Prolog di Pulau Hydrangea – Gadis & Cradle
Malam hari di kampus rusak di Pulau Buatan Hydrangea.
Seorang gadis bermata merah berdiri di atap dan memandangi cahaya di langit.
Makhluk bernama Cradle muncul dari bayangan; ia mengaku sebagai makhluk Red Tide dan pencipta “wadah” (tubuh) gadis itu.
Cradle mengatakan kekuatannya telah menyatu dengan gadis itu, tetapi “jantung” gadis itu tak cukup kuat untuk memompa “darah” yang diperlukan, sehingga kekuatan gadis terbatas dan ia bisa kehilangan bentuknya bila berlebihan.
Cradle mengundang gadis itu untuk sepenuhnya melebur dengan Red Tide agar terbebas dari batasan, namun gadis menolak untuk saat ini karena masih punya urusan yang belum selesai di pulau itu.
Mereka berpisah; Cradle mengingatkan bahwa ketika tempat itu runtuh, ia berharap gadis itu akan menerima undangannya. Gadis menilai Cradle sama-sama “tidak menyenangkan” seperti dirinya.
Yata, Valeria, dan Misi Scarab
Di Babylonia, Yata menjalani tes kompatibilitas untuk frame barunya.
Ia curiga pada Valeria (komandannya): kenapa ia dipaksa buru‑buru ganti frame dan tes intensif.
Valeria mengungkap bahwa Shorthalt sudah mati dan skuad Scarab butuh kapten baru.
Yata menolak secara emosional: ia merasa tidak cocok jadi kapten (tidak jago koordinasi, formasi, mengurus anak-anak atau “robot mabuk”) dan hanya nyaman sebagai petarung garis depan bersama Valeria.
Valeria memberinya permen mint berisi alkohol yang dulu disukai Shorthalt; Yata protes “aku bukan anak kecil dan bukan Shorthalt”, tetapi tetap memakannya dan kemudian menyimpan bungkusnya.
Valeria menjelaskan alasan utama frame baru: Scarab mendapat misi baru menyelidiki konsentrasi Red Tide di pulau buatan Hydrangea.
Yata menyadari skala ancaman (bahkan untuk standar Shorthalt), sempat ingin menolak frame, namun sudah terlanjur menandatangani.
Valeria menegaskan lagi: “Scarab butuh kapten baru.”
Yata menghindari jawaban langsung dan berkata, “Kita bicara setelah aku kembali,” sebelum berangkat misi.
Rapat Rahasia Babylonia: Nikola & Hilda
Di ruang konferensi perang dengan pengamanan tertinggi, Nikola dan Hilda membahas hilangnya dua skuad Babylonia di lokasi yang sama.
Skuad A awalnya hanya ditugaskan melacak pergerakan Red Tide dan menemukan Pulau Buatan Hydrangea di Pasifik Barat.
Mereka mendarat untuk investigasi; 72 jam kemudian kontak terputus.
Skuad B dikirim mencari dan sempat menerima sinyal darurat dari A; saat mendekati koordinat sinyal itu, kontak dengan A langsung hilang, lalu B juga ikut hilang total.
Hilda menduga ini tampak seperti penyergapan terencana, bahkan kemungkinan pembelotan Skuad A, tapi Nikola menilai peluang pembelotan rendah (para pembelot biasanya tidak menyalakan suar “di bawah hidung Purifying Force”).
Karena isu pembelotan Construct sangat sensitif, mereka mengaktifkan protokol kerahasiaan darurat; informasi soal insiden ini disensor sementara dari publik dan pihak luar (termasuk Kurono).
Latar Belakang Pulau Buatan Hydrangea
Nikola memaparkan sejarah pulau:
Awalnya benteng militer dan lokasi uji coba senjata berskala besar.
Setelah eksperimen berakhir, pulau diubah menjadi proyek komersial bersama beberapa raksasa teknologi (mis. Universal Toys).
Dibangun beberapa kampus dan lembaga riset, menjadikannya pulau akademi elit yang mengintegrasikan pendidikan, riset, dan kehidupan kampus.
Pulau ini menjadi model pendidikan elite untuk “mencetak generasi ilmuwan berikutnya”, terutama anak-anak para ilmuwan dan orang berpengaruh.
Secara resmi, bidang risetnya: teknologi pintar untuk penggunaan publik.
Namun, komposisi staf: para peneliti kelas atas dengan kecenderungan radikal.
Contoh kejanggalan: SMA Misono di pulau itu memiliki rasio guru:siswa 2:1, tak masuk akal untuk pendidikan biasa, memicu kecurigaan bahwa sistem pendidikan hanya kedok bagi riset tersembunyi.
Hilda menemukan laporan investigasi rahasia Science Council zaman Golden Age:
Banyak dana proyek yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Auditor yang menyelidiki kejanggalan dana tewas dalam kecelakaan mobil.
Reika Saotome & Teori “Consciousness Projection”
Nikola menyorot nama yang mencurigakan: Reika Saotome, Direktur Teknis dan Penasihat Ilmiah Proyek Hydrangea.
Ia menghubungi Asimov untuk penilaian.
Asimov menyebut Reika sebagai “potensi yang disia-siakan”:
Seorang jenius yang meraih gelar doktor muda, menguasai berbagai bidang (matematika, hortikultura, ilmu hayati, IT, dan rekayasa mesin).
Di era Golden Age, ia mengembangkan teori “consciousness projection” (bukan sekadar “memory projection”) yang merupakan cabang lanjutan dari teknologi koneksi kesadaran dengan fungsi unik.
Teori ini memicu perdebatan luas dan skandal etik, karena melibatkan eksperimen manusia dengan obat-obatan yang tidak disetujui.
Menurut Asimov, tak ada bukti Reika meraih terobosan nyata:
Jika berhasil, catatan prestasinya akan jelas dan tersimpan di jurnal ilmiah.
Karena tidak ada kelanjutan publikasi, ia menyimpulkan riset itu buntu dan ditinggalkan.
Nikola membantah kepastian itu dengan mengirim dokumen yang menunjukkan ada dana Science Council yang hilang terkait proyek Hydrangea, menandakan riset tersembunyi mungkin berlanjut secara ilegal.
Asimov pada akhirnya bersedia membantu penyelidikan, tapi menuntut penyesuaian jadwal dan tambahan sumber daya karena beban kerja akan bertambah.
Kekhawatiran Utama & Keputusan Strategis
Nikola mengemukakan kekhawatiran:
Pulau ini mungkin masih menyimpan prototipe eksperimen ilegal Reika Saotome.
Riset tersembunyi itu mungkin telah “membangunkan sesuatu” di pulau.
Red Tide tampak berkumpul di sekitar pulau, menunjukkan adanya sumber gangguan atau daya tarik kuat di sana.
Nikola menduga Red Tide mengacaukan keseimbangan tertentu di pulau itu, memperburuk situasi dan mungkin terkait hilangnya dua skuad.
Hilda menilai ini masalah serius dan menyarankan mengirim skuad ketiga sebelum protokol rahasia kedaluwarsa dan kebocoran informasi terjadi.
Nikola menyadari ini adalah “pertaruhan berbahaya lain” yang bisa mengorbankan semua “chip” (skuad) yang tersisa.
Hilda berjanji menjaga kontrol informasi selama durasi yang disepakati; sisanya menjadi keputusan operasional Nikola.
Setelah Hilda pergi, Nikola menghubungi Valeria melalui kanal terenkripsi. Valeria lalu menanyakan target misi.
Situasi Awal & Misi
Pesawat angkut skuad Scarab berangkat dari Babylonia menuju sebuah pulau buatan bernama Hydrangea Island.
Valeria menjelaskan misi:
Menyelidiki kumpulan Red Tide di pulau tersebut.
Menemukan dua skuad yang hilang.
Menangkap hidup-hidup seorang ilmuwan era Golden Age, jika memungkinkan.
Skuad mereka dipilih karena Yata mengenal lokasi: Hydrangea Island adalah tempat ia bersekolah di SMA, sebelum pulau ditinggalkan akibat wabah Punishing. Yata adalah salah satu sedikit penyintas.
Kilasan Masa Lalu Yata
Yata teringat hari pertamanya di Misono Academy High School di Hydrangea Island.
Ayah Yata menjelaskan bahwa sekolah itu terkenal elit dan disiplin, dengan suasana arogan kelas atas.
Yata kesal karena dipindahkan tanpa dimintai pendapat.
Di gerbang sekolah, dalam panas terik, Yata melihat seorang gadis berkulit pucat berdiri seperti boneka, dan mereka sempat bertegur sapa sebelum kilas balik terputus.
Serangan Rudal & “Friendly Fire”
Yata tersadar kembali di kabin pesawat. Tiba-tiba alarm berbunyi: terdeteksi rudal surface-to-air berkecepatan tinggi.
Shiva di kursi pilot mendapati bahwa rudal itu berasal dari sistem pertahanan udara Babylonia sendiri; IFF mereka dibatalkan sepihak—artinya terjadi friendly fire atau sabotase.
Pesawat terkena hantaman:
Satu mesin hancur total, satu lagi rusak.
Sayap kiri bermasalah, autopilot rusak.
Tangki bahan bakar bocor, radar dan beberapa instrumen mati.
Valeria mencoba membalas dengan rudal anti-radiasi, tapi bomb bay macet.
Manuver Darurat & Pendaratan Paksa
Mereka mengaktifkan protokol darurat:
Yata menyiapkan airdrop peralatan untuk mengurangi berat.
Rudal kedua kembali terdeteksi.
Shiva memutus auto-cruise, melakukan manuver evasif berisiko (menukik dan berbelok tajam), memicu flare; rudal meledak dekat pesawat dan mengenai bagian bawah, namun tidak menghajar bomb bay.
Dengan bahan bakar dan sistem yang tak menentu, mereka memutuskan membatalkan kembali ke Babylonia dan melakukan pendaratan darurat di Hydrangea Island, memilih area pedalaman yang tampak paling aman.
Pesawat menghantam pepohonan lebat, kemudian ekor menyentuh tanah dan terjadi ledakan besar. Pesawat hancur, tapi sebagian awak selamat.
Setelah Kecelakaan – Ancaman Baru
Di dalam bangkai pesawat, Valeria memerintahkan:
Shiva meluncurkan drone pengintai (dua masih berfungsi).
Yata memeriksa senjata; Valeria mengambil pulse gun.
Sinyal kedua drone tiba-tiba hilang.
Sebelum Yata sempat membuka pintu kabin yang rusak, gelombang elektromagnetik kuat menghantam, menjatuhkannya dan mengacaukan M.I.N.D. Yata dan Discord.
Valeria menstabilkan M.I.N.D. mereka. Ia menyimpulkan ada gangguan jahat yang menargetkan M.I.N.D..
Shiva mendeteksi mechanoid terinfeksi di beberapa arah di sekitar mereka.
Karena posisi di dalam pesawat sudah berbahaya, Valeria memutuskan mereka harus keluar dan bertempur.
Shiva menyinkronkan data peta (meski baru 12% area sekitar yang terpetakan) dan mendeteksi musuh jelas di sisi kiri; Valeria memerintahkan Yata bersiap menerobos keluar bangkai pesawat.
Serangan di hutan & perilaku Corrupted yang aneh
Tim Scarab (Valeria, Yata, Shiva, Discord) diserang saat berada di dekat transport yang setengah tertimbun lumpur di tepi hutan.
Turret otomatis dan Yata berhasil menghabisi banyak Corrupted.
Valeria menyadari pola serangan mereka rapi dan terkoordinasi (formasi, pengalihan, fokus ke “commandant”), jauh melampaui Corrupted biasa.
Valeria menyimpulkan ada “dalang/puppeteer” yang mengendalikan mereka, mirip komando dan skuad seperti manusia.
Mechanoid bunuh diri & penyebutan nama Yata
Muncul Self-Destruction Mechanoid yang terus mengoceh soal “tanah keabadian, Eden rohani, surga kekal”.
Yata menendangnya ke udara sebelum meledak.
Sisa komponen vokal mechanoid itu masih sempat menyebut “Yata… come back…” sebelum Valeria menembaknya.
Hal ini membuat Valeria mencurigai ada hubungan pribadi antara Yata dan pihak lawan, sementara Yata mengaku tidak tahu dan hanya menyebut bahwa semua orang, termasuk sahabatnya, dahulu mati karena Punishing.
Serangan M.I.N.D. & ilusi dalam pikiran Yata
Tiba‑tiba Yata dan kemudian Discord mengalami “M.I.N.D. quake” dan tumbang; ada kekuatan yang mencoba memutus hubungan mereka dari Mind Beacon Valeria.
Yata jatuh dalam ilusi: sebuah upacara kelulusan di kelas penuh cahaya, murid berseragam bernyanyi, dan seorang gadis datang membawa buket hydrangea—jelas bukan medan tempur.
Valeria menyadari ada “lagu” yang memicu halusinasi, lalu memutuskan melakukan deep dive ke M.I.N.D. Yata meski itu membuatnya tak berdaya di medan.
Shiva bertahan sendirian & petunjuk tentang ‘Eden’
Saat Valeria tenggelam dalam deep dive, Shiva yang hampir pingsan harus melindunginya.
