Lokasi objek wisata Gua Rangko terletak di Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat. Gua ini merupakan salah satu destinasi wisata prioritas Labuan Bajo.
Desa Tanjung Boleng ditetapkan sebagai desa wisata. Goa Rangko dapat diakses dari Labuan Bajo dengan waktu tempuh sekitar 1 jam perjalanan. Goa yang sering juga disebut Goa Buaya ini walaupun tidak ada buaya ditemukan di sekitarnya. Obyek ini bisa dijadikan salah satu alternatif kunjungan wisata setelah atau sebelum berkunjung ke Taman Nasional Komodo.
Goa Rangko ibarat sebuah kolam renang pribadi yang menawarkan keheningan bagi siapapun yang mampir untuk merasakan kesegaran air yang ada di dalamnya. Air yang terdapat di dalam goa merupakan air asin. Air tersebut bersumber dari air laut, hal ini disebabkan karna terdapat rongga-rongga atau celah yang menghubungkan kolam di dalam goa dengan laut lepas. Bagian atas Goa Rangko dipenuhi ornamen-ornamen stalaktit yang cantik dengan beragam bentuk tak beraturan. Bagusnya, tidak ditemui kelelawar seperti di goa-goa pada umumnya, sehingga suasana sunyi akan semakin dirasakan oleh para pengunjung yang datang ke goa ini. Jika ingin berkunjung ke Goa Rangko, ada baiknya untuk berangkat sepagi mungkin dari Labuan Bajo, karena waktu yang sangat pas untuk menikmati keindahan alam dari lokasi ini adalah pada pukul 12.00 hingga 14.00, di mana pada waktu tersebut sinar Matahari akan masuk ke lubang goa dan dapat membantu penerangan di dalam goa, sehingga birunya kolam pribadi Goa Rangko pun dapat dilihat.
Meskipun harus menempuh perjalanan selama 40 menit, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri pantai, seluruh usaha akan terbayar lunas dengan sajian panorama indah dalam gua. Saat tiba di lokasi, wisatawan akan disambut bibir gua yang kecil. Walau ukurannya tidak besar, tetapi pintu masuk ini menjadi gerbang melihat tempat pemandian para bidadari khayangan. Kolam yang airnya biru dan beningnya yang ada di dalam gua ini. Bukan air payau, tetapi kolam unik ini justru dipenuhi dengan air asin. Kolam yang unik yang dirancang arsitektur dari khayangan. Airnnya bersumber dari laut itu masuk ke dalam rongga atau celah yang menghubungkan kolam di gua dan laut lepas Jajaran stalaktit yang menghiasi bagian dalam gua menjadikan gua sangat eksotik. Suasana goa yang hening dan sunyi semakin membuat kolam tersebut layaknya kolam renang pribadi. Pada pukul 12.00 hingga 14.00 merupakan waktu terbaik untuk menjelajah gua. Ketika siang hari, sinar matahari akan membantu menyinari gua yang gelap. Pantulan sinar pada stalatik stalamik menghasilkan cahaya warna warni dalam gua bagai lampu hias. Memperhatikan lekak lekuk stalagtik dan stalagmik dengan seksama tergambar paras cantik para bidadari khayangan yang seolah mengajak para pengunjung untuk mandi bersama.
Menurut Daali yang merupakan salah satu tokoh pemuda di Desa Rangko. Goa Rangko pertama kali ditemukan oleh Burahima (lebih dikenal dengan nama "Mbo Rangko") atau Kakek Rangko. Burahima adalah orang pertama yang tinggal di loh Gadoh (teluk gadoh) di mana teluk ini jaraknya hanya kurang lebih 500 m dari letak Goa.
Selain bertani Burahima juga adalah seorang pemburu. Burahima biasa berburu di daeeah sekitar tempat tinggalnya dengan ditemani oleh seekor anjing piaraan. Asal mula penemuan Goa Rangko menurut Daali adalah pada saat Burahima sedang mengejar buruannya, konon sang buruan masuk kedalam Goa yang diikuti oleh anjing piaraan sang Kakek. Mbo Rangko memilih untuk menunggu di luar lubang, karena ukuran lubang yang memang kecil dan tidak bisa dimasuki oleh manusia. Setelah cukup lama menunggu baik hewan buruan maupun anjing piaraan sang Kakek tak kunjung keluar. Karena lelah dan merasa tempat tersebut tidak aman, Mbo Rangko memutuskan untuk meninggalkan lubang yang kini lebih dikenal dengan nama Goa Rangko. Keberadaan lubang tersebut akhirnya diceritakan Mbo Rangko ke salah satu anaknya yang bernama Janguri (Mbo Angu) Janguri menceritakan tentang lubang tersebut secara turun temurun, tanpa pernah sekalipun mereka mencoba untuk mencari kebenaran lubang yang dimaksud. Hingga kira-kira pada tahun 2012, sekelompok pemuda yang berasal dari kampung Rangko secara tidak sengaja pada saat mereka sedang mencari kayu mereka menemukan sebuah lubang (goa) Mereka memberanikan diri untuk masuk ke dalam Goa, dan ternyata mereka menemukan kolam yang begitu indah dengan air yang begitu bening. Mereka akhirnya mandi dan merasa sangat senang. Setibanya di kampung, mereka menceritakan penemuan Goa tersebut ke orang-oarng, dan akhirnya cerita tersebut dengan sangat cepat tersebar di kalangan orang-orang di kampung dan mereka akhirnya menghubungkan keberadaan goa tersebut dengan lubang yang dulu ditemukan oleh Mbo Rangko. Sejak saat itu setiap harinya penduduk pergi untuk menikmati keindahan alam serta mandi di Goa tersebut, menurut penduduk proses alamlah yang akhirnya merubah lubang yang dulunya kecil kini menjadi sebuah goa alam yang bgtu indah dan banyak dikunjungi oleh para wisatawan.