Watu Dangka adalah sebuah menhir yang ditemukan di Kampung Lenga, Desa Kolang, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat-Flores- NTT-Indonesia. Menhir ini usianya diperkirakan 2000-6000 sebelum Masehi. Struktur Watu Dangka mirip dengan struktur menhir portal dolmen Wales di Great Britain. Menhir digunakan untuk tujuan religius dan memiliki makna simbolis sebagai sarana penyembahan arwah nenek moyang. Menhir Watu Dangka adalah batu yang disembah pada zaman dahulu.
Watu Dangka adalah kata bahasa Manggarai. Watu artinya Batu dan Dangka artinya Cabang. Jadi, Watu Dangka artinya Batu bercabang yang mana kedua cabangnya hampir memiliki ukuran yang sama baik besar maupun tingginya yang kelihatannya seimbang dan simetris. Watu Dangka memiliki penopang yang lebih besar dari kedua cabangnya. Tingginya diperkirakan kurang lebih 50 cm dan berdiameter 40 cm. Lingkaran penopangnya diperkirakan 30 cm. Di seluruh sisinya nampak jelas bergaris garis seperti hasil cetakan, namun itu merupakan bentuk yang asli atau natural. Dalam perjalanan waktu, ruas ruas atau garis garis tersebut berpindah pindah pada bagian batu tersebut.
Pada kenyataannya dari waktu ke waktu, batu ini mengalami penyusutan walaupun dengan skala yang sangat kecil, hal ini disebabkan karena termakan usia, tidak terpelihara atau proses alam, demikian kisah yang disampaikan oleh tokoh adat setempat.
Batu ini diletakan di atas sebuah Mesabah (compang) kecil yang bersusun dua dengan ukuran dan bentuk batu yang bervariasi. Posisi ini tidak pernah dipindahkan oleh siapapun. Bentuk Lempeng dan bulat serta bentuk lainnya dengan ukuran yang berbeda beda memanjakan mata para pengunjung tempat yang unik dan bersejarah ini. Lempengan yang besar dan menarik menjadi tempat Watu Dangka diletakan yang dikelilingi dengan batu yang berukuran bulat dan kecil. Mesbah tempat di mana batu ini diletakan memiliki ukuran tinggi diperkirakan 30 cm dari permukaan tanah dan berdiameter 1,5 m.
Letaknya cukup strategis karena dapat ditempuh dari berbagai arah, baik itu lewat jalur Labuan Bajo-Ruteng-Golo Welu (Trans Flores), Labuan Bajo–Terang-Kuwus dan jalur tengah Lembor-Ndiuk. Jarak yang ditempuh untuk mencapai lokasi ini kurang lebih 3.5 sampai 4 jam dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.
SEJARAH KAMPUNG LENGA
Kampung Lenga salah satu kampung Desa Kolang, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat-Flores-NTT-Indonesia. Orang Minangkabau bernama Lenga, meninggalkan tanah kelahirannya menuju Goa (Sulawesi Selatan). Dari Goa ia berpindah ke Gorontalo (Sulawesi Utara). Dari Gorontalo ia berpindah ke Larantuka (Flotim-NTT). Di Larantuka opa Lenga bertahan hidup cukup lama dan mempunyai keturunan di sana. Entah apa alasannya opa Lenga berpindah dari Larantuka ke Manus (Manggarai Timur). Di Manus opa Lenga menjalani kehidupan rumah tangga dan di karuniai anak . Salah satu anaknya bernama Tere. Dalam keseharian hidupnya, Tere dipandang sebagai sebagai pemuda pemberani, susah diatur oleh siapapun. Karena kepribadiannya yang demikian, keluarga Lenga yang berada di Manus bersepakat untuk menjual Tere ke seberang lautan. Keluarga Lenga di Manus membujuk Tere agar bisa menumpang Perahu/Wangka yang mengantarnya ke seberang lautan. Di tengah laut, Tere menyadari bahwa ia akan berpisah dengan keluarga Lenga di Manus, sehingga ia berontak ingin kembali ke Manus. Pemilik perahu tidak sanggup untuk kembali ke Manus karena sikap pemilik perahu yang demikian, Tere bergelagat hendak menghancurkan perahu tersebut. Pemilik perahu tak tega perahunya hancur dan tenggelam bersama mereka. Lalu pemilik perahu