Seorang Construct yang dikendalikan mendekat sambil mengoceh soal “Eden spiritual, Canaan, Pure Land, surga kekal” dan mengajak bergabung.
Shiva menembaknya dan si Construct mengaku mereka “tak punya pilihan”, karena ada sosok perempuan yang “menginvasi pikiran” dan memaksakan “mimpi Eden”-nya pada semua orang.
Penculikan Shiva & kerja sama Corrupted–Construct
Corrupted menyerang lagi. Shiva terlalu lemah untuk melawan.
Sesuatu mengangkat Shiva dan membawanya lari; Yata yang baru sadar berhasil menembak salah satu Corrupted dengan listrik, tetapi Construct lain berhasil menculik Shiva.
Yata terkejut melihat Corrupted dan Construct benar‑benar bekerja sama seperti satu “keluarga” akibat cuci otak/pengendalian pikiran.
Pelacakan Shiva & pengungkapan lokasi sekolah
Valeria menstabilkan kondisi Discord dan bangkit. Mereka melacak Shiva lewat perangkat penjejak, namun sinyal jauh terganggu.
Valeria dan Discord menggabungkan arah interferensi terkuat dengan arah infiltrasi M.I.N.D., menghasilkan bearing 451. Analisis gambar malam menunjukkan sebuah bangunan tua dengan monumen batu bertuliskan tentang sekolah.
Yata langsung mengenalinya sebagai gerbang Misono Academy High School, sekolah menengah atas mereka dulu.
Rencana penyelamatan Shiva & komunikasi Babylonia terputus
Yata mengajukan diri menyusup ke area sekolah karena ia hafal tata letaknya. Rencananya: ia menarik perhatian musuh dan tim lain memaksa jalan menerobos.
Valeria, yang tampak tidak biasa emosional, berulang kali menegaskan agar Yata mundur jika situasi memburuk dan tetap memberi laporan tiap 10 menit.
Mereka menyadari komunikasi jarak dekat masih berfungsi, tetapi semua pesan ke Babylonia tidak mendapat balasan.
Valeria memberikan perangkat relay komunikasi pada Yata dan menyarankan untuk memasangnya di atap sekolah jika ingin memulihkan komunikasi jarak jauh.
Yata menerima, menghajar dua Corrupted di depannya, lalu berlari masuk ke hutan menuju sekolah untuk menyelamatkan Shiva.
Yata mengejar sebuah Construct yang menculik Shiva melalui hutan gelap, sambil memastikan ia sudah lepas dari kejaran musuh lain. Ia menduga musuh mengarah ke sekolah dan berniat menyusul.
Saat hendak bergerak, M.I.N.D. Yata tiba-tiba diserang oleh semacam gelombang listrik yang memicu halusinasi. Sebuah melodi lembut dan tak duniawi memasuki sensor audionya.
Pemandangan berubah: malam berganti senja, dan Yata mendapati dirinya memakai seragam SMA Misono, berbaris untuk foto kelas. Suara-suara dari masa lalu memanggilnya, menanyakan ke mana ia pergi selama ini dan apakah ia sudah melupakan mereka.
Tangan-tangan tak terhitung jumlahnya meraih baju dan rambutnya. Ketika ia menoleh, yang ada di belakangnya hanyalah tulang belulang dan tengkorak, dengan bunga hydrangea tumbuh dari rongga mata mereka. Sosok-sosok itu mengajak Yata untuk “menjadi satu dengan mereka”.
Yata melawan tekanan emosional itu dengan menghantam tanah hingga berhasil memutus halusinasi, lalu tersadar kembali di hutan malam yang sunyi. Ia menyadari ia telah terkena halusinasi, namun menegaskan bahwa M.I.N.D.-nya tidak selemah yang dikira lawan.
Ia bersumpah akan menemukan sumber serangan itu, entah Punishing atau hantu, dan melanjutkan pengejaran. Dari tepi hutan, ia melihat kompleks sekolah tuanya—SMA Misono—kini terbengkalai bak kuburan.
Menyadari ia ditarik makin jauh dari Valeria dan bahwa halusinasi menguat seiring jarak, Yata menghubungkan semua ini dengan masa lalunya di sekolah tersebut. Meski tempat ini menghantui mimpinya, ia tetap melangkah masuk lewat pintu samping yang terbuka.
Sambil memasuki bangunan sekolah yang penuh kenangan traumatis, Yata bertekad agar Shiva tidak mati sebelum ia menemukannya. Cerita menutup dengan penegasan suasana: melodi lama yang lembut dan tak duniawi terus bergema samar di sudut-sudut gelap sekolah, seolah bernyanyi dalam paduan suara sunyi yang tak tersentuh persepsi Yata.
Seorang siswi baru bernama Yata sedang menunggu seseorang dan bertemu dengan gadis yang belum ia kenal.
Gadis itu tampak ragu, namun memperkenalkan diri sebagai Yuka Saotome setelah Yata menyebutkan namanya.
Ayah Yata muncul dan terkejut dengan nama keluarga Yuka, mengira Yuka adalah putri dari Dr. Saotome, seorang ilmuwan ternama.
Yuka meluruskan bahwa ia bukan putri Dr. Saotome, melainkan hanya murid yang tinggal di rumah Dr. Saotome sebagai anak kos/boarding student.
Ayah Yata memuji Dr. Saotome sebagai ilmuwan brilian dan berkomentar bahwa siapa pun dengan nama Saotome cenderung luar biasa; Yuka merespons dengan sopan.
Yata, agak risih, menyuruh ayahnya menyingkir agar ia bisa berkeliling bersama Yuka. Ayahnya setuju dan berpesan agar Yata bersikap baik pada Yuka.
Setelah ayahnya pergi, Yata mengajak Yuka melihat-lihat toko di sekitar. Yuka tampak canggung tetapi mengatakan ia akan mengikuti apa pun yang Yata ingin lakukan.
Kelas paduan suara & Klub Horor
Evening, April 2nd - Pleasant and Dry
Music Room - Second-Year Choir
Di ruang musik, murid tahun kedua berlatih lagu “Ode to Our Teachers” untuk kelulusan.
Kishii (ketua kelas dan anggota OSIS) mencatat kehadiran dan menyambut kembalinya Yuka Saotome yang baru mulai masuk sekolah lagi setelah sakit.
Kishii memperlihatkan poster buatannya untuk “Klub Cerita Horor Misono” yang belum resmi, beranggotakan dirinya dan dua kakak kelas. Mereka diam-diam menyelidiki “Tujuh Misteri Misono” di malam hari.
Ia mencoba merekrut Yuka, tetapi Yuka dengan sopan menolak karena merasa tidak sanggup dengan hal-hal menyeramkan.
Latihan atletik & “Ratu Lintasan Misono”
Di lapangan, klub atletik sedang latihan. Yata, murid perempuan, dengan mudah menyalip para siswa laki-laki.
Pelatih awalnya memarahi para murid laki-laki, namun setelah melihat stopwatch, ia kaget karena semua waktunya naik—terpicu oleh kecepatan Yata.
Yata dipuji sebagai “Ratu Lintasan Misono” dan dianggap punya potensi menjadi atlet kelas dunia.
Seusai lari, beberapa siswi mengerubungi Yata, meminta rahasia latihan. Yata hanya bisa memberi “tips dasar” (pemanasan, jangan lari dengan perut kosong, melatih mental untuk fokus pada diri sendiri, bukan mengalahkan orang lain). Para siswi kecewa karena merasa “tidak ada rahasia khusus”.
Reika Saotome mengamati Yata
Dari kejauhan, Reika Saotome (disebut juga Dr. Saotome, wali Yuka) dan asistennya, Kouhei, mengamati Yata.
Reika terkesan dengan kemampuan fisik Yata dan menyebutnya mungkin cocok menjadi “Prometheus” — sosok yang membawa perubahan bagi umat manusia.
Kouhei mengingatkan bahwa eksperimen mereka butuh lebih dari sekadar fisik: sensitivitas obat, kecocokan gelombang saraf, kemampuan pemulihan, dll. Sampel genetik murid sudah diambil lewat “pemeriksaan medis” dan hasilnya akan dikirim lewat surat.
Mereka membahas kesulitan mendapatkan izin komite etika untuk uji coba manusia pada eksperimen proyeksi kesadaran. Reika mengatakan ketua komite etika adalah teman lamanya, dan yakin bisa “mengurusnya”.
Reika lalu pergi, sementara ternyata Yuka bersembunyi di dekat situ, mendengar sepenggal percakapan tentang Yata dan eksperimen, meski tidak terlalu mengerti isinya.
Pertemuan Yuka & Yata
Yata menemukan Yuka yang bersembunyi dan senang mengetahui Yuka sudah kembali ke sekolah dan kesehatannya membaik.
Mereka sepakat pergi ke ruang ganti lalu pulang bersama.
“Miss Misono” & rasa bersalah Yuka
Seorang petugas OSIS datang dan memberi tahu bahwa Yuka terpilih sebagai “Miss Misono” (murid perempuan terpopuler), hasil pemungutan suara seisi sekolah, banyak yang menulis namanya di kolom “lainnya”.
Yuka menolak, merasa dirinya tidak populer dan meminta gelar itu diberikan pada peringkat kedua, lalu pergi dengan tegas.
Petugas OSIS lalu meminta bantuan Yata untuk membujuk Yuka, tapi Yata menolak memaksakan kehendak dan hanya bercanda ingin menerima penghargaan itu sendiri.
Pandangan Yuka tentang dirinya & Dr. Saotome
Yata menyusul Yuka dan menanyakan kenapa ia tampak murung.
Yuka mengaku tidak mengerti kenapa orang-orang menyukainya. Ia merasa tugasnya hanyalah belajar sungguh-sungguh di Misono, dan takut mengecewakan “Dokter” (Dr. Saotome) jika ia terdistraksi hal lain.
Yuka menyebut Reika sebagai “wali” bukan “ibu”, dan merasa belum pantas dianggap putri. Ia merasa bersalah karena Reika sudah mengeluarkan banyak biaya demi pengobatannya, sementara ia tetap merasa “tidak berguna”.
Yuka khawatir Reika akan dijadikan bahan olok-olokan oleh para pesaingnya jika orang tahu ia merawat “beban” seperti Yuka.
Yata menilai cara berpikir Yuka berlebihan, dan mempertanyakan apakah hubungan mereka yang dingin seperti itu tidak membuat Yuka sedih.
Yuka menyangkal rasa sedihnya dan mengatakan menurutnya hubungan itu “tidak masalah”, sementara Yata sadar dirinya mungkin terlalu ikut campur.
Loker penuh surat cinta & rencana hadiah kelulusan
Saat masuk gedung sekolah, Yuka membuka loker sepatunya yang tak tersentuh selama satu setengah bulan. Seketika, banyak amplop putih (surat cinta) berjatuhan menimpa wajahnya.
Yata iri karena tak pernah menerima surat cinta dan menyebut para lelaki “bodoh”.
Yuka heran kenapa surat-surat itu diselipkan di sana, lalu bergumam pelan agar Yata tidak mendengar jelas.
Yata berganti topik: tradisi Misono memberi hadiah buatan tangan untuk para kakak kelas yang lulus.
Yata mengusulkan mereka membuatnya bersama, karena Yuka adalah “bintang” klub kerajinan tangan.
Setelah berdiskusi, mereka sepakat membuat kotak musik sebagai hadiah kelulusan.
Pertemuan Reika & Yoshihiro di Hydrangea Island
Evening, April 2nd - Pleasant and Dry
Reception Room - Mansion of the Osakos
Reika Saotome berkunjung ke rumah teman lamanya, Yoshihiro Osako, yang kini tinggal di Hydrangea Island.
Mereka membahas kemajuan teknologi seperti Proyek ZPE dan Proyek Eden, serta masa depan kolonisasi luar angkasa.
Reika mengkritik gagasan kolonisasi antariksa: menurutnya, manusia hanya memindahkan masalah yang sama ke planet lain karena sifat dasar manusia tak berubah.
Ia mengusulkan “revolusi di ranah pikiran”: menghubungkan kesadaran seluruh umat manusia untuk menciptakan “Eden spiritual” dan menghapus bagian sifat manusia yang dianggap “tidak perlu”.
Yoshihiro menganggap gagasan itu menakutkan dan absurd, karena setara dengan mengendalikan pikiran umat manusia.
Topik bergeser ke koleksi pedang Yoshihiro, yang juga pandai membuat pedang, termasuk pedang getar monomolekular. Reika memintanya membuatkan pedang suatu hari.
Reika menyadari ada dua slot kosong di dinding pajangan pedang; Yoshihiro kaget karena dua pedang yang tadi pagi ada, kini hilang.
Yata & Yuka di Sekolah (Misono High)
Evening, April 2nd - Pleasant and Dry
Shower Area - Girls' Locker Room
Di ruang ganti putri, Yata mandi setelah berolahraga dan mendengar dua siswi lain menggosipkan Yuka Saotome secara kejam (menyebutnya menyeramkan, mengaitkannya dengan rumor “membunuh orang” di rumah sakit).
Yata mengetuk keras dan membentak mereka agar berhenti menggosip di belakang orang; kedua siswi langsung pergi dengan meminta maaf.
