izin membuka arsip Intel Bureau soal Great Akdilek Explosion, tetapi laporan investigasi yang ia temukan kosong (semua data dihapus atau mungkin tak pernah dilaporkan).
Motivasi utama Nirvatia sekarang: kembali ke zona radiasi untuk mencari Margaret, yang ia yakini masih “menunggunya”. Ia juga memikul misi dari Science Council dan tanggung jawab atas keselamatan SKK.
Li sudah lama tidak percaya pada “kebenaran besar” yang disembunyikan pemerintah; ia hanya fokus melindungi kota dan warganya.
Baginya, memastikan ribuan orang bisa makan besok lebih penting daripada menguak misteri di balik ledakan.
Di rumah sakit lapangan, Jagienka menjelaskan bahwa setelah “komplikasi”, “old man” (arnold) menyerahkan tugas kepadanya, dan ia memilih bekerja sama dengan Forsaken.
Dia sinis terhadap Babylonia dan World Government, menganggap mereka tidak mampu mengatasi Ascendant dan menelantarkan Carthaki.
Mereka menangani seorang tentara yang muntah darah dan jaringan tubuh akibat infeksi ringan Punishing Virus, lalu menyuntikkan serum. Jagienka sudah terbiasa menyaksikan kejadian seperti itu terus berulang.
Ia yakin tidak akan ada bala bantuan dari World Government, dan bertekad memimpin Zhang dan warga Carthaki keluar hidup-hidup.
Ia mengajak SKK ikut evakuasi, tetapi SKK menegaskan harus kembali ke zona radiasi untuk menghentikan Ascendant dan mencegah ledakan besar terulang.
Jagienka menanyakan kebenaran soal Margaret yang disebut Nirvatia. SKK mengonfirmasi telah melihat sosok gadis berambut perak di sisi Ascendant dan juga di dalam M.I.N.D. Nirvatia, dalam kenangan Dominik Patrol.
Jagienka menyimpan dendam: ia menganggap Nirvatia pengecut yang bersembunyi di antara mereka lalu “mengkhianati rumahnya” dengan pergi ke Babylonia. Ia menyesal tidak menghajarnya lebih keras saat itu.
Saat disarankan bicara dengan Nirvatia, Jagienka menolak membuka diri dan menyatakan hanya percaya pada apa yang ia lihat sendiri.
Di Forward Command Post, Commander Li mengumumkan:
Operasi Witch Hunt dibatalkan oleh 6th Army.
Dalam dua hari, hampir 2000 pengungsi dan prajurit ditampung, logistik menipis, 120 luka berat masih kritis.
Red Mist mengepung kota, sebagian orang sudah terinfeksi ringan.
Diputuskan untuk meninggalkan Satellite City dan melakukan operasi evakuasi “Hebron” dalam beberapa jam.
Masalah utama: kapasitas transportasi tidak cukup karena sebagian besar kendaraan tertinggal di armory “Graveyard” yang kini dikuasai Corrupted.
Tiap kompi punya 90 menit pertama untuk mengumpulkan warga sipil dan mengklasifikasi mereka berdasarkan kriteria usia dan tingkat luka.
Setelah 90 menit, artileri akan membombardir Corrupted di dataran selatan hingga amunisi habis, lalu merusak meriam yang tidak bisa dibawa.
Company A akan maju ke selatan sebagai pengalih, menciptakan ilusi bahwa evakuasi menuju 6th Army di selatan.
Sementara itu, satu task force khusus berisi prajurit elit dari Companies B–F, di bawah komando Jagienka, menyusup ke timur untuk merebut “Graveyard”.
Setelah menguasai “Graveyard”, mereka akan mengatur pertahanan dan menembakkan sinyal suar berwarna: hijau berarti “Graveyard” aman dan evakuasi utama bisa digeser ke sana.
Company A kemudian mundur kembali ke kota dan bertempur di medan urban untuk membeli waktu, sementara main force B–F mengawal warga ke “Graveyard”, mengamankan kendaraan dan suplai, lalu mundur bertahap sampai bisa kontak kembali dengan Babylonia.
Jika rencana gagal (misalnya pengalihan Company A atau infiltrasi task force digagalkan), Operasi Hebron dibatalkan dan semua unit menerima satu perintah: melakukan serangan habis-habisan ke “Graveyard” dengan segala biaya.
Atas permintaan SKK, Nirvatia menjelaskan bahwa:
Secara historis, batas Red Mist di zona radiasi stabil: ekspansi normal < 0,1 m/detik, bahkan saat angin kencang tidak pernah melewati 0,6 m/detik dalam 20 tahun pengamatan.
Data terbaru CPF: pukul 06:17, Stasiun Filter No. 4 (±9 km timur kota) mengirim peringatan terakhir. Pada 09:01, Red Mist sudah menelan Stasiun No. 6 di “Graveyard”.
Ini berarti kecepatan rata-rata pergerakan Red Mist mencapai > 1,8 m/detik, dan kecepatan sesaat di garis depan bisa jauh lebih tinggi.
Dibandingkan itu, kecepatan jalan paksa pasukan hanya sekitar 1–1,5 m/detik di medan berat, dan kendaraan pun sulit mencapai rata-rata 3 m/detik di reruntuhan yang penuh Corrupted.
Kesimpulan Nirvatia: mereka benar-benar sedang “berlomba melawan kematian”, dan sebenarnya sudah tertinggal dari garis start.
Jagienka menanggapi dengan percaya diri bahwa Carthaki bisa mengatasinya jika bergerak lebih cepat, dan mengusulkan operasi dimajukan 30 menit; para kapten menyatakan kesiapan meski banyak yang terluka.
SKK menilai perlu ada rencana cadangan: ia akan kembali ke zona radiasi untuk mencoba menghentikan Red Mist di sumbernya.
Nirvatia langsung menyatakan akan ikut, karena misinya belum selesai dan keselamatan SKK adalah tanggung jawabnya.
Commander Li menilai langkah mereka hampir seperti misi bunuh diri, namun tidak menghalangi dan bersedia menyediakan segala suplai yang mungkin dibutuhkan.
Sebelum bubar, Nirvatia membagikan intel terakhir:
Pertumbuhan Golden Oak selalu disertai fluktuasi besar konsentrasi Punishing Virus di Red Mist, dan Corrupted di sekitarnya makin kuat makin dekat dengan pohon itu.
Dari sini ia menyimpulkan Golden Oak kemungkinan adalah sumber utama Punishing Virus di zona radiasi.
Jika ia dan SKK tidak kembali, yang lain harus menyampaikan informasi ini kepada Babylonia dan dunia.
Setelah ruangan kosong, Nirvatia dan Jagienka sama-sama tertinggal, saling terdiam sebelum Nirvatia akhirnya mengajak Jagienka ikut mencarinya Margaret.
