Watu Leka merupakan salah satu fosil kayu (petrified wood) yang ditemukan di kampung Terlaing dan kampung Tebedo Desa Pota Wangka, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat.
Frase Watu Leka terdiri atas dua kata, yaitu watu dan Leka. Watu artinya Batu dan Leka artinya nama dari salah satu jenis pohon. Watu Leka memiliki aneka bentuk dan ukuran. Bentuknya besar, kecil, dan permukaan bulat dan rata, batangan sangat keras seperti besi baja. Berwarna kecoklatan. Ukurannya bervariasi.
Ada yang berukuran 1 m, 2 m, 3 m, 4 m, dan 5 m. Ada yang melintang di atas tanah dan ada yang tegak. Sebarannya di beberapa tempat di sekitar perkampungan tersebut. Ada yang terdapat di dalam rumah warga, di pekarangan rumah, dan ada juga di kebun warga.
Watu Leka adalah suatu fosil kayu yang terbentuk melalui suatu proses petrifikasi yang minimal usianya 11.000-an tahun. Petrifikasi merupakan proses beberapa mineral masuk ke dalam tubuh fosil bersamaan dengan air melalui celah-celah pori yang kemudian mineral tersebut terendapkan. Petrified wood terbentuk pada rentang waktu zaman geologi. Zaman Geologi adalah zaman Ordovisium (460 juta tahun yang lalu) sampai dengan Zaman Jurasic (160 juta tahun yang lalu) tepatnya pada masa Upper Silurian. Sebuah batang kayu dapat terawetkan puluhan hingga ratusan juta tahun disebabkan oleh keterpadatan mineral-mineral yang masuk ke dalam tubuh kayu melalui celah pori-pori. Mineral tersebut membuat batang kayu tersebut resistensi terhadap pelapukan. Mineral yang masuk ke dalam pori-pori terebut dapat berupa mineral silikat kuarsa, jasper, kalsedon, jadeit (RRC).
Dalam proses pemunculan fosil kepermukaan di pengaruhi oleh gaya endogen dan gaya eksogen. Gaya endogen yang bekerja membuat lapisan sedimen yang berada di bawah terangkat melalui proses-proses tektonik. Kemudian gaya eksogen membuat lapisan-lapisan sedimen tererosi sehingga fosil yang berada dalam lapisan batuan tersingkap ke permukaan. Morfologi kenampakan fosil ini sebagai penciri khusus, yaitu adanya lingkaran tahun tumbuhan yang menandakan umur ketika fosil ini dulunya hidup sebagai pohon.
Di sekitar wilayah Kampung Terlaing ditemukan juga jejak-jejak binatang laut, seperti siput, kura-kura, dll. Jejaknya dapat dilihat pada batu-batu yang ada di sekitar wilayah kampung. Hal yang sama juga kita temukan di dalam gua Batu Cermin di Labuan Bajo. Selain jejak-jejak binatang laut, ada pula jejak kapal laut yang karam lalu memfosil menjadi batu, seperti Watu Dungga di Desa Tanjung Boleng, Watu Wangka di Wae Jare, Kec. Mbeliling, Watu Wangka di Kecamatan Macang Pacar, dan Watu Tiri di Desa Batu Tiri Kecamatan Lembor Selatan. Ini menunjukkan bahwa bumi yang kita tempati ini semulanya di bawah permukaan laut.
Di balik nilai historis, Watu Leka sangat bermanfaat bagi masyarakat setempat, yaitu sebagai material bangunan rumah. Selain material bangunan, Watu Leka juga dimanfaatkan sebagai tempat duduk pengganti kursi di halaman rumah maupun di dalam rumah.
Kampung Terlaing dan kampung Tebedo dapat ditempuh dalam waktu 30 menit dari Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian petani.
Foto Map Latitude/Longitude list:------20220222_040924(PM)_[org].jpg
https://www.google.com/maps/search/?api=1&query=-8.509273529052734,119.9669418334961
Goto Map StreetView list:--------20220222_040924(PM)_[org].jpg
https://www.google.com/maps/@?api=1&map_action=pano&viewpoint=-8.509273529052734,119.9669418334961