Setelah itu Yata bertemu Yuka di luar. Yata berbohong kecil soal mandi (mengatakan pemanas air rusak) untuk menutupi insiden tadi. Mereka bercanda ringan.
Dalam perjalanan pulang, mereka membahas klub musik yang berubah jadi “klub perkusi” karena anggota ingin tampil lebih menarik dan populer di internet.
Yata mengaku hanya bisa menari, tak bisa main alat musik. Yuka menenangkannya dengan mengatakan semua yang tampil di panggung layak dihormati.
Mereka lalu membicarakan masa depan dan pilihan karier:
Yata ingin terus berlari, mungkin jadi atlet lari dan kelak guru olahraga. Ia merasa olahraga membantunya berhenti overthinking.
Yuka merasa dirinya biasa saja di akademik; keahliannya hanya di ikebana dan origami. Ia mempertimbangkan bekerja di toko bunga.
Yata menilai di era robot dan jaminan sosial tinggi, yang penting adalah menemukan hal yang disukai, bukan sekadar mengejar universitas top.
Mereka juga merencanakan pembuatan kotak musik; Yuka akan meminta bantuan teman di klub kerajinan untuk membeli bahan.
Insiden Pedang Sains di Sekolah
Di jalan pulang, Yata dan Yuka melihat kerumunan. Yata memakai ban lengan Komite Disiplin dan menghampiri.
Masao Osako (putra Yoshihiro) sedang memamerkan dua “pedang sains” yang ia curi dari ayahnya: pedang merah “Rainbow Breaker” dan biru “Snow’s Grace”, keduanya pedang getar monomolekular militer yang sangat berbahaya.
Yata mengenali jenis senjata itu karena ayahnya adalah insinyur senjata. Ia menegur keras dan hendak menyita senjata tersebut.
Para anak nakal mengenali Yata sebagai “She-Devil of the Disciplinary Committee” dan “Delinquent Disciplinary Officer”, terkenal karena pernah menghajar geng biker.
Masao menantang Yata duel satu lawan satu: jika Yata masih kuat setelah 10 ronde, ia akan patuh.
Sebelum Masao siap, Yata menjatuhkannya dengan satu pukulan cepat. Masao syok karena kalah seketika.
Yata menegur bahwa Masao tak punya bakat jadi berandalan dan menyarankan ia fokus belajar, karena sikap pantang menyerahnya bisa membuatnya jadi murid berprestasi.
Masao kabur sambil mengancam akan balas dendam, membawa kedua pedang itu.
Yuka mengomentari banyaknya julukan Yata; Yata kesal karena kekalahannya justru membuat lawan terlihat “keren”. Mereka lalu pulang bersama sebelum matahari terbenam.
Konfrontasi Etis di Rumah Keluarga Osako
Masao pulang ke rumah dengan murung, berusaha mengembalikan pedang tanpa ketahuan.
Ia mendengar percakapan ayahnya dengan Reika Saotome dan asisten Reika, Kouhei, di ruang tamu.
Terungkap bahwa Reika ingin menggunakan anak di bawah umur (khususnya perempuan, karena stabilitas neurologis yang lebih tinggi) sebagai subjek eksperimen untuk proyek “penghubung pikiran umat manusia”.
Yoshihiro, sebagai anggota komite etika Science Council, menolak keras: menurutnya, tidak ada kemajuan sains yang layak dibayar dengan nyawa satu manusia pun.
Reika mengklaim eksperimennya aman dan sangat terkendali: ada manajemen risiko, tim medis, dan prosedur yang disesuaikan kondisi fisik subjek. Ia meminta Yoshihiro menunggu laporan lengkap sebelum mengambil keputusan final.
Saat ditanya apakah ia akan mengikutsertakan putrinya jika cocok, Reika menjawab tanpa ragu bahwa ia akan “bangga” sebagai ibu—namun putrinya (Yuka) punya kelainan jantung bawaan, sehingga tak memenuhi syarat.
Kouhei menekan Yoshihiro dengan argumen bahwa eksperimen ini bisa menentukan evolusi masa depan umat manusia, tapi Yoshihiro tetap menolak secara prinsipil.
Reika pamit, meninggalkan pertanyaan filosofis: “Sebagai pandai pedang, apa yang Anda anggap sebagai ‘pedang paling tajam’?” Yoshihiro belum bisa menjawab dan berjanji akan memikirkannya.
Di luar, Reika memerintahkan Kouhei untuk mulai menyiapkan persiapan awal eksperimen meski belum mendapat persetujuan etis penuh.
Masao, yang menguping, hanya bisa bertanya-tanya siapa sebenarnya mereka dan apa yang mereka rencanakan.
Simposium Neurosains & Teori “Collective Unconscious”
Evening, April 11th - Pleasant and Dry
Neuroscience Symposium - Misono Grand Hall
Reika Saotome mempresentasikan hipotesis bahwa manusia saling memancarkan dan menerima sinyal kesadaran rendah frekuensi, membentuk sebuah “jaringan” kolektif tanpa batas di alam bawah sadar.
Ia mengaitkan fenomena global “academic dysphoria” (lonjakan dropout dan fobia akademis) sebagai gejala komunikasi bawah sadar lintas individu, bukan sekadar penyakit sosial.
Reika mengusulkan eksperimen “Consciousness Projection” menggunakan nanomachine dan pemancar pulse ke sekelompok remaja untuk menguji komunikasi kesadaran yang melampaui bahasa.
Para sarjana menolak keras idenya, menganggapnya pseudosains berbahaya yang mempertaruhkan nyawa anak di bawah umur, lalu meninggalkan aula dengan marah. Reika tetap tenang dan menyelesaikan presentasinya, sementara Yuka Saotome merasa kecewa dan marah pada para sarjana yang meremehkan Reika.
Masalah Etis & Penolakan Internal
Di luar simposium, asisten Reika, Kouhei Yukihira, melaporkan bahwa Osako (mantan teman sekelas Reika yang konservatif) menggunakan hak veto terhadap proposal eksperimen. Sidang peninjauan kedua akan menentukan nasib proyek.
Reika tampak lelah fisik dan emosional. Ia memutuskan berjalan pulang untuk menyegarkan diri dan teringat bahwa hari itu adalah ulang tahun Yuka. Ia mampir ke toko kue untuk membeli hadiah, namun mengakui pada pegawai toko bahwa ia jarang punya waktu untuk Yuka dan tidak tahu apa yang Yuka sukai.
Laporan Tes Kecocokan & Kejutan Reika
Di rumah yang sepi, Reika menemukan amplop berisi “Compatibility Test Report”. Hasil gabungan tes genetika dan neural menunjukkan kandidat paling cocok untuk eksperimen adalah “Saotome Yuka”.
Reika terkejut karena secara fisik Yuka lemah dan memiliki penyakit jantung. Ia menelpon Yukihira untuk menanyakan kredibilitas fasilitas tes, dan dipastikan bahwa mereka tidak pernah salah.
Dalam percakapan, terungkap bahwa Yuka awalnya “dipertahankan” hanya sebagai alat untuk bisa masuk ke pulau akademi, namun kini ternyata sangat cocok sebagai subjek.
Reika menegaskan bahwa ia ingin Yuka dan semua subjek hidup, bukan mati, dan bahwa tujuan penelitian adalah demi kemaslahatan umat manusia, bukan kejahatan. Meski begitu, ia tetap memutuskan melanjutkan persiapan eksperimen dengan Yuka sebagai kandidat utama, sambil ingin mendengar pendapat Yuka sendiri.
Yukihira & Jaringan Pendukung Eksperimen
Yukihira melaporkan bahwa:
Perusahaan farmasi Kurono Group setuju menyuplai obat baru.
Semua dokter di UKS sekolah adalah orang mereka.
Pihak pengadaan yang disuap akan menutupi jejak proyek.
Laboratorium diisi peneliti berpengalaman; eksperimen dapat dimulai kapan saja.
Reika mengatakan akan mengurus langsung penentang internal seperti Osako. Ia juga menanyakan pada Yukihira apakah ia menyesal bekerja dengannya; Yukihira menyatakan loyalitas penuh.
Yuka Menguping & Motivasi Pribadinya
Setelah telepon berakhir dan rumah gelap, ternyata Yuka berada di balik dinding, mendengar pembicaraan itu.
Ia merasa gembira secara tidak wajar karena merasa “akhirnya diperhatikan lagi” oleh Reika dan menyebut dirinya ingin menjadi “Prometheus” bagi Dr. Saotome, siap “berguna” demi mendapat perhatian kembali, bahkan dengan risiko nyawa.
Tiga Jam Sebelumnya: Pemalsuan Laporan oleh Yuka
Flashback: Yuka pulang lebih dulu ke rumah yang kosong, melihat amplop tanpa nama di meja, dan membuka laporan “Compatibility Test Report” karena penasaran.
Di dalam laporan, kandidat paling cocok sebenarnya adalah “Yata” (sahabatnya yang atletis dan sehat).
Yuka membaca catatan berwarna merah: eksperimen akan memberi beban fisik ekstrem, kelelahan berat, risiko efek samping permanen, hingga kemungkinan kematian otak.
Ia menyimpulkan:
Inilah alasan Reika tertarik pada Yata.
Eksperimen ini sangat berbahaya dan ia tidak ingin Yata mengorbankan masa depan normalnya.
Dirinya yang sakit jantung dan “tidak punya banyak yang bisa hilang” merasa lebih layak menjadi “Prometheus” Reika.
Yuka, yang ahli kerajinan tangan, memanfaatkan lem amplop dan sifat huruf dari printer termal untuk membuka, mengubah, dan memalsukan isi laporan: ia mengganti nama Yata menjadi “Saotome Yuka” dan menutup kembali amplop hingga tampak tak tersentuh.
Motivasinya ganda: melindungi Yata dan menarik kembali perhatian Reika, meski tahu risikonya bisa mati dengan mengenaskan. Ia menyatakan bahwa dengan kondisi jantungnya, ia toh merasa tidak akan hidup lama.
Keesokan Harinya: Persetujuan Yuka & Keraguan Reika
Di Brain Science Research Institute pada pagi 12 April, Yukihira menanyakan apakah Reika sudah bicara dengan Yuka. Reika menjawab Yuka menerima menjadi subjek “tanpa ragu sedikit pun”.
Reika gelisah karena meski sudah menjelaskan risiko kematian, Yuka tampak tidak peduli, sehingga ia khawatir Yuka mungkin sebenarnya sedang mencari cara untuk mati.
Yukihira menafsirkan bahwa Yuka ingin membalas budi atas kebaikan Reika dengan mengabdikan hidupnya untuk eksperimen yang dapat mengubah nasib umat manusia.
Ia menekan Reika agar segera mengambil keputusan, menyatakan bahwa mungkin inilah “keinginan” Yuka. Bila benar demikian, justru Reika yang ragu-ragu.
Yukihira menyebut ini kesempatan penting bagi karier riset Reika dan berjanji akan menanggung penuh segala tanggung jawab jika terjadi masalah.
Cerita berlangsung saat upacara pembukaan Kejuaraan Atletik SMA Pulau Hydrangea ke-2, yang diselenggarakan di SMA Misono.
Setelah upacara, lomba 800 meter putri akan dimulai. Yata, “Ratu Trek Misono” dan ace sekolah, menjadi pusat perhatian para penonton dan murid lain.
Beberapa murid berspekulasi bahwa Yata berlari ke stadion tanpa istirahat demi menggertak lawan, meski sebenarnya ia belum sarapan dan hanya fokus memastikan kondisi tubuhnya.
Di garis start, Yata tampak serius dan mencari sosok Yuka di antara para pendukung, karena Yuka sebelumnya berjanji akan datang memberi semangat. Namun Yuka tidak terlihat, membuat Yata sedikit kecewa meski ia mencoba mengabaikannya.
Saat lomba dimulai, Yata langsung memimpin dengan kecepatan sangat tinggi sejak putaran pertama.
Di 400 meter pertama, catatan waktunya memecahkan rekor liga putri SMA, membuat komentator meragukan apakah pengukur waktu rusak, karena ini adalah lomba 800 meter dan kecepatannya tetap stabil.
Yata terus berlari sendirian jauh di depan, tenggelam dalam konsentrasi. Ia merasakan ketenangan dan kebebasan; rasa sakit fisik dan beban emosional memudar, dan momen inilah yang ia anggap sebagai “inti” dari masa muda.
Pada lap kedua, kecepatannya hampir tidak turun dan ia dengan mudah memenangkan lomba, menjadi juara pertama di kejuaraan tersebut.
Rekan-rekan junior tim atletik mengerumuninya dengan pujian dan air minum. Di tengah keramaian itu, Yata menatap ke arah garis start dengan perasaan sepi, lalu menebak bahwa mungkin Yuka sedang sakit atau ada urusan mendesak sehingga tidak dapat datang.
Yuka di ruang UKS & eksperimen nanomachine
Evening, May 2nd - Pleasant and Dry
School Infirmary
Yuka Saotome baru saja selesai menerima suntikan nanomachine di ruang UKS sekolah.
Ia mengeluh batuk darah, halusinasi suara dan gambar, serta mimpi buruk sejak memakai obat.
Dokter menjelaskan dosis sudah minimal; kalau dikurangi, tubuh Yuka akan menolak implant nanomachine, dan kondisi jantung Yuka sudah berbahaya.