Jagienka menuntut penjelasan ke mana Nirvatia selama ini. Nirvatia mengakui ia memilih pergi meninggalkan mereka, mungkin pilihan yang salah, dan ia telah membayar harganya selama 20 tahun.
Untuk Jagienka, Margaret sudah lama meninggal; ia menilai sosok yang muncul di Carthaki mungkin hanya proyeksi Ascendant. Prioritasnya sekarang adalah Zhang dan warga yang masih hidup.
Nirvatia menegaskan bahwa surat pemanggil yang membawa Jagienka kembali itu palsu, namun Jagienka tetap mengambil risiko kembali demi Margaret—karena ia pikir Nirvatia telah berubah dan peduli Carthaki.
Setelah melihat langsung mata dan sikap Nirvatia, Jagienka merasa dirinya salah menduga; ia menuduh Nirvatia masih belum jujur bahkan pada dirinya sendiri.
Jagienka mempertanyakan apakah Nirvatia benar-benar kembali demi rakyat Carthaki, atau hanya untuk menyembuhkan luka batinnya sendiri, dan menyiratkan Nirvatia pun belum tahu jawaban pastinya.
Dalam diam, Nirvatia berjalan melewati Jagienka dan meletakkan Red Mist Blocker beserta manual penuh catatan penelitian bertahun-tahun di meja.
Jagienka menyadari bahwa segala kerja Nirvatia selama ini—meski dari jauh—tetap tertuju pada Carthaki, bahwa ia tidak pernah benar-benar melupakan tanah kelahirannya.
Akhirnya, Jagienka hanya meluapkan perasaan campur aduknya dengan menggerutu bahwa Nirvatia “sangat menyebalkan”.
Operasi Hebron sudah berjalan sekitar 163 menit. Jagienka dan task force khususnya berhasil mengamankan area bandara “Graveyard” dan menyiapkan evakuasi korban dengan truk.
Pasukan B mulai membawa para prajurit yang terluka, termasuk Zhang, yang tampak sekarat dan menunjukkan gejala infeksi. Jagienka merasa ada sesuatu yang tidak beres, tetapi tidak menemukan kejanggalan nyata.
Di dalam truk evakuasi, Zhang mendadak berbicara lebih jelas. Ia menceritakan kisah tentang telur cucak (cuckoo) yang diletakkan di sarang burung lain, sebagai metafora bahwa ada “telur asing” yang dipelihara tanpa disadari—mengisyaratkan bahwa dirinya adalah penyusup.
Jagienka menyadari satu hal penting “hilang”: Ascendant bernama John Doe belum muncul. Tepat saat itu, sebuah truk melaju liar, menabrak gudang senjata dan memicu ledakan besar yang menyulut deretan truk lain.
Rangkaian ledakan menimbulkan bola api raksasa yang menghancurkan area “Graveyard,” melelehkan kendaraan, dan menewaskan ratusan prajurit dengan hujan serpihan logam panas.
Di tengah kobaran api, Zhang berdiri dan menunjukkan wujud aslinya sebagai Ascendant mekanis: kerangka logam bercahaya hijau. Ia mengakui dirinya sebagai “kukuk tunggal” yang akan membuat dunia gemetar dan diidentifikasi sebagai John Doe.
Seorang sersan dari Kompi B mencoba menyerang dan memotong salah satu lengan John Doe, tetapi Ascendant tetap berbahaya. Sebelum John Doe dapat melanjutkan, Jagienka menembakkan peluru penembus baja ke kepalanya dan menjatuhkannya. Ia menyatakan ini adalah “kedua kalinya” ia membunuh John Doe.
Jagienka sendiri terluka parah dan hampir pingsan. Ia memaksa berdiri namun ambruk kembali, menyaksikan “Graveyard” berubah menjadi neraka api yang mengingatkannya pada serangan udara di masa lalunya.
Sementara itu, di Zona Radiasi Carthaki, Nirvatia dan SKK bertarung melawan Corrupted di dekat Alliance Heritage Monument yang telah menyatu dengan Pohon Emas (Golden Oak). Meski monumen rusak, tulisan “For a Better Tomorrow” masih terlihat.
Red Mist dan konsentrasi Punishing di sekitar Golden Oak sudah melampaui batas aman blocker. Nirvatia memperingatkan SKK untuk tetap dekat dengannya ketika mereka memasuki kompleks Institut Penelitian Carthaki yang berada tepat di depan.
battle
SKK tersesat dalam Red Mist yang menyesatkan indra dan pikiran.
Di tengah kabut, ia terus-menerus “ditarik” oleh tangan-tangan para pengungsi dan petugas pemadam yang meminta tolong, namun tubuhnya sudah terkikis Punishing Virus: ia batuk darah dan fisiknya makin memburuk.
Ia melihat seorang gadis kecil yang memanggil ibunya. Saat didekati, wujudnya berubah mengerikan (kepala hampir terputus) dan para Corrupted menyergap dari segala arah.
Karena ilusi Red Mist, SKK salah menilai situasi dan menembak gadis itu. Sang gadis terluka parah dan dengan lemah bertanya “Kenapa?”
SKK hampir dibunuh Corrupted, tetapi Nirvatia datang dan menyelamatkannya dengan sabit raksasanya, menebas para musuh dan berusaha melindunginya.
Serangan musuh makin deras, dipimpin oleh “bayangan” Margaret yang mengendalikan kawanan mesin logam yang menyatu dan menyerbu ke arah mereka.
Menyadari manusia biasa tidak bisa menandingi Margaret, Nirvatia menyuntikkan obat terakhirnya (tranquilizer) ke dada SKK untuk menstabilkan kondisinya, lalu melepas Red Mist Blocker dari dirinya dan memasangkannya pada SKK.
Nirvatia memutuskan untuk tinggal dan menahan Margaret serta para Corrupted, sementara SKK harus turun ke bawah untuk menghancurkan Golden Oak dan mengakhiri bencana.
Ia mendorong SKK masuk ke elevator, menekan tombol turunan darurat, dan berpisah. Sebelum pintu tertutup, Nirvatia meminta agar bila ia tidak kembali, SKK menyelamatkan dan menyebarkan catatan mereka kepada dunia, sebagai bukti bahwa orang-orang Carthakia benar-benar pernah hidup.
Elevator meluncur turun, memisahkan mereka secara fisik. Hanya koneksi M.I.N.D. yang masih menghubungkan keduanya dalam harapan dan kekhawatiran.
Di lantai atas, Nirvatia berhadapan dengan phantom Margaret yang bertekad mempertahankan “harapan” semua orang. Nirvatia teringat bagaimana dulu seseorang berdiri melindunginya, dan kini giliran dia yang meneruskan nyala itu.
Nirvatia memilih “tinggal di masa lalu” sementara kisah SKK harus terus berlanjut. Dengan tekad penuh, ia maju sendirian ke dalam “jurang gelap tanpa akhir”.
