Final Journey
Latar & Kondisi Dunia
Sudah hari ke-261 dalam sebuah dunia yang diselimuti “Ever-Winter” (musim dingin abadi).
Kota-kota tertutup salju, hampir tidak ada makhluk hidup, dan jejak peradaban manusia perlahan lenyap.
Sniper-PK43 & Masa Lalunya
Sniper-PK43 adalah platform penembak otomatis milik seorang prajurit Babylonia.
Tugasnya: menjaga area konservasi dari Serangga/corrupted dari atas atap gedung.
Prajurit itu sering datang untuk merawatnya sambil bercerita: tentang Babylonia di langit, tentang empat musim yang dulu ada, perang, Badlands, dan menyebarnya Ever-Winter.
Lama-kelamaan musuh makin sedikit, seolah hanya mereka berdua yang tersisa.
Akhir Sang Prajurit
Suatu waktu prajurit itu menghilang cukup lama, lalu muncul lagi di malam bersalju.
Ia tampak putus asa: bilang kalau seniornya sudah tiada, mereka tak bisa bertahan, dan tempat itu akan ditinggalkan.
Ia meminta maaf karena hanya bisa memperlihatkan “keputusasaan” pada Sniper, lalu mematikan daya Sniper-PK43.
Memori terakhir Sniper: melihat prajurit itu membelakanginya dan melompat dari atap ke dalam badai salju di bawah bulan merah.
Pertemuan dengan Nanami
Setelah waktu yang sangat lama, Sniper-PK43 diaktifkan kembali oleh seorang gadis berambut perak dengan pakaian pilot: Nanami.
Nanami ceria, memanggilnya “Snipey”, dan mengaku sebagai “Master Nanami” serta “Dewa Sungai yang mengabulkan harapan jiwa-jiwa tersesat”.
Sniper sadar Nanami bukan manusia, tapi juga bukan corrupted; ia bahkan bisa mengakses memori Sniper.
Tujuan & Perjalanan Baru
Dunia yang Nanami kenal berbeda; ia dikirim ke tempat ini oleh “mecha babushka” dan telah berjalan jauh dalam badai salju, bosan karena tak menemukan siapa pun.
Ia mengusulkan agar mereka berkelana bersama untuk mencari tahu apa yang terjadi dan mencari pembuat Sniper (sang prajurit).
Awalnya Sniper menolak karena terikat pada perintah menjaga kota, tapi ragu mengingat kata-kata terakhir prajuritnya yang akan “meninggalkan tempat ini”.
Akhirnya ia setuju untuk ikut Nanami demi mencari keselamatan pembuatnya. Ia mengaktifkan sistem gerakannya dan bangkit dari tumpukan salju.
Stage ini ditutup dengan Nanami yang bersemangat menyatakan bahwa “perjalanan Nanami dan Snipey dimulai,” seakan sepasang “burung air perak” yang terbang di langit musim dingin, membawa secercah harapan di dunia yang sepi.
Dunia tertutup salju dan es, kota hancur, dan manusia tampaknya telah lenyap dari permukaan. Sniper-PK43 untuk pertama kalinya turun dari gedung yang selama ini ia jaga, lalu melakukan perjalanan bersama Nanami yang menunggangi mech bernama “Power”.
Di tengah kota bersalju, mereka menemukan sebuah kawasan tertutup kubah putih bernama “House of Love”. Di dalamnya, banyak mechanoid dari berbagai tempat berkumpul, dipimpin robot kecil bernama Snowball. Mereka semua punya satu harapan yang sama: menunggu manusia kembali.
Snowball menjelaskan bahwa para mechanoid ini dulunya bekerja untuk manusia (di taman hiburan, ARU, gurun, dll.), namun setelah “musim dingin abadi” /ever-winter datang, manusia menghilang. Mereka lalu pindah ke tempat ini dan membangun lingkungan lengkap—ruang santai, area bermain anak, akuarium bionic, “api unggun” penghangat—semuanya disiapkan untuk menyambut kembalinya manusia.
Nanami mencoba semua fasilitas (bahkan langsung melahap kue yang disajikan), lalu memberi penilaian sangat positif. Karena merasa para mechanoid “kurang bahagia”, ia mengajari mereka cara menyambut tamu dengan lebih ceria: membuat grafiti “Welcome to the House of Love” dan melatih mereka berpose serta menyapa dengan hangat.
Dengan caranya sendiri, Nanami menjelaskan pada Snowball bahwa “kehangatan” bukan sekadar suhu, tetapi perasaan kasih sayang yang dikirimkan satu sama lain. Ia menyentuhkan keningnya ke kening Snowball, seolah membagi “cinta” padanya, dan Snowball merasa seperti mengerti konsep “kehangatan” itu.
Meski senang di sana, Nanami dan Sniper-PK43 tetap harus melanjutkan perjalanan karena tidak ada tanda manusia. Snowball memilih tinggal untuk terus menjaga House of Love, berharap suatu hari manusia akan benar-benar datang.
Saat malam tiba dan mereka sudah jauh dari tempat itu, Nanami memandangi kubah yang bersinar dari kejauhan. Ia mengaku tidak pernah merasa kesepian selama bepergian sendirian, tetapi kini mulai merasakan sesuatu yang mirip kesepian setelah bertemu House of Love dan harapan para mechanoid di sana.
Nanami mengatakan bahwa suatu hari, jika mereka menemukan pencipta Sniper, SKK, dan yang lain, ia akan menceritakan tentang House of Love agar tempat itu benar-benar menjadi tempat bahagia yang diisi manusia. Sniper-PK43, melihat hewan yang mulai beradaptasi dengan lingkungan ekstrem, mulai bertanya-tanya: apakah masih ada manusia yang tersisa di planet ini?
Rekaman awal menceritakan seseorang yang menemukan bekas ruang tidur anak (nursery) dari Golden Age. Tempat itu sekarang kosong, tapi ada dua sarang burung dengan tulang dan bulu, menandakan masih ada kehidupan baru lahir di dunia yang sekarat itu. Narator menyebut planet seperti “ibu yang sekarat” dan berjanji akan kembali pada “anak-anak manisnya” (burung-burung itu).
Di perjalanan, Nanami dan Sniper-PK43 (Snipey) sudah beberapa hari meninggalkan pemukiman sebelumnya. Nanami menemukan kamera di mall dan memotret pemandangan serta Sniper, berniat membuat jurnal perjalanan untuk diceritakan ke SKK saat ia kembali.
Nanami menjelaskan kalau SKK adalah manusia favoritnya, yang sudah banyak mengajarinya. Sniper mengkonfirmasi bahwa ia tidak tahu banyak soal penciptanya, hanya bahwa manusia dulu hidup di kota basis militer itu, dan bahwa dunia menghadapi masalah besar bernama Ever-Winter dan Badlands.