Yuka bersikeras tetap melanjutkan eksperimen demi “tujuan” tersebut.
Setelah Yuka pergi, nurse tampak tertekan: ia menerima amplop cokelat berisi uang dan undangan dosen tamu dari pihak Hydrangea Island Medical Center, mengisyaratkan ia disuap. Ia butuh uang untuk dua anak dan ibunya yang sakit.
Festival sekolah & kembang api bersama Yata
Di gerbang sekolah, Yata menunggu Yuka; mereka berencana menikmati festival sekolah dan pesta kembang api pulau.
Yuka tertarik pada toko topeng Noh, khususnya topeng rubah putih (kitsune). Ia membeli/mengenakan topeng tersebut, dan pemilik toko memuji kecantikannya.
Keduanya menyusuri jajaran stan makanan dan permainan klub sekolah. Yata dikenal banyak stan karena aktif di klub dan kompetisi; ia membeli berbagai jajanan (dango, ayam panggang, popcorn chicken, es krim goreng, dll.) dan bercanda soal berat badan & kalori.
Menuju tepi sungai lewat jalan pintas
Kembang api mulai diluncurkan. Yata mengajak Yuka ke tepi sungai lewat jalan pintas di hutan untuk menghindari “tembok” pasangan yang berjejer di jalur utama.
Mereka keluar di area tepi sungai yang sepi, ideal untuk menonton kembang api di atas sungai. Yuka memperingatkan bahwa area tetrapod licin dan berlumpur.
Saat hendak berfoto, Yuka menyadari tasnya hilang (kemungkinan tersangkut di ranting saat lewat hutan). Ia panik karena di dalamnya ada obat-obatan penting dan takut dimarahi Dr. Saotome.
Meski Yata menenangkan dan menyuruhnya berhenti menyalahkan diri, Yuka tetap berlari kembali ke hutan untuk mencari tas.
Pertemuan Reika & Yoshihiro sebelum pembunuhan
Di tempat lain di pulau, Reika Saotome berjalan bersama Yoshihiro Osako di area hutan yang baru dikembangkan (kebun bambu, jalan kerikil putih).
Mereka membicarakan masa lalu sebagai teman sekolah, pengakuan cinta Yoshihiro yang dulu, kematian istri Yoshihiro akibat kanker, dan kesibukannya membesarkan anaknya, Masao.
Reika menjelaskan bahwa lokasi itu adalah “tempat rahasianya”. Ia terlibat dalam proyek pengembangan taman/landscape pulau dan diundang oleh Asosiasi Berkebun.
Mereka bercanda soal kembang api dan Reika menunjukkan kemampuan memorinya (menghafal jeda 5 menit 23 detik antar tembakan kembang api).
Reika membunuh Yoshihiro
Saat mereka berjalan lebih jauh, terdengar dua ledakan: satu dari kembang api jauh, satu ledakan dekat. Yoshihiro tersadar bahwa ia tertembak—dadanya berdarah.
Reika mengakui ia harus melanjutkan “eksperimen proyeksi kesadaran” dan menembak Yoshihiro menggunakan pistol Glock 43.
Ia memeluk Yoshihiro dan menembaknya lagi dua kali di perut, menjelaskan pandangannya bahwa senjata yang tidak bisa membunuh hanyalah hiasan, menyindir koleksi pisau Yoshihiro sebagai dekorasi belaka.
Setelah itu, ia menghapus sidik jari dari pistol, meletakkannya di tangan Yoshihiro untuk memberi kesan tertentu (kemungkinan bunuh diri atau kecelakaan terencana). Yoshihiro roboh dan mati.
Kouhei muncul & upaya menutupi pembunuhan
Reika memanggil Kouhei, seorang pria tinggi kurus yang muncul dari balik bambu.
Reika memerintahkannya “membersihkan” TKP dan membuatnya terlihat meyakinkan. Kouhei patuh.
Yuka menyaksikan pembunuhan & manipulasi Reika
Tepat saat itu, terdengar langkah tergesa-gesa dari semak—Yuka, yang sedang mencari tasnya, muncul dan melihat mayat Yoshihiro dengan darah berlumuran tanah.
Kouhei spontan mengarahkan pistol ke Yuka, tapi Reika menurunkan lengannya dan melarangnya mengarahkan senjata ke anak sekolah.
Yuka syok dan gagap bertanya pada “Dr. Saotome” apakah dia yang membunuh Yoshihiro.
Reika mendekat, memeluk Yuka, dan menyebut kejadian itu “kecelakaan”, sambil berusaha menenangkannya dan mengendalikannya.
Ketika Yuka menyinggung kemungkinan bahwa pembunuhan itu bisa saja benar, Reika membenarkan tindakannya: menurutnya, merekalah yang “benar” dan orang-orang yang tidak memahami mereka yang “salah”.
Reika memintanya untuk tidak memberitahu Yata tentang apa yang dia lihat. Yuka menyetujui dengan ketakutan.
Reika kemudian menyebut diri sebagai “ibumu” pada Yuka. Kata itu memicu reaksi emosional kuat: Yuka mulai tersenyum sambil menangis dan menyatakan bahwa Reika adalah “segalanya” baginya, serta berjanji akan mematuhi semua perintahnya.
Reika memanfaatkan momen ini untuk menegaskan bahwa eksperimen tempat Yuka berpartisipasi sangat penting bagi masa depan umat manusia. Ia memberi “opsi” untuk mundur, dengan Kouhei sebagai saksi, seolah-olah menghormati keinginan Yuka.
Yuka, yang sepenuhnya terikat secara emosional pada Reika, menyatakan ia akan melakukan apa saja demi “visi” Reika dan bersedia mengambil risiko.
Reika mencium kening Yuka secara manipulatif, lalu menyuruhnya “tetap di sini untuk sementara”. Yuka menuruti.
Pemulihan Yuka & Rencana Proyek
Evening, June 10th - Pleasant and Dry
Intensive Care Unit - Medical Research Institute
Di fasilitas medis dekat Distrik Penelitian Medis Hydrangea, Yuka baru saja menjalani operasi penanaman nanomesin di otaknya. Aktivasi mencapai 98% dan kondisinya stabil meski mengalami mual, muntah, dan diare.
Reika Saotome akan pergi ke rapat pemegang saham untuk mencari dana bagi proyek penelitian baru terkait kesadaran.
Ia menunjuk Kouhei untuk memimpin eksperimen proyeksi kesadaran selama ia pergi, termasuk:
Verifikasi tonggak eksperimen proyeksi kesadaran satu‑lawan‑satu.
Persiapan eksperimen proyeksi massal (Phase II).
Pemasangan penguat sinyal dan terminal emisi pulse di ruang rahasia di balik ruang kegiatan di SMA Misono, secara diam‑diam.
Ancaman terhadap Penyelidik (Sugiki)
Seorang bawahan melapor pada Kouhei bahwa asisten Yoshihiro Osako, bernama Sugiki, mengusut mereka dan bahkan menghubungi media.
Kouhei memerintahkan agar Sugiki “didatangi” dan dibawa hidup‑hidup.
Klub Cerita Horor & Ruang Rahasia SMA Misono
Di malam 20 Juni, tiga siswi (Kishii, Hasegawa, Itsushima) dari “Klub Cerita Horor” menyusuri sekolah untuk menyelidiki rumor patung seni yang berkeliaran saat malam tanpa bulan.
Mereka awalnya tak menemukan apa‑apa, hanya suasana sekolah yang sunyi dan menyeramkan.
Mereka mendengar suara dan getaran dari bawah lantai, lalu mengikuti sumbernya.
Di ruang kegiatan, mereka menemukan pintu yang tadinya terkunci kini terbuka, dan rak buku bergeser, membentuk celah yang memancarkan cahaya.
Kishii mendorong dinding tersebut dan mengungkap sebuah ruang rahasia berisi mesin‑mesin besar dan peralatan canggih yang tampak seperti senjata atau perangkat eksperimen.
Saat Kishii sedang melihat‑lihat, ia menyadari kedua temannya tak bergerak dan menemukan mereka pingsan di lantai. Ia hendak berteriak, namun seseorang membekapnya dari belakang hingga pingsan.
Penutupan Insiden dengan Alasan “Kebocoran Gas”
Dalam keadaan setengah sadar, Kishii mendengar orang‑orang berpakaian hitam ditegur keras karena lalai hingga para siswi menemukan ruang itu. Nama “Dr. Saotome” disebut, dan Kouhei jelas terlihat sebagai atasan mereka.
Salah satu bawahan mengusulkan membunuh para siswi dengan cara “seolah bunuh diri”, tetapi Kouhei menolak karena akan menarik perhatian publik dan media (khususnya “Misono Bunshun”).
Kouhei memutuskan membawa mereka ke UKS dan mengatur cerita penutup.
Keesokan harinya, ketiga siswi terbangun di UKS dan diberitahu:
Terjadi kebocoran gas di dapur sekolah, menyebabkan keracunan CO dan halusinasi.
Mereka ditemukan oleh satpam dan tidak akan dikenai sanksi meski melanggar aturan.
Diterapkan jam malam, patroli malam diperketat, mereka wajib konseling psikologis dan menulis laporan insiden.
Ruang kegiatan ditutup dua minggu untuk “perbaikan utilitas dan dinding”.
Narasi menegaskan bahwa ini menjadi alasan resmi dimulainya “daylight saving time” (jam malam) di SMA Misono.
Eksperimen Proyeksi Kesadaran Pertama (Yuka)
Afternoon, July 5th - Indoors
Quantum Computing Lab - Neuroscience Research Institute
5 Juli, di Laboratorium Komputasi Kuantum, Kouhei bersiap melakukan uji coba pertama proyeksi kesadaran satu‑lawan‑satu dengan Yuka sebagai subjek.
Yuka cemas apakah eksperimen akan menyakitkan. Kouhei menjawab bahwa rasa sakit tak bisa dihindari sepenuhnya dan menekan Yuka agar tetap ikut, dengan dalih keberhasilan eksperimen.
Yuka masuk ke ruang steril, tubuhnya ditusuk jarum‑jarum mesin ke tulang belakang; ia merasakan sakit berat, mengeluarkan darah dari mulut, namun eksperimen tidak dihentikan.
Sistem nanomesin di otak Yuka disinkronkan dengan komputer kuantum, membentuk “ruang kesadaran” virtual. Salinan kesadaran Yuka berhasil dibuat dan dihubungkan dengan perangkat penguat serta proyektor kesadaran.
“Laut Kesadaran” & Tindakan Mematikan dalam Simulasi
Dalam pengalaman subyektif Yuka, ia berada di “laut abu‑abu” yang tenang, dengan cahaya‑cahaya bagaikan titik pikiran manusia di kejauhan.
Kouhei menjelaskan bahwa itu adalah ruang termaterialisasi dari jaringan bawah sadar kolektif (sea of consciousness).
Yuka diminta menyentuh satu titik cahaya, dan kesadarannya berpindah masuk ke perspektif seseorang yang sedang mengalami rasa takut, sakit, dan keputusasaan ekstrem.
Kouhei memerintahkannya “mengendalikan tubuh target” dan mengambil pistol di sebelah kanan untuk “mengakhiri penderitaan” orang itu, meyakinkan bahwa ini hanya simulasi komputer dan bukan orang sungguhan.
Yuka awalnya menolak secara moral, tetapi di bawah tekanan keras Kouhei, ia menurut: mengangkat pistol, menembakkannya ke pelipis target.
Setelah tembakan, M.I.N.D Yuka “dibanjiri merah”, ia jatuh ke “lautan darah” metaforis dan kehilangan kesadaran.
Pengungkapan: Korban Nyata & Keberhasilan Ilmiah
Dari sudut pandang laboratorium, Yuka pingsan dan dibawa tim medis untuk pemulihan.
Kouhei secara resmi menyatakan eksperimen proyeksi kesadaran satu‑lawan‑satu “berhasil” dan para peneliti merayakannya.
Usai keluar dari ruang kontrol, Kouhei mendatangi ruang lain di mana seorang pria (Sugiki) terikat di kursi, berdarah di kepala.
Kouhei mengambil pistol di lantai, mengosongkan pelurunya, dan mengolok Sugiki: inilah akibat melawan mereka; ia “mati seperti anjing” dan sekarang bisa “bersatu kembali dengan Osako”.
Ini mengimplikasikan kuat bahwa “simulasi” yang Yuka alami sebenarnya adalah kesadarannya memprojeksikan dan mengendalikan tubuh Sugiki untuk menembak dirinya sendiri, menjadikannya uji coba manusia tanpa sepengetahuan Yuka maupun Reika.
Kouhei memerintahkan bawahannya membuang jenazah dan menegaskan bahwa Reika tidak perlu tahu soal penggunaan subjek manusia.
Dampak Keberhasilan Eksperimen
Tanggal 5 Juli dicatat sebagai hari keberhasilan pertama eksperimen proyeksi kesadaran.
Tim Saotome mempercepat uji coba pada manusia, meski landasan teoritis belum kokoh.
Reika, berkat hasil ini, sukses besar di rapat pemegang saham, menerima banyak undangan dan tawaran dana dari lembaga riset dan investor, meski detail teknis tidak dipublikasikan dengan dalih kerahasiaan.
