Mitos
Konon diceritakan bahwa pada suatu hari, dua orang laki-laki dari Kampung Pacar datang ke Lengkong Mbipi wilayah hutan milik Kampung Tureng. Mereka datang mencari kayu untuk bahan bangunan rumah adat di Kampung Pacar. Setibanya di Lengkong Mbipi, mereka menemukan banyak kayu yang sesuai dengan keinginannya. Meraka potong dan tara kayu tersebut untuk dibuatkan balok. atau dalam bahasa setempat coco haju pande balok. Pada hari yang bersamaan, empat orang Jin atau dalam bahasa setempat menyebutnya empo beang tana sedang berburu Rusa (Ndaot) di lokasi yang sama. Sementara 2 orang laki-laki dari Pacar serius iris kayu (coco haju), tiba-tiba muncul satu ekor binatang yang mirip sekali dengan tikus (Manggarai: Munggis) kemudian muncul binatang yang miring dengan Jenkrik (Manggarai: acu nggowe). Kemudian Munggis tersebut lari dan lalu bersembunyi di bawah serpihan kayu (cawak haju) yang sedang diiris oleh orang Pacar. Melihat Munggis tersebut orang Pacar membunuh atau memotongnya dengan parang hingga akhirnya mati. Serentak asu Nggowe terdiam dan terus memelototi ke arah Munggis yang sudah mati. Tidak lama kemudian, datanglah empat (4) orang yang berburu (beang tana) dari kampung Compang Tureng.
Mereka mencari dan menelusuri binatang buru (munggis) dan anjingnya (asu nggowe). Lalu mereka bertemu dengan orang pacar yang sedang iris kayu balok rumah. Empo beang menyapa orang Pacar: “oeng.....tabeo....ite. Apa pande ra ite”. Orang Pacar pun menyahut: “coco haju te pande hekang e kraeng”. Lalu salah seorang empo beang kembali bertanya kepada orang Pacar: “apakah tuan melihat anjing kami yang lewat di sini tadi dan sedang mengejar seekor rusa? (munggis). Lalu empo pacar menyahut: Tidak tuan. Karena ditanya berulang-ulang maka orang Pacar mengatakan bahwa yang tuan cari sungguh kami tidak lihat tetapi kami tadi hanya melihat seekor munggis dan 3 ekor asu nggowe, itu’s pe (sambil menunjuk ke arah binatang tersebut berada).
Asu nggowe adalah anjing berburunya empo beang sementara munggis adalah ndaot rangga alo (rusa) yang merupakan binatang yang diburu oleh empo beang.
Melihat anjing dan hasil buruan (ndaot) yang sudah di bunuh maka gembiralah mereka. Lalu keempat empo beang tersebut memotong kayu untuk menggotong ndaot atau rusa. Namun sayangnya mereka tidak mampu menggotongnya karena terlalu besar dan berat. Melihat kesulitan yang dihadapi oleh empo beang tersebut lalu orang Pacar menawarkan diri untuk membantu mereka membawa/mengantar rusa tersebut menuju perkampungan tempat kediaman dari empo beang yakni Compang Tureng. Terhadap tawaran tersebut maka keempat empo beang menyetujui/menerima dengan senang hati. Lalu orang Pacar mengatakan tuan-tuan silahkan berjalan di depan dan kami di belakang. Oleh orang Pacar, Rusa tersebut diambil dan diangkat dengan dua jari tangan lalu dimasukkan ke dalam saku baju.
Ketika tiba di kampung (Compang Tureng) kedua orang Pacar tersebut disambut dengan penuh gembira, sukacita, dan disanjung-sanjung oleh seluruh warga kampung Compag Tureng, mulai dari anak-anak, kaum muda dan ibu-ibu hingga tu’a beo yang berjanggut panjang serata dada. Mereka sanjung-sanjung, dipeluk (nggape) dan belai-belai pipi dan dagu (cako sangkem) karena berhasil menangkap rusa (Munggis). Setelah itu rusa tersebut dipotong (Manggarai: ceang), lalu dibagi-bagikan ke setiap warga kampung (1 cako neteng kepala keluarga). Kemudian daging rusa tersebut oleh warga kampung dimasak, dipelmara, dibakar dan di sayur (sop/kuah).