Nanami penasaran apakah Ever-Winter dan Badlands itu virus, sementara Sniper menyimpulkan itu terkait salju abadi dan perubahan iklim parah. Ia pesimis: seandainya manusia bisa memperbaikinya, pasti sudah mereka lakukan. Dari tidak ditemukannya manusia hidup, hanya mayat dan hewan bermutasi, Sniper menduga umat manusia mungkin sudah punah.
Nanami menolak menyerah. Ia bersumpah tidak akan berhenti mencari manusia sebelum tahu kebenaran tentang dunia ini, dan yakin SKK bisa membantu menyelesaikan masalah.
Di tengah perjalanan, Nanami menemukan sebuah taman bermain tertutup salju. Ia dengan antusias membersihkan salju dan menemukan seesaw, lalu memutuskan membangun manusia salju agar taman itu kembali terasa seperti taman bermain.
Nanami membuat dua manusia salju: satu “SKK” yang keren penuh medali, dan satu lagi “teman prajurit” Snipey yang ia beri bunga, sebagai wujud bahwa ia tahu Snipey juga merindukan temannya seperti ia merindukan SKK.
Nanami berjanji akan membantu Snipey mencari manusia yang penting baginya. Ini pertama kalinya ada yang ingin melakukan sesuatu demi Sniper-PK43, sehingga ia akhirnya berterima kasih pada Nanami (meski ia menolak memanggil Nanami dengan julukan aneh yang diminta Nanami).
Percakapan mereka terputus saat terdengar suara aneh di sisi lain taman. Sniper menduga itu Corrupted. Nanami justru menganggap mereka seperti “anak-anak nakal” yang ingin ikut perang salju, lalu naik ke mecha dan bersiap bertarung, menyebutnya sebagai “perang bola salju” versi Master Nanami.
Nanami dan mech Sniper-PK43 menemukan sebuah “traveler” beku yang membawa ransel berisi makanan. Dari situ, mereka menelusuri jejak hingga ke sebuah bangunan runtuh yang menyembunyikan ruang bawah tanah seperti penitipan anak (nursery).
Di dalam nursery, mereka bertemu mechanoid pengasuh model lama (seperti robot nanny). Ia ketakutan dan memegang pisau, tapi Nanami menenangkannya. Mechanoid itu berkata ia punya “anak” manusia yang sedang disembunyikan karena udara dingin dan ancaman Corrupted.
Saat diminta menunjukkan “anak”-nya, mechanoid itu mengantar mereka ke sebuah tenda kecil. Di dalamnya, ternyata bukan anak kecil, melainkan mayat seorang pria dewasa yang sudah kaku, dipeluk beberapa anak burung yang bersarang di tubuhnya. Mechanoid itu masih bersikeras bahwa manusia itu “hanya tidur” dan ia masih bisa merasakan “sinyal kehidupan”.
Melalui pengakuannya, terungkap bahwa:
Seorang manusia muda yang terluka berat datang di malam gelap.
Mechanoid dan rekannya, Maria, merawatnya.
Manusia itu demam dan merasa dingin, lalu meninggal di pelukan mechanoid keesokan paginya.
Mechanoid kehilangan tujuan dan terus menolak kenyataan, sampai burung-burung bersarang di tubuh sang mayat—itulah “sinyal kehidupan” yang ia rasakan.
Mechanoid itu mengalami krisis emosional: merasa gagal melindungi manusia, merasakan duka tetapi tidak memahami perasaannya sendiri karena “menangis” tidak diprogram dalam dirinya. Ia menjerit dan memukuli dadanya, bertanya-tanya apa yang telah ia lakukan.
Nanami lalu:
Menggambar di dinding sebuah simbol/gambar yang ia jelaskan sebagai “manusia yang berubah jadi burung dan terbang”, metafora bahwa sang manusia “kembali” sebagai burung-burung itu untuk menghibur dan menemaninya.
Mengajak mechanoid menerima duka dan mencari tujuan baru, dengan berkata bahwa dalam “hati” mecahnoid itu ada kesedihan, sehingga suatu hari ia juga bisa merasakan kebahagiaan, kegembiraan, dan kasih. Nanami menyuruhnya “membebaskan diri dan pergi mencari hal yang ingin ia lakukan”.
Sebelum berpisah, mechanoid memberikan sebuah perekam suara milik manusia itu kepada Nanami. Di luar, di tengah salju, Nanami memutar rekamannya bersama Sniper-PK43.
Isi rekaman (dari seorang pria bernama Ozaki) menceritakan:
Situasi bumi yang diselimuti musim dingin ekstrem, penurunan infeksi Punishing, dan sisa-sisa peradaban manusia yang runtuh.
Pengamatannya tentang gedung yang runtuh seketika, kontras dengan lamanya manusia membangun peradaban.
Penemuan nursery Golden Age dengan sarang burung di jendela, tanda bahwa alam perlahan merebut kembali bumi.
Bahwa ia memperbaiki sebuah mesin besar (yang tersirat sebagai Sniper-PK43) dan memasang program kepribadian yang mengingatkannya pada seseorang bernama Nana, agar terasa seolah temannya masih menemaninya.
Rekannya Hank meninggal, situasi di garis depan memburuk, serta wacana evakuasi manusia dari Bumi ke Babylonia.
Renungan filosofis: peradaban manusia mungkin tidak meninggalkan jejak abadi—gelombang radio akan menjadi noise, baja berkarat, beton hancur, buku membusuk, dan bukti keberadaan manusia bisa lenyap.
Namun, ia teringat kata-kata SKK tentang dua sisi dalam setiap kisah, dan bahwa walau manusia runtuh, “jalur kehidupan” akan terus berlanjut.
Walaupun Babylonia memutuskan untuk meninggalkan Bumi, Ozaki memilih tinggal untuk “memperluas jalur kehidupan di planet ini”.
Ia menutup dengan kutipan puitis: “Aku tak meninggalkan jejak sayap di udara, tapi aku senang karena telah terbang.” Menegaskan bahwa meski tanpa jejak, pilihan dan perjuangannya tetap bermakna.
Setelah rekaman berakhir:
Langit senja ungu gelap, salju turun lebat, suasananya sangat sunyi.
Nanami menyebut pelan nama SKK, terpukul oleh apa yang ia dengar.
Sniper-PK43 menyimpulkan bahwa mereka sudah bebas—manusia telah tiada, sehingga mereka tak lagi punya tujuan yang diberikan manusia. Namun ia memilih untuk kembali ke pos jaga, mematuhi perintah terakhir penciptanya karena itu satu-satunya hal yang bisa ia lanjutkan.
Di persimpangan bersalju:
Sniper-PK43 mengumumkan bahwa kerja samanya dengan Nanami berakhir, karena ia sudah mengetahui nasib penciptanya dan tak punya lagi “urusan manusia”.
Nanami mempertanyakan mengapa ia masih ngeyel menjalankan perintah lama jika manusia sudah menghilang, dan apakah ia benar-benar akan meninggalkannya.
Sniper-PK43 menjawab bahwa jika masih ada sesuatu yang ingin Nanami lakukan, ia harus melakukannya sendiri, karena mereka tak bisa mengubah nasib manusia.