Dalam wawancara, Reika menyatakan bahwa proses eksperimen sepenuhnya aman, manusiawi, dan mengikuti prinsip ilmiah objektif—klaim yang berseberangan dengan kenyataan yang diketahui pembaca.
Menuju Eksperimen Proyeksi Massal di SMA Misono
Pada bulan Agustus, setelah keberhasilan uji satu‑lawan‑satu, persiapan eksperimen proyeksi kesadaran massal dipercepat.
Kouhei berencana melaksanakan eksperimen tersebut pada 16 Agustus, bertepatan dengan pesta kemenangan klub atletik di SMA Misono.
Para siswa tidak diberi tahu sama sekali mengenai eksperimen; ini murni keputusan sepihak Kouhei.
“Misteri Kedelapan” – Kabut Malam Abadi
Di bagian penutup, seorang gadis dari klub atletik menceritakan pada Yata tentang rumor “Misteri Kedelapan SMA Misono: Kabut Malam Abadi”.
Konon pada malam tanpa bulan, kabut merah darah muncul di area sekolah dan menyelimuti hingga fajar; siapa yang masih berada di kampus ketika kabut datang bisa tersesat bahkan “diculik” selamanya.
Disebutkan ada siswa yang pernah ditemukan pingsan di lorong keesokan harinya, dikaitkan dengan kabut ini.
Gadis itu menghubungkannya dengan aturan jam malam baru di sekolah; Yata menyikapinya skeptis dan menyebut cerita semacam ini hanyalah “mitos urban” yang beredar dari mulut ke mulut.
Konflik Yata vs “Yuka”
Yata menyadari dunia sekolah yang ia lihat hanyalah ilusi, bukan lagi sekolah asli melainkan “kuburan” kenangan.
Sosok yang tampak seperti Yuka Saotome berusaha membujuk Yata untuk tetap terjebak dalam mimpi/ilusi masa lalu yang tanpa rasa sakit, dan mempertanyakan alasan untuk “bangun” ke realitas.
Yata menegaskan misinya: mengatasi pengaruh Red Tide di pulau tersebut dan menyatakan sosok “Yuka” sebagai musuh umat manusia. Ia juga menuntut jawaban tentang keberadaan Shiva, rekannya.
“Yuka” cemburu karena Shiva disebut sebagai “teman”, sementara ia merasa tidak dianggap sebagai teman oleh Yata.
Upaya persuasi gagal; wujud “Yuka” mulai melengkung, meleleh, lalu menghilang menjadi cairan merah.
Runtuhnya Ilusi
Setelah Yata menyadari penuh bahwa semua ini adalah ilusi, “realitas” di kelas mulai hancur: cairan merah merembes, ruang bergetar, cahaya dan statis muncul, dan ruang ilusi berkontradiksi dengan persepsi Yata.
Retakan seperti jaring laba-laba menyebar di lantai. Yata memutuskan kabur melalui pintu kelas.
Saat pintu dibuka, seluruh dunia ilusi pecah seperti kepingan puzzle, menyisakan kegelapan total dan satu jalur gelap ke depan saja.
Yata berlari menuju cahaya putih di ujung jalan. Sebelum keluar, ia menoleh ke belakang karena rasa penasaran: sebuah topeng Noh raksasa dengan mulut menganga menerjang ke arahnya. Ia menerobos menuju cahaya, lalu segalanya diselimuti putih.
Yata Terbangun di Dunia Nyata
Yata terbangun dengan kaget dan ketakutan di ruangan asing, menyadari itu hanya “rasa sakit hantu” dari masa ketika ia masih manusia, karena kini ia adalah Construct.
Ia mendapati dirinya di ruang siaran (broadcasting room) sekolah, dengan peralatan audio berdebu di sekitarnya.
Petunjuk soal Mesin Aneh & Insiden Pingsan Massal
Yata mengingat isi buku harian yang ia lihat dalam halusinasi: disebutkan adanya “mesin aneh” tersembunyi di ruang aktivitas (activity room).
Ia curiga: mengapa sekolah menyembunyikan mesin seperti itu, dan apakah itu terkait dengan kejadian aneh di gedung saat ini.
Tiba-tiba ia teringat insiden pingsan massal di SMA Misono, yang juga terjadi di ruang aktivitas. Ia memutuskan harus menyelidikinya.
Kembali Terperangkap Ilusi Saat Menuju Ruang Aktivitas
Yata meninggalkan ruang siaran dan naik tangga menuju ruang aktivitas.
Di tengah jalan, kepalanya kembali sakit; halusinasi muncul lagi. Tiap langkah terasa berat, namun ia memaksa diri terus maju.
Saat hampir mencapai ruang aktivitas, koridor yang terbengkalai mulai terdistorsi: suara-suara aneh terdengar, cahaya dan bayangan berkelebat, kenangan dan kejadian hari sebelumnya muncul lagi.
Ingatan yang seharusnya “mati” kembali hidup dengan jelas di hadapan Yata ketika ilusi menelannya sekali lagi.
Eksperimen mass consciousness di Misono High (masa lalu)
Activity Room - Misono High
Track and Field Club Victory Party
Night, August 16th - Pleasant and Dry
Klub atletik Misono High dikumpulkan malam hari dengan dalih pesta kemenangan.
Suara misterius dari speaker memerintahkan mereka duduk di kursi bertanda nama.
Ternyata mereka dijadikan kelinci percobaan untuk eksperimen proyeksi kesadaran massal yang dikendalikan Kouhei dan para peneliti, dengan Yuka sebagai penghubung utama ke mainframe.
Saat eksperimen berjalan, Yuka pingsan dan nanomesin di otaknya kacau, membuat sinyal pulse melonjak tak terkontrol. Semua anggota klub atletik pingsan, hanya Yata yang masih bertahan meski menderita sakit kepala hebat dan halusinasi.
Kouhei memutus koneksi Yuka dan menyatakan eksperimen kedua ini gagal, sementara kondisi Yuka memburuk tapi masih hidup. Reika Saotome menegaskan Yuka harus tetap hidup dan melarang eksperimen gegabah.
Yata menemukan sumber halusinasi dan rahasia di Misono High (masa kini)
Yata yang kini mengingat kembali malam itu sadar sakit kepalanya sama dengan yang dulu. Teman-temannya di ruang klub roboh tak sadarkan diri, sementara ia berjuang tetap sadar.
Ia menyadari sesuatu aneh dengan ketebalan dinding dan menemukan ada ruangan tersembunyi di balik dinding ruang klub.
Yata menghancurkan dinding dan menemukan sebuah mesin raksasa—senjata pulse berperforma tinggi yang dimodifikasi, kemungkinan besar berasal dari Kurono, dipasang perangkat input jarak jauh untuk memproyeksikan halusinasi ke para siswa.
Ia merusak kabel daya mesin itu dan menghentikan fungsinya, membuat halusinasi dan sakit kepala menghilang. Ia menyimpulkan bahwa klub atletik dulu dijadikan subjek uji coba tanpa sepengetahuan mereka.
Yata menyesal karena kejadian saat itu tak diselidiki lebih jauh, merasa mungkin tragedi selanjutnya bisa dicegah bila mereka bertindak. Ia memutuskan terus maju untuk menemukan Yuka selagi gangguan melemah.
Situasi di Hydrangea Island – Valeria & Discord
Central Region - Hydrangea Island
Near Scarab's Landing Site
Night - Pleasant and Dry
Di wilayah lain di Hydrangea Island, Valeria dan Discord melihat koordinasi Corrupted melemah, menandakan Yata berhasil menghancurkan sumber interferensi.
Mereka memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan sekelompok Corrupted dan berencana segera menyusul Yata untuk berkumpul kembali.
Dialog Yuka & Cradle: motivasi dan rencana baru
Derelict Stronghold - Misono's Grand Hall
Academic Building - Misono High
Night - Pleasant and Dry
Di aula besar Misono (sekarang reruntuhan), kekuatan Yuka melemah setelah alat Amplifier Pulse Emitter hancur.
Beberapa Corrupted memberontak dan menyerangnya, tapi Yuka membantai mereka dengan gunting bordir raksasanya dan benang tak kasat mata.
Cradle muncul dan menyinggung bahwa “hati” Yuka semakin lemah; bila dibiarkan, tubuhnya bisa lenyap bersama mimpi-mimpi yang ia ciptakan.
Cradle mengingatkan bahwa ia sebelumnya tidak memakan kehendak Yuka, melainkan membentuk ulang tubuhnya dengan menelan mainframe dan data yang terhubung pada Yuka, lalu “memaksa” semua itu ke dalam dirinya.
Cradle mengusulkan agar Yuka tidak lagi mengandalkan mesin memori dan proyeksi, karena Babylonia akan segera menguasai pulau itu. Sebagai gantinya, Yuka diminta menerima “blessing” Red Tide, mendapatkan kendali penuh atasnya, dan menggunakan Red Tide sebagai media untuk menyebarkan ilusi ke mana pun gelombangnya menjangkau.
Cradle menawarkan peran “Prometheus dunia baru” pada Yuka, dan memintanya mencapai “bentuk sempurna” terlebih dulu.
Filosofi Yuka: dari idealisme Dr. Saotome ke “defeatist”
Yuka mengenang Dr. Saotome (yang ia lihat sebagai ilmuwan penyelamat dunia):
Dr. Saotome yakin ada makhluk lain di luar Bumi yang selalu mengawasi manusia.
Untuk melawan mereka, umat manusia harus berevolusi menjadi spesies yang lebih tinggi melalui penyatuan kesadaran.
Ia tetap ngotot meneliti “penyelamatan dunia” meski ditertawakan, memusuhi siapa pun yang menghalangi penelitiannya sampai kehilangan jati diri.
Musuh dari “dimensi lebih tinggi” yang ia bayangkan tak pernah muncul; yang datang justru Punishing.
Yuka mengaku tak percaya bahwa masyarakat manusia lebih “unggul” dari Red Tide atau Punishing.
Pengalamannya membuatnya memandang manusia sebagai makhluk egois yang saling tak memahami; ia ragu manusia punya tekad total untuk melawan Punishing seperti yang diharapkan Dr. Saotome.
Yuka tetap menghormati Dr. Saotome dan berjanji menjadi “Prometheus” yang diimpikan sang dokter, tetapi dengan cara berlawanan:
Bukan menyelamatkan dunia, melainkan membuat semua orang meninggalkan idealisme penyelamatan dunia, menerima nafsu dan kelemahan mereka.
Menenggelamkan manusia dalam “surga apokaliptik” penuh kesenangan, membiarkan mereka melayang tanpa tujuan hingga akhir.
Cradle menyimpulkan Yuka adalah seorang “regressionist” atau lebih tepat “defeatist” yang menerima kejatuhan umat manusia sebagai sesuatu yang tak terelakkan, dan menganggap Red Tide sebagai keindahan yang patut dinikmati.
Pemberian kekuatan baru dan kepergian Cradle
Cradle menyatakan Red Tide pada akhirnya akan mewarnai planet ini, dan Yuka adalah sosok yang bisa menghargai “keindahan” itu.
Ia menyuruh Yuka memanggil Red Tide ke pulau itu dan menyatu dengannya, menjadikan Hydrangea Island sebagai titik awal kejatuhan manusia—“Eden yang runtuh.”
Cradle lalu menggenggam tangan Yuka; benang-benang merah menyusup ke tubuh Yuka dan memunculkan pola merah di dadanya. Ia menyebut ini sekadar “pinjaman kekuatan”, hadiah perpisahan.
Cradle mengaku tak bisa lama-lama di sana karena ada urusan lebih penting di tempat jauh dan ini kemungkinan pertemuan terakhir mereka.
Setelah Cradle menghilang, Yuka merasakan “hatinya” kembali kuat dan hidup, menyadari perubahan besar pada dirinya. Ia mengeluh Cradle tidak menyenangkan, sama seperti dirinya.
Red Tide bangkit, ancaman baru menyebar
Yuka berdiri di anak tangga batu yang dipenuhi bunga hydrangea dan memanggil Red Tide untuk berkumpul padanya.
Debu putih turun dari langit-langit aula, bumi bergetar, dan Red Tide mulai menjalar dari teluk menuju daratan, diiringi kawanan Hetero-Creatures yang sangat besar.
Di sisi lain pulau, Valeria dan Discord merasakan gempa dan melihat Hetero-Creatures dari hutan bergerak serentak. Gangguan mental kembali; Discord kesakitan, tapi Valeria menenangkannya dan menyokongnya secara fisik dan mental.
Mereka menyadari ancaman meningkat, kemungkinan Yata juga menghadapi kondisi yang lebih berbahaya. Rencana tetap: secepatnya berkumpul dengan Yata dan mencari posisi aman di titik tinggi.
Mimpi Yata & Yuka di Rumah Sakit (Masa Lalu / Ilusi)
Yata berjalan di laut beku dan bertemu sosok gadis bercahaya yang terasa sangat familiar—Yuka. Sentuhannya dingin tapi membawa sedikit harapan. Saat Yata bertanya apa yang terjadi, mimpi itu hancur.