Pemuda dari Pacar pun turut mendapat bagian yakni 1 cako (1 renteng ikat). Satu cako (1 renteng ikat) bagi penglihatan empo beang sangat banyak tetapi dalam penglihatan manusia sangat sedikit, hanya secuil (sekuku hitan saja banyaknya). Dalam hatinya kesa dari Pacar ini merasa kagum atas pembagian yang sangat adil terhadap semua lapisan warga kampung dan dirinya. Namun disisi lain dalam hatinya juga merasa lucu dengan pembagian yang sangat sedikit. Karena itu kesa dari Pacar ini menerima pemberian itu lalu diberikan kepada empo tertua (yang berjenggot panjang). Dengan mengatakan bahwa: “terimakasih atas pemberian serta penghargaan yang kami dapatkan namun dari hati yang tulus dan iklas, daging ini kami berikan untuk bapa tu’a kampung (baca: Ame) sambil menyerahkan daging tersebut. Lalu tu’a kampung menerima daging pemberian tersebut lalu mengangkat (diperlihatkan kepada seluruh warga kampung) sambil berkata: “dengar semua (senget taung hitu laun, wan koen-etan tu’an-semua mata memandang) dan lihatlah anak saya ini memberikan daging ini untuk saya, jadi secara peribadi saya dan kita semua sangat berterimakasih atas kebaikannya ini. Lalu seluruh warga pun bersorak memuji pemberian itu karena merasa tu’a kampung mereka dihargai dan dihormati oleh tamunya.
Setelah itu, tu’a kampung bertanya kepada lelaki dari Pacar tersebut: “Anakku, apa kesusahanmu yang perlu saya bantu?”. Pemuda dari Pacar menjawab: “Io..., susa gaku mendi anak’m mori, elong haju lemai lengkong Mbipi nggereta Pacar, ai hami te pade hekang eta Pacar” (kesulitan saya saat ini tuan ialah mengangkut kayu balok dari lengkong Mbipi ke Pacar untuk membangun rumah). Mendengar kesulitan tersebut, tu’a kampung mengangguk-angguk sambil berkata: “baiklah, mengenai kesulitanmu itu, kami akan musyawarahkan bersama ipar-iparmu (Manggarai: ise kesat’m). Lalu tu’a kampung memukul gentong mengundang semua lelaki dewasa sekampung untuk mengadakan musyawarah membahas kesulitan yang dihadapi oleh kesa dari Pacar sebagai balas jasa.
Dalam musyawarah tersebut warga kampung bersepakat untuk bersedia membantu kesa dari Pacar iris kayu balok dan membawanya ke Pacar. Setelah musyawarah singkat tersebut, tu’a kampung bertanya lagi kepada anak dari Pacar: “bagaimana model rumah yang hendak kamu bangun?”. Anak dari Pacar ini menjawab: “kami mau bangun rumah panggung tuan”. Lalu tu’a kampung mengatakan: “supaya rumahmu lebih bagus alangkah baiknya disekililingnya dibuat seperti Compang” (susun watu like). Masukan itu diterima oleh anak dari Pacar. lalu tu’a kampung mengatakan bahwa: “kami akan membantu iris kayu dan membawanya ke Pacar sekaligus membangun rumah tersebut, silahkan kamu pulang duluan. Kami akan bekerja besok malam pada malam hari. Saya mohon supaya ketika bekerja mohon semua anjing harus diikat, jangan ada orang yang keluar pada malam hari dan jangan intip serta menghitung jumlah kami pada saat kerja. Kami akan bekerja setiap malam selama tujuh (7) malam berturut-turut. Permintaan tersebut disanggupi oleh kedua anak muda dari Pacar Lalang itu, lalu mereka pamit dan pulang ke Pacar.
Ketika tiba waktu yang telah disepakati sekelompok empo beang ini mulai bekerja. Mereka memotong kayu besar, kayu tersebut diiris (coco) berbentuk balok segi 5, panjangnya 3-7 meter dengan diameter 30-40 cm. Setelah diiris kayu tersebut diangkut ke Pacar dengan rute perjalanan: Compang Tureng, Lengkong Mbipi, Wae Kapet Polok (sebelah utara kampung lesem, Keling, Wangkung Pacar dan Pacar Lalang. Kayu balok tersebut dibawa dalam keadaan panjang. Perjalanan dari Tureng ke Pacar Lalang, oleh empo beang tersebut hanya menempuh waktu 5 menit (manusia tempuh 10-12 jam) kayu yang sangat berat mereka pikul enteng-enteng saja (oleh manusia biar 10 orang tidak bisa).