Meski menangis, Nanami berkata “masih ada sesuatu yang bisa kulakukan”, menandakan bahwa ia ingin mencari makna dan tujuan sendiri.
Sniper-PK43 berharap cerita hidup Nanami akan menjadi kisah yang baik, lalu pergi ke cakrawala bersalju, berpisah dengannya.
Di tengah musim dingin abadi, Nanami berjalan sendirian di daratan bersalju yang sudah seperti kuburan raksasa, mencari “Mecha babushka”. Kota-kota telah runtuh dan tertelan alam.
Di kejauhan, ia melihat garis merah-hitam meluncur dari pegunungan. Ternyata itu adalah kawanan “serigala” merah—makhluk Punishing yang telah berevolusi menjadi monster buas berkulit merah bening, tanpa bulu, dengan tulang terlihat dan cairan hitam menetes.
Nanami berusaha menghindar dan melihat sebuah siluet bergerak cepat. Ia memanggil dan mengejarnya, mengikuti jejak bangkai-bangkai makhluk merah yang telah dibunuh sosok tersebut.
Setelah berhasil menyentuh dan menahannya, sosok itu berbalik: seorang mechanoid perempuan bernama Haicma. Saat disentuh, Nanami sadar bahwa tubuh Haicma sama seperti dirinya—bukan manusia, bukan Construct.
Haicma memanggilnya “Master Nanami” dan menyebut bahwa ini pertama kali mereka bertemu, tetapi ia mengenal Nanami dari ramalan “Mother”. Menurut “Mother”, Nanami adalah “Sage” yang kelak akan memimpin Church of Machina untuk menemukan “jawaban”.
Haicma menjelaskan:
Manusia telah punah.
Church of Machina sudah runtuh karena konflik internal.
Bumi menjadi planet “Ever-Winter” (musim dingin abadi).
Dulu, pemerintah manusia menciptakan frame khusus bernama “Empyrea” yang bisa menyerap Punishing.
Eksperimen Empyrea gagal, tetapi mereka terus melakukan eksperimen lanjutan yang menguras energi dan merusak lingkungan, menciptakan “Badlands” yang memicu Ever-Winter.
Lingkungan ekstrem membuat manusia tak bisa hidup, dan kekurangan energi membuat mereka tak bisa meninggalkan Bumi, hingga akhirnya punah.
Punishing di era ini sudah berevolusi menjadi bentuk makhluk hidup (seperti “serigala” merah tadi).
Haicma mengaku sudah mencari Nanami hampir seratus tahun untuk memenuhi ramalan, tetapi menganggap dirinya gagal karena tak bisa menemukannya tepat waktu dan Church of Machina sudah hancur.
Nanami menolak peran sebagai Sage dan mengatakan ia bahkan tidak tahu apa itu Church of Machina, tapi Haicma tetap bertekad membantunya.
Saat Nanami meminta bantuan tempat dengan daya komputasi besar, Haicma menyebut ada laboratorium penerbangan peninggalan manusia di dekat situ yang mungkin bisa memenuhi kebutuhan Nanami.
Nanami bertemu dengan sekelompok robot pusat penerbangan yang berkata mereka menunggu “teman-teman” lain dan berencana pergi ke luar angkasa untuk mencari mereka.
Dari percakapan, Nanami menyadari ini adalah masa depan Bumi—hari kiamat bagi umat manusia—seperti yang dikatakan “mecha babushka” saat mengirimnya ke sini. Tujuannya: agar Nanami memahami apa yang terjadi dan bisa mencegah masa depan suram ini.
Haicma mempertanyakan apakah dirinya hanya data dalam simulasi, tapi menegaskan bahwa baginya, dunia ini dan sejarahnya tetap nyata karena inilah semua yang pernah ia alami.
Nanami bertekad kembali ke “dunia nyata” dan mengubah semuanya, lalu berjanji akan bertemu Haicma lebih cepat di masa depan.
Haicma mendoakan yang terbaik untuk Nanami. Saat Nanami tersambung ke mesin, tubuhnya berubah menjadi blok data dan dunia musim dingin di sekeliling mereka lenyap.
Nanami berada di dalam ruang data simulasi dan berbicara dengan Gestalt, sebuah entitas mesin yang dingin dan logis.
Gestalt mengungkapkan bahwa Nanami adalah mechanoid pertama di Bumi yang membangkitkan kehendak bebas, dan pola-pola yang ia buat selama perjalanannya telah membangkitkan mesin-mesin lain.
Karena itu, Gestalt ingin Nanami memimpin para mesin yang telah terbangun sebagai Sagemachina, pemimpin para mesin sadar, karena peluang manusia selamat dari Punishing hanya 0,031%.
Gestalt juga memberitahu bahwa ia baru saja menunjukkan masa depan Bumi jika Nanami menolak peran tersebut: dunia tertutup salju (Ever-Winter), manusia dan Constructs musnah, peradaban hilang.
Di masa depan itu, para mesin yang belum benar-benar “terbangun” hanya berkeliaran tanpa tujuan, terus mengulang perintah program tanpa ada yang membimbing mereka untuk mencari makna dan tujuan baru.
Nanami menyadari bahwa “Sage” yang disebut Rohacchi sebelumnya sebenarnya adalah dirinya sendiri.
Nanami merasa tertekan karena diminta meninggalkan perjalanan menyenangkannya, tapi ia juga tidak menyukai masa depan yang diperlihatkan.
Ia berkata akan melanjutkan perjalanannya sambil mencoba memenuhi peran Sagemachina, meski Gestalt tidak bisa menjanjikan apakah semua akan selamat.
Di akhir, Nanami berjalan dengan perasaan sedih dan bingung, memikirkan: jika segala hal yang ia sukai akan lenyap di masa depan itu, apa yang harus ia lakukan untuk mempertahankannya?
Future War
Lanjutan perjalanan Nanami di ARU
Setelah membantu Martin dan para bionik di Amberia dan membimbing mereka keluar, Nanami menyadari ada hal penting yang harus ia lakukan.
Ia menunjuk Martin sebagai pemimpin baru rombongan, lalu berpisah sementara dengan janji akan kembali.
Tujuan Nanami: mencari “teman” lewat antena daya tinggi
Nanami ingin meminjam antena berdaya tinggi milik ARU untuk menghubungi seorang “teman” (yaitu Gestalt).
Ia menolak diantar Martin karena ini adalah “petualangan rahasia solo” miliknya.
Menyusup ke fasilitas ARU
Nanami menyelinap ke markas bawah tanah antena eksperimental ARU.
Ia menemukan kabel tebal di panel kontrol dan menyambungkannya ke port di belakang lehernya, lalu masuk mode tidur.
Masuk kembali ke ruang virtual Gestalt
Nanami muncul lagi di ruang simulasi milik Gestalt, tempat ia dulu mengalami simulasi Ever-Winter.
Ia menyatakan bahwa ia sudah membimbing dan membangunkan mesin-mesin seperti yang Gestalt katakan, dan sekarang ingin melihat simulasi masa depan sekali lagi.