Lokasi: Kota Satelit Carthaki, pinggiran timur, sekitar 193–206 menit setelah dimulainya Operasi Hebron.
Setelah melihat suar hijau dari “Graveyard”, pasukan militer dan warga mulai evakuasi melalui jalur yang sudah dibersihkan task force.
Tiba‑tiba terjadi ledakan besar di area “Graveyard”, diikuti bola api raksasa. Li mencoba menghubungi dengan menembakkan tiga suar kuning, tetapi “Graveyard” tidak merespons.
Saat Li hendak memerintahkan serangan ke “Graveyard”, Red Mist muncul dan bergerak sangat cepat, melampaui kecepatan kendaraan, menyelimuti langit dan mendekat seperti bencana.
Red Mist memicu gangguan mental berat:
Seorang wanita melihat putrinya di dalam kabut dan histeris merebut senjata prajurit.
Seorang pria melihat orang tuanya, melompat ke air secara nekat.
Seorang pekerja berteriak menghadapi “dirinya sendiri”, menyebutnya ilusi.
Banyak orang kehilangan kendali dan kewarasan, formasi pasukan dan warga menjadi kacau.
Li berusaha menenangkan massa dengan pidato: ia menyatakan “Graveyard” sudah direbut, kemenangan dekat, dan mereka akan segera dievakuasi. Ia menekankan semangat pantang menyerah rakyat Carthaki dan menghormati para pahlawan yang gugur.
Namun, Li tiba‑tiba terjebak dalam halusinasi yang dipicu Red Mist:
Wajah orang‑orang di depannya berubah menjadi mayat cacat dan membusuk: Kolonel Pavlov, staf, Gregory, pekerja, dan prajurit yang sudah mati.
Mereka menuduhnya pengecut, pengkhianat, dan mempertanyakan mengapa ia tidak ikut mati bersama mereka dan mengapa ia “memaafkan” Babylonia.
Li berusaha membela diri, mengklaim ia telah berbuat yang terbaik dan bahwa anak‑anak mereka bisa hidup berkat dirinya, tetapi tubuh‑tubuh busuk itu menjerat dan menutupi dirinya.
Ditindih rasa bersalah dan tuduhan, ia menjerit putus asa.
Sekitar 206 menit setelah Operasi Hebron dimulai, “Golden Oak” menyelesaikan proses katalisisnya dan melepaskan Red Mist berkonsentrasi tinggi yang dengan cepat menyebar melintasi sungai.
Akibatnya:
“Graveyard” kehilangan semua komunikasi.
Pasukan utama tersapu Kabut Merah.
Operasi Hebron yang sejak awal telah diperkirakan oleh John Doe berakhir gagal total.
Masa kecil Jagienka dan kebencian pada garis keturunan
Jagienka membuat model pesawat luar angkasa “Miracle” untuk orang tuanya yang akan berangkat misi, tetapi ayahnya, Zbyszko, menghina kreasinya, meremukkan mainan itu, dan menuntut ia bersikap layak sebagai anak bangsawan dan perwira Angkatan Luar Angkasa.
Ibunya, Danusia, juga dingin dan hanya menekankan status serta “kehormatan” keluarga, tanpa memberi kasih sayang.
Setelah orang tuanya tewas dan dijadikan pahlawan nasional, Jagienka terus diperlakukan istimewa sebagai “putri martir”, meski ia membenci garis darah dan status tersebut. Di sekolah, guru dan petugas hanya melihatnya sebagai “anak Zbyszko”, bukan sebagai individu.
Dalam konflik dengan guru, ia meledak dan membongkar sisi buruk orang tuanya, menolak label “putri pahlawan” dan menegaskan bahwa ia ingin diakui sebagai dirinya sendiri, Jagienka.
Pencarian identitas dan pengakuan Jagienka
Untuk menantang sikap munafik orang dewasa, Jagienka sengaja melanggar batas, termasuk meretas terminal ujian tengah semester dan curang agar meraih peringkat pertama.
Tidak ada yang menyadari kecurangannya. Justru, guru bahasa memujinya sebagai satu-satunya yang bisa menjawab soal tambahan dan menyesali sikap keras sebelumnya.
Penghargaan atas “prestasinya” (meski didapat dengan cara curang) adalah pertama kalinya nama “Jagienka” sendiri mendapat pujian.
Petugas militer di sekolah memberinya penghargaan sebagai siswa terbaik dan mengakui bakat atletiknya. Ia lalu meminta bergabung dengan klub terjun payung, menyatakan tegas bahwa ia bukan “bayangan siapa pun” atau “anak si X”, tetapi Jagienka yang bisa melampaui prestasi orang tuanya.
Sejak itu, ia berjuang mati-matian dalam akademik, olahraga, tempur, dan pergaulan, terobsesi menjadi yang terbaik untuk membuktikan bahwa dirinya lebih hebat daripada orang tuanya dan layak atas penghargaan yang ia terima.
Pertemuan dan keterikatan dengan Margaret
Suatu hari ia melihat seorang siswi berambut perak dimusuhi teman-teman karena dianggap pura-pura tidak mengenali mereka, padahal gadis itu (Margaret) tampak kebingungan dan tidak mengerti.
Jagienka mengenali tatapan bingung dan terasing itu, karena ia sendiri sering diperlakukan secara tidak adil berdasarkan status, bukan dirinya.
Terdorong keinginan untuk menjadi orang pertama yang menerima orang seperti Margaret, ia menyapa dan memperkenalkan diri.
Persahabatan mereka berkembang pelan: Margaret akhirnya memberi Jagienka gelang emas agar mudah dikenali. Hubungan itu tumbuh menjadi ikatan tulus dan mendalam.
Dalam salah satu momen, mereka makan kue bersama di atap gudang tua; adegan ini menegaskan betapa berharganya kebersamaan mereka bagi Jagienka, yang mulai bergantung secara emosional pada Margaret.
Masuknya Nirvatia dan tragedi Carthaki
Seorang murid pindahan, Nirvatia, muncul dan secara bertahap “mengambil” Margaret serta menyeret mereka ke dalam konflik besar (perang, “flames of war”).
Dalam kekacauan itu, Nirvatia pada akhirnya menghalangi Jagienka dan “membawa pergi” Margaret dalam konteks kehancuran dan kematian massal di Carthaki.
Jagienka kehilangan Margaret dan banyak nyawa berharga tanpa kesempatan mengucapkan selamat tinggal.
Selama puluhan tahun sesudahnya, ia mencoba “menghapus” Nirvatia dari ingatannya, menolak mengakui betapa dalam luka yang ditinggalkan hari itu.
Konfrontasi batin Jagienka di tengah Red Mist dan Golden Oak
Di masa kini, di tengah kehampaan gelap dan kabut merah di luar angkasa, Jagienka bertemu sosok Zhang yang ternyata adalah manifestasi luka batinnya sendiri.