Yata terbangun di rumah sakit. Perawat mengatakan atap ruang aktivitas runtuh saat pesta dan Yata mengalami gegar otak berat; suara di siaran dianggap halusinasi. Yata menolaknya dan kabur dari bangsal, dipandu oleh insting menuju sebuah ruang rawat yang terisolasi.
Di sana ia menemukan Yuka Saotome yang tampak lemah di ranjang. Yuka mengatakan ia tak punya banyak waktu, mungkin tak akan kembali ke sekolah, dan ingin mengucapkan selamat tinggal dengan “sedikit trik” agar Yata bisa menemuinya.
Yata kaget karena sebelumnya Yuka tampak membaik dan bahkan sempat berbicara soal menjadi magang di toko bunga. Yuka menjawab bahwa ia tidak membutuhkan semua itu lagi dan menyebut tentang “Spiritual Eden”, tempat yang konon punya taman jauh lebih indah; di sanalah ia ingin menanam hydrangea dan meminta Yata datang suatu hari nanti.
Yuka memberikan lipatan kertas berbentuk rubah sebagai hadiah perpisahan, meminta Yata mengingat janji mereka jika kelak melihat rubah-rubah kertas itu lagi.
Seorang dokter masuk dan dengan dingin menyuruh Yata pergi karena pasien harus beristirahat. Yuka mengiyakan dan meminta Yata datang lagi besok.
Di koridor, Yata baru menyadari suara dokter itu terasa familiar. Waktu lalu “membeku” dan seseorang (narator/Yata masa kini) mulai berbicara kepada Yata.
Penjelasan Narator: Nasib Yuka & Rasa Menyesal (Masa Kini, Dialog Batin)
Tokoh misterius (yang jelas adalah Yata di masa kini/masa depan) mengatakan:
Pada hari wabah Punishing, Yuka terjebak di laboratorium dan tak bisa melarikan diri. Namanya tercantum di daftar korban tewas tim penyelamat.
Mimpi buruk tentang itu menghantuinya selama bertahun-tahun sampai ia kembali ke tempat ini.
Ia menyadari tragedi Yuka tidak berakhir di kematian, tetapi justru dimulai dari sana.
Ia menjelaskan bahwa puluhan tahun kemudian, Yuka kembali muncul di SMA Misono yang sudah ditinggalkan. Ia percaya Yuka yang asli sudah mati; sosok sekarang hanyalah “sesuatu yang lain”, meski membawa memori-memori Yuka.
Meskipun Yuka kini menguasai seluruh pulau, mengambil alih tim penyerang Babylonia, dan menculik rekan satu skuad, sang narator tidak tega menganggapnya musuh.
Yata (Bayangan/Memori) Menghadapi Penyesalan Yata yang Sebenarnya
Yata (masa lalu) menafsirkan perilaku Yuka: mungkin Yuka hanya ingin bertemu Yata lagi, karena Yata adalah satu-satunya temannya selain Dr. Saotome.
Ia menegaskan bahwa secara mental Yuka tetap seperti remaja: mudah dipengaruhi, penuh gagasan tak realistis, “jiwanya” terperangkap di sekolah dan tidak tumbuh.
Yata menuding bahwa “hati” Yata masa kini juga terperangkap di tempat yang sama, karena terus hidup dalam penyesalan.
Yata masa kini bertanya apa yang harus ia lakukan, karena semua menjadi kacau akibat kegagalannya menyelamatkan Yuka di masa lalu.
Yata masa lalu menyuruhnya “mencoba menyelamatkan lagi”:
Jika Yuka tidak bisa keluar sendiri, sebagai sahabat, Yata harus membantunya.
Ia datang untuk meminta Yata menghentikan Yuka, karena hanya Yata yang Yuka percayai selain dokternya.
Saat Yata takut gagal lagi, Yata masa lalu menentangnya: rasa takut gagal tidak boleh menghentikan usaha. Ia mengingatkan filosofi lari Yata dulu—berlari untuk melampaui diri sendiri, bukan mengalahkan orang lain; musuh Yata selalu dirinya sendiri dan ketidakmampuannya menghadapi masa lalu.
Ia menegaskan bahwa Yata dulu tetap berjuang mati-matian, bukan hanya pasrah menunggu kematian, dan bahwa Yata sekarang jauh lebih kuat.
Yata masa lalu memohon agar Yata sekarang menyelamatkan Yuka. Yata masa kini tersadar, menerima “rematch” melawan takdir masa lalu, dan bertekad tidak akan kalah lagi.
Kembali ke Medan Pertempuran: Sekolah yang Terbengkalai (Masa Kini, Dunia Nyata)
Ilusi Yata menghilang saat Yata kembali sadar di koridor sekolah tua yang gelap, penuh Corrupted. Tiga Corrupted hampir saja menembus tubuhnya, tapi ia mengelak dan memanfaatkan satu Corrupted sebagai tumpuan untuk melompat keluar dari kepungan.
Dengan kelincahan dan kekuatan tinggi, Yata menghancurkan senjata musuh dengan tendangan, menebas, lalu menembakkan sebuah sinar energi kuat yang menerangi koridor dan menghancurkan Corrupted.
Setelah itu, ia menemukan Shiva pingsan di ujung koridor. Fisik Shiva utuh, mata tertutup, hanya “mata ketiga” di dahinya yang masih bersinar hijau, menandakan ia masih hidup.
Yata menyimpulkan ini mungkin ulah Yuka; penculik Shiva yakin korban tak akan mudah terbangun di bawah kendalinya. Ia juga menyadari Corrupted di sekolah makin liar dan sinyal interferensi makin kuat, dan menduga Yuka telah memilih “Red Tide”.
Gelombang sakit yang kuat menyerang M.I.N.D. Yata. Narasi kemudian menyisipkan potongan kenangan tentang interaksinya dengan Shiva dan Shorthalt (percakapan bercanda soal tiga mata, enam tangan, tipe orang Scarab, dan soal misi investigasi anomali Red Tide)—menunjukkan kedekatan mereka dan bahwa Shorthalt telah tiada, sementara Shiva punya “firasat” yang tak sempat ia selesaikan.
Yata terbangun lagi dari lamunan dan menghajar Corrupted yang mendekat. Semakin banyak Hetero-Creature bermunculan dari bayang-bayang koridor.
Yata bertekad membawa Shiva pulang demi menghormati Shorthalt, yang digambarkan sebagai tipe yang akan tetap mengomel bahkan setelah mati.
Ia mengangkat Shiva dan membuka semua lengan mekaniknya, menantang para Hetero-Creature, menegaskan bahwa ini adalah “sekolahnya”, bukan tempat mereka berkeliaran.
Terjadi ledakan besar dan rentetan tembakan yang menyingkirkan sejumlah Hetero-Creature dari gedung sekolah. Yata menggunakan kesempatan ini untuk berlari ke atap dan memasang jangkar komunikasi.
Ia memperkirakan komunikasi dengan Babylonia akan pulih dalam lima menit, namun ia tak bisa menunggu di situ karena proyeksi Yuka (atau pengaruh M.I.N.D.nya) kian menguat.
Yata menyimpulkan bahwa bila kondisi ini berlanjut, tak ada seorang pun di sekolah itu yang akan bisa bangun lagi.
Investigasi Asimov–Nikola
Asimov menjelaskan bahwa inti eksperimen di Hydrangea Island berkaitan dengan teknologi proyeksi kesadaran yang awalnya dikembangkan berdasarkan struktur M.I.N.D. milik Construct.
Catatan keuangan menunjukkan dua pengeluaran mencurigakan: perangkat penguat sinyal raksasa dan prosedur klinis tanpa kode, yang diduga kuat adalah operasi modifikasi Construct.
Reika Saotome diduga kekurangan “subjek uji” dan baru menggunakan modifikasi Construct pada Yuka karena hubungan mereka sebagai ibu angkat–anak angkat.
Pertanyaan utama: mengapa Yuka bisa terbangun tiba‑tiba setelah puluhan tahun.
Cradle, Yata, dan “kebangkitan” Yuka
Yata, yang sedang berada di dalam proyeksi memori Yuka, berhadapan dengan Cradle.
Cradle mengaku telah memberi Yuka “hati” menggunakan kekuatan Red Tide, yang menyebabkan Yuka akhirnya bangkit tapi dalam bentuk “monster”.
Yata menuduh Cradle memaksakan keputusan dan menjadikan Yuka seperti sekarang.
Cradle pergi, dan Yata meminta Valeria (V) membantu menstabilkan Shiva dan Yata, karena proyeksi memori Yuka membahayakan semua orang yang terhubung.
Operasi modifikasi Yuka dan dilema Reika
Research District - Hydrangea Island
Morning, Early November~December - Pleasant and Dry
Di masa lalu, di Institut Neurosains Hydrangea Island, Kouhei melaporkan bahwa operasi modifikasi Yuka “berhasil sebagian”:
Jantung Yuka terlalu lemah dan digantikan sistem yang membutuhkan suplai daya eksternal; tanpa itu ia tidak bisa hidup.
Struktur kognitifnya meningkat, mendukung eksperimen proyeksi kesadaran.
Reika melihat Yuka di meja operasi, lemah bak boneka porselen, tersambung ke banyak kabel daya.
Yuka menunjukkan bunga hydrangea kertas yang ia lipat sendiri sebagai hadiah untuk Reika, agar “hydrangea” bisa selalu berada di sisi Reika meski musimnya berlalu.
Yuka merasa ikut eksperimen adalah satu‑satunya cara “berkontribusi” pada Reika.
Reika, terganggu oleh perasaan yang tidak biasa bagi dirinya sebagai peneliti, sempat berniat menghentikan eksperimen demi keselamatan Yuka.
Namun Yuka memohon, menyatakan bahwa ini satu‑satunya cara membuktikan teori Reika, dan jika itu satu‑satunya pilihan, maka itu pasti “pilihan terbaik”.
Reika akhirnya menekan emosinya, mengingat nilai ilmiah dan “keunikan” Yuka, lalu melanjutkan eksperimen dengan cakupan diperluas ke seluruh kampus, sekaligus memperingatkan Yuka untuk menghentikan proyeksi jika tak sanggup.
Eksperimen ketiga dan insiden kerusakan massal
Eksperimen proyeksi kesadaran ketiga dimulai, menargetkan seluruh kampus.
Saat sinkronisasi meningkat, robot‑robot layanan di luar mulai bertindak liar dan menyerang orang. Suara jeritan terdengar dari lorong fasilitas.
Panel instrumen menunjukkan anomali; awalnya disangka kerusakan mekanis atau virus, tetapi segera tampak bahwa bukan hanya mesin yang terdampak—manusia tanpa perlindungan juga kolaps.
Reika menyimpulkan ada efek luas yang menginfeksi baik mesin maupun manusia.
Yuka terus kejang dan tidak merespons perintah untuk menghentikan proyeksi; perintah jarak jauh tak berfungsi.
Reika berusaha masuk lab untuk memutus daya secara manual, tetapi Kouhei dan seorang penjaga mencegahnya. Atas isyarat Kouhei, penjaga itu melumpuhkan Reika dan membawanya pergi.
Kouhei lalu menembak katup keselamatan suplai daya demi memutus aliran listrik ke sistem, memberi perintah singkat ke konsol (tanpa memverifikasi hasilnya) untuk menempatkan Yuka dalam stasis, dan melarikan diri. Ia menganggap dirinya sudah “melakukan yang bisa ia lakukan” dan menyalahkan nasib jika Yuka mati.
Di dalam laboratorium, indikator daya padam satu per satu, gas kriogenik tersembur, dan Yuka terbaring tak bergerak dengan pembuluh darah di matanya pecah, sementara kesadarannya terlempar ke lautan simulasi kesadaran yang telah terkorupsi secara mekanis.
Yuka memperingatkan Yata
Dalam lautan kesadaran yang diselimuti gelombang pikiran negatif dan warna merah darah, Yuka menyadari bahwa korupsi mekanis justru memberinya kemampuan menyentuh “titik‑titik cahaya” kesadaran di kejauhan.
Ia menemukan kesadaran Yata dan, dengan sisa kewarasannya, menyampaikan pesan pendek: robot di pulau telah menjadi gila—meminta Yata untuk lari.
Serangan Corrupted ke Misono High dan reaksi Yata
Desember pagi di lapangan atletik Misono High, Yata tersungkur oleh sakit kepala hebat dan mendengar suara Yuka di kepalanya.
Ia naik ke atap dan melihat:
Dari pelabuhan, kawanan robot bergerak menuju sekolah.
Dari distrik riset, robot sentinel telah memasuki zona terlarang sekolah.
Yata mencoba memperingatkan pihak sekolah:
Staf sekolah mengabaikannya karena reputasinya sebagai “pembuat onar”.
Dewan siswa mengusirnya meski mengakui keberadaannya, mengira ia datang untuk bikin masalah.
Yata lalu menuju gudang olahraga untuk mencari senjata dan bertemu Masao Osako.
Masao Osako, “Science Blades”, dan persiapan bertahan
Masao awalnya menggoda Yata, tapi segera menyadari keseriusannya dan memintanya bersumpah bahwa ancaman robot bukan karangan.
Setelah memastikan Yata tidak bercanda, Masao mengakui ia juga merasa ada kejanggalan di pulau ini, terutama setelah kematian ayahnya.