membujuk Tere untuk membatalkan niat buruknya itu, dengan imbalan seorang gadis bernama Sitira (anak kandung pemilik perahu) menjadi isterinya, dan bujukan itu diterima baik oleh Tere. Tere dan Sitira diturunkan di Gorontalo oleh pemilik perahu. Tere dan Sitira merasa tak nyaman di Gorontalo, merekapun berpindah ke Warloka (manggarai Barat) . Di Warloka mereka tinggal cukup lama, dan dikaruniai 3 orang anak yaitu: anak pertama bernama Tata (laki-laki), kedua bernama Nencang (laki-laki) dan yang ketiga bernama Benge (perempuan). Setelah ketiga anaknya beranjak remaja, entah apa alasannya, Tere memutuskan untuk berpindah dari Warloka menuju ke sebuah tempat yang tidak disebutkan oleh Tere. Saat mereka hendak berangkat Tere memberikan beberapa isyarat dalam perjalanan yaitu: 1. Urutan keluar dari rumah : Tata-Nencang-Benge-Sitira-Tere 2. Saat kita keluar dari rumah jangan menoleh ke belakang, sebelum mendapat yang cocok untuk bermukim. Dalam perjalanan Opa Tere menyarankan untuk menuju tempat yang lebih tinggi agar bisa melihat tempat pemukiman yang nyaman bagi mereka. Tere memutuskan menuju sebuah bukit yang namanya Poco Dedeng.Setelah mereka tiba di bukit Poco Dedeng, oma Sitira terjatuh. Di saat Sitira terjatuh, ketiga anaknya yang berada di depan oma Sitira secara refleks menoleh ke belakang Tata. Nencang dan Benge melanggar isyarat perjalanan yang telah disampaikan. Karena mereka melanggar isyarat tersebut opa Tere dan oma Sitira menjadi kaku sekujur tubuh mereka. Tata, Nencang dan Benge menyesal dan menangis akan kejadian itu. Merekapun duduk bersimpuh di kaki kedua orang tua mereka. Tak lama kemudian tubuh opa Tere dan oma Sitira membatu di bukit Poco Dedeng. Dalam situasi yang terhimpit oleh kepanikan, Tata, Nencang dan Benge tetap melanjutkan perjalanan menuju tempat yang ditunjuk sang ayah yang sekarang dinamakan Siru. Dan ketiganya menetap di Sana. Keseharian hidup mereka hanya memelihara ternak; ternak andalannya adalah babi. Suatu ketika, induk babi yang lagi bunting menghilang dari lokasi ternak mereka. Setelah tiga hari menghilang, induk babi tersebut kembali ke lokasi ternak mereka. Nencang mengamati babi tersebut telah beranak, tetapi ia tidak tahu di mana anak babi itu berada. Tradisi peternak babi untuk mencari tempat anak babi berada, sangatlah mudah, dan Nencang pun melakukan tradisi tersebut. Pagi-pagi Nencang memberi pakan kepada induk babi kesanyangannya. Setelah pakannya habis, Nencang menaburkan abu dapur ke punggung babi tersebut. Karena terasa sudah kenyang, induk babi kembali ke tempat di mana anaknya berada. Nencang mengikutinya dari belakang. Dikala babi hilang dari pandangan Nencang, ia hanya memperhatikan abu dapur yang jatuh dari punggung babi. Abu dapurlah sebagai penunjuk jalan bagi Nencang untuk mencari anak babi tersebut. Perjalanan cukup jauh dan melelahkan, tetapi terbayar dengan ditemukan babi kesayangannya di sebuah tempat yang dihuni oleh orang “Kea”.(saat ini tempat itu dihuni oleh orang Kolang). Nencang pun menjaga babinya dan tinggal bersama orang “Kea” dalam kurun waktu yang cukup lama. Dari lereng Poco Dedeng, Tere menunjuk sebuah tempat yang bakal menjadi tempat tujuan mereka. Situasi yang demikian, menimbulkan kerinduan dari saudaranya Tata dan Benge. Lalu Tata dan Benge mencari informasi tempat Nencang berada. Setelah mereka mengetahui keberadaan Nencang, merekapun menuju tempat tersebut. Benge membawa tempat duduk (Tange Lonto) buat kakaknya Nencang. Tata membawa sedikit makanan bagi saudaranya. Impian merekapun terwujud saat bertemu dengan Nencang di “Kea” (nama orang dan tempat). Setelah melepaskan rasa