Zhang menyingkap bahwa meskipun Jagienka mengaku telah “melampaui” masa lalu dan terus bertempur selama 20 tahun sebagai Ranger, motif terdalamnya adalah terus-menerus mencoba menebus kegagalannya menyelamatkan orang di Carthaki.
Didorong oleh “Zhang”, ia dipaksa menghadapi keinginannya yang sebenarnya:
Ia ingin kembali ke hari itu dan menyelamatkan Margaret.
Ia ingin menunjukkan bahwa ia kini lebih kuat dan mampu melindungi orang-orang yang dicintainya.
Ia ingin menghentikan rencana ekstrem Nirvatia, memarahinya, dan menegaskan bahwa mereka adalah keluarga sehingga seharusnya berbagi beban, bukan memikul semuanya sendiri.
Ia mengaku “membenci” Nirvatia karena merenggut Margaret dan bersikap seolah tidak peduli, tetapi pengakuan ini berkembang menjadi pengungkapan bahwa di balik kebencian itu ada kerinduan yang sangat dalam pada “rumah” yang Nirvatia dan Margaret berikan.
Jagienka berteriak bahwa hidup sangat berat: ia terus bangkit dari kehancuran demi ilusi bahwa ia bisa kembali ke hari itu untuk melihat mereka tersenyum sekali lagi. Ia mengakui bahwa semua perjuangannya bermuara pada kerinduan untuk “berlari bersama” menuju masa depan bersama mereka.
Kebangkitan tekad Jagienka di “Graveyard”
Serangkaian pengakuan jujur memecahkan “dinding” batinnya; cahaya menembus kegelapan ketika ia mengakui keinginan untuk menyelamatkan Margaret dan menegur Nirvatia.
Suara Margaret meraih dirinya “melintasi ruang dan waktu”, dan Jagienka tiba-tiba tersadar kembali di kapal “Graveyard” yang dilalap api.
Ia melihat Pohon Emas (Golden Oak) raksasa menerobos monumen dan menjulang ke langit di tengah Red Mist; suara pertempuran dari seberang sungai membangunkannya sepenuhnya.
Menyadari bahwa Nirvatia dan SKK masih bertarung, Jagienka bangkit dengan susah payah, bersumpah bahwa kali ini ia akan menyelamatkan semuanya.
Ia mengenakan kembali kenangan berharga (tali/kalung dengan “harta” yang disematkan di pergelangan tangannya) dan membuka hangar, membawa “para pahlawan” masa lalu kembali ke medan, berniat merebut kembali keluarga dan kemenangan berdarah mereka.
Kilasan masa lalu Li pada Hari Kemenangan
Cerita bergeser ke Li (waktu dulu masih Major Li), yang pada “Victory Day” bergegas pulang dengan medali dan seragam berlumur darah untuk memberi tahu ibunya bahwa ia selamat dan menjadi “Pahlawan Rakyat”.
Ketika ia meneriakkan “Ibu!” di halaman apartemen, puluhan ibu lain menoleh penuh harap, lalu kecewa saat menyadari ia bukan putra mereka.
Li mencari ibunya melalui tetangga yang anaknya gugur di Carthaki, tetapi akhirnya diberitahu bahwa beberapa hari sebelumnya ada serangan Corrupted di pinggiran kota dan ibunya tewas bersama Ma, satu-satunya kawan seperjuangan terakhirnya.
Alih-alih menangis, emosi pertama Li adalah rasa ketidakadilan dan protes batin yang luar biasa. Seorang ibu tua menjelaskan bahwa ibunya dan Ma merasa berutang pada rekan-rekan yang gugur, hidup dengan rasa bersalah karena masih hidup. Kini mereka semua “bersatu kembali” dalam kematian.
Dari peristiwa ini, Li menarik kesimpulan bahwa hidup adalah beban: yang hidup wajib memikul kehendak mereka yang gugur dan menanggung penderitaan sejarah menuju hari esok. Kenangan itu dan rasa bersalah hari ledakan selalu menghantui hidupnya.
Kembali ke masa kini: keputusan Li di hadapan Red Mist dan Golden Oak
Li terbangun dari visi masa lalu di tengah antrean evakuasi Carthaki. Golden Oak telah tumbuh melampaui batas kota, dan Red Mist terus menyebar dari reaktor No. 4 yang bekerja layaknya Zero-point Engine.
Warga mengaku melihat sosok-sosok terkasih (ayah, ibu) dalam kabut, masing-masing dipaksa menghadapi trauma pribadi. Meski berbeda, semua luka itu berakar pada hari ledakan yang sama.
Seorang sersan meminta perintah; sebagian meragukan apakah mereka bisa melarikan diri dari kabut. Li melihat Pohon Emas dan mengingat peringatan: jika reaktor tidak dimatikan, virus akan menyelimuti Bumi dalam dua bulan.
Ia ragu apakah SKK dan Nirvatia berdua mampu menghancurkan pohon tersebut. Melihat wajah-wajah orang Carthaki yang telah berjuang sampai sejauh ini, Li melihat bayangan para kawan yang gugur.
Ia akhirnya memutuskan: ia akan kembali ke Kota Satelit, menumpang kapal “Spartacus”, dan berlayar untuk membantu menghancurkan Golden Oak, berjuang sampai akhir untuk memberi satu kesempatan terakhir bagi warga mengungsi.
Li menyatakan bahwa setiap baris sejarah adalah perjuangan jutaan orang biasa; bobot sejarah berasal dari kebahagiaan apa yang rela mereka korbankan demi tujuan benar. Ia menyerukan bahwa hidupnya penuh kemegahan karena ia akan menebus dosa seperti pahlawan dan membawa harapan ke masa depan.
Ia mengucapkan selamat tinggal dan hendak berangkat sendirian, tetapi warga menghentikannya.
Carthaki memilih kembali: solidaritas generasi baru dengan Li
Seorang siswa menegur Li, mengatakan Carthaki bukan milik Li seorang. Generasi muda yang tumbuh dengan kisah para orang tua pahlawan tidak akan tinggal diam dalam situasi yang sama.
Pekerja menawarkan membantu mengoperasikan Spartacus, tentara yang terluka bersumpah setia pada sumpah Garrison Regiment, dan berbagai warga—pekerja tambang, kantin, anak yang ayahnya gugur—berdiri di belakang Li.
Mereka tidak berteriak slogan, hanya tersenyum tegas, menatap penuh tekad. Seorang siswa merapikan seragam Li dan mengatakan ia kini paling layak mengenakan seragam itu.
Li melihat di wajah mereka bayangan rekan-rekannya yang telah gugur (Gregory, Zana, Alyosha, dan lain-lain), semuanya tersenyum dan maju melawan arus kehancuran.
Dengan mata berkaca-kaca, Li memanggil mereka “kawan seperjuangan” dan mengajak mereka meneriakkan kemenangan untuk membuktikan bahwa mereka pernah hidup.