Masao menyerahkan dua pedang teknologi tinggi peninggalan ayahnya, “Science Blades”:
Merah: “Rainbow Breaker”
Biru: “Snow’s Grace”
Ia mengklaim pedang itu bisa “memotong apapun, bahkan dewa”, dan mengatakan dirinya lebih cocok bertarung dengan tongkat baseball karena pedang‑pedang itu terlalu berat.
Yata menerima kedua pedang dan bergegas ke klub atletik, yang langsung mempercayai dan membantu koordinasi pertahanan.
Sementara itu, Masao memimpin Geng Osako menjaga gerbang belakang sekolah.
Corrupted dengan mudah menembus pos keamanan sekolah, memulai “Pertempuran Misono High”.
Pertempuran di dalam sekolah dan kegagalan “Rainbow Breaker”
Yata pertama mencoba menahan serangan di gerbang utama, namun dengan cepat sadar jurang kekuatan antara manusia dan mesin terlalu besar.
Ia mundur ke dalam gedung, menyelamatkan siswa yang ketakutan dan mengarahkan mereka ke area yang lebih aman (gym dan aula).
Di dalam, dua siswi hampir dibunuh Corrupted:
Yata muncul sebagai kilatan merah, menebas Corrupted dan menyuruh mereka melarikan diri ke area aman.
Yata terus naik ke lantai atas, menebas banyak Corrupted dengan Rainbow Breaker, tapi akhirnya terkepung di koridor.
Menyadari tak ada jalan keluar, ia menggantung harapan pada legenda pedang itu, berharap kekuatannya cukup untuk membalik keadaan.
Dalam bentrokan, Rainbow Breaker justru patah.
Corrupted di belakang Yata menyerang, dan ia tak sempat mencabut Snow’s Grace. Yata sadar dalam detik berikutnya, dialah yang akan tertebas.
Dialog batin Yata dengan dirinya dari masa depan
Tepat saat itulah, narasi berpindah ke semacam ruang batin/ilusi:
Sosok lain (Yata versi masa depan) berbicara, mengomentari bahwa bahkan senjata terkuat bisa hancur dan tubuh manusia penuh kelemahan; tanpa tekad berkorban seseorang tak pantas berada di medan perang.
Yata menanggapi sinis bahwa “munculnya” sosok ini sangat tepat waktu, dan bertanya kondisi di “sana."
Sosok itu bertanya kenapa Yata bersikeras melindungi orang lain. Yata menjawab:
“Itu memang diri kita: ikut campur urusan orang lain, lebih baik mati daripada menyerah pada musuh.”
Ia menolak kemungkinan bahwa dirinya di masa depan telah menjadi orang dewasa yang apatis.
Sosok itu mengaku takut karena merasa tak bisa melindungi semua orang dan menanggung rasa sakit itu setiap saat.
Yata bersikeras bahwa kabur hanya akan menambah penyesalan; jika penyesalan tak terhindarkan, lebih baik berjuang sekuat tenaga.
Yata berkata: “Kau takkan tahu kalau tak mencoba. Gagal pun masih lebih baik ketimbang tidak mencoba sama sekali.”
Ia menyuruh sosok itu menjadikannya patokan—kalau lupa alasan bertarung, cukup melihat padanya.
Sosok tersebut akhirnya mengerti dan berkata akan “memimpin di depan”.
Perubahan pedang dan penekanan tema memori
Saat Yata lengah, pedang di tangannya “berubah” menjadi dua—seolah dari satu pecahan menjadi dua bilah.
Narasi menegaskan bahwa memori manusia tidak sepenuhnya dapat dipercaya; orang kerap mengacaukan urutan peristiwa, bahkan dalam halusinasi.
Yata “melihat” kebenaran di depan mata, tetapi memilih untuk melupakan bagian‑bagian tertentu darinya.
Motivasi Yata menjadi Construct
Di sebuah fasilitas medis, petugas medis menilai kondisi fisik Yata sangat baik dan layak untuk operasi menjadi Construct.
Petugas mempertanyakan alasan Yata ingin menjadi Construct dan menilai keinginannya kembali ke “ medan perang” sebagai reaksi PTSD.
Yata menegaskan ia tidak mau hidup hanya sebagai “penyintas”, dan ingin menebus rasa bersalah (survivor’s guilt) dengan menjadi kekuatan yang melawan Punishing.
Tragedi di Misono High dan Hydrangea Island
Dalam kilas balik, Yata bertarung dengan pedang legendaris “Rainbow Breaker”, namun pedang itu patah. Yata hampir tewas sebelum diselamatkan oleh Masao Osako.
Mereka berdua terkepung Corrupted dan robot. Masao memimpin mundur pasukan, lalu bersama Yata melarikan diri ke ruang penyimpanan.
Di sana, Yata baru menyadari Masao terluka parah di dada dan terus mengeluarkan darah. Meski Yata berusaha menolong, Masao tahu dirinya tidak bisa diselamatkan.
Dalam napas terakhirnya, Masao menyemangati Yata untuk melawan para robot dan menegaskan bahwa “kemanusiaan tidak akan kehilangan kemanusiaannya” sebelum meninggal.
Marah dan putus asa, Yata mengambil sisa “Rainbow Breaker” dan “Snow’s Grace”, lalu menerobos barisan Corrupted dengan kekerasan.
Evakuasi dan kehilangan beruntun
Yata berhasil mencapai aula olahraga, memimpin para murid yang bersembunyi menuju atap.
Pesawat transport tim penyelamat datang dan secara bertahap mengevakuasi para penyintas.
Yata langsung menanyakan nasib Yuka Saotome kepada seorang perwira militer.
Perwira menyatakan nama Yuka tidak ada dalam daftar penyintas dan bahwa semua orang dari sekolah sudah dievakuasi.
Lalu ia menerima telepon satelit: diinformasikan bahwa Yuka, yang sedang menjalani pemeriksaan rutin di rumah sakit, tewas ketika sekelompok robot mengamuk dan menyebabkan gedung runtuh.
Yata terpuruk dan menyalahkan dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, Yata juga mendapat kabar bahwa teman-teman sekelasnya yang latihan untuk upacara kelulusan tidak selamat.
Situasi di Hydrangea Island dan Misono High lepas kendali dan akhirnya jatuh ke tangan Corrupted.
Keputusan akhir Yata menjadi senjata
Kembali ke masa kini, petugas medis menyebut keinginan Yata kembali ke “ medan perang” sebagai efek trauma masa kecil.
Ia menegaskan bahwa kebencian dan menjadi Construct tidak akan mengembalikan apa yang sudah hilang, dan khawatir Yata akan menyesal.
Yata menjawab bahwa justru karena penyesalannya, ia memilih melawan Punishing, dan ia akan menyesal lebih jauh jika tidak menjadi lebih kuat.
Ketika kembali ditanya apakah mau menjadi bagian dari “senjata”, Yata dengan tegas menyatakan ia bersedia selama ia bisa terus bertarung, dan memohon untuk dijadikan Construct.
Kembali ke “medan perang” dan pesan Yuka
Setelah melalui perjalanan panjang dalam ilusi dan memori, Yata tersadar kembali di medan perang saat ini.
Ia mengingat seluruh masa lalunya yang kejam—yang sebelumnya sengaja ia lupakan—dan menyadari dirinya kini hanya berpindah dari satu ilusi ke “mimpi” lain.
Gangguan pada M.I.N.D.-nya melemah tapi belum hilang; ia menyadari dapat “melihat” melalui sudut pandang selain miliknya.
Yata mendengar suara Yuka yang berkata, “Temui aku di ruang kuliah, Yata.”
Meski merasakan sakit singkat di kesadarannya, Yata yakin itu suara Yuka dan menyatakan bahwa sudah waktunya mereka “bangun”.
Shiva, Valerlia, dan Serangan Reika
Shiva tersadar di reruntuhan dekat sekolah, masih kesulitan melihat dan merasakan sekeliling.
Valeria menolongnya menghindari tembakan, menunjukkan refleks dan kemampuan fisik luar biasa.
Reika Saotome muncul dari bayangan, memuji kemampuan Valeria dan menodongkan senjata padanya.
Reika, kini seorang Construct yang memodifikasi tubuhnya agar semirip mungkin manusia, menegaskan bahwa Valeria tidak dalam posisi mengancamnya, apalagi karena Shiva dan Discord sedang terganggu M.I.N.D.-nya oleh Yuka.
Penjelasan Reika tentang Yuka dan Red Tide
Reika menjelaskan bahwa operasi awal Yuka sebagai Construct gagal, membuat tubuh dan modulnya rapuh dan bergantung pada suplai daya eksternal.
Setelah wabah Punishing, asisten Reika memutus banyak konduktor daya Yuka, memaksanya dalam keadaan hibernasi berdaya rendah; kerusakan mencakup modul serta M.I.N.D.-nya.
Selama puluhan tahun Reika mencoba segala cara untuk membangunkan Yuka dan gagal, namun kini Yuka bangkit berkat kekuatan Punishing dan Red Tide.
Reika menyiratkan bahwa kebangkitan Yuka membawa harga yang sangat besar, lalu pergi dengan tujuan “melihat putrinya untuk terakhir kali”.
Valeria memilih tidak menembak Reika dan fokus menstabilkan M.I.N.D. Shiva dan Discord dengan membebani Mind Beacon-nya.
Diskusi Nikola dan Asimov tentang “consciousness projection”
Nikola memantau misi dan heran bagaimana “consciousness projection” bisa mengendalikan orang seperti boneka.
Asimov menjelaskan:
Koneksi kesadaran biasa: Mind Beacon komandan menghubungkan ke M.I.N.D. Construct untuk stabilisasi.
“Consciousness projection”: turunan teknologi yang memungkinkan banyak Mind Beacon terhubung sekaligus ke satu M.I.N.D., lalu individu itu menciptakan ilusi di dalam M.I.N.D.-nya sendiri untuk mensimulasikan kendali atas orang lain.
Beban ini sangat berbahaya: beberapa beacon sekaligus sudah berat, apalagi menyalurkan informasi dan menciptakan ilusi.
Teknik ini menyebabkan ketidakstabilan parah pada M.I.N.D. dan seharusnya “layak dilupakan”.
Namun di kasus Yuka, berkat pengaruh Red Tide, efeknya menjalar ke manusia, Construct, dan mechanoid.
Asimov menyimpulkan bahwa Yuka telah menjadi “penguat sinyal” (amplifier) bagi Red Tide, bukan sekadar penerima kekuatan.
Konfrontasi Yata dan Reika tentang Yuka
Yata menghadang Reika di gedung sekolah yang rusak dan mempertanyakan hak Reika untuk “melihat Yuka” setelah semua yang terjadi.
Reika menyebut dirinya “ibunya”, tetapi Yata marah dan menuduh Reika tak pernah memandang Yuka sebagai anak, hanya sebagai subjek eksperimen.
Dalam ledakan emosi, Yata menghantam dinding hingga berlubang, namun Reika tetap tenang dan bahkan mengakui secara dingin bahwa Yuka hanyalah “test subject”.
Perangkat pengacau (jamming device) dan sikap Reika
Yata diserang rasa sakit hebat di M.I.N.D.-nya akibat gangguan Yuka/Red Tide.
Reika memasangkan gelang logam hitam di pergelangan tangan Yata: perangkat pengacau yang dulunya dipakai dalam eksperimen, kini berfungsi mengurangi intensitas interferensi meski tak bisa memblokir sepenuhnya.
Yata mengkhawatirkan Reika yang tampak tanpa perangkat, tapi Reika mengatakan ia punya satu dan tak perlu memakainya lagi.
Yata menyatakan ia masih tak percaya pada Reika dan bahwa perangkat itu tak bisa menebus penderitaan Yuka. Reika menjawab bahwa ia memang tidak bermaksud “menebus” apa pun.
Kondisi psikologis dan nasib Yuka
Reika menjelaskan bahwa:
M.I.N.D. Yuka kini dibanjiri tak terhitung banyaknya memori orang lain hingga mengancam menghapus jati dirinya.
“Consciousness projection” pada dasarnya adalah orang lain yang “memproyeksikan” ke dalam diri si subjek, lalu memengaruhi M.I.N.D.-nya.
Yata menuduh Reika sudah tahu risiko ini sejak awal tapi tetap menjadikan Yuka subjek. Reika tidak menjawab langsung, namun tampak sejenak menunjukkan rasa sakit emosional.
Reika mengaku tak peduli hidup-matinya orang lain, dan bila Yuka bisa benar-benar “bahagia” dalam Red Tide, ia tidak akan menghalangi. Tapi, menurutnya hal itu mustahil.
Kenyataannya, Red Tide telah melarutkan banyak korban; memori mereka menumpuk di dalam Yuka dan menekan kesadarannya.
Red Tide dan tekanan memori pada akhirnya akan melenyapkan kesadaran Yuka.
Setiap kali memproyeksi, Yuka dipelintir oleh kehendak Red Tide dan menanggung rasa sakit besar.
Yata teringat interaksi mereka: Yuka yang rapuh, obsesif, gila, namun juga pernah menyelamatkannya; kini Yuka justru mencoba menyeretnya ke kematian—tanda kehendaknya telah dipelintir.