rindu, Tata kembali ke Siru, sedangkan Benge tetap tinggal bersama Nencang di “Kea”. Suatu ketika Tata kedatangan tamu dari Bajo. Maksud kedatangan dari tamu tersebut yaitu ingin melamar Benge. Seminggu kemudian niat tamu Bajo (Reba Bajo) tersebut, Tata sampaikan pada saudarinya Benge, dan niat Reba Bajo itu diterimanya dan ingin kembali ke Siru bersama Nencang. Tetapi Nencang menolak permintaan tersebut, sehingga Benge tidak bisa pulang ke Siru. Reba Bajo selalu bertamu ke rumah Tata di Siru. Tata mencari cara terbaik memulangkan Benge ke Siru dengan Trik Magic (mbeko). Reba Bajo pun setuju cara tersebut “magic Gagak” (mbeko Ka) yang dipakai saat itu “Ka” (burung Gagak) diperintahkan secara magic untuk mencuri “kerawik” (perhiasan kuno) kesayangan Benge. Mulai saat itu di “Kea” selalu beterbangan seperti burung Gagak. Suatu ketika Benge mau mandi di Wae Poke, perhiasan kesayangan berupa “Kerawik” dilepaskan dari lehernya dan disimpan di atas batu. Disaat Benge lagi asyik mandi, burung Gagak (Kea) tersebut mengambil/mencuri perhiasan miliknya. Setelah burung tersebut berhasil mencuri perhiasan milik Benge, burung Gagak itu hinggap di ranting pohon yang sangat dekat dengan Benge sambil berbunyi kaa.......ka......Benge melihat kerawik tersebut dibawa oleh burung Gagak itu, dan Benge pun menangis karena Kerawiknya telah diambil oleh burung tersebut. Setelah mandi, Benge menginformasikan kejadian tersebut kepada saudaranya Nencang. Mendengar kejadian itu Nencang dan Benge menuju ke tempat dimana “ka” itu berada. Ketika mereka berada dekat burung itu, burung itu pun terbang ke tempat lain dengan tujuan agar Benge mengikuti burung itu menuju ke Siru tempat Tata tinggal. Perjuangan yang menyita waktu dan sungguh sangat melelahkan dan saat itupun Benge menangis. Tetapi burung Gagak itu mengabaikan kejadian itu dan terus terbang hingga sampai di sebuah pohon yang berada dekat rumah milik Tata di siru dan burung Gagak itupun terus berbunyi kaa.....kaaa.....kaaa...... Mendengar bunyi burung itu Tata yang sedang bercanda dengan Reba Bajo sontak keluar rumah dan langsung menuju ke tempat dimana burung Gagak berada. Perasaan gembira menyelimuti hati dan pikiran Tata dan juga Reba Bajo yang ingin melamarnya itu ketika melihat burung Gagak tersebut berhasil mencuri Kerawik milik Benge. Nencang dan Benge yang cukup jauh dari burung Gagak itu berada, masih sayup-sayup mendengar bunyi burung Gagak itu. Sakit hati bercampur marah, Benge dan Nencang tetap berjalan menuju ke arah sayup sayupan bunyi Gagak. Semakin jauh mereka berjalan, semakin jelas dan terasa dekat. Nencang dan Benge merasa bahwa burung Gagak itu sedang menunggu mereka. Dari kejauhan Tata mendengar lantunan permohonan Nencang dan Benge. Nencang dan Benge tidak berpikir ketempat mana kami berlari, yang ada dalam tindakan mereka berjalan dan berlari ke arah burung Gagak berbunyi, sambil bernanyi.....”kraeng-kraeng tana ho,o eme nganceng le ghemi emei krawik gaku, merem agu ghemi aku tai, a oo ka aa...”wale le ka “ Lau Bajo po ting kerawik gauuuuu... ka o o o ka...” Walaupun Benge dan Nencang sudah dekat dengan pohon tempat burung Gagak bertengger, burung Gagak itupun tidak mau berpindah, seolah-olah sedang menunggu mereka. Sesampainya di bawah pohon tempat burung Gagak itu berada, Nencang dan Benge merasa kaget kalau pohon itu tepat di samping rumahnya Tata. Tata yang di dampingi Reba Bajo keluar dari rumah lalu menghampiri Nencang dan Benge. Tata memeluk adiknya dan berkata: Kerawik yang dicuri oleh burung Gagak itu tetap menjadi milikmu Benge. Tanpa basa-basi mempersilahkan Reba Bajo menjalankan Trict