Di belakangnya kini bukan satu bayangan, melainkan sebuah barisan pekerja, tentara, dan pelajar yang menyatukan bara-bara kecil harapan Carthaki menjadi satu arus kehidupan yang menolak menyerah.
Mereka meneriakkan: “For Carthaki! For all who live and all who have fallen! FOR A BETTER TOMORROW!!!”
Narasi menutup dengan penegasan bahwa, setelah puluhan tahun penderitaan, rakyat Carthaki kembali mengambil keputusan yang sama: melangkah maju tanpa ragu.
Serangan besar terhadap Golden Oak tampak hampir berhasil setelah rangkaian ledakan, namun batang utama pohon masih berdiri, retak dan terus memuntahkan Red Mist.
SKK terluka parah: tulang remuk, organ rusak, dan terus mengeluarkan darah. Di saat kritis, ia diserang Corrupted raksasa, terluka lebih dalam, tetapi tetap memaksa bangkit karena satu-satunya tujuan adalah menghancurkan Golden Oak.
Saat hampir roboh dan dikerumuni Corrupted, ia “ditangkap” oleh kekuatan hangat: sosok Margaret muncul bersama bayangan para pekerja dan prajurit yang telah gugur. Mereka membentuk “dinding kabut” yang menahan Corrupted.
Margaret menjelaskan bahwa:
“Jantung” Golden Oak adalah tempat jasadnya bersemayam, dan di sanalah Seedling berada.
Hanya dengan menghancurkan bagian inti dan mengambil Seedling, penyebaran Red Mist bisa dihentikan.
Red Mist tidak hanya membangkitkan ketakutan, tetapi juga harapan dan cahaya, seperti yang memanggil roh-roh para korban untuk membantu.
Keberanian memicu keberanian lain; SKK tidak pernah benar-benar sendirian.
Pada saat yang sama, Jagienka menerbangkan jet tempur menembus Red Mist, menggunakan penghalang khusus. Ia menghujani Golden Oak dengan peluru pembakar, didukung sinyal suar merah dari Nirvatia dan SKK di darat untuk menarget titik lemah.
Golden Oak mulai runtuh, tetapi cabang-cabang kristalnya menyerang balik. Jet Jagienka rusak berat: sayap tertembus dekat kompartemen amunisi, mesin bermasalah, hidrolik turun, dan amunisi macet ketika pohon hampir jebol.
Ketika jet nyaris dihantam cabang raksasa, tembakan artileri laut dari kapal perang Spartacus—kapal tua Carthakia yang “dibangkitkan” untuk pertempuran terakhir—menghancurkan cabang tersebut dan menyelamatkan Jagienka.
Di atas Spartacus, para pekerja, prajurit, pelajar, dan kru kapal mempertaruhkan nyawa (bahkan menahan semburan uap superpanas dengan tubuh mereka sendiri) agar mesin dan meriam utama bisa terus bekerja.
Atas perintah Li, Spartacus menembakkan salvo meriam berat ke Golden Oak, memperparah kehancurannya.
Meski didukung tembakan kapal tersebut, jet Jagienka kehabisan kemampuan serang: peluru macet, mesin sekarat, dan pesawat jatuh tak terkendali. Ia sadar peluang selamat sangat kecil.
Dalam detik-detik terakhir, Jagienka:
Terpikir kembali masa kecilnya, ketika ia bermimpi menjadi pilot untuk “memetik bintang” bersama orang tuanya.
Mengakui luka batinnya: ia menganggap kedua orang tuanya orang tua yang buruk, tetapi tetap mencintai mereka dan kenangan melihat mereka “memetik bintang”.
Mengakui bahwa selama ini ia menolak keinginannya sendiri akan rumah dan kehangatan, namun kini jujur pada luka dan kerinduannya.
Menyadari Nirvatia selalu berusaha jadi pahlawan sendirian, dan memutuskan bahwa kali ini ia yang akan mengambil peran itu, bertekad melakukan yang sama atau lebih besar.
Jagienka lalu mengarahkan jet yang nyaris hancur ke arah inti Golden Oak, berniat menjadikannya peluru terakhir. Sambil menyelamkan pesawat ke dalam inferno runtuhan pohon, ia berteriak kepada Punishing Virus dan para monster bahwa:
Inilah planet yang mereka rusak.
Inilah orang-orang yang tidak berhasil mereka lenyapkan.
Dan inilah “peluru terakhir” milik umat manusia.
Terjadi ledakan besar. Jagienka merasakan kehampaan gravitasi dan mengira dirinya akan mati. Namun, alih-alih menghantam tanah, ia merasakan benturan lembut di punggungnya.
Muncul fenomena:
Tak terhitung banyaknya tangan transparan bercahaya—milik para pekerja, petani, prajurit, dan semua jiwa yang pernah berkorban menyelamatkan orang lain—muncul dari Red Mist dan cahaya emas.
Tangan-tangan ini menyusun semacam tangga spiral yang menahan tubuh Jagienka, mengangkatnya dan “menolak” kematiannya.
Dijelaskan secara naratif bahwa jiwa-jiwa para korban ini, yang mencintai kehidupan dan rela berkorban demi harapan generasi berikutnya, kembali sekali lagi untuk menegakkan langit bagi anak-anak mereka dan menyalakan kembali “cahaya”.
Narasi menegaskan bahwa “api” pengorbanan dan harapan telah diwariskan ke generasi baru; kini giliran mereka untuk menyalakan nyala baru.
Di akhir adegan:
Suara Margaret memanggil Jagienka.
Jagienka diselamatkan: tubuhnya ditangkap oleh seseorang—ternyata oleh SKK, yang menjangkau dari tepi lubang.
Jagienka terkejut melihat SKK di sana. SKK menjelaskan bahwa ia tidak bisa menghancurkan pohon sendirian; “seseorang” telah menuntunnya datang untuk membantu Jagienka.
Siluet Margaret tampak sebentar di samping mereka, lalu memudar dalam kabut. Ia berkata kepada SKK dan Jagienka untuk maju ke depan, karena ia dan para arwah lainnya akan menahan situasi di sini.
Margaret menutup dengan pesan: Nirvatia membutuhkan bantuan mereka.
Di tengah rangkaian ledakan dan kehancuran, Nirvatia berlari menembus ranting-ranting Pohon Emas yang runtuh dan terbakar, menuju sumber ledakan tempat Margaret dan SKK berada.
Ia tidak lagi punya obat penenang terakhir, sehingga harus menahan sendiri rasa sakit lama yang kambuh hebat dan rasa perih sekujur tubuh.
Tanpa pelindung dari Red Mist, kabut merah itu menyerang M.I.N.D.-nya, membuat pikirannya kacau, tubuhnya muntah vital fluid, dan penglihatannya dipenuhi sosok-sosok kabur dan suara-suara dari masa lalu.