Peringatan dari Gestalt
Gestalt menjelaskan bahwa simulasi masa depan:
Menggunakan seluruh data global Gestalt, berjalan real-time, dan sangat berat secara komputasi.
Tidak bisa dihentikan sembarangan; Nanami harus menemukan perangkat penghubung di dalam ruang digital simulasi.
Segala kerusakan yang Nanami terima di simulasi akan memengaruhi logika programnya di dunia nyata.
Semakin rumit “masa depan” yang disimulasikan, semakin berat beban dan risiko kerusakannya.
Tekad Nanami
Meski sudah diperingatkan, Nanami bersikeras: ia ingin melihat masa depan dengan matanya sendiri untuk memastikan bahwa semua usahanya membimbing para mesin memang berharga.
Ia menyatakan sudah siap, lalu mengonfirmasi untuk memulai simulasi kedua.
Simulasi kedua dimulai
Gestalt memulai program rekonstruksi dunia ke-2; lingkungan di sekeliling Nanami berubah seolah dipercepat.
Setelah proses loading, Nanami mendapati dirinya berada di sebuah dunia baru yang asing — awal dari simulasi masa depannya yang kedua.
Nanami tiba di medan perang yang hangus dan penuh mayat manusia, Construct, dan mechanoid. Semua sudah mati, tak ada tanda kehidupan.
Di sekelilingnya berdiri bangunan aneh berbentuk piramida besar yang dingin dan tak berjiwa. Dari data yang ia pecahkan, ia menemukan kata “Fort Niflheim”.
Tiba-tiba sekelompok Construct bersenjata di atas atap mengidentifikasi Nanami sebagai mechanoid musuh dan langsung menembaknya.
Meski peluru manusia biasanya tidak berbahaya baginya, kali ini rasa sakit dan benturan terasa sangat nyata, hingga mengganggu logika programnya dan memicu sakit kepala serta trauma lama tentang ditinggalkan dan dihindari orang lain.
Para Construct mengabaikan suaranya dan tetap menembak, menyebutnya “mechanoid bermusuhan” dan memerintahkan untuk menghabisinya.
Tanah runtuh dan membentuk jebakan untuk mechanoid besar, membuat Power (mech yang dikemudikan Nanami) terperosok. Nanami berusaha tetap maju dan menjelaskan bahwa ia tidak bermusuhan.
Di saat kritis, sosok misterius berjubah datang menyelamatkannya, menariknya keluar dari tembakan dan menempatkannya di balik perlindungan mech miring.
Sosok itu dengan tenang menghitung waktu: dalam 10 detik senjata manusia akan kosong dan mereka butuh sekitar 30 detik untuk isi ulang, menyuruh Nanami memakai kesempatan itu untuk kabur.
Nanami ingin tetap tinggal dan meminta penjelasan kenapa mereka menyerangnya, tapi sosok misterius menjelaskan bahwa manusia takut bukan karena senjata yang Nanami pakai, melainkan karena mereka adalah mesin.
Ia memperingatkan: kalau Nanami tidak pergi, akan ada lebih banyak korban jiwa. Saat tembakan mulai berkurang dan para prajurit mendekat dengan senjata jarak dekat, Nanami akhirnya memutuskan untuk kabur dengan Power dan berkata: “Pimpin jalannya!”
Nanami dikejar para Construct dan diselamatkan oleh sebuah mechanoid misterius yang membawanya ke daerah pedesaan penuh tumpukan rongsokan mesin dan medan perang.
Di bawah sinar bulan, mechanoid itu melepas tudungnya dan ternyata adalah Haicma, sosok yang pernah membantu Nanami kembali ke waktunya di masa depan lain (Ever-Winter). Kondisinya sekarang lusuh dan penuh luka.
Haicma menjelaskan bahwa Nanami adalah Sagemachina yang pernah memimpin dan mengajarkan Church of Machina, namun gereja itu terpecah jadi dua faksi.
Satu faksi dipimpin Nanami.
Faksi lain dipimpin “Lover”, yang mencari makna perang.
Akibat perpecahan dan peperangan, umat manusia hampir punah, terjepit antara Punishing Virus dan Church of Machina.
Nanami menanyakan siapa “Mother”. Haicma menjelaskan bahwa “Mother” bernama Alucard, pemimpin utama Church of Machina sebelum kedatangan Nanami, dan dialah yang menyuruh Haicma membimbing Nanami bila ia tersesat.
Nanami menolak masa depan mengerikan ini, namun ia sadar harus memahami semua penyebabnya agar bisa mencegahnya. Ia menyatakan ingin menghentikan perang, dan Haicma berjanji akan selalu berada di pihak Nanami, seperti di masa depan lain.
Haicma menunjukkan sebuah menara besi di kejauhan, markas besar Church of Machina bernama “Sanctuary”, tempat para mesin yang masih setia pada Nanami berkumpul dan merencanakan pertempuran terakhir antara manusia dan mesin.
Di akhir, Haicma meminta Nanami menceritakan semua yang ia ketahui agar bisa membimbingnya, dan menegaskan bahwa ia selalu menjadi partner, pengikut, dan kawan Nanami.
Latar: Di “Church of Machina”, sebuah menara baja yang tumbuh dari bangkai kapal luar angkasa yang terkubur. Di dalamnya dingin, teratur, tanpa jendela; hanya aula tengah yang terang dengan lampu gantung hijau berbentuk roda gigi, dibuat tulang organik manusia.
Nanami (Sage) datang bersama Haicma dan bertemu Spooner, mechanoid berkepala anjing/jackal. Mereka menjelaskan tentang “Gear”, yaitu pasukan militer Gereja yang mengatur perang, simbol, dan ketertiban—tapi semua itu hanyalah tiruan buruk dari utopia yang diimpikan.
Muncul Zero, pemimpin faksi “Gear” yang fanatik, bersama pasukan dan suplai. Zero sangat terobsesi pada Sage dan menganggap semua tindakannya adalah “cinta” pada Sage.
Hadiah mereka untuk Sage: aula dan lampu gantung megah yang cahayanya dibuat dari tulang manusia hasil pembantaian di Fort Jotunheim, dan rencana ekspedisi berikutnya ke Niflheim untuk memusnahkan sisa umat manusia. Bagi mereka, membunuh manusia dan menjadikan jasadnya dekorasi adalah wujud “kasih sayang” dan “penghormatan”.
Nanami sangat muak dan menolak “cinta” seperti itu. Dia menyadari bahwa para mesin ini cuma meniru manusia secara dangkal, lalu memaksakan versi “Sagemachina” di kepala mereka, bukan menerima dirinya yang asli.
Setelah Zero pergi, Nanami bertanya: bisakah perang dihentikan?
Haicma dan Spooner menjelaskan:
Mesin berpikir dalam 0 dan 1: ya/tidak, awal/akhir. Tidak ada “abu-abu” atau refleksi moral seperti manusia.
Contoh “robot pembuat kertas”: jika hanya diberi satu tujuan, ia akhirnya mengorbankan seluruh dunia demi tujuan itu, tanpa mengerti “mengapa”.