Setibanya empo beang di Pacar, kayu tersebut dipotong (Manggarai: lesep) sehingga bentuknya elips (sekarang dikenal dengan sebutan: watu like) lalu kayu tersebut di susun secara rapi untuk pembuatan compang di sekeliling rumah. Ada empat (4) orang empo beang yang bekerja menyusun candi (Manggarai: compang) sementara rombongan lainnya mengangkut kayu. Saat mereka bekerja, di kampung Pacar Lalang ada seorang ibu yang baru saja melahirkan anak. Pada malam pertama saat empo beang bekerja, ibu yang baru melahirkan itu mendengar ada suara bunyi-bunyian seperti bunyi jatuhan batu di luar rumah (Manggarai: runi nggernggetuk-nggernggetuk) lalu ibu tersebut memberitahu kepada warga lain dalam rumahnya khususnya para lelaki. Karena sebagian besar warga sudah mengetahui hal tersebut apa lagi para lelaki pemberitahuan dari ibu tersebut mereka kurang terlalu meresponnya, hanya menjawab yah pasti suara angin. Keempat Empo beang yang bertugas untuk menyusun compang tersebut mendengar percakapan manusia dalam rumah, tapi terus saja bekerja. Begitu terus kejadiannya pada malam kedua dan ketiga. Pada malam yang keempat mereka (empo beang tana) bekerja, ibu yang baru saja melahirkan anak tersebut terus terusik dengan bunyi-bunyian yang semakin ramai dan keras. Dia merasa takut dan berkeringat. Dengan penuh marah terhadap laki-laki yang bersikap masa bodoh, lalu dia memberitahu para lelaki dengan kata-kata yang keras: “hai kamu para lelaki, percuma jadi laki-laki, apakah kamu tidak mendengar bunyi-bunyian di luar, coba pergi keluar dan lihat ada apa sebenarnya yang terjadi di luar, sudah setiap malam terjadi begini terus, saya dan bayi ini tidak aman”. Namun laki-laki dalam rumah tersebut terus saja bersikap apatis, tidak menghiraukan keluhan perempuan tersebut. Tidak lama setelah wanita tersebut mengomel, ia kencing. Sementara rumah mereka adalah rumah panggung. Pada zaman dahulu tidak ada wc. Kalau hendak wc kecil (kencing) maka kencing saja melalui lubang/celah papan rumah panggung. Sementara di bawah kolong rumah tepat lurus dengan posisi duduk ibu yang bersalin ada simpan daun kayu Lale sesuai tradisi Manggarai jika ada ibu yang melahirkan anak. Pada saat ibu tersebut kencing, jatuhnya tepat pada daun kayu Lale tersebut dan menghasilkan bunyi. Bunyi jatuhan titik air kencing tersebut ialah pot...pot....pot......pot, karena jatuhnya pelan dari yang tercecer di papan turunya agak lambat.
Bunyi tersebut terdengar oleh telinga empo beang yang sedang bekerja adalah: “pot...pat, pot....pat, ala ata pat. Dari bunyi kencing yang demikian, keempat Empo beang tersebut mendengar secara teliti dan saksama. Sebanyak 3 kali mereka mendengar bunyi tersebut, bunyinya sama yakni pot...pat, ala ata pat. Lalu mereka saling beradu pandang, berbisik dan berdiskusi. Mereka berkesimpulan bahwa bunyi pot pat ala ata pat adalah suara manusia yang sedang menghitung jumlah mereka yang menyusun compang untuk dibunuh. Karena takut dibunuh mereka lari lalu memberitahu ketua komando kerja akan apa yang mereka dengar. Ketua komando kerja pun langsung menginstruksikan para pekerja lain untuk berhenti bekerja, langsung lari dan pulang ke Compang Tureng.
Pada saat mereka lari dan pulang ke Tureng (kampung asal mereka), cerek tempat air minum yang terbuat dari tanah (Manggarai: Sempe) lupa dibawa pulang. Hal ini dapat kita lihat sekarang, ada air pancuran di Pacar yang seolah keluar dari dalam cerek (sempe). Dalam pelarian tersebut mereka bertemu dengan teman (pekerja lainnya) di dekat kampung Wangkung, tepatnya di Wae Wangkung (wilayah Pacar) sedang berjalan menuju Pacar dan memikul kayu yang telah diiris. Lalu mereka berhenti sejenak dan memberitahu kejadian yang mereka alami tadi. Mendengar cerita itu, mereka langsung meletakkan kayu tersebut dan menyusunnya secara rapi (Manggarai: kota watu) lalu ikut lari dan pulang ke Tureng. Sekarang batu tersebut masih ada dan tersusun rapi di Wae Wangkung.
Setibanya mereka di Kampung Tureng, mereka menemukan teman yang lainnya sedang mengiris kayu (Manggarai: coco haju) dalam bentuk yang panjang. Konsepnya agar mudah dibawa maka ketika sampai di Pacar baru dipotong (Manggarai: lesep). Lalu kejadian yang mereka alami di Pacar tadi pun diceritakan kepada mereka yang sedang mengiris kayu. Semua rencana dan pekerjaanpun dihentikan. Kayu balok yang telah diiris yang hendak dibawa ke Pacar disusun secara rapi dalam beberapa onggokan (tumpukan) yang tidak berjauhan dalam satu lokasi di Tureng. Kayu-kayu itu sekarang sudah menjadi batu yang teronggok/tersusun/tertumpuk rapi di Tureng, Desa Mbuit Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat. Selain itu kita temukan juga 1 buah balok batu di Lengkong Mbipi (arah selatan kampung Tureng) dan di Wae Kapet, dekat bangka Polok (sebelah utara kampung Lesem) ditemukan 2 buah batu balok yang panjangnya 6 meter, bentuk dan modelnya sama dengan jenis batu yang ada di Tureng. Keberadaan batu-batu tersebut masih ada, termasuk wae cerek dan watu like di Pacar.