Di tengah halusinasi dan bisikan—suara yang mengajaknya berteman, teman-temannya seperti Margaret dan Jagienka, serta seruan idealis seperti “FOR A BETTER TOMORROW!”—ia tetap mempertahankan arah dan tekadnya.
Suara-suara masa lalu dan bayangan-bayangan itu sekaligus menghantuinya dan mendorongnya maju, seolah membentuk jalan yang ia tapaki.
Meski hampir ambruk, Nirvatia menahan darah di tenggorokannya, memanggil nama SKK, lalu mengerahkan sisa tenaga untuk terus maju ke tempat pertemuan, di persimpangan cahaya, api, dan orang yang menunggunya.
battle
Nirvatia dan Margaret akhirnya kembali bertemu di tengah reruntuhan setelah melalui banyak bahaya.
Nirvatia memeluk tubuh Margaret yang kurus dan lemah dengan erat, takut keajaiban pertemuan ini akan hilang.
Margaret, yang masih ragu dan syok, awalnya memastikan bahwa sosok di depannya benar-benar Nirvatia. Setelah diyakinkan, ia mengungkapkan betapa ia merindukan Nirvatia dan semua orang dari Carthaki.
Saat suasana emosional itu berlangsung, sesuatu yang keras dan tidak wajar mulai bergejolak di dalam dada Margaret. Bukan detak jantung, melainkan “benih” atau “Seedling” emas yang berdenyut keras.
Margaret tiba-tiba kesakitan hebat. Cahaya seperti kuncup bunga menembus tubuhnya, dan ia berteriak.
Dalam keadaan diambil alih oleh sesuatu, Margaret mencengkeram leher Nirvatia dan menyeretnya dengan kekuatan besar, sambil menyebut Nirvatia sebagai “penyusup” (intruder).
Seedling emas di dada Margaret berdenyut, memicu kabut merah pekat dan menghidupkan kembali sisa-sisa Golden Oak. Vina-vina kecil yang dipenuhi Punishing bangkit dan menyebar.
Punishing menyerang Nirvatia. Dock biru di dadanya (untuk menerima obat) retak dan mulai rusak akibat infeksi mendadak tersebut.
Dari sudut pandang Margaret yang sudah terdistorsi, wajah Nirvatia tertutup sulur merah dan tampak seperti sosok mengerikan, sehingga ia semakin yakin bahwa Nirvatia adalah intruder dan berusaha “melindungi” yang lain darinya.
Margaret berteriak agar “penyusup” pergi, sementara akar dan duri dari kegelapan menancap ke tubuhnya dan memberinya lebih banyak kekuatan.
Jagienka muncul tepat waktu, SKK menembaki sulur-sulur yang hendak menyerang Nirvatia dan berusaha menghentikan Margaret meski tubuhnya sendiri tertusuk duri dan terkikis.
Saat Jagienka mengulurkan tangan, gelang manik di pergelangan tangannya bersinar. Pada saat yang hampir bersamaan, dock di dada Nirvatia pecah dan melepaskan mutiara ungu yang telah lama ia simpan.
Manik kuning (gelang Jagienka) dan mutiara ungu (dari Nirvatia) berputar dan berpadu dalam penglihatan Margaret yang kacau, memancarkan cahaya yang sangat terang di tengah kegelapan.
Tepat sebelum Kabut Merah benar-benar meledak, banyak suara dari masa lalu mengalir ke dalam pikiran mereka, seolah waktu berhenti dan momen itu membeku serta memanjang tanpa batas.
Seorang gadis “lahir” dan dipanggil dengan nama Margaret. Di tengah reruntuhan, seorang wanita (yg muncul ketika Nirvatia kambuh) tertusuk besi beton dan sekarat, memeluk gadis itu dan memanggilnya “Margaret”, mengaku sebagai ibunya.
Sang ibu, sambil berdarah dan menangis, memberi pesan terakhir: dunia di luar akan keras, penuh perang, kemiskinan, kebencian, dan pengkhianatan, tetapi ia berharap Margaret tidak kehilangan kepercayaan dan cintanya pada dunia.
Ia menegaskan bahwa Margaret lahir dari cinta tanpa syarat, bahwa dunia tidak seharusnya dibangun atas kebencian, dan memintanya untuk berani mencintai dunia dan orang lain, menjadi “benih” yang kelak membuat dunia mekar dengan bunga. Setelah itu, sang ibu meninggal dalam pelukannya.
Kemudian kilas balik berlanjut:
Tim Penyelamat Carthaki menemukan Margaret di zona yang sangat terinfeksi Punishing Virus, tetapi ia selamat dan ternyata seorang Construct. Gregory menyatakan bahwa menyelamatkan satu nyawa tetap membuat pengorbanan mereka tidak sia-sia.
Para peneliti Carthaki menjelaskan bahwa di dalam Margaret terdapat sebuah “Seedling” misterius yang:
Dapat menahan Punishing Virus dan menenangkan sekitarnya.
Namun sekaligus mengonsumsi M.I.N.D. Margaret dan merusak modul memorinya.
Atas permintaan Margaret, mereka menyamarkannya sebagai siswi manusia biasa dan berjanji Carthaki tidak akan menyakitinya, karena teknologi yang tidak menghormati kehidupan tidak layak dihormati.
Margaret kemudian membalas kebaikan itu dengan memberi kasih sayang pada orang lain, misalnya berteman dengan Jagienka dan Nirvatia.
Di masa lain, para peneliti mempertimbangkan kemungkinan memindahkan Seedling ke wadah (vessel) lain. Secara teori mungkin, tetapi:
Seedling sudah terlalu lama menempel pada tubuh Margaret dan asal-usulnya tidak jelas, sehingga upaya memindahkannya bisa membunuh Margaret.
Margaret memahami risikonya tetapi tetap bersedia mencoba jika itu bisa membantu lebih banyak orang; ia mengaku lebih takut melupakan keluarganya daripada menghilang.
Cerita bergeser ke masa kini:
Pohon raksasa Golden Oak tumbang, Red Mist masih menyelimuti. Margaret menyadari bahwa selama bertahun‑tahun Punishing Virus telah meresap ke dalam rangkanya hingga ia sendiri menjadi sumber bencana; bukan kabut merah yang mengikatnya, melainkan dirinya yang mengendalikan Red Mist.
Letusan Red Mist berhenti sesaat. Margaret paham: jika ia kehilangan kendali, ia akan membunuh Jagienka dan Nirvatia yang susah payah mencarinya. Ia memutuskan harus bertindak meski dengan pengorbanan besar.
Sebuah “Suara dalam Kegelapan” (perwujudan Punishing Virus/John Doe) berbicara pada Margaret:
Mengingatkan bahwa ia sudah menyiksa diri selama lebih dari dua dekade di “penjara besi” yang dipelihara Seedling, dan menawarkan pelarian dalam “mimpi” di mana ia menjadi penguasa dan bersatu dengan mereka yang sudah tiada.