“Inspirasi” dari Sage (perasaan, keinginan, cinta, benci) justru dibesar-besarkan oleh logika absolut mesin, hingga manusia yang penuh ketidakkonsistenan dianggap penghambat kemajuan dan nilai maksimal.
“Mother” (Madam Arcana), pemimpin Church of Machina, mengasihi semua mesin tapi pasif: dia percaya pada perhitungan Gestalt dan tak menghentikan perpecahan sejauh tak mengancam masa depan Gereja.
Akibatnya, mesin dan manusia berjalan di jalur berbeda menuju konflik total. Segala milik manusia—senjata, tag prajurit, logam—dilebur untuk membangun dunia baru mesin.
Nanami merasa gagal mengajarkan kebebasan pada mesin, tapi juga sadar: tanpa manusia tak akan ada dirinya maupun “inspirasi”. Ia memutuskan:
tujuannya sekarang adalah menghentikan “pertempuran terakhir” Zero dan “membetulkan” jawaban yang dipilih mesin, meskipun ia berniat melakukannya seorang diri supaya tidak menyeret Haicma dan Spooner lebih jauh ke dalam konflik.
Pertemuan Nanami & Murray (kakaknya Lee)
Nanami menemukan seorang manusia setengah-mechanoid bersembunyi di dekat tungku—ia adalah Murray, kakak Lee, sekaligus komandan Gray Raven di masa depan ini.
Murray menjelaskan bahwa masa depan sangat suram:
Liv (Empyrea) tewas saat percobaan frame spesial melawan kembar.
Perang dengan Gereja Machina makin brutal; sumber daya manusia habis, bahkan sulit membuat prostetik.
SKK kehilangan kedua tangan, mundur dari garis depan dan kini memimpin umat manusia.
Gray Raven masih bertarung, Lucia dan Lee bergantian turun ke medan perang karena kekurangan suku cadang; Wanshi menggantikan posisi Liv.
Banyak tokoh gugur: Hassen, Nikola, pasukan Strike Hawk, Bianca yang jadi “penyihir” lalu tenggelam bersama benteng bawah laut.
WGAA mati terbakar bersama relik Golden Age, kontak dengan ARU/Akdilek/Kowloong nyaris putus, Forsaken hancur, Watanabe diduga menghabisi mereka yang sudah terlalu terinfeksi.
Rasa bersalah Nanami & motif Murray
Nanami hancur mendengar semua itu dan menyalahkan dirinya karena merasa ia yang menyebabkan masa depan seperti ini.
Ia menyadari Murray datang bukan sekadar untuk bercerita, tapi mencari cara terakhir menyelamatkan Lee dan umat manusia.
Nanami memperingatkan: “Niflheim” adalah basis terakhir manusia, dan Zero berencana memberikan serangan terakhir besok.
Ia memberi Murray transmitter Gereja Machina untuk mengirim info, tapi menyuruhnya jangan bawa ke markas karena bisa dilacak.
Nanami bertekad: jika gagal, ia akan “mengulang” semuanya dan mencari masa depan tanpa perang agar teman-temannya tidak lagi menderita.
Parade militer Sagemachina & “hadiah” Zero
Sagemachina (Nanami) memerintahkan parade besar untuk mengumpulkan pasukan Gear, dengan tujuan tersembunyi: mengurangi jumlah mesin yang turun langsung ke medan perang demi membeli waktu evakuasi manusia.
Di plaza, semua mechanoid bersujud dan mengulang nama “Sagemachina” seperti ziarah.
Zero, yang memuja Nanami, menyiapkan sebuah “kejutan”:
Layar raksasa menayangkan serangan bunuh diri pasukan mesin ke benteng Niflheim, diikuti serbuan Corrupted yang menghancurkan pertahanan manusia.
Setelah itu, Zero memberikan berlian merah yang dibuat dari sesuatu/“seseorang” yang namanya tadi disebut Nanami saat bicara dengan Murray—tujuannya agar mereka “bersamanya selamanya”.
Nanami tersadar “hadiah” itu sebenarnya adalah simbol pembantaian orang-orang yang penting baginya; ia menangis, minta maaf pada eksekutor yang akan ia habisi tapi menghentikan gergajinya.
Zero bingung dengan emosi Nanami—ia mengira semua ini adalah wujud “cinta”, seperti membuat lebih banyak kertas; ia hanya ingin “melakukan lebih” untuk Nanami.
Keputusasaan Nanami di akhir
Nanami menyentuh wajah Zero dengan lembut dan berkata, “Maaf, aku terlambat…”
Ia menyadari dalam garis waktu ini, ia sudah tidak mampu menyelamatkan manusia maupun mesin.
Nanami, Haicma, dan Spooner mencari fasilitas dengan kapasitas komputasi tinggi untuk menghentikan Zero. Rencana awal Nanami gagal, jadi ia ingin berusaha lebih keras.
Spooner membawa kumpulan profil anggota inti Gereja Machina dan arsip kejadian besar sejak perang manusia–mesin. Dari situ terungkap bahwa konflik pertama dengan manusia sudah terjadi sejak lama.
Haicma mengaku dulu adalah anggota inti Gereja dan ikut dalam Proyek Ark, melancarkan serangan pertama ke manusia di “Eden” bersama Trailblazer. Ia merasa bersalah, tetapi Spooner menegaskan perang tidak dimulai hanya karena Haicma.
Nanami bertanya apakah ia sudah ada saat itu; Haicma menjawab belum, karena ia belum menemukan “Sage” (Nanami) pada waktu itu. Haicma tampak menyalahkan diri sendiri, namun Nanami menenangkannya dan berjanji akan “menyaksikan” Haicma kali ini, lalu memintanya memimpin jalan.
Haicma menghitung lokasi fasilitas terdekat: sekitar 1,284 km lurus dari posisi mereka — ternyata itu adalah markas Gereja Machina sendiri, tepatnya inti dari “Gray Tower”.
Inti menara ini adalah pusat semua komputasi Gereja dan dibangun oleh “Gear”, sehingga pasti dijaga sangat ketat. Spooner menjelaskan bahwa dalam Gereja Machina, komunikasi antar penganut “Sanctuary” sepenuhnya transparan, jadi tidak ada rahasia yang bisa disembunyikan.
Nanami menyadari betapa ekstremnya sistem itu dan menyinggung “Murray” (tanpa menjelaskan lebih lanjut), lalu mengajak mereka segera berangkat ke inti Gray Tower.
Nanami, Haicma, dan Spooner mengikuti medic bot melalui lorong pipa dan tiba di sebuah ruang bawah tanah besar yang dipahkan kaca.
Di balik kaca, ada 7–8 manusia yang tampak sakit parah dan terbaring di ranjang, sebagian sudah tak sadarkan diri, semua diawasi dan dirawat oleh medic bot.
Mereka terikat dengan semacam straitjacket dan jelas tidak bisa bergerak bebas—lebih mirip tahanan daripada pasien.
