Watu Giok atau Watu Potang adalah salah satu warisan alam yang terletak di Kampung Sokrutung, Desa Pantar Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Batu ini tidak asing bagi masyarakat setempat dan sekitarnya karena jaraknya hanya 2 km dari Kampung Sokrutung, sehingga mudah dijangkau dengan jalan kaki.
Di samping itu, areal Watu Giok atau Watu Potang merupakan tempat yang biasa dilewati warga pada saat mereka pergi berkebun atau berburu. Bagi para pengunjung yang berangkat dari Labuan Bajo, mereka harus menempuh jarak kurang lebih 25 km dalam waktu kurang lebih satu jam dengan menelusuri jalan Trans Flores dan belok ke arah Selatan ketika tiba di Persimpangan Nggorang menuju Sokrutung. Kondisi jalan aspal yang tidak mulus sangat berpengaruh dengan waktu tempuh menuju Watu Giok atau Watu Potang, namun tidak mengurangi niat atau keinginanan para pengunjung untuk melihat secara dekat keberadaan Watu Giok atau Watu Potang.
Menurut masyarakat setempat Watu Giok atau Watu Potang memiliki arti tersendiri. Potang artinya sangkar.
Sangkar merupakan tempat ayam bertelur, menetas, dan menempatkan anak ayam bersama induk sehabis menetas. Jadi, Potang merupakan tempat berlindung bagi ayam.
Berburu dan bertani adalah dua kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan nenek moyang kita di waktu lampau. Rutinitas yang harus dijalankan oleh nenek moyang kita di zaman itu termasuk masyarakat yang mendiami kampung Sokrutung. Tanaman yang ditanam di areal perkebunan warga menjadi harga mati untuk dijaga dan dipelihara agar tidak dimakan atau dirusak oleh binatang buas, mengingat bertani merupakan mata pencaharian utama demi kelangsungan hidup pada waktu itu. Dan untuk meminimalisir hal tersebut, mereka harus memburu binatang binatang yang berada di sekitar areal perkebunan atau pertanian yang ingin makan atau merusak tanaman pertanian.
Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, bahwa Watu Giok dan Watu Potang memiliki kaitan erat dengan situasi yang terjadi di waktu lampau. Hutan belantara yang menjadi pemandangan utama menghiasi mata para penduduk yang hanya menempati tempat tempat tertentu dengan jumlah yang sangat terbatas. Binatang buas dan liar berada di mana mana, menggugah para petani untuk berburu demi kenyamanan tanaman pertanian sekaligus mengkonsumsi daging binatang binatang tersebut. Setiap pekerjaan atau kegiatan pasti mengandung resiko. Kegiatan berburu sangat beresiko karena binatang buruan bisa saja menyerang balik sang pemburu. Watu Giok atau watu Potang mereka jadikan sebagai tempat untuk menampung atau menghimpun orang-orang yang mencari perlindungan untuk menyelamatkan diri dari amukan binatang buas. Dan yang menjadi keunikannya, Watu Giok atau Watu Potang dapat menampung seberapapun banyaknya orang yang ingin mendapatkan perlindungan pada batu tersebut. Watu Giok atau Watu Potang memiliki daya magis yang kuat yang mana bisa menampung banyak orang yang ingin mendapatkan perlindungan walaupun batunya berskala kecil dan tidak masuk akal untuk menampung jumlah orang yang cukup banyak.