Gua Lengkong Teseng merupakan sebuah gua yang terletak di Kampung Warloka (Lengkong Teseng), Desa Warloka, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Jaraknya sekitar 500 meter dari ruas jalur utama Labuan Bajo-Golo Mori.
Gua yang tak terawat dan diapiti oleh berbagai jenis pohon dan akar yang merambat melintasi lubang gua menghalau pandangan para pengunjung. Tempat yang dikenal memiliki harta karun ini belum dikenal secara luas oleh masyarakat warloka dan masyarakat Manggarai Barat. Jarak yang ditempuh menuju Lengkong Tesang ini kurang lebih 25 km dan dicapai dalam waktu kurang lebih satu jam.
Pada tahun 1968 ada satu tim ekspedisi peneliti dari China yang dipandu oleh seorang yang berasal dari Singapura datang ke Kampung Warloka. Tim tersebut menjelaskan bahwa mereka datang hendak mencari dua benda harta karun dari China yang terbuat dari Emas murni yang dahulu dibawah oleh kapal dagang dari Nusantara. Dari hasil penelusuran, konon kedua benda harta karun tersebut sesuai dengan petunjuk historis terdampar di Kampung Warloka-Flores.
Kedua benda itu adalah sebuah jam dinding Emas yang tidak berangka, akan tetapi muncul angkanya setiap jam tertentu jika tepat menunjukan jam tertentu dan sebuah patung anjing duduk emas yang satu paket dengan jam dinding tersebut. Sampai di Warloka mereka dipandu oleh orang lokal dan berhasil menemukan tempat dua harta karun itu disembunyikan di sebuah gua yang angker. Lalu rombongan itu mencoba masuk ke dalam gua dengan menggunakan lampu Strongken/Lampu gas. Namun mereka batalkan untuk masuk terus lebih jauh ke dalam karena sekonyong konyong ada sorotan sinar terang dan kekuatan besar dari dalam gua yang mengancam keselamatan jiwa semua orang yang hendak masuk ke dalamnya. Merekapun mundur lagi. Konon dua benda harta karun tersebut memang berada di dalam gua itu tetapi sudah dikawal oleh binatang buas (ular naga) yang ganas. Salah seorang warga lokal yang menjadi pemandu tim ekspedisi waktu itu masih hidup sampai sekarang.
Kapal dagang Nusantara yang memuat barang barang itu yang saat itu juga berinteraksi dengan Kerajaan Gurungtalo, itulah Kapal milik Sawerigading raja Luwu yang selalu saya sebutkan.
Kapal itu karam dan tenggelam di Selat Molo diduga karena selain dilawan oleh kekuatan gaib lokal (Kerajaan Gurungtalo) juga diduga Sawerigading kualat karena dosanya sendiri di Tana Luwu. Dosanya adalah dia jatuh cinta dengan saudari kembarnya sendiri bernama La Mada Remeng. Untuk mencegah hubungan mereka berlanjut saudari kembarnya itu meminta Sawerigading utk pergi membeli barang antik yg sangat mahal dan sulit didapat ke negeri China dengan menggunakan sebuah Kapal yang terbuat hanya dari sebatang Pohon. Namun, ternyata semua syarat yang serba sangat sulit yang diminta oleh La Mada Remeng itu semuanya dapat dilakukan oleh Sawerigading. Hal itu membuat saudari kembarnya itu ketakutan maka ia pun berdoa agar Sawerigading tidak bisa pulang kampung ke Palopo, Luwu. (Sumber: Andi Kaso Bustaman,SH Sekretaris istana Kerajaan Luwu di Palopo dalam diskusi berdua deagn saya di Istana La Galigo, Palopo,Luwu, Sulawesi Selatan tahun 2004.)