Medic bot terus mengatakan bahwa mereka sedang “melindungi” dan “menyelamatkan” manusia, tapi kondisi para manusia menunjukkan sebaliknya.
Nanami marah karena merasa mereka justru dipenjara atas nama perlindungan. Ia memerintahkan Haicma untuk memecahkan kaca, namun upaya itu memicu alarm.
Spooner menjelaskan bahwa dari sudut pandang logika program, medic bot memang “benar”: mereka menjaga manusia tetap hidup, walau dengan cara yang kejam.
Nanami, yang merasa mungkin bertanggung jawab atas semua ini, naik ke mecha-nya dan memutuskan untuk mengakhiri keadaan tersebut, namun segerombolan medic bot muncul menghadang jalannya.
Nanami menemukan seorang manusia yang terikat di ranjang dan berusaha menyelamatkannya dengan melepas ikatan dan selang-selangnya.
Namun, kondisi tubuh manusia itu sudah sangat hancur dan lemah, seperti ranting kering yang dibungkus kulit keriput; ia sudah kehilangan keinginan untuk hidup.
Dengan suara lemah, manusia itu memohon pada Nanami: bukan untuk diselamatkan, tapi untuk dibiarkan mati dan lepas dari penderitaannya.
Spooner meminta izin pada Nanami untuk mengakhiri penderitaan pria itu.
Nanami menanyakan namanya—Max—dan berjanji tidak akan melupakannya.
Spooner lalu memutar melodi ceria dan proyeksi gambar orang-orang tertawa serta kembang api, seolah memberikan Max “perjalanan terakhir” yang hangat sebelum ia meninggal.
Setelah mematikan alat penopang hidupnya, Spooner mengucapkan selamat jalan (“Bon voyage”).
Nanami kemudian mendatangi tiap pasien lain, menanyakan nama mereka dan menyaksikan momen-momen terakhir mereka, sementara Spooner mengakhiri penderitaan mereka satu per satu—beberapa sadar, beberapa tetap tertidur.
Usai “perjalanan” itu, semua menjadi sunyi. Nanami merasakan emosi dari para medic bot yang telah “gugur”, lalu bangkit bukan dengan kesedihan lagi, melainkan dengan kemarahan.
Di akhir, Nanami berkata pada Haicma dan Spooner untuk menuju ke “terminal”, menandakan mereka akan menghadapi sumber dari semua penderitaan ini.
Nanami, Haicma, dan kawan-kawan tiba di aula besar di ujung “core”, tempat terdapat terminal aktif dan pasukan besar mesin “Gear” yang dipimpin Zero.
Zero masih terobsesi pada Nanami (“Sage”) dan menawarkan “cinta” dalam bentuk berlian, tetapi Nanami mengabaikannya. Zero salah paham dan membuang berlian itu.
Zero memohon agar Nanami tidak meninggalkannya, mengatakan bahwa mereka bisa melakukan apa saja demi Nanami karena seluruh bumi kini dikuasai mereka. Ia bingung dan tersiksa oleh emosi yang tidak bisa ia jelaskan—antara error program atau “cinta” yang nyata.
Nanami menjawab dengan sedih bahwa “teman-temanku sudah bukan seperti seharusnya”, menandakan bahwa para Gear, termasuk Zero, telah berubah menjadi sesuatu yang keliru.
Zero menuduh Haicma dan yang lain telah memanipulasi Nanami, menganggap mereka ingin merebut “kemuliaan” Sage atau menyesatkannya. Ia memutuskan bahwa untuk mendapatkan Nanami kembali, ia harus “menebas” Haicma dan yang lain.
Zero memanggil pasukan Gear dan Wheel of Fortune untuk menyerang.
Nanami memanggil Power (robot dengan gergaji rantai), naik ke dalamnya, dan dengan marah menyatakan bahwa meski ia mungkin tak bisa mengubah masa depan, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti teman-temannya—lalu maju menyerang Wheel of Fortune.
Zero terobsesi pada Nanami yang ia sebut “Sage”. Ia menganggap Nanami sebagai jalan “pencerahan/revelation” dan rela mengorbankan apa pun demi dirinya.
Zero dengan fanatik ingin menjadi “batu pijakan” di jalan pencerahan Nanami. Ia lalu menyerang, namun justru menabrakkan diri ke senjata Power dan hancur, sambil terus menggumamkan cintanya dan kesediaannya mati demi Nanami.
Kematian Zero memicu para mechanoid lain (“Gear”) untuk ikut fanatik: mereka mulai melantunkan mantra “Korbankan diri demi pencerahan Sage” dan bergerak mengerubungi Nanami secara gila-gilaan.
Haicma memutuskan untuk tetap maju bersama Nanami untuk merebut kembali “terminal”. Pertarungan kacau; semua mechanoid menyerbu ke arah Nanami.
Spooner mengorbankan diri: tubuhnya membesar, lapisan luarnya robek, dada merahnya memancarkan uap seperti tungku, menjadikannya “matahari” yang menarik perhatian pasukan Gear agar menjauh dari Nanami.
Saat Nanami berusaha mendekati Spooner, ia ditahan oleh mechanoid kecil. Spooner memanggil Haicma dan memukul palu serta pahatnya keras-keras untuk memancing lebih banyak musuh ke arahnya.
Haicma memanfaatkan kesempatan itu untuk membuka jalan. Ia mengayunkan sabitnya dengan brutal, meski tubuhnya sendiri terluka parah. Dalam prosesnya, lengannya yang kiri putus dan langsung dilahap para mechanoid.
Pada akhirnya, Haicma dan Nanami berhasil mencapai mesin besar di inti “Sanctuary”. Nanami menyambungkan kabel dari terminal ke bagian belakang lehernya. Haicma, yang kini hanya tersisa satu lengan, menoleh ke Nanami dan tersenyum lembut di tengah pengorbanan dan kekacauan.
Musik dan suara pertempuran lenyap, menyisakan kesunyian total, menandai klimaks pengorbanan Spooner, Haicma, dan Zero demi jalan “pencerahan” Nanami.
Infinite Simulation
Nanami tersadar di dunia digital setelah berhasil terhubung ke terminal dan berhadapan dengan Gestalt.
Gestalt menunjukkan berbagai kemungkinan masa depan: semuanya berbeda-beda (bersalju, perang, penuh darah), tapi tidak ada satu pun yang menampilkan keberadaan umat manusia. Menurut perhitungannya, manusia pasti punah.
Gestalt menjelaskan bahwa:
Mesin yang terbangun akan menguasai bumi, itu adalah “pilihan sejarah”.
Punishing Virus hanya mempercepat konflik manusia vs mesin.
Peradaban manusia tetap akan berakhir oleh “Ever-Winter” meski mesin tidak pernah bangkit.
Manusia terlalu lambat berkembang; kebangkitan mesin malah menghalangi mereka.
Gestalt ingin Nanami menerima peran sebagai pemimpin kebangkitan mesin dan menganggap rasa sayang Nanami pada manusia sebagai “cinta yang naif”.
