Lokasi Situs Lebah Pusaka di Desa Nanga Kantor Kecamatan Pacar. Lebah Pusaka merupakan sebuah tempat bersarangnya lebah. Lebah pusaka bersarang di sebuah gua batu. Lebah tersebut tinggal beratusan tahun sampai dengan saat ini. Lebah atau tawon pusaka ini kami orang paro menyebutnya Kuang Koe. Apa bila kita ingin melihatnya cukup menempuh jarak kurang lebih 2 KM sebelah selatan kampung Paro. Lebah pusaka hanya bisa dikunjungi pada saat bulan purnama (wulang gerak) dan akhir bulan, di luar waktu yang ditentukan di atas, maka kita tidak dapat melihatnya karena dia juga selalu bersembunyi di lubang gua batu tersebut.
Sejarah singkat:
Bermula dari seorang tokoh perempuan yang bernama Saimai yang punya hubungan khusus dengan alam gaib/makhluk halus (Darat) yang sifatnya terkadang hilang dan terkadang mucul di rumah atau di kampung. Pada fase ke 3, Saimai menghilang. Selanjutnya, Pada fase ke 4, Jelhala muncul kembali. Muncul pertama di Hanggo yang tinggalnya di Waho dan mengakui diri sebagai saudari dari Hanggo, tapi Hanggo tidak mengakui dia sebagai saudarinya. Karena Hanggo tidak mengakui, maka Saimai selanjutnya pergi menemui Henggo. Saimai pun mengatakan hal yang sama, yaitu sebagai saudari dari Henggo, dan Henggo menerima dan mengakuinya dengan senang hati sebagai saudarinya. Saimai merasa tidak senang dengan Hanggo yang menolak dirinya sebagai saudari sehingga dia memprovokasi (ba mbuar) supaya kedua kakak beradik itu bermusuhan dan selanjutnya Hanggo minggat/pindah dari wilayah Bengkong. Dia memprovokasi saudara-saudaranya dengan cara mengunjungi mereka secara berkala atau bergantian dengan menceritakan hal-hal yang membuat saudaranya saling membenci, seperti kepada Hanggo dia menceritakan bahwa di rumah Henggo ada sembeli kerbau milik kamu yang ada di Padang (Oka) Mburak. Selanjutnya, kembali ke Henggo dia menceritakan sebaliknya bahwa di rumah Hanggo ada sembeli kerbau milik kamu yang ada di padang (Oka) Langsang. Cerita ini dia bolak-balik sehingga timbulah kemarahan antara Henggo dan Hanggo, bagi Saimai kemarahan dari kedua saudaranya merupakan keberhasilan baginya untuk mereka saling bermusuhan yang pada ahirnya pasti ada pertikaian (Rampah) atau perang saudara. Saimai dalam melakukan aksi provokasi juga sadar bahwa Hanggo Waho mempunyai masa yang cukup besar dukungan anak rona Cibal dan hubungan kemasyarakatan yang baik dan luas, sementara Henggo yang anak rona dari Wangkung mempunyai masa kecil karena bermodalkan kawin dalam satu keturunan (Tungku). Dengan rasa sombongnya, Hanggo memaksa kakaknya agar membuat kelas seking (kenduri) bersama untuk semua sanak saudara yang sudah meninggal dengan acara selama 8 (delapan hari). Karena itu harus siap 8 ekor babi tiap keluarga. Hanggo tahu kalau Henggo tidak bisa mempersiapkan semua bahan-bahan acara sebesar yang telah ditetapkan ,sehingga pada ahirnya ketika dia tidak mampu berarti dia harus diusir karena kewajiban untuk mengurus arwah leluhur yang meninggalkan warisan tanah dan kerbau tidak ada.
Henggo tahu diri sehingga dia menangis terus tetapi saudarinya Saimai selalu menguatkanya agar jangan takut karena dia tahu kalau semuanya Saimai yang atur semuanya karena dia dibantu oleh makhluk halus (darat). Adapun hal-hal yang dikeluhkan oleh Henggo kepada saudarinya Saimai adalah sebagai berikut:
Henggo : Weta saya tidak bisa siap babi 8 ekor.
Saimai : Gampang nara saya yang siap babinya.
Henggo : Weta, bo ela (babi) ada, bagaimana dengan Kambingnya?
Saimai : Gampang nara saya yang siapkan rusanya.
Henggo : Weta bo hitu ga manga (kalau rusa sudah ada) dan bagaimana berasnya?
Saimai : Gampang nara (dia siapkan bunga Gelagah)/wela wakah.
Henggo : Weta kalau semua yang di rumah kau bisa siapkan, lalu bagaimana dengan kemahnya? (Ndi took)
Saimai : Gampang nara tapi kerejanya malam hari lengkap dengan tikar dari pandan hutan yang sekarang disebut Wako Radak yang ada di Romang.
Henggo : Weta kalau itu kau bisa siapkan semuanya, bagaimana dengan masak dan pelayan waktu acara?
Saimai : Gampang nara saya bisa siapkan semuanya.