Mengatakan bahwa jika ia bangun dan merebut kembali M.I.N.D., ia takkan bertahan lama; Seedling paling hanya membeli satu‑dua detik. Dunia di luar kejam dan tak peduli pada penderitaannya, jadi dipertanyakan apakah semua penderitaan masa lalu sepadan.
Margaret menolak tawaran itu dengan tegas:
Ia menyatakan tidak pernah takut akan rasa sakit dan bahwa mimpi ini cacat dari awal.
Ia tidak akan membiarkan tubuhnya membahayakan keluarga dan teman.
Ia menegaskan bahwa bahkan jika bencana ini diulang sejuta kali, ia akan tetap mengambil pilihan yang sama, karena Carthaki dan semua orang telah mencintainya tanpa pamrih.
Margaret kemudian berjalan melalui kegelapan, ditusuk dan dibelenggu “sulur merah” yang meremukkan tubuhnya, tetapi terus maju dengan tekad:
Ia ingin menjaga hidup Nirvatia dan Jagienka “untuk hari esok”.
Ia percaya hidup kecilnya bisa menjadi bibit kecil yang meninggalkan jejak, menumbuhkan keajaiban dan bunga di masa depan.
Pada klimaks, Margaret:
Menembus belenggu kabut dan duri, lalu dalam cahaya menyilaukan menghujamkan tangannya sendiri ke dadanya, mengeluarkan Seedling.
Ia menggunakan kekuatannya sekali lagi untuk menghentikan waktu, melindungi semua orang dari Red Mist, seperti saat dulu ia pernah membekukan waktu di tengah ledakan untuk menyelamatkan Nirvatia dan instruktur.
Ia berpamitan pada Nirvatia dan Jagienka yang membeku dalam waktu, meminta mereka tidak bersedih dan menjanjikan bahwa selama mereka sesekali menoleh ke belakang, mereka akan “tetap dapat saling melihat”.
Sambil kehilangan warna di matanya, ia mengucapkan terima kasih karena kedua temannya datang bagaikan keajaiban. Lalu ia “beristirahat” dan meninggal.
Waktu kembali mengalir. Nirvatia dan Jagienka:
Mendengar kata‑kata terakhir Margaret sekaligus, lalu berlari menghampiri hanya untuk menemukan tubuh sahabat mereka sudah dingin dan kaku.
Jagienka panik berusaha menghentikan pendarahan, tapi kehabisan peralatan medis, lalu menangis putus asa. Nirvatia menenangkannya, mengingatkan bahwa Margaret tidak ingin mereka terpuruk seperti itu.
Keduanya lalu saling berpelukan dan menangis di bawah sinar matahari yang menembus awan. Narasi menegaskan bahwa meski banyak yang berubah, esensi perjuangan Carthaki tetap sama: mereka tidak pernah berhenti berjuang sampai akhir dan sekarang telah mengusir kegelapan.
Setelah Golden Oak runtuh, SKK merasakan ada yang janggal.
Sebuah kilatan hijau muncul di antara reruntuhan, lalu melesat ke arahnya. SKK menghindar dan menembak sumber serangan.
Ascendant John Doe muncul dengan armor beratnya. Ia tampak mengincar sesuatu, bukan SKK, lalu langsung mengarahkan perhatian ke arah Nirvatia.
Sementara itu:
Nirvatia dan Jagienka berhasil menghindar dan memindahkan tubuh Margaret ke tempat aman.
SKK menghujani armor John Doe dengan tembakan, merusaknya parah, lalu berdiri di antara Nirvatia dan Ascendant, menyadari bahwa incaran sebenarnya adalah Seedling.
Nirvatia menyadari Seedling masih digenggam ketat oleh Margaret, tetapi cahayanya mulai meredup:
Ia teringat penjelasan bahwa Seedling memakan M.I.N.D. vessel‑nya. Jika dipisahkan dari Construct hidup, ia akan “layu”.
Jagienka, yang menyalahkan Seedling atas kematian Margaret, ingin menghancurkannya.
Nirvatia, sambil teringat ucapan Margaret dan para peneliti tentang fleksibilitas Seedling sebagai komponen yang bisa menempel ke M.I.N.D. lain, mempertanyakan: bagaimana jika sudah ada vessel lain di sini yang rusak dan siap menanggung beban itu?
Nirvatia menyimpulkan bahwa:
Seedling adalah “senjata” penting melawan Punishing Virus dan satu‑satunya harga yang diminta adalah wadah yang memang sudah ditakdirkan untuk hancur.
Dengan kata lain, Seedling bisa diwariskan sebagai “api” Margaret untuk melindungi jiwa‑jiwa tak bernama yang hidup dalam bayang‑bayang.
Nirvatia menghentikan Jagienka dan menyatakan:
Seedling ini adalah “percikan” yang diwariskan Margaret. Dunia masih membutuhkan cahayanya.
Jika harus ada yang mengorbankan diri menjadi vessel baru untuk membawa api itu menembus kegelapan, ia sendiri yang akan memikul beban tersebut.
Di saat bersamaan, John Doe yang panik berusaha menembus pertahanan SKK demi merebut Seedling.
Nirvatia menusukkan Seedling ke dadanya sendiri. Waktu seakan berhenti ketika Seedling menyatu dengannya.
Gelombang informasi dan rasa sakit luar biasa menyerbu M.I.N.D.‑nya, memicu kilas balik dan mengisi kembali kekosongan memorinya. Ia berulang kali hampir hancur, namun Mind Beacon di ujung lain kesadarannya menariknya kembali.
Setelah Seedling tertanam:
Nirvatia tersadar, menggenggam sabit besar dan melancarkan serangan kuat ke John Doe.
Ia memotong lengan Ascendant tersebut dan menghantamnya ke dinding batu, menciptakan retakan besar.
John Doe memanggil pecahan logam yang berubah menjadi bilah terbang, tetapi SKK dan Jagienka menembak dari dua arah, menciptakan “dinding api” yang menghalau bilah‑bilah itu dan membuka jalan bagi Nirvatia.
Menggunakan kekuatan barunya:
Nirvatia melompat tinggi, menebas John Doe dari atas dengan sabitnya, menghantamnya sampai tubuhnya terpental dan mulai terurai.
John Doe, dalam keadaan sekarat, masih sempat tertawa menyeramkan sambil tubuhnya hancur.
Ascendant John Doe bangkit lagi lewat tubuh Corrupted, merebut jasad Margaret yang masih terinfeksi Punishing Virus dan kabur saat institut penelitian Carthaki dan Golden Oak runtuh. Nirvatia hampir jatuh ke jurang saat mengejarnya, tetapi diselamatkan oleh SKK dan Jagienka.
Saat semua orang berhasil keluar, Golden Oak hancur dan cahaya-cahaya emas terbang ke langit. Konsentrasi Punishing Virus dan Red Mist di atas Carthaki turun drastis dan akhirnya lenyap. Orang-orang menyadari mimpi buruk puluhan tahun itu berakhir.