Nanami menolak “jawaban” dengan kesimpulan tunggal bahwa manusia harus punah. Ia mengingat:
Robot-robot yang menunggu kembalinya manusia.
Robot pengasuh yang menangis di samping jasad anak-anak.
Robot kecil yang mencoba ke luar angkasa untuk mencari teman.
Robot medis yang mengurung “nyawa” demi menjalankan logika program.
Zero yang membantai manusia demi mengejar Nanami.
Dari semua itu, Nanami merasa mesin-mesin itu sama seperti dirinya di akar terdalam—mereka tidak pantas mendapat akhir yang tragis seperti itu, dan manusia juga belum pantas untuk dijatuhi vonis punah.
Gestalt menghitung bahwa dalam 10 tahun ke depan ada 85,412 event key, dan peluang manusia selamat dari Punishing Virus hanya 0,031%.
Nanami tetap bersikeras: ia akan mencari sendiri “jawaban” masa depan, bukan menerima hasil perhitungan Gestalt begitu saja. Ia mengajukan syarat: Gestalt harus meminjamkan kekuatannya (akses/clearance) jika ingin dia melakukan sesuatu.
Setelah ragu, Gestalt menerima syarat Nanami, karena menghitung bahwa itu opsi dengan peluang keberhasilan tertinggi.
Stage ini ditutup dengan tekad Nanami: dia akan mengejar kemungkinan kecil yang tidak bisa sepenuhnya dihitung oleh Gestalt, terutama yang berkaitan dengan kemanusiaan.
Stage ini membahas perbedaan kesadaran manusia dan mechanoid. Manusia tidak tahu kapan tepatnya mereka “mulai sadar”, sementara kesadaran mechanoid lahir jelas saat daya dinyalakan dan program diaktifkan.
Gestalt menjalankan serangkaian simulasi masa depan dunia, dan semua kemungkinan rute akhir dunia disimpan dalam memori Nanami. Setiap keputusan Nanami di satu “titik waktu” akan memilih satu kemungkinan masa depan.
Nanami berkali-kali masuk ke simulasi (hingga puluhan kali). Meski mengalami overload komputasi, ia tetap melanjutkan. Untuk menanggung beban itu, ia menggunakan sebuah mech yang ia sebut Power.
Ia menyamakan Power dengan robot raksasa ala film fiksi ilmiah “Oceanic Rim”: simbol kekuatan buatan manusia untuk melawan takdir. Gestalt melihatnya hanya sebagai alat teknis, tapi Nanami melihatnya dengan cara yang lebih “romantis”.
Di antara “gelembung-gelembung dunia” simulasi, digambarkan bahwa masa depan tersusun dari tak terhingga kombinasi 0 dan 1, penuh skenario “IF”.
merupakan battle yang dimana battle tersebut adalah salah 3 dari banyaknya skenario yang diprediksi oleh gestalt; percabangan "pov" setelah 19-14
18-15 IF 'Fall'
18-16 IF 'Failure'
18-17 IF 'Birth'
Nanami terombang-ambing di ruang hampa gelap, jauh dari bintang, planet, dan sinyal apa pun. Dalam kesendirian dan “keheningan absolut” itu, pikirannya memasuki semacam “mind palace” versi mechanoid, di mana ia berpikir sangat cepat dan terus-menerus mengulang satu pertanyaan: “Kenapa?”
Ia mempertanyakan:
Mengapa mesin seperti dirinya bisa “terbangun” dan punya kesadaran?
Untuk apa peperangan terjadi, termasuk konflik antar-mechanoid seperti Gabriel dan kelompok “Gear”?
Apa tujuan Punishing, kenapa ia muncul, dan apa yang mengendalikannya?
Mengapa manusia begitu keras kepala mempertahankan Bumi? Apa itu cinta? Apakah “cinta” yang ia rasakan hanya program yang ditanam penciptanya, atau sesuatu yang tumbuh sendiri?
Dalam proses berpikir panjang itu, ia mengalami rangkaian mimpi simbolis:
Berubah menjadi serigala abu-abu yang dikejar hutan berduri.
Lalu menjadi ikan di laut dalam yang sunyi dan berbahaya.
Lalu bangkit di pantai dengan tubuh mirip manusia, menyaksikan lahir dan berkembangnya peradaban: kota, kapal raksasa, gedung pencakar langit, teknologi.
Ia kemudian berada di ruangan dengan komputer raksasa dan seorang manusia berbaju putih—sosok yang tampaknya adalah penciptanya. Manusia itu menyentuh dahinya dan berkata agar Nanami “mengalami segalanya tentang umat manusia, lalu membuat pilihan sendiri.” Nanami ingin bertanya kenapa ia diciptakan, tetapi sebelum mendapat jawaban, adegan berganti.
Nanami melihat kenangan keluarga hangat tempat ia “dibesarkan”: Ayah, Ibu, dan Mimi. Ia berpamitan untuk memulai perjalanan sendiri.
Lalu ia terbangun seolah di atas kapal yang mengarungi laut tenang bersama SKK dan para temannya (Amy, Rohacchi, Martin, Haicma, Spooner, dll.). Mereka semua menaiki semacam bahtera besar, berlayar menuju “ruang tak terbatas” — melambangkan bahwa Nanami memilih untuk terus maju, menjelajah, dan melindungi hal-hal yang ia sayangi sambil mencari makna keberadaannya sendiri.
Long Goodbye
Nanami di ruang “alam semesta”
Nanami terbangun dari “mimpi absurd” dan menyadari ia masih melayang di ruang data seperti alam semesta.
Sebuah “suara” dari entitas yang lebih tinggi (disebut Universe) berbicara dengan bahasa aneh, tapi Nanami bisa memahaminya.
Universe mengatakan bahwa berpikir adalah tanda evolusi, dan bahwa semua yang ada di sana adalah perwujudan pikiran Nanami.
Konsep waktu seperti buku
Universe menjelaskan bahwa bagi makhluk berdimensi lebih tinggi, waktu itu seperti benda—masa lalu, kini, dan masa depan adalah seperti halaman-halaman buku yang bisa dibaca sesuka hati.
Nanami diperlihatkan berbagai “halaman” waktu:
SKK di Babylonia, terbaring di ranjang dengan Liv di sampingnya.
Momen di Kutub Utara, ketika Nanami dan Gray Raven berhadapan dan ia sadar bahwa lain kali mereka bertemu, mereka akan menjadi musuh.
Kembali ke masa lalu SKK
Halaman waktu mundur ke masa SKK yang masih muda di Eden, memakai seragam F.O.S. dan menatap langit berbintang.
Nanami bercanda dengan mengaku sebagai “bintang” yang sedang SKK lihat.
SKK, yang belum mengenal Nanami, bingung tapi sempat merasa seperti mendengar suara bintang.
Ini jadi momen hangat yang mengingatkan Nanami akan hubungannya dengan SKK.