Magig untuk mengembalikan Kerawik yang sedang digenggam oleh kaki burung Gagak yang sedang bertengger di ranting pohon di atas kepala mereka. Saat itupun mereka melakukan ritus adat (teing ghang ghelang). Dengan rasa bangga dan penuh percaya diri tanpa kompromi Reba Bajo menggenggam tangan kanan Benge lalu diangkat ke atas dan berkata: burung Gagak lepaskan “Kerawik” itu dari cengkramanmu. Tugasmu sudah selesai. Terimakasih. Burung Gagak membalas ungkapan Reba Bajo dengan lengkingan suara yang menggema ke seluruh kampung Siru seraya melepaskan Kerawik ke tangan Benge dan Reba Bajo lalu terbang dan meninggalkan mereka. Reba Bajo mengambil Kerawik itu dan dan dilingkarkannya ke leher Benge sambil berkata: “aku momang ite tedeng len “ Setelah kejadian itu Tata dan Nencang mengurus reba Bajo dan Benge sampai terbentuknya keluarga baru. Benge pun pergi bersama Reba bajo menuju ke Bajo dan Nencang kembali ke Kea untuk mengurus babi kesanyangannya, Sedangkan Tata menetap di Siru. Setibanya Nencang di Kea, tempat duduk (tange lonto) pemberian Benge, berubah menjadi batu (batu tersebut masih ada sampai sekarang di Natah Kolang). Nencang yang hidup tanpa saudaranya, meminang putri Kea sebagai isterinya. Kelurga Nencang dikaruniai 2 orang anak yakni: Mbeghang dan Pena. Induk babi kesayangan Nencang yang berasal dari Siru bertahan hidup sangat lama. Dalam keseharian hidupnya, bila ketiadaan lauk, Nencang mengiris sebagian paha babi untuk dimakan. Bekas irisan pada bagian tubuh babi yang diambil untuk lauk itu dalam beberapa hari kedepan akan hilang dengan sendirinya tanpa bekas dan menjadi utuh kembali. Perilaku Opa Nencang terhadap babinya itu tidak hanya sekali saja tetapi terus menerus ketika mereka ingin makan dagingnya, bahkan pada saat kedatangan tamu pun mereka mengirisnya untuk menjadikan lauk bagi tamu tersebut. Poro le gula, raput le loho, poro le loho raput le mane, poro le mane raput le wie, poro le wie raput le gula. Keadaan babi yang demikian unik, Nencang menamai babi kesayangannya itu “ela manik laing” Nencang bertahan hidup cukup lama di Kea (kampung Kolang), Walaupun orang Kea meninggalkan tempat itu entah kemana. Disaat yang tak terduga, “Pesau” (Nenek orang Kolang) datang dan hidup bersama dengan keluarga Nencang di Kea, sejak saat itu Kea berganti nama menjadi Kolang. Opa Nencang merasa, Kolang berada di tempat yang rendah, keluarga Nencang berpindah ke sebuah bukit dan tempat itu diberi nama ”Manus” (untuk mengingatkan anak dan keturunananya bahwa bapaknya yang bernama Tere dilahirkan di Manus Manggarai Timur). Keluarga Nencang sudah membangun tempat persembahan di Manus yang disebutnya Sompang Manus. Setelah mati karena termakan usia, rangka kepalanya berubah menjadi batu, rahang bawahya bercabang dua yang sekarang menjadi “SITUS WATU DANGKA” di Sompang Manus. Suatu ketika terjadi kebakaran di Manus, keluarga Nencang berpindah dari Manus (sekitar 200 meter jaraknya). Disitu Nencang mendirikan rumah dan tempat itu diberi nama Lenga (untuk mengabadikan nama nenek moyang mereka yang bersala dari Minangkabau). Riwayat perjalanan nenek moyang orang Lenga asal Minangkabau Goa (Sulawesi Selatan, Gorontalo (Sulawesi Utara, Larantuka (Flores Timur), Manus (Manggarai Timur), Gorontalo (Labuan Bajo), Warloka Poco Dedeng Siru Kea Manus (Lenga) dan Lenga. Silsilah keturunan Lenga, yaitu Lenga mempunyai satu orang anak, yaitu Tere. Tere mempunyai tiga orang anak, yaitu Tata, Benge, dan Nencang. Yang mempunyai keturuan adalah Nencang. Nencang mempunyai anak, yaitu Mbehgang dan Nukh. Selanjutnya, Pena mempunyai tiga orang anak, yaitu Berah, Jendang, Katut.