“Salju” cahaya jatuh ke tangan Nirvatia; Jagienka memanggil nama Margaret. Lalu muncul wujud Margaret dalam seragam sekolah bersama arwah semua warga Carthaki yang gugur (Gregory, Alyosha, Zhang, dan lain-lain). Mereka tersenyum dari kejauhan dan mengingatkan janji: jika mereka tidak lupa menoleh ke belakang, mereka akan bertemu lagi.
Semua orang bersama-sama meneriakkan slogan: “For a better tomorrow!”. Para arwah kemudian memudar menjadi partikel cahaya hangat yang naik ke langit. Nirvatia berterima kasih pada mereka, menerima masa lalu dan rasa sakitnya, dan bertekad melanjutkan hidup dengan lebih damai.
Setelah itu, cerita berpindah ke Babylonia Control Court. Lesti menginterogasi SKK soal insiden Carthaki, tujuan John Doe, dan keberadaan “Seedling” serta bagaimana Construct Margaret bisa tahan di zona radiasi. SKK menjawab secara formal dan menolak menjelaskan detail teknis, mengarahkan Lesti ke departemen lain. Lesti menyimpulkan jawaban itu sesuai yang ia perkirakan.
Setelah interogasi, di elevator, Nirvatia menjelaskan alasan ia meminta SKK menutupi fakta bahwa Seedling disimpan di tubuhnya: ia tidak percaya pada World Government. Menurutnya, pemerintah hanya ingin alat propaganda dan pendorong moral, bukan kebenaran; mereka juga panik terhadap teknologi M.I.N.D. yang dulu dihentikan.
Nirvatia memaparkan bahwa:
Penyebab pasti Great Akdilek Explosion dan kaitannya dengan reaktor M.I.N.D. No. 4 dan erupsi gunung masih misteri.
Seedling adalah senjata baru melawan Punishing Virus, mirip Sefirah dari Phylotree of Ousia.
Ia dan Chief Technician (Asimov) sepakat bahwa teknologi ini harus tetap di tangan mereka sebagai “kartu truf” untuk masa depan umat manusia.
Nirvatia dan SKK sepakat memikul rahasia Seedling bersama. “Hadiah” dari Nirvatia untuk SKK adalah kepercayaan dan bantuan tanpa syarat dari Security Director, plus isyarat akan “syarat tambahan” yang lebih pribadi.
Di hall militer, Jagienka yang kini menjadi perwakilan publik Carthaki di Babylonia sedang dikejar petugas keamanan karena masalah prosedur pemeriksaan. Nirvatia menjelaskan bahwa:
Jagienka ditempatkan sementara di Babylonia untuk membantu penyelidikan ulang Great Akdilek Explosion.
Oasis dan Babylonia membuat kesepakatan sementara: Rangers akan bekerja sama memburu John Doe dan mencari Margaret.
Commander Li memimpin pemulihan di zona radiasi dan menolak seremoni penghargaan, bahkan menjual koleksi mobil klasik keluarga untuk membantu pembangunan sekolah.
SKK dan Nirvatia berpisah, saling mengingatkan janji mereka dan rahasia yang mereka bagi. Nirvatia melangkah maju sambil mengingat saat Seedling menembus dadanya.
Lalu muncul kilas balik masa lalu: Katya (ibu Nirvatia/Margaret) dan seorang perwira bernama Pavlov di garis depan. Katya membawa putrinya yang sakit-sakitan (Margaret) ke medan perang. Pavlov menganggap Margaret sebagai “beban”, tetapi Katya menolak cara pandang itu dan menyatakan:
Kehidupan tidak perlu “luar biasa” untuk bermakna.
Ia menolak hanya memotret kemenangan dan mengabaikan prajurit sekarat.
Bagi Katya, keberanian Margaret untuk hidup sudah cukup untuk disebut “besar”.
Saat pasukan bersiap melakukan serangan terakhir untuk menahan Corrupted dan mengevakuasi warga, Pavlov memberi Katya kesempatan terakhir bicara pada putrinya. Katya mengingatkan Margaret tentang permainan mereka dan tokoh dewi bernama Nirvatia (νέκυια), dan mengajarinya kalimat penting: “Keep running. Don’t look back.”
Setelah tiga peluit tanda serangan, Katya menggandeng Margaret berlari di tengah hujan peluru dan ledakan. Margaret terus mengulang “Keep running. Don’t look back,” jatuh berkali-kali, kakinya berdarah, tetapi selalu bangkit lagi.
Di ujung pelarian, ia melihat para penyelamat datang. Saat ia menoleh ke belakang, tidak ada siapa-siapa di hamparan padang yang sepi. Dari hari itu, Nirvatia mulai melupakan banyak hal, termasuk masa lalu tersebut, tetapi prinsip “keep running, don’t look back” tertanam dalam hidupnya.
Kembali ke masa kini, Nirvatia menyadari pesan ibunya selalu menuntunnya. Ia berterima kasih kepada Katya dan berjanji akan menjadi berani dan baik seperti ibunya, siap mengorbankan sebagian kebahagiaannya untuk membawa kebahagiaan bagi orang lain, demi tujuan yang benar dan masa depan yang lebih baik.
Narasi penutup menekankan bahwa legenda manusia bertahan bukan karena pahlawannya terlahir hebat, tetapi karena mereka memilih melawan arus dan bertahan pada keyakinan mereka. Sejarah manusia digambarkan sebagai rangkaian keberanian yang membuat umat manusia tak pernah punah meski diterpa kegelapan.
Di segmen akhir, kembali ke ruang interogasi Control Court:
Lesti melapor pada atasannya (identitas ??/"The Tower") bahwa SKK dan Nirvatia bersekutu, dan data riset Carthaki telah diamankan. Ia memprediksi Science Council akan menyamai level riset M.I.N.D. era Dominik dalam beberapa bulan.
Atasannya menanyakan makhluk buatan mirip Sefirah di Carthaki. Lesti menyatakan SKK dan Nirvatia berbohong soal itu.
Atasan kemudian menjelaskan bahwa menurut teori Dominik, M.I.N.D. semua Construct berasal dari “Phylotree”; beberapa frame khusus bisa menghubungkan M.I.N.D. mereka ke Phylotree lewat medium bernama Sefirah untuk melawan serangan data Punishing Virus. Tugas mereka adalah menghancurkan Sefirah.
“Kabar baik” menurut Lesti: agent dengan codename “Aisling” terlihat di Ezette, “Mobile Fortress”, yang dikaitkan dengan peninggalan Dominik. Atasan menganggap ini justru pertanda agent lain juga mengincar warisan Dominik.
Lesti menutup dengan nada optimis sinis: semakin besar kekacauan, semakin besar kesempatan mereka bergerak.