Permintaan Reika: “Bebaskan Yuka”
Yata bertanya mengapa Reika mengungkap semua ini; Reika menjawab: untuk membebaskan Yata dari keraguannya.
Reika meminta Yata menghentikan Yuka, “membebaskannya” dari penderitaan tanpa akhir.
Yata ragu: bila koneksi Yuka ke Red Tide diputus, apakah Yuka masih bisa hidup?
Reika berpendapat bahwa “hadiah hidup” dari Lady of the Red Tide bukan kebaikan tulus, melainkan pemanfaatan kemampuan proyeksi Yuka; Yuka hanya dipakai sebagai alat, amplifier tak berkehendak. Pada titik itu, ia sudah benar-benar “mati” sebagai pribadi.
Reika menyuruh Yata bergegas, karena mereka masih punya kesempatan untuk “melihat Yuka untuk terakhir kali”.
Keputusan Yata dan penutup
Setelah konflik batin singkat, Yata akhirnya setuju, memasang jamming device dan berlari menuju Yuka.
Setelah Yata pergi, Reika bersandar lelah ke dinding dan, untuk pertama kalinya, secara eksplisit mengakui bahwa mempertahankan hidup Yuka selama ini adalah bentuk keegoisannya sendiri.
Ia lalu menyusul ke arah yang sama.
Pertarungan berakhir dengan Yuka terlempar ke ruang kelas tua yang dulu jadi ruang belajar, kini sudah lama ditinggalkan. Ia kehabisan kekuatan Red Tide yang diberikan Cradle dan sekarat dalam genangan darah.
Yuka sadar penuh dan mengingat semua yang ia lakukan: penggunaan proyeksi kesadaran, mengajak orang ke Red Tide, serta penderitaan yang ditimbulkannya. Ia mengakui bahwa dulu ia ingin menciptakan “dunia mimpi” indah bagi para korban Punishing agar mereka bisa pergi tanpa rasa sakit, sesuai cita-cita Dr. Saotome tentang koneksi kesadaran yang membawa kebahagiaan.
Namun, Yuka mengakui bahwa proyeksi kesadaran lewat Red Tide hanya memperbesar obsesinya, menulari orang lain, dan pada dasarnya adalah pelampiasan keinginannya sendiri untuk tidak merasa kesepian setelah lama “terjebak” sendirian dalam kesadaran di tengah “salju” Hydrangea Island.
Yata berharap ada alasan eksternal (Red Tide menekan M.I.N.D., Cradle mengendalikan) agar Yuka tidak sepenuhnya bersalah, tetapi Yuka menegaskan bahwa menerima Red Tide dan menggunakan proyeksi kesadaran adalah pilihannya sendiri, meski Red Tide memang menekan M.I.N.D.
Yuka menyadari bahwa meski ia menghubungkan banyak pikiran, ia tetap merasa kesepian; ia menyimpulkan bahwa proyeksi kesadaran bukan cara sejati untuk “terhubung”. Justru ketika kekuatan Red Tide lenyap dan ia dapat benar‑benar berpisah darinya, barulah ia dan Yata bisa benar‑benar “bertemu”.
Yuka menerima bahwa hidupnya seharusnya sudah berakhir sejak lama dan yang ia jalani sekarang hanyalah “waktu pinjaman”. Ia berkata satu-satunya penyesalannya adalah mereka tak pernah sempat mengucapkan perpisahan yang layak. Ia juga menyinggung bahwa dalam mimpi-mimpi yang ia tenun untuk orang lain, banyak yang menginginkan masa depan, sedangkan impian Yata terjebak di masa lalu (tetap di SMA Misono). Menurut Yuka, mimpi terbaik seharusnya mengarah ke masa depan.
Yuka meminta Yata melangkah maju ke depan sementara ia “tinggal di sini”. Kondisi Yuka terus memburuk, ia merasa kedinginan dan akhirnya “melihat salju turun lagi” sebelum tubuhnya ambruk, menandakan kematian yang tak terelakkan.
Saat Yata hendak meraih Yuka, Reika Saotome sudah lebih dulu memapahnya. Valeria menghubungi Yata dan memerintahkan mundur karena Red Tide masih aktif meski Shiva dan Discord sudah normal. Reika menjelaskan bahwa “Lady of the Red Tide” belum menarik kembali kekuatan yang pernah diberikannya pada Yuka.
Reika mengakui ironi “Prometheus”: eksperimen proyeksi kesadaran untuk membagi kebahagiaan, namun penciptanya (dan Yuka sebagai pelaksana) justru tidak bisa berbahagia. Ia mengungkapkan bahwa ia mengubah dirinya menjadi Construct agar bisa terus melanjutkan eksperimen tersebut dan merasakan sendiri sebagian kecil penderitaan yang Yuka rasakan, meski tetap tidak sebanding.
Reika mengatakan Yuka menenun mimpi indah untuk orang lain, tetapi tak pernah punya mimpi untuk dirinya sendiri. Ia memutuskan melakukan “eksperimen terakhir”: proyeksi kesadaran satu-lawan-satu yang dipimpinnya sendiri untuk Yuka, berniat “menembak jatuh elang itu”.
Yata, setelah awalnya marah, mereda dan mempercayakan Yuka pada Reika. Ia mundur sesuai instruksi Valeria, menatap Yuka untuk terakhir kali. Di dalam M.I.N.D.-nya, ia mendengar Yuka mengucapkan “selamat tinggal”, dan Yata menjawab lirih “selamat tinggal, Yuka” sebelum berlari pergi tanpa menoleh kembali.
Penolakan awal dan solusi “wali murid”
Reika Saotome mengajukan diri ke proyek Pulau Hydrangea.
Petugas dokumentasi menilai riwayat penelitiannya bermasalah (penyalahgunaan obat, eksperimen ilegal, dll), yang bisa membuat Science Council menolak seluruh proyek bila namanya tercantum sebagai staf pengajar.
Mereka mengusulkan siasat: menyamarkan aktivitas riset sebagai sebuah sekolah menengah, dan membawa Reika ke pulau sebagai “wali” dari seorang siswa, namanya disembunyikan sebagai anggota keluarga murid.
Kunjungan ke panti asuhan dan pertemuan dengan Yuka
Reika dibawa ke sebuah fasilitas kesejahteraan/panti asuhan yang bekerja sama dengan korporasi. Anak-anak di sana sudah “dilatih” untuk menyambut calon pengadopsi dengan sopan dan berlebihan.
Reika menyadari senyum mereka palsu dan sinis terhadap dunia, sehingga ia merasa ada jarak dengan mereka.
Perhatiannya tertuju pada seorang gadis yang lebih tua, duduk sendirian di sudut dan membaca buku berjudul “The Flower’s Way of Acting”.
Direktur menjelaskan bahwa gadis itu bernama Yuka, memiliki penyakit jantung bawaan dan diperkirakan tidak akan hidup lama. Ia beberapa kali diadopsi namun selalu dikembalikan.
Reika mengecam perlakuan direktur yang memperlakukan anak-anak seperti komoditas, tapi tidak memperpanjang konfrontasi.
Ia berbicara langsung dengan Yuka. Yuka jujur, peka terhadap detail, dan menilai Reika sebagai orang baik serta “menarik”.
Spontan, Reika berlutut sejajar dengan Yuka dan memutuskan: ia akan mengadopsi Yuka. Ia mengingatkan bahwa menyandang nama keluarga Saotome bisa membawa kebencian, namun Yuka tetap setuju, bahkan mengatakan “silakan gunakan aku sekehendakmu”.
Adopsi yang cepat dan janji yang tertunda
Prosedur adopsi berjalan sangat cepat dan efisien.
Setelah keluar dari panti, Reika hendak menghadiri simposium saraf, dan menyuruh Yuka menunggunya; ia berjanji akan menjemput setelah acara selesai.
Yuka hanya mengucapkan “semoga perjalanannya lancar”, tapi Reika kemudian menyadari bahwa Yuka sebenarnya mengikuti mobilnya berjam‑jam hingga pingsan di salju, lalu dibawa ke rumah sakit.
Keputusan untuk meninggalkan simposium dan menjadikan Yuka subjek riset
Dalam kenangan (dipicu oleh suara ombak), Reika mengulang momen di mana ia kembali pada Yuka di depan mobil.
Sopir mengingatkan bahwa simposium segera dimulai, namun Reika memutuskan untuk tidak menghadiri simposium itu.
Di hadapan Yuka, ia berkata bahwa ia memerlukan bantuan Yuka untuk sebuah eksperimen.
Yuka langsung menyetujui tanpa bertanya detail.
Reika menjelaskan: untuk meneliti pola perkembangan kesadaran manusia, ia membutuhkan Yuka untuk menjadi seorang “gadis normal”. Satu‑satunya “eksperimen” adalah membiarkan Yuka tumbuh seperti anak biasa.
Hubungan “ibu‑anak” yang didefinisikan sebagai eksperimen
Yuka bertanya apakah itu berarti Reika adalah “ibu”nya.
Reika menolak istilah itu secara ilmiah: hubungan ibu‑anak terlalu sarat emosi dan bisa mengganggu objektivitas eksperimen. Ia minta Yuka memanggilnya “Dr. Saotome”.
Meski demikian, Reika merasakan jarak emosional di antara mereka. Tanpa sadar, ia melangkah maju dan menyelimuti Yuka dengan mantelnya, sebuah gestur keibuan yang bertentangan dengan penolakannya tadi.
Tindakan itu mengungkap tangan Yuka yang sejak tadi disembunyikan di belakang punggung: ia memegang bunga kertas putih berbentuk hydrangea yang dibuat khusus untuk Reika, tetapi belum diwarnai.
Reika memuji keterampilan Yuka dan mengusulkan mereka mewarnai bunga itu bersama di rumah. Yuka tersenyum tulus dan menerimanya.
Rencana hidup bersama di Pulau Hydrangea
Reika mengulangi penjelasan bahwa ini adalah satu‑satunya eksperimen yang melibatkan Yuka; tidak akan ada eksperimen lain.
Sebagai peneliti, ia akan mencatat perkembangan Yuka dari hari ke hari, hidup bersama dalam satu rumah seperti “ibu dan anak” di mata masyarakat, lalu menerbitkan laporan tahunan di jurnal ilmu saraf.
Yuka diminta hanya fokus pada pertumbuhannya sebagai “gadis normal”. Yuka menyetujuinya dengan penuh semangat.
Mereka berjalan bersama menembus salju, meninggalkan dua jejak langkah (besar dan kecil) sementara cuaca mulai cerah, melambangkan awal kehidupan baru mereka. Reika mengatakan ia menantikan waktu mereka bersama; Yuka menjawab bahwa ia akan melakukan yang terbaik.
Akhir tragis di tengah Red Tide
Cerita kembali ke masa kini: Reika membuka mata dan melihat Yuka berbaring tenang seolah tertidur, sementara Red Tide menerjang koridor.
Reika berlutut, memeluk Yuka erat‑erat dan melindunginya dengan tubuhnya sendiri.
Di tengah gemuruh Red Tide, Reika menutup mata untuk terakhir kalinya.
Setelah pulang dari Pulau Hydrangea, Yata resmi menjadi kapten baru unit Scarab, posisi yang sebenarnya “dipaksakan” oleh Valeria.
Ia mengeluh tentang banyaknya laporan misi yang harus ia tulis, termasuk detail soal Red Tide, proyeksi kesadaran, dan kondisi lingkungan di Pulau Hydrangea.
Yata berbicara dengan robot Medis yang dijuluki “Shorthalt”, yang dulunya sering dipeluk Shorthalt saat mabuk. Robot itu kini menjadi semacam “tempat curhat” dan orang-orang di Babylonia sering meninggalkan hadiah di atasnya.
Yata mengungkapkan ketakutannya sebagai kapten baru: ia merasa belum cukup mampu, takut menghadapi krisis mendadak, dan terutama takut kehilangan orang-orang yang dekat dengannya lagi. Ia “membayar” Shorthalt dengan permen mint berisi alkohol.
Seseorang yang misterius dari kejauhan merekam dan berhenti merekam momen itu, lalu mengirimkan videonya ke suatu port komunikasi sambil tersenyum tipis.
Valeria lalu memanggil Yata untuk misi baru: dekontaminasi dan rekonstruksi Pulau Hydrangea, yang dinilai figur komandan pulau hydrangea cukup layak dijadikan benteng darat jika berhasil dibersihkan.
Red Tide disebut hanya menenggelamkan gedung sekolah dan kemudian surut, namun masih ada Corrupted yang tersisa, sehingga pulau belum aman.
Misi ini hanya melibatkan Yata dan SKK; anggota Scarab lain masih berada dalam masa hukuman/“tahanan disipliner”.
Yata yang tampak agak gugup mendengar nama SKK meminta minuman elektrolit khusus hangover untuk construct, lalu menjelaskan bahwa ia dulu sering berkonsultasi taktik dengan “sang juara kelas/valedictorian” itu dan bahkan pernah mengajaknya berolahraga bersama, ingin menjelajahi tempat lain bareng.
Valeria mengingatkan Yata agar tidak menganggap ini liburan dan mewaspadai Corrupted. Yata menenggak minumannya sekaligus, menenangkan Valeria, lalu memanggul perlengkapan lengan bertenaganya dan meninggalkan ruang istirahat.