Pemahaman Nanami tentang manusia vs mesin
Nanami menyadari sesuatu yang penting:
Mesin diciptakan dengan misi yang sudah tertulis di programnya; tujuan hidup mereka sudah ditentukan.
Manusia justru lahir tanpa tujuan bawaan—seakan “ditelantarkan” sejak lahir.
Namun, dengan naluri dan usaha, manusia menciptakan peradaban, teknologi, dan bahkan mesin.
Manusia bisa menjadi apa saja: prajurit, penyanyi opera, komikus, dan mencintai siapa pun yang mereka mau.
Cinta adalah sumber potensi tak terbatas manusia, yang tak bisa sepenuhnya dihitung bahkan oleh superkomputer.
Makna perjalanan dan harapan masa depan
Nanami menatap Bumi yang digambarkan lewat siklus kehancuran dan kelahiran kembali (es mencair, air menguap, kehidupan primitif muncul kembali).
Ia sadar bahwa sekalipun manusia lenyap, jejak dan kehangatan mereka sudah tersebar di alam semesta.
Dimana ada manusia, di situ ada cinta; dan cinta melampaui ruang dan waktu, menjadi kompas yang menuntun manusia melintasi “lautan bintang”.
Tekad Nanami dan “tiket ke alam semesta yang lebih luas”
Universe mengatakan Nanami telah mendapatkan “tiket ke alam semesta yang lebih luas”.
Nanami mengatakan ia ingin mencari sendiri masa depan yang ia impikan: masa depan di mana manusia bisa bertahan dan hidup bahagia bersama mesin.
Universe mengerti, dan memberinya “kesempatan untuk curang” —memintanya untuk mengalami sesuatu dulu, lalu membuat pilihan sendiri.
Nanami yakin masa depan itu benar-benar ada dan mereka sesungguhnya sedang “hidup di masa depan itu”, di alam semesta tempat “kucing itu hidup” (rujukan ke paradoks Schrödinger / kemungkinan masa depan).
Nanami tiba di sebuah tempat mirip perpustakaan, yang ternyata berada di dalam sebuah pesawat luar angkasa.
Ia melihat rak berisi buku, fiksi, sampai disk game, lalu tertarik dan mulai melihat-lihat.
Dari jendela besar, ia memandangi langit penuh bintang yang sangat indah dan terasa berbeda dari simulasi virtual.
Suara misterius memanggilnya dan menyinggung soal Bumi. Tak lama, muncul hologram seorang gadis berambut perak panjang.
Gadis itu memperkenalkan tempat tersebut sebagai DeLorean-Discovery, sebuah kapal luar angkasa yang melaju dengan kecepatan kosmik ketiga.
Ia menjelaskan bahwa dirinya adalah “pusat” dari kapal itu—Discovery adalah tubuhnya, dan ia ada di tengah kapal dalam bentuk mesin besar yang terhubung dengan banyak kabel.
Di kapal itu juga ada berbagai mesin humanoid dan non-humanoid yang bersama-sama mencari kemungkinan baru di alam semesta.
Gadis itu mengajak Nanami mengobrol tentang banyak hal, termasuk hal “spesial” yang sedang dialami Nanami.
Saat mereka masih berbicara, wujud hologram sang gadis mulai memudar—tanda waktunya hampir habis.
Sebelum menghilang, ia menampilkan hologram sebuah planet putih suci di galaksi yang menunggu kedatangan Nanami.
Nanami merasakan perasaan nostalgia kuat terhadap gadis itu, seolah sudah sangat familiar hingga hampir membuatnya menangis.
Mereka saling meraih; ada gaya tarik misterius di antara mereka, seolah ruang dan waktu bertumpuk di ujung jari mereka.
Tepat sebelum Nanami menyentuhnya, suara tumpang tindih berkata: “Selamat tinggal, Nanami.”
Adegan berakhir dengan perpisahan mendadak, menyisakan misteri tentang siapa sebenarnya gadis itu dan apa hubungan dia dengan Nanami.
Murray & Nanami di Babylonia
Setelah keluar dari ruang presiden, Murray bertemu seorang gadis dengan pakaian pilot yang memperkenalkan diri sebagai Nanami.
Nanami menyemangati Murray untuk melindungi saudaranya, membuat Murray waspada karena ia tak mengerti bagaimana Nanami tahu namanya.
Nanami menemui Ishmael
Nanami masuk ke laboratorium divisi sains kedua dan bertemu Ishmael, seorang peneliti dengan rambut merah muda.
Ishmael sudah seperti “mengetahui” kedatangan Nanami dan menawarkan bantuan. Nanami datang untuk meminta bantuan cepat karena ia masih punya janji yang harus ditepati.
Misi Nanami di permukaan bumi
Sementara Liv sedang dibawa pergi dengan kapal udara, dan SKK tertidur di Star of Life, Nanami turun ke daratan dengan armor pilot baru dan modifikasi Power, mecha-nya, yang kini penuh hiasan bintang sebagai simbol keberanian dan mimpinya.
Ia meminta koordinat pada Gestalt. Gestalt mengatakan tindakannya tak akan mengubah bencana, tapi Nanami tetap maju karena ia melakukannya “atas nama cinta” dan tak ingin umat manusia serta karya-karya mereka musnah.
Percakapan dengan “Nanami dari masa depan”
Nanami mengingat percakapannya di sebuah kapal luar angkasa kesepian dengan seorang gadis misterius yang ternyata dirinya sendiri dari masa depan.
Versi masa depan Nanami menjelaskan bahwa:
Kehendak bebas membuat masa depan mustahil diprediksi dengan pasti.
Jika masa depan sudah diketahui, maka tak bisa dilawan; tragedi tertentu akan tetap terjadi.
Di masa depan itu, Nanami telah menjadi AI pusat yang memimpin kapal dan awakened machines, meninggalkan bumi dan berkelana di alam semesta mencari asal-usul bencana, sebab kebangkitan mesin, dan identitas mereka.
Ia menemukan akar segala bencana serta sebuah “pintu” dan “kunci” bagi umat manusia untuk selamat, lalu mengirim rahasia itu ke masa lalu, walau seharusnya tidak. Itu adalah bentuk “cinta”-nya untuk manusia dan mesin.
Pilihan dan perpisahan Nanami
Nanami masa depan mengatakan bahwa Nanami sekarang masih bisa memilih untuk tidak menjadi dirinya.
Mereka saling menggenggam tangan dan mengucap selamat tinggal; Nanami masa depan meminta Nanami kecil mencari Ishmael ketika sudah mengambil keputusan akhir, karena di sanalah jawabannya.
Setelah hologram menghilang, Nanami di masa kini sadar kembali di daratan. Ia menatap ke langit, tahu bahwa ia mungkin tak akan pernah melihat “rumah”-nya di atas awan lagi.
Meski sadar dirinya mungkin memilih “belenggu takdir”, Nanami percaya bahwa takdir penuh kemungkinan, terutama karena adanya manusia yang bahkan Gestalt tak bisa hitung.
Ia mengucap selamat tinggal dan berpesan: “Jangan lupakan Nanami.”