Tiga hari sebelum pelaksanaan, persiapan dari Henggo Bengkong sudah beres sehingga timbul rasa benci dan rasa takut dari Hanggo, karena dalam hitungannya bahwa pihak yang tidak mampu mempersiapkan segala perlengkapan acara akan diusir dari Bengkong. Dalam perhitungan Hanggo bahwa pada hari pelaksanaan pasti Henggo tidak beres dalam menerima tamu (Woe) karena tidak ada anggota mulai dari memasak hingga pada pelayanan makanan untuk tamu. Ternyata Saimai sudah mempersiapkan semuanya. Tungku api dia siap dengan keanehanya di mana hanya dengan menggunakan empat (4) buah batu untuk masak nasi dan sayur atau daging. Empat buah batu tungku itu bisa berubah sendiri untuk mencocokan ukuran besar kecilnya periuk dan kuali. Keanehan itu bisa dilihat saat memasak dengan mengunakan periuk dan kuali besar, maka tungkunya ikut membesar begitupun sebaliknya apa bila memasak menggunakan periuk atau kuali kecil maka tungkunya pun ikut mengecil. Tungku api ini masi ada sampai sekarang dan di jadikan tempat keramat oleh orang Paro dan letaknya di sebelah barat kampung Paro dan tungku ini disebut likang Paro. Pada saat pelaksanaan acara, yang sudah matang persiapannya adalah Henggo sehingga disanjung-sanjung oleh para tamu (Woe) dan (anak rona) serta keluarganya (ase ka’e). Sementara, Hanggo semuanya berantakan dan di ceritakan kejelekannya, sehingga terjadi pertengkaran sangat hebat dan saling mengusir sesuai dengan perjanjian siapa yang tidak beres dalam persiapan, maka dia akan diusir.
Karena masing-masing mempertahankan keinginanya, di mana Hanggo merasa bahwa dia mempunyai masa yang cukup besar melawan Henggo walaupun dia tahu kalau dia tidak beres dalam acara kelah seeking. Karena itu dibuat perjanjian rampah/perang pada hari kedelapan yang tempatnya di kampung Paro sekarang. Setelah kesepakatan itu, Henggo kembali memangil Tiuk sebagai omnya (anak rona) dan Reket Menda dari Ende. Henggo menyadari dia tidak ada pendukung untuk hadapi Rampa/perang tetapi dia selalu sadar bahwa yang benar dilindungi oleh Morin gu Ngaran (Allah yang Maha Kuasa). Untuk memperkuat keyakinanya dia melaksanakan acara adat untuk memanggil leluhur di Rumah Gendang sekaligus rumah tempat tinggal saat itu. Pada saat ritual, keluarlah tawon/lebah dari dalam Gendang dan memenuhi permukaan gendang, dan sarangnya dalam gendang berbentuk cincin. dan cincin itu selanjutnya diganti dengan 1 buah kemiri mono/tunggal (Welu lesa). Petunjuk penggunaanya disampaikan oleh Saimai yang selalu kerejasama dengan alam gaib/roh halus (darat).Tawon/Lebah pusaka inilah yang kemudian dijadikan oleh Henggo sebagai senjata untuk melawan musuh-musuhnya. Dalam menggunakan Lebah/Tawon pusaka ini tidak serta merta dilakukan harus didahului dengan ritual sesaji sebagai berikut:
v Kerbau Mera (Kaba Rae)
v Kambing Belang (mbe kondo)
v Babi Merah (mbe rae)
v Ayam Jantan Merah (lalong ssepang)
Setelah itu disiapkan Arbila (robo kaba) tempat untuk menyimpan garam untuk kerbau yang berada di padang (Oka). Setelah buat sesaji ambil arbila/robo kaba dekatkan dengan gendang tempat lebah/tawon tinggal. Setelah tawon/ lebah berpindah ke arbila, di dalam Gendang tersisa cincin dan cincin ini berfungsi untuk dijadikan siluman di mana musu tidak dapat melihat kita dalam medan perang. Dengan demikian, kita dapat membunuh lawan dengan leluasa. Selanjutnya, tawon yang sudah berada dalam arbila digantung pada perbatasan atau di batu yang sekarang disebut Watu Kurit lalu dibuat garis batas perjanjian apabila musuh melewati garis batas akan digigit oleh lebah/tawon di matanya sehingga Henggo dan teman-temanya bisa membunuh mereka secara selektif.
Karena Hanggo yang angkuh dan serakah sehingga mereka melewati medan yang sudah ditetapkan di Golo Paro masuk sampai Pengket Bengkong dan di sana tempat gantungnya arbila yang sudah ada tawon/lebah di dalamnya. Ketika pasukan Hanggo yang melewati garis batas ( Watu Kurit) semua tawon keluar dan menggigit pasukan Hanggo pada mata, lalu Henggo tinggal membunuh pasukan Hanggo secara selektif dan darah mereka mengalir sampai ke tempat yang sekarang disebut Wae Tera.
Karena Hanggo kalah mereka di usir ke cibal ke Kampung anak Rona, yaitu Bengkong Cibal. Setelah Rampah/Perang Henggo Bengkong Vs Hanggo Waho berakhir, maka Tawon/lebah pusak tinggal di gua yang letaknya di hutan Bengkog sampai sekarang dan tidak berpindah tempat. Sedangkan Saimai menghilang dan menjadi istrinya Empo Mehe yang sekarang disebut Insari.